cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Tingkat Kesuburan Perairan berdasarkan Konsentrasi Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a di Kabupaten Jepara Arief, Atthariq Fachri Ramadhan; Suryono, Chrisna Adhi; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41718

Abstract

: Kesuburan perairan ditentukan oleh nitrat, fosfat dan klorofil-a. Nitrat dan fosfat merupakan zat hara yang penting untuk mengembangkan potensi sumberdaya ekosistem laut Perairan Kartini merupakan salah satu perairan yang padat aktivitas manusia dan dekat dengan muara sungai Wiso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan di perairan Kartini dan Wiso, kabupaten Jepara. Pengambilan data penelitian dilaksanakan satu kali pada bulan Maret 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian dibagi menjadi delapan stasiun. Pengambilan sampel air dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Metode analisis kandungan nutrien pada air untuk konsentrasi nitrat dan fosfat mengacu pada SNI 6989.79.2011 dan SNI 06-6989.31.2005. Data dianalisis menggunakan analisis one way anova, uji regresi, uji korelasi dan uji TSI (Trophic State Index). Hasil penelitian menunjukkan, konsentrasi nitrat sebesar 0,50–0,73 mg/L, konsentrasi fosfat sebesar 0,013–0,513 mg/L dan konsentrasi klorofil-a sebesar 7,355-17,917 µg/L. Kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-a pada stasiun Wiso relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun Kartini. Berdasarkan uji regresi, didapatkan persamaan regresi pada stasiun Kartini yaitu y = 32,74X1 + 1,33X2 – 7,07 dan stasiun Wiso yaitu y = -24,29X1 + 16,29X2 + 18,77. Uji korelasi pada stasiun kartini dan wiso menunjukkan nilai korelasi positif antara nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a. Berdasarkan perhitungan TSI didapatkan tingkat kesuburan rata-rata semua stasiun yaitu eutrofik ringan hingga eutrofik sedang.    Water productivity is determined by nitrate, phosphate and chlorophyll-a. Nitrate and phosphate are essential nutrients to develop the potential of marine ecosystem resources. Kartini waters are one of the waters that are dense with human activities and  close to the mouth of the Wiso river. This study aims to determine water productivity in Kartini and Wiso waters, Jepara regency. The research data collection was carried out once in March 2022. The research method used was a descriptive method with a quantitative approach. The research location is divided into eight stations. Water sampling was repeated three times. The method of analyzing nutrient content in water for nitrate and phosphate concentration refers to the method of SNI 6989.79.2011 and SNI 06-6989.31.2005. Data were analyzed using one way anova test, regression test, correlation test and TSI test (Trophic State Index).  The results showed that the nitrate concentration was 0.50 – 0.73 mg/L, the phosphate concentration was 0.013–0.513 mg/L and the chlorophyll-a concentration was 7.355 µg/L - 17.917. µg/L. The content of nitrate, phosphate and chlorophyll-a at Wiso station is relatively higher than Kartini station. Based on the regression test, the regression equation obtained at Kartini station y = 32,74X1 + 1,33X2 – 7,07 and at wiso station is y = -24,29X1 + 16,29X2 + 18,77. The correlation test at Kartini and Wiso stations showed a positive correlation value between nitrate and phosphate on chlorophyll-a. Based on TSI calculations, the average fertility level for all stations is obtained, namely mild eutrophic to moderate eutrophic.
Kajian Morfometri Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Kabupaten Pemalang Jawa Tengah Hira, Khansa Yatita; Pratikto, Ibnu; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.37986

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) adalah komoditas hasil tangkapan perikanan laut yang bernilai  ekonomi yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi ukuran lebar karapas dan berat tubuh, rasio jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad dari rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Pemalang dan sekitarnya. Penelitian ini mempergunakan metoda deskriptif kuantitatif untuk mengetahui tingkat kematangan gonad rajungan dan metode purposive sampling untuk menentukan titik pengambilan sampel. Penelitian dilakukan pada satu periode di bulan Juni 2022. Pengambilan data rajungan yang dilakukan meliputi lebar karapas dan berat tubuh, jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad. Sampel rajungan yang telah dikumpulkan berjumlah 1283 ekor (759 ekor rajungan jantan dan 524 ekor rajungan betina). Hasil dari penelitian ini menunjukkan rajungan yang paling banyak ditemukan memiliki ukuran lebar karapas yang berkisar antara 107-115 milimeter dan berat tubuh 73-93 gram dengan persamaan hubungan lebar karapas dan berat tubuh sebesar 0,0003L2,6983 untuk rajungan betina dan 0,0002L2,7431 untuk rajungan jantan. Rajungan yang ditemukan lebih banyak berkelamin jantan dibandingkan betina. Rajungan betina yang ditemukan sudah dalam usia dewasa dengan TKG kategori 2 (Matured). Hasil tersebut menunjukkan kondisi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Pemalang memiliki komposisi berdasarkan ukuran, dan tingkat kematangan gonad yang cukup ideal, namun untuk rasio jenis kelamin didapatkan tidak ideal karena menunjukkan hasil perbandingan rajungan jantan dengan rajungan betina tidak seimbang.  Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a marine fisheries product which has high economic value. The purpose of this study was to determine variations in carapace width and body weight, sex ratio, and gonadal maturity level of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in the waters of Danasari Pemalang Village and its surroundings. The method used in this research is descriptive quantitative to determine the level of maturity of the gonads and purposive sampling method to determine the point of sampling. The research was conducted in one period in June 2022. Data collection for blue swimming crabs included carapace width and body weight, sex, and gonadal maturity level. The total number of crab samples collected was 1283 (759 male crabs and 524 female crabs). The results of this study showed that the most commonly found crabs had a carapace width ranging from 107-115 millimeters and a body weight of 73-93 grams with an equation for the relationship between carapace width and body weight of 0,0003L2,6983 for female crabs and 0,0002L2,7431 for the male crab. The crabs found were more male than female. The female swimming crab found was in adulthood with TKG category 2 (Matured). These results indicate that the condition of the blue swimming crab (Portunus pelagicus) in the waters of Danasari Pemalang Village has a composition based on size, and the level of gonadal maturity is quite ideal, but the sex ratio is not ideal because it shows the results of the comparison between male and female crabs are not balanced. 
Tinjauan Perubahan dan Prediksi Garis Pantai: Studi Perbandingan Kasus di Sri Lanka dan Indonesia Purwanti, Renita; Koestoer, Raldi Hendro
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.40428

Abstract

Garis pantai adalah fitur geomorfologi yang sangat dinamis dan rentan mengalami perubahan yang disebabkan oleh fenomena alam ataupun aktivitas manusia. Perubahan garis pantai akan berdampak pada pengelolaan kawasan pesisir dan mengancam kelangsungan sumber daya pesisir. Pengamatan perubahan garis pantai dapat dilakukan menggunakan analisis perhitungan statistik dengan variabel statistik maupun variabel fisik. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan review dan membandingkan penelitian perubahan garis pantai dengan studi kasus di Sri Lanka dan Indonesia dengan menggunakan metode studi komparasi melalui penelusuran literatur ilmiah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pembangunan pelabuhan merupakan faktor paling berpengaruh dalam perubahan garis pantai di Sri Lanka, sedangkan di Indonesia dipengaruhi oleh faktor konstruksi pantai, estuari sungai, dan kedalaman dasar laut. Perubahan garis pantai di tahun 2031, dan 2041 masing – masing negara diprediksi akan mengalami erosi, abrasi, dan akresi. Dalam hal kebijakan, Perubahan garis pantai di Indonesia akan berpengaruh pada pengelolaan kawasan pesisir, khususnya dalam hal penghitungan Dana Alokasi Umum.  Shoreline is a very dynamic geomorphological feature and susceptible to changes caused by natural phenomena or human activities. Shoreline changes will have an impact on the management of coastal areas and threaten the sustainability of coastal resources. Monitoring of shoreline changes can be carried out by using statistical calculation analysis with statistical variables and physical variables. This paper aims to review and compare shoreline change research with case studies in Sri Lanka and Indonesia using the comparative study method through scientific literature review. The results of this study indicate that port construction is the most influential factor in shoreline changes in Sri Lanka, while in Indonesia it is influenced by several factors such as coastal construction, river estuaries, and seabed depth. Coastline changes in 2031 and 2041 for each country are predicted to experience erosion, abrasion and accretion. In terms of policy, changes to the coastline in Indonesia will affect the management of coastal areas, especially in terms of calculating the General Allocation Fund
Kajian Tingkat Timbal (Pb) di Perairan Pantai Semarang: Studi Kasus pada Kerang Darah Kusumadiani, Tazkia Aulia; Redjeki, Sri; Yulianto, Bambang
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.39367

Abstract

Masuknya zat ataupun komponen ke dalam lingkungan laut yang menyebabkan berkurangnya kualitas perairan disebut sebagai pencemaran laut. Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar yang banyak ditemukan di lingkungan laut. Contohnya adalah timbal (Pb). Pencemaran lingkungan laut tidak hanya berdampak terhadap menurunnya kualitas perairan, akan tetapi juga berdampak pada manusia yang mengkonsumsi produk hayati laut. Pesisir Kota Semarang merupakan wilayah tersibuk di Jawa Tengah dengan tingginya berbagai aktivitas seperti pemukiman, transportasi darat dan laut, industri, perikanan, dan pertanian yang mengakibatkan tingginya masukan polutan ke lingkungan laut yang mengakibatkan turunnya kualitas perairan darat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan logam timbal (Pb) pada air, sedimen, dan kerang darah (A. granosa) di Perairan Pantai Semarang. Konsentrasi logam berat Pb dalam air dan sedimen dianalisis dengan menggunakan Flame AAS sedangkan untuk kerang darah menggunakan metode ICP. Kandungan Pb pada seluruh sampel di bulan Maret 2023 lebih rendah dibandingkan pada Januari 2023. Pb dalam air (0,059 – 0,067 mg/L) pada Januari 2023 telah melebihi nilai baku mutu (0,008 mg/L) sementara pada Maret 2023 adalah <0,003 mg/L. Konsentrasi sedimen pada Januari 2023 (20,19 – 22,47 mg/kg) dan Maret 2023 (6,03 – 6,763 mg/kg) tidak melebihi baku mutu (50 mg/kg). Pb dalam kerang darah pada Januari 2023 (0,118 – 0,134 mg/kg) dan Maret 2023 (<0,040 mg/kg) tidak melebihi baku mutu (1,5 mg/kg). Perhitungan asupan aman konsumsi kerang darah untuk mengetahui batas aman konsumsi kerang darah pada berat badan 55 dan 60 kg masing masing adalah 10,261-11,653 kg/minggu dan 11,194-12,712 kg/minggu. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dalam melihat tingkat pencemaran logam yang ada di Perairan Pantai Semarang.The entry of substances or components into the environment that caused a reduction in the quality of waters is known as marine pollution. Heavy metals are one of the most pollutant materials found in the marine environment. Example of heavy metal is lead (Pb). Contamination in the marine environment not only has an impact on decreasing water quality, but also on humans who consume marine biological products. The coastal of Semarang City known as busiest area in Central Java with high levels of various activities such as settlements, land and sea transportation, industry, fisheries, and agriculture which result in a high input of pollutants into the marine environment that make a decline in the quality of inland and sea waters. Purpose of this study is to determine content of heavy metal lead (Pb) in water, sediment, and blood shells (Anadara granosa) in Semarang Coastal waters. Concentration of heavy metal Pb in water and sediment was analyzed using Flame AAS while for blood shells using the ICP method. Pb content in all sample in March 2023 is lower than January 2023. Pb content in water (0,059 - 0,067 mg/L) in January 2023 has exceeded the quality standard value (0,008 mg/L) meanwhile in March 2023 Pb is <0,003 mg/L. Sediment concentration in January 2023 (20,19-22,47 mg/kg) and in March 2023 (6,03 – 6,763 mg/kg) did not exceed the quality standard (50 mg/kg). Pb content in blood shells in January 2023 (0,118 – 0,134 mg/kg) and in March 2023 (<0,040 mg/kg) did not exceed the quality standard (1,5 mg/kg). Calculation safe intake consumption of blood shells to determine the safe limit consumption of blood shells at 55 kg and 60 kg body weight respectively is 10,261 – 11,653 kg/week and 11,194 – 12,712 kg/week. The research results are expected to be a reference in looking at the level of metal pollution in Semarang Coastal Waters.
Kajian Kondisi Kesehatan Padang Lamun di Perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya Kabupaten Buton Firil, Nis Aura Sadida; Endrawati, Hadi; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.42599

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kontribusi dalam produktivitas perairan bagi keberlanjutan ekosistem perairan laut dangkal dan kelangsungan hidup biota laut di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan ekosistem lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya, Kabupaten Buton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode line transect pada kedua lokasi dengan masing-masing terdapat dua stasiun pengambilan data. Hasil penelitian ditemukan total 5 jenis lamun yang terdapat pada kedua lokasi penelitian, yaitu; Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium. Persentase rata-rata penutupan lamun di Desa Wabula adalah 56,11% dan di Desa Karya Jaya adalah 27,77%. Komposisi jenis lamun tertinggi pada kedua lokasi penelitian adalah spesies Cymodocea rotundata dengan rata-rata kerapatan 616,4 ind/m2 di Desa Wabula dan 446,4 ind/m2 di desa Karya Jaya. Status kesehatan ekosistem padang lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula memiliki kategori baik dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,78 dan perairan Desa Karya Jaya memiliki kategori sedang dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,68. Parameter hidro-oseanografi di kedua lokasi penelitian dapat mendukung pertumbuhan ekosistem lamun karena sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 perihal baku mutu perairan laut untuk ekosistem lamun.  Seagrass ecosystems contribute to aquatic productivity for the sustainability of shallow marine ecosystems and the survival of marine biota within them. This research aims to determine the health condition of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village and Karya Jaya Village, Buton Regency. The research method used is the line transect method at both locations with two data collection stations each. The research results found a total of 5 types of seagrasses found in both research locations, namely, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, and Syringodium isoetifolium. The average percentage of seagrass cover in Wabula Village is 56.11% and in Karya Jaya Village it is 27.77%. The highest composition of seagrass species at both research locations was the Cymodocea rotundata species with an average density of 616.4 ind/m2 in Wabula Village and 446.4 ind/m2 in Karya Jaya village. The health status of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village is in the good category with a seagrass ecosystem health index value of 0.78 and the waters of Karya Jaya Village are in the medium category with a seagrass ecosystem health index value of 0.68. Hydro-oceanographic parameters at both research locations can support the growth of seagrass ecosystems because they are in accordance with Government Regulation Number 22 of 2021 concerning marine water quality standards for seagrass ecosystems.
Efek Sitotoksisitas Dan Genotoksisitas Dari Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Daun Rhizopora stylosa Griff. Terhadap Pembelahan Sel Dan Kromosom Pada Akar Allium cepa L. Rahayuningsih, Sri Rejeki; Mayanti, Tri; Azzahra, Fathia
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41360

Abstract

Rhizopora stylosa, yang dikenal sebagai bakau merah, merupakan salah satu jenis tanaman bakau yang dapat ditemukan melimpah di Indonesia. Masyarakat secara tradisional memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber pewarna dan obat tradisional. R. stylosa juga terbukti mengandung zat bioaktif dan metabolit sekunder yang memiliki nilai penting bagi manusia dan organisme lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji tingkat sitotoksisitas dan genotoksisitas senyawa metabolit sekunder dalam fraksi-fraksi ekstrak etanol R. stylosa terhadap akar dan kromosom tanaman bawang Allium cepa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), melibatkan sebelas fraksi dengan konsentrasi seragam (125 ppm), serta kontrol negatif berupa larutan akuades dan kontrol positif berupa larutan EMS, dengan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Parameter yang diobservasi meliputi indeks mitosis, pertumbuhan akar bawang, dan aberasi kromosom. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA Ft(α.05) dan uji lanjutan Duncan Ft (α.05). Hasil pengujian sebelas fraksi dengan konsentrasi 125 ppm menunjukkan penurunan nilai indeks mitosis yang bervariasi, serta terdeteksi adanya aberasi kromosom dengan frekuensi yang beragam. Meskipun demikian, sebelas fraksi tidak menunjukkan sifat subletal maupun letal terhadap indeks mitosis. Jenis aberasi kromosom yang teramati meliputi anaphase spindle break, ball metaphase, break, bridge, c-mitosis, delayed anaphase, diagonal anaphase, disorder of chromosome kinetic, double bridge, double lesion, fragment, giant cell showing polyploidy, laggard, micronucleus, nuclear erosion, nuclear extrusion, ring, star, stickiness, dan vagrant. Rhizopora stylosa (red mangrove) is one species of mangrove that is easily found in large quantities in Indonesia. This plant is widely used traditionally by the community as dyes and herbal medicine. R. stylosa is also known to contain valuable bioactive substances and secondary metabolites for humans and other organisms. This study aims to examine the cytotoxicity and genotoxicity of secondary metabolite compounds from fractions of R. stylosa ethanolic leaf extract on the roots and chromosomes of A. cepa onions. The study was conducted using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD), the treatment of eleven fractions with one 125 ppm for all fractions, and negative control of distilled water solution and positive control of EMS solution, with 3 repetitions for each treatment. The parameters observed were mitotic index, onion root growth and chromosomal aberration. The observations were analyzed with ANAVA Ft (α.05) and followed by Duncan Ft test (α.05). The results of eleven fractions with a concentration of 125 ppm showed a decrease in the value of various mitotic indices and the discovery of chromosome aberrations with varying frequencies. However, eleven fractions did not show a sub-lethal or lethal effect onf the mitotic index. Among the types of chromosomal aberrations observed were anaphase spindle break, ball metaphase, break, bridge, c-mitosis, delayed anaphase, diagonal anaphase, disorder of chromosome kinetic, double bridge, double lesion, fragment, giant cell showing polyploidy, laggard, micronucleus, nuclear erosion, nuclear extrusion, ring, star, stickiness, and vagrant. 
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen, dan Lamun (Thalassia hemprichii) di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu Triyanto, Handi Cahyo; Nuraini, Ria Tri Azizah; Haryanti, Dwi
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35263

Abstract

Pulau Kelapa Dua yang merupakan salah satu pulau destinasi wisata yang ada di Kepulauan Seribu, banyaknya mobilitas dari aktivitas manusia seperti jalur kapal menjadi sumber masalah pencemaran logam berat Timbal (Pb). Lamun menjadi salah satu bioindikator yang berfungsi sebagai penyerap dan pengakumulasi logam berat, salah satu jenis lamun yang banyak ditemukan di perairan Pulau Kelapa Dua yaitu Thalassia hemprichii. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan logam berat Timbal (Pb) pada air, sedimen, dan lamun T. hemprichii dengan menggunakan metode survei eksploratif. Analisis kandungan logam Pb menggunakan Atomic Absorption Spectophotometer (AAS) dengan metode destruksi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan lamun T. hemprcihii di Pulau Kelapa Dua sudah termasuk dalam kategori tercemar Pb berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021, sedangkan pada sedimen masih dibawah baku mutu yang ditetapkan oleh ANZECC (2000). Hasil kandungan logam Pb pada air berkisar 0,53–1,22 ppm, pada sedimen berkisar 0,06–0,41 ppm, pada akar lamun berkisar 4,2–10,4 ppm, dan hasil kandungan logam Pb tertinggi ditemukan pada daun lamun berkisar 14,5–28 ppm. Berdasarkan hasil tersebut, lamun T. hemprichii memiliki nilai tertinggi dalam mengakumulasikan logam berat dibandingkan sedimen dan air. Kelapa Dua Island is one of the tourists destination islands in the Kepulauan Seribu, and is heavily affected by human activities such as sea transportation that become source of heavy metal pollution problems. Seagrass is one of the bioindicators that functions as an absorber and accumulation of heavy metals. One of the most common seagrass found on Kelapa Dua Island is Thalassia hemprichii. This study was conducted to investigate the Lead (Pb) content in water, sediment, and seagrass (T. hemprichii) using explorative surveys. Lead content were analyzed using (Atomic Absorption Spectophotometer) AAS method with the use of wet destruction method. The research resulted that water and seagrass T. hemprichii on Kelapa Dua Island had already been polluted with Pb based on Indonesian Government Regulation No 22 of 2021. While the sediment are not polluted by Pb according to standards by ANZECC (2000). The result of heavy metal Pb content in the water ranging from 0,532 – 1,244 ppm, while sediment with value ranging from 0,006 – 0,41 ppm, and seagrass root scored between 4,2 – 10,4 ppm, highest level of Pb content was found on seagrass leaf with value ranging from 14,5 – 28 ppm. The results show that T. hemprichii has the highest absorption of Pb compared to sediment and water. 
Pengaruh Jenis Substrat Terhadap Pertumbuhan Semaian Biji Lamun (Enhalus acoroides) Chrismanola, Verena; Riniatsih, Ita; Endrawati, Hadi
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.42610

Abstract

: Degradasi padang lamun telah terjadi di seluruh perairan dunia. Degradasi padang lamun dipengaruhi oleh tekanan lingkungan seperti perubahan iklim, penyakit parasite, dan gangguan kegiatan pesisir. Kombinasi dari tekanan lingkungan tersebut perlu dicegah dengan upaya restorasi dan rehabilitasi kawasan padang lamun. Salah satu upaya kegiatan restorasi lamun dapat dilakukan dengan metode pembenihan. Penelitian terkait restorasi padang lamun dengan pembenihan baik di lapangan maupun skala laboratorium masih sedikit dilakukan. Penelitian penyemaian biji ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tiga jenis substrat berbeda (pasir halus, pasir pecahan karang, dan lumpur berpasir) terhadap pertumbuhan lamun jenis Enhalus acoroides dalam skala laboratorium. Faktor pembatas dalam pertumbuhan lamun meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan kandungan nutrien dalam substrat sebagai parameter pendukung dalam penelitan ini. Pengumpulan biji lamun dilakukan di Pantai Mrican, Karimunjawa pada bulan Mei 2023 dan proses penyemaian biji dilakukan di Laboratorium Basah, FPIK, Universitas Diponegoro hingga bulan Agustus 2023. Penempatan wadah tanam dengan perlakuan tiga jenis substrat diletakkan di tiga akuarium berbeda secara acak yang telah terdapat sistem sirkulasi. Pengukuran data panjang daun, lebar daun, jumlah daun, serta parameter kualitas perairan dilakukan setiap dua minggu selama 12 minggu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, jenis substrat lumpur berpasir memberikan pengaruh tertinggi dalam pertumbuhan semaian biji lamun. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis substrat berpengaruh terhadap pertumbuhan semaian biji lamun.  Seagrass bed degradation is a global concern, impacted by environmental stressors like climate change, parasitic diseases, and coastal disruptions. Preventing these pressures requires dedicated efforts to restore and rehabilitate seagrass areas. Seeding emerges as a potential restoration method, yet research on seagrass restoration through seeding remains limited in both field and laboratory contexts. Consequently, this study focused on seed sowing to assess the influence of three substrates (sand, coral rubble sand, and sandy mud) on the laboratory-scale growth of Enhalus acoroides seagrass. Key growth-limiting factors, including temperature, salinity, dissolved oxygen, pH, and nutrient content in the substrate as supporting parametersin this research. Seagrass seeds were collected at Mrican Beach, Karimunjawa, in May 2023, and the sowing process occurred at the Wet Laboratory, FPIK, Diponegoro University, until August 2023.The placement of planting containers with the treatment of three types of substrates was palced in three different aquariums randomly which had a circulation system. Data measurements of leaf length, leaf width, number of leaves, and water quality parameter were carried out every two weeks for 12 weeks. Based on the research that has been done, type of sandy mud substrate gave the highest effect on the growth of seagrass seedlings. This research can be concluded that different types of substrates affect the growth of seagrass seedlings.
Distribusi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut terhadap Kelimpahan Ikan Cephalopholis argus dan Cephalopholis miniata Di Pulau Pieh, Sumatera Barat Fauzan, Rianda; Widianingsih, Widianingsih; Endrawati, Hadi
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43988

Abstract

Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pieh, Sumatera Barat memiliki produktivitas primer yang tinggi dan menandakan kesuburan perairan. Salah satu indicator kesuburan perairan adalah kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut terhadap kelimpahan ikan Cephalopholis argus dan Cephalopholis miniata. Periode waktu yang digunakan adalah tahun 2019 – 2023. Data klorofil-a dan suhu permukaan laut diolah menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.8 dan hubungan antar variable dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa hubungan Cephalopholis miniata dengan suhu permukaan laut linier dengan nilai signifikansi < 0,05 yaitu 0,044. Akan tetapi hubungan antar variable lainnya tidak signifikan secara statistik karena memiliki nilai > 0,05. The Pieh Island Marine Conservation Area, West Sumatra has high primary productivity and indicates the fertility of the waters. One of  indicators of water fertility is the chlorophyll-a content and sea surface temperature. The aim of this research is to investigate the relationship between chlorophyll-a content and sea surface temperature on fish abundance Cephalopholis argus and Cephalopholis miniate. The time period used is 2019 – 2023. Chlorophyll-a and sea surface temperature data were processed using ArcGIS 10.8 software and the relationship between variables was analyzed using multiple linear regression analysis. The results show that the relationship Cephalopholis miniate with linear sea surface temperature with a significance value <0.05, namely 0.044. However, the relationship between other variables is not statistically significant because it has a value > 0.05.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Plasma Belangkas Bulan (Tachypleus gigas) Terhadap Bakteri Vibrio parahaemolyticus dari Perairan Selat Madura Anugrah, Alvin Aulafi; Asih, Eka Nurrahema Ning
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.38966

Abstract

Upaya penanggulangan infeksi vibriosis menggunakan antibiotik secara insentif menyebabkankan resistansi dan menurunkan produktifitas budidaya. Perlu dilakukan eksplorasi upaya pencarian bahan alami sebagai anti bakteri Vibrio parahaemolyticus salah satunya menggunakan plasma belangkas yang mengandung Tachyplesin Amoebocyt Lysat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi terbaik dan perbedaan kemampuan zona hambat dari ekstrak plasma Tachypleus gigas terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus pada waktu pengamatan yang berbeda. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap dari dua lokasi pengambilan sampel dan 3 ulangan yaitu perairan Socah-Bangkalan dan Tambak Wedhi-Surabaya. Perlakuan konsentrasi ekstrak 0,05%, 20%, 50%, dan 100% v/v, dan kontrol positif (chloramphenicol) dengan 3 waktu pengamatan yaitu 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Parameter yang diamati adalah Konsentrasi Hambat Minimum dianalisis Uji Kruskal Walis dan Uji Mann Whitney. Hasil menujukkan ada perbedaan nyata antara konsentrasi plasma dalam menghambat aktivitas bakteri uji pada waktu pengamatan berbeda di 2 lokasi tersebut dengan nilai asymp. sig ekstrak dari perairan Socah antara 0.036 (72 jam)-0.049 (48 jam), sedangkan nilai asymp. sig ekstrak dari Tambak Wedi yaitu 0.044 (24 jam). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan konsentrasi ekstrak plasma terbaik untuk menghambat bakteri Vibrio parahaemolyticus dari 2 lokasi penelitian adalah 1:20 ml (0,05%) dengan kisaran zona hambat yang dihasilkan 1,1 ± 0,33 mm (Socah) dan 1,47± 0,38 mm (Tambak Wedi). Hasil penelitian menjadi informasi awal untuk potensi pemanfaat ekstrak plasma Tachypleus gigas di bidang bioteknologi kelautan kedepannya. Efforts to control vibriosis infection using antibiotics intensively cause resistance and reduce cultivation productivity. It is necessary to explore efforts to find natural ingredients as anti-bacterial Vibrio parahaemolyticus, one of which is rapeseed plasma containing Tachyplesin Amoebocyt Lysat. This study aimed to determine the best concentration and differences in inhibition zone ability of Tachypleus gigas plasma extract against Vibrio parahaemolyticus bacteria at different observation times and study locations. The study used an experimental method with a completely randomized design from two sampling locations and three replications, namely Socah-Bangkalan and Wedhi-Surabaya Ponds. Treatment of extract concentrations of 0.05%, 20%, 50%, and 100% v/v, and positive control (chloramphenicol) with three observation times, namely 24 hours, 48 hours, and 72 hours. The observed parameters were minimum inhibitory concentration and inhibition zone diameter, which were analyzed using the Kruskal Walis and Mann-Whitney Test. The results showed a significant difference between the plasma concentrations in inhibiting the activity of the test bacteria at different observation times at the 2 locations with the asymp value. sig extract from Socah waters ranged from 0.036 (72 hours) to 0.049 (48 hours), while the asymp. sig extract from Tambak Wedi is 0.044 (24 hours). The results of the Mann-Whitney test showed that the best concentration of plasma extract to inhibit Vibrio parahaemolyticus bacteria from 2 study sites was 1:20 ml (0.05%) with a range of inhibition zones resulting from 1.1 ± 0.33 mm (Socah) and 1.47 ± 0.38 mm (Tambak Wedi). The results of this study provide initial information for the potential use of plasma extract Tachypleus gigas in the field of marine biotechnology in the future.