cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KARAKTERISTIK UKURAN TINGGI DAN DIAMETER BATANG SEEDLING Rhizophora mucronata PADA SUBSTRAT DENGAN KANDUNGAN LUMPUR YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG Maulana, Fandi; Hendrarto, Boedi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.676 KB)

Abstract

Banyaknya aktifitas penanaman mangrove oleh masyarakat di Pulau Pahawang memberikan gambaran pentingnya ekosistem mangrove. Penanaman tersebut tidak mengkaji faktor pendukung khususnya kandungan lumpur yang terdapat pada substrat di lokasi penanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ukuran tinggi dan diameter seedling Rhizophora mucronata pada kandungan lumpur yang berbeda di kawasan rehabilitasi mangrove di Pulau Pahawang, Lampung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel (Sample Survey Method). Variabel data utama yang dibutuhkan yaitu: data tinggi dan diameter seedling selama 6 minggu untuk dianalisis dengan lokasi yang memiliki kandungan lumpur yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan pola tinggi dan diameter di lokasi yang memiliki kandungan lumpur rendah memiliki pertambahan ukuran lebar diameter yang lebih baik hal ini disebabkan karena daerah yang memiliki kandungan lumpur yang tinggi menyebabkan kurangnya oksigen bagi perakaran seedling yang baru ditanam. Plantation activities by stakeholders in Pahawang Island showed to us the importance of ecosytem mangrove in costal. The study of a main factors for successful mangrove rehabilitation is never introduce to those activity, especially for silt contents in the research locations. The purpose of this research  was determined  height and diameter characteristic of Seedling Rhizophora mucronata on differences silt contents in Pahawang Island, Lampung Province. The method of the research was sample survey method, The main variabele was needed: height and diameter data of seedling for 6 weeks to be analyzed with the silt contents in differents locations. The result of this research was changing height and diameter pattern in low silt contents had more wide of diameter, due to content of high silt caused low oxygent for roots of new seedling. 
HUBUNGAN KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT PADA AIR DAN SEDIMEN TERHADAP KERAPATAN LAMUN DI PANTAI PRAWEAN BANDENGAN, JEPARA Relationship The Content of Nitrates and Phosphates in Water and Sediment to The Density Seagrass at Prawean Bandengan Beach, Jepara Setiani, Heny; Solichin, Anhar; Afiati, Norma
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.366 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26485

Abstract

Zat hara nitrat dan fosfat merupakan unsur kimia yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan lamun. Penyerapan nutrien pada kolom air dilakukan oleh daun sedangkan penyerapan nutrien dari sedimen dilakukan oleh akar. Ketersediaan nitrat dan fosfat pada air dan sedimen dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik yang berasal dari aktivitas manusia maupun dari perairan itu sendiri. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2019. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan kerapatan lamun, kandungan nitrat dan fosfat pada air dan sedimen serta hubungannya terhadap kerapatan lamun. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan IBM SPSS Statistics 23. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat 5 jenis lamun di Pantai Prawean dengan kerapatan berkisar antara 277 – 421 tegakan/m2 yang masuk dalam kategori sedang hingga rapat. DO berkisar 3,4-5,8 mg/l dan rata-rata bahan organik berkisar 6,34-6,64 mg/l. Rata-rata kandungan nitrat dan fosfat sedimen lebih tinggi dibanding pada air yakni masing-masing berkisar 0,43-0,88 mg/l dan 0,12-0,27 mg/l. Kandungan nitrat dan fosfat pada sedimen memiliki korelasi kuat terhadap kerapatan lamun dengan angka korelasi masing-masing sebesar 0,875 dan 0,718. Hubungan antara nitrat dan fosfat sedimen dengan kerapatan lamun mempunyai angka determinansi regresi (R2) sebesar 0,767 yang berarti kedua nutrien mempunyai pengaruh sebesar 76,7 % terhadap kerapatan lamun. ABSTRACT Nitrate and phosphate are very important chemical elements to support the growth and development of seagrass. Nutrient absorption in the water column is carried out by leaves while absorption of nutrients from sediments is carried out by the roots. The availability of nitrate and phosphate in the water and sediments is influenced by the availability of organic materials derived from human activities as well as from the waters themselves. The research was conducted in May 2019. The purpose of this study was to determine the type and density of seagrass, the content of nitrate and phosphate in water and sediments and their relationship to seagrass density. Survey method with purposive sampling technique were used. Data analysis using IBM SPSS Statistics 23. The results of this study are that there are 5 types of seagrasses on Prawean Beach with densities ranging from 277 - 421 ind/m2 in the medium to tight category. DO ranges from 3.4-5.8 mg/l and the average organic matter ranges from 6.34 to 6.64 mg/l. The average sediment content of nitrate and phosphate is higher than in water, each of which ranges from 0.43-0.88 mg/l and 0.12-0.27 mg/l. The content of nitrate and phosphate in sediments has a strong correlation with seagrass density with correlation factor of 0.875 and 0.718 respectively.  The relationship between nitrate and phosphate sediment with seagrass density has a regression determinant (R2) of 0.767 which means that both nutrients have an effect of 76.7% on seagrass density. 
USAHA PETANI TAMBAK DALAM MENANGGULANGI TEKANAN LINGKUNGAN DI WILAYAH PESISIR KOTA PEKALONGAN Kusumaningrum, Ayu Putri; Supriharyono, -; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.285 KB)

Abstract

Pesisir Kota Pekalongan merupakan daerah yang sering terkena tekanan lingkungan berupa rob dan banjir karena kondisi topografi Kota Pekalongan landai. Tekanan lingkungan berupa rob banjir ini menggenangi tambak di daerah Kecamatan Pekalongan Utara terutama di Kelurahan Bandengan dan Kelurahan Degayu. Tujuan dari penenelitian ini adalah mengetahui kondisi tekanan lingkungan pesisir di Kota Pekalongan khususnya di Kelurahan Bandengan dan Kelurahan Degayu dan mengetahui upaya petani tambak dalam menanggulangi tekanan lingkungan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juni sampai Juli 2015. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 22 responden, yaitu 13 reponden dari Kelurahan Bandengan dan 9 responden dari Kelurahan Degayu. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Pertanyaan dalam kuisioner berkaitan dengan tekanan lingkungan, dan usaha dalam  menanggulangi tekanan lingkungan tersebut. Hasil menunjukkan bahwa tekanan lingkungan di kedua daerah tersebut berbeda sehingga usaha yang dilakukan petani di kedua daerah tersebut juga berbeda. Tekanan  Lingkungan di Kelurahan Bandengan lebih berat. Usaha yang dilakukan petani tambak di Kelurahan Bandengan yaitu mengelola tambak dengan cara tradisional, menentukan komoditas budidaya berupa Bandeng dan rumput laut, dan menggunakan jaring sebagai pembatas tambak milik masing-masing petambak. Usaha yang dilakukan petani tambak di Kelurahan Degayu adalah dengan mengelola tambak secara intensif, menentukan komoditas yang dibudidaya yaitu Penaeus vannamei, dan meninggikan tanggul agar tambak tidak tenggelam oleh rob atau memasang jaring agar komoditas budidaya tidak hilang terbawa rob. Usaha yang dilakukan petani tambak di kedua lokasi tersebut telah memberikan hasil yang dapat dilihat dari produksi yang terus meningkat. Petani tambak mengusahakan tambak yang awalnya terbengkalai hingga dapat berproduksi kembali dan mampu memberikan penghasil pada petani tambak. Pekalongan is one of coastal area in the north coast of central  java that often experiences an environmental pressure such as flood and tidal flood. These environmental pressures affect on aquaculture pond in North Pekalongan district especially at Bandengan and Degayu villages. The aim of this study was to invastigate the condition of environmental pressure in Pekalongan city especially at Bandengan and Degayu villages, and to know about the fish of brackish water pond culture effort on controlling the environmental pressure. This study was focused at two areas studies i.e. Bandengan village and Degayu village. This study had been conducted from June until July 2015. Sampling technique used in this study was purposive sampling. Total respondents were 22 respondents, 13 respondents from Bandengan village and 9 respondents from Degayu village. Data ware taken by a questionnaire which contained of some questions about environmental pressure in those two villages and the effort that was made by the fish of brackish water pond culture to manage the pond so it would not  destroyed by the environmental pressure. The result showed that Bandengan village had a higher level of environmental pressure than in Degayu village. The fish of brackish water pond culture made an effort by applying the traditional management aquaculture system, deciding the commodities that will be cultivated which are milkfish and seaweed, making nets to line the pond based on the owner. The effort that being done by the fish of brackish water pond culture in Degayu village was applying intensive management aquaculture system, choosing the commodity which was Penaeus vannamei, and raising the embankment in order to save the pond from getting drown by the tidal flood or providing  nets so the commodities that being cultivated were not gone away. That effort made by the farmer is giving a significant result that can be seen from the product. Fish of brackish water pond culture from those two villages make the pond that originally abandoned because of the environmental pressure become productive again. 
Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Demak Widiyanto, Arif; Saputra, Suradi Wijaya; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.945 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem penting di pesisir, memiliki potensi sumberdaya alam yang besar, dan harus dijaga kelestariannya. Masyarakat sendiri kurang menyadari betapa pentingnya nilai ekonomi ekosistem tersebut. Penelitan dilakukan pada bulan Januari-Februari 2012 bertujuan untuk mengetahui  pemanfaatan ekosistem mangrove dan nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Desa Bedono, Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengumpulan data melalui wawancara terhadap 94 orang responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil valuasi ekonomi ekosistem mangrove didapat manfaat langsung sebesar Rp 169.797.000,00 per tahun (8,5%) didapat dari pemanfaatan kayu bakar dan dari sektor perikanan. Manfaat tidak langsung sebesar Rp 1.827.985.770,00 per tahun (89,5%) didapat dari nilai sebagai daerah asuhan, mencari makan, dan daerah pemijahan serta manfaat sebagai penahan abrasi serta pelindung tambak. Manfaat pilihan sebesar Rp 39.223.125,00 per tahun (2%) didapat dari fungsi ekologis. Nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Kelurahan Bedono, Demak adalah sebesar Rp 2.037.005.895,00 per tahun.
HUBUNGAN TINGKAT KERENTANAN PANTAI DAN PRODUKSI TAMBAK DI KECAMATAN JUWANA KABUPATEN PATI, JAWA TENGAH (Relation of Coastal Vulnerability Index and Pond Production in Juwana, Pati, Central Java) Komah, Siti; Purwanti, Frida; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.796 KB)

