cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Logam Berat pada Beberapa Jenis Ikan di Sekitar Perairan Tanjung Api-Api Sumatera Selatan Wike Ayu Eka Putri; Fitri Agustriani; Fauziyah Fauziyah; Anna Ida Sunaryo Purwiyanto; Novi Angraini; Dika Ardila
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33398

Abstract

Perairan Tanjung Api-Api merupakan kawasan yang banyak digunakan dalam aktivitas perikanan di wilayah Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selan itu Perairan Tanjung Api-Api juga dimanfaatkan sebagai areal pemukiman, transportasi dan direncanakan sebagai area pelabuhan kedepannya. Kondisi ini tentu dapat berpotensi meningkatkan masukan bahan pencemar seperti logam berat ke perairan tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan konsentrasi logam Pb dan Cu serta menganalisis kelayakan pangan pada daging ikan yang tertangkap di perairan Tanjung Api-Api Sumatera Selatan. Terdapat 3 jenis ikan yang dominan tertangkap yaitu ikan senangin (Eleutheronema tetradactylum), puput (Ilisha elongata) dan bawal putih (Pampus argenteus). Ketiga ikan tersebut diambil bagian dagingnya dan dianalisis kandungan logam berat Pb dan Cu mengacu pada SNI 2354.5 : 2011. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb pada ketiga jenis ikan berkisar antara 0,89-5,89 mg/kg (rata-rata 2,28-3,28 mg/kg) dan konsentrasi Cu berkisar antara 0,06 – 1,28 mg/kg (rata-rata 0,20 – 0,78 mg/kg). Berdasarkan baku mutu BPOM, SNI 7387:2009 dan FAO (1983) akumulasi Pb telah melebihi batas yang diperkenankan. Sedangkan akumulasi Cu berdasarkan baku mutu P FAO (1983) dan Soegianto (2008) masih dibawah batas yang diperkenankan.  Tanjung Api-Api waters is an area that widely used as a fishery activity in the Banyuasin Regency, South Sumatera. Tanjung Api-Api waters are also used as residential area, transportation and as a port area. This condition can increase the input of pollutants such as heavy metals. The purpose of this study was to determine the Pb and Cu metal concentrations in fish from Tanjung Api-Api waters, South Sumatera. There are 3 types of fish that are predominantly caught, Eleutheronema tetradactylum, Ilisha elongata and Pampus argenteus. The three fish were taken part of the meat and analyzed the content of heavy metals Pb and Cu referring to SNI 2354.5: 2011. This reseach show that Pb concentrations in all types fish ranged from 0.89 to 5.89 mg/kg (average 2.28-3.28 mg/kg) and Cu concentrations ranged from 0.06 - 1.28 mg/kg (average 0.20 - 0.78 mg/kg). Based on National Food and Drug Agency, SNI 7387: 2009 and FAO (1983) the accumulation of Pb were exceeded specified quality standards. Whereas Cu accumulation based on FAO (1983) and Soegianto (2008) are still below the allowed limits.
Biomorfometrik Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Senggarang Firmansyah Maulana Mughni; Susiana Susiana; Wahyu Muzammil
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33085

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas penting perikanan Indonesia. Perairan Senggarang Kota Tanjungpinang yang merupakan wilayah salah satu habitat rajungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lebar karapas dan bobot, faktor kondisi, dan mengetahui morfometrik rajungan di perairan Senggarang. Penelitian ini menggunakan metode survey menggunakan teknik purposive sampling yaitu berdasarkan daerah tangkapan nelayan rajungan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rajungan jantan dan betina sebanyak 79 dan 56 ekor, sehingga diperoleh nisbah kelamin adalah 1,41:1. Hubungan lebar karapas dan bobot rajungan jantan diperoleh nilai b sebesar 3,3485 termasuk allometrik positif, sedangkan betina diperoleh nilai b sebesar 2,7142 termasuk allometrik negatif yang menunjukkan bahwa rajungan jantan lebih besar dibandingkan betina. Faktor kondisi rajungan jantan dan betina di perairan Senggarang memiliki badan yang kurang pipih atau montok. Status pertumbuhan morfometrik rajungan jantan dan betina bersifat allometrik positif sebanyak 14 karakter. Allometrik positif merupakan status hubungan yang menunjukkan bahwa pertambahan karakter lebih lambat dibandingkan pertambahan karakter morfometrik pembandingnya. Allometrik negatif sebanyak 10 karakter dan isometrik 1 karakter. Status hubungan karakter jantan memiliki hubungan sangat rendah (A4, A5, C3), sedang (B2, C2, C4, D3, D5), kuat (A2, A3, A6, B3, B4, C1, C5, C6, C7, C8, D1, D2, D4, D6, D7), sangat kuat (A1, B1). Karakter betina memiliki hubungan sangat rendah (D5), rendah (A5, B3, C2, D3), sedang (A4, A6, B4, C3, C6, C7, D1, D6, D7), kuat (C1, C4, C5, C8, D2, D4), sangat kuat (A1, A2, A3, B1, B2).   Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is one of the important fisheries commodities in Indonesia. Senggarang waters, Tanjungpinang City, which is one of the crab habitats. The objectives of this research were to determine the relationship between carapace width-weight, condition factor, and morphometrices of the blue swimming crab (BSC) in Senggarang waters. The method uses an observational survey method using a purposive sampling technique that is based on the catch area of BSC. The results showed that there were 79 male and 56 female BSC, so the sex ratio was 1,41:1. The relationship between carapace width-weight of the male BSC obtained b value of 3,3485 (positive allometric), while the female obtained b value of 2,7142 (negative allometric) which indicates that the male BSC is larger than the female. The condition factor of male and female BSC in Senggarang waters has a body that is less flat or plump. The morphometric growth status of male and female BSC is positive allometric 14 characters, negative allometric is 10 characters, and isometric 1 character. The relationship status of male characters has a very low relationship (A4, A5, C3), moderate (B2, C2, C4, D3, D5), strong (A2, A3, A6, B3, B4, C1, C5, C6, C7, C8, D1, D2, D4, D6, D7), very strong (A1, B1). Female characters have a very low (D5), low (A5, B3, C2, D3), moderate (A4, A6, B4, C3, C6, C7, D1, D6, D7), strong (C1, C4, C5, C8, D2, D4), very strong (A1, A2, A3, B1, B2).
Analisis Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen, dan Lamun Enhalus acoroides di Perairan Pantai Sanur Kota Denpasar Sasi Vita Aphrodita; Adi Santoso; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.31978

Abstract

Salah satu permasalahan lingkungan di laut adalah kandungan logam berat dalam perairan pesisir yang berasal dari kegiatan industri, maupun alam. Logam berat juga dapat membentuk senyawa toksik. Lamun merupakan tumbuhan laut yang dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran logam berat di wilayah pesisir dengan kapasitas kemampuan bioakumulasinya logam logam berat Pb pada lamun. Hal ini karena lamun berinteraksi secara langsung dengan badan air dan substrat melalui daun dan akarnya untuk menyerap ion – ion logam berat. Enhalus acoroides merupakan salah satu lamun yang paling banyak ditemukan di kawasan perairan Pantai Sanur, Bali. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara serta kawasan lokasi pariwisata yang banyak terdapat bangunan perhotelan dan fasilitas pariwisata. Selain itu, wilayah ini dijadikan sebagai dermaga untuk kapal – kapal nelayan dan fast boat yang diduga menjadi sumber masukan logam berat Timbal (Pb) di perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat (Pb) pada air, sedimen, serta lamun Enhalus acoroides bagian akar, rhizome, dan daun. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dimana dilakukan dengan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling yang dilakukan pada bulan Desember 2020 di Pantai Sanur. Selanjutnya analisis kandungan logam berat menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry). Berdasarkan hasil penelitain menunjukkan bahwa kandungan logam berat pada air sebesar 0,0035 – 2,62 mg/l, pada sedimen sebesar 3,23 – 5,67 mg/l, pada akar sebesar 1,12 – 1,98 mg/l, pada rhizoma sebesar 0,16 – 3,04 mg/l, dan pada daun lamun sebesar 0,49 – 3,48 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan logam berat Pb di perairan Pantai Sanur, pada air dan lamun sudah melebihi nilai baku mutu PP Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021, sedangkan kandungan logam berat Pb pada sedimen masih di bawah baku mutu SEPA (Swedish Environmental Protection Agency) Tahun 2000. One of the environmental problems in the sea is the content of heavy metals in coastal waters originating from industrial activities and nature. Heavy metals can also form toxic compounds. Seagrass can be used as an indicator of metal accumulation capacity because it interacts directly with water bodies and substrates through their leaves and roots to absorb heavy metal ions. Enhalus acoroides is one of the most common seagrasses found in the waters of Sanur Beach, Bali. This tourism area visited both domestic and foreign tourists have hotel buildings and tourism facilities at the location. In addition, there is a dock for fishing boats and fast boats suspected to be a source of heavy metal Lead (Pb). The research aims to determine the Pb heavy metal content in water, sediment, and the seagrass' roots, stems, and leaves. The method used in this research is a descriptive method by taking a sample with a purposive sampling method in December 2020 on Sanur Beach, then analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Based on research results showed that the content of heavy metals in water was 0,0035 – 2,62 mg/l, in sediment was 3,23 – 5,67 mg/l, in root was 1,12 – 1,98 mg/l, in stem was 0,16 – 3,04 mg/l, and in leaves was 0,49 – 3,48 mg/l. The conclusion was Pb content both in the waters and seagrass at Sanur Beach has exceeded the quality standard of Republic of Indonesia Government Regulation Number 22 of 2021, while the content in the sediment is still below the 2000 SEPA (Swedish Environmental Protection Agency) quality standard.
Akumulasi logam Pb pada Air, Sedimen, dan Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok serta Analisis Batas Aman Konsumsi untuk Manusia Rizky Budhi Kusuma; Endang Supriyantini; Munasik Munasik
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.31781

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu wilayah di Semarang yang dikelilingi oleh berbagai industri. Tambak Lorok juga menjadi kawasan pemukiman nelayan serta menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah buangan industri dan rumah tangga di sekitar Tambak Lorok diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat timbal (Pb) di perairan yang tentunya dapat mempengaruhi organisme laut seperti kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Pb pada air, sedimen dan kerang hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok, Semarang serta mengetahui hubungannya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2021 dengan metode penelitian eksploratif kuantitatif. Analisis kandungan logam berat timbal (Pb) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb Nilai determinasi (R2) kandungan logam berat timbal (Pb) dalam sedimen di Perairan Tambak Lorok yaitu R2 = 0,40 dan pada air yaitu R2 = 0,07. Hasil analisis korelasi menunjukkan tingkat keeratan hubungan yang kuat yaitu dengan nilai r = 0,63, sedangkan pada air terhadap kerang hijau (P. viridis) menunujukkan tingkat keeratan hubungan yang lemah dengan nilai r = 0,26.    Tambak Lorok is one of the areas in Semarang which is surrounded by various industries. Tambak Lorok is also a residential area for fishermen and a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. Industrial and household effluents around Tambak Lorok are suspected of causing heavy metal lead (Pb) pollution in the waters which of course can affect marine organisms such as green mussels (Perna viridis). This study aims to analyze the heavy metal content of Pb in water, sediment and green mussels (Perna viridis) in Tambak Lorok Waters, Semarang and to determine the relationship. This research was conducted in January – March 2021 with explorative quantitative research methods. Analysis of the heavy metal content of lead (Pb) in water, sediment and green mussels was carried out at the Environmental Engineering Laboratory of Diponegoro University using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results showed that the heavy metal content of Pb The determination value (R2) of the heavy metal content of lead (Pb) in the sediment in Tambak Lorok waters was R2 = 0.40 and in the water was R2 = 0.07. The results of the correlation analysis showed a strong level of a close relationship with a value of r = 0.63, while in water to green mussels (P. viridis) it showed a weak level of a close relationship with a value of r = 0.26.
Penggunaan Citra Satelit Sentinel-2A untuk Mengevaluasi Perubahan Garis Pantai Semarang Jawa Tengah Rafif Rizki Zaidan; Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33395

Abstract

Kota Semarang merupakan kota pesisir yang rentan akan pengaruh dari alam dengan kondisi fisik yang berpasir dan berlumpur, topografi yang landai dan adanya banyak kegiatan manusia. Hal tersebut membuat Kota Semarang mengalami perubahan garis pantai yang dinamis dari tahun ke tahun, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian secara kontinu untuk memantau perubahan garis pantai yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi di Kota Semarang menggunakan citra satelit Sentinel-2A. Metode dalam penelitian ini adalah dengan mengaplikasikan penginderaan jauh yang dilanjutkan dengan perhitungan statistik Digital Shoreline Analysis System (DSAS) pada aplikasi penginderaan jauh dan pengolahan data sekunder angin, gelombang dan arus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2016-2021, garis pantai Kota Semarang mengalami perubahan berupa abrasi seluas 186.34 ha dan akresi sebesar 43.62 ha, dimana abrasi mendominasi perubahan dengan persentase 81%, sementara akresi yang terjadi hanya 19%. Rata-rata jarak dan laju perubahan yang terjadi masing-masing sebesar -32.78 meter dan -6.47 meter/tahun yang menunjukkan perubahan garis pantai berupa abrasi. Secara keseluruhan, pada periode 2016 hingga 2021 Kota Semarang cenderung mengalami pengurangan daratan atau abrasi. The city of Semarang is a coastal city that is vulnerable to the influence of nature with physical conditions of sandy and muddy beach, low topography and the presence of many human activities. This made the city of Semarang experience dynamic coastline changes from year to year, therefore it is necessary to conduct continuous research to monitor changes in coastline that occur. The purpose of this study was to determine changes in the coastline that occurred in the city of Semarang using Sentinel-2A satellite imagery. The method in this study is applying satellite imagery from remote sensing technology followed by statistical calculations using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) on remote sensing application and the processing of wind, wave and current as secondary data. The results showed that in the 2016-2021 period, the coastline of Semarang City experienced changes in the form of 186.34 ha of abrasion and 43.62 ha of accretion, where abrasion dominated the change with a percentage of 81%, with accretion of only 19%. The average distance and rate of change that occur are -32.78 meters and -6.47 meters/year, respectively, indicating changes in the coastline in the form of abrasion. Overall, in the period 2016 to 2021, Semarang City tends to experience land reduction or abrasion.
Sebaran Spasial Mangrove di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Bayu Aji Pratama; Ibnu Pratikto; Adi Santoso; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33765

Abstract

Mangrove adalah vegetasi yang dijumpai di kawasan pesisir, khususnya di wilayah tropis dan mampu bertahan hidup di bawah lingkungan dengan salinitas yang lebar. Ekosistem mangrove sangat produktif dan memainkan peran penting secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Masalah yang dihadapi mengenai konversi lahan serta dampak alam terhadap mangrove dapat dirasakan oleh ekosistem mangrove di wilayah pantai utara Jawa, tidak terkecuali di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran vegetasi mangrove, mengetahui luas vegetasi mangrove, dan mengetahui klasifikasi tutupan vegetasi mangrove di Desa Pantai Bahagia dengan menggunakan data citra Sentinel-2A melalui studi pengindraan jauh dan validasi di lapangan. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan pendekatan pengindraan jauh untuk mengetahui sebaran mangrove menggunakan band composite serta analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Validasi dari analisis spasial dilakukan dengan hemispherical photography dan diuji akurasinya. Hasil dari penelitian ini adalah Mangrove di Desa Pantai Bahagia tersebar di dekat wilayah konservasi hutan lindung, di dekat sepanjang aliran sungai, di dekat wilayah pertambakan, area pantai, dan di dekat wilayah pemukiman. Luas sebaran mangrove di Desa Pantai Bahagia yakni sebesar 464,418 ha.  Klasifikasi kerapatan tutupan kanopi mangrove di Desa Pantai Bahagia yakni kerapatan padat dengan luas sebesar 451,91 ha (97%), 5,96 ha (1%) dari total luasan mangrove memiliki kondisi kerapatan kanopi mangrove sedang, dan 6,55 ha (2%) memiliki kondisi kerapatan kanopi jarang. Mangroves are a type of vegetation that grows along the coast, particularly in tropical areas, and can withstand a broad salinity range. The ecosystems of mangroves are very productive and perform an essential ecological, economic, and social role. Mangrove habitats on the northern coast of Java, including Pantai Bahagia Village, Muara Gembong District, Bekasi Regency, are dealing with the effects of land conversion and natural impacts on mangroves. The purpose of this research was to use Sentinel-2A image data to determine the distribution of mangrove vegetation, the extent of mangrove vegetation, and the classification of mangrove vegetation cover in Pantai Bahagia Village through remote sensing studies and field validation. The distribution of mangroves was determined using composite bands and analysis of the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) in this descriptive exploratory study. Hemispherical photography was used to verify the spatial analysis results and the accuracy was measured. Mangroves in Pantai Bahagia Village are distributed around protected forest conservation areas, rivers, fish ponds, coastlines, and residential areas. Pantai Bahagia Village has a mangrove distribution area of 464.418 ha. Pantai Bahagia Village's mangrove canopy cover density is classified as dense with 451.91 ha (97%) of the total mangrove area, 5.96 ha (1%) of the total mangrove area with a medium density of mangrove canopy, and sparse with 6.55 ha (2%) of the total mangrove area.
Hubungan Persentase Tutupan Karang Hidup dan Kelimpahan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Pulau Koon, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku Rizky Erdana; Ibnu Pratikto; Chrisna Adhi Suryono; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32164

Abstract

Kawasan konservasi perairan merupakan daerah perlindungan bagi ekosistem terumbu agar sumberdaya yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ekosistem terumbu karang dihuni karang, ikan karang, dan komponen lainnya untuk membentuk ekosistem yang seimbang. Penelitian mengenai persentase tutupan karang dan kelimpahan ikan karang penting untuk dilakukan sebagai upaya untuk pelestarian ekosistem terumbu karang kedepannya agar wilayah KKP Pulau Koon dan Sekitarnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antar persentase tutupan karang hidup dan kelimpahan ikan karang di wilayah kawasan konservasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini pada pengamatan tutupan karang menggunakan PIT (Point Intercept Transect) yaitu pengamatan tutupan pada setiap 0,5 m dengan panjang transek 50 m dan 3 kali pengulangan dan mengikuti Protokol RHM (Reef Health Monitoring). Untuk pengamatan ikan karang dengan menggunakan metode belt transect dengan sensus visual, pendataan ikan kecil dari 10-35 dan untuk ikan besar >35 dengan panjang transect 50 m dengan pengulangan sebanyak 5 kali (Gabby et al., 2013). Hasi menunjukkan bahwa kategori kesehatan karang paling tinggi terdapat pada zona inti sebesar 66,89% dan yang terendah zona perikanan berkelanjutan sebesar 48,5%. Kelimpahan ikan tertinggi terdapat pada zona pariwisata sebesar 2491 ind/250 m2 dan yang terkecil pada zona perikanan berkelanjutan sebesar 1317 ind/250 m2. Kelompok famili ikan yang mendominasi yaitu Caesionidae dan Pomacentridae. Hasil uji korelasi pearson digunakan untuk melihat hubungan pengaruh tutupan karang hidup dengan kelimpahan ikan karang menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar 0,001 yang berarti bahwa hubungannya sangat lemah.Marine conservation areas are protected areas for reef ecosystems so that the resources in them can be used sustainably. Coral reef ecosystems, reef fish, and other components to form a balanced ecosystem. Research on the percentage of coral cover and abundance of reef fish is important to do as an effort to preserve coral reef ecosystems in the future so that the Koon Island MPA and surrounding areas can be used sustainably. The purpose of this study was to determine the relationship between the percentage of live coral cover and the abundance of reef fish in the conservation area. The method used in this study was to observe coral cover using PIT (Point Intercept Transect), namely observation of cover every 0,5 m with a transect length of 50 m and 3 repetitions and following RHM (Reef Health Monitoring) Protocol. For reef fish observation using the belt transect method with underwater visual census (UVC), collecting data for small fish from 10-35 and for large fish >35 with a transect length of 50 m with 5 repetitions. The result showed that the highest coral health was in the core zone of 66,89% which was good category and the lowest was in the sustainable fisheries zone of 48,5% which was medium category. The highest abundance of reef fish was found in the tourism zone 2491 ind/250 m2 and the smallest was found in the sustainable fisheries of 1317 ind/250 m2. The dominant fish family groups in all zone were Caesionidae and Pomacentridae. The results of the Pearson correlation test were used to see the relationship between the effect of live coral cover and abundance of reef fish, showing a correlation value (r) of 0.001 which means that the relationship is very weak.  
Potensi Fitoremediasi Mangrove Rhizophora mucronata Terhadap Logam Berat Tembaga di Kawasan Mangrove Park, Pekalongan Refinda Juliant Mentari; Nirwani Soenardjo; Bambang Yulianto
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33246

Abstract

Pekalongan merupakan kota dengan kegiatan industri tekstil yang cukup besar, terutama industri batik. Banyaknya kegiatan industri menghasilkan limbah yang cukup besar sehingga dapat mencemari lingkungan, salah satunya adalah cemran logam berat. Tembaga (Cu) adalah logam berat yang umumnya digunakan sebagai pewarna mordant dalam pewarnaan tekstil. Fitoremediasi merupakan penggunaan tumbuhan untuk proses dekontaminasi polutan atau masalah pencemaran lingkungan. Mangrove Rhizophora sp. sering diteliti sebagai tumbuhan yang dapat mengakumulasi logam berat, sehingga dapat digunakan sebagai fitoremediator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi Rhizophora mucronata sebagai fotoremediator logam berat Cu. Analisis kandungan logam berat dari sampel air, sedimen, daun, akar, dan serasah mangrove dilakukan dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectophotometry). Hasil penelitian menunjukkan adanya kandungan Cu dalam sampel air, sedimen, daun, akar dan serasah mangrove. Berdasarkan perhitungan Faktor Biokonsentrasi dan Fator Translokasi, mangrove R. mucronata merupakan tubuhan excluder yang mempunyai mekanisme rhizofiltrasi.   Pekalongan has quite large industrial activities, for example is the textile industry. Industrial activities produce large amounts of waste that can pollute the environment, for example heavy metals.  Copper (Cu) is commonly used as dye mordant in textile dyeing. Phytoremediation is the use of plants for the process of decontamination of pollutants. Mangrove Rhizophora sp. is often studied as a plant that can accumulate heavy metals, so it can be used as a phytoremediator. This research was conducted to determine the potential of R. mucronata as a phytoremediation agent for heavy metals (Cu). Samples of water, sediment, leaves, roots, and mangrove litter were analyzed for heavy metals content using the AAS (Atomic Absorption Spectophotometry) method. The results showed that water, sediment, leaves, roots, and mangrove litter contained heavy metals Cu. Based on the calculation of bioconcentration factor and translocation factor, R. mucronata is an excluder plant that has rhizofiltration mechanism. 
Sebaran Ikan Sidat (Ikan Katadromus) di Perairan Sungai Lorok Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Muhammad Arif Romadhi; Agus Indarjo; Chrisna Adhi Suryono; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33797

Abstract

Ikan sidat Anguilla sp. merupakan kategori ikan yang bermigrasi secara katadromous, artinya ikan sidat mengawali hidup di laut yang bermigrasi ke perairan tawar untuk tumbuh menjadi sidat dewasa dan kembali ke laut untuk melakukan pemijahan (spawning migration). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi jenis dan ukuran panjang kelompok sebaran ikan Sidat di Perairan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Penentuan kelompok menggunakan metode morfometrik dan jenis sampel menggunakan A/D%. Hasil menunjukkan distribusi ikan sidat yang ditemukan di Muara Sungai Lorok terdapat dua spesies, yaitu Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata. Frekuensi ukuran panjang distribusi benih ikan sidat (glass eel) kisaran ukuran panjang total 4,8 cm hingga 7,56 cm dengan rata – rata 6,0 ± 0,9 hingga dan Sedangkan ukuran panjang distribusi sidat muda (yellow eel) kisaran ukuran panjang 37,98 cm hingga 48,0 cm dengan rata – rata 43,2 ± 3,1. Analisis uji beda mendapatkan nilai signifikansi (p= 0,00 < 0,01) maka adanya perbedaan ukuran panjang antara stasiun di aliran SungaI Lorok. Freswater eels Anguilla sp. is a category of fish that cathadromous migrate, that eel fish begin to live in the sea that migrates to fresh waters to grow into adult eels and returns to the sea to spawning migration. This study aims to classify the type and size of the length of the Eel fish distribution group in Ngadirojo Waters, Pacitan Regency. This study aims to classify the type and size of the length of the Eel fish distribution group in Ngadirojo Waters, Pacitan Regency. Group determination using morphometric methods and sample types using A/D%. The results showed that the distribution of eel fish found in the Lorok River was two species, namely Anguilla bicolor and Anguilla marmorata. The frequency of the length distribution of glass eel seeds (glass eel) ranges in total length from 4.8 cm to 7.56 cm with an average of 6.0 ± 0.9 to and. 37.98 cm to 48.0 cm with an average of 43.2 ± 3.1. The analysis of the difference test got a significance value of (p= 0,00 < 0,01), so there is a difference in length between stations in the Lorok River flow.
Kelimpahan Fitoplankton dan Kaitannya dengan Beberapa Parameter Lingkungan Perairan di Estuari Sei Carang Kota Tanjungpinang Nurhidayah Rahmah; Andi Zulfikar; Tri Apriadi
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32945

Abstract

Perairan Sei Carang merupakan estuari di Kota Tanjungpinang. Wilayah estuari adalah perairan yang subur karena kaya akan nutrien yang akan berdampak terhadap melimpahnya fitoplankton. Fitoplankton memegang peranan penting di perairan karena sebagai makanan bagi organisme lain. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keterkaitan antar parameter lingkungan perairan terhadap kelimpahan fitoplankton, mengetahui parameter lingkungan perairan yang memengaruhi kelimpahan fitoplankton, serta pengaruh jarak dari daratan yang memiliki ekosistem mangrove terhadap kelimpahan fitoplankton. Penelitian ini menggunakan metode survei dan analisis laboratorium. Parameter yang diukur adalah parameter fisika dan kimia. Pengambilan sampel air untuk analisis fitoplankton dengan metode random sampling sebanyak 30 titik saat surut dengan menggunakan metode statis secara horizontal. Pengambilan sampel air untuk analisis nutrien dikomposit menjadi 18 titik terdekat. Analisis untuk parameter perairan menggunakan korelasi dan regresi berganda, sedangkan analisis pengaruh jarak menggunakan ANOVA. Hasil keterkaitan antar parameter lingkungan perairan terhadap kelimpahan fitoplankton yaitu parameter suhu berkorelasi kuat, oksigen terlarut berkorelasi rendah, dan fosfat (PO4) berkorelasi kuat. Untuk parameter yang memengaruhi kelimpahan fitoplankton adalah parameter suhu dan fosfat (PO4) dengan nilai determinasi sebesar 65,1%. Sedangkan dekat atau jauh jarak dari daratan yang memiliki ekosistem mangrove ke titik sampling tidak memberikan pengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton di perairan Sei Carang Kota Tanjungpinang, karena perairan tersebut masih dalam satu area lokasi yang sama (homogen) sehingga tidak beda nyata pengaruh jarak dari daratan terhadap kelimpahan fitoplankton.     Sei Carang waters is a estuary in Tanjungpinang City. Estuary areas are high trofic level because they are high nutrient concentration that cause an abundance of phytoplankton. Phytoplankton plays an important role in the waters because it serves as food for other organisms. The objectives of this research were to determine the relationship between aquatic environmental parameters to the abundance of phytoplankton, parameters of the aquatic environment affect the abundance of phytoplankton, and the effect of distance from land that has mangrove ecosystems on the abudance of phytoplankton. The method used in this research was survey method and laboratory analysis. The parameters measured are physical and chemical. Water sampling for phytoplankton analysis taken by random method with 30 points at low tide using the static method horizontally. Then water samples for nutrient analysis in the composite were taken the nearest 18 points. Analysis for water parameters used correlation and multiple regression, while the analysis of the effect of distance used ANOVA. The results of the relationship between aquatic environmental parameters to the abundance of phytoplankton is temperature parameters are strongly, dissolved oxygen (DO) low correlated, and phosphate (PO4) is strongly correlated. For parameters that affects the abundance of phytoplankton, temperature and phosphate (PO4) parameters with a determination value of 65,1%. While near or far the distance from the mainland that has mangrove ecosystems to the sampling point does not effect the abudance of phytoplankton in the waters of Sei Carang Tanjungpinang City, because the waters are still in the same location area (homogeneous) so there is no significant difference in the effect of distance from the mainland on the abudance of phytoplankton.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue