cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Uji Fitokimia Dan Toksisitas Ekstrak Kasar Gastropoda (Telescopium telescopium) Terhadap Larva Artemia salina Putri, Mukti K. Diana; Pringgenies, Delianis; Radjasa, Ocky Karna
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.912 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i2.2020

Abstract

Gastropod is one of the marine organisms that can be used as a source of natural bioactive compounds, one of which is Telescopium telescopium. T. telescopium until now it has not been yet exploited optimally, some people still use it as feed ingredients that contain high protein nutrition, however it must be supported by scientific information about the efficacy and side effects. This research aims at determining the secondary metabolite by crude extract T. telescopium, and the lethal toxicity value (LC50-24 hours). The research consisted of two steps, namely the phytochemical and toxicity test. The method used exploratif and experimental laboratory with a complete randomized design, which consited of five concentration treatments namely 25.12, 63.1, 158.5, 398.15, and 1000 ppm with three replications. Each treatment used 10 Artemia salina larvae, and observations were made during 24 hours of Artemia salina larvae mortality. LC50 was determined by probit analysis using the EPA Probit Analysis Program Version 1.5 Finney. The results of the phytochemical test showed that crude extract T. telescopium contain alkaloid compounds, steroids, flavonoids. The results BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) of crude extract T. telescopium LC50-24 hours showed that the crude extract clorofom (229.562 ppm), crude extract ethyl acetate (244.906 ppm), and crude extract methanol (197.242 ppm). LC50-24 hours < 1000 ppm showed that the crude extract Telescopium telescopium potent antitumor compounds.
STUDI KORELASI NILAI SUHU PERMUKAAN LAUT DARI CITRA SATELIT AQUA MODIS MULTITEMPORAL DAN CORAL BLEACHING DI PERAIRAN PULAU BIAWAK, KABUPATEN INDRAMAYU Nuary, Aldi Nuary; Trianto, Agus; Dwi Suryoputro, Agus Anugroho
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1975.151 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5991

Abstract

Ekosistem terumbu karang di Perairan Pulau Biawak masih dalam kategori baik. Namun, perubahan iklim global yang terjadi dewasa ini telah menyebabkan peningkatan suhu terutama suhu permukaan laut. Hal tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup terumbu karang, dalam hal ini fenomena coral bleaching. Coral bleaching terjadi akibat stress yang dialami hewan karang terhadap perubahan suhu sebesar 1-2 oC dalam kurun waktu minimal empat minggu. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk menjelaskan kekuatan hubungan antara perubahan nilai suhu permukaan laut yang diperoleh dari pengolahan citra satelit Aqua MODIS multitemporal level 3 dengan persentase coral bleaching di Perairan Pulau Biawak yang diukur dengan metode Line Intercept Transect (LIT). Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi perubahan suhu drastis pada bulan Februari-Maret tahun 2009 sebesar 2,27 oC dan bulan Januari-Februari 2013 sebesar 2,22 oC. 5 dari 12 stasiun pengamatan ekosistem terumbu karang mengalami pemutihan sekitar 0,13-3,63%. Nilai persentase tersebut masuk kedalam kategori pemutihan tidak parah. Lifeform ACB merupakan jenis lifeform karang yang umumnya mengalami pemutihan dengan persentase keseluruhan mencapai 3,13%. Analisa regresi tunggal antara suhu permukaan laut dan coral bleaching menunjukkan hubungan yang sangat lemah antara keduanya ditunjukkan dengan nilai r sebesar 0,038. Oleh karena itu, coral bleaching di Perairan Pulau Biawak khususnya pada saat penelitian yakni bulan April 2013 dapat terjadi karena adanya faktor lain penyebab bleaching selain suhu permukaan laut
Logam Berat (Pb) pada Lamun Enhalus acoroides (Linnaeus F.) Royle 1839 (Magnoliopsida: Hydrocharitaceae) di Pulau Panjang dan Pulau Lima Teluk Banten Falah, Faishal; Suryono, Chrisna Adhi; Riniatsih, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.025 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.27440

