cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Estimasi Stok Karbon pada Tegakan Lamun Enhalus acoroides di Malang Rapat, Kabupaten Bintan Ayie Davila Lubis; Roseani Baiti Rohmah; Hilman Wiranata; Jelita Rahma Hidayati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.46699

Abstract

Emisi karbon dioksida (CO2) telah meningkat di atmosfer menyebabkan peningkatan gas rumah kaca dan terjadinya pemanasan global. Salah satu metode penurunan emisi yaitu kemampuan organisme yang mampu menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Lamun merupakan organisme autotroph yang berpotensi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, dimana lamun menyerap sebagian karbon untuk menghasilkan energi, dan lainnya disimpan sebagai biomassa. Penelitian estimasi stok atau simpanan karbon bertujuan untuk mengevaluasi dan mengestimasi karbon pada tegakan lamun, khususnya Enhalus acoroides, di Desa Malang Rapat, Kabupaten Bintan. Penelitian dilakukan mulai bulan April-Agustus 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa metode line transect untuk pengambilan data lamun. Estimasi stok karbon pada lamun menggunakan metode LOI (Loss of Ignition). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 3 jenis lamun yaitu E. acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata.  Persentase tutupan lamun tertinggi menunjukkan nilai 29,55% di stasiun 2 yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kerapatan lamun jenis E. acoroides tertinggi menunjukkan nilai sebesar 193,09 tegakan/m2 dengan kategori sangat rapat di stasiun 3. Biomassa lamun diukur pada ketiga stasiun, dengan biomassa bawah substrat dominan lebih tinggi daripada biomassa atas substrat. Hasil analisis simpanan karbon biomassa atas maupun bawah substrat diketiga stasiun berkisar antara 4.368,81–19.661,83 gC/m2, dengan stasiun 3 menunjukkan nilai stok karbon tertinggi. Carbon dioxide (CO2) emissions have increased in the atmosphere, causing an increase in greenhouse gases and global warming. One method of reducing emissions is the ability of organisms to absorb CO2 through the process of photosynthesis. Seagrasses are autotroph organisms that have the potential to absorb and store carbon, where seagrasses absorb some carbon to produce energy, and others are stored as biomass. Carbon stock estimation research aims to evaluate and estimate carbon in seagrass stands, especially Enhalus acoroides, in Malang Rapat Village, Bintan Regency. The research was conducted from April-August 2024. The method used in this study was the line transect method for seagrass data collection. Estimation of carbon stock in seagrass using LOI (Loss of Ignition) method. Based on the results of the study, 3 types of seagrass were found, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata.  The highest percentage of seagrass cover showed a value of 29.55% at station 2 which was included in the medium category, while the highest density of seagrass species Enhalus acoroides showed a value of 193.09 stands/m2 with a very tight category at station 3. Seagrass biomass was measured at all three stations, with the dominant bottom substrate biomass higher than the top substrate biomass. The results of carbon stock analysis of both above and below substrate biomass at the three stations ranged from 4,368.81-19,661.83 gC/m2, with station 3 showing the highest carbon stock value.
Perbandingan Kinerja Indeks CMRI dan MVI untuk Pemetaan Mangrove Menggunakan Citra Sentinel-2 pada Berbagai Kondisi Pesisir di Jawa, Indonesia Ummu Salma; Ayu Wulansari Pramita
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.54829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja Combined Mangrove Recognition Index (CMRI) dan Mangrove Vegetation Index (MVI) dalam pemetaan hutan mangrove menggunakan citra Sentinel-2 pada tiga tipe pesisir tropis di Jawa, Indonesia, yaitu Pulau Karimunjawa (perairan jernih), Pulau Pari (substrat karbonat cerah), dan Desa Ujungalang–Cilacap (delta keruh). Kedua indeks dievaluasi menggunakan metode threshold otomatis Otsu dan validasi berbasis confusion matrix dengan 200 titik referensi dari citra resolusi tinggi Maxar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMRI secara konsisten memberikan akurasi lebih tinggi dibanding MVI, dengan overall accuracy berkisar antara 0,73–0,96 dan koefisien Kappa 0,47–0,91, sementara MVI hanya kompetitif di lingkungan berair jernih dan mengalami penurunan akurasi hingga 0,61 (κ ≈ 0,22) di lingkungan berair keruh dan bersubstrat cerah. Analisis histogram menunjukkan bahwa reflektansi substrat terang di Pulau Pari meningkatkan threshold CMRI dan kesalahan omisi, sedangkan kekeruhan tinggi di Ujungalang menurunkan separabilitas spektral MVI. Sebaliknya, kondisi optik stabil di Karimunjawa memungkinkan kedua indeks beroperasi optimal. Hasil ini menegaskan bahwa CMRI lebih adaptif terhadap variasi optik dan geomorfologi pesisir, menjadikannya indeks yang lebih andal untuk pemetaan mangrove skala regional di Indonesia, meskipun kalibrasi ambang lokal tetap diperlukan untuk meningkatkan konsistensi antarwilayah sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengelola pesisir dan instansi terkait sebagai dasar pemilihan indeks vegetasi yang lebih sesuai dengan kondisi optik lokal dalam pemantauan mangrove berbasis citra Sentinel-2, khususnya untuk mendukung perencanaan konservasi dan evaluasi perubahan tutupan mangrove di wilayah pesisir Indonesia This study compares the performance of the Combined Mangrove Recognition Index (CMRI) and Mangrove Vegetation Index (MVI) for mangrove mapping using Sentinel-2 imagery across three contrasting coastal environments in Java, Indonesia: Karimunjawa Island (clear oceanic water), Pari Island (bright carbonate substrate), and Ujungalang–Cilacap (turbid estuarine delta). Both indices were classified using the global Otsu thresholding method and validated through a confusion matrix based on 200 reference points from high-resolution Maxar imagery. Results indicate that CMRI consistently outperforms MVI, achieving overall accuracies between 0.73–0.96 and Kappa coefficients of 0.47–0.91, while MVI performs comparably only in clear-water environments but declines to 0.61 (κ ≈ 0.22) in turbid or bright-substrate conditions. Histogram analyses reveal that high carbonate reflectance in Pari Island elevates CMRI thresholds and omission errors, whereas suspended sediments in Ujungalang reduce MVI’s spectral separability. Conversely, stable optical conditions in Karimunjawa allow both indices to perform optimally. These findings demonstrate that CMRI is more resilient to optical variability and coastal geomorphology, making it a reliable baseline index for regional-scale mangrove mapping in Indonesia, although local threshold calibration remains necessary for consistent cross-site applications.
Karakteristik Fisik Bioplastik Kitosan Dengan penambahan Selulosa Kulit Nipah (Nypa fruticans) Ari Kristiningsih; Khoeruddin Wittriansyah; Hety Dwi Hastuti; Jenal Sodikin
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.47813

