cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Pengaruh Dosis Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus ilicifious) Pada Pakan terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Wahyu Puji Astiyani; Muhammad Akbarurrasyid; Ega Aditya Prama; Andri Iskandar; Galang Pandji Kurniawan
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32334

Abstract

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan konsumsi yang masih banyak di gemari oleh masyarakat. Produksi ikan nila saat ini terus dikembangkan guna untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya. Ikan nila mempunyai keunggulan antara lain pertumbuhan yang cepat, toleran terhadap lingkungan dan tahan terhadap penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun jeruju yang diberikan pada pakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan nila. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium basah Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran dengan 4 perlakuan 3 kali ulangan dan menggunakan 20 ekor ikan pada setiap ulangan perlakuan. Perlakuan A 50 ml ekstrak daun jeruju + 1kg pelet ikan, Perlakuan B 100 ml ekstrak daun jeruju + 1kg pelet ikan ,Perlakuan C 150 ml ekstrak daun jeruju  + 1kg pelet ikan dan (K) kontrol (tanpa pemberian ekstrak daun jeruju). Parameter yang diamati antara lain SGR (Spesific Growth Rate), pertumbuhan panjang mutlak, dan kelangsungan hidup (SR). Hasil penelitian menunjukan ekstrak daun jeruju memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan spesifik (SGR) ikan nila, pertumbuhan panjang mutlak dan SR ikan nila. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi terjadi pada perlakuan C yaitu dengan dosis pemberian ekstrak daun jeruju 150 ml pada pelet ikan sebesar 0,16%, diikuti dengan panjang mutlak sebesar 2,42 cm dan Survival Rate 75%. Tilapia (Oreochromis niloticus) is a edible fish that many people still favorite. Tilapia production is currently being developed to increase aquaculture production. Tilapia has advantages such as rapid growth, environmental tolerance and disease resistance. This study aims to determine the effect of jeruju leaf extract given to feed to increase the growth of tilapia. This study was conducted in the wet laboratory of Pangandaran Marine and Fisheries Polytechnic with 4 treatments and 3 replications and with 20 fish in each treatment replication. Treatment A 50 ml jeruju leaf extract +1 kg fish pellets, Treatment B 100 ml jeruju leaf extract +1 kg fish pellets, Treatment C 150 ml jeruju leaf extract +1 kg fish pellets and (K) control (without administering jeruju leaf extract). The parameters observed were SGR (specific growth rate), absolute height growth and survival (SR). The results showed that jeruju leaf extract had an effect on the specific growth (SGR) of tilapia, absolute height growth and SR of tilapia. The highest specific growth rate occurred with treatment C with a 150 ml dose of jeruju leaf extract on fish pellets of 0.16%, followed by an absolute length of 2.42 cm and an Survival Rate of 75%.
Strategi Pengembangan Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Kabupaten Sinjai Wibowo, Bambang Argo; Aiman, Andi Muhammad Aflah; Setyawan, Hendrik Anggi
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31570

Abstract

Kabupaten Sinjai memiliki potensi perikanan yang besar dilihat dari produksi perikanan tangkap yang tinggi pada tahun 2019 sebesar 370.545 ton. Tujuan penelitian ini adalah menentukan komoditas unggulan dan komoditas potensial serta menyusun strategi pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Sinjai. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Data primer didapatkan melalui wawancara untuk menentukan strategi pengembangan komoditas unggulan. Data sekunder produksi perikanan tangkap untuk menganalisis komoditas unggulan dan potensial. Analisis Location Quotient (LQ) , analisis Shift Share (SS) dan analisis Spesialisasi untuk menentukan komoditas unggulan dan potensial sedangkan analisis SWOT untuk menentukan strategi pengembangan. Hasil yang diperoleh dari analisis Location Quotient, analisis Shift Share dan analisis Spesialisasi komoditas unggulan perikanan tangkap Kabupaten Sinjai yakni Manyung (Arius thalassinus), Selar (Caranx melamphygus), Lemadang (Coryphaena hippurus), Cakalang (Katsuwonus pelamis) dan Tenggiri (Scomberomorus commersoni) sedangkan komoditas potensial yakni Japuh (Dussumieria acuta), Lemuru (Sardinella lemuru), Kapas-kapas (Lactarius lactarius), Tongkol (Euthynnus affinis), Cucut (Rhizoprionodon acutus), Lobster (Panulirus spp), Cumi-cumi (Doryteutis pealeii), Gurita (Octopus spp), Sotong (Sepia spp). Hasil strategi pengembangan analisis SWOT adalah Peningkatan fasilitas produksi perikanan tangkap di Kabupaten Sinjai, Penambahan jumlah pelabuhan perikanan serta peningkatan fasilitas Pokok PPI Lappa,  Pengembangan fasilitas PPI Lappa, Peningkatan jumlah Armada penangkapan >30 GT dan Pengadaan Pelatihan Kecakapan Nelayan.   Sinjai Regency has enormous fishery potential seen from the high Fish Catching production in 2019 with 370.545 tons. The purpose of this research is to determine the main and potential commodities and to strategize the development of Fish Catching in Sinjai Regency. The method used is descriptive with purposive sampling method. Primary data was obtained through interviews to determine the strategy for developing main commodities. Secondary data of Fish Catching production is to analyze main and potential commodities. Data analysis used is Location Quotient analysis (LQ), Shift Share analysis (SS) and Specialization analysis to determine main and potential commodities while SWOT analysis determines development strategies. The results obtained with the Location Quotient analysis, Shift Share analysis and specialization analysis of Developing Fish Catching Main Commodities in Sinjai Regency is Ariid Catfish (Arius thalassinus), Mackerel (Caranx melamphygus),  Dolphin Fish (Coryphaena hippurus), Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) dan Spanish Mackerel (Scomberomorus commersoni) while the potential commodities are Japuh (Dussumieria acuta), Sardine (Sardinella lemuru), Kapas-kapas (Lactarius lactarius), Mackerel Tuna (Euthynnus affinis), Cucut (Rhizoprionodon acutus), Lobster (Panulirus spp), Squid (Doryteutis pealeii), Octopus (Octopus spp), Cuttlefish (Sepia spp). The results of development strategy in SWOT analysis are increasing Fish Catching production facilities in Sinjai Regency, increasing the number of fishing ports and increasing PPI Lappa main facilities, developing PPI Lappa facilities, increasing the number of fishing fleets with size >30 GT and providing fisherman skills training.
Parameter Lingkungan, Kadar Air dan NaCl Bunga Garam (Fleur De Sel) Mu’min, Bisri Khairul; Kartika, Ary Giri Dwi; Efendy, Makhfud
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.32290

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu, parameter lingkungan terbentuknya bunga garam, kadar air, kadar NaCl serta ukuran luas rata-rata kristal bunga garam.Penelitian dilakukan di meja kristalisasi dengan sistem katup PT. Anta Tirta Karisma, Sumenep. Parameter lingkungan yang terdiri dari kelembapan, suhu udara, suhu air, laju penguapan, kecepatan angin dan intensitas cahaya diukur tiap 6 jam. Analisa kadar NaCl dan air menggunakan SNI 8207-2016. Bunga garam pertama kali terbentuk di meja kristalisasi pada saat malam hari sekitar pukul 19.00 WIB - 01.00 WIB dan mengendap sekitar pukul 07.00 WIB pada derajat konsentrasi air laut antara yaitu 25oBe - 26 oBe.Rata-rata nilai parameter lingkungan selama hari pengamatan dalam proses pembentukan bunga garam (fleur de sel) diantaranya adalah kecepatan angin 2,56-2,58 knots dengan arah angin 115,71o (timur menenggara), kelembaban udara 70,33%-70,43%, intensitas cahaya matahari 6,47-10,47 Kj/m2, suhu air 34,8-36,18 oC, suhu udara 30,63-31,40oC, laju penguapan 0,4-2,6 mm/hari, dengan lama penyinaran matahari 9,27 jam perhari tanpa terjadi hujan (curah hujan = 0). Kadar air dan NaCl bunga garam masing-masing adala 4.2%-6.01% kadar air dan 88.92%-90.47%.  The purpose of this study was to determine the time, environmental parameters for the formation of salt flowers, water content, NaCl content and the average size of salt flower crystals. The research was carried out at the crystallizer with a tunnel system owned by PT. Anta Tirta Karisma, Sumenep. environmental parameters consisting of humidity, air temperature, water temperature, evaporation rate, wind speed and light intensity were measured every 6 hours. Analysis of NaCl and moisture content using SNI 8207-2016. The salt flowers first forms on the crystallizer at night around 19.00 WIB - 01.00 WIB and settles at around 07.00 WIB at a seawater density between 25oBe - 26oBe. The average value of environmental parameters during the day of observation in the flower formation process salt (fleur de sel) including wind speed 2.56-2.58 knots with wind direction 115.71o (east-southeast), air humidity 70.33%-70.43%, sunlight intensity 6.47-10, 47 Kj/m2, water temperature 34.8-36.18 oC, air temperature 30.63-31.40oC, evaporation rate 0.4-2.6 mm/day, with 9.27 hours of sunshine per day without any rain (rainfall = 0). The water content and NaCl of flower salt were 4.2%-6.01% water content and 88.92%-90.47%, respectively.
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Walne Terhadap Laju Pertumbuhan dan Kandungan Klorofil-a Tetraselmis chuii Nevanda Kusuma Wardani; Endang Supriyantini; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31732

Abstract

Walne merupakan media sintetis yang sering digunakan sebagai media kultur mikroalgae.  Pupuk Walne sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrien bagi mikroalgae kultur jika dibandingkan denga pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan kandungan klorofil-a mikroalga Tetraselmis chuii pada kultur dengan perbedaan konsentrasi pupuk Walne. Materi yang digunakan adalah mikroalga Tetraselmis chuii dan pupuk Walne yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Metode penelitian ini adalah percobaan di laboratorium (experimental laboratory). Perlakuan yang diberikan adalah dengan pemberian konsentrasi pupuk Walne yang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga taraf perlakuan, yaitu 1 mL/L, 1,5 mL/L dan 2 mL/L. Puncak kepadatan sel dari konsentrasi 1 mL/L dan konsentrasi 1,5 mL/L terjadi pada hari ke-9, dengan jumlah sel 259,25×104 sel/mL dan 323,50×104 sel/mL, sedangkan konsentrasi 2 mL/L mengalami puncak kepadatan pada hari ke-12 dengan jumlah sel 194,58 × 104  sel/mL. Pemberian pupuk Walne 1,5 mL/L menghasilkan nilai tertinggi untuk laju pertumbuhan spesifik dan klorofil-a T. chuii. Nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi adalah 0,38 sel/mL/hari dengan kandungan klorofil-a T. chuii sebesar 2,392 mg/g biomassa basah. Hasil uji ANOVA dari data laju pertumbuhan spesifik dan kandungan klorofil-a menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan (p≥0,05). Konsentrasi yang bisa untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan kandungan klorofil-a adalah konsentrasi 1,5 mL/L.  Walne is a synthetic medium that is often used as a microalgae culture medium. Walne fertilizers already supply a complete nutritional needs for microalgae cultivation when compared to organic fertilizer. This study aims to determine the growth rate and content of chlorophyll-a microalgae Tetraselmis chuii in cultures with different concentrations of Walne fertilizer. The materials used were Tetraselmis chuii and Walne fertilizer obtained from Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. This research is using experimental laboratory method. The treatment given was to differentiate Walne fertilizer concentration. This study used a completely randomized design (RAL) three levels treatment, which is 1 mL/L, 1.5 mL/L and 2 mL/L. The peak of cell density from concentration 1 mL/L and concentration 1.5 mL/L occurred on day 9, with a cell number of 259.25×104 cells/mL and 323.50 × 104 cells/mL, while concentration 2 mL/L experienced a cell density peak on day 12 with a cell number of 194.58 × 104 cells/mL. The application of 1.5 mL/L Walne fertilizer resulted in the highest values for the specific growth rate and chlorophyll-a of T. chuii. The highest specific growth rate value is 0.38 cell/mL/day with the chlorophyll-a content of T. chuii is 2.392 mg / g of wet biomass. The ANOVA test results from the growth rate and chloropyll-a content showed that there were no significant differences (p≥0.05). The concentration that can increase the growth rate and chlorophyll-a content is a concentration of 1.5 mL/L.  
Morfometri Dan Hubungan Panjang Berat Kerang Hijau (Perna veridis) dari Perairan Tambak Lorok, Semarang Dan Morosari, Demak, Jawa Tengah Ubay, Jufri; Hartati, Retno; Redjeki, Sri
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31737

Abstract

Kerang Hijau (Perna viridis) adalah salah satu spesies dari kelas Bivalvia yang banyak ditemukan di perairan Tambak Lorok, Semarang dan di perairan Morosari, Demak, sehingga menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengukuran morfomeri kerang hijau, mengetahui pertumbuhan  dan indeks kondisi populasi kerang hijau (P. viridis) di kedua prairan tersebut. Sebanyak 50 individu kerang hijau diambil dari lokasi penelitian pada bulan Desember 2020, Januari 2021 dan Februari 2021. Hasil pengukuran morfometri menunjukkan bahwa selama penelitian, populasi kerang hijau di kedua lokasi terdiri dari satu kelompok ukuran, dengan puncak kelas ukuran yang bergeser ke kanan yang menunjukkan adanya pertumbuhan. Hubungan panjang  dan berat kerang hijau  menunjukkan kisaran nilai b 2,22-2,27 dan 1,0-2,5 berturut-turut di perairan Tambak Lorok dan Morosari dan pertumbuhannya bersifat alometri negatif, dengan nilai ƿ berkisar 0,76-0,88 (korelasi positif kuat) di perairan Tambak Lorok dan 0,33-0,80 (korelasi lemah sampai kuat) di perairan Morosari.  Nilai indeks kondisi kerang hijau di  Perairan Tambak Lorok dan Morosari sebesar 36,89-47,91 yang  menunjukkan kondisi yang sedang. Dari data morfometri nampak adanya rekruitmen dari proses reproduksi  dan mortalitas karena penangkapan pada populasi kerang hijau di kedua lokasi penelitian. Green mussel (Perna viridis) is one of the species from the class Bivalvia which is commonly found in the waters of Tambak Lorok, Semarang and Morosari, Demak, so that it becomes a source of income for the coastal communities in those area. The purpose of this study was to measure the morphometry of green mussels, to determine the growth and condition index of the population of green mussels (P. viridis) in the waters of Tambak Lorok, Semarang and Morosari, Demak. A total of 50 green mussels were taken from the study sites in December 2020, January 2021 and February 2021. The results of morphometric measurements showed that during the study, the green mussel population in both locations consisted of one size group, with the size class peaks shifting to the right indicating growth. The relationship between length and weight of green mussels showed a range of b values of 2.22-2.27 and 1.0-2.5 respectively in Tambak Lorok and Morosari waters and the growth was negative allometric, with correlation values ranging from 0,76-0.88 (strong positive correlation) in Tambak Lorok waters and 0.33-0.80 (weak to strong correlation) in Morosari waters. The condition index value of green mussels in Tambak Lorok and Morosari waters is 36.89-47.91 which indicates moderate conditions. From the morphometry data, it appears that there is a recruitment process and mortality due to capture in the green mussel population in both research locations. 
Struktur Populasi Ikan Baronang pada Ekosistem Lamun Di Pesisir Pulau Bintan Jemi Jemi; Ita Karlina; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.33029

Abstract

Salah satu ekosistem pesisir yang dapat ditemukan di pesisir Pulau Bintan yaitu  ekosistem lamun. Ikan baronang merupakan ikan ekonomis penting yang berasosiasi dengan padang lamun. Kondisi struktur ekosistem lamun yang berbeda di perairan pulau Bintan diduga dapat berpengaruh terhadap persebaran ikan baronang pada ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi tutupan lamun pada beberapa lokasi dan mendeskripsikan struktur populasi ikan baronang (Siganus sp) pada ekosistem lamun dengan tutupan berbeda di  perairan pulau Bintan. Metode sampling tutupan lamun menggunakan transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm dan sampling ikan baronang menggunakan jaring insang dasaran (bottom gill net). Diperoleh 8 jenis lamun yang tersebar di 4 stasiun penelitian. Tutupan lamun tertinggi terdapat di stasiun Pengudang dengan nilai 65,20% dengan kondisi kaya/padat.  Terdapat 5 jenis ikan baronang. Jenis ikan baronang yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Siganus canaliculatus. Tidak terjadi perbedaan yang signifikan untuk persebaran jenis ikan baronang pada lokasi penelitian  One of the ecosystems that can be found on the coast of Bintan Island is the seagrass ecosystem. SIganus sp are economical fish associated with seagrass beds. The structure of the seagrass ecosystem is thought to have an effect on the distribution of Siganus sp in the seagrass ecosystem. This study aims to describe the condition of seagrass cover at several locations in the waters of Bintan Island and to describe the population structure of Siganus sp in seagrass ecosystems with different cover in the waters of Bintan Island. The seagrass cover sampling method used a quadratic transect measuring 50 x 50 cm and the Siganus sp fish sampling used a bottom gill net. Obtained 8 types of seagrass spread over 4 research stations. The highest seagrass cover was found at Pengudang station with a value of 65.20% with rich/dense conditions. There are 5 types of baronang fish. The type of baronang fish that has the highest abundance is Siganus canaliculatus. There is no significant difference for the distribution of baronang fish species at the study site.
Struktur Komunitas Fitoplankton dan Parameter Kualitas Air Di Perairan Paciran, Lamongan Samudera, La Nina Gunaswara; Widianingsih, Widianingsih; Suryono, Suryono
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31663

Abstract

Fitoplankton dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan. Struktur komunitas fitoplankton peka terhadap perubahan lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan kondisi kualitas air di Perairan Paciran, Lamongan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif eksploratif yang di olah dengan Principle Component Analysis (PCA). Penentuan lokasi dilakukan dengan purposive sampling method yang terdiri dari 4 stasiun, yaitu area dermaga nelayan, ekosistem mangrove, TPI Weru dan marine shipbuilding. Komposisi jenis fitoplankton di Perairan Paciran, Lamongan ditemukan 24 genus fitoplankton dari 4 kelas yaitu Chlorophyceae, Cyanophyceae, Bacillariophyceae dan Cyanophyceae. Genus yang paling umum dijumpai adalah Skeletonema. Kelimpahan fitoplankton rata-rata berkisar 41,44 – 116,56 sel/L. Indeks keanekaragaman dan keseragaman termasuk kategori sedang berkisar 1,04 – 3,33 dan 0,33 – 1,05. Indeks dominasi termasuk kategori rendah berkisar 0,01 – 0,15. Hasil kelimpahan fitoplankton di Perairan Paciran, Lamongan berkorelasi positif dengan oksigen terlarut, fosfat, nitrat, salinitas, dan suhu. Sedangkan pH dan arus menunjukkan adanya korelasi negatif. Phytoplankton can be used as a bioindicator of water quality. The structure of the phytoplankton community is sensitive to changes in the aquatic environment. This study aims to determine the structure of the phytoplankton community and the condition of water quality in Paciran waters, Lamongan. The method used in this research is descriptive exploratory which is processed by Principle Component Analysis (PCA). Determination of the location is done by purposive sampling method which consists of 4 stations, namely the fishing pier area, mangrove ecosystem, TPI Weru and marine shipbuilding. The composition of phytoplankton species in Paciran waters, Lamongan found 24 phytoplankton genera from 4 classes, namely Chlorophyceae, Cyanophyceae, Bacillariophyceae and Cyanophyceae. The most common genus is Skeletonema. The abundance of phytoplankton on average ranged from 41.44 to 116.56 cells/L. The index of diversity and uniformity was included in the medium category ranging from 1.04 to 3.33 and 0.33 to 1.05. The dominance index is included in the low category ranging from 0.01 to 0.15. The results of the abundance of phytoplankton in Paciran Waters, Lamongan have a positive correlation with dissolved oxygen, phosphate, nitrate, salinity, and temperature. Meanwhile, pH and current show a negative correlation.
Keanekaragaman Jenis Lamun Di Perairan Gili Gede, Lombok Barat Rahman, Ibadur; Nurliah, Nurliah; Himawan, Mahardika Rizki; Jefri, Edwin; Damayanti, Ayu Adhita; Larasati, Chandrika Eka
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.32282

Abstract

Padang lamun merupakan salah satu ekosistem laut yang penting karena berfungsi sebagai habitat beragam jenis, sebagai pemerangkap substrat perairan, peredam gelombang, pendaur ulang zat hara, dan sebagai penyerap sejumlah besar karbon dari atmosfer (blue cabon). Dewasa ini kondisi kesehatan ekosistem lamun senantiasa mengalami penurunan/degradasi, padahal ekosistem lamun menopang sejumlah besar kelangsungan hidup makhluk hidup lainnya bahkan beberapa di antaranya berdampak langsung terhadap manusia. Maka dari itu, perlu dilakukan kajian mengenai kondisi padang lamun yang hasilnya dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan penataan kawasan perairan agar tetap berorientasi pada upaya pelestarian ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji stuktur komunitas lamun di perairan Gili Gede, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Pengamatan jenis dan persentase penutupan lamun menggunakan kuadran transek berukuran 50cm x 50cm. Pengukuran nilai parameter kualitas air dilakukan secara insitu di lapangan dan di Laboratorium Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Sekotong, Lombok Barat. Hasil penelitian menujukkan bahwa komunitas padang lamun di perairan Gili Gede tersusun atas 4 (empat) jenis, yaitu: Halophilla pinifolia, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemperichii dengan persentase penutupan berkisar antara 17-47%, dan rerata penutupan sebesar 35%. Jenis lamun Enhalus acoroides merupakan jenis yang memiliki kontribusi paling tinggi dalam komunitas padang lamun di perairan Gili Gede.  Seagrass is an important marine ecosystem because of its function as habitat for various species, as substrate trapper, wave reducer, nutrient recycler, and as an absorber of large amounts of carbon from the atmosphere (blue cabon). Today, the condition of seagrass ecosystems is constantly decreasing, even though seagrass ecosystems support a large number of other living things, some of which have a direct impact on humans. Therefore, it is necessary to conduct a study on seagrass community structure whose the results can be taken into consideration in making policies related to the arrangement of water areas so that it remain oriented towards ecosystem conservation efforts. This study aims to examine the structure of the seagrass community in Gili Gede, Sekotong District, West Lombok Regency. Observation of the type and percentage of seagrass cover using a 50cm x 50cm transect quadrant. The analysis of water quality parameter was carried out at the Laboratory of Marine Cultivation Fisheries Center (BPBL) Sekotong, West Lombok. The results showed that the seagrass communities in Gili Gede were composed of 4 (four) species, namely: Halophilla pinifolia, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, and Thalassia hemperichii with a cover percentage ranging from 17-47%, and an average cover of 35%. The seagrass species, Enhalus acoroides, is the species that has the highest contribution to the seagrass community in Gili Gede 
Laju Pertumbuhan Harian dan Nisbah Kelamin Lobster Pasir Panulirus homarus di Perairan Liwungan, Pandeglang, Banten Dyanita Havshyari Putri Andrykusuma; Sri Redjeki; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31248

Abstract

Lobster pasir (Panulirus homarus) merupakan salah satu spesies lobster yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam sumber daya perikanan kelautan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang-berat lobster pasir, dan nisbah kelamin P. homarus yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung. Penelitian dengan metoda studi korelasional ini dilakukan di Keramba Jaring Apung PT. Royal Samudera Nusantara, Perairan Liwungan, Pandeglang, Banten, dengan sampel lobster sebanyak 93 ekor. Hasil perhitungan Perhitungan hubungan panjang-berat lobster pasir jantan pada keramba 1 yaitu W = 0,0004L2,51 dengan nilai b = 2,51 (b<3), dan lobster betina yaitu W = 0,0034L2,08 dengan nilai b = 2,08 (b<3). Hubungan panjang-berat lobster pasir jantan pada keramba 2 yaitu W = 0,0041L2,04 dengan nilai b = 2,04 (b<3), dan lobster betina yaitu W = 0,0012L2,28 dengan nilai b = 2,28 (b<3). Sehingga hubungan panjang-berat pada lobster pasir jantan maupun betina pada keramba 1 dan keramba 2 termasuk dalam kategori pola pertumbuhan allometrik negatif, dimana pertumbuhan panjang lebih cepat daripada pertumbuhan berat. Nisbah kelamin lobster pasir (P. homarus) pada keramba 1 sebesar 1:2,31 dan pada keramba 2 sebesar 1:0,92.  Scalloped spiny lobster is a species of lobsters that has high economic value in Indonesia’s marine fishery resources. This research aimed to examined the morfometry and sex ratio of Scalloped Spiny Lobster (Panulirus homarus) cultivated in floating net cages. This study used morfometry analysis in PT. Royal Samudera Nusantara’s Cultivation Place, Liwungan, Pandeglang, Banten. Samples of lobster obtained 93 lobsters. Relationship of length-weight lobster for males in cage 1 was W = 0,0004L2,51 with b = 2,51 (b < 3) and for females was W = 0,0034L2,08 with b = 2,08 (b < 3), for males in cage 2 was W = 0,0041L2,04 with b = 2,04 (b < 3) and for females was W = 0,0012L2,28 with b = 2,28 (b < 3). The results of Scalloped Spiny Lobster morfometric for both males and females shows negative allometric, that carapace length growth faster than weight. Sex ratio Scalloped Spiny Lobster in cage 1 was 1:2,31 which shows that sex ratio is in unbalanced condition, and in cage 2 was 1:0,92 which shows that sex ratio is not significantly different and still in equal condition. Keywords: Scalloped Spiny Lobster; Morfometry; Sex Ratio.
Sitotoksisitas Ekstrak Etanol dan n-Heksana Daun Rhizopora Apiculata dengan Indikator Indeks Mitosis Allium Cepa Rahayuningsih, Sri Rejeki; Anindyta, Annisa; Mayanti, Tri
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31777

Abstract

Rhizophora apiculata merupakan salah satu mangrove yang biasa digunakan sebagai sumber obat tradisional oleh masyarakat pesisir pantai karena mengandung metabolit sekunder. Tumbuhan obat tradisional dapat memiliki efek genotoksik, mutagenik, dan sitotoksik. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi efek sitotoksik dengan Allium asay. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sitotoksitas ekstrak etanol dan n-heksana R. apiculata terhadap pembelahan sel dengan melihat indeks mitosis A. cepa. Pada penelitian ini digunakan metode eksperimental, perlakuan tunggal ekstrak etanol R. apiculata konsentrasi 125, 250, 500, dan 1.000 ppm, kontrol negatif akuades penambahan CMC, serta kontrol positif etilmetanasulfat (EMS). Penelitian dengan protokol yang sama dilakukan untuk ekstrak n-heksana R. apiculata. Penurunan nilai indeks mitosis digunakan untuk acuan sitotoksisitas. Data hasil pengamatan menunjukkan nilai indeks mitosis perlakuan ekstrak etanol dan n-heksana mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Perlakuan ekstrak etanol dan n-heksana konsentrasi 500 ppm dan 1000 ppm bersifat letal terhadap sel akar A. cepa. Rhizophora apiculata is mangrove that was used for traditional medicine due to their secondary metabolite. Traditional medicine plants have genotoxic, mutagenic, and cytotoxic effects. Therefore, evaluation cytotoxic effect with Allium assay is necessary. The aim in this study to know ethanol and n-hexane leaf extract of R. apiculata effects to A. cepa cell divisions. This study use experimental method, single factor treatment ethanol extract of R. apiculata with consentration 125, 250, 500, and 1000 ppm, aquades with CMC as negative control, and ethylmetanasulphat (EMS) as positive control. Reasearch with same protocol is done for n- hexane extrct of R. apiculata. Cytotoxicity is seen based on decresed of mitotic index. Based on observation, ethanol and n-hexane extract mitotic index was showing decrese value in line with increasing extract concentration. Ethanol dan n-hexane extract of  R. apiculata concentration 500 ppm and 1000 ppm are lethal to cells. 

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue