cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Bambu (Solen sp.) Di Perairan Rembang Jawa Tengah Dan Gresik Jawa Timur Satrio Fahrul Ananda; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.29956

Abstract

Kerang merupakan organisme laut berjenis moluska yang terdiri dari jaringan lunak dan sepasang cangkang yang keras kerang bambu (Solen sp) jenis kerang konsumsi yang tumbuh dan berkembang biak di pesisir perairan yang berjenis substrat pasir hingga lumpur. Keberadaan kerang Bambu (solen sp) salah satu bioindikator pencemaran akibat logam berat di perairan keberadaan pencemaran lingkungan berakibat kegiatan manusia seperti industri, pertanian, akivitas nelayan, dan pariwisata yang diduga sumber logam berat timbal (Pb). Logam berat timbal memiliki sifat toxic. Tujuan dalam penelitian penelitian ini adalah mengetahui dan membandingkan kandungan logam berat timbal (Pb) pada air, sedimen dan jaringan lunak di perairan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Gresik. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method. Materi yang digunakan penelitian adalah sampel jaringan lunak kerang bambu (solen sp), sedimen, dan Air. Parameter penelitian yang digunakan adalah salinitas, DO, suhu, dan kadar keasaman (pH). Hasil penelitian ini ditemukan kadar logam berat timbal (Pb) di perairan Kabupaten Rembang pada air 0 - 0,176mg/l, sedimen 3.667 – 11.407 mg/kg, dan jaringan lunak 4.755 mg/l. Perairan Kabupaten Gresik didapatkan hasil jaringan lunak 2.034 mg/l, air 0 -  0.325 mg/l, dan sedimen 6.877 – 8.798 mg/kg. kemampuan organisme kerang bambu (solen sp) mengakumulasi logam berat Timbal (Pb) termasuk kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata – rata < 100.  Shellfish are mollusk-type marine organisms consisting of soft tissue and a pair of hard shells. Razor clams (Solen sp.) are types of consumption shells that grow and multiply on coastal waters that are of sand to mud substrate type. The existence of Razor clams (Solen sp.) is one of the bio-indicators of pollution due to heavy metals in the waters. The existence of environmental pollution results in human activities such as industry, agriculture, fishing activities, and tourism which are suspected sources of lea-heavy metals). Lead metal has toxic properties. The purpose of this research is to find out and compare the lead content of heavy metals timbale in water, sediment, and soft tissue in the waters of Rembang Regency and Gresik Regency. This research is descriptive in nature with sampling using a purposive sampling method. The material used in this research is a sample of soft tissue Razor clams (Solen sp.), sediments, and water. The research parameters used were salinity, DO, temperature, and acidity (pH). The results of this study found levels of heavy metal lead timbale in the waters of Rembang Regency in water 0 - 0.176mg / l, sediment 3.667 - 11407 mg /kg, and soft tissue 4.755 mg / l. The waters of Gresik Regency obtained 2,034 mg / l soft tissue results, 0 - 0,325 mg / l water, and 6,877 - 8,798 mg / kg sediments. Bamboo shellfish ability  to accumulate heavy metals from timbale is on low category with an average bio-concentration factor value <100.
Korelasi antara Ukuran Butir Sedimen Non Pasir dengan Kandungan Bahan Organik di Perairan Morodemak, Kabupaten Demak Millenia Dinda Alkautsar; Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35020

Abstract

Perairan Morodemak merupakan salah satu perairan yang memiliki berbagai macam aktivitas masyarakat dimulai dari aktivitas Pelabuhan dan TPI, jalur lintas perahu nelayan hingga pembuangan limbah domestik maupun industri. Adanya aktivitas tersebut dapat menyebabkan perubahan sebaran ukuran butir dan kandungan bahan organik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis dan klasifikasi sedimen serta jumlah kandungan bahan organik yang terdapat dalam sedimen non pasir di Perairan Morodemak, Demak. Pengambilan data pada penelitian ini yaitu pengambilan data berupa sampel sedimen dengan menggunakan sediment core. Dilanjutkan dengan analisa sampel sedimen dan analisa kandungan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Morodemak, Demak memiliki konsentrasi kandungan bahan organik sebesar 2,72-7,56% yang termasuk dalam kriteria sangat rendah-rendah. Hubungan persentase non pasir dengan bahan organik yang terdapat dalam partikel pasir memiliki korelasi positif (+) yang terbilang besar dengan nilai fraksi silt pada kedalaman 0 cm sebesar 79,0% dan kedalaman 30 cm sebesar 66,6%, dimana semakin besar persentase sedimen non pasir (silt dan clay) maka garis linear yang terbentuk semakin naik, bahan organik yang terkandung di dalam partikel sedimen semakin tinggi.Morodemak coastal waters is one of the waters that has various kinds of community activities starting from port and fish market activities, fishing boat track to the disposal of domestic and industrial waste. The existence of these activities can cause changes in the distribution of grain size and organic matter content. This study aims to determine the type and classification of sediments and the amount of organic matter contained in non-sand sediments in Morodemak waters, Demak. Data collection in this study is data collection in the form of sediment samples using a sediment core. Followed by an analysis of sediment samples and analysis of organic matter content. The results showed that in Morodemak waters, Demak has a concentration of organic matter content of 2.72-7.56% which is included in the very low-low criteria. The relationship between the percentage of non-sand and organic matter contained in sand particles has a fairly large positive correlation (+) with a relatively large correlation with the value of the silt fraction at a depth of 0 cm of 79.0% and a depth of 30 cm by 66.6%, where the greater the percentage of non-sand sediment (silt and clay) the linear line formed increases, the organic matter contained in the sediment particles is higher. 
Bulu Babi Pada Ekosistem Karang dan Lamun di Perairan Taman Nasional Karimunjawa The Michael Febrian Wijaya; Chrisna Adhi Suryono; Ervia Yudiati
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.34055

Abstract

Bulu babi merupakan salah satu biota Echinodermata yang ditemukan di perairan Taman Nasional Karimunjawa. Bulu babi pada umumnya menghuni ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun serta menyukai substrat yang agak keras terutama substrat di padang lamun yang merupakan campuran dari pasir dan pecahan karang. Karakteristik yang berbeda pada kedua ekosistem akan mempengaruhi populasi pada ekosistem tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bulu babi di ekosistem karang dan padang lamun di Pantai Legon Bajak dan Pulau Menjangan Kecil, Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam pengambilan data penutupan karang adalah transek kuadrat dengan skala sepanjang 50 meter dan jarak antar transek yaitu 10 meter. Pengambilan data penutupan dan kerapatan lamun menggunakan transek kuadrat dengan ukuran 50 x 50cm. Kelimpahan bulu babi pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun menggunakan Benthos Belt Transect (BBT). Hasil penelitian penutupan terumbu karang dan lamun di Pantai Legon Bajak dikategorikan rusak dengan persentase rata – rata 24,78% dan 20,1%. Sedangkan penutupan terumbu karang dan lamun di Pulau Menjangan Kecil dikategorikan sedang dengan nilai persentase rata – rata 49.16% dan 34.7%. Hubungan korelasi antara penutupan karang dengan kelimpahan bulu babi termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai koefisien r sebesar 0,814, sedangkan nilai hubungan korelasi antara penutupan lamun dengan kelimpahan bulu babi termasuk dalam kategori sedang dengan nilai koefisien r sebesar 0,585. Sea urchins are one of the Echinoderms found in the Karimunjawa National Park waters. Sea urchins mostly inhabit coral reef ecosystems and seagrass beds ecosystems and like a rather hard substrate, especially the substrate in seagrass beds which is a mixture of sand and coral rubble. The different characteristics in the two ecosystems will affect the population in that ecosystem. The purpose of this research was to determine differences in the abundance of sea urchins in coral and seagrass ecosystems at Legon Bajak Beach and Menjangan Kecil Island, Karimunjawa National Park. The sampling method used in the coral cover data is quadrat methods with a scale of 50 meters and the distance between transects is 10 meters. Seagrass cover and density data collection used 50 x 50 cm quadrant transect. The abundance of sea urchins in coral reef and seagrass ecosystems using Benthos Belt Transect (BBT). The research results showed that the cover of coral reefs and seagrass beds in Legon Bajak Beach were categorized as bad which are of 24.78 % on coral reef and 20.1 % seagrass. Meanwhile, the cover of coral reefs and seagrass beds in Menjangan Kecil Island in the category of moderate which are of 49,16 % and 34,7 %. The correlation between coral cover and sea urchin abundance is in the very strong category with an r coefficient of 0.814, while the correlation between seagrass cover and sea urchin abundance is in the medium category with an r coefficient of 0.585.
Kandungan Logam Berat di Tambak Gracilaria verrucosa Desa Lontar Kabupaten Serang Agung Setyo Sasongko; Mad Rudi; Andrian Tri Jaka Surya; Raden Moch Thoriq Aziz; Rikza Agung Pambudi
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33925

Abstract

Desa Lontar terletak di Kecamatan Tirtayasa, Banten. Perairan Pesisir Desa Lontar hidup berbagai biota seperti ikan, kerang dan biota lainnya. Perairan desa Lontar juga memiliki tambak budidaya rumput laut yang cukup luas. Tambak budidaya rumput laut tersebut berada cukup dekat dengan pemukiman masyarakat sekitar. Seiring pesatnya pembangunan yang terjadi di desa lontar memberikan dampak positif dan dampak negatif bagi makhluk hidup dan lingkungan di sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kondisi kandungan logam berat di tambak rumput laut Desa Lontar. Metode yang digunakan adalah dengan mengambil sampel dilaksanakan di tiga titik stasiun menggunakan botol sampel, dengan pengambilan sampel sebanyak satu botol di setiap stasiunnya dan  analisis logam berat di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Unit Pelaksanaan Teknis Labolatorium Lingkungan hidup sesuai aturan baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Hasilnya menunjukan bahwa Perairan  di  Tambak Rumput Laut Desa Lontar mengandung beberapa logam berat di atas ambang batas baku mutu untuk besi (Fe), Mangan (Mn), dan Tembaga (Cu). Rumput laut Gracilaria verrucosa mampu menyerap kandungan logam berat dalam skala rendah. Kandungan logam berat tinggi dalam wilayah tambak akan berdampak kepada pertumbuhan rumput laut tersebut.   Lontar Village is located in Tirtayasa District, Banten. The coastal waters of Lontar Village live various biota such as fish, shellfish and other biota. The waters of the lontar village also have a fairly extensive seaweed cultivation pond. The seaweed cultivation pond is located quite close to the surrounding community settlements. Along with the rapid development that occurred in the village of lontar, it has a positive and negative impact on living things and the environment around them. This study aims to analyze the condition of heavy metal content in seaweed ponds in Lontar Village. The method used is to take samples carried out at three stations using sample bottles, with one bottle sampling at each station and heavy metal analysis carried out in the at the Environment and Forestry Service Environmental Laboratory Technical Implementation Unit according to standard rules. quality as stipulated in Government Regulation of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management. The results show that the waters in the Lontar Village Seaweed Pond contain several heavy metals above the quality standard thresholds for iron (Fe), Manganese (Mn), and Copper (Cu). Seaweed can absorb heavy metal content but on a low scale, if it absorbs too much heavy metal it will have an impact on the growth of the seaweed.
Analisis Lahan Peneluran Penyu untuk Pengembangan Kawasan Konservasi Berbasis Ekowisata di Pesisir Kabupaten Kebumen Kathan Joy Abelino; Ibnu Pratikto; Sri Redjeki; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32638

Abstract

Penyu merupakan spesies yang terancam punah dan dilindungi dalam IUCN Red List of Threatened Species. Konservasi terhadap spesies ini telah dijalankan di berbagai tempat, termasuk di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Diketahui bahwa konservasi penyu di Kabupaten Kebumen mulai dikembangkan sejak tahun 2016. Konservasi tersebut dijalankan secara swadaya dan masih belum dilakukan secara resmi. Kegiatan konservasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara maksimal menjadi kawasan konservasi berbasis ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kawasan pesisir yang potensial untuk kegiatan konservasi menggunakan teknologi penginderaan jauh serta untuk mengetahui potensi ekowisata wilayah tersebut. Lokasi penelitian difokuskan di Pantai Kalibuntu dan Pantai Kembar Terpadu pada periode Maret sampai April 2021. Citra Sentinel-2A digunakan untuk pemetaan kawasan. Data terkait kelerengan, lebar, pasang surut, arus, dan batimetri pantai diambil secara primer dan sekunder. Sampel sedimen diklasifikasikan menurut skala wentworth dan dihitung persentase kelembabannya. Potensi ekowisata kawasan tersebut dinilai berdasarkan pengamatan langsung dan pengambilan data melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pantai pengamatan memiliki tingkat kesesuaian sebesar 75,75% untuk dijadikan kawasan ekowisata. Analisis butir sedimen, perhitungan kelerengan pantai, dan lebar pantai menunjukkan bahwa kedua stasiun mendukung aktivitas peneluran penyu. Kedua stasiun memiliki kegiatan konservasi penyu seperti pemantauan peneluran, pemindahan telur ke sarang penetasan semi alami, penangkaran, pelepasliaran tukik, serta sosialisasi edukasi. Pengelolaan dilakukan oleh lembaga masyarakat lokal dan Kelompok Tani Ngadimulya. Dinas Kelautan dan Perikanan dan BKSDA Provinsi Jawa Tengah sudah memberikan bantuan sarana dan pelatihan. Budaya pesisir seperti batik penyu dan upacara Sedekah Laut menjadi potensi pendukung pengembangan ekowisata.Sea Turtles are protected species base on the IUCN Red List of Threatened Species. Conservation of this species has been done in various places, including in Kebumen Regency, Central Java, Indonesia since 2016. It is done independently and has not been officially. This activity has great potential to be maximally developed into an ecotourism-based conservation area. This study aims to map potential coastal areas for turtle conservation using remote sensing and to determine the ecotourism potential of the area. The research location is on Kalibuntu Beach and Kembar Terpadu Beach from March to April 2021. Sentinel-2A imagery is used for area mapping. Slope, width, tide, current, and beach bathymetry were taken primary and secondary. Sediment samples were classified according to the Wentworth scale and the moisture percentage was calculated. The ecotourism potential of the area was assessed based on direct observation and interviews. The results showed that the beaches had a suitability level of 75.75% to be used as an ecotourism area. Sediment analysis, coastal slope calculation, and beach width showed that both beaches supported turtle nesting activities. Both stations have turtle conservation activities such as eggs monitoring, transferring eggs to semi-natural hatchery nests, captive breeding, releasing hatchlings, and educational outreach. Conservation is carried out by local community institutions and the Ngadimulya Farmer Group. Department of Marine Affairs and Fisheries and the Central Java Province BKSDA have provided facilities and training assistance. Coastal cultures such as turtle batik and the sea alms ceremony are potential supporters of ecotourism development.
Makroalga Yang Berasosiasi dengan Ekosistem Lamun di Perairan Teluk Awur dan Bandengan, Jepara, Jawa Tengah Dimpos Jonathan Sianipar; Bambang Yulianto; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33821

Abstract

Makroalga merupakan salah satu organisme laut yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem laut dangkal dan merupakan tumbuhan yang dapat hidup beraosiasi dengan ekosistem lamun. Tujuan pengamatan dilakukan untuk mengetahui jenis makroalgae, kandungan nitrat dan fosfat pada air serta hubungannya terhadap tutupan makroalga di padang lamun Teluk Awur dan Pantai Bandengan, Jepara. Data persentase tutupan makroalaga dan lamun diambil menggunakan metode transek kuadran (0,5 x 0,5 m). Analisis kandungan nitrat menggunakan metode yaitu SNI 06-6989.31-2005 dan fosfat IK-BP2-MU-A-08. Hasil penelitian menunjukkan tutupan makroalagae di Pantai Bandengan yaitu 8,47% tergolong pada kategori sedikit, dibandingkan dengan Teluk Awur yaitu 42,87% tergolong kategori melimpah. Kandungan nitrat dan fosfat rata-rata pada air di Teluk Awur adalah 3,26 ppm dan 0,39 ppm, sedangkan kandungan nitrat dan fosfat pada air di Pantai Bandengan adalah 3,69 ppm dan 0,37 ppm. Analisis regresi korelasi menunjukan kandungan nitrat dan fosfat pada air terhadap persentase tutupan makroalga di Teluk Awur menunjukan kuat positif sedangkan fosfat tidak linear, sedangkan di Pantai Bandengan memiliki hubungan positif sedang untuk nitrat dan positif rendah untuk fosfat.Macroalgae are plants that can live in association with seagrass ecosystems.. This research was conducted on 8-9 November 2020 which aims to determine the types of macroalgae, nitrate and phosphate content in water and their relationship to macroalgae cover in the seagrass beds of Teluk Awur and Bandengan Beach, Jepara. Data on the percentage of macroalage cover in seagrass beds refers to the line transeck quadratic method from LIPI. The method used to analyze the nitrate content is SNI 06-6989.31-2005 and phosphate IK-BP2-MU-A-08. Data analysis using Pearson-correlation analysis method. The results showed that the macroalgae cover in Prawean Beach was 8.47% classified in the low category, compared to Teluk Awur, which was 42.87% classified in the abundant category. The average nitrate and phosphate content in the water in Teluk Awur is 3.26 and 0.39 ppm, while the nitrate and phosphate content in the water at Bandengan Beach is 3.69 and 0.37 ppm. Regression analysis showed that the nitrate and phosphate content in the water to the percentage of macroalgae cover in Teluk Awur showed a strong positive while phosphate was moderately negative, while in Bandengan Beach there was a moderate positive relationship for nitrate and low positive for phosphate. 
Keanekaragaman dan Kelimpahan Gastropoda pada Ekosistem Mangrove Desa Kramat Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo Mansyur Abukasim; Faizal Kasim; Miftahul Khair Kadim
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.34213

Abstract

Pesisir Desa Kramat merupakan bagian dari sebaran mangrove di kawasan Teluk Tomini. Tekanan lingkungan akibat aktivitas masyarakat seperti alih fungsi kawasan dan sampah pesisir ditengarai telah merusak kawasan mangrove di Desa Kramat. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada gastropoda sebagai komponen esensial ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kekayaan jenis, keanekaragaman dan kelimpahan gastropoda mangrove di pesisir Desa Kramat, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Penelitian dilakukan dengan cara mensurvei populasi gastropoda menggunakan kuadran berukuran 5x5 m yang dibuat pada tiga transek garis (LT) yang berbeda berdasarkan lebar sabuk mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah spesies gastropoda di ekosistem mangrove adalah 14 yang mewakili anggota 8 famili. Kelimpahan tertinggi terdapat di LT-1 dengan lebar sabuk mangrove terkecil, yaitu Terebralia sulcata (14.800 ind/ha) untuk tingkat spesies dan Potamididae (20.600 ind/ha) untuk tingkat famili. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk semua spesies berkisar antara 1,517 hingga 2,177. Nilai indeks dispersi Morisita berkisar antara 0,97–14,00 untuk tingkat spesies dan 0,97–4,67 untuk tingkat famili. Meskipun jumlah spesies gastropoda cukup besar, nilai indeks keanekaragamannya tergolong sedang, dengan sebaran mengelompok. Kajian ini menunjukkan peran ekologis kawasan mangrove Desa Kramat sebagai penunjang keanekaragaman hayati dan habitat gastropoda yang diperlukan untuk pengelolaan kawasan pesisir di Teluk Tomini.  The coast of Kramat Village is part of the mangrove distribution area in the Tomini Bay area. Environmental pressures due to community activities such as area conversion and coastal waste are suspected of degrading the mangrove area in Kramat Village. The condition is feared to impact gastropods as an essential component of the mangrove ecosystem. This research aimed to observe species richness, diversity, and the abundance of mangrove gastropods on the coast of Kramat Village, Boalemo Regency, Gorontalo Province. The study was conducted by surveying the gastropod population using a 5x5 m quadrant established on three different line transects (LT) based on the width of the mangrove belt. The study's results showed that the number of gastropod species in the mangrove ecosystem was 14, representing members of 8 families. The highest abundance was found in LT-1 with the smallest mangrove belt width, namely Terebralia sulcata (14,800 ind.ha-1) for species level and Potamididae (20,600 ind.ha-1) for family level. The Shannon-Wiener diversity index values for all species ranged from 1.517 to 2.177. Morisita's dispersion index values ranged from 0.97-14.00 for the species level and 0.97-4.67 for the family level. Although the number of gastropod species is quite large, the diversity index value is categorized as a medium, with distribution clumped. This study shows the ecological role of the mangrove area of Kramat Village to support biodiversity and as a habitat for gastropods needed for the management of coastal areas in Tomini Bay.
Pengaruh Fermentasi Gracilaria verrucosa dengan Penambahan Starter Lactobacillus plantarum pada Profil Metabolit dan Aktivitas Biologisnya Pola Risda Aswita Silitonga; Wilis Ari Setyati; AB Susanto; Mada Triandala Sibero
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33262

Abstract

Gracilaria verrucosa merupakan salah satu spesies penting Rhodophyta yang telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa G. verrucosa memiliki aktivitas biologis sebagai antioksidan, namun laporan mengenai potensi sebagai antibakteri dan antikanker masih sedikit dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi menggunakan L. plantarum terhadap aktivitas antibakteri, toksisitas, dan karakteristik metabolit ekstrak rumput laut G. verrucosa dengan waktu fermentasi yang berbeda. Metode dalam penelitian ini adalah preparasi, fermentasi, ekstraksi, uji antibakteri, uji toksisitas, dan karakterisasi metabolit. Uji aktivitas antibakteri dengan metode agar well diffusion terhadap bakteri foodborne disease sedangkan uji toksisitas dengan metode BSLT. Karakterisasi metabolit dilakukan menggunakan KLT dengan eluent kloroform: etil asetat (9:1), serta visualisasi metabolit dengan reagen Dragendorff, dan Ninhidrin. Hasil analisis KLT menunjukkan ekstrak G. verrucosa yang difermentasi menggunakan L. plantarum menghasilkan senyawa yang diduga senyawa alkaloid dan asam amino bebas. Uji aktivitas antibakteri ekstrak G. verrucosa menunjukkan hasil negatif dan tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri MDR E. coli dan S. typhi. Analisis toksisitas menunjukkan bahwa setiap ekstrak rumput laut dikategorikan toksik terhadap larva A. salina L. dengan nilai LC50 ETA (73,26 μg/mL), EDA (218,09 μg/mL), Fr 24 (316,69 μg/mL), Fr 48 (316,69 μg/mL), dan Fr 72 (316,69 μg/mL). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan L. plantarum tidak dapat meningkatkan aktivitas biologis rumput laut G. verrucosa.   Gracilaria verrucosa is one of the most important Rhodophyta species that has been widely used in various industries. The results of previous studies showed that G. verrucosa has a weak antioxidant activity, however, reports on its potential as antibacterial and anticancer are still under explored. This study aimed to determine the effect of fermentation using L. plantarum in G. verrucosa’s metabolites and biological activities  with different fermentation times. This study consisted of preparation, fermentation, extraction, antibacterial test, toxicity test, and metabolite characterization. The antibacterial activity assay was conducted by agar well diffusion method against foodborne disease bacteria while toxicity test using BSLT method. Metabolite characterization was carried out using TLC with chloroform : ethyl acetate (9:1) as the eluent, spot visualization was conducted by the addition of Dragendorff, and Ninhydrin reagents. The result of TLC analysis showed that G. verrucosa produced alkaloids and amino acids derivative compounds after fermentation. G. verrucosa extracts had no antibacterial activity against MDR  E. coli and S. typhi. Toxicity assay showed that each seaweed extract was categorized as toxic to A. salina L. larvae with an LC50value of  ETA (73.26 ug/mL), EDA (218.09 ug/mL), Fr 24 (316.69 ug/mL), Fr 48 (316.69 ug/mL), and Fr 72 (316.69 ug/mL). Based on the results of the study showed that fermentation using L. plantarum could not elevate the antimicrobial and toxicity of G. verrucosa.  
Kajian Mikroplastik pada Ikan Konsumsi Masyarakat di Teluk Palu, Sulawesi Tengah Roni Hermawan; Yeldi S Adel; Renol Renol; Mohamad Syahril; Mubin Mubin
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32321

Abstract

Dampak dari cemaran mikroplastik ini sangat berbahaya, terlebih lagi jika masuk kedalam jaringan tubuh hewan bahkan manusia. Keberadaan mikroplastik semakin meningkat seiring meningkatnya ketergantungan aktifitas manusia terhadap plastik. Kandungan mikroplastik dalam pencernaan ikan perlu diketahui mengingat tingginya konsumsi ikan laut lokal di perairan Teluk Palu. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung konsentrasi mikroplastik pada sistem pencernaan ikan laut konsumsi di Teluk Palu.Sampel ikan konsumsi diambil dari tangkapan masyarakat lokal, disepanjang pesisir Teluk Palu. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2021. Sampel ikan konsumsi dikumpulkan, diberi label dan disimpan dalam freezer untuk pengamatan selanjutnya. Seluruh sampel ikan difoto untuk diidentifikasi, diukur, ditimbang beratnya. Sampel ikan selanjutnya dipisahkan sistem pencernaannya dan ditimbang berat basahnya. Sampel sistem pencernaan selanjutnya ditambahkan larutan KOH 10% perendaman dilakukan inkubasi dengan suhu 60 ºC  selama 24 jam hingga 60 jam. Sampel selanjutnya didestruksi kembali dengan larutan H2O2 30% hingga 50% selama 5 hingga 9 hari,  proses destruksi selesai jika sampel berubah menjadi bening, pengadukan selama 10 menit setiap 2 kali sehari, sehingga kandungan organik sampel benar-benar telah terlarut. Sampel selanjutnya dipindahkan ke cawan petri untuk diamati dan diidentifikasi. Hasil pengamatan mikroplastik selanjutnya dianalisa untuk membedakan jenisnya. Jumlah 220 sampel ikan, 18 sampel ikan terpapar mikroplastik, jenis serpihan (fragment) mikroplastik saja yang ditemukan. Tertinggi pada Upeneus sulphureus sebesar 3,58 ± 0,36 partikel/g, Rastrelliger neglectus sebesar 1,84 ± 0,35 partikel/g, Carangoides coeruleopinnatus sebesar 1,67 partikel/g, sedangkan Caranx ignobilis dan Caranx latus tidak ditemukan mikroplastik.The microplastic contamination impact is very dangerous, especially if it enters the body tissues of animals and even humans. The presence of microplastics is increasing along with the increasing dependence of human activities on plastics. The content of microplastics in fish digestion given the high consumption of local marine fish in the waters of Palu Bay. The aim of this study was to calculate the concentration of microplastics in the digestive system of consumption fish in Palu Bay.The consumption fish samples were taken from local fishermen catches along the coast of Palu Bay. Sampling was carried out from September to October 2021. Samples of fish were collected, labeled and stored in the freezer for further observations. All fish samples were photographed to be identified, measured, weighed. The fish samples were then separated from the digestive system and weighed the wet weight. Samples of the digestive system were then added with 10% KOH solution and then incubated at 60oC for 24 hours to 60 hours. The sample was then re-destructed with 30% to 50% H2O2 solution for 5 to 9 days, the digestion process was complete when  the sample turns clear, stirring for 10 minutes every 2 times a day, so that the organic content of the sample was completely dissolved. The samples were then transferred to petri dishes to be observed and identified. The results of microplastic observations were then analyzed to distinguish the types. From 220 fish samples, 18 fish samples exposed to microplastics, only microplastic fragments were found. The highest was in Upeneus sulphureus at 3.58 ± 0.36 particles/g, Rastrelliger neglectus at 1.84 ± 0.35 particles/g, Carangoides coeruleopinnatus at 1.67 particles/g, while Caranx ignobilis and Caranx latus did not find microplastics.
Identifikasi Dan Kepadatan Mikroplastik Di Sekitar Muara Sungai Banjir Kanal Barat Dan Banjir Kanal Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah Rana Hadi Shafani; Ria Azizah Tri Nuraini; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.31885

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran mikro (<5 mm). Mikroplastik membutuhkan waktu yang lama untuk terdegradasi sehingga sulit dihilangkan di perairan.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbandingan  kepadatan dan jenis mikroplastik di perairan muara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur, Semarang. Pengambilan sampel air laut dilaksanakan pada bulan April dan Mei 2021 di 3 titik yang berbeda di setiap stasiun dengan  menggunakan plankton net. Pengamatan mikroplastik dilakukan di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universiats Diponegoro. Hasil penelitian menemukan bentuk mikroplastik dalam sampel air laut adalah fiber, fragment, film, dan pellets. Warna mikroplastik yang ditemukan adalah hitam, biru, merah, cokelat, kuning, tranparant, dan hijau. Hasil Uji FT-IR jenis polimer mikroplastik yang ditemukan adalah Nylon, Nitrile, PVC,  PET, dan  PC. Kepadatan mikroplastik paling tinggi terdapat di perairan muara Banjir Kanal Timur sebesar 179,09 Partikel/m3 dengan kepadatan total bentuk fiber (37,80 partikel/m3), bentuk fragment (34,14 Partikel/m3), bentuk film (18,29 Partikel/m3), dan bentuk pellets (85,85 Partikel/m3). Kepadatan  mikroplastik di perairan muara Banjir Kanal Barat yaitu sebesar 79,51 Partikel/m3 dengan kepadatan total bentuk fiber (20,73 partikel/ m3), bentuk fragment  (28,09 Partikel/m3), bentuk film (5,36 Partikel/m3), dan bentuk pellets (25,12 Partikel/m3). Hasil independent t – test menunjukkan p(0,169) > 0,05 bahwa kepadatan mikroplastik di perairan muara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur tidak berbeda nyataMicroplastics are micro-sized plastic particles (<5 mm). Microplastics take a long time to degrade making them difficult to remove in the water. The purpose of this study is to analyze the comparison of abundance and type of microplastics in the estuary of the Banjir Kanal Barat and Banjir Kanal Timur, Semarang. Sampling was conducted in April and May 2021 at 3 different points at each station using net plankton. Microplastic observations were conducted in the Laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universiats Diponegoro. The results found the types of microplastics in seawater samples are fiber, fragments, film, and pellets. The microplastic colors found are black, blue, red, brown, yellow, tranparant, and green. FT-IR test results of microplastic polymers found are Nylon, Nitrile, PVC, PET, and PC. The highest microplastic abundance is found in the estuary of the Banjir Kanal Timur of 179.09 Particles/m3 with a total abundance of fiber types (37.80 particles/m3), fragment types (34.14 Particles/m3), film types (18.29 Particles/m3), and pellets types (85.85 Particles/m3). The abundance of microplastics in the estuary of the Banjir Kanal Barat is 79.51 Particles /m3 with a total abundance of fiber types (20.73 particles / m3), fragment types (28.09 Particles / m3), film types (5.36 Particles / m3), and pellets types (25.12 Particles / m3). The results of independent t-test show p(0,169) > 0.05 that the abundance of microplastics in the estuary of the Banjir Kanal Barat and Banjir Kanal Timur is no different

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue