cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Potensi Risiko Kesehatan Manusia Akibat Konsumsi Perna viridis yang Mengandung Kadmium Farhan Ghifari; Adi Santoso; Jusup Suprijanto
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32338

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu Kawasan yang padat penduduk dan terdapat banyak aktivitas seperti industri, Pelabuhan dan menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah hasil kegiatan industri, Pelabuhan dan rumah tangga diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat kadmium (Cd) di perairan dan mempengaruhi biota laut seperti kerang hijau ( Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) serta mengetahui potensi risiko Kesehatan yang timbul   apabila   mengkonsumsi kerang hijau (Perna viridis) tersebut. Penelitian ini   dilaksanakan pada   bulan Desember 2020, Januari 2021, dan Maret 2021 dengan metode deskriptif. Analisis kandungan logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam berat pada air berkisar <0,001-0,696 mg/L, sedimen <0,001-1,931 mg/kg, dan jaringan lunak kerang hijau (Perna viridis) 0,070-1,693 mg/kg. Berdasarkan perhitungan Estimasi Asupan Harian (EDI) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,000026-0,000626 mg/kg/hari dan pada perempuan dewasa berkisar 0,000035-0,000835 mg/kg/hari. Sedangkan nilai tingkat risiko (THQ) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,026-0,626. Dan untuk perempuan berkisar 0,035-0,835. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di perairan Tambaklorok Semarang di air, sedimen dan jaringan lunak kerang hijau sudah terindikasi tercemar logam berat Cd. Kewaspadaan mengkonsumsi kerang hijau perlu dilakukan meskipun dari aspek kesehatan berdasarkan perhitungan EDI dan THQ masih aman dan belum menunjukkan tingkat bahanya. Tambak Lorok Semarang is one of the densely populated areas. There are many activities such as industry, ports, and becoming a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. The waste resulted is suspected of causing heavy metal cadmium (Cd) pollution in the waters and affecting marine biota such as green mussels (Perna viridis). This study aimed to determine the content of Cd in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) and to determine the potential health risks that arise when consuming the mussels. The field study occurred in December 2020, January 2021, and March 2021 with a descriptive method. Analysis of the Cd content was conducted at the Environmental Engineering Laboratory Diponegoro University by the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results of the heavy metal content in water, sediment, and mussels' soft tissue respectively ranged from <0.001-0.696 mg/L, <0.001-1.931 mg/kg, and 0.070-1.693 mg/kg. The Estimated Daily Intake (EDI) for adult males' values ranged from 0.000026-0.000626 mg/kg/day, and for adult females from 0.000035-0.000835 mg/kg/day. While the value of the risk level (THQ) for adult males showed a value ranging from 0.026-0.626. And for females, it ranged from 0.035 to 0.835. It showed that Cd contaminated the water, the sediment, and soft tissue of green mussels in Tambaklorok Waters. Even though a health aspect is still safe and has not shown the danger, people have to be precaution in consuming the mussels.
Komunitas Fitoplankton Dan Kualitas Air Budidaya Udang Vannamei di Marine Science Techno Park Jepara Krisiyanto, Krisiyanto; Sunaryo, Sunaryo; Redjeki, Sri
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31664

Abstract

Bahan organik dari sisa pakan udang yang terakumulasi di perairan dapat memicu terjadinya senyawa Ammonia yang dapat menyebabkan racun sehingga mengakibatkan penurunan kualitas air budidaya. Keberadaan komunitas fitoplankton yang bersinergi dengan bakteri, mempunyai peranan penting dalam mengurai bahan organik. Fitoplankton mampu membuat ikatan-ikatan organik kompleks dari bahan anorganik yang sederhana. Selanjutnya bakteri mempunyai peran dalam mengurai bahan organik melalui proses aerobik. Penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton di tambak udang Vannamei MSTP UNDIP Jepara pada masa pemeliharaan 30 hari. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan analisis data menggunakan indeks ekologi, meliputi: analisis kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi dan indeks saprobik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan jenis fitoplankton yang diperoleh, yaitu: kelas Bacillariophyceae dengan persentase 43%, kelas Cyanophyceae 28% dan kelas Dinophyceae 29%. Keanekaragaman fitoplankton yang diperoleh termasuk dalam ketegori rendah, di mana nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh <2,30. Indeks keseragaman fitoplankton yang diperoleh berada pada kondisi rendah dan indeks dominansi fitoplankton di perairan tersebut dalam kategori tidak ada yang dominan. Indeks saprobik menunjukkan bahwa kriteria perairan tersebut tergolong dalam pencemaran ringan-sedang dengan fase β/α-Mesosaprobik dan oligosaprobik. Organic matter from the rest of the shrimp feed that accumulates in the waters can trigger the occurrence of Ammonia compounds which can cause toxins that can lead to a decrease in the quality of aquaculture water. The existence of a phytoplankton community that synergizes with bacteria has an important role in breaking down organic matter. Phytoplankton are able to make complex organic bonds from simple inorganic materials. Furthermore, bacteria have a role in breaking down organic matter through an aerobic process. This study was to determine the structure of the phytoplankton community in the Vannamei shrimp pond MSTP UNDIP Jepara during the 30-day maintenance period. This study uses a case study method with data analysis using an ecological index, including: abundance analysis, diversity index, uniformity index, dominance index and saprobic index. The results showed that the abundance of phytoplankton species obtained were: class Bacillariophyceae with a percentage of 43%, class Cyanophyceae 28% and class Dinophyceae 29%. The phytoplankton diversity obtained is included in the low category, where the diversity index value obtained is < 2.30. The phytoplankton uniformity index obtained was in a low condition and the phytoplankton dominance index in the waters was in the none dominant category. The saprobic index indicates that the waters are classified as light-moderate pollution with pencemaran/α-Mesosaprobic and oligosaprobic phases.
Potensi Bakteri Endofit Lamun Enhalus sp. dengan Aktivitas Antimikrofouling dari Perairan Lampung Susanti, Oktora; Yusuf, Maulid Wahid; Elisdiana, Yeni
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.32286

Abstract

Enhalus sp. adalah salah satu jenis lamun dan merupakan tanaman yang sangat penting bagi organisme dan mikroorganisme laut diperairan, salah satunya adalah bakteri karena lamun menyediakan tempat hidup serta penyedia nutrisi pada bakteri. Beberapa hasil penelitian, menyatakan bahwa ekstrak lamun memiliki aktivitas terhadap bakteri yang membentuk biofilm. Terjadinya proses Biofouling diawali dengan terbentuknya film oleh bakteri yang menempel pada permukaan benda yang terendam di dalam laut yang disebut sebagai biofilm. Salah satu cara meminimalisasi biofouling pada umumnya dengan menggunakan bahan beracun yang tidak ramah lingkungan, sehingga perlu dilakukan pencarian alternatif baru untuk menghambat bakteri biofilm. Upaya untuk mengatasi permasalahan dengan menggunakan isolat bakteri endofit lamun merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri endofit lamun Enhalus sp. yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri biofouling. Pada penelitian ini, sampel didapatkan dari pantai Ketapang Pesawaran dan pantai Biha, Pesisir Barat Lampung yang diambil dari bagian akar, batang dan daun lamun. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu pengambilan sampel, isolasi dan purifikasi bakteri endofit lamun dengan metode gores diatas agar, pembentukan bakteri biofilm sebagai bakteri uji pada uji antagonisme, isolasi bakteri biofilm, dan uji antagonis bakteri. Hasil dari isolasi dan purifikasi didapatkan 53 isolat bakteri endofit lamun Enhalus sp. yang akan diuji pada 25 isolat bakteri biofilm. Uji antagonis bakteri endofit lamun dengan kode LEDB2.4 dapat menghambat 4 jenis bakteri biofilm. Besar zona hambat terbesar yaitu terhadap bakteri biofilm dengan kode 3.1 sebesar 18,73 mm. Seagrass Enhalus sp. is a plant that very important for marine organisms and microorganisms in waters, one of which is bacteria because seagrass provides a place to live and nutrients for bacteria. Some research results state that seagrass extracts have activity against bacteria that form biofilms. The occurrence of the biofouling process begins with the formation of a film by bacteria attached to the surface of objects submerged in the sea which is called a biofilm. One way to minimize biofouling in general is to use toxic materials that are not environmentally friendly, so it is necessary to search for new alternatives to inhibit biofilm bacteria. Efforts to overcome the problem by using endophytic bacteria isolates from seagrass are an environmentally friendly alternative. This study aims to obtain the endophytic bacteria of seagrass Enhalus sp. which can inhibit the growth of biofouling bacteria. In this study, samples were obtained from Ketapang beach Pesawaran and Biha beach, West Coastal of Lampung that’s taken from the roots, stems and leaves of seagrass. The stages of the research carried out were sampling, isolation and purification of endophytic bacteria from seagrass, formation of biofilm bacteria as test bacteria in the antagonism test, and isolation of bacterial biofilm, and bacterial antagonist test. The results of isolation and purification obtained 53 isolates of seagrass endophytic bacteria which will be tested on 25 isolates of biofilm bacteria. Antagonistic test of seagrass endophytic bacteria with code LEDB2.4 can inhibit 4 types of biofilm bacteria. The largest inhibition zone was against biofilm bacteria with code 3.1 of 18.73 mm. 
Biodiversitas dan Tingkah Laku Kemunculan Cetacea di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur Raudina, Anggit Sapta; Redjeki, Sri; Taufiq-Spj, Nur
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.30433

Abstract

Perairan Indonesia memiliki lebih dari sepertiga jenis paus dan lumba-lumba dunia, termasuk juga beberapa jenis yang dikategorikan langka dan terancam punah. Beberapa jenis Cetacea yang menggunakan jalur migrasi melalui perairan Indonesia bagian Timur, antara lain Samudera Hindia dan Pasifik melalui perairan Kepulauan Komodo, Solor-Lembata (NTT), Laut Banda (Maluku), Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Sorong-Fakfak (Papua). Hal ini menunjukkan bahwa Laut Sawu merupakan area pengasuhan dan mencari makan paus. Laut Sawu menjadi tempat potensial karena dijadikan jalur migrasi berbagai spesies Cetacea secara rutin. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisa keanekaragaman dan tingkah laku Cetacea yang bermigrasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2018 di perairan sekitar Teluk Kupang dan Sulamu dengan menggunakan metode pengamatan single platform yang telah dimodifikasi. Data diolah melalui aplikasi ArcGIS 10.4 dan Microsoft Office Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kemunculan Cetacea berbeda-beda tiap spesiesnya dengan total 114 kali kemunculan. Aktivitas yang dilakukan Cetacea saat kemunculan sangat beragam, namun yang paling banyak yaitu aerials dan bowriding dari jenis lumba-lumba, kemudian logging dan spyhopping dari jenis paus. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa, lumba-lumba mempunyai kebiasaan untuk cenderung bermigrasi dalam satu kelompok besar. Sehingga kemunculan lumba-lumba sangat mendominasi di perairan Laut Sawu dibanding kemunculan paus yang cenderung soliter maupun dalam kelompok lebih kecil. More than one third of the world's whales and dolphins are found in Indonesian waters, including several that are categorized as rare and endangered species. Several types of cetaceans - migrate use eastern part of Indonesian waters as a migration route, i.e. between the Indian and Pacific Oceans through the waters of the Komodo Islands, Solor-Lembata (NTT), Banda Sea (Maluku), Southeast Sulawesi, North Sulawesi and Sorong-Fakfak (Papua). This indicated that the Savu Sea is a region for whales feeding ground and for their breeding.Apart from being a potential place for the Savu Sea to be used as a regular migration route for various cetacean species, it also has very promising tourism potential. Other than that, Migratory cetacean species are also very diverse, so this research was aims to analyze the diversity and behavior of cetaceans that migrate every year. This research was done in November 2018 around the Bay of Kupang and Sulamu, and a modified single platform observation method was used. The data were processed through the ArcGIS 10.4 and Microsoft Office Excel. The result shows that the occurrence number of cetaceans was in different species with a total of 114 appearances. The activities carried out by cetaceans at the time of emergence were varied, but the most common were aerials and bow-riding by dolphins, then logging and spyhopping by whales. Dolphins themselves are animals that tend to group in one large group so that their appearance is very dominant compared to whales which tend to be solitary and aggregated in small groups.
Perbedaan Lama Fotoperiode Terhadap Total Lipid Kultur Mikroalga Chlorella vulgaris Hendrik Surya Bahar; Ali Djunaedi; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32211

Abstract

Chlorella vulgaris merupakan salah satu mikroalga yang mengandung lipid, oleh karena itu mikroalga C. vulgaris dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan fungsional dalam meningkatkan kesehatan. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan salah satunya adalah cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fotoperiode terbaik guna meningkatkan pertumbuhan dan kandungan total lipid pada C. vulgaris. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratoris. Mikroalga C. vulgaris dikultivasi dengan 4 perlakuan siklus fotoperiode (terang:gelap) yang berbeda yaitu A (4 : 20), B (8 : 16), C (12 : 12) dan D ( 24 : 0). Penelitian ini menggunakan pupuk walne. Suhu air pada penelitian ini berkisar antara 18-21°C. Salinitas berkisar antara 29-32 ppt, kisaran pH pada penelitian ini antara 7,3-8,0. Pertumbuhan C. vulgaris diamati selama 9 hari kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi dikeringkan dan dilakukan uji kadar air. Total lipid ditentukan secara gravimetrik. Biomassa disoxhletasi menggunakan n-heksan. Fraksi lipid dan n-heksan dipisahkan dengan distilator, berat ekstraknya terhitung sebagai kandungan total lipid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fotoperiode berpengaruh secara nyata (p<0,05) terhadap kepadatan sel mikroalga dan  kandungan total lipidnya C. vulgaris. Perlakuan D memiliki hasil kepadatan tertinggi sebesar 1.131x104 sel/mL. Perlakuan C memiliki hasil kandungan total lipid tertinggi dengan total 17%. Perlakuan A memperoleh hasil terendah dengan kepadatan sebesar 638x104 (sel/mL)  dan kandungan total lipid 8,7%.Chlorella vulgaris is one of the microalgae containing lipids, therefore the microalgae C. vulgaris can be used as a source of functional food to improve health. Microalgae growth is influenced by various environmental factors, one of which is light. This study aims to determine the best photoperiod to increase growth and total lipid content of C. vulgaris. The method used is a laboratory experiment. Microalgae C. vulgaris was cultivated with 4 different photoperiod (light:dark) cycle treatments, namely A (4 : 20), B (8 : 16), C (12 : 12) and D (24 : 0). This research uses walne fertilizer. During the study, water quality measurements were carried out. The water temperature in this study ranged from 18-21°C. Salinity ranged from 29-32 ppt, the pH range in this study was between 7.3-8.0. The growth of C. vulgaris was observed for 9 days and then harvested for biomass calculation. The wet biomass from the cultivation was dried and the moisture content was tested. Total lipid was determined gravimetrically. Biomass was disoxhletated using n-hexane. The lipid fraction and n-hexane were separated by distillation, the weight of the extract was calculated as the total lipid content. The results showed that the photoperiod treatment had a significant (p<0.05) effect on the cell density of C. vulgaris microalgae and also significantly (p<0.05) on the total lipid content. Treatment D had the highest density of 1,131 x 104 cells/mL. Treatment C had the highest total lipid content with a total of 17%. Treatment A obtained the lowest yield with a density of 638 x 104 (cells/mL) and a total lipid content of 8.7%.
Manfaat Astaxanthin pada Pakan terhadap Warna Ikan Badut Amphiprion percula, Lacepède, 1802 (Actinopterygii: Pomacentridae) Apriliani, Seka Indah; Djunaedi, Ali; Suryono, Chrisna Adhi
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31987

Abstract

Ikan Badut Amphiprion percula merupakan ikan hias laut yang mulai dibudidayakan oleh pemerintah pada tahun 2009 yang memiliki keunggulan pada corak warna yang unik dan kelangsungan hidup yang tinggi. Warna tubuh ikan A. percula dapat pudar disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: umur, gen, penyakit, dan pencahayaan. Salah satu cara meningkatkan warna Ikan A. percula adalah dengan pemberian tepung Astaxanthin yang diperoleh secara komersial, dengan komposisi astaxanthin dari limbah kepala udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan warna dan pertumbuhan Ikan A. percula setelah pemberian tepung astaxanthin, serta mengetahui konsentrasi pemberian tepung Astaxanthin pada warna tubuh Ikan A. percula. Metode penelitian dilakukan dengan pemeliharaan Ikan A. percula selama 28 hari yang terdiri dari perlakuan 0% (kontrol), 1% (Astaxanthin 0,5g/50g), 3% (Astaxanthin 1,5g/50g) dan 5% (Astaxanthin 2,5g/50g), kemudian dilakukan pengamatan menggunakan TCF (Toca Color Finder). Parameter yang diamati antara lain meliputi perubahan warna, pertambahan panjang dan berat, dan kualitas perairan. Hasil yang diperoleh pada perubahan warna Ikan A. percula setelah pemberian tepung Astaxanthin didapatkan kontrol (13,99), 1% (15,63), 3% (16,45), 5% (17,23). Pemberian tepung astaxanthin pada Ikan A. percula tidak mempengaruhi pertambahan panjang dan berat Ikan A. percula. Hasil pemberian tepung Astaxanthin pada Ikan A. percula yang menghasilkan warna sebanyak 17,23 terdapat pada perlakuan 5% (Astaxanthin 2,5g/50g). konsentrasi ini menghasilkan warna tertinggi pada Ikan A. percula.The orange clownfish Amphiprion percula is a marine ornamental fish that was started to be cultivated by the government in 2009 which has advantages in unique color patterns and high survival. The body color of the A. percula can fade due to several factors, including age, genes, disease, and lighting. One way to increase the color of A. percula is to provide commercially obtained Astaxanthin flour, with astaxanthin composition from shrimp head waste. The purpose of this study was to determine the color change and growth of A. percula after administration of astaxanthin flour, as well as to determine the concentration of Astaxanthin flour administration on the body color of A. percula. The research method was carried out by rearing A. percula for 28 days consisting of 0% (control), 1% (Astaxanthin 0.5g/50g), 3% (Astaxanthin 1.5g/50g), and 5% (Astaxanthin 2.5g/50g), then observed using TCF (Toca Color Finder). Parameters observed included changes in color, increase in length and weight, and water quality. The results obtained on the color change of A. percula after administration of Astaxanthin flour were obtained: control (13.99), 1% (15.63), 3% (16.45), 5% (17.23). Giving astaxanthin flour to A. percula did not affect the increase in length and weight of Clownfish (Amphiprion percula). The results of giving Astaxanthin flour to Blackfinned clownfish A. percula which produced 17.23 colors were found in 5% treatment (Astaxanthin 2.5g/50g). This concentration produces the highest color in A. percula.
Tingkah Laku dan Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus, Smith 1828) di Pantai Bentar Probolinggo Puspa Kapinangasih; Diah Permata Wijayanti; Agus Sabdono
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31727

Abstract

Hiu Paus diketahui muncul di Pantai Bentar dari bulan Desember hingga Maret. Kemunculan Hiu Paus  diduga berhubungn dengan aktivitas makan. Fenomena ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar Pantai Bentar untuk menarik kedatangan wisatawan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi Hiu Paus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi kemunculan Hiu Paus di Pantai Bentar serta perubahan tingkah laku Hiu Paus saat kegiatan wisata berlangsung. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2021 menggunakan metode observasi langsung dengan melakukan pengamatan di lokasi yang diduga menjadi tempat kemunculan Hiu Paus. Data tambahan diperoleh dari hasil wawancara dengan pengelola dan pemandu wisata. Lokasi kemunculan dicatat menggunakan GPS. Total lokasi kemunculan yang ditemukan berjumlah 9 lokasi yang tersebar di Perairan Gending, yaitu di bagian barat dan timur Pantai Bentar. Kemunculan terbanyak berada di timur Pantai Bentar. Hal ini karena wilayah tersebut dekat dengan bagan dan menjadi wilayah pelayaran nelayan Ikan Teri yang merupakan makanan Hiu Paus. Hiu Paus yang ditemukan berjumlah 9 ekor. Tingkah laku Hiu Paus yang ditemukan ketika aktivitas wisata berlangsung, yaitu perubahan secara perlahan seperti menyelam dan mendekat secara perlahan, perubahan mendadak seperti menjauh secara mendadak, perubahan secara tajam seperti menjauh secara tajam dan tidak merespon. Faktor yang mempengaruhi perubahan tingkah laku diduga karena adanya aktivitas yang dilakukan oleh manusia seperti berenang, mengejar Hiu Paus, melihat dari kapal, pelayaran kapal dan pemberian pakan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam pengelolaan wisata Hiu Paus Pantai Bentar. Whale sharks are known to appear at Bentar Beach from December to March. The appearance of whale sharks is thought to be related to feeding activities. This phenomenon is used by the community around Bentar Beach to attract tourist arrivals. This condition has the potential to have a negative impact on the whale sharks. This study aims to determine the location of the appearance of whale sharks on Bentar Beach and changes in whale shark behavior during tourism activities. The study was conducted in March 2021 using the direct observation method by making observations at the location suspected to be the place where the Whale Shark appeared. Additional data obtained from interviews with managers and tour guides. The location of occurrence is recorded using GPS. The total location of the emergence found was 9 locations scattered in Gending Waters, namely in the west and east of Bentar Beach. Most occurrences are in the east of Bentar Beach. This is because the area is close to Bagan and is a shipping area for Anchovy fishermen which are the food for whale sharks. There were 9 whale sharks observed. Whale Shark behavior found during tourist activities, namely slow changes such as diving and approaching slowly, sudden changes such as moving away suddenly, sharp changes such as moving away sharply and not responding. Factors that influence behavior change are thought to be due to activities carried out by humans such as swimming, chasing whale sharks, watching from ships, ship sailing and feeding. The results of this study are expected to provide input in the management of Whale Shark tourism in Bentar Beach.
Perbandingan Tutupan Antar Lamun, Makroalga dan Epifit Di Perairan Paciran Lamongan Rachmawan, Ega Widyatama; Suryono, Chrisna Adhi; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31986

Abstract

Ekosistem padang lamun merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi perairan wilayah pesisir. Lamun, makroalga dan epifit merupakan biota laut yang hidupnya saling berdampingan. Epifit merupakan organisme yang hanya menempel pada permukaan tumbuhan seperti pada bagian daun dan rhizome lamun. Makroalga pada umumnya hidup pada kawasan intertidal yang memiliki variasi faktor lingkungan yang cukup tinggi. Keberadaan makroalga seringkali menjadi kompetitor bagi lamun yang hidup di ekosistem yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tutupan lamun, makroalga dan epifit di Perairan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan di 3 Stasiun yaitu pelabuhan, pemukiman warga dan TPI. Pendataan dilakukan dengan menggunakan metode line transek. Hasil penelitian didapatkan 2 jenis lamun yaitu Enhalus acorodes dan Thalassia hempricii. Prosentase tutupan lamun pada ketiga Stasiun berkisar 16,7% - 34,3%. Hasil rata-rata tutupan makroalga yang terdapat pada ketiga Stasiun yaitu hanya 7%. Rata-rata tutupan epifit yang terdapat pada ketiga Stasiun yaitu sebesar 16%. Kondisi perairan di Paciran masih tergolong baik karena sesuai dengan baku mutu yang ada. The seagrass ecosystem is a complex ecosystem and has very important functions and benefits for coastal waters. Seagrass, macroalgae and epiphytes are marine biota that live side by side. Epiphytes are organisms that only attach to plant surfaces such as leaves and seagrass rhizomes. Macroalgae generally live in intertidal areas that have a fairly high variation of environmental factors. The presence of macroalgae is often a competitor for seagrasses that live in the same ecosystem. This study aims to determine the comparison of seagrass cover, macroalgae and epiphytes in Paciran waters, Lamongan, East Java. Data collection was carried out at 3 stations, namely ports, residential areas and TPI. Data collection was carried out using the line transect method. The results obtained 2 types of seagrass, namely Enhalus acorodes and Thalassia hempricii. The percentage of seagrass cover at the three stations ranged from 16.7% - 34.3%. The average yield of macroalgae cover at the three stations was only 7%. The average epiphytic cover found at the three stations is 16%. The condition of the waters in Paciran is still relatively good because it is in accordance with the existing quality standards.
Potensi Bakteri Simbion Endofit Mangrove Avicennia marina sebagai Antifouling Nor Sa’adah; Alifia Rizky Novitasari
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.33194

Abstract

Biofouling is micro-organism and makrofouling attached to the submerged substrate. Prevention of biofouling organism called antifouling.Tributyltin organotin was using to mixture antifouling paint. Antifouling paints containing toxic and environmentally unfriendly. Symbiotic bacteria have secondary metabolites, there are tanin, steroid, and triterpenoid. This research aimed to obtain antifouling bacteria through isolation process of bacteria obtained from the roots of mangrove Avicennia marina, and analyze the bacterial symbiont inhibitory zone of mangrove Avicennia marina as antifouling. The method was beginning with the isolation of bacteria roots of mangrove Avicennia marina, identification of symbiotic bacteria, and the antifouling activity test. Results obtained from the isolation of bacteria, there are 21 symbiotic endophytic on a sample of the inner root, and 15 epiphytic bacteria on a sample of the outer root. Endophytic bacteria inhibition zone test potential as antifouling from mangrove Avicennia marina that was from the root part that inhibitory zone size strong category for> 10 mm. Biofouling merupakan organisme mikro dan makrofouling yang menempel pada substrat terendam. Pencegahan terhadap organisme biofouling disebut antifouling. Antifouling menggunakan campuran cat Tributyltin organotin. Cat antifouling mengandung bahan beracun dan tidak ramah lingkungan. Bakteri simbion memiliki kandungan metabolit sekunder, seperti tanin, steroid dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri antifouling melalui proses isolasi bakteri yang diperoleh dari akar mangrove Avicennia marina dan menganalisis zona hambat bakteri simbion mangrove Avicennia marina sebagai antifouling. Metode yang digunakan diawali dengan isolasi bakteri akar mangrove Avicennia marina, identifikasi bakteri, dan uji aktivitas antifouling. Hasil yang diperoleh dari isolasi bakteri, yaitu 21 bakteri simbion endofit dan sampel akar bagian luar diperoleh 15 bakteri epifit. Uji zona hambat bakteri endofit yang berpotensi sebagai antifouling dari tumbuhan mangrove Avicennia marina yaitu memiliki ukuran zona hambat kategori kuat karena >10 mm.
Struktur Komunitas Juvenil Ikan Di Perairan Betahwalang, Demak Jawa Tengah Sucipto, Elfanando Rizky Juliantara; Taufiq-Spj, Nur; Trianto, Agus
Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i4.31012

Abstract

Siklus hidup ikan terdapat 3 tahapan hidup yaitu larva, juvenil, dan ikan dewasa. Ekosistem mangrove sangat berperan dalam kehidupan larva ikan yaitu sebagai habitat alami, sebagai tempat mencari makan, tempat asuhan dan berkembang biak larva ikan. Distribusi juvenil ikan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, pasang surut, dan perbedaan musim. Pasang surut juga membantu juvenil ikan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sumber makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, kelimpahan dan indeks ekologi juvenil ikan pada musim hujan dan musim kemarau pada saat pasang dan surut di perairan Desa Betahwalang Demak. Pengambilan sampel pada musim kemarau pada bulan Maret 2019 dan pada musim hujan pada bulan Juli 2019 menggunakan metode random sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 stasiun dengan setiap stasiun dilakukan dua kali pengambilan sampel mengikuti jadual (pasang dan surut), sampel diambil dengan menggunakan larva net yang ditarik menggunakan sopek. Kelimpahan juvenil ikan tertinggi ditemukan pada stasiun 3 musim hujan saat pasang yaitu Famili Gobiidae dengan 3 individu/1000 m2 dan kelimpahan paling sedikit pada stasiun 1 musim kemarau saat surut yaitu Famili Ambassidae dengan 0,3 individu/1000 m2. Tingkat keanekaragaman (H’) juvenil ikan pada musim hujan dan kemarau saat pasang dan surut termasuk kategori rendah hingga sedang, indeks keseragaman (E) termasuk dalam kategori rendah hingga sedang, dan indeks dominansi (C) termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Hasil dalam penelitian menunjukkan bahwa perairan Desa Betahwalang dalam kondisi yang rawan akan kerusakan hal ini terjadi dikarenakan indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E) dan indeks dominansi (C) termasuk dalam kategori rendah hingga sedang. Fish has 3 life stages namely larvae, juvenile, and adult fish. Mangrove Ecosystem is very important to the life of fish larvae, mangrove ecosystem acts as a natural habitat, place to find food, fish nursery and place to reproduce. The juvenile distribution highly influenced by enviromentarl factors such as temperature, pH, salinity, tides, and seasonal differences. Tides also help juvenile fish to move from place to place in search of food sources. The purpose of this study was to study the types, abundance, and ecological index of fish juvenile in dry and wet season (High and low tide) on Betahwalang waters. The study was conducted in dry season on March 2019 and rain season on July 2019 using a random sampling method consisting of four sampling stations where each station consists of two repitition (high and low tide). The highest abundance found at stasion 3 in high tide rain season are Gobiidae family with 3 individual/1000 m2 and the lowest abundance found at stasion 1 in low tide dry season are Ambassidae family with 0,3 individual/1000 m2. The level of variation (H') of fish juvenile in the low to medium category, the uniformity index (E) is included in the low to medium category, and the domiance index (C) is also in the low to medium category (stasion 2 in the low category). The result of the study show that the waters in Betahwalang Village, Demak is still in stable condition.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue