cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Potensi dan Karakteristik Bakteri Simbion Karang Lunak Sinularia sp. sebagai Anti Bakteri Escherichia coli dari Perairan Pulau Gili Labak Madura Indonesia Asih, Eka Nurrahema Ning; Kartika, Ary Giri Dwi
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.30689

Abstract

Gili Labak merupakan pulau kecil di Kabupaten Sumenep-Madura yang memiliki keanekaragaman karang lunak melimpah salah satunya Sinularia sp.. Beberapa studi literatur menyatakan bahwa Sinularia sp. memiliki berbagai jenis bakteri simbion yang berperan penting dalam siklus hidup karang lunak ini. Bakteri yang bersimbiosis dengan Sinularia sp. memiliki potensi besar sebagai agen anti bakteri khususnya bakteri gram negatif Escherichia coli. Identifikasi isolat bakteri yang bersimbiosis dengan Sinularia sp. ini merupakan alternatif upaya pemanfaatan sumberdaya karang lunak secara konservatif dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi anti bakteri dan mengidentifikasi jenis bakteri simbion dari ekstrak karang lunak Sinularia Sp. yang berasal dari perairan Gili Labak Madura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji zona hambat bakteri menggunakan overlay dan metode difusi dengan media ZoBell 2216E. Karakteristik molekuler sampel diamati menggunakan metode PCR 16s rDNA dengan ekstraksi DNA menggunakan Chelex 100 dan Primer amplifikasi PCR 27F dan 1492R. Pohon filogenetik dibangun dengan menggunakan aplikasi MEGA 6. Hasil penelitian diketahui dari 4 isolat bakteri (L2.2, L2.3, L2.4, dan L2.5), terdapat 1 isolat yang yang memiliki aktivitas antibakteri Escherichia coli kuat yaitu Isolat L2.5. Isolat L2.5 memiliki diameter zona hambat terbesar yaitu 2.207 ± 0.401 cm. Strain bakteri aktif di Isolat L2.5 adalah Virgibacillus marismortui dengan kemiripan urutan 100%. Hasil penelitian ini menjadi informasi awal yang dapat digunakan sebagai referensi untuk mengoptimalkan potensi pemanfaatan bakteri Virgibacillus marismortui di bidang bioteknologi laut khususnya industri farmasi di masa yang akan datang. Gili Labak is a small island in Madura district which has a diversity of soft coral Sinularia sp. Several literature studies state that Sinularia sp. has various types of symbiotic bacteria that play an important role in the life cycle of this soft coral. This symbiotic bacterium with Sinularia sp. has great potential as an antibacterial agent especially inhibiting of gram-negative bacteria Escherichia coli. Identification of bacterial isolates that are in symbiosis with Sinularia sp. is an alternative to conservative and sustainable use of soft coral resources. This study aims to determine the anti-bacterial potential and identify the type of bacteria from the soft coral extract of Sinularia sp. from the waters of Gili Labak-Madura. The method used in this research is bacterial inhibition zone test using overlay and diffusion methods with ZoBell 2216E media. Molecular characteristics of samples were observed using PCR 16s rDNA method with DNA extraction using Chelex 100 and PCR amplification primers 27F and 1492R. Phylogenetic trees were constructed using MEGA 6 application. The results showed that there were 4 isolates (L2.2, L2.3, L2.4, and L2.5), there was 1 isolate that had strong Escherichia coli antibacterial activity, namely Isolate L2.5. L2.5 isolate has the largest inhibitory zone diameter of 2.207 ± 0.401 cm. The active bacterial strain in the L2.5 isolate was Virgibacillus marismortui with 100% sequence similarity. The results of this study serve as initial information that can be used as a reference to optimize the potential utilization of Virgibacillus marismortui bacteria in marine biotechnology, especially the pharmaceutical industry in the future.
Penapisan Bakteri Penghasil Antimikroba dari Pasir Pantai Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai Febriani, Husnarika; Mashitah, Ulfa; Tambunan, Efrida Pima Sari
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31719

Abstract

Telah dilakukan penelitian penapisan bakteri penghasil antimikroba pada pasir Pantai Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang bedagai dalam menghambat beberapa mikroba patogen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat isolat penghasil antimikroba, untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari isolat bakteri terhadap mikroba patogen dan melihat bagaimana karakterisasi bakteri pada pasir Pantai Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2020 di Pantai Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini dilakukan dengan pengujian biokimia sederhana, pengujian fisiologis serta pengujian aktivitas antimikroba. Hasil dari penelitian ini diperolehi 4 isolat sebagai penghasil antimikroba, dengan nama isolat Sb1a (1,70 mm), Sb1b (1,23 mm), Sb2a (0,63 mm), dan Sb4a (0,93 mm). Karakterisasi bakteri isolat pasir Pantai Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai pada isolat Sb1a, Sb1b, dan Sb4a ialah bakteri gram positif, dan Sb2a ialah bakteri gram negatif. Semua isolat berbentuk Basil, dapat menghasilkan enzim katalase, menggunakan sitrat sebagai satu-satunya karbon dan energi, bergerak serta dapat memfermentasikan laktosa dan sukrosa. Research has been done to screen for antimicrobial-producing bacteria on the sand of Sialang Buah Beach, Teluk Mengkudu District, Serdang Bedagai Regency in inhibiting several pathogenic microbes. The purpose of this study was to determine whether there were antimicrobial-producing isolates, to determine the antimicrobial activity of bacterial isolates against microbial pathogens and to see how the characterization of bacteria in the sand of Sialang Buah Beach, Teluk Mengkudu District, Serdang Bedagai Regency. This research was conducted from October to December 2020 at Sialang Buah Beach, Teluk Mengkudu District, Serdang Bedagai Regency. This research was conducted by simple biochemical testing, physiological testing and antimicrobial activity testing. The results of this study obtained 4 isolates as producers of antimicrobials, with the names of isolates Sb1a (1.70 mm), Sb1b (1.23 mm), Sb2a (0.63 mm), and Sb4a (0.93 mm). Bacterial characterization of sand isolates from Sialang Buah Beach, Teluk Mengkudu District, Serdang Bedagai Regency, on isolates Sb1a, Sb1b, and Sb4a were gram-positive bacteria, and Sb2a were gram-negative bacteria. All isolates are bacilli, can produce catalase enzyme, use citrate as the only carbon and energy, are mobile and can ferment lactose and sucrose.
Analisis Komposisi Hasil Tangkapan Gill Net di Desa Tablolong Kabupaten Kupang Joi Alfreddi Surbakti; M. Basri
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31742

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Tablolong Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Bulan Juli 2021.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komposisi hasil tangkapan jaring insang dasar yang berukuran mata 3 inci, 3,5 inci dan gill net 4 inci, membandingkan komposisi dari jumlah dan ukuran hasil tangkapan dari ukuran mata jaring yang digunakan, dan mengetahui bagaimana cara tertangkapnya ikan pada berbagai mata jaring. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang didasarkan pada studi kasus. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini adalah jenis ikan yang mendominasi hasil tangkapan adalah Ikan Kembung (Rastrelliger sp) berjumlah 859 ekor diikuti oleh Ikan tembang (Sardinella gibbose) 357 ekor dan Ikan biji nangka (Upeneus moluccensis Blkr.) 234 ekor. Jumlah hasil tangkapan yang diperoleh ukuran mata 3 inci 497 ekor, ukuran 3.5 inci 461 ekor dan ukuran 4 inci 728 ekor. Bobot ikan kakap (Lutjanidae) lebih berat pada mata jaring 3.5 inci yaitu 360 gr. Untuk ukuran 3 inci adalah 257 gr dan 4 inci adalah 340 gr. This research was conducted in Tablolong Village, West Kupang District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara at July 2021. The purpose of this study was to determine the composition of the catch of basic gill nets with eye size of 3 inches, 3.5 inches and gill nets 4 inches comparing the composition of the number and size catches from the size of the mesh used, and knowing how to catch fish in various meshes. The method used in this study is a descriptive method based on a case study. The results found in this study were that the type of fish that dominated the catch was 859 fish (Rastrelliger, sp) followed by Tembang fish (Sardinella gibbose) 357 and Jackfruit seed fish (Upeneus moluccensis Blkr.) 234. The number of catches obtained with eye size of 3 inches 497 individuals, size 3.5 inches 461 individuals and size 4 inches 728 individuals. The weight of snapper (Lutjanidae) is heavier on a 3.5-inch mesh which is 360 gr. For the size of 3 inches is 257 grams, and for the size of 4 inches is 340 grams.
Pengaruh Pertumbuhan Spirulina platensis terhadap Kandungan Pigmen beda Salinitias Dieng Widawati; Gunawan Widi Santosa; Ervia Yudiati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.30096

Abstract

Spirulina platensis merupakan mikroalga hijau-kebiruan dalam kelas Cyanophyceae yang mengandung klorofil-a dan fikobiliprotein. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan pigmen Spirulina platensis salah satunya yaitu salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan pigmen mikroalga Spirulina platensis pada salinitas yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan mikroalga tertinggi pada (salinitas 15 ppt) sebesar 211.875±1994 unit/mL dan terendah pada salinitas 25 sebesar 141.539±5872 unit/mL. Laju pertumbuhan tertinggi didapat pada salinitas 20 ppt sebesar 0,327±0,019 unit/hari dan terendah pada salinitas 25 ppt sebesar 0,246±0,012 unit/hari. Kandungan klorofil-a berkisar antara 10,622±1,322 µg/mLpada salinitas 30 ppt dan 8,176±2,426 µg/mL pada salinitas 15 ppt. Kandungan fikosianin berkisar antara 0,105 ± 0,041 mg/mL (salinitas 20 ppt) sampai 0,058 ± 0,005 mg/mL (salinitas 30 ppt). Allofikosianin berkisar antara 0,069±0,010 mg/mL pada salinitas 20 ppt sampai 0,042±0,007 mg/mL pada salinitas 30 ppt. Kisaran fikoeritrin antara  0,384±0,159 mg/mL pada salinitas 20 ppt sampai 0,239±0,014 mg/mL pada salinitas 30 ppt. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa salinitas memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan, namun tidak pada kandungan pigmen mikroalga Spirulina platensis. Kandungan klorofil a dan fikobiliprotein yang terdiri dari fikosianin, allofikosianin dan fikoeritrin, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada salinitas yang berbeda. Spirulina platensis is a blue-green microalga in the Cyanophyceae class that contains chlorophyll-a and phycobiliprotein. One of the environmental factors affecting the growth and pigment of Spirulina platensis is salinity. This study aims to determine the growth and pigment content of Spirulina platensis at different level of salinity. The research was carried out from March till April 2020 at the Marine Biology Laboratory and Marine Chemistry Laboratory, Building E, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang. The research method used was a laboratory experiment using a completely randomized design. The results showed that the highest microalgae density achieved at salinity 15 ppt as 211.875±1994 units/mL, meanwhile the lowest was gained at salinity 25 ppt at 141.539 ± 5872 units/mL. The highest growth rate was obtained at 0.327 ± 0.019 unit/day at salinity 20 ppt, and the lowest was achived at 0.246 ± 0.012 unit/day at salinity 25 ppt.  The chlorophyll content ranged from 10.622 ± 1.322 µg/mL at salinity 30 ppt and 8.176 ± 2.426 µg/mL at salinity 15 ppt. The phycocyanin content ranged from 0.105 ± 0.041 mg/mL at salinity 20 ppt to 0.058 ± 0.005 mg/mL at salinity 30 ppt. Allophycocyanin ranged from 0.069 ± 0.010 mg/mL at salinity 20 ppt to 0.042 ± 0.007 mg/mL at salinity 30 ppt, and phycoerythrin ranged from 0.384 ± 0.159 mg/mL at salinity 20 ppt to 0.239 ± 0.014 mg/mL at salinity 30 ppt. The results suggested that salinity had a significant effect (p<0.05) on density biomass and growth rate of Spirulina platensis microalgae, but did not influence on pigment concentration. Measurements of chlorophyll-a and phycobiliprotein content, including phycocyanin, allophycocyanin, and phycoerythrin indicated that salinity did not affect the pigment concentration of microalgae Spirulina platensis.
Suistainability of Small Scale Capture Fisheries in Banggai Laut Waters, Indonesia Putra, Aswad Eka; Mansyur, Kasim; Sulistiawati, Dwi; Nurdin, Muh Saleh
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31666

Abstract

Small scale capture fisheries is one of the leading sectors that drive the economy of Banggai Laut Regency. Fishing technology improved related to fishing efforts has an effect on the preservation of fish stocks resource in the area that it required management efforts. This study aims to determine the sustainability status of small scale fisheries in Banggai Laut Regency based on ecological, fishing technology, social and economic dimensions. The research was conducted from September to December 2017 in seven sub-districts in Banggai Laut Regency. In determining the sustainability status of each dimension, the Rapfish (Rapid Appraisal for Fisheries Sustainability) approach is used. Furthermore, in determining the attributes that had an influence on the sustainability performance of small scale capture fisheries, a leverage analysis is carried out. The results showed that the highest sustainability index was the economic dimension of 75.57 (good), the ecological dimension of 59.25 (good), and the lowest was the social dimension of 22.95 (very bad), the dimension of fishing technology was 22.62 (very bad). Remedial measures that must be taken to improve sustainability performance include improving law enforcement facilities and infrastructure at sea and empowering supervisory officers, limiting excessive use of FAD, providing subsidies to small scale fisheries, and regulating fishing areas between local fishermen and Andon fishermen.
Aspek Biologi Pari Kekeh (Rhynchobatus spp.) Studi Kasus di PPP Tasik Agung, Rembang Ayu Safitri; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31271

Abstract

Pari kekeh merupakan jenis pari dalam kelompok ordo Rhinopristiformes yang termasuk dalam salah satu komoditas perikanan penting di Indonesia. Pari kekeh telah dikategorikan sebagai spesies ikan terancam punah menurut IUCN dan termasuk ke dalam daftar Appendiks II CITES. Laut Jawa sebagai Wilayah Pengelolaan Perikanan 712 merupakan salah satu daerah penangkapan utama untuk komoditas pari kekeh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis, hubungan panjang-berat, dan nisbah kelamin pari kekeh (Rhynchobatus spp.) yang didaratkan di PPP Tasik Agung, Rembang pada tanggal 7 September – 6 Oktober 2020. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data yang dilakukan berupa identifikasi jenis, pengukuran panjang total, panjang standar, berat, dan jenis kelamin ikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp.), yaitu Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, dan Rhynchobatus laevis dengan komposisi secara berturut-turut sebanyak 49%, 34%, dan 17%. Hubungan panjang total dan berat masing-masing jenis pari kekeh (Rhynchobatus spp.) menunjukkan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif (b<3), yaitu pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dari pertumbuhan berat. Nisbah kelamin ikan pari Rhynchobatus australiae sebesar 1:1,78, pari Rhynchobatus springeri sebesar 1:1,64, dan pari Rhynchobatus laevis sebesar 1:1,50. Hasil uji Chi-square (X2) dari masing-masing jenis pari Rhynchobatus spp. menunjukkan bahwa perbandingan individu jantan dan betina berbeda nyata atau dapat dikatakan tidak seimbang.Wedgefishes are a type of ray in the order Rhinopristiformes, which is one of the important fisheries commodities in Indonesia. Wedgefishes have been categorized as an endangered species according to the IUCN and is included in the CITES Appendix II list. Java Sea as Fishery Management Area 712 is one of the main fishing areas for wedgefishes commodities. The aim of this study was to determine the species composition, length-weight relationship, and sex ratio of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) landed at PPP Tasik Agung Rembang on September 7 - October 6, 2020. This study used a descriptive method. Data were collected by identifying the species, measuring the total length, standard length, weight and sex of the fish. The results showed that there were three types of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) found in PPP Tasik Agung, namely Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, and Rhynchobatus laevis with compositions of 49%, 34%, and 17% respectively. The length-weight relationship of each type of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) exhibited a negative allometric pattern of growth (b <3), that is, fish length growth is faster than weight growth. The sex ratio of Rhynchobatus australiae was 1: 1.78, Rhynchobatus springeri were 1: 1.64, and Rhynchobatus laevis were 1: 1.50. The results of the Chi-square test (X2) of each type of Rhynchobatus spp. indicates that the ratio of male and female individuals is significantly different or can be said to be imbalance.
Pengaruh Kandungan Nitrat dan Fosfat Sedimen terhadapt Klorofil Thalassia hemprichii di Perairan Jepara Putera, Muhammad Adhim Widiyo; Suryono, Suryono; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31133

Abstract

Proses fotosintesis pada lamun membutuhkan dua bahan utama yaitu karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) dengan klorofil sebagai katalisator dan menyerap energi cahaya. Nutrien merupakan faktor pembatas didalam proses fotosintesis. Kandungan klorofil lamun dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti intensitas cahaya, suhu dan nutrien. Terdapat dugaan bahwa pembentukan klorofil pada daun lamun dipengaruhi oleh nutrien berupa nitrat dan fosfat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi nutrien nitrat dan fosfat pada sedimen terhadap kandungan klorofil lamun T. hemprichii. Analisis konsentrasi nutrien (nitrat dan fosfat) dan klorofil dilakukan dengan metode spektrofotometri. Analisis regresi berganda dan analisis korelasi pearson dilakukan untuk mengetahui arah hubungan dan tingkat korelasi hubungan nitrat dan fosfat sedimen terhadap klorofil lamun T. hemprichii di Teluk Awur dan Pulau Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kandungan klorofil pada lamun T. hemprichii di dua lokasi penelitian yang berbeda yaitu Teluk Awur dan Pulau Panjang. Kandungan klorofil lamun dari Teluk Awur relatif lebih tinggi dibandingkan dari Pulau Panjang. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda variabel nitrat memiliki arah yang positif dan variabel fosfat memiliki arah negatif pada kedua lokasi terhadap kandungan klorofil lamun. Berdasarkan analisis korelasi pearson, konsentrasi nitrat dan fosfat terhadap kandungan klorofil di Teluk Awur, memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat (nitrat) dan sedang (fosfat). Sementara Konsentrasi nitrat dan fosfat terhadap kandungan klorofil di Pulau Panjang, memiliki tingkat hubungan yang kuat (nitrat) dan lemah (fosfat). Hal ini menunjukkan bahwa proses pembentukkan klorofil pada daun lamun T. hemprichii di kedua lokasi ditentukan oleh konsentrasi nitrat.                                                                                             The process of photosynthesis in seagrass requires two main ingredients in its main reaction named carbon dioxide (CO2) and water (H2O) with chlorophyll as catalyst and absorb light energy Nutrients are a limiting factor in the process of photosynthesis. The content of chlorophyll contained in seagrass can be influenced by several factors such as light intensity, temperature and  nutrients. The formation of seagrass chlorophyll can be influenced by nutrients such as nitrate and phosphate. This research was conducted to determine the correlation between nitrate and phosphate in sediments to the chlorophyll content of T. hemprichii. Nutrient and chlorophyll analysis was performed using spectrophotometric methods. Multiples linear regression and pearson correlation method used to describe a correlation of nitrates and phosphates on chlorophyll content of T. hemprichii in Teluk Awur and Panjang Island. The results of the study show that the chlorophyll content in Teluk Awur is relatively higher than Panjang Island. Based on the results of multiple regression, the nitrate has a positive direction and the phosphate has a negative direction at both locations on the chlorophyll content. Based on pearson correlation, the concentration of nitrate and phosphate on chlorophyll content in Teluk Awur, has a very strong correlation (nitrate) and moderate correlation (phosphate). Meanwhile, the concentration of nitrate and phosphate on the chlorophyll content in Panjang Island has a strong correlation (nitrate) and weak correlation (phosphate). This indicates that the process of chlorophyll formation in T. hemprichii seagrass at both locations was determined by the concentration of nitrate.
Kandungan Nutrisi Selama Pengolahan Haliotis asinina Linnaeus, 1758 (Gastropoda:Haliotidae) Maharani, Maharani; Patadjai, Andi Besse; Hasidu, La Ode Abdul Fajar; Riska, Riska; Muis, Muis; Anindita, Faradisa; Disnawati, Disnawati
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.32275

Abstract

Kerang Abalone termasuk dalam Famili Haliotidae juga dikenal dengan sebutan kerang mata tujuh, mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi selama pengolahan abalon (H.asinina) kering. Kerang Abalon yang digunakan yaitu abalon berukuran 7 cm yang diperoleh dari Pulau Saponda Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.  Rangkaian pengolahan abalon kering dimulai dari pembersihan abalon segar dengan memisahkan cangkang dari dagingnya, penggaraman selama  ±12 jam, pengukusan selama ± 30 menit hingga pengeringan oven selama  ±2-3 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  berat daging  abalon segar yang dapat dikonsumsi seberat 4.586,00 g atau sebesar 45,86% dan  yang tidak dapat dikonsumsi seberat 5414,12 g atau sekitar 54,14% berupa cangkang 7,88% dan organ visera 46,25%. Kandungan air yang terus mengalami penurunan mulai dari abalon segar, setelah penggaraman, setelah pengukusan hingga kering masing-masing 83,9%; 76,14%; 71,90% dan 28,47%, diikuti oleh kadar lemak masing-masing 7,86%; 2,87%; 2,12% dan 1,71%. Sementara, proporsi kandungan protein terus mengalami peningkatan masing-masing 11,22%; 16,90%; 20,65% dan 42,38%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kandungan nutrisi Abalon semakin meningkat setelah melalui proses pengolahan.   Abalone shells are included in Haliotidae family, also known as seven eye shells, have a fairly high nutritional content. This study aims to determine the nutritional content during the processing of dried abalone (H. asinina). The abalone shells used were abalone measuring 7 cm which was obtained from Saponda Island, Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. The series of dried abalone processing starts from cleaning fresh abalone by separating the shell from the meat, salting for ± 12 hours, steaming for ± 30 minutes to oven drying for ± 2-3 days. The results showed that the weight of fresh abalone meat that could be consumed was 4.586,00 g or 45.86% and the uneaten weight was 5414.12 g or about 54.14% in the form of shell 7.88% and visceral organs 46.25. %. The water content which continued to decrease starting from fresh abalone, after salting, after steaming to drying was 83.9% respectively; 76.14%; 71.90% and 28.47%, followed by fat content of 7.86%, respectively; 2.87%; 2.12% and 1.71%. Meanwhile, the proportion of protein content continued to increase by 11.22% respectively; 16.90%; 20.65% and 42.38%. Based on the results of the study, the nutritional content of abalone increased after going through the processing process. 
Asosiasi Gastropoda dengan Lamun di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara Aldi Rivaldy Maulana; Widianingsih Widianingsih; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.30801

Abstract

Gastropoda adalah salah satu biota yang dapat berasosiasi dengan lamun. Kondisi padang lamun pada kedua lokasi akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan kelimpahan biota yang berada di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan gastropoda serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan gastropoda. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Mei dan Agustus 2020 di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang, dan padat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun di Perairan Teluk Awur dan 5 jenis lamun di Perairan Pulau Panjang, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata dan Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. Kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Teluk Awur adalah 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², sedangkan kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Pulau Panjang adalah 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Berdasarkan hasil regeresi menunjukkan antara kelimpahan gastropoda dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan gastropoda. Seagrass beds are one of the marine ecosystems located in coastal areas and have an important role in the waters. Gastropods are one of the biota associated with seagrass beds. The conditions of the seagrass beds in both locations will affect the density and abundance of biota in the waters. This study aims to determine the different levels of seagrass density and abundance of gastropods and the relationship between different seagrass density levels and the abundance of gastropods. This research was carried out in May and August 2020 in the waters of Teluk Awur and Panjang Island, Jepara. The method used in this research is a descriptive case study based on 3 different densities, namely rare, medium, and dense. The research steps taken were sampling, identification, data analysis and data evaluation. The results showed that there were 4 types of seagrass in Teluk Awur  waters and 5 types of seagrass in Panjang Island waters, namely Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata and Cymodocea rotundata and Halophila ovalis. The abundance of gastropods in the rare, medium, and dense seagrass density in Awur 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², while the abundance of gastropods in the rare, medium and dense seagrass density in Panjang Island was 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Based on the regression results, there is a strong correlation between gastropod abundance and seagrass density, so that the higher the seagrass density will be followed by the higher gastropod abundance. 
Kerapatan dan Pola Sebaran Lamun Berdasarkan Aktivitas Masyarakat di Perairan Pengujan Kabupaten Bintan Sari, Rosa Moriska; Kurniawan, Dedy; Sabriyati, Deni
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31679

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan, pola sebaran dan indeks ekologi lamun berdasarkan aktivitas masyarakat di Perairan Desa Pengujan. Pengambilan sampel dan data ditentukan dengan metode Purposive Sampling sepanjang 100 meter dari pertama bertemunya lamun menggunakan transek kuadrat berukuran 50x50 cm. Pengambilan data dilakukan pada 3 stasiun yang terdapat aktivitas masyarakat yaitu aktivitas penangkapan siput gonggong pada stasiun I, aktivitas tambatan perahu pada stasiun II, dan tidak ada aktivitas pada stasiun III sebagai pembanding. Pada tiap stasiun terdiri dari 3 line transek dan tiap line transek terdiri dari 11 titik sampel di pesisir Desa Pengujan. Kerapatan lamun pada stasiun I dengan nilai 86,34 ind/m2 masuk dalam kategori agak rapat, pada stasiun II dengan nilai 57 ind/m2 terkategori jarang, dan stasiun III dengan nilai 172,67 ind/m2 dengan kategori rapat. Pola sebaran pada setiap stasiun terkategori mengelompok, aktivitas penangkapan siput gonggong 2,43 (mengelompok) aktivitas tambatan perahu 1,50 (mengelompok) dan tidak ada aktivitas 3,06 (mengelompok). Pada stasiun 1 nilai keanekaragaman sebesar 0,23, keseragaman 0,76, dominansi 0,66. Stasiun 2 nilai keanekaragaman sebesar 0,21, keseragaman sebesar 0,70, nilai dominansi sebesar 0,70. Pada stasiun 3 nilai keanekaragaman sebesar 0,30, nilai keseragaman sebesar 1,00, dan nilai dominansi sebesar 0,50. 

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue