cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Evaluasi Kesesuaian Perairan sebagai Kawasan Budidaya Kappaphycus alvarezii Doty 1985 (Florideophyceae : Solieriaceae), di Kecamatan Jepara Turnip, Sarah Pebriyani; Djunaedi, Ali; Sunaryo, Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31227

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama dalam budidaya perikanan yang dapat di budidayakan secara masal sehingga dapat dikatakan merupakan komoditas yang strategis. Karakteristik perairan secara fisika dan kimia Perairan Jepara memiliki potensi untuk pengembangan budidaya rumput laut. Namun di Kabupaten Jepara hanya Pantai Karimunjawa yang dimanfaatkan menjadi kawasan budidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian perairan berdasarkan kualitas air untuk kawasan budidaya rumput laut (K. alvarezii) di perairan Kecamatan Jepara yang terkait parameter fisika dan kimia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan metode survei pengamatan langsung pada bulan Januari-Februari 2021 di 3 lokasi (stasiun) yaitu Pantai Kartini, Pantai Prawean dan Pantai Bandengan. Analisis Kesesuaian perairan menggunakan metode pembobotan (scoring). Hasil evaluasi dari skoring penilaian kesesuaian perairan di Perairan Kecamatan Jepara menunjukkan bahwa Pantai Kartini, Prawean dan Bandengan sesuai untuk dijadikan kawasan budidaya rumput laut (K. alvarezii). Seaweed is one of the main commodities in aquaculture which can be cultivated en masse so that it can be said to be a strategic commodity. Physical and chemical characteristics of the waters in Jepara waters have the potential for the development of seaweed cultivation. However, in Jepara Regency, only Karimunjawa Beach is used as a seaweed cultivation area. This study aims to determine the level of water suitability based on water quality for the cultivation of seaweed (K. alvarezii) in the waters of Jepara District which are related to physical and chemical parameters. This research is a descriptive type of research with direct survey methods in January-February 2021 in 3 stations, namely Kartini Beach, Prawean Beach and Bandengan Beach. Water suitability analysis uses the scoring method. The results of the evaluation of the assessment of the suitability of waters in the waters of Jepara District show that Kartini, Prawean and Bandengan Beaches are suitable to be used as seaweed cultivation areas (K. alvarezii).
Studi Pertumbuhan Portunus pelagicus Linnaeus, 1758 (Portunidae:Malacostrata) di Perairan Tunggulsari, Rembang Mustofa, Diah Ayu; Redjeki, Sri; Pringgenies, Delianis
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.29157

Abstract

Rajungan merupakan komoditas perikanan yang banyak diminati baik dalam maupun luar negeri. Permintaan rajungan meningkat setiap tahunnya. Desa Tunggulsari merupakan desa penghasil rajungan di Rembang. Desa ini terletak di Kecamatan Kaliori dengan 78,35% penduduknya nelayan. Penangkapan rajungan terjadi setiap hari tanpa adanya restocking. Kondisi ini dapat menyebabkan overfishing dan berdampak pada kelestarian rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan rajungan (Portunus pelagicus) hasil tangkapan nelayan di Desa Tunggulsari, Rembang meliputi distribusi lebar karapas dan pola pertumbuhan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini berlangsung selama 30 hari dengan pengambilan 100 sampel rajungan per hari. Hasil penelitian ini diketahui ukuran rajungan terdistribusi antara 49–178 mm dengan pola pertumbuhan allometrik negatif dengan nilai b=2,8575. Berdasarkan penelitian terdapat 64 % rajungan yang layak tangkap dan 36 % rajungan yang tak layak tangkap meliputi rajungan muda berukuran <10 cm. Berdasarkan data, nelayan belum menerapkan PERMEN KP No. 12 Tahun 2020 tentang penangkapan rajungan. Hal ini akan berdampak pada kondisi rajungan di wilayah Tunggulsari.  Blue swimming crab fishery commodity that has high demand both at home and abroad. Tunggulsari is one of the villages in Rembang where people catch blueswimmingcrab. It’s located in Kaliori Sub-district with 78.35% population of fishermen. Blue swimming crab is catched every day without any restocking. This condition cause overfishing and impact on the sustainability of blue swimming crab. This research aims to study the growth of blueswimming crab (Portunus pelagicus) in Tunggulsari, Rembang include distribution of width and growth pattern. The method used in this research is descriptive. This research lasted for 30 days by taking 100 sample/day. The results is the width is distributed between 49–178 mm and has a negative allometric growth pattern with value of b=2.8575. Based on the research, there are 64% blueswimming crab that worth to catch and 36% blueswimming crab that doesn’t worth to catch include young crab which size <10 cm. Based on the data, fishermen have not implemented Government Regulation No. 12, 2020 regarding catching crabs. This impact on the condition of the crabs in the Tunggulsari area.‎ Based on the research, there are 64% of crabs that are suitable for catching and 36% of crabs that are not suitable for catching include young crabs measuring <10 cm Based on the data, fishermen have not implemented Government Regulation No. 12, 2020 concerning the Crab Regulation. This will have an impact on the chopping conditions in the Tunggulsari area.‎ 
Potensi Ekstrak Teripang Stichopus hermanii, Semper 1868 (Holothuroidea : Stichopodidae) sebagai Penghasil Senyawa Antibakteri terhadap Streptococcus mutans Clarke, 1924 (Bacilli : Streptococcaceae) Monika, Rika; Pringgenies, Delianis; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31097

Abstract

Teripang Stichopus hermanii merupakan biota laut yang mempunyai senyawa dengan bioaktivitas sebagai antibakteri terhadap patogen. Stichopus hermanii mampu menghambat bakteri gram positif dan negatif. Produk teripang yang sudah ada banyak memperlihatkan manfaatnya salah satunya untuk gigi. Produk komersil yang terlihat di masyarakat yakni pasta gigi, namun belum diketehaui  secara mendetail mengenai seberapa besar peran pasta gigi tersebut dalam mengatasi permasalahn gigi.  Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui senyawa yang aktif didalam ekstrak teripang Stichopus hermanii. Metode ekstraksi yakni dengan padat ke cair, pencarian senyawa aktif menggunakan skrining fitokimia dengan pereaksi yang berbeda setiap pengujiannya, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Uji aktivitas antibakteri pada ekstrak S. hermanii menggunakan bakteri patogen Streptococcus mutans. Hasil senyawa aktif yang didapat dari skrinining fitokimia meliputi flavonoid, alkaloid, triterpenoid dan saponin. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak metanol S. hermanii mampu menghambat bakteri S.mutans. Zona hambat tertinggi pada S. mutans  5,86 mm ± 4,92 dengan konsentrasi 80 µg/disk pada waktu 24 jam. Disimpulkan bahwa senyawa aktif pada ekstrak metanol S. hermanii mempunyai bioaktivitas antibakteri pada bakteri S. mutans.  The sea cucumber Stichopus hermanii is a marine biota that has compounds with bioactivity as an antibacterial against pathogens. Stichopus hermanii can inhibit gram-positive and gram-negative bacteria. Sea cucumber products that already exist have shown many benefits, one of which is for teeth. The commercial product seen in the community is toothpaste, but it is not yet known in detail how big the role of toothpaste is in overcoming dental problems. The purpose of this study was to determine the active compounds in sea cucumber extract Stichopus hermanii. The extraction method is solid to liquid, the search for active compounds uses phytochemical screening with different reagents for each test, and the antibacterial activity test uses the agar diffusion method with different concentrations. Antibacterial activity test on S. hermanii extract using the pathogenic bacterium Streptococcus mutans. The results of the active compounds obtained from phytochemical screening include flavonoids, alkaloids, triterpenoids, and saponins. The antibacterial activity test showed that the methanol extract of S. hermanii was able to inhibit S. mutans bacteria. The highest zone of inhibition in S. mutans was 5.86 mm ± 4.92 with a concentration of 80 g/disk at 24 hours. It was concluded that the active compound in the methanolic extract of S. hermanii had antibacterial bioactivity on S. mutans bacteria.
Amankah Mengkonsumsi Kerang Hijau Perna viridis L nnaeus, 1758 (Bivalvia: Mytilidae) yang ditangkap di Perairan Morosari Demak? Arifin, Alvi Akhmad; Suryono, Chrisna Adhi; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31650

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan komoditas perikanan yang sering dikonsumsi sebagai bahan pangan. Sampel yang diambil berasal dari perairan Morosari Demak pada bulan Juni, Juli dan Agustus 2020. Tujuan dari penelitian ini untuk menduga kandungan logam berat Pb dan Cu yang terdapat pada air, sedimen dan kerang hijau serta menentukan batas toleransi untuk mengkonsumsi kerang hijau yang mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan juga untuk menentukan Faktor biokonsentrasi (BCF) yang merupakan nilai akumulasi bahan kimia (polutan) dalam tubuh kerang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kerang hijau, air dan sedimen. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai kandungan logam berat dalam daging kerang hijau berkisar 0,140-0,617 mg/kg (Pb) dan 0,035-0,851 mg/kg (Cu). Kandungan Pb dan Cu pada kerang hijau di semua stasiun dan bulan pengambilan sampel masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (2009) untuk logam berat Pb sebesar 1,5 mg/kg dan FAO (1972) untuk logam berat Cu sebesar 1 mg/kg. Kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi logam berat Pb dan Cu pada setiap bulan bervariasi, sebagian besar memiliki kemampuan akumulasi organisme rendah dengan nilai FBK < 1, sebagian memiliki kemampuan akumulasi organisme sedang dengan nilai FBK >1 dan ≤2 dan beberapa memiliki kemampuan akumulasi organisme tinggi dengan nlai FBK >2. Analisis batas aman konsumsi kerang hijau yang tercemar logam berat pada lokasi penilitian menunjukan kerang hijau masih aman dikonsumsi hingga 2,43 kg/minggu pada orang dewasa dengan berat badan rata-rata 60 kg Green mussels, Perna viridis is a fishery commodity that is often consumed as a food. The purpose of this study is to evaluate the concentration of pb and cu heavy metals contained in water, sediment and green mussels. The sample was collected in Morosari coastal waters Demak in June, July and August 2020 and determine the tolerance limit for consuming green mussels containing heavy metals. This research aims to determine the bioconcentration factor (BCF) which is the value of accumulation of chemicals (pollutants) in the body of shellfish. Samples of green mussels were taken from three stations which are ponds of green mussels belonging to Morosari fishermen. This study uses descriptive method, while location determination method using purposive sampling method. The materials used in this study were samples of green mussels, water and sediment. Environmental parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen, brightness, pH are measured in situ. The results showed the value of heavy metals in green shellfish ranging from 0.140-0.617 mg/kg (Pb) and 0.035-0.851 mg/kg (Cu). The content of Pb and Cu in green mussels in all stations and months of sampling is still below the threshold set by the National Standardization Body (2009) for pb heavy metals of 1.5 mg/kg and FAO (1972) for Cu heavy metals of 1 mg/kg. The ability of green shells in accumulating heavy metals Pb and Cu on a monthly vary, most have low organism accumulation ability with BCF value < 1, some have the ability to accumulate medium organisms with BCF values >1 and ≤2 and some have high organism accumulation ability with BCF >2. Analysis of the safe limit of consumption of green mussels contaminated with heavy metals at the research site showed green mussels were still safe to consume up to 2.43 kg/week in adults with an average body weight of 60 kg.
Pengaruh Konsentrasi Logam Berat Zn pada Pertumbuhan Mikroalga Dunaliella salina (Chlorophyceae: Dunaliellaceae) Sihotang, Angelina Yusniar Christanty; Santosa, Gunawan Widi; Sunaryo, Sunaryo
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.29291

Abstract

Logam berat Zn merupakan salah satu logam berat essensial yang dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah sedikit, termasuk mikroalga Dunaliella salina. Konsentrasi logam pada media kultur diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan proksimatnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan dan kandungan proksimat pada mikroalga Dunaliella salina pada konsentrasi logam berat Zn yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroalga D. salina yang diperoleh dari stok murni Laboratorium Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Hasil penelitian menunjukkan penambahan konsentrasi logam berat Zn yang berbeda pada media tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan D. salina (p≥0,05). Heavy metal Zn is one of the essential heavy metals needed by plants in small amounts, including the microalgae Dunaliella salina. Metal concentration in the living medium is thought to have an effect on growth and proximate content. The purpose of this study was to determine the growth and proximate content of green microalgae D. salina at different concentrations of heavy metal Zn. The material used in this study was D. salina microalgae obtained from pure stock from the Laboratory of the Center for Brackish Water Cultivation Development (BBPBAP) Jepara. The results showed that the addition of different heavy metal concentrations affected the growth cellular counts at the last expontial phase, though it did not affect the cellular growth rate of D. salina at (p≥0,05).
Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen dan Kerang Hijau (Perna viridis) di Pantai Mekar, Muara Gembong, Bekasi Suryo, Rieziq Aldi; Yulianto, Bambang; Santoso, Adi
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.29162

Abstract

Perairan Muara Gembong termasuk ke dalam wilayah Teluk Jakarta yang terindikasi tercemar logam Pb hasil buangan industri, rumah tangga dan bahan bakar kapal yang tumpah melewati perairan. Pencemaran lingkungan ini berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat sekitar, terutama yang berkaitan dengan lingkungan. Sampel yang telah diperoleh kemudian disimpan untuk dianalisis lebih lanjut di Laboratorium Balai Pengujian dan Manajemen Hasil Sumberdaya Perikanan Semarang menggunakan alat Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Stasiun pengambilan sampel terdiri atas 5, yaitu mewakili dermaga, mangrove, estuaria, laut dangkal dan laut dalam. Hasil penelitian yang dilakukan di kelima stasiun pengambilan contoh, diperoleh kandungan logam berat timbal (Pb) di air 0,023-0,038 ppm dan ±0,0314 ppm, Pb di dalam sedimen perairan 8,978-12,615 ppm dan ±10,551 ppm dan Pb di daging kerang hijau (Perna viridis) 0,117-0,141 ppm dan ±0,129 ppm. Suhu yang diukur berkisar antara 30-33°C, nilai pH 7-8, nilai salinitas 21-30 ppt dan nilai DO 4,40-5,27 mg/l. Faktor biokonsentrasi terhadap air di kelima stasiun berkisar antara 3,4-5,3 dan ±4,1. Batas aman konsumsi kerang hijau di perairan Pantai Mekar berkisar antara 76-91 berat tubuh/minggu. Dari analisis komponen umum pengukuran parameter fisika kimia dan kandungan logam berat di perairan memiliki hubungan, yaitu positif pada variabel suhu, Pb di air, Pb di sedimen, Pb di kerang hijau dan faktor biokonsentrasi, sedangkan memiliki korelasi negatif pada variabel DO, pH dan salinitas perairan. Disimpulkan bahwa logam berat Pb di air telah tercemar, namun di sedimen dan kerang hijau masih di bawah baku mutu yang berlaku.  Muara Gembong belongs to the Jakarta Bay area that is indicated to be contaminated with Pb metals from industrial, household and ship fuel spilling through the waters. Environmental pollution affects the people activities, especially those who related to the environment. Samples that have been obtained are then stored for further analysis at the Laboratory of Fisheries Resource Testing and Management Center Semarang using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). The sampling station consists of 5 places, which represent the dock, mangrove, estuary, shallow sea and deep sea. The results of research conducted at the five sampling stations, obtained heavy metal content of Pb in water ranged from 0.023-0.038 ppm and ±0.0314 ppm, Pb metal in aquatic sediments 8,978-12,615 ppm and ±10,551 ppm, Pb value in green shells (Perna viridis) 0.117-0.141 ppm and ±0.129 ppm. The temperature measured ranged from 30-33°C, the pH from 7-8, salinity from 21-30 ppt and DO ranged from 4.40-5.27 mg / l. Bioconcentration factors for water at the five stations ranged from 3.4 to 5.3 ±4.1. The limit of consumption of shells in the water of Pantai Mekar ranges from 76-91 body weight/week. Chemical and physics parameters and the content of heavy metals in waters has a relationship, namely positive on the variable temperature, Pb in water, sediments, green shells and bioconcentration factors, while having a negative correlation on DO, pH and salinity variables the waters. Pb concenteration in Pantai Mekar is contaminated. Heavy metal content in sediments and green shells was still below the quality standard.  
Pengaruh Pemberian Ekstrak Stichopus hermanii Semper, 1868 (Stichopodidae, Holothuroidea) terhadap Jumlah Total Hemosit Litopenaeus vannamei Boone, 1931 (Penaeidae, Crustacea) Ni'mah, Ulin; Pringgenies, Delianis; Santosa, Gunawan Widi
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31112

Abstract

Peningkatan imunitas udang vaname dengan menggunakan imnostimulator merupakan salah satu upaya untuk mencegah kegagalan panen pada budidaya udang vaname. Ekstrak teripang emas memiliki senyawa yang berperan sebagai peningkat imun. Beberapa senyawa yang terkandung pada teripang emas yaitu saponin dan steroid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak teripang emas terhadap jumlah total hemosit Litopenaeus vannamei dan konsentrasi ekstrak teripang emas yang paling tepat untuk meningkatkan jumlah total hemosit udang vaname. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen laboratoris dengan perlakuan konsentrasi ekstrak teripang emas yang ditambahkann pada pakan udang komersil yaitu 0 ppm; 40 ppm; 80 ppm; 120 ppm. Hasil penelitian jumlah total hemosit udang vaname terjadi peningkatan akibat pemberian ekstrak teripang emas dibandingkan kontrol. Peningkatan tersebut terlihat pada jumlah total hemosit udang vaname yang diberi ekstrak teripang emas dengan konsentrasi 40 dan 120 ppm pada hari ke-8. Pemberian ekstrak teripang emas dengan konsentrasi 120 ppm memberikan hasil terbaik yaitu jumlah total hemosit sebanyak 1,18x106 sel/mL, dan untuk kelangsungan hidup udang vaname yang diberikan ekstrak teripang emas dan kontrol memiliki persentase sebesar 100%. Kesimpulannya adalah pemberian ekstrak teripang emas berpengaruh terhadap jumlah hemosit udang vaname.  Increased immunity of vaname shrimp by using imnostimulator is one of the efforts to prevent crop failure in the cultivation of vaname shrimp. gold sea cucumber extract has a compound that acts as an immune enhancer. Some of the compounds contained in Stichopus hermanii are saponins and steroids. The purpose of this study was to determine the effect of gold sea cucumber extract on the total amount of vaname shrimp haemocyte and the most appropriate concentration of golden sea cucumber extract to increase the total amount of vaname shrimp haemocyte. The method used was a method of laboratory experimentation with the treatment of the concentration of Stichopus hermanii extract added to commercial shrimp feed that is 0 ppm; 40 ppm; 80 ppm; 120 ppm. The results of the study the total amount of shrimp haemocyte Litopenaeus vananamei increased due to administration of Stichopus hermanii extract compared to control. The increase was seen in the total amount of vaname shrimp haemocyte given gold sea cucumber extract with concentrations of 40 and 120 ppm on day 8. Administration of gold sea cucumber extract with a concentration of 120 ppm gives the best result that is the total amount of haemocyte as much as 1.18x106 cells / mL, and for the survival of Litopenaeus vannamei given extract gold sea cucumber and control has a percentage of 100%. The conclusion is that the administration of gold sea cucumber extract affects the amount of haemocyte shrimp vaname.
Analisis Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Kappaphhycus alvarezii (Doty) menggunakan Citra Satelit Di Perairan Pulau Nusa Lembongan, Bali Nashrullah, Muhamad Fatah; Susanto, A.B.; Pratikto, Ibnu; Yati, Emi
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.30507

Abstract

Perairan Pulau Nusa Lembongan merupakan salah satu pulau yang berlokasi di Kab.Klungkung, Bali. Budidaya rumput laut di lokasi ini terdapat beberapa kendala dalam pengembangannya, yaitu keterbatasan pemahaman sumberdaya manusia, modal serta penentuan lokasi busisaya rumput laut. Metode penelitian yang digunakan adalam metode eksploratif dengan pendekatan analisa kuantitatif.Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesesuaian lahan budidaya dan mengetahui luasan lahan yang efektif untuk budidaya rumput laut di perairan Pulau Nusa Lembongan. Parameter yang diamati yaitu suhu, salinitas, pH, keterlindungan, kedalaman, kecerahan, arus, substrat dasar perairan, nitrat, fosfat, oksigen terlarut (DO), klorofil-A dan muatan padatan tersuspensi (MPT). Analisis dilakukan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut di perairan Pulau Nusa Lembongan yang sangat sesuai sebesar 3.375,65 Ha. Sedangkan luas lahan yang efektif sebesar 2.025,39 Ha yaitu 60% dari luas sangat sesuai dengan jumlah rakit yang dioperasikan sebesar 810.156 unit dan ukuran rakit 1 x25 m serta total produksi pada satu musim panen sebesar 89.117,16 ton/siklus panen.  The waters of Nusa Lembongan Island are one of the islands located in Klungkung Regency, Bali. Seaweed cultivation in this location has several features in its development, namely limited understanding of human resources, capital and determining the location of seaweed busses. The research method used is an exploratory method with a quantitative analysis approach.This study aims to analyze the suitability level of cultivated land and determine the effective land area for seaweed cultivation in Nusa Lembongan Island. The parameters temperature, salinity, pH, water protection, depth, brightness, current, bottom water substrate, nitrate, phosphate, dissolved oxygen (DO), chlorophyll-A, and suspended solids charge (MPT). The analysis was carried out with a Geographical Information System (GIS) approach. The results of the land suitability analysis for the development of seaweed cultivation in Nusa Lembongan which are very suitable are 3,375.65 hectares. While the effective land area is 2,025.39 ha, which is 60% of the area, which corresponds to the number of rafts that are operated at 810,156 units, and the size of the raft is 1 x25 m and the total production in one harvest season is 89,117.16 tons/harvest cycle.
Pencemaran Logam Berat Kadmium (Cd) dalam Kerang Darah (Anadara granosa) yang Didaratkan di Tambak Lorok Semarang Satriawan, Erian Febri; Widowati, Ita; Suprijanto, Jusup
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.30155

Abstract

Perairan Tambak Lorok Semarang merupakan daerah yang terdapat banyak aktivitas industri. Banyaknya aktivitas industri di perairan Tambak Lorok Semarang dapat menyebabkan tingginya angka pencemaran lingkungan, terutama logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd (kadmium) pada kerang darah (Anadara granosa) yang terdapat di perairan Tambak Lorok Semarang dan kemudian dilakukan analisis terhadap penilaian resiko kesehatan manusia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret, Juni, Juli dan Agustus tahun 2020 di perairan Tambak Lorok Semarang. Logam berat dari kerang tersebut berdasarkan pembacaan Inductively Coupled Plasma (ICP) menunjukkan nilai berturut – turut 0,280 mg/kg; 0,514 mg/kg; 0,430 mg/kg; dan 1,649 mg/kg. Berdasarkan konsentrasi rata-rata Cd lebih rendah dari BSN (2009) yaitu 1 mg/kg kecuali pada bulan Agustus 2020. Perkiraan asupan harian (EDI) oleh masyarakat berkisar antara (0,000168-0,000987) mg/kg/hari. Lalu, nilai bahaya target (THQ) untuk Cd berkisar (0,161-0,946). Nilai ECR yang didapatkan untuk Cd berkisar antara (2,6x10-5 - 1,5x10-4) Pada umumnya semua nilai THQ pada kerang A. granosa kurang dari 1. Sementara semua nilai ECR pada kerang A. granosa kurang dari 10-4 pada bulan Agustus 2020. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kerang A. granosa yang terdapat di perairan Tambak Lorok Semarang masih bisa untuk dikonsumsi. Dan tidak ada efek buruk kesehatan non-karsinogenik. Namun pada bulan Agustus 2020 memiliki efek karsinogenik. apabila masyarakat mengkonsumsi daging kerang A. granosa yang terpapar logam berat kadmium (Cd). Tambak Lorok Waters in Semarang is an area that has many industrial activities. A large number of industrial activities in Tambak Lorok Semarang waters can cause a high number of environmental pollution, especially heavy metals. This study aims to determine the content of heavy metal Cd (cadmium) in blood clams (Anadara granosa) found in Tambak Lorok waters Semarang. Based on the metal content, an analysis of human health risk assessments was carried out. This research was conducted in March, June, July, and August 2020 in Tambak Lorok waters, Semarang. The heavy metals from these shells based on Inductively Coupled Plasma (ICP) readings showed a value of 0.280 mg/kg respectively; 0.514 mg/kg; 0.430 mg / kg; and 1.649 mg/kg. Based on the average concentration of Cd is lower than BSN (2009) that is 1 mg/kg except in August 2020. Estimated daily intake (EDI) by the community ranges from (0.000168-0.000987) mg/kg/day. Then, the target hazard value (THQ) for Cd ranges (0.161-0.946). The value of ECR for Cd range between (2,6x10-5 - 1,5x10-4). In general, all THQ values in A. granosa shells are less than 1. And then for all ECR value in A. granosa was less than 10-4. Based on this research, it can be concluded that A. granosa shells found in Tambak Lorok Semarang waters are still able for consumption. And there are no adverse non-carcinogenic health effects. But in August 2020 it has a carcinogenic effect. if people consumed A. granosa exposed by heavy metal cadmium (Cd).
Karakteristik Krim Tabir Surya dari Kappaphycus alvarezii Doty 1985 (Florideophyceae : Solieriaceae) Beladini, Septi; Susanto, A.B.; Ridlo, Ali
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.31272

Abstract

Paparan sinar ultraviolet yang terus menerus dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Upaya pencegahan dapat dengan menggunakan sediaan krim tabir surya. Rumput laut K. alvarezii adalah salah satu organisme laut yang diduga mengandung senyawa yang dapat dijadikan sebagai agen tabir surya alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik krim tabir surya dari ekstrak K. alvarezii. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah rumput laut K. alvarezii kering yang diperoleh dari PT. Rumah Rumput Laut, Bogor. Rumput laut K. alvarezii diekstraksi dengan pelarut yaitu n-heksana, etil asetat, metanol Krim tabir surya dibuat menurut Mishara, (2018), dengan menambahkan empat ekstrak rumput laut K. alvarezii yang berbeda, kemudian dilakukannya uji yang meliputi uji organoleptik, uji stabilitas, uji tipe emulsi, uji clycling test, uji nilai pH, uji nilai SPF,. Hasil penelitian menunjukkan keempat ekstrak K. alvarezii memiliki serapan panjang gelombang pada daerah ultraviolet, untuk hasil analisis sediaan krim tabir surya menunjukkan krim tabir surya dari ekstrak K. alvarezii stabil secara fisik selama penyimpanan 28 hari, tidak ada perubahan warna dan bau, tidak terdapat pertumbuhan jamur, tipe emulsi  krim minyak dalam air dan memiliki nilai SPF >15 sehingga termasuk dalam kategori tabir surya ultra  Continuous exposure to ultraviolet rays can cause damage to the skin. Prevention efforts can use sunscreen cream preparations.seaweed K. alvarezii is a marine organism that is thought to contain compounds that can be used as natural sunscreen agents. The purpose of this study was to determine the characteristics of the sunscreen cream fromextract K. alvarezii. The sample used in this study was theseaweed K. alvarezii driedobtained from PT. Seaweed House, Bogor.seaweed was K. alvarezii extracted with solvents, namely n-hexane, ethyl acetate, methanol and distilled water. Sunscreen cream made, by adding four seaweed extract K. alvarezii different, then do a test covering the organoleptic test, stability test, test emulsion type,test clyclingtest, test the pH value, test the SPF value, . The results showed that the four extracts of K. alvarezii had wavelength absorption in the ultraviolet area, for the analysis of sunscreen cream preparations showed that the sun cream fromextract K. alvarezii was physically stable during 28 days of storage, no change in color and odor, no growth. fungus, a type of oil-in-water cream emulsion and has an SPF value of> 15 so it is included in the ultra sunscreen category. 

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue