cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KAJIAN KUALITAS AIR KAWASAN PERTAMBAKAN DI SUNGAI BUNTU, KENDAL Water Quality Assessment of Aquaculture Areas in Buntu River, Kendal Setiawan, Krisna; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.302 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24251

Abstract

ABSTRAK Sungai Buntu yang terletak di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah merupakan daerah padat penduduk dan digunakan sebagai tempat pembuangan sisa tambak. Adanya aktivitas penduduk dan sisa tambak di sekitar sungai berpotensi membuat perairan menjadi tercemar. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengkaji status mutu air menggunakan analisis STORET dan mengetahui beban pencemaran dari kawasan pertambakan yang masuk ke perairan sungai Buntu, Kabupaten Kendal ditinjau dari Biological Oxygen Demand (BOD), nitrat, nitrit dan amonia. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018 dan Januari 2019. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode survey dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling pada 4 stasiun dalam 2 minggu. Analisis status mutu air menggunakan metode STORET dan analisis beban pencemaran dengan persamaan BP= Q×Ci. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa status mutu air di perairan sungai Buntu sebelum tambak dan pada kawasan tambak yaitu cemar sedang, serta bagian muara cemar ringan. Beban pencemaran BOD sebesar 551,67 ton/bulan, nitrat sebesar 20,89 ton/bulan, nitrit 2,66 ton/bulan dan amonia sebesar 2,46 ton/bulan. Ditinjau dari konsentrasi nitrat, sungai Buntu tergolong perairan oligotrofik. ABSTRACT Buntu river is located in Kendal city, Central Java. It is a dense population area and become a place that contain aquaculture effluent. Human activities and aquaculture effluent along the river cause water pollution. Aims of this study are to assess water quality status using STORET analysis and knows pollution load from aquaculture areas which flow to Buntu river, Kendal city based on concentration of Biological Oxygen Demand (BOD), nitrate, nitrite and ammonia. The study was conducted in December 2018 to January 2019 and used survey method. The technical method of sampling was using a purposive sampling on 4 stations in 2 weeks. Water quality status analysis used STORET method and pollution load analysis used BP= Q×Ci. The final result shows that water quality status in Buntu river is different in each station. The status before aquaculture area and at aquaculture area is medium polluted, and at estuary is low polluted. Pollution load of BOD is 551,67 tons/month, nitrate is 20,89 tons/month, nitrite is 2,66 tons/month and ammonia is 2,46 tons/month.
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN CANTRANG DAN ASPEK BIOLOGI IKAN KUNIRAN (Upeneus sulphureus) YANG DIDARATKAN DI PPP BAJOMULYO, JUWANA Azizah, Ika Rianita; Rudiyanti, Siti; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.457 KB)

Abstract

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi ikan yang tertangkap dengan cantrang, mengetahui aspek biologi ikan Kuniran yang meliputi sifat pertumbuhan, tingkat kematangan gonad (TKG), dan indeks kematangan gonad (IKG), mengetahui nilai CPUE dan mengetahui upaya pengelolaan sumberdaya tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2015 selama satu bulan di TPI Bajomulyo Juwana, Pati. Metode yang digunakan adalah metode sampling acak sederhana yang dilakukan dengan pengambilan sampel secara acak sebanyak 966 sampel ikan Kuniran yang didaratkan untuk pengukuran panjang berat dan 97 sampel untuk pengamatan TKG. Selain melakukan sampling juga dilakukan wawancara/tanya jawab kepada nelayan dan pegawai di PPP/TPI. Berdasarkan Penelitian ikan yang tertangkap dengan cantrang terdiri dari 15 spesies yaitu ikan Kapasan (Gerres kapas), ikan Abangan (Nemipterus nematophorus), ikan Swanggi (Priacanthus tayenus), ikan Kuniran (Upeneus sulphureus), dll. Ikan yang dominan tertangkap adalah ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) yaitu 5.510 kg pada tanggal 15 Maret 2015 dan 10.479 kg pada tanggal 03 April 2015. Pertumbuhan ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) setelah dilakukan uji t diperoleh tHitung > tTabel maka ikan Kuniran bersifat Alometrik positif (pertumbuhan berat lebih cepat daripada pertumbuhan panjang). Tingkat Kematangan Gonad ikan Kuniran betina didominasi oleh TKG III dan TKG IV, sedangkan ikan Kuniran Jantan didominasi oleh TKG I dan TKG II. Indeks Kematangan Gonad jantan maupun betina ≤ 20% sehingga ikan Kuniran termasuk ikan yang dapat melakukan pemijahan lebih dari satu kali setiap tahunnya. Nilai Catch per Unit Effort (CPUE) tertinggi pada tanggal 21 Maret 2015 yaitu 2.900 kg/kapal dan terendah pada tanggal 22 Maret 2015 yaitu 560 kg/kapal dan cenderung mengalami fluktuasi. Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan yaitu menjaga ukuran mesh size, mengatur musim penangkapan dan menyadarkan nelayan tentang stok di alam. Coastal Fishery Port (PPP) Bajomulyo is one the largest fishing port in the Juwana District, Pati. This study aims to determine the composition of the fish caught by cantrang, knowing the biological aspect of Kuniran fish which include the nature of growth, gonads maturity level (TKG), and gonads maturity index (IKG), knowing the value of CPUE and determining the resource management efforts. This activity was carried out in March - April 2015 for one month in TPI Bajomulyo Juwana, Pati. The method used was simple random sampling method conducted by random sampling as many as 966 Kuniran fish samples which landed for measuring the weight and length of97 samples for observation of TKG. In addition, the study also carried an interview/question and answer to the fishermen and employees in the PPP/TPI. Based on the study of fish caught by cantrang consists of 15 species, namely Kapasan fish (Gerres kapas), Abangan fish (Nemipterus nematophorus), Swanggi fish (Priacanthus tayenus), Kuniran fish (Upeneus sulphureus), etc. The dominant fish caught was Kuniran (Upeneus sulphureus) i.e. 5,510 kg on March 15, 2015 and 10 479 kg on April 3, 2015. Kuniran fish (Upeneus sulphureus) growth after t test was obtained tCount> tTable then Kuniran fish is categorized positive Allometric (growth of weight is faster than growth of length). Gonads Maturity level of female Kuniran fish was dominated by TKG III and TKG IV, while Males fish Kuniran were dominated by TKG I and TKG II. gonads Maturity index of male and female fish is ≤ 20% so that the Kuniran fish included in fish that can perform spawning more than once per year. The highest value of Catch per Unit Effort (CPUE) was on March 21, 2015 i.e 2,900 kg/vessel and the lowest was on March 22, 2015 i.e 560 kg/vessel.Management efforts to do is to keep the mesh size and to set the fishing seasonand disenchant to fishermen about stock in nature.
HUBUNGAN SEBARAN STRUKTUR KOMUNITAS KARANG DENGAN VARIABILITAS KUALITAS LINGKUNGAN DI PERAIRAN TERUMBU DI PULAU BURUNG KABUPATEN BELITUNG Sulaksono, Septian Budi; -, Ruswahyuni; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.15 KB)

Abstract

Pulau Belitung merupakan wilayah kepulauan yang menyimpan kekayaan laut, terutama terumbu karang yang berlimpah. Hal ini disebabkan karena perairan Belitung merupakan perairan tropis. Kehidupan terumbu karang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di perairan tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlulah dilakukan suatu kajian secara seksama tentang hubungan variabel lingkungan terhadap kondisi dan sebaran struktur komunitas karang, agar  dapat memberikan gambaran dan informasi mengenai kondisi terumbu karang dan sebaran struktur serta pengaruh variabel lingkungan di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang, pengaruh kualitas lingkungan terhadap kondisi dan sebaran terumbu karang di perairan Pulau Burung, Kabupaten Belitung. Penelitian dilaksanakan pada bulan maret - april 2012.Jenis karang yang di dapat di lokasi penelitian adalah Acropora sp., Euphyllia sp., Favia sp., Favites sp., Fungia., Goniastrea sp., Helioporra sp., dan Porites sp.. Dari hasil perhitungan prosentase penutupan karang hidup di lokasi penelitian, didapatkan pada kedalaman 3 meter sebesar 56.15%, pada kedalaman 5 meter sebesar 54,57%, serta pada kedalaman 7 meter didapatkan hasil sebesar 67,3%. Penutupan karang di Pulau Burung Kabupaten Belitung dikategorikan baik, karena memiliki penutupan karang lebih dari 50%. Dari hasil uji regresi disimpulkan bahwa paremeter kualitas air memiliki hubungan yang cukup erat dengan kondisi terumbu karang di perairan Pulau Burung.
DESKRIPSI KAWASAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN SIFAT BIOFISIK DAN FAKTOR SOSIAL DI MAROON MANGROVE EDUPARK DESA TUGUREJO SEMARANG, JAWA TENGAH (Description of Area in Mangrove Forest Based on Biophysical Properties and Social Factors in Maroon Mangrove EduPark, Tugurejo Village, Semarang, Central Java ) Sinaga, Riris Rezeki; Hendrarto, Boedi; Supriharyono, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.065 KB)

Abstract

Kawasan sekitar Pantai Maron menjadi salah satu objek wisata baru di Kota Semarang bernama Maroon Mangrove EduPark (MMEP). MMEP merupakan kawasan seluas 1,5 hektar dengan kondisi hutan mangrove yang cukup luas. Rendahnya pengetahuan dan informasi pengelola merupakan permasalahan utama dalam pengelolaan. Tujuan penelitian ini mengetahui permasalahan dalam pengelolaan melalui karakteristik komunitas mangrove beserta kualitas perairan disekitarnya dari aspek nutrisi dan faktor-faktor penting dari aspek sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan metode sampling. Data terdiri atas data utama dan penunjang. Data utama meliputi biofisik lingkungan dan sosial. Data penunjang meliputi data yang sudah diukur sebelumnya. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan pengujian menggunakan Analisa Faktor. Kawasan mangrove di Maroon Mangrove EduPark yang terdapat di Desa Tugurejo Kecamatan Tugu memiliki beberapa jenis tumbuhan mangrove tetapi yang paling dominan yaitu Rizhophora dengan nilai kerapatan berkisar antara 800-2000 P/ha. Kondisi kualitas perairan di MMEP adalah suhu dengan nilai rata -rata yaitu 33- 34 °C, Nilai pH dengan nilai rata-rata 6, Salinitas air berkisar antara 25 – 26 0/00, kandungan Nitrat berkisar antar 0,8 – 1,6 mg/L dan kandungan Fosfat berkisar antara 0,034 – 0,051 mg/L. Faktor penting untuk pengembangan wisata didapatkan dua buah yaitu faktor (1) fungsi ekosistem mangrove untuk masyarakat dan faktor (2) estetika dan kondisi hutan mangrove. Faktor penting yang didapatkan diharapkan dapat menjadi solusi dalam pengelolaan. The area around Maroon Beach became one of the new tourist attraction in Semarang City named Maroon Mangrove EduPark (MMEP). MMEP is an area of 1.5 hectares with extensive mangrove forest conditions. The lack of knowledge and managerial information are a main problem in management. Purpose of this study was to know the problems in management through the characteristics of mangrove community and quality of surrounding waters from nutritional aspects and important factors from the social aspect. The research is used descriptive and sampling methods. Data consisted of main and supporting data. Primary data included environmental biophysics and social. The supporting data includes previously measured data. Data analysis were done descriptively and testing using Factor Analysis. Mangrove area in Maroon Mangrove EduPark located in Tugurejo Village Tugu District had several species of mangrove plants but the most dominant is Rizhophora with density values ranging between 800-2000 P / ha. The water quality condition in MMEP was temperature with average value of 33-34 ° C, pH value with average value 6, water salinity ranged from 25 - 26 0/00, Nitrate content ranges between 0,8 – 1,6 mg / L and Phosphate content ranges from 0,034 – 0,051 mg / L. Important factors for tourism development were two factors: (1) mangrove ecosystem function for community and factor (2) aesthetics and condition of mangrove forest. Important factors were expected to be a solution in the management.
KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK DAN PANTAI KUKUP KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Nugroho, Waskito; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.456 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan. Adapun Pantai Sundak dan Pantai Kukup merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan karang mati pada kedua pantai tersebut merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular. Pada kedua lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada kedua pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) di perairan Pantai Sundak dan Pantai Kukup, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2014. Metode pengambilan data persentase penutupan karang menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter, sedangkan pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) menggunakan metode kuadran transek berukuran 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Sundak sebesar 92.06 %. Sedangkan nilai persentase penutupan karang mati di Pantai Kukup sebesar 86.20 %. Pada daerah Pantai Sundak didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 755 individu/ 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Pantai Kukup sebanyak 366 individu/ 150 meter2. Pada  kedua lokasi didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma riseii, Ophiocoma scolopendrina, dan Ophiocoma erinaceus. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Pantai Sundak dan Pantai Kukup adalah jenis Ophiocoma scolopendrina.  Berdasarkan hasil Uji “T” test dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis bintang mengular yang paling tinggi adalah pada Pantai Sundak sehingga terdapat perbedaan kelimpahan bintang mengular antara Pantai Sundak dan Pantai Kukup.  Brittle star (Ophiuroidea) is a part of Echinoderm which is available in the territorial waters around the world. Ophiuroidea actually has a pivotal role for water ecosystem. Sundak Beach and Kukup Beach, the coastal areas situated in the south of the Java Island that become the tourist destinations, has a site called dead reef as an inhabitant of brittle stars. At both locations are being estimated, there is an abundance of brittle stars. It is also supposed that the human activity in those two beaches has affected the difference of brittle stars affluence. This research is aimed to study these differences exactly located in Gunugkidul, Yogyakarta, while the observation itself done in April 2014. The method to take the data percentage for the closure of coral uses line transect method in 50 meters length. For the sampling of Ophiuroidea abundance, it utilizes quadrant transect in 1 square meters. As the results, the percentage data shows the closure of dead reef is 92, 06% for Sundak Beach and 86, 20% for Kukup Beach. In term of individual affluence, Sundak Beach has 775 individuals / 150 sqm., while Kukup Beach has 366 individuals / 150 sqm. In these locations, there are three species of brittle star; Ophiocoma riseii, Ophicoma scolopendrina, and Ophiocoma erinaceus. The high rate abundance is Ophiocoma scolopendrina which is mostly found in Sundak Beach waters. Based on the “T” test, that such differences happen in Sundak Beach and Kukup Beach.
KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN LARVA DAN JUVENIL IKAN DI SEKITAR MUARA SUNGAI TULUNG DEMAK Revika, -; Purnomo, Pujiono Wahyu; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.842 KB)

Abstract

Fluktuasi kondisi lingkungan hidup yang cukup tinggi di daerah estuari menyebabkan beberapa spesies yang mampu bertahan. Salah satu karakteristik daerah estuari adalah sebagai tempat berkumpulnya bahan organik sehingga daerah ini banyak ditempati oleh mikroorganisme. Komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kandungan klorofil-α di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kandungan klorofil-α di sekitar muara sungai dengan komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 – Januari 2015 di muara Sungai Tulung, Demak. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik survey lapangan. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan komposisi dan kelimpahan larva dan juvenil ikan di sekitar muara sungai. Lokasi penelitian dibagi dalam 3 stasiun, stasiun 1 terletak di daerah terluar sungai ke arah laut bagian utara dan selatan, stasiun 2 terletak di dekat pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Tulung dan Sungai Sier, stasiun 3 terletak dekat dengan daratan dan permukiman warga. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Regresi dan Korelasi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa komposisi larva dan juvenil ikan sebanyak 7 famili dengan kelimpahan individu sebesar 266 ind/100 m3, antara lain Gobiidae (64,42%), Ambassidae (28,99%), Cynoglossidae (0,65%), Siluridae (4,57%), Eleotridae (0,40%), Labridae (0,34%) dan Engraulidae (0,65%). Kelimpahan larva dan juvenil ikan didominasi oleh famili Gobiidae. Nilai klorofil-α di stasiun 1, 2 dan 3 adalah 0,124 mg/m3; 0,233 mg/m3 dan 0,237 mg/m3 tergolong kategori rendah. Terdapat hubungan yang cukup erat antara kelimpahan larva dan juvenil ikan dengan klorofil-α. High fluctuation of environment condition in estuary cause the some species can hold out. One of characteristic  from estuary is place of association organic materials, it cause this area many placed by microorganism. Composition and abundance fish of larvae and juvenile affected by some factors, which one is content of chlorophyll-α in the water. The aim of this research is to know relationship between content of chlorophyll-α in around estuary with compositon and abundance fish of larvae and juvenile. This research was conducted in November 2014 – January 2015 at estuary of Tulung River, Demak. The  method used in this research is descriptive with field survey technique. This method was used to describe compositon and abundance fish of larvae and juvenile in estuary. Location of study were divided into three stations, station 1st is located in the outer area of the river toward the sea to the north and south, station 2nd is located near the confluence of two streams, Tulung River dan Sier River, station 3rd is located close to the mainland and residency. Analysis of the data used in this research is Regretion and Correlation Test. Based on the result of research showed that composition of larvae and juvenile are 7 families with abundance of individual amounted to 266 ind/100 m3, included from Gobiidae (64,42%), Ambassidae (28,99%), Cynoglossidae (0,65%), Siluridae (4,57%), Eleotridae (0,40%), Labridae (0,34%) and Engraulidae (0,65%). Abundance fish of larvae and juvenile dominated by the family Gobiidae. Value chlorophyll-α at station 1st, 2nd and 3rd is 0,124 mg/m3; 0,233 mg/m3 and 0,237 mg/m3 relatively low category.There is fairly close relationship between abundance fish of larvae and juvenile with content of chlorophyll-α.
ANALISIS PERBEDAAN MORFOLOGI DAN KELIMPAHAN KARANG PADA DAERAH RATAAN TERUMBU (Reef Flate) DENGAN DAERAH TUBIR (Reef Slope) DI PULAU PANJANG, JEPARA Septyadi, Kiai Agoes; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.979 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan kawasan wisata di Jepara yang memiliki potensi salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang mempunyai fungsi ekologis yaitu sebagai habitat untuk berkembang biak, mencari makan dan berlindung bagi biota lain. Terumbu karang juga mempunyai fungsi melindungi pantai dari hempasan ombak dan arus laut. Selain itu keindahan alam laut dan terumbu karang sendiri dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai daerah pariwisata bahari.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologi karang pada zona rataan (reef flat) dengan terumbu karang daerah tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, Jepara. Dan mengetahui kelimpahan terumbu karang pada zona rataan (reef flat) dan terumbu karang pada zona tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, di letakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antara line dimasing-masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang yang ditemukan di rataan terumbu dan tubir yaitu  adalah jenis Porites sp., Acropora sp., Echinopora sp., Turbinaria sp., Goniastrea sp., Pavona  sp., Favites sp., Leptoseries sp., Pectinia sp., dan Goniopora sp. Prosentase penutupan karang hidup tertinggi di rataan terumbu yaitu jenis Porites sp. 26,73% , Goniastrea sp. 4,10% dan Acropora sp 3,67%. Sedangkan presentase penutupan karang hidup tertinggi di tubir yaitu jenis Porites  sp. 35,67%, Echinopora sp. 6,50% dan Acropora sp. 6,33%. Nilai prosentase penutupan karang hidup di daerah rataan terumbu sebesar 36,40% yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan nilai prosentase penutupan karang hidup di tubir sebesar 65,50% termasuk kategori baik. Pada rataan terdapat jenis morfologi Acropora yaitu  jenis Acropora Branching (ACB) sebesar 3,67%, sedangkan pada tubir  sebesar 6,33%. Jenis morfologi yaitu jenis Acropora terdapat satu jenis yaitu Acropora Branching (ACB), Baik daerah rataan dan tubir.  Sedangkan untuk non Acropora yang paling banyak adalah jenis Coral Encrusting (CE) baik pada rataan dan tubir.
PENGARUH KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT TERHADAP KELIMPAHAN DIATOM DI MUARA SUNGAI WULAN, DEMAK Permatasari, Renny Diah; Djuwito, Djuwito; Irwani, Irwani
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.035 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Wulan merupakan salah satu kawasan bermangrove yang masih tersisa di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah. Perputaran nutrien yang ada di perairan ekosistem mangrove menjadikan ekosistem ini kaya akan unsur hara. Konsentrasi unsur hara berpengaruh terhadap kelimpahan biota yang ada di dalamnya termasuk diatom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan diatom. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik stratified random sampling. Stasiun penelitian dibagi dalam 3 stasiun berdasarkan sebaran salinitas, kemudian setiap stasiun ditentukan 2 titik sampling. Pengambilan sampel diatom menggunakan plankton net dengan mesh size 25 µm. Pengukuran parameter fisika kimia perairan dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel diatom. Hasil analisis parameter fisika kimia air selama penelitian diperoleh temperatur air (30-32oC), kecerahan (20-32,5 cm), kedalaman (50-120 cm), kecepatan arus (0,03-0,125 m/s), pH 6, oksigen terlarut (5,00 – 7,48 mg/l), salinitas (10-25 ppt), nitrat (0,80 – 2,00 mg/l), fosfat (0,18-0,86 mg/l). Diatom yang teridentifikasi terdiri dari 15 genera. Kelimpahan diatom tiap stasiun berkisar antara 3800-5287 ind/l, keanekaragaman (1,771-2,294), keseragaman (0,719-0,894) dan dominansi (0,117-0,228).  Hasil uji regresi linier berganda dan korelasi parsial menunjukkan bahwa konsentrasi nitrat lebih berpengaruh terhadap kelimpahan diatom dengan nilai 0,729 dibandingkan dengan konsentrasi fosfat dengan nilai -0,461.                       Kata Kunci : Nitrat; Fosfat; Kelimpahan Diatom; Muara Sungai Wulan ABSTRACT Wulan estuary is one of the mangrove areas in North Coast of Central Java. Nutrients cycle in aquatic mangrove ecosystem makes this ecosystem rich of nutrients.  Nutrients concentration affect the abundance of organisms, including diatom. The research aimed to determine influence of nitrate and phosphate on the diatom abundance. The research was conducted in April 2016. The method research used descriptive method with stratified random sampling technique. The station was divided into 3 stations based on salinity distribution, then the station are determined 2 sampling points. Diatom sampling used plankton net mesh size 25 µm. Measurement of physical-chemical parameters and diatom sampling were conducted in same time. Analysis of physical-chemical parameters showed that water temperature during the study range 30 to 32oC, turbidity 20-32,5 cm, depth 50-120 cm, current speed 0,03-0,125 m/s, pH 6, dissolved oxygen 5,00 – 7,48 mg/l, salinity 10 to 25 ppt, nitrate 0,80 to 2,00 mg/l, phosphate 0,18 to 0,86 mg/l. Diatoms were identified consists of 15 genera. Diatom abundance ranged from 3800-5287 ind/l, diversity 1,771 to 2,294, uniformity 0,719 to 0,894 and dominance 0,117 to 0,228. The results of multiple linear regression and partial correlation showed that nitrate concentration has more influence on the abundance of diatoms with a value 0,729 compared with  concentration of phosphate with a value -0.461. Key Words: Nitrate; Phosphate; Diatom Abundance; The Estuary of Wulan
KEMAMPUAN ECENG GONDOK (Eichhornia sp.), KANGKUNG AIR (Ipomea sp.), DAN KAYU APU (Pistia sp.) DALAM MENURUNKAN BAHAN ORGANIK LIMBAH INDUSTRI TAHU (SKALA LABORATORIUM) Indah, Lutfiana Sari; Soedarsono, Prijadi; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.453 KB)

Abstract

Limbah tahu mengandung bahan organik yang tinggi, dikarenakan bahan baku pembuatan tahu (kedelai) mengandung protein hingga 40 – 60%. Bila limbah cair tahu langsung dibuang ke sungai akan menyebabkan pencemaran, merusak habitat biota serta mengurangi estetika. Salah satu upaya yang mudah, murah dan aplikatif untuk mengurangi dampak tersebut adalah secara fitoremediasi menggunakan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam menurunkan kandungan bahan organik limbah tahu dengan menggunakan tanaman eceng gondok (Eichhornia sp.), kangkung air (Ipomea sp.) dan kayu apu (Pistia sp.), serta mengetahui kondisi fisik tanaman dan air yang dilihat dari nilai hue.Metode yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dengan menggunakan wadah percobaan berupa ember bervolume 15 L yang diisi dengan limbah tahu dengan konsentrasi 25% sebanyak 10 L. Variabel utama penelitian adalah kandungan bahan organik pada media percobaan yang didukung  dengan berat basah tanaman, nilai hue air dan daun serta kualitas air (pH dan suhu). Rancangan percobaan adalah RBD (Randomize Block Design) dengan 2 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan pertama jenis tanaman (eceng gondok, kangkung air dan kayu apu), perlakuan kedua sebagai blok adalah waktu (hari ke-7, ke-14, ke-21 dan ke-28). Data bahan organik dianalisis dengan Analysis of Variant (Anova) dan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf signifikan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eceng gondok (Eichhornia sp.) memberikan hasil terbaik dalam menurunkan bahan organik limbah tahu hingga menjadi 195±48.61 mg/l dengan daun masih tampak hijau dan warna air coklat bening.
KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH) PUKAT DORONG DI TAMBAK LOROK, SEMARANG Luthfiani, Laeli; Ghofar, Abdul; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.352 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22553

Abstract

Kegiatan perikanan tangkap di Tambak Lorok dilakukan menggunakan berbagai alat tangkap, salah satunya adalah pukat dorong / sodo. Penggunaan pukat dorong menghasilkan tangkapan sampingan (bycatch). Penelitian dilaksanakan pada Desember 2017 - Maret 2018 di Tambak Lorok, Semarang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara pengoperasian pukat dorong, komposisi hasil tangkapan, komposisi jenis, dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan pukat dorong di Tambak Lorok, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampling dilakukan sebanyak 5 kali dengan mendata hasil tangkapan kapal pukat dorong di dermaga dan 1 kali mengikuti kegiatan nelayan dalam operasi penangkapan ikan. Pengoperasian pukat dorong meliputi proses setting, pushing, dan hauling selama 6 jam pada kedalaman 5-12 meter sekitar 2 mil dari bibir pantai dengan nilai B/C Ratio yaitu 1,63 yang berarti usaha tersebut menghasilkan keuntungan sehingga layak untuk dijalankan. Komposisi hasil tangkapan pukat dorong berdasarkan berat tangkapan yaitu 39,84% tangkapan utama dan 60,16% tangkapan sampingan. Hasil tangkapan sampingan pukat dorong yang sering ditemukan adalah Ikan Layur (Trichiurus lepturus), Ikan Kempar (Secutor ruconius), Ikan Kembung (Rastrelliger sp.), dan Ikan Tunul (Sphyraena jello). Distribusi ukuran beberapa jenis tangkapan sampingan merupakan ukuran yang belum layak tangkap karena < Lm dan nilai L50% < ½ L∞.  Capture fisheries in the Tambak Lorok use a variety of fishing gear; one of which is pushnet / sodo. The use of pushnet produces bycatch. The research was conducted in December 2017 - March 2018 aiming to find out the way of pushnet operation, catch composition, bycatch type composition, and bycatch size distribution of pushnet in the Tambak Lorok, Semarang. The research method used survey method, while sampling done by purposive sampling method. Operation of pushnet includes the process of setting, pushing, and hauling for 6 hours at a depth of 5-12 meters about 2 miles away from the shore. The value of B/C Ratio is 1.63 which means the business is feasible. Catches composition by weight is 39,84% target species and 60,16% bycatch. Composition type of bycatch was dominated by Ribbonfish (Trichiurus lepturus), Ponyfish (Secutor ruconius), Mackerel (Rastrelliger sp.), and Barracuda (Sphyraena jello). The size distribution of some bycatch were included the size of uncatchable fish because < Lm and L50% < ½ L∞.Â