cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTOS PADA DUA UMUR TANAM Rhizophora sp. DI KELURAHAN MANGUNHARJO, SEMARANG Kusumaningsari, Sandra Devita; Hendrarto, Boedi; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.913 KB)

Abstract

Mengingat pentingnya fungsi hutan mangrove dalam penyediaan habitat beragam jenis biota yang berasosiasi didalamnya, maka masalah kerusakan hutan mangrove yang terjadi perlu diatasi dengan upaya pengelolaan seperti melakukan kegiatan penanaman kembali hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos serta mengetahui pengaruh perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. terhadap kelimpahan hewan makrobentos di Mangunharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi kasus sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Langkah pertama yaitu menentukan lokasi sampling dimana stasiun A yaitu Rhizophora sp. umur 3 bulan dan stasiun B yaitu Rhizophora sp. umur 12 bulan. Setiap stasiun ditentukan 3 titik sampling dimana tiap titik sampling dilakukan 3 kali ulangan. Pengambilan sampel hewan makrobentos pada setiap titik sampling digunakan pipa paralon berdiameter 10 cm dengan cara menekannya ke dalam substrat sampai kedalaman 30 cm. Sampel yang diperoleh dibawa ke laboratorium kemudian diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi dari FAO serta dilakukan checklist. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014, di Kelurahan Mangunharjo, Semarang. Hasil penelitian ini ditemukan sepuluh genera dari dua stasiun yaitu Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca dan Sesarma. Kelimpahan individu hewan makrobentos yang terdapat pada stasiun A sebanyak 1250 Ind/m3 dan stasiun B sebanyak 2450 Ind/m3. Indeks keanekaragaman (H’) pada stasiun A sebesar 1,15 dan stasiun B sebesar 1,46. Indeks keseragaman (e) pada stasiun A adalah 0,60 dan stasiun B adalah 0,67. Hasil analisa menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa perbedaan dua umur tanam Rhizophora sp. berpengaruh terhadap kelimpahan masing-masing spesies makrobentos. Given the importance of the function of mangrove forests in the provision of diverse habitat types associated biota in it, then the problem of destruction of mangrove forests that occur need to be addressed by management efforts such as conducting replanting mangrove forests. This study aimed to determine the diversity and abundance of animals and determine the effect of age differences in the two planting Rhizophora sp. against animal abundance makrobentos in Mangunharjo.The method used in this research is descriptive method of case studies while sampling using purposive sampling method. The first step is determining the location of sampling where station A is Rhizophora sp. 3 months of age and station B is Rhizophora sp. the age of 12 months. At each station is determined three sampling points where each point of sampling performed 3 repetitions. Macrobenthic animals sampling at each sampling point used the pipe diameter of 10 cm by pushing it into the substrate to a depth of 30 cm. The samples obtained were taken to the laboratory and then identified using identification book from FAO and do checklist. This study was conducted in May 2014, in the village Mangunharjo, Semarang. The results obtained in this study were found of ten genera at two stations are Littorina, Natica, Melanoides, Telescopium, Cassidula, Anadara, Nereis, Capitella, Uca and Sesarma. Macrobenthic abundance of individual animals that are on station A 1250 Ind/m3 and station B as much as 2450 Ind/m3. Diversity index (H') at station A and station B at 1,15 by 1,46. Uniformity index (e) at station A and station B is 0,60 is 0,67. Chi-Square test showed that the difference in the two age planting Rhizophora sp. makrobentos effect on frequency of occurence.
HUBUNGAN NISBAH C/N DENGAN TOTAL BAKTERI SEDIMEN PADA TAMBAK BANDENG (Chanos chanos Forsk) SEMI INTENSIF DI DESA WONOREJO KENDAL W, Aprilia Dwi; Suprapto, Djoko; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAktivitas pertambakan mengalami penurunan kualitas air tambak akibat dari masukan bahan organik terutama sisa pakan yang terbuang baik secara langsung maupun tidak langsung. Penumpukan bahan organik di dasar tambak secara terus menerus dapat mempengaruhi produktifitas tambak sehingga perlu diketahui proses dekomposisinya antar lokasi dan antar periode waktu. Keberlangsungan proses dekomposisi ditandai dengan nisbah C/N, dimana nisbah C/N yang tinggi menunjukkan kecilnya kandungan N (N-organik dan N-Amoniak) dan sebaliknya nisbah C/N yang rendah menunjukkan proses dekomposisi bakteri berjalan cepat menghasilkan N besar. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan nisbah C/N dengan total bakteri sedimen terkait antar lokasi dan antar waktu. Adapun manfaat yang diperoleh memberikan gambaran tentang tingkat dekomposisi berdasarkan nisbah C/N dengan total bakteri, sehingga dapat diketahui cara budidaya perairan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Desember 2015 di desa Wonorejo, Kendal. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan sampel dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan di 3 stasiun yaitu pada inlet, plataran, dan outlet yang dilakukan 3 kali pada rentang waktu 10 hari. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukan bahwa nisbah C/N pada inlet 2.55-3.68%, pada plataran 3.62-3.79%, pada outlet 3-3.8% yang artinya terjadi mineralisasi N dan beberapa mikroba mati. Sedangkan total bakteri sedimen pada inlet 1.59×104-2.27×104 cfu, pada plataran 0.58×104-1.36×104 cfu, dan pada outlet 0.9×104-1.26×104 cfu. Uji korelasi antara nisbah C/N dan total bakteri sedimen menunjukan yang kurang signifikan. Pertumbuhan bakteri lebih dipengaruhi oleh C-organik. Kata Kunci : Nisbah C/N, Total Bakteri Sedimen, Tambak ABSTRACTCulture activity can  decreased water quality because of the organic matter input, especially because the rest of feet left in pond. Accumulation of organic materi on the pond bottom continuously can affect the productivity of the pond so keep in mind the process of decomposition between sites and between periods of time. The continuity of decomposing process is marked by the C/N ration, where the high of C/N indicates the small amount of Nitrogen (N-Organic and N-Ammonia). On the contrary, the low ratio of C/N shows the bacteria decomposing process runs fast and produce a large amount of N. The purpose of this research was to understand the relationship between the C/N ratio and  total sedimental bacterias linked between location and over time. The benefits is to give description of the decomposing level based on the C/N ratio and total sedimental bacterias, so that understand the method of water cultivation that is biodegradable and sustainable. The research have done on September-December 2015 at Wonorejo, Kendal. This research use purposive method of sampling random. Sampling and measurement the sediment and water quality parameters is done in 3 stations; they are inlet, plataran, and outlet, which is done three times in range 10 days. The Results of the study show that the C/N ratio at the inlet from 2.55 to 3.68, from 3.62 to 3.79 plataran, on outlets from 3 to 3.8, which means there mineralized N and some microba die. While total bacteria at inlet 1.59 × 104 to 2.27 × 104 cfu, on plataran 0.58 × 104 to 1.36 × 104 cfu, and on outlets from 0.9 × 104 to 1.26 × 104 cfu. Correlation between C/N ratio and total bacteria sediment showed less significant. Bacterial growth is more affected by C-organic.Keywords: C/N ratio, Total Bacteria Sediment, Fishpond
KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DI PULAU PANJANG, JEPARA Setyawan, Bani; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.63 KB)

Abstract

Perairan pulau Panjang  memiliki beberapa biota echinodermata salah satunya bulu babi. Bulu babi tersebar di ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Keberadaan bulu babi berpengaruh pada terumbu karang, karena dapat mejadi kontrol bagi perkembangan mikroalga dan meningkatnya bulu babi akan berdampak negatif bagi ekosistem lamun. Tujuan penelitian ini dalah untuk mengetahui kelimpahan bulu babi dan hubungan karakteristik bulu babi dengan ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Metode yang digunakan dalam pengambilan data penutupan karang adalah line transek dengan skala sepanjang 50 meter sejajar garis pantai dengan jarak antar line transek yaitu 10 meter. Pengambilan data kerapatan lamun menggunakan kuadran transek dengan ukuran 1 x 1 meter. Kelimpahan bulu babi pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun menggunakan kuadran transek dengan ukuran 5 x 5 meter. Penutupan substrat dasar pada lingkungan ekosistem terumbu karang di Pulau Panjang didominasi oleh pecahan karang dengan persentase sebesar  36,19%, karang mati 30,53%, pasir 30,14% dan karang hidup 3,15%. Sedangakan kerapatan lamun di Pulau Panjang sebesar 67 ind/ m². Kelimpahan bulu babi di Pulau Panjang menyebar baik di lingkungan terumbu karang dan lingkungan padang lamun dengan jenis Diadema setosum dan Echinothrix calamaris kelimpahan total di lingkungan terumbu karang sebesar 86 individu dan  lingkungan padang lamun sebesar 26 individu. Lingkungan dengan tingkat bahan organik tinggi lebih disukai oleh bulu babi. Analisis isi lambung bulu babi Diadema setosum yaitu algae 65,72% dan bahan anorganik 34.28%, sedangakan jenis bulu babi Echinothrix calamaris yaitu bahan anorganik 60.24% dan algae 39.76%. Panjang island waters has some echinoderms one of the sea urchins. Sea urchins are scattered in the seagrass ecosystems and coral reefs. The existence of sea urchins affect on coral reefs, because it can control for the development of our main mikroalga and the increasing of sea urchins will negatively affect seagrass ecosystems. The purpose of this research was to determine the abundance of sea urchins and the relation of sea urchins abundance  with the characteristics of habitat. The sampling method used in the coral cover data retrieval was line transec to the scale along the 50 metere parallel to the shoreline with transek line spacing 10 meters. Seagrass density data collection use 1 x 1 m quadrant transect. The abundance of sea urchins on coral reef ecosystems and the seagrass used the quadrant transek with the size of 5 x 5 meters. The cover of the base substrate on coral reef ecosystem environment in panjang island is dominated by a rublbe with the percentage of 36,19%, dead coral 30,53%, sand 30, 14%, living coral and 3,15%. The seagrass density of 67 ind/m². The abundance of sea urchins in Panjang Island spread environmental either on coral reefs and seagrass pasture environment with this type of Diadema setosum and Echinothrix calamaris total abundance in coral reef environments of 86 individuals and the environment the seagrass of 26 individuals. Environment with high levels of organic materials preferred by sea urchins. Stomach contents analysis of sea urchins Diadema setosum is algae 65,72% and inorganic materiall 34.28%, while the type of sea urchins Echinothrix calamaris is inorganic materials 60.24% and algae 39.76%.
ANALISIS KESESUAIAN WISATA PANTAI TELUK AWUR DI KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Suitability Analysis of Teluk Awur Beach Tourism in Jepara Regency of Central Java Deviana, Desi Avinda; Purwanti, Frida; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.5 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24232

Abstract

 ABSTRAK Pantai Teluk Awur merupakan destinasi wisata di Desa Teluk Awur, Kecamatan Tahunan, Jepara. Pantai ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan memadai, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik responden, persepsi responden tentang potensi wisata, dan nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Teluk Awur. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember  2018. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan membagikan kuisioner kepada responden yang terdiri dari 40 masyarakat menggunakan teknik purposive sampling, dan 50 pengunjung menggunakan teknik accidental sampling serta metode kuantitatif untuk mengukur kesesuaian wisata pantai Teluk Awur yang dibagi menjadi 3 stasiun. Karakteristik responden masyarakat, sebagian besar laki - laki berusia dewasa dengan tingkat pendidikan terakhir rendah (SD) yang memiliki pekerjaan pedagang dan wiraswasta. Mayoritas responden pengunjung berasal dari Jepara, berjenis kelamin perempuan berusia muda (12-25 tahun) dengan tingkat pendidikan terakhir sedang (SMP-SMA). Persepsi responden tentang potensi dan daya tarik wisata Pantai Teluk Awur yaitu cukup baik, dan fasilitas, aksesibilitas serta kepedulian lingkungan baik. Nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) Pantai Teluk Awur termasuk dalam kategori sangat sesuai untuk dijadikan sebagai obyek wisata pantai. ABSTRACT Teluk Awur Beach is a tourism destination in the Teluk Awur Village of Tahunan subdistrict, Jepara. The beach has  are quite complete and adequatefacilities, so has opportunity for tourism development. The purpose of this research were to know characteristics of respondent, respondent perceptions about tourism potential, and Tourist Suitability Index (TSI) value of the Teluk Awur Beach. The study was conducted from November to December 2018. The method used were qualitative method by distributing questionnaires to 40 local communities respondentusing purposive sampling technique, and 50 visitors using accidental sampling techniques and quantitative methods to measure tourism suitability of the Teluk Awur Beach which consists of 3 stations. Characteristics of the local community respondents, mostly men adults with a low level of education (elementary school) who had jobs for traders and entrepreneurs. The majority of visitors respondents come from Jepara, young women (12-25 years) with the latest education (Junior High Shcool-Senior High School). Perceptions of respondent about potential and tourist attraction of the Teluk Awur Beach are quite good, while facilities, accessibility and environmental care are good. TSI value of the Teluk Awur Beach is in the category  of very suitable to be used as a beach tourism object.
PRODUKTIVITAS PRIMER DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA AREA YANG BERBEDA DI SUNGAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK Setiawan, Nur Eko; Suryanti, -; 'Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.945 KB)

Abstract

Sungai Betahwalang banyak dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat yang tentunya berpengaruh terhadap kesuburan perairan. Kesuburan peraiaran perlu diketahui untuk melihat daya dukung perairan dalam menopang kehidupan organisme. Salah satu cara untuk mengetahui nilai kesuburan perairan adalah dengan menghitung produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton serta variabel fisika-kimia perairan. Penelitian dilakukan pada bulan Februari–Maret 2015 di sungai Betahwalang Demak, yang bertujuan untuk mengetahui nilai produktivitas primer; mengetahui kelimpahan fitoplankton, mengetahui perbedaan nilai produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton pada area yang berbeda dan mengetahui hubungan kedua variabel tersebut di sungai Betahwalang. Metode yang digunakan adalah metode Deskriptif Lokasi sampling ditentukan berdasarkan tiga stasiun dengan aktivitas yang berbeda dimana Stasiun I merupakan dermaga kapal dan pertanian; Stasiun II merupakan kawasan domestik; Stasiun III merupakan area mangrove. Nilai rata-rata produktivitas primer perairan sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 667,2-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun II 500,4-999,6 mgC/m3/hari; Stasiun III 667,2-1375,2 mgC/m3/hari. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik - Eutrofik. Kelimpahan fitoplankton sungai Betahwalang pada ketiga stasiun adalah: Stasiun I 2.739-4.140 ind/l; Stasiun II 1.656-3.185 ind/l; Stasiun III 1.274-3.822 ind/l. Berdasarkan nilai tersebut sungai Betahwalang dapat dikategorikan sebagai perairan Mesotrofik Berdasarkan uji chi-kuadrat, terdapat perbedaan pada masing-masing stasiun dan pengulangan dimana, nilai X2hitung pada produktivitas primer (X2hitung=396,27) dan kelimpahan fitoplankton (X2hitung=14310,24)  lebih besar dari X2tabel (13,28). Hubungan antara produktivitas primer dan kelimpahan fitoplankton menunjukan tidak ada hubungan kuat dimana dibuktikan hasil uji korelasi (r) sebesar -0,00841. Betahwalang River used for human activities which influnced fertility waters. Fertility waters need to know the carrying capacity of the water to sustain the organism. The value and characterize of the fertility waters can determine by calculate the primary productivity, phytoplankton abundance and also physics-chemical variable of water. This research was conducted in February-March 2015 in the Betahwalang River, Demak, which aims to determine the value of primary productivity; the value of phytoplankton abundan, the different that variable based on different areas and determine the relationship between the primary productivity of phytoplankton abundance in the Betahwalang River, Demak. The method used is Descriptive method with the determination of the sampling point, that is purposive sampling. Sampling locations are determined by three stations with different activities in which the First Station is a dock and agriculture; Second Station is a domestic area; and Third Station is a mangrove area. The average value of primary productivity of three stations in the waters of the Betahwalang River are: Station I 667,2-999,6 mgC/m3/day; Station II 500,4-999,6 mgC /m3/day; Station III 667,2-1375,2 mgC/m3/day. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic-Eutrofic. Phytoplankton abundance in Betahwalang river at three stations are: Station I 2.739-4.140 ind/l; Station II 1.656-3.185 ind/l; Station III 1.274-3.822 ind/l. Based on the average values of each station, Betahwalang river can be categorized as Mesotrofic.  Based on the chi-square test, there are differences in each station and repetition where in, the calculated value of primary productivity (X2count = 396,27) and abundance of phytoplankton (X2count = 14310,24) is greater than X2table (13,28). The relationship between primary productivity and phytoplankton abundance showed no significant relationship as evidenced in the results of the linear regression where the value (r) with the primary productivity of phytoplankton abundance of -0,00841.
ANALISA KLOROFIL-α, NITRAT DAN FOSFAT PADA VEGETASI MANGROVE BERDASARKAN DATA LAPANGAN DAN DATA SATELIT GEOEYE DI PULAU PARANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA Indrawati, Ayuningtyas; Hartoko, Agus; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.263 KB)

Abstract

Pulau Parang memiliki potensi sumberdaya alam vegetasi mangrove. Salah satu peran penting dari pohon mangrove adalah luruhan daun yang gugur (serasah). Sedimen di sekitar vegetasi mangrove kemudian bercampur dengan serasah yang merupakan sumber bahan organik. Unsur hara seperti nitrat dan fosfat yang terdeposit dalam sedimen merupakan unsur esensial bagi mangrove. Metode penelitian adalah eksploratif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sampel daun mangrove dan sedimen kemudian dianalisa di laboratorium, sehingga didapatkan nilai kandungan klorofil-a, bahan organik, nitrat dan fosfat. Berdasarkan data lapangan dilakukan analisa yang bertujuan melihat hubungan antar variabel. Pengolahan data citra dilakukan di laboratorium MGC, untuk menganalisa klorofil-a berdasarkan data lapangan dan data satelit GeoEye. Hasil penelitian menunjukkan luas vegetasi mangrove pada lokasi penelitian stasiun 1, 2 dan 3 adalah 6,70 ha, 6,54 ha dan 6,36 ha. Jenis mangrove yang ditemukan adalah Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica dan Avicennia marina. Jenis mangrove yang dominan adalah Rhizophora mucronata. Kerapatan vegetasi mangrove tergolong padat. Keanekaragaman jenis tergolong rendah dan keseragaman spesies sedang. Pemodelan algoritma kandungan klorofil-a berdasarkan data lapangan dan data satelit GeoEye bisa menghasilkan persamaan regresi untuk tiap jenis mangrove pada masing-masing stasiun serta terdapat keeratan hubungan antara klorofil-a lapangan dengan klorofil-a algoritma citra GeoEye. Hasil analisa data lapangan menunjukkan terdapat keeratan hubungan antara klorofil-a daun mangrove dengan nitrat, fosfat sedimen dan bahan organik dengan nitrat, fosfat.
KELIMPAHAN BAKTERI HETEROTROF SEDIMEN PADA BERBAGAI TIPE KERAPATAN DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, DEMAK Supriyati, Siti; Anggoro, Sutrisno; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.995 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan mangrove di Desa Bedono Demak merupakan kawasan mangrove yang dijadikan tempat konservasi sekaligus sebagai tempat wisata. Hutan mangrove merupakan tempat berkembangnya berbagai bakteri, keberadaan bakteri memiliki arti yang sangat penting dalam proses dekomposisi pada sedimen. Informasi tentang hubungan kerapatan dengan jumlah bakteri heterotrof diperlukan untuk pengeloaan dan pengkajian lebih lanjut pada kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kerapatan mangrove dan hubungannya terhadap kelimpahan bakteri heterotrof sedimen di kawasan konservasi mangrove Bedono. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di kawasan konservasi mangrove Bedono, Demak. Sampel sedimen diambil pada masing-masing jenis kerapatan (jarang, sedang dan rapat) dengan 3 kali pengulangan, serta dibedakan pada saat pasang dan surut. Hasil yang didapat yaitu kerapatan mangrove pada kawasan konservasi mangrove Desa Bedono Demak yaitu 900 pohon/ha termasuk pada tingkat kerapatan jarang dengan kelimpahan rata-rata bakteri heterotrof sedimen 1,30x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 0,97x10-5 cfu/gr pada saat surut, 1.200 pohon/ha termasuk sedang dengan kelimpahan rata-rata bakteri heterotrof sedimen 0,65x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 0,60x10-5 cfu/gr pada saat surut, serta 2.400 pohon/ha termasuk kawasan mangrove rapat 1,32x10-5 cfu/gr pada saat pasang dan 1,35x10-5 cfu/gr pada saat surut. Diperoleh kesimpulan bahwa kelimpahan bakteri tidak berhubungan dengan kerapatan mangrove dengan nilai p-value sebesar 0,428 (R= 0,206 dan R2= 0,042). Kata Kunci: Total Plate Count; Bakteri Heterotrof Sedimen; Mangrove Bedono Demak ABSTRAK Mangrove area in the Bedono village, Demak is a mangrove area used as a conservation place as well as a tourist attraction. Mangrove forest is a growing place of bacterias, the presence of bacteria has a very important role in the decomposition process of sediment. Information on the density relationship with the number of heterotrophic bacteria is required for the management and further assessment of the area. This study purpose is to determine the condition of mangrove density and its relationship to the abundance of sediment heterotrophic bacteria in Bedono mangrove conservation area. This research was conducted in March 2017 at Bedono mangrove conservation area, Demak. Sediment samples were taken on each density type (low, medium and high) with 3 repetitions, and differentiated at high and low tide. The results obtained are mangrove densities in the mangrove conservation area of Bedono village, 900 trees/ha included at low density levels with an average abundance of 1,30×10-5 cfu/gr heterotrophic bacteria at high tide and 0,97x10-5 cfu/gr at low tide, 1.200 trees/ha included at moderate with an average abundance of sediment heterotroph bacteria 0,65x10-5 cfu/gr at high tide and 0,60x10-5 cfu/gr at low tide, and 2.400 trees/ha included at dense mangrove area of 1,32x10-5 cfu/gr at high tide and 1,35x10-5 cfu/gr at low tide. It is concluded that bacterial abundance is not related to mangrove density with p-value amount at 0,428 (R= 0,206 and R2= 0,042).  Key Words: Total Plate Count; Sediment Heterotrophic Bacteria; Mangrove Bedono Demak
KANDUNGAN TOTAL PADATAN TERSUSPENSI, BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND SERTA INDEKS PENCEMARAN SUNGAI KLAMPISAN DI KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Andara, Diani Riezki; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.855 KB)

Abstract

Sungai seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari limbah hasil kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Masukan bahan-bahan dari luar baik yang berguna bagi peningkatan kondisi perairan juga memberi dampak pada penurunan kualitas perairan bila badan sungai dimasuki oleh bahan-bahan tersebut dalam konsentrasi yang berlebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan Total Padatan Tersuspensi (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) serta menentukan nilai Indeks Pencemaran (IP) dari Sungai Klampisan yang terletak di Kawasan Industri Candi, Ngaliyan, Semarang. Penentuan lokasi pengambilan sampel (data primer) dengan cara melakukan observasi di sekitar aliran Sungai Klampisan yang bertujuan untuk mencari lokasi sebagai obyek pengambilan sampel parameter kualitas air. Pengambilan sampel pada Sungai Klampisan dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun pertama berada pada bagian upper stream sungai yang alirannya terletak sebelum sumber pencemar, stasiun kedua berada pada bagian mid stream sungai yang alirannya terletak dekat dengan sumber pencemar, stasiun ketiga berada pada bagian lower stream sungai yang alirannya terletak setelah sumber tercemar. Pengambilan air sampel dilakukan pada dua titik yang memiliki jarak yang sama pada lebar penampang sungai di setiap stasiun dengan dua kali pengulangan. Kandungan TSS paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun tiga yaitu 45 mg/l sementara kandungan BOD paling tinggi terdapat pada bulan Februari 2014 di stasiun satu yaitu 20,69 mg/l dan distribusi kandungan COD paling tinggi terdapat pada bulan Januari 2014 di stasiun satu yaitu 73,5 mg/l. Sungai Klampisan termasuk dalam kriteria tercemar ringan dengan nilai Pij berkisar antara 1,0 < Pij ≤  5,0. Rivers are often used as landfill waste from human activities , which can add to the pollution load. Supply of materials from outside which is useful for the improvement of water conditions also have an impact on river quality degradation when penetrated by these materials in excess concentrations. The purpose of this study were to determine the content of Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) and determine the value of Pollution Index (PI) in Candi Industrial Area, Klampisan River, Ngaliyan, Semarang. This research held on January to February 2014. Determination of sampling sites (primary data) by means of observation around Klampisan river flow which aims to find the object of location sampling for water quality parameters. Sampling was carried out on the River Klampisan at three observation stations. The first station is located at the upper stream of the river flow which is located before the sources of pollution, second station is in the mid section of the river stream flow which is located close to pollution sources, the third station is located on the lower part of the river stream whichis polluted sources. Water samples was collected on two points that have the same distance to the cross section width of the river at each station with two replications. The highest TSS content is 45mg/l in February 2014 at third station, the highest BOD content is 20.69 mg/l in February 2014 at the first station and the highest COD content is 73.5 mg/l in January 2014 at the first station. River Klampisan is included in criteria of lightly polluted with Pij values ranging between 1.0 <Pij ≤ 5.0.
KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) BERDASARKAN KERAPATAN LAMUN DI PANTAI PRAWEAN DESA BANDENGAN, JEPARA Sea Cucumber(Holothuroidea) Abundance Based on Seagrass Density in Prawean Beach Bandengan Village, Jepara Laksana, Mahalani Jati; Sulardiono, Bambang; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.95 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26553

Abstract

Teripang (Holothuroidea) hidup sebagai hewan bentik pada ekosistem terumbu karang dan asosiasinya, di antaranya adalah ekosistem padang lamun. Padang lamun menyediakan nutrient bagi pertumbuhan mikro yang berfungsi sebagai makanannya, sehingga ekosistem padang lamun menyediakan habitat yang baik bagi teripang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019 di Pantai Prawean Desa Bandengan, Jepara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan teripang dengan tingkat kerapatan lamun yang berbeda, mengetahui jenis sedimen beserta bahan organik yang terkandung pada sedimen, dan mengetahui hubungan kelimpahan teripang dengan kerapatan lamun. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel teripang dan perhitungan kerapatan lamun yaitu purposive sampling dengan teknik garis dan transek. Pengambilan sedimen menggunakan sediment core. Hasil dari penelitian menunjukan pada Stasiun 1 (kerapatan padat) yaitu 33 individu meliputi 25 individu H. atra dan 8 individu H. scabra. Stasiun 2 (kerapatan sedang) yaitu 13 individu meliputi 10 individu H. atra dan 3 individu H. scabra. Stasiun 3 (kerapatan jarang) yaitu 5 individu meliputi 4 individu H. atra dan 1 individu H. scabra. Kandungan bahan organik pada lokasi penelitian berkisar 7,25-13,15% dengan fraksi sedimen berupa pasir halus. Hasil analisis regresi linear sederhana dari hubungan kelimpahan teripang dengan kerapatan lamun didapatkan persamaan y = 0,0091x – 2,2275. Nilai korelasi (r) yang didapatkan yaitu 0,80 menunjukan hubungan yang kuat dan nilai determinasi (R2) yaitu 0,641 yang berarti bahwa 64,1% kelimpahan teripang dipengaruhi oleh kerapatan lamun. Sea cucumbers (Holothuroidea) live as benthic animals in coral reef ecosystems and their associations, among them are seagrass ecosystems. Seagrass beds provide nutrients for micro-growth that function as food, so seagrass ecosystems provide good habitat for sea cucumbers. This research was conducted in May 2019 at Prawean Beach Bandengan Village, Jepara. The purpose of this study was to determine the abundance of sea cucumbers with different seagrass density levels, determine the type of sediment and organic material contained in the sediment, and determine the relationship of sea cucumber abundance with seagrass density. The method used in cucumber sea taking and seagrass density calculation is purposive sampling with line and transect techniques. Intake of sediment using sediment core. The results of the study showed at Station 1 (solid density) that is 33 individuals including 25 individuals of H. atra and 8 individuals of H. scabra. Station 2 (medium density) is 13 individuals including 10 individuals of H. atra and 3 individuals of H. scabra. Station 3 (rare density) is 5 individuals including 4 H. atra individuals and 1 H. scabra individual. The content of organic matter in the study area ranged from 7.25 to 13.15% with a sedimentary fraction in the form of fine sand. The results of simple linear regression analysis of the relationship of sea cucumber abundance with seagrass density obtained the equation y = 0.0091x - 2.2275. Correlation value (r) obtained is 0.80 showing  a strong relationship and the value of determination (R2) is 0.641 which mean that 64,1% sea cucumber abundance is influenced by seagrass density.  
PENGARUH KONSENTRASI FENOL YANG BERBEDA TERHADAP SINTASAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) Oktaviana, Errinda Pramesti; Haeruddin, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.526 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu biota perairan yang peka terhadap perubahan kualitas lingkungan dan menjadi salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Masuknya zat pencemar seperti fenol ke dalam perairan dalam jangka waktu yang lama dan terus-menerus akan mengganggu kehidupan ikan mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi (LC50) 96 jam fenol terhadap Ikan Mas, dan pengaruh senyawa fenol terhadap sintasan ikan mas akibat pengaruh konsentrasi sublethal fenol yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2015 di Laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah Eksperimental Laboratoris, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua kali ulangan. Tahapan penelitian terdiri dari aklimatisasi, uji penetapan selang konsentrasi, uji definitif dan uji utama. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sintasan (SR). Hasil uji penetapan selang konsentrasi menunjukkan bahwa fenol memiliki ambang atas 0,1 mg/l dan ambang bawah 0,01 mg/l. Uji definitive menunjukkan bahwa diperoleh nilai LC50-96 jam sebesar 0,047 mg/l. Nilai sintasan (SR) yang diperoleh yaitu pada perlakuan A (0 mg/l) dan B (0,0059 mg/l) 100%, C (0,0117 mg/l) 95% dan D (0,0235 mg/l) 85%. Pemberian berbagai konsentrasi fenol yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan ikan mas, pada selang kepercayaan 95%, F hitung < F tabel (4,00 < 6,59). Common Carp (Cyprinus carpio) is one kind of the aquatic biota that is sensitive to changes in environmental. The entry of polluted substances such as phenol into the waters in the long term will interfere the life of common carp. The objective of this study was to know the media lethal concentration (LC50) 96 hours of phenol to Common carp and the effect of phenol on the survival of common carp due to the influence of the different sublethal concentration of phenol. This research was held in September-October 2015 in the Laboratory of Fish Resources and Environmental Management, Department of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang. The research was conducted by experimental laboratory with a completely randomized design (CRD) with two replications. Steps being taken are acclimatization, a preliminary test, the definitive test and the main test. Data taken in this research are survival rate (SR). Range finding test results showed that phenol has a threshold above 0.1 mg / L and below the threshold of 0.01 mg / L. The definitive test showed that the values obtained LC50-96 hours at 0,047 mg / L. Survival Rate (SR) value were A (0 mg / L) and B (0.0059 mg / L) 100%, C (0.0117 mg / L) by 95% and D (0 , 0235 mg / L) by 85%. The different concentration of phenol did not significantly affect survival rate of common carp, in the 95% confidence interval, F arithmetic <F table (4.00 <6.59).