cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
PENGARUH VARIASI JENIS MAKANAN TERHADAP IKAN KARANG NEMO (Amphiprion ocellaris Cuvier, 1830) DITINJAU DARI PERUBAHAN WARNA, PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN Sari, Okta Viana; Hendrarto, Boedi; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.939 KB)

Abstract

 Salah satu cara untuk  mencegah ikan nemo (Amphiprion ocellaris) dari kepunahan  adalah melakukan pelestarian jenis dengan menjaga kesehatan ikan yang dapat dilihat dari warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupannya. Makanan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui warna, pertumbuhan, dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) yang diberikan jenis makanan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah pemberian jenis makanan yang berbeda yaitu perlakuan A, B dan C berupa pemberian makanan pelet dan udang rebon, pelet dan cacing darah, serta pelet dan nauplius Artemia dengan metode pemberian makanan secara ad libitum (sampai kenyang). Ikan yang digunakan adalah benih dengan ukuran ± 3 cm dan rata – rata bobot awal 0,59 yang berasal dari kegiatan pembenihan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang dipelihara dalam 9 stoples berisi 3L air laut selama 28 hari. Warna ikan nemo dinilai dengan menerapkan modifikasi Adobe Photoshop dengan menggunakan metode Hue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis makanan yang berbeda berpengaruh signifikan (Menggunakan T-tset, P=0,3) terhadap kecerahan warna ikan nemo (A. ocellaris). Pemberian jenis makanan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelulushidupan ikan nemo namun memberikan pengaruh yang kurang signifikan terhadap pertambahan berat dan panjang totalnya. Pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan C dengan nilai b tertinggi yaitu sebesar 1,5646. Kualitas air selama penelitian yaitu salinitas 32-33‰; suhu 26-280C; DO 3,74–6,4 mg/l; pH 7,73–8,03; NO2-N 0,002–0,727 mg/l; NH3-N 0,022–1,598 mg/l.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa makanan terbaik untuk warna, pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan ikan nemo (A. ocellaris) adalah makanan pelet dan nauplius Artemia. One way to prevent clownfish (Amphiprion ocellaris) from extinction is by preserve this species by keeping their health that can be seen from brightness colors, growth and survival rate. Food is one of important factor in life of the fish. The  research was aimed to know colors,  growth, and survival rate of clownfish (A. ocellaris) which  given a different kind of food. The method that used in this reaserch was a random complete design (RAL) with 3 treatments and 3 replicates. Different kind of food applied in the treatment were A, B and C or pellet and brine shrimp, pellet and blood worms, and pellet and nauplius of, respectively. Fish were feed ad libitum (until full). The fish size was  ± 3 cm with average body weigth was 0.59 from the hatchery in Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.  Fishes were kept in 9 containers filled with 3 l seawater and the fish was reared for 28 days. The color of clownfish was assessed by applying modificated of Adobe Photoshop using hue method. Results showed that by giving a different kind of  foods affected significantly (by using t-test, p=0,3) to color of clownfish. Different kind of food also affected significantly to survival rate but different kind of food did not affect significantly on the increase of weight and total length of clownfish (A. ocellaris). The best growth occurred at treatment C with the highest level of b that was 1,5646.  Water qualities during the research that was salinity 32 - 33‰; temperature 26 - 280C; DO 3,74 - 6,4 mg/l; pH 7,73 - 8,03; NO2-N 0,002 - 0,727 mg/l; NH3-N 0,022 - 1,598 mg/l. It can be concluded the best food to enlighten colors, growth and survival rate of clownfish (A. ocellaris) was pellet and naupliusof  Artemia.
HUBUNGAN ZAT HARA (HNO3-DAN PO4-) SEDIMEN TERHADAP KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT, SEMARANG Relationship between Sediment Fertility and Macrozoobenthos Abundance and Diversity in the Banjir Kanal Barat River, Semarang Ariawan, Febio; Haeruddin, Haeruddin; Rahman, Arif
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (917.625 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26548

Abstract

Sungai Banjir Kanal Barat membutuhkan perhatian serius dari berbagai elemen masyarakat, dikarenakan sungai ini banyak digunakan oleh masyarakat. Kandungan nutrien yang ada di sedimen berpengaruh terhadap keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobentos jika semakin berlimpah dan beranekaragam maka sungai itu memiliki kesuburan yang tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tekstur, konsentrasi nitrat dan fosfat pada sedimen, kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobentos serta hubungan antara kesuburan pada sedimen dengan kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobentos di Sungai Banjir Kanal Barat, Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019 menggunakan teknik purposive sampling dengan total 5 stasiun. Sampel yang diambil berupa sedimen dan makrozoobentos. Metode penentuan sedimen menggunakan metode pemipetan, nitrat fosfat menggunakan spektrofotometri, untuk mengetahui hubungan antara kesuburan dengan kelimpahan dan keanekaragaman menggunakan metode PCA. Hasil penelitian yang telah dilakukan menerangkan bahwa fraksi sand berkisar 10,84-92,04%; fraksi silt berkisar antara 0-70%; fraksi clay berkisar antara 2,80-25,48%. Genus makrozoobentos yang ditemukan dikelompokan menjadi 2 kelas yaitu: Gastropoda (Afropomus sp., Melanoides sp., Terebia sp., Terebra sp., Urosalpinx sp.) dan Bivalvia (Anadara sp., Corbicula sp., Leiosolenussp.). Keanekaragaman jenis makrozoobentos berkisar antara 0,45-1,96 dan termasuk dalam kategori rendah. Kelimpahan individu berkisar antara 15200-42800 ind/m³ dan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun IV dan stasiun II merupakan kelimpahan terendah. Konsentrasi nitrat dan fosfat sedimen berkisar antara 0,04-0,60 mg/l untuk nitrat lalu konsentrasi fosfat berkisar antara 0,03-1,33 mg/l. Analisis PCA menyatakan konsentrasi nitrat pada sedimen berpengaruh terhadap makrozoobentos. konsentrasi nitrat di sedimen cukup berpengaruh dengan keanekaragaman jenis dan kelimpahan makrozoobentos yang ada diperairan, dan memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,99 dan 0,87. The Banjir Kanal Barat River needs serious attention from various elements of the community, because the river is widely used by the community. Nutrient content in sediments affects the diversity and abundance of macrozoobenthos. The concentration of nitrate and phosphate in the sediment are used phytopentos, phytopentos is benthic food. macrozoobenthos is a bioindicator of water, if it is more abundant and diverse, the river has high fertility. The purpose of this study was to determine the texture, nitrate and phosphate concentrations in sediments, abundance and diversity of macrozoobenthos and the relationship between fertility in sediments with abundance and diversity of macrozoobenthos in the West Flood River Canal, Semarang. This research was conducted in April-May 2019 using a purposive sampling technique with a total of 5 stations. Samples taken in the form of sediments and macrozoobenthos. The results of the research that have been done explained that the sand fraction ranged from 10.84 to 92.04%; silt fraction ranges from 0-70%; clay fraction ranged from 2.80-25.48%. The macrozoobenthos genus found was classified into 2 classes, namely: Gastropods (Afropomus sp., Melanoides sp., Terebia sp., Terebra sp., Urosalpinx sp.) And Bivalvia (Anadara sp., Corbicula sp., Leiosolenus sp.). Diversity of macrozoobenthos types ranged from 0.45 to 1.96 and included in the low category. Individual abundances ranged from 15200 to 42800 ind / m³ and the highest abundances were at station IV and station II was the lowest abundance. Nitrate and phosphate sediment concentrations ranged from 0,04 to 0,60 mg / l for nitrates and then phosphate concentrations ranged from 0,03 to 1,33 mg / l. PCA analysis resulted that the concentration of nitrate in the sediment affected macrozoobenthos. Nitrate concentration in sediments is quite influential with the diversity of species and abundance of macrozoobenthos in the water, and has a correlation coefficient of 0,99 and 0,87. 
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) YANG DITANGKAP DENGAN BUBU DI PERAIRAN RAWA PENING KABUPATEN SEMARANG Kurniawan, Wahyu; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.339 KB)

Abstract

Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) merupakan salah satu udang air tawar yang saat ini produksinya atau ketersediaan stok di alam semakin menurun karena tingkat penangkapan yang meningkat sehingga perlu dijaga kelestariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi dan strategi pengelolaan sumberdaya Lobster air tawar di Perairan Rawa Pening Kabupaten Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode sensus sampling. Data primer meliputi panjang berat lobster, tingkat kematangan gonad, dan fekunditas untuk mengetahui aspek biologi lobster air tawar. Hasil penelitian didapatkan jumlah sampel panjang berat sebanyak 20 ekor dengan kisaran panjang 65 mm - 180 mm dan modus 113 mm - 128 mm sebanyak 19 ekor dan berat 10 gram – 90,3 gram, ukuran pertama kali lobster tertangkap (L 50%) adalah 94,2 mm dan ukuran pertama kali lobster matang gonad (Lm 50%) adalah 93,7 mm. Nilai Lm 50% < Lc 50% dan Lc 50% <1/2 L∞. Sifat pertumbuhannya adalah allometrik negatif dengan nilai Kn adalah 1,125. Jumlah sampel TKG betina sebanyak 10 didominasi oleh TKG II dan TKG IV. Nilai indeks kematangan gonad terendah pada lobster betina adalah 0,91 % dan nilai IKG tertinggi adalah 4,21 %. Pengelolaan lobster air tawar di Perairan Rawa Pening Kabupaten Semarang adalah dilakukan dengan cara jika terdapat lobster yang belum layak tangkap terperangkap, maka sebaiknya dilepaskan kembali ke perairan. Freshwater Crayfish (Cherax quadricarinatus) is one of the freshwater crayfish which needs to be preserved because of increasing capture efforts. The objective of the study was to observe the biological aspects and strategies to manage freshwater crayfish resources in Rawa Pening waters Semarang Regency. The study was conducted in November 2014 use descriptive methods. The samples were obtained use sensus sampling method. Primary data includes length and weight of the fish, gonad maturity level, and fecundity to identify the freshwater crayfish biological aspects. The study has shown that the total sample length and  weight of the freshwater crayfish ranges from 65 mm to 180 mm and weight 10g-90,3g, and the size of the first captured fish (L50%) was 94,2 mm. The growth observed was negative allometric showing the value of Kn 1,125. The gonad maturity level for female freshwater crayfish was dominated by TKG II and TKG IV. The lowest gonad maturity index for female freshwater crayfish was 0,91 % and the highest was 4,21. The first mature gonad for female freshwater fish was obtained was 93,7 mm. The fecundity ranged from 104  to 134 items. The effort to manage freshwater crayfish in Rawa Pening waters Semarang Regency was done by if there are lobsters  that are caught are not worth catching, then its good to be released back into the waters.
PENGARUH PENGGUNAAN ALAT TANGKAP IKAN HIAS RAMAH LINGKUNGAN TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI GOSONG KARANG LEBAR KEPULAUAN SERIBU Marwadi, Alifhannizar; Anggoro, Sutrisno; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.099 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas tinggi. Banyak ancaman yang mempengaruhi kehidupan karang, salah satunya adalah aktivitas penangkapan ikan hias laut. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan observasi, yaitu dengan membandingkan data tutupan karang di area tangkap ikan hias perairan Gosong Karang Lebar Kepulauan Seribu yang telah diambil pada tahun 2003, 2005, 2007, 2009 dan 2011 oleh Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Perbandingan data tutupan karang tersebut nantinya digunakan untuk mengetahui perbedaan tingkat kerusakan terumbu karang sebelum diterapkannya alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu sebelum tahun 2006 dan setelah diterapkan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu tahun 2006 sampai sekarang. Dari hasil analisis statistik independent sample t-test didapatkan nilai Probabilitas/ Sig. (2-tailed) sebesar 0,458. Hal ini berarti probabilitasnya di bawah taraf signifikansi 0,46. Maka H0 ditolak atau dapat dinyatakan bahwa persentase tutupan karang sebelum dan setelah adanya penerapan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan berbeda. Hasil statistik deskriptif menunjukkan adanya peningkatan rata-rata persentase tutupan karang setelah adanya penerapan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan adalah sebesar 34.2075%. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan persentase tutupan karang sebelum adanya penggunaan alat tangkap ikan hias ramah lingkungan yaitu sebesar 27.7100%.
PENGARUH PEMBERIAN ENZIM DENGAN KONSENTRASI BERBEDA PADA PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) TERHADAP KONSENTRASI AMONIAK, NITRIT, DAN SULFIDA DALAM MEDIA PEMELIHARAAN (The Influence of Enzime Provision with Different Concentration of Enzimes on Tilapia Fish Feed (Oreochromis niloticus) Towards The Concentration of Ammonia, Nitrite, and Sulfide in Media Maintenance) Uswah Hasanah; Haeruddin Haeruddin; Niniek Widyorini
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.639 KB) | DOI: 10.14710/marj.v6i4.21345

Abstract

Kegiatan budidaya pada setiap prosesnya menghasilkan limbah yang dihasilkan dari sisa-sisa pakan dan kotoran yang berasal dari ikan budidaya, terutama budidaya Ikan Nila yang merupakan salah satu jenis ikan tawar yang sudah di budidaya secara komersial oleh masyarakat indonesia. Penelitian dilaksanakan pada Mei-Juni 2017 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Pada penelitian ini ditambahkan enzim pada pakan ikan, suatu enzim yang mengandung protease, lipase, amilase, pepsin, tripsin, dan kemotripsin dalam dosis yang sudah ditentukan untuk memaksimalkan proses pencernaan. Ikan Nila yang digunakan  berukuran 7-9 cm dipelihara di dalam akuarium dengan kapasitas 2 ekor Ikan Nila dalam 1 akuarium dengan volume air 9 l. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi amoniak, nitrit, dan sulfida (H2S) dan membandingkan pengaruh pemberian enzim dengan konsentrasi yang berbeda didalam pakan terhadap konsentrasi amoniak, nitrit, dan sulfida (H2S). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental skala laboratorium. Desain penelitian berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL), dengan menggunakan lima perlakuan yaitu dengan perbedaan konsentrasi enzim. Setiap perlakuan dilakukan 3x pengulangan. Analisis data menggunakan uji two way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim dengan konsentrasi berbeda tidak berpengaruh nyata, lama waktu pemeliharaan berpengaruh nyata terhadap konsentrasi amoniak, dan sulfida, kombinasi dari keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi amoniak, nitrit, dan sulfida. Cultivation activities in each process produce waste generated from the remnants of feed and feces from the fish cultivated, especially the cultivation of tilapia which is one type of fresh bonds that have been cultivated commercially by the people of Indonesian. The research was conducted in May-June 2017 at the Fish and Environmental Resource Management Laboratory, Aquatic Resources Department, Fisheries and Marine Science Faculty, Diponegoro University. The materials on this research are combining the fish feed with an enzime which contains protease, lipase, amylase, pepsin, trypsin, and chemotrypsin in prescribed doses to maximised the digestion process. Tilapia as research object has length of 7 to 9 cm and its kept in an aquarium with capacity (water volumes) of 9 ls which contains of 2 tilapias. The purposes of this research are to know the concentration of ammonia, nitrite and sulfide (H 2 S) in and to compare the effect of the enzyme provision with different concentration in fish feed with the concentration of ammonia, nitrite and sulfide (H 2 S). This research used laboratory-scale experimental method. The study design was based on Complete Randomized Design (RAL), using five treatments with different enzyme concentrations. Each treatments was done by three repetitions. The data was analysed using two-way ANOVA test. The results showed that enzyme with different concentration had no significant effect, maintenance time had significant effect on ammonia concentration, and sulfide, the combination of both did not significantly affect the ammonia, nitrite and sulphide concentration.
PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP PENETASAN KISTA Artemia salina SKALA LABORATORIUM Bahari, Muhammad Cholid; Suprapto, Djoko; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.022 KB)

Abstract

Artemia memiliki nutrisi yang sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan crustacea untuk dapat tumbuh lebih cepat. Nilai nutrisinya didapatkan dari kandungan protein Artemia yang mencapai 60% pada Artemia dewasa. Suhu dan salinitas merupakan salah satu faktor fisik yang paling penting dalam kehidupan laut dan organisme air. terdapat hubungan yang kompleks antara dua faktor, dimana suhu dapat memodifikasi efek salinitas, sehingga mengubah batas toleransi salinitas dari suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Hatching percentage serta Hatching effisiency pada tetasan kista Artemia pada suhu dan salinitas media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 di laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 0C dan 32 0C, sedangkan salinitas yang digunakan adalah 15‰, 20‰, 25‰, 30‰ dan 35‰. Selama penelitian dilakukuan pengambilan sampel pada 15 jam pertama dan 3 jam berikutnya hingga 36 jam, serta dilakukan perhitungan Hatching percentage serta Hatching effisiency. Hasil penelitian didapatkan kombinasi suhu dan salinitas terbaik untuk media penetasan adalah dengan menggunakan suhu 280C dan salinitas 35‰ dengan hasil Hatching percentage, Hatching effisiency sebanyak 229.166 naupli 76,73%. Berdasarkan Uji Anova dua arah, rata-rata penetasan kista Artemia berbeda dan dipengaruhi oleh suhu dan salinitas. Artemia has a very high nutrition and appropriate to be the food of fish larval and crustaceans to grow quick. The nutrition value obtained from the content of a protein Artemia to reach 60% in adult Artemia. Temperature and salinity are the most important physical factors in marine life and organism.There is a complex relationship between the two factors, where the temperature can modify the effect of salinity, thus changing the salinity tolerance limits of an organism, while salinity can modify the effects of the temperature. The purpose of this study were to determine Hatching Percentage and Hatching Effisiency of Artemia cysts at different temperature and salinity levels. This study was conducted in May 2014 in the laboratory of Fisheries Resources Management and Environment, Faculty of Fisheries and Marine Sciences Diponegoro University. The temperature used in this study were 280C and 320C, while the salinity used were 15 ‰, 20 ‰, 25 ‰, 30 ‰, and 35 ‰. During the study, sample were taken in the first steps in 15 hour in continued after at 3 hours and 36 hours consequently, the hatching percentage and hachting efficiency was calculated. The results showed the best combination of temperature and salinity for hatching was 280C temperature and salinity of 35‰ with results of 76.73% and the Hatching efficiency as naupli 229,166. Based on two-way ANOVA test, the Artemia cysts average hatching differ significantly and influenced by temperature and salinity
KESUBURAN PERAIRAN DITINJAU DARI KANDUNGAN KLOROFIL-A FITOPLANKTON : STUDI KASUS DI SUNGAI WEDUNG, DEMAK Adani, Nabila Ghassani; Hendrarto, Boedi; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.858 KB)

Abstract

Perairan Sungai Wedung merupakan ekosistem pesisir yang banyak dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan manusia. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan Sungai Wedung. Kesuburan di perairan tersebut dipengaruhi oleh plankton, faktor kimia, fisika dan juga kandungan Klorofil-A. Pengukuran kandungan klorofil-a fitoplankton merupakan salah satu alat pengukuran kesuburan suatu perairan. Klorofil-a fitoplankton adalah suatu pigmen aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peran penting dalam berlangsungnya proses fotosintesis perairan. Penelitian dilakukan pada bulan April – Mei 2013 di Sungai Wedung, Demak bertujuan untuk mengetahui aktivitas manusia terhadap sebaran klorofil-a, keterkaitan antara klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton dan tingkat kesuburan perairan berdasarkan kandungan klorofil-a fitoplankton. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode “Sample Survey Method”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis data klorofil menggunakan metode anova tersarang (nested anova) diperoleh nilai P untuk stasiun cukup besar sehingga tidak memberikan perbedaan yang nyata pada taraf kepercayaan 95 %. Akan tetapi perbedaan akan nyata pada taraf 90%. Hubungan antara klorofil-a dengan kelimpahan fitoplankton  secara linear menunjukkan nilai keeratan yang tinggi dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,93 dan koefisien determinasi sebesar 0,8633 dimana 86% klorofil-a dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton. Berdasarkan nilai rata-rata klorofil-a yang diperoleh sebesar 1,039863 mg/l dapat disimpulkan bahwa perairan Sungai Wedung tergolong kedalam perairan yang bersifat oligotrofik.
HUBUNGAN KELIMPAHAN MAKROZOOBENTHOS DENGAN BAHAN ORGANIK DAN TEKSTUR SEDIMEN DIKAWASAN MANGROVE DI DESA BEDONO KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Gultom, Christine Rosaline; Muskananfola, Max Rudolf; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 2 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.589 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i2.22539

Abstract

Desa Bedono mengalami abrasi yang mengakibatkan hilangnya lahan pemukiman dan lahan pertambakan. Kondisi tersebut berdampak pada hewan biota yang ada di dalamnya termasuk salah satunya hewan makrozoobenthos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tekstur sedimen, kandungan bahan organik, kelimpahan makrozoobentos, hubungan antar fraksi sedimen, kandungan bahan organik, dan makrozoobenthos. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang dilaksanakan pada bulan September - Oktober 2017 di kawasan mangrove Desa Bedono. Penentuan lokasi sampling menggunakan purposive sampling method pada 12 stasiun. Variabel yang diukur adalah kelimpahan makrozoobenthos, bahan organik dan tekstur sedimen. Hasil penelitian menunjukkan tekstur sedimen pada fraksi sand berkisar antara 5,33% - 82,11%; fraksi silt berkisar antara 3,59% - 53,47% dan fraksi clay berkisar antara 5,14% - 83,83%. Makrozoobentos yang ditemukan dikelompokkan dalam 3 kelas, yaitu: Gastropoda (Cerithidea sp, Nasarius sp, Littorina sp, Terebralia sp), Bivalvia (Anadara sp, Tellina sp, Perna sp, Solen sp), dan Polychaeta (Capitella sp, Nereis sp). Kelimpahan individu tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 12738 ind/m3, sedangkan kelimpahan individu terendah terdapat pada stasiun 3 sebesar 4246 ind/m3. Kandungan bahan organik berkisar antara 13,47% - 17,75%. Hubungan tesktur sedimen dengan kelimpahan makrozoobenthos tidak ada yang memiliki hubungan keeratan yang kuat antara pasir, liat, dan lumpur. Hubungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos menunjukkan keeratan yang kuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,768. Hubungan bahan organik dengan tekstur sedimen tidak memiliki hubungan keeratan antara pasir, lumpur, dan liat. Village of Bedono had an impact of abrasion resulting in the loss of residental and settlemant area. This condition would impact to animal that one of them is Macrozoobenthos. The aim of the research is to recognise type of sediment texture, the content of organic material, abundance of Macrozoobentos, relationships among sediment fraction. This reasearch used decriptive method done in September – Oktober 2017, mangrove plantation in Village of bedono. The desicion of Sampling location used purposive sampling method in 12 stations. Measured variable was the abundance of Macrozoobenthos, organic materials, and sediment texture. The result of research showed that sediment texture. Sediment texture on fractioned sand was about 6,15% - 82,11%; fractioned slit was about 3,59% - 53,47% and fractioned clay was about  5,63% - 83,83%. Macrozoobenthos that is found, was grouped into three classes; they are Gastropods (Cerithidea sp, Nasarius sp, Littorina sp, Terebralia sp), Bivalves (Anadara sp, Tellina sp, Perna sp, Solen sp), and Polychaeta (Capitella sp, Nereis sp). The highest individual abundance was gained at station 1 with 12.738 ind/m3, while The lowest individual abundance was gained at station 3 with  4.246 ind/m3. The content of organic material was about 13,47% - 17,75%. The relationships of sediment texture with macrozoobenthos abundancehas no strong tightness among sand, clay sand and muddy sand. The relationships organic materials with macrozoobenthos abundance was showing that strong tightness with koefisient value of correlation of 0,768. The relationships of organic materials with sediment texture has no tightness among sand, clay sand and muddy sand.
TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT DAN STATUS EKOSISTEM ZONA INTI DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Perdana, Ratri Canar; Purwanti, Frida; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.91 KB)

Abstract

Zona inti sebagai bagian dari Kawasan Konservasi Perairan diperuntukan bagi perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan, penelitian dan pendidikan dengan tetap mempertahankan perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati yang asli dan khas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status ekosistem zona inti dilihat dari kondisi ekosistem karang, ikan karang dan keberadaan biota khas; mengukur kualitas perairan zona inti ditinjau dari tingkat tropik saprobik perairan; dan mengetahui tingkat pemahaman dan kepedulian masyarakat Kepulauan Seribu mengenai batas dan fungsi ekosistem zona inti di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Metode penelitian ini adalah metode deskriptif yang digunakan untuk membuat gambaran atau deskripsi  suatu keadaan secara objektif. Pengamatan dilakukan pada dua aspek, yaitu aspek ekologi dan sosial.Pengamatan aspek ekologi di 5 stasiun pada zona inti II dan 3 stasiun pada zona inti III, mencakup karang, ikan karang, biota khas dan parameter kualitas air. Pengamatan aspek sosial dilakukan wawancara kepada Petugas BTNKpS dan 40 responden masyarakat. Hasil menunjukkan status ekosistem zona inti masih tergolong baik. Pengamatan di lapangan ditemukan 10 famili karang, 8 famili ikan karang dan 2 biota khas dilindungi yaitu Tridacna sp dan Lambis sp yang sudah sulit ditemukan. Kualitas perairan  juga masih tergolong baik dengan rata-rata nilai SI dan TSI perairan di zona inti II yaitu 0,834 dan 1,592 tergolong dalam oligosaprobik dengan indikasi tercemar ringan atau belum tercemar sedangkan pada zona inti III rata-rata yaitu 0,64 dan 0,72 tergolong dalam β – mesosaprobik dengan indikasi adanya pencemaran ringan sampai sedang. Tingkat pemahaman masyarakat mengenai batas dan fungsi zona inti  yang tergolong paham sebanyak 47,5% lebih sedikit dari jumlah yang tergolong kurang sampai tidak paham yaitu 52,5%. Tingkat kepedulian masyarakat terhadap konservasi di kawasan zona inti yang tergolong peduli sebanyak 53,8% sedikit lebih banyak dari jumlah responden yang tergolong kurang peduli sampai tidak peduli yaitu 46,2%. Core zone as partof  Waters Conservation Area was intended for absolute protection of both habitat and fish populations, research and education purpose and  maintenance the protection of nature and typical biodiversity representation. The purpose of the study were to determine the core zone ecosystem status based on the condition of existing coral ecosystems, coral fishes and the presence of typical biota; to measure waters quality of the nucleus zone reviewed by aquatic trophic saprobic levels; and to determine  level of local community comprehension and participation of the boundaries and function of the nucleus zone at the Seribu Island National Park. The research method was descriptive method to makes a description of a situation objectively. Observation was made on two aspects, that were ecological and social aspects. Observation on the ecological aspects was set in 5 stations at the core zone II and 3 stations at the core zone III, includes corals, coral fishes, typical biota and waters quality parameters. Observation on the social aspect done by interviewing 40 respondens of local community and BTNKpS officers. Results indicate that the status of core zone ecosystem was still relatively good. Field observation was found 10 families of corals, 8 families of coral fishes and 2 typical biota that were Tridacna sp and Lambis sp which were rarely found. The average value of SI and TSI waters in the core zone II was 0.834 and 1.592 categorized in oligosaprobic with indication light polluted or not polluted while in the core zone III the average is 0.64 and 0.72 categorized in β - mesosaprobic with indication mild to moderate polluted. The level of local community comprehension about the boundaries and functions of the corezone was 47,5% understand, less than not understand categorized which was 52,5%. The level of local community awareness of conservation in the core zone was 53,8% aware, more than the not aware categorized which was 46,2%.
SEBARAN SPASIAL DAN KELIMPAHAN JUVENIL UDANG DI PERAIRAN MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Ferdiansyah, Ferdiansyah; Hartoko, Agus; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.03 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan muara sungai Wulan merupakan wilayah perairan yang sangat penting fungsinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, karena wilayah perairan tersebut dimanfaatkan para nelayan sebagai tempat penangkapan biota perairan seperti udang. Aktifitas tersebut dapat berpengaruh terhadap siklus hidup udang, kelimpahan maupun sebarannya. Oleh karena itu, informasi tentang sebaran spasial dan kelimpahan juvenil udang dapat digunakan sebagai dasar dalam usaha pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di perairan muara sungai Wulan, Demak yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis juvenil udang, sebaran spasial kelimpahan juvenil udang dan hubungan faktor fisika-kimia perairan terhadap kelimpahan juvenil udang. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan total kelimpahan juvenil udang berjumlah 584 ind/105m3 terdiri dari 4 genera yang teridentifikasi yaitu Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, dan Cloridopsis. Jenis juvenil yang paling melimpah adalah genus Metapenaeus dengan hasil tangkapan sebanyak 286 ind/105m3. Sebaran kelimpahan juvenil udang yang tertinggi terdapat pada daerah kawasan mangrove yang memiliki kecepatan arus perairan yang lambat dan kedalaman perairan yang tinggi. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kecepatan arus dan kedalaman perairan berkorelasi dengan kelimpahan juvenil udang. Kata kunci: Muara Sungai, Juvenil Udang, Kelimpahan, Sebaran Spasial ABSTRACT Wulan estuarine is the territorial waters which highly important function in fulfilling the needs of society, because that have been aquatic biota catchment area such as shrimp. Activity can influence the life cycle, the abundance and spreading of shrimp. Therefore, knowing the spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile may provide such information that can be used as a basis for sustainable fisheries resource management efforts. The study is conducted in May to June 2016 in the waters of the Wulan River estuary, Demak aiming to determine the types, spatial distribution and the abundance of the shrimp juvenile. The method used in this study is purposive sampling method. The results show the total of shrimp juvenile abundance amounted to 584 ind/105m3 consists of 4 genera are identified i.e. Penaeus, Metapenaeus, Macrobrachium, and Cloridopsis. The most abundant of juvenile type is Metapenaeus genus with catches up to 286 ind/105m3. The spatial distribution shows the highest abundance of shrimp juvenile is in mangroves area. Based on the regression test results shows the flow speed and depth of the waters with the abundance of juvenile shrimp are correlated. Keywords: Estuary, Shrimp Juvenile, Abundance, Spatial Distribution