Abstract

Kecamatan Juwana merupakan kawasan pesisir memiliki potensi untuk kegiatan perikanan budidaya yang secara ekonomi sangat berpengaruh terhadap pendapatan daerah, namun karena topografinya yang landai, Kecamatan Juwana rentan terhadap perubahan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerentanan pantai, tingkat produksi tambak dan hubungan tingkat kerentanan pantai dan produksi tambak di Kecamatan Juwana. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2015 di kawasan pesisir Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan studi kasus menggunakan metode analisis Indeks Kerentanan Pantai, dengan tujuh variabel dari data primer dan data sekunder. Data primer yaitu geomorfologi serta data tinggi dan lama genangan banjir menggunakan teknik wawancara, sedangkan data sekunder yaitu perubahan garis pantai dan kemiringan pantai dari citra satelit yang diolah menggunakan software ER Mapper 7.0 dan ArcMap 10.2.2, tinggi gelombang, kisaran pasang surut, dan produksi tambak di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Hasil nilai tingkat kerentanan pantai di Kecamatan Juwana pada tahun 2013 – 2015 berkisar antara 3.3 sampai 3.4 dengan tingkat kerentanan tinggi, nilai produksi tambak di Kecamatan Juwana pada triwulan II dan III lebih tinggi dibanding triwulan I dan IV dan tingkat kerentanan pantai tidak ada hubungannya dengan produksi tambak di Kecamatan Juwana, Pati.  Juwana district is a coastal area that potential for cultivation fishery activities that are economically very influential on local revenue, but because of its sloping topography, Juwana District is vulnerable to environmental changes. The purpose of this research were to know the level of coastal vulnerability, the level of fish pond production and the correlation of coastal vulnerability level and fish pond production in Juwana district. The research was conducted in June 2015 at the coastal area of Juwana district, Central Java. The research is a case study using analysis Coastal Vulnerability Index, that consist of seven variables from primary and secondary data. The primary data included geomorphology observation and data of high and flood inundation period using interview technique, whereas secondary data included change of coastline and coastal slope obtained from Satellite image, that processed by ER Mapper 7.0 software and ArcMap 10.2.2., wave height, tidal range, and fish pond production data collected from the provided data at the Juwana District. The  coastal vulnerability index value of the Juwana district in 2013- 2015 was 3.3- 3.4 which included in the category of high vulnerability, the fish pond production value in Juwana district in the second and third quarters was higher than in the first and fourth quarters and the degree of coastal vulnerability had no relation to the  fish pond production in Juwana district, Pati.
PENGARUH UMUR REPLANTASI MANGROVE (Rhizophora sp.) SEBAGAI HABITAT Uca sp. Rizal, Novia Firza Wijayanti; Suprapto, Djoko; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.81 KB)

Abstract

Sebagian besar kawasan hutan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan, termasuk kawasan di sekitar pantai Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kabupaten Semarang. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelolanya. Hilang dan rusaknya kawasan mangrove pada beberapa wilayah pesisir telah mengakibatkan hilangnya fungsi mangrove baik fisik, ekologis, maupun ekonomi. Salah satu penyelesaian atas permasalahan tersebut adalah dengan melakukan gerakan penghijauan atau penanaman kembali (replantasi). Adapun aspek yang dapat ditinjau dalam mengevaluasi keberhasilan replantasi hutan mangrove ini adalah kembalinya fungsi ekologis hutan mangrove, diantaranya adalah penyedia habitat berbagai biota seperti Uca sp. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui wilayah hasil replantasi yang mampu menyediakan habitat bagi Uca sp.Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah mengetahui keberadaan berbagai ukuran karapas Uca sp. sebagai indikasi kesesuaian habitat dan mengetahui kepadatan Uca sp. berdasarkan wilayah tanpa mangrove dan wilayah mangrove dengan jenis mangrove Rhizophora sp. berumur tiga bulan dan satu tahun. Sampel Uca sp. dan substrat diambil dari tiga zona dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona replantasi mangrove berumur satu tahun merupakan habitat bagi Uca sp. dan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kepadatan Uca sp. pada zona tanpa mangrove dan zona dengan perbedaan umur replantasi mangrove. Most of the coastal forest in Indonesia have been damaged, including the area around the coastal village of Mangunharjo, District of Tugu, Semarang. This damage is mainly caused by negative human activities. The loss and destruction of mangrove areas in some coastal areas have resulted the disfunction of mangrove in physical, ecological, and economical aspects. One of the solution to this problem is a replantation of mangrove. One of the variabel indicating the success of replantation is the return of the ecological function, for example providing the habitat for many organisms such as Uca sp. The general objective of this research was to determine which area that is able to provide habitat for Uca sp. The specific objectives were to know the existence of various sizes of the carapaces as an indication of the suitable habitat and to know the density of Uca sp. between non-mangrove area and those with mangrove areas with species Rhizophora sp. the age of three months and the age of one year. Uca sp. and substrate samples were taken from three zones with three repetition. The results showed that one year old mangrove replanted area is suitable habitat for Uca sp. and the density of Uca sp. between non-mangrove area and mangrove replanted areas with different age have significant difference.
POTENSI DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN PORA-PORA (Mystacoleucus padangensis Bleeker) DI DANAU TOBA SUMATERA UTARA Ginting, Desty Wahyuni; Ghofar, Abdul; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.21 KB)

Abstract

Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia dan juga merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. Danau Toba di Sumatera Utara selama ini menjadi sumber produksi ikan pora-pora (Mystacoleucus padangensis Bleeker). Keberadaan ikan ini cukup membantu perekonomian masyarakat sekitar tetapi kegiatan penangkapan menjadi tidak terkendali sehingga menyebabkan turunnya populasi ikan tersebut. Kondisi yang bersifat kontradiktif ini menyebabkan perlunya dievaluasi kembali jumlah potensi serta pola pengelolaan ikan pora-pora di kawasan Danau Toba Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek produksi, aspek biologi, dan aspek pengelolaan sumberdaya ikan pora-pora di Danau Toba. Aspek produksi meliputi trend CPUE dan jumlah produksi. Aspek biologi meliputi panjang berat dan faktor kondisi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2013 di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Tongging. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan observasi lapangan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari panjang total dan berat individu ikan pora-pora yang diperoleh dari lapangan. Data sekunder diambil dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara berupa jumlah produksi dan jumlah trip penangkapan selama 2 tahun, yaitu 2008 – 2009. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh nilai CPUE alat tangkap doton lebih kecil dibandingkan alat tangkap tanggok dengan nilai 1,64 kg/jam dan 4,72 kg/jam. Pertumbuhan ikan pora-pora bersifat allometric positive dengan nilai b sebesar 3,31. Faktor kondisi (Kn) ikan pora-pora sebesar 1,028 yang berarti bahwa badan ikan kurus atau kurang montok. Sehingga aspek pengelolaan yang dapat diberikan adalah dengan mengatur mesh size alat tangkap yang tidak lebih kecil dari 1,25 inchi.
APLIKASI BIOROCK TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP TRANSPLANTASI KARANG DAN KEANEKARAGAMAN IKAN DI PULAU KARIMUNJAWA Siahaan, Sahala Bonardo; Purnomo, Pujiono Wahyu; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.969 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22537

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) merupakan tempat konservasi bagi lingkungan dan biota. Kualitas terumbu karang di Karimunjawa mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Ada berbagai teknik yang dapat digunakan untuk merehabilitasi terumbu karang, salah satunya adalah Biorock.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelangsungan hidup dan pertumbuhan karang yang ditransplantasi pada biorock dan mengetahui keanekaragaman ikan yang berada di sekitar biorock. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen lapangan di mana terdapat 2 stasiun penelitian. Biorock digunakan sebagai tempat untuk dijadikannya proses transplantasi karang jenis Acropora sp. Pengukuran pertumbuhan karang dilakukan di dalam air dengan periode selama 2 bulan dengan tenggang waktu 1 bulan menggunakan jangka sorong. Untuk mengevaluasi perbedaan  perbedaan pertumbuhan dan kelangsunggan hidup setiap spesies yang ditransplantasi mempergunakan uji t independen. Spesies terumbu karang yang memiliki persentase kelangsungan hidup paling tinggi adalah Acrophora nasuta. Berdasarkan uji t tentangperbedaan kelulushidupan karang stasiun 1 dan 2 menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan (α>0,05). Jenis ikan yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah Zanclus sp, Selaroides sp, dan Sigauns sp. Ditemukan pula spesies bulu babi yaitu Diadema sp. Parameter Fisika-Kimia kedalaman, kecerahan, temperatur, pH, dan salinitas pada 2 stasiun sudah memenuhi syarat untuk pertumbuhan karang.  Karimunjawa National Park  is a conservation area for the environment and biota.There are various techniques that can be used to rehabilitate coral reefs, one of which is Biorock. The purpose of this research is to know the survival and growth of transplanted corals in biorock and to know the diversity of fish that are around the biorock. The method used in this research is the field experimental method. The location of this research consists of 2 research stations. Biorock is used as a place to make its transplant coral process type Acropora sp. Measurement of coral growth measured in water for a period of 2 months with a period of 1 month using a vernier caliper. To evaluate differences in growth and survival of each transplanted species using independent t test. The coral reef species that have the highest survival rate is Acrophora nasuta. Based on the result of t test about difference of coral reef life at station 1 and 2 shows that there is no significant difference between them (α> 0,05). Fish species found at the study sites were Zanclus sp, Selaroides sp, and Siganus sp. Also found species of sea urchin is Diadema sp. Physical-Chemical parameters of depth, brightness, temperature, pH, and salinity at 2 stations have included requirements for coral growth.
ASPEK BIOLOGI PERIKANAN CEPHALOPODA PELAGIK YANG DIDARATKAN DI TPI TAMBAKLOROK SEMARANG Perangin-angin, Helfiana Tiuriska; Afiati, Norma; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.042 KB)

Abstract

Sampai saat ini, seluruh produksi Cumi-cumi di Indonesia berasal dari hasil tangkapan di alam. Produksi cumi-cumi harus dijaga kelestariannya, maka dari itu upaya penangkapan harus diperhatikan, sehingga stok cumi-cumi di alam tetap terjaga Upaya pengamatan tentang studi hubungan panjang berat, faktor kondisi, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad dan fekunditas diharapkan dapat menjadi gambaran upaya yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kelestarian sumberdaya tersebut. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara acak (random sampling) yaitu pengambilan sampel secara sistematik pada suatu populasi yang homogen. Variabel yang diukur dalam penelitian meliputi panjang mantel cumi-cumi, berat total cumi-cumi, berat gonad, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, faktor kondisi dan fekunditas. Hubungan panjang berat Photololigo chinensis selama penelitian bersifat Allometrik. Angka b pada empat kali sampling < 3 maka bersifat allometrik negatif dengan nilai faktor kondisi (Kn) 1,02 menunjukkan bentuk bersifat kurus. Tingkat kematangan gonad P. chinensis jantan pada hasil keseluruhan sampling didominasi oleh TKG I dan III dan TKG P. chinensis betina pada hasil keseluruhan sampling didominasi oleh TKG I dan IV. P. chinensis memiliki fekunditas yang cukup besar karena jumlah telurnya berkisar butir 10.010-20.365. The entire production ot the squids in  Indonesian until now is derived from catching on seas. Therefore the production of squids must be considered kept as such not to stock on nature, so stock squids on nature stay awake. Research about lenght-weight relationship, condition factor, visual maturity stages, gonadosomatic index and fecundity hopely can be done stock from that resources. Methods of sampling what used in this research is random sampling, this systematically sampling on one homogeny populate. Variable measured in research such as lenght-weight relationship, condition factor, maturity stages, gonadosomatic index, and  fecundity. Lenght-weight relationship during research. Lenght-weight relationship Photololigo chinensis is Allometric. The value of b for research < 3 then is allometric negatif  with value of condition factor (Kn) 1,02 to describe a thin body. Maturity stages male P. chinensis on the overall sampling dominated by maturity stages I and III, whole Maturity stages female P. chinensis on the overall sampling dominated by maturity stages I and IV. P. chinensis having fecundity large enough since the number of 10.010-20.365
PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN TUNA MATA BESAR (Thunnus obesus) DI SAMUDERA HINDIA YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, DENPASAR, BALI Kurniawati, Erika; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya; Nugraha, Budi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.295 KB)

Abstract

ABSTRAK Tuna mata besar (Thunnus obesus) di Samudera Hindia menjadi salah satu target utama penangkapan. Berdasarkan pemanfaatan tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai parameter populasi tuna mata besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek pertumbuhan, ukuran pertama kali tertangkap, parameter populasi, laju mortalitas, laju eksploitasi dan pola rekrutmen. Jumlah sampel tuna mata besar sebanyak 648 ekor diambil dari 21 armada rawai tuna (longline) yang melakukan bongkar selama penelitian. Data panjang tahun 2013-2014 diperoleh dari Loka Penelitian Perikanan Tuna Bali. Penelitian ini dilakukan bulan April-Mei 2016 di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Analisis data menggunakan Model Von Bertalanffy Growth Function dengan software FISAT II. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif. Faktor kondisi diperoleh sebesar 1,02-1,27. Ukuran pertama kali tertangkap (L50%) sebesar 126,54 cmFL. Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy Growth Function (VBGF) diperoleh Lt=199,5(1 - e 0,22 (t+0,451)), dengan nilai K= 0,22/tahun, nilai t0= -0,451 tahun dan L∞ = 199,5 cmFL. Laju mortalitas penangkapan (F) = 0,51/tahun, lebih besar daripada mortalitas alami (M) = 0,40/tahun, berarti kematian tuna mata besar lebih banyak disebabkan karena faktor eksploitasi/penangkapan. Laju eksploitasi (E)= 0,56 mengindikasikan tuna mata besar yang tertangkap oleh armada rawai tuna (longline) di Samudera Hindia dalam kondisi fully exploited (padat tangkap).Kata Kunci : Ikan tuna mata besar; aspek biologi; umur; pertumbuhan; mortalitas; laju eksploitasi; rekrutmen; Samudera Hindia  ABSTRACT Bigeye tuna (Thunnus obesus) in the Indian Ocean became one of the main targets of arrest. Based on utilization, research is needed on bigeye tuna population parameters. This study aims to determine of growth, size at the first caught, population parameters, mortality rate, exploitation rate and recruitment patterns. Number samples of bigeye tuna were taken from 648 fishes by 21 tuna longline fleets which was unloading during this study. Length data of 2013-2014 were obtained from Research Institute for Tuna Fisheries, Bali. This research was conducted April-May 2016 in Benoa Harbour, Denpasar, Bali. Data analysis used the Von Bertalanffy Growth Function Model with FISAT II software. The results showed negative allometric growth patterns. The condition factor was obtained for 1.02 to 1.27. The length at first caught (L50%) amounted to 126.54 cmFL. VBGF growth equation was obtained Lt=199.5(1 - e 0.22 (t + 0.451)), with the value K=0,22/year, t0= -0,451/year and L∞= 199,5 cmFL. The fishing mortality rate (F)= 0.51/year, it was bigger than the natural mortality (M)= 0.40/year, means that mostly mortality of bigeye tuna was caused by the exploitation / fishing factor. The exploitation rate (E)= 0.56, indicated that bigeye tuna were caught by tuna longline fleets in the Indian Ocean on fully exploited.Keywords:Bigeye tuna; biology aspect; age; growth; mortality; exploitation rate; recruitment; Indian Ocean