Abstract

ABSTRAK: Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga, buah, dan tumbuh di lingkungan laut. Enhalus acoroides merupakan jenis lamun yang banyak tumbuh di sekitar perairan Pulau Panjang dan Pulau Lima, Teluk Banten. Kegiatan manusia meliputi budidaya, industri, lalu lintas kapal industri, pebuhan, dan kegiatan nelayan yang berdekatan dengan Pulau Panjang dan Pulau lima diduga menjadi sumber logam berat Timbal (Pb). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan tingkat pencemaran logam berat Pb pada air, sedimen, dan Lamun Enhalus acoroides (akar, batang, dan daun) di perairan Pulau Panjang dan Pulau Lima, Teluk banten. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Logam berat Pb dalam sampel air, sedimen dan lamun Enhalus acoroides dianalisis di Laboratorium SUA Analisis Tanah Institut Pertanian Bogor menggunakan metode AAS (AtomicAbsorption Spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Pulau Panjang dan Pulau lima suddah terkontaminasi logam Pb. Sedangkan pada sedimen dan Lamun Enhalus acoroides sudah terkontaminasi logam Pb. Meskipun demikian variasi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan arus dan jenis sedimen juga memberikan kontribusi yang cukup penting terhadap kandungan logam Pb.  ABSTRACT: Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) which has one seed (monocotyl) and has rhizome roots, leaves, flowers, fruit, and grows in the marine environment. Enhalus acoroides is a type of seagrass that grows around the waters of Pulau Panjang and Pulau Lima, Banten Bay. Human activities including aquaculture, industry, industrial ship traffic, Port, and fishing activities adjacent to Pulau Panjang and Pulau Lima are thought to be a source of heavy metal Lead (Pb). This study aims to analyze the content and level of Pb heavy metal pollution in water, sediments, and Seagrass Enhalus acoroides (roots, stems, and leaves) in the waters of Pulau Panjang and Pulau Lima, Teluk Banten. This research uses descriptive method and location determination method using purposive sampling method. Pb heavy metals in water, sediment and seagrass samples from Enhalus acoroides were analyzed at the SUA Soil Analysis Laboratory Bogor Agricultural University using the AAS (AtomicAbsorption Spectrophotometry) method. The results showed that the waters of Pulau Panjang and Pulau Lima were contaminated with Pb metal. While the sediment and Seagrass Enhalus acoroides have been contaminated with Pb metal. Even so variations in environmental factors such as temperature, salinity, pH, flow velocity and type of sediment also contribute quite significantly to the Pb metal content.
Perubahan Luasan Vegetasi Mangrove di Desa Bedono Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Tahun 2009 dan 2019 Menggunakan Citra Satelit Landsat Pramudito, Wisnu Adjie; Suprijanto, Jusup; Soenardjo, Nirwani
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.089 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26093

Abstract

ABSTRAK: Hutan Mangrove merupakan salah satu ekosistem vegetasi yang berada di wilayah pasang surut di pesisir, pantai dan pulau-pulau kecil. Pantai utara Jawa merupakan salah satu wilayah yang memiliki ekosistem mangrove yang mengalami perubahan cukup signifikan. Pertambahan luasan vegetasi mangrove di desa Bedono dapat diamati dengan menggunakan citra dari satelit landsat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luas lahan mangrove yang terjadi di kawasan pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, kabupaten Demak Tahun 2009 dan 2019. Metode yang diaplikasikan dalam penelitian  dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif, metode yang memiliki tujuan yaitu melakukan pemecahan masalah yang digali secara luas tentang sebab-sebab atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Untuk kegiatan groundcheck menggunakan metode sampling kuadrat yaitu membuat plot berukuran 10x10 m untuk kategori pohon yang di dalamnya terdapat subplot 5x5 m untuk kategori sapling dan 1x1 m untuk kategori seedling. Hasil penelitian menunjukkan pertambahan luas lahan mangrove di Desa Bedono selama rentang waktu tahun 2009 – 2019, pada tahun 2009 sebesar 122.58 ha dan pada tahun 2019 sebesar 197.19 ha . luas vegetasi dalam kurun waktu tersebut mengalami pertambahan luas sebesar 74.76 ha. kerapatan di titik stasiun 1 memiliki kerapatan sebesar 3633 ind/ha, sementara di titik stasiun 2 dan 3 masing masing sebesar 3700 ind/ha dan 3500 ind/ha. Tiga spesies mangrove yang dapat ditemukan di kawasan mangrove desa Bedono adalah Avicennia marina, Avicennia alba, dan Rhizopora mucronata. ABSTRACT: Mangrove forest is one of the vegetation ecosystems in the tidal areas on the coast, beaches and small islands. The north coast of Java is one of the regions that has a significant change in mangrove ecosystems. Changes in the extent of mangrove vegetation in the village of Bedono can be observed using imagery from the Landsat satellite. The purpose of this study was to assess changes occurred mangrove vegetation in coastal areas Bedono Village, District Sayung, Demak district in 2009 and 2019. The method applied in research using exploratory descriptive method, a method which has the goal of solving the problem are explored extensively on the causes or matters affecting the occurrence of something based on facts on the ground. For groundcheck activity using sampling methods squares that make plots measuring 10x10 m for the category tree in which there are subplots 5x5 m for category sampling and 1x1 m for category seedling. The results showed an increase in the area of mangrove land in the village of Bedono during the span of years 2009-2019, in 2009 amounted to 122.58 ha and in 2019 amounted to 197.19 ha the area of vegetation in this period experienced an increase in area of 74.76 ha. density at station 1 has a density of 3633 ind/ha, while at station 2 and 3 points respectively 3700 ind/ha and 3500 ind/ha. Mangrove species that can be found in the mangrove area of Bedono village are Avicennia marina, Avicennia alba, and Rhizopora mucronata.
Komposisi Jenis Gastropoda di Mangrove Desa Kaliwlingi dan Sawojajar, Jawa Tengah Kusuma, Erik Wijaya; Tri Nuraini, Ria Azizah; Hartati, Retno
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.103 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26558

Abstract

ABSTRAK : Desa Kaliwlingi dan Sawojajar mempunyai kawasan hutan mangrove dengan karakteristik berbeda. Kawasan hutan mangrove Kaliwlingi menjadi ekowisata mangrove sejak tahun 2016, sedangkan di Sawojajar merupakan kawasan mangrove alami. Perbedaan fungsi tersebut diduga dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati yaitu salah satunya adalah gastropoda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas Gastropoda di ekosistem mangrove Desa Kaliwlingi dan Sawojajar, Kab.Brebes, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2018. Penentuan titik sampling menggunakan metode purposive pada 3 stasiun dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan terdapat 2 subkelas yaitu Pulmonata dan Prosobranchiata, dengan 3 famili dan  9 spesies gastropoda dari 3 famili, yaitu Elliobidae; Cassidula aurisfelis (Elliobidae), C. nucleus (Elliobidae), Littoraria articulate (Littorinidae), L. carinifera (Littorinidae), L. melanostoma (Littorinidae), L. scabra (Littorinidae), Telescopium telescopium (Potamididae), Terebralia obtuse (Potamididae), T. palustris (Potaminidae).  Nilai kelimpahan rata-rata gastropoda Desa Kaliwlingi dan Desa Sawojajar masing-masing 20,28 dan 16,36 Ind/m². Indeks Keanekaragaman (H’) gastropoda di kawasan mangrove Desa Kaliwlingi dan Desa Sawojajar termasuk ke dalam kategori rendah ke tinggi, sedangkan indeks keseragamannya  berkategori rendah.  Tidak ada jenis gastropod yang mendominasi di kawasan mangrove Kaliwlingi dan Sawojajar, dengan pola sebaran gastropoda mengelompok.ABSTRACT: Kaliwlingi and Sawojajar villages have mangrove forest areas with different characteristics. The Kaliwlingi mangrove forest area has been established as mangrove ecotourism since 2016, while in Sawojajar it is a natural mangrove area. The difference in function is thought to affect biodiversity, one of which is gastropods. The purpose of this study was to determine the structure of the Gastropoda community in the mangrove ecosystems of Kaliwlingi and Sawojajar Villages, Kab. Brebes, Central Java. Sampling was conducted in June to July 2018. Determination of the sampling points using purposive methods at 3 stations with three repetitions. The results showed that there were 2 subclasses, namely Pulmonata and Prosobranchiata, with 3 families and 9 gastropod species from 3 families, namely Elliobidae; Cassidula aurisfelis (Elliobidae), C. nucleus (Elliobidae), Littoraria articulate (Littorinidae), L. carinifera (Littorinidae), L. melanostoma (Littorinidae), L. scabra (Littorinidae), Telescopium telescopium (Potamebidide) ), T. palustris (Potaminidae). The mean abundance of gastropods in Kaliwlingi Village and Sawojajar Village were 20.28 and 16.36 Ind / m² respectively. Diversity Index (H ') of gastropods in the mangrove areas of Kaliwlingi Village and Sawojajar Village are in the low to high category, while the uniformity index is categorized as low. There is no type of gastropod that dominates in the Kaliwlingi and Sawojajar mangrove areas, and gastropod distributed as a grouped.  
Korelasi Kandungan Logam Berat Pb dalam Air terhadap Daun Lamun Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Ascherson 1871 (Magnoliopsida: Hydrocharitaceae) di Perairan Pulau Panjang dan Pantai Bandengan, Jepara Istiqomahani, Dara Ramadhania; Suryono, Chrisna Adhi; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.364 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.27441

Abstract

 ABSTRAK : Kegiatan manusia meliputi pertanian, industri, mebel, pariwisata dan kegiatan nelayan di Pulau Panjang dan Pantai Bandengan diduga menjadi sumber logam berat Pb. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai konsentrasi dan hubungan kandungan logam berat Pb pada Air dan daun lamun Thalassia hemprichii di Pulau Panjang dan Pantai Bandengan, Jepara Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air kedua perairan dan daun lamun T. hemprichi. Hasil penelitian menunjukan. Konsentrasi Pb dalam air laut yang ada di kedua daerah tersebut rata rata antara 0,034–0,054 ppm sedangkan dalam daun lamun 0,509-1,334 ppm.  Korelasi antara konsentrasi logam berat Pb dalam air dan daun lamun T. hemprichii menunjukan tingginya keeratan hubungan atara dua faktor tersebut. Bila konsentrasi Pb dalam air laut meningkat akan diikuti dengan peningkatan konsentrasi Pb dalam daun lamun dengan sangat nyata.ABSTACK : Human activities include agriculture, industry, tourism and fishing activities in Panjang Island an Bandengan shores of the supposedly heavy metal Pb (lead). The purpose of this researches to compare the heavy metal content of Pb (lead) in water and leaves Thalassia hemprichii in Panjang Island an Bandengan shore, based on existing quality. The material used in this researched were the samples of leaves of T. hemprichii and water of both. The result showed that the concentration of Pb in marine waters on two regions between 0,034–0,054 ppm and concentration in seagrass leaves between 0,509-1,334 ppm. The result of the correlation between the concentration of heavy metals Pb in water and leaves of seagrass showed a high close relationship between the two factors. If the Pb concentration in seawater rises, it will be followed by an increase in Pb concentration in leaves of seagrass very significantly.
Pengamatan Kesesuaian Lahan Peneluran Penyu Lekang Lepidochelys olivacea, Eschscholtz, 1829 (Reptilia:Cheloniidae) di Pantai Mapak Indah, Nusa Tenggara Barat Akbar, Mochamad Rizaldi; Luthfi, Oktiyas Muzaky; Barmawi, M.
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.89 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26125

Abstract

ABSTRAK : Pantai Mapak Indah merupakan pantai yang sering menjadi pantai pendaratan biota Penyu, umumnya penyu yang mendarat berjenis penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae), pantai yang juga di gunakan untuk aktifitas nelayan dan pariwisata diduga akan mengganggu habitat penyu yang cenderung merusak atau merubahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat yang sesuai untuk kebutuhan peneluran penyu Lekang (Lepidochelys olivaceae). Metode yang di pakai menggunakan data Primer (Suhu, Kelembaban, Kemiringan, dan Vegetasi) dan skunder berasal dari catatan kelompok pelestari penyu dan instansi terkait. Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 24 Juni – 05 Agustus 2019. Hasil dari penelitan ini adalah rentang kemiringan pantai mencapai 10.5%-26% dengan rata-rata 16.3% masih dalam kategori Agak Curam, untuk perbandingan komposisi pasir di sarang Alami dan Semi-Alami 92,94% & 96,34%, vegetasi yang di temukan di sekitar pantai adalah cemara Udang (Casuarina Equisetifolia) dan Pandan Laut (Pandanus sp.), kelapa (Cocos Nucifera) dan Katang-katang (Ipomoea pes-caprae). Suhu saat di lakukan pengamatan selama seminggu memiliki rentang 25°-28° hal ini dapat mempengaruhi jenis kelamin Tukik yang akan menetas serta lama inkubasinya di dalam sarang Semi-Alami ABSTRACT: Mapak Indah Beach is a beach that is often used as a landing site for sea turtles, generally turtles that land on the type of Lekang turtle (Lepidochelys olivaceae), a beach that is also used for fishing and tourism activities is thought to disturb turtle habitats that tend to damage or change it. The purpose of this study was to determine the suitable habitat for the needs of Lekang turtle nesting (Lepidochelys olivaceae). The method used uses Primary data (Temperature, Humidity, Slope, and Vegetation) and secondary data derived from the records of turtle conservation groups and related agencies. This research was carried out on 24 June - 05 August 2019. The results of this research are the range of beach slopes reaching 10.5% -26% with an average of 16.3% still in the category of somewhat steep, for comparison of sand composition in natural and semi-natural nests 92.94% & 96.34%, vegetation found around the coast is pine shrimp (Casuarina Equisetifolia) and Pandan Laut (Pandanus sp.), Coconuts (Cocos Nucifera) and Katang-Katang (Ipomoea pes-caprae). Temperature when observed for a week has a range of 25 ° -28 ° this can affect the sex of the hatchlings that will hatch and the length of incubation in the Semi-Natural nest
Fluktuasi Ikan Karang di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang, Lombok Timur Adiyoga, Diaz; Hartati, Retno; Setyati, Wilis Ari
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.029 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26894

Abstract

ABSTRAK: Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di Gili Sulat Gili Lawang merupakan salah satu sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut. Ekosistem terumbu karang adalah salah satu ekosistem penting di Gili Sulat dan Gili Lawang yang menjadikan ikan dan biota lainnya sebagai tempat tinggal maupun mencari makan. kondisi terumbu karang sangat mempengaruhi kekayaan dan kelimpahan ikan karang. Jika kondisi terumbu karang baik maka kelimpahan ikannya tinggi, begitu pula sebaliknya. Penelitian kelimpahan ikan karang dilakukan pada 14-21 November 2018 di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang. Pengambilan data menggunakan metode sensus visual untuk ikan karang di kedalaman 8-10 meter dengan 3 buah transek sepanjang 50 meter sejajar dengan garis pantai. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang kelimpahan ikan karang, rata – rata nilai kelimpahan ikan karang di zona pemanfaatan paling tinggi yaitu 621 ind/ha, paling rendah pada zona inti sebesar 615 ind/ha dan zona perikanan berkelanjutan sebesar 616 ind/ha  ABSTRACT: The diversity of coastal and marine ecosystems found on Gili Sulat Gili Lawang is one of the important resources to protect given the large dependence of the community on these ecosystems. The coral reef ecosystem is one of the important ecosystems on Gili Sulat and Gili Lawang which makes fish and other biota as a place to live or find food. the condition of coral reefs greatly affects the wealth and abundance of reef fish. This research was conducted in November 14-21, 2018. Collecting data of reef fishes abundance using visual census method in 8-10 meter depth, use 3 pieces line transect with 50 meters long an roll out the transect along the shoreline. Based on the results of research conducted in  Gili Sulat and Gili Lawang the Marine Protected Area reef fish abundance, the average abundance of reef fish in the utilization zone is highest at 621 ind / ha, the lowest in the core zone is 615 ind / ha and the fishing zone sustainable of 616 ind / ha
Simpanan Karbon pada Ekosistem Padang Lamun di Perairan Jepara Sophianto, Raka Pramulo; Endrawati, Hadi; Hartati, Retno
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.933 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.25284

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem yang kompleks dan produktif di ekosistem laut dan pesisir serta salah satu peran utama lamun adalah sebagai penyimpan karbon dengan karakteristik uniknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lamun, mengetahui struktur komunitas lamun,  nilai biomassa dan nilai karbon lamun. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober dan November 2017 di Teluk Awur dan Pantai Bendengan Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada dua tempat masing-masing lima stasiun. Sampel yang diambil adalah lamun, sedimen dan air laut yang ditemukan di lokasi penelitian yang kemudian di identifikasi serta dianalisis di Laboratorium Biologi, Departemen Ilmu Kelautan, dan analisis pengabuan lamun dilakukan pada di Laboratorium Geologi, Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai total biomassa lamun yang didapat di kedua lokasi dari sampling pertama yaitu 982,77 gbk/m2 dan sampling kedua yaitu 923,91 gbk/m2. Total kandungan karbon pada sampling pertama berkisar antara 511,76 – 3662,26 gC/m2 dan total karbon pada sampling kedua berkisar antara 141,48 – 3344,2 gC/m2. Perbedaan hasil yang di dapat menunjukkan bahwa perbedaan iklim dapat berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan. Seagrass beds are complex and productive ecosystems in marine and coastal ecosystems and one of the main roles of seagrasses is storing carbon with its unique characteristics. This study aims to determine the types of seagrasses, find out the seagrass community structure, biomass values and seagrass carbon values. This research was conducted in October and November 2017 in Teluk Awur and Bendengan Jepara Beach. The method used in this research is descriptive method. Sampling was carried out at two places each of five stations. Samples taken were seagrass, sediments and seawater found at the study site which were then identified and analyzed in the Biology Laboratory, Department of Marine Sciences, and analysis of desertion carried out at the Geology Laboratory, Department of Marine Sciences, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University. The results of this study indicate the total value of seagrass biomass obtained in both locations from the first test was 982.77 gbk/m2 and the second test was 923.91 gbk/m2. The total carbon content in the first sampling ranged from 511.76 - 3662.26 gC/m2 and the total carbon in the second sampling ranged from 141.48-3344.2 gC/m2. The difference in results can show that climate differences can affect the results obtained.
Isolasi Glukosamin dari Limbah Cangkang Rajungan Portunus pelagicus (Linnaeus,1758) (Malacostraca:Portunidae) dengan Hidrolisis Asam Klorida Ghofari, Miftahul Akhyar; Ridlo, Ali; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1548.576 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26705

Abstract

ABSTRAK: Glukosamin merupakan monomer dari kitosan yang dapat diperoleh dari  limbah  cangkang rajungan (P pelagicus). Glukosamin dibutuhkan  dalam pembentukan dan perbaikan tulang rawan dan jaringan tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik glukosamin dari limbah cangkang rajungan. Proses isolasi kitosan rajungan terdiri dari deproteinasi dengan NaOH 3N, demineralisasi dengan HCl 1N, dan deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang diperoleh dianalisis karakteristik dan derajat deasetilasinya, selanjutnya kitosan dihidrolisis secara kimia dengan larutan HCl 20% pada suhu kamar selama 4 jam. Glukosamin yang dihasilkan dihitung rendemen, loss on drying (LoD), tingkat kelarutan dan derajat deasetilasinya. Hasil penelitian menunjukan rendemen kitosan cangkang rajungan adalah 11,3%, berwarna putih, tidak berbau, kadar air 9,2%, kadar abu 5,4%, dan derajat deasetilisasi 90,8%. Rendemen glukosamin sebesar 8,6%, dengan nilai Loss on Drying 1,3%, kelarutan sebesar 72% dan derajat deasetilisasi sebesar 96,95%. Spektra infrared menunjukan adanya gugus -NH, -OH, -CH dan –C=O yang sesuai dengan yang terdapat pada glukosamin. ABSTRACT: Glucosamine is a monomer from chitosan which can be obtained from small crab shell (P pelagicus) waste. Glucosamine is needed in the formation and repair of cartilage and other body tissues. This study aims to determine the characteristics of glucosamine from small crab shell waste. The process of isolating chitosan from small crab shells consisted of deproteination with 3N NaOH, demineralization with 1N HCl, and deacetylation with 50% NaOH. The chitosan obtained was analyzed its characteristics and degrees of deacetylation, then chitosan was chemically hydrolyzed with 20% HCl solution at room temperature for 4 hours. The resulting glucosamine is then calculated yield, loss on drying (LoD), solubility level and degree of deacetylation. The results showed that the yield of chitosan crab shells was 11.3%, white, odorless, 9.2% moisture content, 5.4% ash content, and 90.8% deacetylation rate. Glucosamine yield was 8.6%, with a Loss on Drying value of 1.3%, solubility of 72% and the degree of deacetylation of 96.95%. Infrared spectra show the presence of -NH, -OH, -CH and -C = O groups that match those found in glucosamine

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue