cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 687 Documents
Kepadatan Perifiton Epifitik dan Kaitannya dengan Kualitas Perairan di Perairan Senggarang Besar Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau Ginting, Rio Junaydi; Apriadi, Tri; Zulfikar, Andi
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.37104

Abstract

Perifiton merupakan salah satu biota yang dapat dijadikan sebagai indikator ekologis karena sifatnya yang sensitif terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis, kepadatan, indeks ekologi perifiton, status kualitas perairan Senggarang Besar, dan kaitan kepadatan perifiton epifitik dengan kualitas perairan di perairan Senggarang Besar. Titik sampling ditentukan menggunakan metode simple random sampling dan menghasilkan 10 titik sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September tahun 2022. Pengukuran parameter perairan meliputi salinitas, pH, DO, suhu, intensitas cahaya, dan kecepatan arus dilakukan secara in situ sedangkan uji analisis yang meliputi kekeruhan, nitrat, fosfat, dan kepadatan perifiton dilakukan di laboratorium. Pengambilan sampel perifiton dilakukan dengan cara mengerik seluruh permukaan daun, menggunakan 3 kali pengulangan dengan interval 10 hari dan pencacahan menggunakan metode sensus. Didapat 12 genera dengan 3 divisi yaitu dari divisi Bacillariophyta (Navicula sp., Coscinodiscus sp., Nitzschia sp., Synedra sp., Tabellaria sp., Pleurosigma sp., Cyclotella sp., Skeletonema sp., Cylindrotheca sp., dan Bacteriastrum sp.), divisi Dinophyta (Prorocentrum sp.), dan divisi Cyanophyta (Oscillatoria sp.). Jumlah kepadatan totalnya mencapai 1.675 sel/cm2 dengan rata-rata kepadatan tertinggi 125 Ind/cm2 dimiliki oleh genus Navicula sp. Indeks keanekaragaman menunjukkan kondisi tidak stabil, indeks keseragaman dan nilai dominansi menunjukkan kondisi tertekan atau terdegradasi. Status kualitas perairan Senggarang Besar berada dikategorikan tingkat pencemaran sangat ringan/fase saprobik Oligosaprobik. Parameter perairan yang memiliki kaitan erat dengan kepadatan perifiton pada minggu 1 adalah parameter kekeruhan, pada minggu 2 dan 3 parameter kecepatan arus.
Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Kawasan Mangrove Baros, Bantul, Yogyakarta Anandita, Assifa Yusan; Redjeki, Sri; Endrawati, Hadi
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.40544

Abstract

Kawasan ekowisata menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan karena pemandangan alam dan suasananya. Mangrove Baros, Bantul, Yogyakarta menjadi salah satu kawasan ekowisata yang mulai dikembangkan tahun 2022 dan banyak dikunjungi hingga ratusan pengunjung setiap harinya. Kondisi hutan mangrove perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ekowisata sehingga diperlukan perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata serta Daya Dukung Kawasan untuk memberikan informasi terkait kondisi di kawasan ekowisata tersebut. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), menghitung Daya Dukung Kawasan (DDK) yang menampilkan jumlah wisatawan yang dapat ditampung pada kawasan ekowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu kualitatif deskriptif dengan melakukan peninjauan langsung ke kawasan mangrove. Penelitian dilakukan pada 5 stasiun dengan parameter yang diambil yaitu ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, objek biota dan pasang surut serta data sekunder berupa wawancara dan kuisioner. Nilai IKW yang didapatkan dengan presentase tertinggi yaitu stasiun 5 sebesar 64,1% dan presentase terendah pada stasiun 4 sebesar 41% Stasiun 1, 2, 3 dan 4 masuk ke dalam kategori tidak sesuai dan hanya stasiun 5 yang masuk ke dalam kategori sesuai. Hasil perhitungan DDK didapatkan sebesar 282 orang/hari dengan melakukan kegiatan seperti wisata mangrove, memancing dan rekreasi. Rehabilitasi mangrove perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai IKW karena ketebalan mangrove dalam kategori kurang karena faktor utama yang setiap tahunnya mengancam kawasan mangrove yaitu banjir rob.Ecotourism area is one of the most visited tourist destinations by tourists because of its natural scenery and atmosphere. Baros Mangrove, Bantul, Yogyakarta is one of the ecotourism areas which will begin to be developed in 2022 and is visited by hundreds of visitors every day. The condition of mangrove forests needs to be considered in the implementation of ecotourism so that it is necessary to calculate the Tourism Suitability Index and Area Supporting Capacity to provide information regarding conditions in the ecotourism area. The research objective is to determine the value of the Tourism Suitability Index (TSI), calculate the Regional Support Capacity (CC) which displays the number of tourists that can be accommodated in ecotourism areas. The method used in this research is descriptive qualitative by observing the mangrove forest directly. The research was conducted at 5 stations with parameters taken, namely mangrove thickness, mangrove density, mangrove species, biota and tidal objects as well as secondary data in the form of interviews and questionnaires. The TSI value obtained with the highest percentage is station 5 of 64.1% and the lowest percentage is at station 4 of 41% Stations 1, 2, 3 and 4 categorized as an inappropriate category and only station 5 categorized as the appropriate category. The CC calculation results obtained were 282 people/day by carrying out activities such as mangrove tours, fishing and recreation. Mangrove rehabilitation needs to be done to increase the TSI value because the thickness of the mangroves is in the less category because the main factor that threatens the mangrove area every year is tidal flooding.
Sistem Peringatan Dini untuk Banjir Rob dan Sampah Laut: Analisis SWOT Suhardono, Sapta; Sagara, Moh Rizal Ngambah; Suryawan, I Wayan Koko
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.40850

Abstract

Di tengah meningkatnya bencana lingkungan seperti banjir rob dan masalah luas sampah laut, peningkatan kapasitas adaptasi masyarakat menjadi sangat penting. Penelitian ini menyelami tantangan kritis dalam meningkatkan mekanisme adaptasi lokal terhadap bencana lingkungan tersebut, dengan fokus khusus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui implementasi strategis Sistem Peringatan Dini (EWS). Dengan menggunakan pemeriksaan rinci terhadap kondisi saat ini bersamaan dengan analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman) yang komprehensif, studi ini secara teliti menilai tingkat kesiapan teknologi, infrastruktur, dan sosial komunitas dalam menghadapi bencana tersebut. Penyelidikan ini mengungkapkan kebutuhan mendesak untuk EWS yang terintegrasi dengan mulus, yang ditandai dengan kekuatan signifikan seperti potensi teknologi yang muncul dan kesadaran yang meningkat dalam komunitas. Meskipun memiliki kekuatan ini, studi ini menemukan tantangan berat, termasuk ketergantungan yang mencolok pada teknologi yang mungkin tidak dapat diakses secara universal dan adanya resistensi di antara segmen tertentu dari populasi. Mengingat peluang yang disajikan oleh kebijakan pemerintah yang mendukung dan kemajuan teknologi, di tengah ancaman seperti perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi dan kekhawatiran atas keamanan data, penelitian ini mengusulkan model implementasi EWS yang inklusif dan kolaboratif. Studi ini menyimpulkan bahwa EWS, ketika diterapkan secara strategis melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan semua pemangku kepentingan mulai dari komunitas lokal hingga badan pemerintah dan mitra teknologi, dapat berfungsi sebagai langkah efektif untuk menangkal bencana lingkungan. Pendekatan semacam itu tidak hanya memastikan ketahanan komunitas tetapi juga menumbuhkan budaya kesiapsiagaan dan kapasitas adaptasi yang esensial untuk mengurangi dampak tantangan lingkungan yang semakin sering dan parah ini. In the face of escalating environmental calamities such as rob flood disasters and the pervasive issue of marine debris, enhancing community adaptive capacities has never been more crucial. This research delves into the critical challenge of bolstering local adaptive mechanisms against these environmental disasters, focusing on elevating community preparedness through the strategic implementation of an Early Warning System (EWS). This study meticulously assesses communities ' technological, infrastructural, and social preparedness in confronting such disasters by utilizing a detailed examination of current conditions alongside a comprehensive SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis. The investigation reveals a compelling need for a seamlessly integrated EWS, underscored by considerable strengths such as the potential of emerging technologies and heightened awareness within the community. Despite these strengths, the study uncovers formidable challenges, including a marked dependence on technology that may not be universally accessible and the presence of resistance among certain segments of the population. Considering opportunities presented by supportive government policies and advancements in technology against a backdrop of threats like unpredictable climate changes and concerns over data security, the research proposes a model for EWS implementation that is both inclusive and collaborative. The study concludes that an EWS, when strategically deployed through a participatory approach that engages all stakeholders ranging from local communities to government bodies and technological partners can serve as an effective countermeasure to environmental disasters. Such an approach not only ensures the resilience of communities but also fosters a culture of preparedness and adaptive capacity that is essential for mitigating the impacts of these increasingly frequent and severe environmental challenges.
Penilaian Stok Karbon Ekosistem Padang Lamun Di Pesisir Tukak, Kabupaten Bangka Selatan Saputra, Handika; Nugraha, Mohammad Agung; Hudatwi, M'ualimah
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.33988

Abstract

Lamun memiliki peranan penting sebagai penyerap CO2 di lautan dan disebut dengan istilah karbon biru yang dapat dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Padang lamun memiliki kemampuan menyimpan dan menyerap karbon yang befungsi untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Dampak pemanasan global terhadap lingkungan dapat menyebabkan kenaikan permukaan air laut serta peningkatan keasaman air laut. Pantai Tukak berada di selatan Pulau Bangka. Pantai Tukak memiliki banyak potensi perikanan dan kelautan di ekosistem pesisir, salah satunya ekosistem padang lamun. Selain itu, adanya aktifitas pemukiman, pariwisata, tambak udang, pelabuhan dan penangkapan ikan diestimasi akan mempengaruhi ekosistem padang lamun di Pantai Tukak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji stok karbon pada biomassa dan substrat padang lamun di Pantai Tukak, Kabupaten Bangka Selatan. Metode yang digunakan untuk mengetahui nilai biomassa dan karbon adalah metode pengeringan dan pengabuan. Untuk mengidentifikasi tutupan lamun menggunakan metode transek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa lamun berkisar 474,29-1590,48 gbk/m, sedangkan pada substrat lamun berkisar 46,29-47,54 gC/m2. Nilai stok karbon 39,37 tonC/Ha dengan luas 211.483 Ha. Cadangan karbon yang tersimpan di padang lamun dipengaruhi oleh luas lamun dan kerapatan lamun. Spesies lamun yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu Thallassia hemprhicii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulate, dan Halophila uninervis. Untuk kerapatan lamun diperoleh nilai berkisar antara 0,36-152,97 tegakan/m2 sedangkan tutupan lamun di Pantai Tukak berkisar 8,31%-78,81% pada setiap stasiun.  Seagrass has an important role as a CO2 absorber in the ocean and is called blue carbon which can be utilized in the photosynthesis process. Seagrass have the ability to store and absorb carbon which functions to reduce the impact of global warming. The impact of global warming on the environment can cause sea levels to rise and sea water acidity to increase. Tukak Beach is in the south of Bangka Island. Tukak Beach has a lot of fisheries and marine potential in coastal ecosystems, one of which is the seagrass ecosystem. Apart from that, residential activities, tourism, shrimp ponds, ports and fishing are estimated to affect the seagrass ecosystem on Tukak Beach. The aim of this research is to assess carbon stocks in biomass and seagrass substrates on Tukak Beach, South Bangka Regency. The method used to determine biomass and carbon values is the drying and ashing method. To identify seagrass cover using the transect method. The research results showed that seagrass biomass ranged from 474.29 to 1590.48 gC/m2, while seagrass substrate ranged from 46.29 to 47.54 gC/m2. The carbon stock value is 39.37 tonC/Ha with an area of 211,483 Ha. Carbon reserves stored in seagrass beds are influenced by seagrass area and seagrass density. The seagrass species found at the research location were Thallassia hemprhicii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulate, and Halophila uninervis. For seagrass density, values obtained ranged from 0.36-152.97 stands/m2, while seagrass cover at Tukak Beach ranged from 8.31%-78.81% at each station. 
Histopatologi Organ Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) sebagai Bioindikator Perairan Teluk Kupang, NTT Juanda, Shobikhuliatul Jannah; Lukmini, Aisyah; Rahman, Ihsan Sanggar; Panuntun, Muhammad Fajar
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.41175

Abstract

Saat ini, informasi tentang respon fisiologis biota akuatik yang hidup di perairan Teluk Kupang masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menghitung intensitas dan prevalensi parasit serta menganalisis kerusakan organ pada kerapu bebek yang diambil dari perairan Teluk Kupang. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Juli 2023. Sampel ikan yang digunakan adalah ikan kerapu hidup yang ditangkap oleh nelayan, selanjutnya Ikan dibawa ke laboratorium untuk diamati gejala klinis morfologinya yang meliputi bentuk, kondisi tubuh ikan, warna, sirip, sisik dan insang. Pengamatan ektoparasit dilakukan pada lendir tubuh, sirip dan insang, sedangkan endoparasit diambil pada usus ikan. Preparasi histologi dilakukan pada organ insang dan usus ikan. Analisis histopatologi dilakukan dengan pengamatan secara mikroskopik pada masing-masing organ selanjutnya dibandingkan dengan gambaran histopatologi yang didapatkan dari referensi jurnal yang relevan yang mencakup struktur jaringan mikroskopik dari organ serta kerusakannya. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya gejala klinis morfologi, namun pada pengamatan ektoparasit dan endoparasit ditemukan parasit yang menginfestasi yaitu Anisakis sp. Intensitas ektoparasit Anisakis sp 0,67 ind/ekor yang artinya infeksi sangat rendah dengan nilai prevalensi 57,14% yang termasuk infeksi sangat sering. Nilai intensitas endoparasit sebesar 1 ind/ekor yang artinya infeksi rendah dan prevalensi 85,71% yang termasuk infeksi serangan sedang. Beberapa kerusakan jaringan insang yang ditemukan antara lain edema lamela primer dan sekunder, proliferasi sel mukus, clubbing, fusi lamela primer dan sekunder, adanya vakuola, telangiektasis, hiperplasia lamela sekunder, degenerasi lamela sekunder, lisis, kemunculan protozoa dan parasit. Sedangkan kerusakan pada usus yaitu nekrosis, edema, erosi vili, perlemakan, hemoragi, lisis, adanya vakuola dan kemunculan parasit dan protozoa.   Currently, the information about physiological responses of aquatic biota in Kupang Bay is still very minimal. This research aims to identify, calculate the intensity and prevalence of parasites and organ damage analyzed in Barramundi Cod Grouper taken from Kupang Bay. This research was carried out during July 2023. The sample of fishes caught by fisherman and taken to the laboratory to be observed for clinical morphological symptoms, such us shape, fish’s body, color, fins, scales and gills. Ectoparasites were observed in the body mucus, fins and gills, while endoparasites in the intestines. Histological preparastions were carried out on the gills and intestines. Histopathological analysis were carried out by microscopic observation of each organ and then compared with the image obtained from relevant journal references which includes the microscopic tissue structure and its damages. In this study, no morphological clinical symptoms were found, however, when observing ectoparasites and endoparasites, parasities was found, namely Anisakis sp. The intensity of the Anisakis sp ectoparasites is 0.67 ind/tail (very low infection) with a prevalence of 57.14% (very frequent attack). The endoparasites intensity is 1 ind/tail (low infection) and a prevalence of 85.71%, (moderate attack). Some of the gill tissue damage found includes primary and secondary lamella edema, mucus cell proliferation, clubbing, primary and secondary lamella fusion, vacuoles, telangiectasis, secondary lamella hyperplasia, secondary lamella degeneration, lysis, the appearance of protozoa and parasities. Meanwhile, the intestines includes necrosis, edema, villous erosion, fatty, hemorrhage, lysis, the presence of vacuoles and the appearance of parasites and protozoa.
Perbandingan Jumlah Cadangan Karbon Mangrove Aboveground dan Belowground di Gili Petagan, Sambelia, Lombok Timur Asiah-Z.A., Siti; Puna, Salvina H.; Lestariningsih, Wiwid A.; Rahman, Ibadur
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43504

Abstract

Pemanasan global terjadi karena kandungan karbondioksida di udara terus meningkat. Mangrove dapat menyerap karbon dan menyimpannya di akar, batang, dan daun. Selain itu, substrat di kawasan mangrove juga mampu menyimpan karbon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah cadangan karbon di aboveground dan belowground pada kawasan mangrove Gili Petagan, Sambelia, Lombok Timur. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2023 di kawasan mangrove Gili Petagan, dan analisis data karbon dilakukan di Laboratorium Kimia Tanah, Universitas Mataram. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif, pengumpulan data karbon pada sedimen mangrove dilakukan menggunakan sediment corer pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Analisis karbon pada tegakan mangrove menggunakan persamaan alometrik, sedangkan karbon substrat dihitung menggunakan metode Colorimetri Walkey and Black. Hasil yang didapatkan yaitu terdapat 4 jenis mangrove, yaitu Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Sonneratia alba. Estimasi cadangan karbon bagian batang (aboveground) mangrove sebesar 161,77 ton/ha, sedangkan pada bagian akar dan substrat (belowground) di kawasan mangrove Gili Petagan sebesar 112,02 ton/ha.Total jumlah cadangan karbon bagian atas (aboveground) mangrove di Gili Petagan lebih tinggi dibandingkan bagian bawah (belowground).  Global warming is occurring due to the continuous increase in carbon dioxide content in the air. Mangroves can absorb carbon and store it in their roots, stems, and leaves. Additionally, the substrate in mangrove areas is also capable of storing carbon. This research was conducted to determine the amount of carbon reserves in aboveground and belowground areas in the mangrove area of Gili Petagan, Sambelia, East Lombok. The research was conducted from May to August 2023 in the mangrove area of Gili Petagan, and carbon data analysis was carried out at the Soil Chemistry Laboratory, University of Mataram. The research method used was descriptive exploratory, carbon data collection on mangrove sediments was carried out using a sediment corer at depths of 0-30 cm and 30-60 cm. Carbon analysis in mangrove stands was done using allometric equations, while substrate carbon was calculated using the Walkey and Black Colorimetric method. The results obtained were that there are 4 types of mangroves, namely Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, and Sonneratia alba. The estimated carbon reserves for mangrove stems (aboveground) is 161.77 tons/ha, while for roots and substrate (belowground) in the Gili Petagan mangrove area is 112.02 tons/ha. The total amount of carbon reserves for aboveground mangrove in Gili Petagan is higher than the belowground.
Pemetaan Moluska Komoditas Ekspor dan Impor Melalui Balai Besar KIPM Jakarta I Muhaemin, Moh; Nabila, Nabila; Mayaguezz, Henky; Purnama, Muhammad Gufron; Saputra, Ishaaq
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.42736

Abstract

Indonesia has high biodiversity and it has the opportunity to expand as fisheries business in the international commodity market. The research aims to analyze the diversity of mollusk species, map the distribution, and analyze the sustainability of these commodities in the Indonesian export and import markets. The research conducted at the Jakarta I Fish Quarantine Center for Quality Control and Safety of Fishery Products (BBKIPM) on January to February 2023. The data used comes from data available at BBKIPM Jakarta 1 on 2021 to 2022 periods. The method used is descriptive quantitative analysis. The results showed that mollusk commodities traded in exports were more diverse than imported mollusks. The most commodity classes are pelecypod (35 species), gastropods (12 species) and cephalopods (12 species). The total number of exported mollusk commodities (4,823,969.879 kg) is higher than imports (7,281.04 kg) on 2021 to 2022 periods. Mollusk exports from Indonesia spread to 44 countries on 2021 to 2022 periods. Meanwhile, mollusk imports to Indonesia only came from 2 countries (2021) and either from 1 country (2022).
Karakteristik Sarang Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Jeen Yessa, Papua Barat - Indonesia Hasanah, Arifatul; Kolibongso, Duaitd; Lontoh, Deasy
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.38103

Abstract

Pantai Jeen Yessa merupakan salah satu tempat bertelur bagi beberapa spesies penyu di Pasifik Barat, dengan sekitar 75% peneluran terjadi di pantai utara semenanjung Bentang Laut Kepala Burung di wilayah Abun, Papua Barat. Wilayah ini memiliki karakteristik suhu yang tinggi dan kelembaban yang rendah. Kedua faktor tersebut memainkan peran penting dalam keberhasilan reproduksi. Penelitian ini merupakan salah satu studi pertama mengenai karakteristik morfologi sarang penyu lekang (L. olivacea) di Pantai Jeen Yessa, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan regional mengenai spesies ini serta membantu dalam pengelolaan perlindungan setempat. Survei ini dilakukan di tiga lokasi selama musim bertelur pada Mei-Juli 2022. Karakteristik sarang L. olivacea: rata-rata bagian atas sarang 30 ± 5,41 (rata-rata ± SD) cm (kisaran 20 - 43 cm, n = 34); bagian bawah sarang 42 ± 5,14 (rata-rata ± SD) cm (kisaran 32 - 54 cm, n = 34); dan lebar sarang 27,3 ± 4,87 (rata-rata ± SD) cm (kisaran 18 - 38 cm, n = 34). Masa inkubasi antara kedua lokasi bervariasi: Warmamedi 62,5 hari ± 4,5 dan Batu Rumah 48,7 hari ± 1,8 (rata-rata ± SD). Rata-rata keberhasilan penetasan adalah 78,3%, dan tingkat kematian 21,7% (jumlah telur yang dihitung = 2.367). Penelitian lebih lanjut mengenai metode inkubasi buatan sangat disarankan, karena ini bisa menjadi pilihan penting untuk melestarikan populasi penyu.  Jeen Yessa Beach is one of the nesting sites for several turtle species in Western Pasific, with approximately 75% of nesting occurring on the northern coast of the Bird’s Head Seascape peninsula in the Abun region of West Papua. This region is characterized by high temperatures and low humidity. Both factors play an important role in reproductive success. This is one of the first studies on the morphological characteristics of the nest of the olive ridley turtle (L. olivacea) on the Jeen Yessa beach, and it is expected to contribute to regional knowledge of this species and aid in local protection management. The survey was conducted in three locations during the nesting season in Mei-July 2022. L. olivacea nest characteristics: average nest top 30 ± 5.41 (mean ± SD) cm (range 20 – 43 cm, n = 34); nest bottom 42 ± 5.14 (mean ± SD) cm (range 32-54 cm, n = 34); and a nest width of 27.3 ± 4.9 (mean ± SD) cm (range 18 – 38 cm, n = 34). The incubation period between the two sites varies: Warmamedi 62.5 days ± 4.5 and Batu Rumah 48.7 days ± 1.8 (mean ± SD). The average hatching success was 78.3%, and the mortality rate was 21.7% (eggs counted = 2,367). More research into artificial incubation methods is recommended, as this could be an important option for preserving some sea turtle populations.
Komposisi dan Tutupan Kanopi Mangrove Di Desa Wolowa Kabupaten Buton Wibowo, Krisna Prasetyo; Pribadi, Rudhi; Susanto, AB.
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43306

Abstract

Mangrove yang terdapat pada kawasan pesisir Desa Wolowa merupakan salah satu kawasan hutan mangrove yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kurangnya data pada lokasi penelitian menjadi alasan dilakukannya penelitian pada lokasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman vegetasi mangrove beserta komponen-komponen yang terdapat didalamnya. Selain itu, penelitian ini digunakan untuk menganalisis persentase tutupan kanopi mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penentuan lokasinya menggunakan metode porposive sampling dan untuk menganalisis tutupan kanopinya menggunakan metode Hemispherical photography. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - Juli 2023. Penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun berbeda, dengan masing-masing stasiunnya terdiri dari tiga plot penelitian. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya 5 spesies mangrove. Untuk nilai persentase tutupan kanopi mangrove berkisar antara 50,15% - 75-51%. Persentase tutupan dengan kategori sedang merupakan kategori paling mendominasi pada lokasi penelitian  Mangroves in the coastal area of Wolowa Village are one of the mangrove forest areas on Buton Island, Southeast Sulawesi. The lack of data at the research location is the reason for conducting research at that location. The purpose of this study was to determine the diversity of mangrove vegetation and the components contained therein. In addition, this study was used to analyze the percentage of mangrove canopy cover. The method used in this research is descriptive method. Determination of its location using porposive sampling method and to analyze its canopy cover using Hemispherical photography method. This research was conducted in March - July 2023. This research was conducted at three different stations, with each station consisting of three research plots. The results of this study were found 5 mangrove species. For the percentage value of mangrove canopy cover ranged from 50.15% - 75-51%. The percentage of cover in the medium category is the most dominating category in the research location.
Pemanfaatan Citra Sentinel-2 Untuk Pemetaan Sebaran Padang Lamun Di Perairan Pulau Panjang, Jepara Huda, Juan Syamsul; Pratikto, Ibnu; Riniatsih, Ita
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.36212

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup diperairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Ekosistem padang lamun memiliki fungsi penting seperti produktivitas primer, sumber makanan, penstabil perairan, tempat asuhan dan habitat biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehingga sebarannya di perairan perlu dikaji. Sebaran lamun yang yang terdapat di Pulau Panjang tersebut harus dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Pemantauan untuk melihat kondisi atau tutupan lamun dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh telah dinilai efektif dan efisien untuk memperoleh informasi spasial karena kecepatan untuk memperoleh data dan cakupan yang luas dan telah menjadi pelengkap metode konvensional atau berdasarkan transek survei. Lokasi penelitian yaitu di Pulau Panjang perlu adanya kajian untuk memberikan informasi mengenai sebaran lamun dengan dilakukannya pemetaan menggunakan data citra Sentinel- 2. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan memetakan ekosistem padang lamun di Pulau Panjang menggunakan metode line transek sehingga dapat mengetahui komposisi lamun dan kerapatan lamun. Pengolahan data spasial menggunakan citra Sentinel- 2 yang diolah dengan algoritma lyzenga dan validasi data lapangan. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhalus acoroides. Uji akurasi juga dilakukan untuk mengetahui keakuratan data hasil klasifikasi citra satelit dengan kondisi lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa citra yang digunakan memilki tingkat akurasi 70% dan akurasi kappa sebesar 0,4. Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass ecosystems have important functions such as primary productivity, food sources, water stabilizers, nurseries and habitats for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. The distribution of seagrass in Panjang Island must be managed properly so that it can be utilized optimally and sustainably. Monitoring to see the condition or cover of seagrass can use remote sensing methods. Remote sensing methods have been assessed as effective and efficient for obtaining spatial information due to the speed to obtain data and wide coverage and have become complementary to conventional methods or based on survey transects. The research location is on Panjang Island, there needs to be a study to provide information about the distribution of seagrass by mapping using Sentinel-2 image data. seagrass. Spatial data processing uses Sentinel-2 imagery which is processed with the lyzenga algorithm and field data validation. Based on the research, it is known that in Panjang Island four species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhalus acoroides. Accuracy tests were also carried out to determine the accuracy of the data from the classification of satellite imagery with field conditions. Based on the results of the study, it can be concluded that the image used has an accuracy rate of 70% and a kappa accuracy of 0.4.