cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
PENGGUNAAN PROBIOTIK DALAM PROSES PELAPUKAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA SP.) PADA TERBENTUKNYA BAHAN ORGANIK, NITRAT DAN FOSFAT (SKALA LABORATORIUM) Noegraha, Lia Pangesty; Nitisupardjo, Mustofa; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.857 KB)

Abstract

Probiotik merupakan kumpulan mikroorganisme yang membantu memperlancar serapan nutria yang dibutuhkan tumbuhan. Pelapukan Eceng Gondok merupakan sumber primer bahan organik di perairan Rawa Pening yang dikhawatirkan akan berdampak pada kondisi perairan yang terlalu subur (eutrofikasi). Materi penelitian adalah probiotik akar, tangkai daun dan daun Eceng Gondok yang ditempatkan dalam aquarium dengan volume 20 liter dan ditambah probiotik 10ml. Metode penelitian adalah metode eksperimen skala laboratorium.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi bahan organik tertinggi yaitu 55,23 – 60,21% pada akar, 51,14 – 54,71% pada daun dan 46,60 – 50,54% pada tangkai daun. Kadar nitrat tetinggi yaitu 1,102 – 3,238 mg/l pada daun, 0,555 – 1,969 mg/l pada tangkai daun dan 0,313 – 1,200 mg/l pada akar.  Kadar fosfat tertinggi yaitu 0,014 – 0,142 mg/l pada daun, 0,008 – 0,100 mg/l pada tangkai daun dan 0,001 – 0,067 mg/l pada akar. Berat biomassa eceng gondok menyusut setelah 4 minggu dari berat awal 200 gr menjadi masing- masing 150 gr pada akar, 70 gr pada tangkai daun dan 40 gr pada daun. Probiotics are living microorganisms that facilitate collection of nutria required by plant uptake. Weathering the water hyacinth is a primary source of organic matter in the Rawa Pening waters. That would impact on water conditions to be more fertile (eutrophication). The research material are probiotics roots, petiole and leaves of the water hyacinth that placed in aquarium with a volume of 20 liters and be added 10ml of probiotics. The research method is experimental method in laboratory-scale. The results showed that on average the highest concentration of organic matter from 55.23 - 60.21% at the root,51.14 - 54.71% at the leaves and 46.60 - 50.54% at the petiole. The nitrate content from 1.102 - 3.238 mg/l at the leaves, 0.555 - 1.969 mg/l at the petiole and 0.313 to 1.200 mg / l at the root.The phosphate content from 0.014 - 0.142 mg/l at the leaves, 0.008 - 0.100 mg/l at petiole and 0.001 - 0.067 mg/l at the root. The biomass of water hyacinth shrink after 4 weeks from initial weight of 200gr to each 150gr at the root, 70gr at the petiole and 40 grat the leaves.
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN DENGAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Saraswati, Saraswati; Hartoko, Agus; Suharti, Sasanti Retno
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.51 KB)

Abstract

ABSTRAKStadia larva merupakan fase awal daur kehidupan bagi ikan. Larva adalah biota perairan yang bersifat planktonik dan termasuk kedalam jenis meroplankton. Ekosistem Padang Lamun di Pulau Pramuka memiliki fungsi ekologis yang cukup penting di wilayah pesisir, dimana ekosistem ini merupakan salah satu daerah asuhan dan daerah mencari makan bagi larva ikan. Adanya perbedaan tingkat kerapatan lamun dan keberadaan makanan dapat memberikan pengaruh terhadap kelimpahan larva ikan. Sehingga hal tersebut menjadi landasan dilakukannya penelitian mengenai Hubungan Kerapatan Lamun Terhadap Kelimpahan Larva Ikan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan larva ikan pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui pengaruh kerapatan lamun terhadap kelimpahan larva ikan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penentuan titik sampling menggunakan metode purposive sampling. Hasil yang diperoleh adalah pada stasiun I tingkat kerapatan lamun padat (34156 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 756 individu/200m2 terdiri dari 8 famili. Stasiun II kerapatan sedang (26410 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan yaitu 579 individu/200m2 terdiri dari 6 famili, dan stasiun III ketapatan jarang (6321 individu/100m2) nilai kelimpahan larva ikan sebesar 426 individu/200m2 yang terdiri dari 4 famili. Nilai korelasi antara kelimpahan larva ikan dengan kerapatan lamun yaitu sebesar r = 0,772. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kelimpahan dan komposisi famili larva ikan dengan kerapatan lamun. Semakin tinggi nilai kerapatan lamun maka semakin tinggi pula nilai kelimpahan dan komposisi famili larva ikan. Begitu pula semakin rendah nilai kerapatan lamun maka nilai kelimpahan dan komposisi larva ikan juga semakin rendah. Kata Kunci : Kerapatan Lamun; Larva Ikan; Kelimpahan; Pulau Pramuka ABSTRACTLarval stage is the early phase of the life cycle for the fish. The larvae are aquatic biota that are planktonic and included into the type meroplankton. Seagrass ecosystems in Pramuka Island, has important ecological functions in coastal areas, where the ecosystem is one of the nursery ground and feeding ground for fish larvae. The big difference the density of seagrass and the presence of food can influence abundance of fish larvae. Thus, it will be the base for doing this research on The relations between Seagrass Density and Fish Larvae Abundance in Pramuka, Seribu Island Jakarta. This research aims to determine the abundance of fish larvae in different seagrass densities and determine the influence of the seagrass density on the abundance of fish larvae. The method used is survey method in determining the point of sampling using purposive sampling method. The results obtained are at station I the densities in dense seagrass (34156 individuals/100m2) abundance of fish larvae value at 756 individuals/200m2 consisting of eight families. Station II medium density (26410 individuals/100m2) the value of the abundance of fish larvae is 579 individuals/200m2 consisting of 6 families, and station III precision rarely (6321 individuals/100m2) the value of fish larvae abundance at 426 individuals/200m2 consisting of 4 families. The correlation values between the abundance of fish larvae with the density of seagrass in the amount of r = 0,772. Based on the above, we can conclude that there is a close relationship between the abundance and composition of fish larvae families with seagrass density. The higher the density of seagrass, the higher the families abundance and composition of fish larvae. Similarly, the lower the density value then the value of seagrass abundance and composition of fish larvae are also lower. Keywords: Sea Grass Density; Fish Larvae; Abundance; Pramuka Island.
DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DI KAWASAN PERAIRAN DESA MANGUNHARJO KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG Viyoga, Handika Wahyu; Solichin, Anhar; Latifah, Nurul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.928 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22528

Abstract

Distribusi dan kelimpahan larva ikan sangat bergantung dengan kondisi perairan di dalamnya. Kawasan perairan Desa Mangunharjo merupakan daerah yang unik karena memiliki tiga ekosistem yang berbeda yaitu ekosistem pantai, ekosistem muara, dan ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi dan kelimpahan larva ikan pada tiga ekosistem yang berbeda di kawasan perairan Desa Mangunharjo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan penentuan titik sampling secara systematic random. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah larva ikan yang tertangkap sebanyak 1.089 individu terdiri dari 7 famili yakni: Ambassidae (260 ind/100m3), Nemipteridae (94 ind/100m3), Engraulidae (424 ind/100m3), Apogonidae (20 ind/100m3), Mugilidae (156 ind/100m3), Gobidae (37 ind/100m3), dan Chanidae (98 ind/100m3). Larva ikan famili Engraulidae tertangkap paling banyak selama dilakukan penelitian. Berdasarkan analisis indeks Morisita, pola distribusi larva ikan adalah acak. Kesimpulan yang dapat diperoleh ialah nilai kelimpahan larva ikan tertinggi terdapat pada ekosistem pantai sebesar 673 ind/100m3 dan terendah terdapat pada ekosistem muara sebesar 188 ind/100m3. Nilai keanekaragaman pada ekosistem pantai, muara, dan mangrove tergolong sedang. Nilai keseragaman di semua ekosistem pengambilan sampel termasuk tinggi. Nilai indeks dominasi pada setiap ekosistem termasuk dalam kriteria nilai yang mendekati 0, yang dapat diartikan tidak ada individu yang mendominasi. Hasil uji Kruskal Wallis untuk nilai kelimpahan larva ikan menunjukkan terdapat perbedaan kelimpahan larva ikan yang nyata di setiap ekosistem. Keterkaitan parameter lingkungan dengan kelimpahan larva ikan yang di uji menggunakan regresi linier berganda menunjukkan nilai korelasi (R) yang termasuk ke dalam kriteria hubungan sedang, untuk nilai determinasi (R2) sebesar 0,131 yang menunjukkan 13,1% kelimpahan ikan dipengaruhi oleh parameter lingkungan. The distribution and abundance of fish larvae depends on the condition of the waters. The waters of Mangunharjo Village are unique because they have three different ecosystems, the first coastal ecosystem, the two estuarine ecosystems, and the last of the mangrove ecosystem. This study aims to determine the distribution patterns and abundance of fish larvae in three different ecosystems in the waters of Mangunharjo Village. The research was conducted on July-August 2017. The research method used the survey, with sistematic random sampling point. The results showed amount of fish larvae caught were 1,089 individuals consisting of 7 families, that is Ambassidae (260 ind/100m3), Nemipteridae (94 ind/100m3), Engraulidae (424 ind/100m3), Apogonidae (20 ind/100m3), Mugilidae (156 ind/100m3), Gobidae (37 ind/100m3), and Chanidae (98 ind/100m3). The most larvae caught on the study is Engraulidae family. Based on the Morisita index analysis, the pattern of fish larvae distribution is random. The conclusion that can be obtained is the highest value of fish larvae abundance found in the coastal ecosystem of 673 ind / 100m3 and the lowest is in the estuary ecosystem of 188 ind / 100m3. The value of diversity in coastal, estuarine and mangrove ecosystems is moderate. The value of uniformity in all sampling ecosystems is high. The value of the dominance index in all ecosystem is included in the criterion of value close to 0, which can be interpreted as no individual dominates. The Kruskal Wallis test results for the fish larvae abundance values indicate that there are differences in fish larva abundance which is evident in each ecosystem. The correlation of environmental parameters with abundance of fish larvae tested using multiple linear regression showed correlation value (R) belonging to intermediate correlation criterion, for determination value (R2) equal to 0,131 showing 13,1% fish abundance influenced by environmental parameter.
TINGKAT KELAYAKAN KUALITAS AIR UNTUK KEGIATAN PERIKANAN DI WADUK PLUIT, JAKARTA UTARA da Linne, Eugene Ramarta; Suryanto, Agung; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.283 KB)

Abstract

Jakarta memiliki banyak rawa untuk mengatasi masalah banjir. Salah satunya, waduk pluit. Tetapi, waduk pluit hanya dijadikan sebagai ekosistem yang berguna untuk mengurangi banjir, dan rekreasi taman keluarga, belum terdapat upaya pengembangan dalam bidang ekonomi dan perikanan yang berguna bagi peningkatan nilai ekonomi dan perikanan. Mengenai pemanfaatan sumberdaya perairan untuk kepentingan kegiatan perikanan, maka perlu diadakan analisa tingkat kelayakan kualitas air di Waduk Pluit berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kelayakan kualitas air Waduk Pluit untuk kegiatan perikanan dan jenis kegiatan perikanan yang cocok dikembangkan di Waduk Pluit. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis yang dapat diartikan sebagai prosedur penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa ataupun kejadian, serta mengumpulkan informasi berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya kemudian dianalisis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Purposive Sampling dimana pengambilan sampel diambil berdasarkan keperluan penelitian, artinya setiap unit atau individu yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja berdasar pertimbangan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan Waduk Pluit ditinjau dari parameter fisika, kimia dan biologi memiliki nilai kualitas air yang tidak layak untuk dilakukan kegiatan perikanan.  Jakarta has a lot of swamps to overcome the problem of flooding. One of them is Waduk Pluit. However, the reservoir is only used as development ecosystem to reduce flooding and recreation family parks, there has no effort in the field of economic and fisheries that use to improve economic value and fisheries. Regarding the utilization of aquatic resources for fisheries activities, it is necessary to analysis feasibility of water quality in the Waduk Pluit based on parameters of physical, chemistry, and biological. The general objective of this study were to determine the feasibility of reservoir water quality for fisheries activities and suitable fisheries activities to be developed in the Waduk Pluit. The method used is descriptive analysis which can be interpreted as a research procedure that seeks to describe a phenomenon, event or occurrence, and to gather information based on the facts as they appear or later be  analysed. The sampling technique used was purposive sampling. In which sample took based on the purposes of the study, meaning that every unit or individual drawn from the population selected purposefully based on certain considerations. The results showed that the water quality of the Waduk Pluit in terms of physical, chemistry and biological parameters has water quality values that unsuitable for fisheries activities.
ANALISIS HABITAT DAN PERUBAHAN LUASAN TERUMBU KARANG DI PULAU MENJANGAN BESAR, KEPULAUAN KARIMUNJAWA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT Januardi, Rio; Hartoko, Agus; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut karang tertinggi, diperkirakan luas ekosistem terumbu karang Indonesia mencapai 50.000 km2 yaitu 25 persen dari luas terumbu karang dunia. Penggunaan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mendeteksi terumbu karang bagi negara yang mempunyai wilayah yang sangat luas dan memerlukan waktu yang relatif singkat serta biaya murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kondisi, perubahan luasan dan tingkat akurasi monitoring terumbu karang di Pulau Menjangan Besar menggunakan citra satelit Landsat 8. Penelitian dilaksanakan pada November 2015-Januari 2016 di Pulau Menjangan Besar dan di Laboratorium Marine Geometric Center, Jurusan Perikanan UNDIP. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksploratif untuk mengetahui jenis dan kondisi terumbu karang menggunakan metode Line Intersept Transect dan metode koreksi kolom air atau Lyzenga. Hasil penelitian  menemukan kondisi terumbu karang di Pulau Menjangan Besar masih dalam kondisi baik dengan persentase penutupan karang sebesar 51,6 persen. Jenis terumbu karang yang terdapat di Pulau Menjangan Besar yaitu Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp dan Favites sp dengan nilai keaneragaman sebesar 1.28 tergolong sedang/moderat dan nilai dominasi sebesar 0.58. Terumbu karang mengalami penurunan luasan sebesar 7,92 Ha dari tahun 2013-2015. Tingkat akurasi penggunaan citra satelit Landsat 8 yaitu 81,25 persen. Kata kunci :Persentase penutupan karang; Luasan habitat; Menjangan Besar; Penginderaan jauh ABSTRACTThe ocean of Indonesia has the highest biodiversity of Coral Reef, the extent of Indonesian’s coral reefs widely predicted 50.000 km2 which is about 25% of the world’s. The use of remote sensing technology is one the alternatives that is appropriate for the detection of coral reefs for a country that has a very wide area and requires a relatively short time and reasonable cost. This study aimed to determine the type; condition; changes in the area; and the level of monitoring coral reefs accuracy in Menjangan Besar Island used Landsat 8 satellite. The study was conducted on November 2015 until January 2016 in Menjangan Besar Island and the Marine Geometric Center, Fisheries Department at Diponegoro University. This research uses an explorative method to determine the type and condition of coral reefs using line intercept transect method and correction on water column method or Lyzenga. The result of this research is the condition of coral reefs in Menjangan Besar in the good condition with the cover percentage of coral at 51.6%. The species of Coral reefs in Menjangan Besar are identified as Acropora sp, Stylopora sp, Porites sp, Favia sp, Heliopora sp, Euphylia sp, Pocilopora sp, Goniopora sp and Favites sp with the value of diversity about 1.28 classified as moderate and the value of dominance of 0.58. The coral reef area decreased by 7.92 ha of the year 2013 to 2015. The accuracy level used Landsat 8 imagery satellite is 81.25%. This level of accuracy using Landsat 8 satellite imagery is 81.25%. Keywords :Percentages of coral reef cover; Extents habitat; Menjangan Besar; Remote sensing.
ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN SUNGAI WEDUNG KABUPATEN DEMAK Mushthofa, Aqil; Rudiyanti, Siti; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.775 KB)

Abstract

Potensi sumberdaya perikanan di perairan Sungai Wedung Kabupaten Demak sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan yang berasal dari sungai yang semakin hari semakin tercemar. Banyaknya bahan pencemar dalam perairan dapat mempengaruhi organisme perairan, bahkan dapat membunuh spesies tertentu. Makrozoobenthos dalam perairan memiliki peranan yang sangat penting yaitu sebagai organisme yang berperan sebagai indikator biologi suatu perairan. Bahan organik yang terkandung dalam substrat dasar erat kaitannya dengan makrozoobenthos, karena bahan organik merupakan sumber nutrien bagi organisme air. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan makrozoobenthos, mengetahui hubungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos serta menilai kondisi atau tingkat pencemaran perairan di sungai. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2013 di perairan Sungai Wedung Kabupaten Demak. Checklist makrozoobenthos dan analisis sedimen dilakukan di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Makrozoobenthos yang didapatkan selama penelitian di Sungai Wedung terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalve. Kelimpahan terbesar terdapat pada stasiun C, sedangkan kelimpahan terendah pada stasiun A. Nilai indeks keanekaragaman stasiun A sebesar 1,230; stasiun B sebesar 0,340; dan stasiun C sebesar 0,295. Hasil analisis regresi antara kandungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos didapatkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,839 artinya bahwa terdapat hubungan yang erat antara kandungan bahan organik dengan kelimpahan makrozoobenthos. Semakin tinggi bahan organik, maka semakin tinggi juga kelimpahan makrozoobenthos. Kandungan bahan organik di ketiga stasiun termasuk dalam kategori tinggi. Tingginya bahan organik ini berasal dari peningkatan aktivitas manusia seperti kegiatan pertanian, pemukiman, serta keberadaan limbah buangan TPI Wedung. Kondisi perairan di stasiun A tercemar sedang, sedangkan pada stasiun B dan stasiun C tercemar berat.
STRUKTUR KOMUNITAS LARVA IKAN PADA SAAT PASANG SURUT DI MUARA SUNGAI MOROSARI SAYUNG, DEMAK Pahingguan, Prayogi; Sulardiono, Bambang; Taufani, Wiwiet Teguh
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.039 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22571

Abstract

Muara Sungai merupakan perairan semi tertutup yang terletak di bagian hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut sehingga memungkinkan untuk terjadinya pencampuran dua massa air, yakni air tawar dan air laut. Tujuan penelitian untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan larva ikan, mengetahui perbedaan struktur komunitas pada saat pasang dan surut. Metode yang di gunakan adalah metode survei yang dilaksanakan pada bulan Mei 2018 di Muara sungai Morosari Sayung, Demak. Sampling dilakukan pada 3 stasiun dengan kondisi pasang dan surut. Variabel yang diukur antara lain Komposisi, Kelimpahan Larva ikan dan Struktur komunitas pada saat pasang dan surut. Hasil penelitian didapatkan Larva ikan pada saat pasang di stasiun I sebanyak 43 ind, stasiun II diperoleh larva  ikan sebanyak 22 ind dan stasiun III sebanyak 34 ind. Hasil penelitian didapatkan pada saat surut di stasiun I sebanyak 24 ind, stasiun II 22 ind dan stasiun III sebanyak 34 ind. Keseluruhan larva ikan yang tertangkap terdiri dari 10 famili yaitu Nemipteridae, Mugilidae, Gobiidae, Ambassidae, Acrididae, Chanidae, Engraulidae, Labridae, Scatophagidae dan Lactaridae. Indeks keanekaragaman pada saat pasang termasuk dalam kategori rendah dan sedang dengan nilai berkisar 0,99-1,6. Indeks keseragaman berkisar antara 0,78-0,91 maka tergolong kedalam kategori tinggi atau stabil. Nilai indeks Dominasi termasuk kedalam dominasi rendah dan sedang dengan nilai berkisar antara 0,22-0,40. Nilai indeks keanekaeragaman pada saat surut masuk dalam kategori rendah dan sedang dengan nilai berkisar 0,91-1,41. Indeks keseragaman berkisar 0,66-0,91 masuk dalam kategori stabil. Dominasi berkisar antara 0,32-0,45, dengan nilai tersebut maka dapat dikategorikan Dominasi sedang.  Estuary is a semi-closed waters located in the downstream part of the river and still in contact with the sea, allowing for mixing of two water masses, namely fresh water and sea water. The purpose of this research is to find out the composition and abundance of fish larvae, to know the differences in community structure during high and low tide levels. The method used in this research is a survey method conducted in May 2018 in the river estuary of Morosari Sayung, Demak. Sampling was carried out at 3 tidal and low tide stations. Variables measured include Composition and Abundance of fish larvae and community structures during highs and low tide level. The research result showed that 43 ind larvae at high tide at station I, were 22 ind at stations II, were obtained and 34 ind stations III. The results of the research were obtained at low tide at station I as many as 24 ind, station II 22 ind and station III as many as 34 ind. All captured fish larvae consist of 10 families namely Nemipteridae, Mugilidae, Gobiidae, Ambassidae, Acrididae, Chanidae, Engraulidae, Labridae, Scatophagidae and Lactaridae. The diversity index value at the high tide entered in the low and medium category ranged from 0.99 to 1.6. Uniformity lindex ranges from 0.78 to 0.91 in the medium category. Domination ranges from 0.22 to 0.40, with this value the entire research station into the category there is no dominance. The diversity index value at the low tide entered in the low and medium category ranged from 0.91 to 1.41. The uniformity index ranges from 0.66 to 0.91 included in the stable category. Domination ranges from 0.32-0.45 with this value can be categorized medium. 
PENGARUH DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes (Mart) Solms, 1824) TERHADAP NITRAT (NO3) DAN TOTAL BAKTERI PADA SKALA LABORATORIUM Maulida, Dwi Tasha; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.324 KB)

Abstract

Eceng gondok (E. crassipes) menjadi salah satu permasalahan yang serius pada kondisi perairan di Rawa Pening. Bahan organik dalam perairan memerlukan proses perombakan melalui dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dekomposisi bahan organik eceng gondok (E. crassipes) terhadap NO3 dan total bakteri. Penelitian dekomposisi bahan organik eceng gondok ini mengacu pada penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap perlakuan kadar 80%, 60%, dan 40%. Data dikoleksi dengan 3 pengulangan selama 5 kali dengan periode satu minggu. Data yang diukur meliputi kandungan bahan organik, nitrat (NO3), total bakteri, suhu, pH air, dan DO pada setiap wadah percobaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan FPIK UNDIP Tembalang, Semarang. Hasil penelitian adalah dekomposisi eceng gondok memberikan pengaruh yang berbeda terhadap bahan organik air, total bakteri, dan NO3. Pengaruh bahan organik pada kadar 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Pengaruh terhadap total bakteri pada kadar bahan organik 80% lebih dari 60%, lebih dari 40%. Dekomposisi eceng gondok pada kadar bahan organik 80% menghasilkan kelebihan NO3, sedangkan dekomposisi eceng gondok dengan kadar bahan organik 60% dan 40% hasil NO3 cenderung menurun. Water hyacinth (E. crassipes) became one of the serious problems to the water conditions in the Pening Swamp. Organic matter in the water needs recast process through decomposition. This study aimed to determine the effect of organic matter decomposition hyacinth (E. crassipes) to NO3 and total bacteria. This research on decomposition of organic matter hyacinths refers to experimental studies with completely randomized design (CRD) of the treatment levels 80%, 60%, and 40%. Data collected by 3 repeated for 5 times with a period of one week. Measured Data includes organic matter content, nitrate (NO3), total bacteria, temperature, water pH, and DO in each of container experimental research. This study was conducted in January 2015 in the Laboratory of Fisheries Resources Management and Environment FPIK Tembalang Diponegoro, Semarang. The results showed that the decomposition of water hyacinths give a different effect in water organic matter, total bacteria, and NO3. Effect of organic material at the rate of 80% more than 60%, more than 40%. Effect of total bacterial content on organic matter level of  80% more than 60%, more than 40%. Decomposition of water hyacinth on organic matter level of 80% has excess NO3, while the decomposition of water hyacinths with organic matter levels of 60% and 40% of the NO3 tended to decline.
POTENSI PENGEMBANGAN WISATA AIR DI WADUK JATIBARANG, SEMARANG BERBASIS NILAI EKONOMI Prayuda, Adam Bergas; Purwanti, Frida; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.53 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan wisata air di waduk Jatibarang dengan menghitung nilai ekonomi Objek Wisata Waduk menggunakan Travel Cost Method (TCM), Willingnes to Pay (WTP), Net Benefit dan R/C Ratio. Penelitian ini juga melihat persepsi responden tentang potensi tersebut. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 100 orang dan 6 orang pelaku usaha di lokasi wisata. Teknik pengambilan data menggunakan teknik Convenience Sampling. Hasil penelitian menunjukkan kondisi fisik Objek Wisata Waduk Jatibarang dalam kategori baik sedangkan aksesibilitas dan fasilitas dalam kategori kurang baik. Pengembangan Objek Wisata Waduk Jatibarang lebih mengacu pada peningkatan kepuasan dan kenyamanan, keindahan alam tetap dijaga dan opsi penambahan wisata. Wahana wisata yang ada di objek wisata yaitu speed boat dan perahu motor. Opsi penambahan wahana wisata terdiri dari becak air, perahu dayung, wisata kuda, mandi bola, banana boat dan wake board.  Pengembangan wisata waduk dengan penambahan wahana wisata yang sesuai dengan estimasi pengguna tertinggi adalah becak air, dengan nilai Willingnes to Pay (WTP) adalah Rp. 10.000,00 dan nilai Net Benefit sebesar Rp. 115.829.100,00. Nilai ekonomi objek Wisata Waduk Jatibarang Semarang dengan menggunakan Travel Cost Method (TCM) sebesar Rp. 215.241.445,00/ tahun. Nilai R/C Ratio waduk sebesar 0,066. Kata kunci : Waduk Jatibarang; Wisata Air; Travel Cost Method (TCM); Willingnes to Pay                    (WTP); Net Benefit; R/C Ratio ABSTRACTThe research aim to know the potency of  water tourism development by calculating economic value in the Jatibarang Reservoir using Travel Cost Method (TCM), Willingnes to Pay (WTP), Net Benefit and R/C Ratio as well as  to know respondent perception on this potency of reservoir tourism development. Respondent of  the research were 100 people and  6 businesses men. Data collected using convenience sampling technique. The research showed that physical condition of tourism attractions is good, whereas accesibility and facilities are not good. Attractions of the Jatibarang Reservoir development refers to increasing satisfaction and comfort, maintaining of nature  and option for adding tourist attraction. Rides tourist attractions are  speed boats and motorboats. Extra options of tourism attraction include water tricycles, paddle boats, horseback tours, bath balls, banana boat and wake board. The highest estimated option of tourism development is water tricycles, with willingnes  to  Pay  (WTP) value about  IDR.  10,000.00  and  Net  Benefit  value  about  IDR. 115,829,100.00. The economic value of the Jatibarang Reservoir Semarang by the Travel Cost Method (TCM) is IDR. 215,241,445.00 / year. Reservoir R/C Ratio value about 0.066Keywords : Jatibarang Reservoir; Water Based Tourism; Travel Cost Method (TCM); Willingnes to Pay (WTP); Net Benefit; R/C Ratio 
STUDI PENGARUHNYA DETERJEN TERHADAP KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR SEMARANG Swary, Amalia; Hutabarat, Sahala; Haeruddin, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.617 KB)

Abstract

Sungai Banjir Kanal Timur merupakan sungai yang terletak di daerah Semarang Timur. Sepanjang aliran sungai terdapat pemukiman warga setempat, perikanan, dan kawasan industri. Deterjen adalah pembersih sintesis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi dan mengandung  bahan-bahan kimia antara lain surfaktan, builder, filler, dan additives. Surfaktan mempunyai perbedaan yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Fitoplankton merupakan organisme yang hidup di perairan berukuran sangat kecil dan dapat menguntungkan bagi organisme lainya serta sebagai produser utama di dalam  rantai makanan yang ada di perairan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi deterjen, kelimpahan, indeks keanekaragamaan, keseragamaan, serta dominasi fitoplankton dan saprobik indeks, pengaruh konsentrasi deterjen terhadap fitoplankton di Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode penelitian survey. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Konsentrasi deterjen  tertingi sebesar 7,67 mg/L, kelimpahan fitoplankton sebesar 1405 ind/L dengan 13 genera, keanekaragaman sebesar 2,61, keseragaman sebesar 1 serta dominasi fitoplankton sebesar 0,13 dan yang mendominasi adalah Euglena sp. dari kelas Euglenoidea dan Indeks Saprobitas sebesar -0,42 dan Trofik Saprobik Indeks sebesar -0,10. Perairan tersebut termasuk dalam golongan α-Mesosaprobik/perairan cukup berat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara konsentrasi deterjen dengan kelimpahan fitoplankton menunjukkan korelasi yang erat sekali (r) 0,963. Nilai R2 (determinasi) 0,927 dengan tingkat keeratan sebesar 92,7 % . Banjir Kanal Timur River is located in east part of Semarang. Along the river there are local residents, fisheries activity and industrial area. Detergent is sintetic cleaning which made from derivated of oil and containing chemical material such as surfactan, builder, filler, and additives. There are 2 kind of surfactan, hydrophile dan hydrophobe. Phytoplankton is small organism living in the waters dan favorable to others organism, phytoplankton is main producer in waters food chain. This purpose research are to know detergent concentration, phytoplankton abundance, diversity, eveness, domination and saprobic indexs, and the influence of detergent the living of  phytoplakton in Banjir Kanal Tmur River Semarang. This methode research used survey research and to colect the samples/datas used purposive sampling methode. The highest concentration detergent is 7.67 mg/L and phytoplankton abundance  is 1405 ind/L with 13 genera. This research showed that diversity is 2,61, eveness is 1 and the domination is 0.13, dominated by Euglena sp. from class of Euglenoidea. This research also show that Saprobic index is -0.42 and trophic saprobic index is -0.10, this mean that Banjir Kanal Timur River is clasified of α-Mesosaprobik waters or the river is in high contamination. This result show that there is high corelation between detergent consentration and phytoplankton abundance with (r) value is 0.963, (R2) determination value is 0.927 and precentage is 92.7%.