Abstract

Plastik konnvesional berbahan dasar minyak bumi membutuhkan waktu yang lama untuk terurai yang dapat menimbulkan masalah lingkungan. Bioplastik menjadi salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan mengenai penggunaan plastik konvensional. Pada penelitian ini,  bioplastik yang dikembangkan adalah kitosan. Kitosan dari limbah kulit udang memiliki ketersediaan di alam cukup melimpah, elastis serta mempunyai sifat anti mikroba dan anti kanker. Bioplastik dari kitosan memiliki kekurangan pada sifat fisiknya, sehingga diperlukan komponen tambahan untuk memperbaiki sifat fisiknya. Penelitian ini menambahkan selulosa pelepah nipah sebagai bahan penguat struktur fisik bioplastik kitosan. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik  fisik bioplastik kitosan yang ditambahkan selulosa dari pelepah nipah. Penelitian dimulai dengan pembuatan selulosa pelepah nipah dan kitosan kulit udang yang kemudian dilanjutkan dengan sintesa bioplastik. Bioplastik dibuat dengan menambahkan selulosa kedalam larutan kitosan 15% dengan selulosa pelepah nipah dengan tiga konsentrasi yang berbeda (0%, 0,2% dan 0,4%). Hasil sintesa kemudian dikarakterisasi secara fisik meliputi, uji kuat tarik, uji biodegradable dan analisis Scanning Electroscope Microscope (SEM). Bioplastik kitosan dengan penambahan selulosa pelepah nipah memiliki warna yang bening dan akan meningkat menjadi cokelat seiring dengan penambahan selulosa, nilai kuat tarik  4 – 27,14 Mpa. Berdasarkan uji biodegrable, bioplastik hasil penelitian sudah mulai terurai pada hari ketiga . Dari hasil analisa SEM didapati bahwa penambahan selulosa dapat memperbaiki struktur bioplastik menjadi lebih menyatu.Conventional plastics made from petroleum take a long time to decompose, which can cause environmental problems. Bioplastics are one solution to solve the problem of using conventional plastics. In this study, the bioplastic developed was chitosan. Chitosan from shrimp shell waste is abundant in nature, elastic, and has antimicrobial and anticancer properties. Bioplastics from chitosan have shortcomings in their physical properties, so additional components are needed to improve their physical properties. This study added nipah leaf stalk cellulose as a reinforcing material for the physical structure of chitosan bioplastics. The purpose of this study is to see the physical characteristics of chitosan bioplastics added with cellulose from nipah leaf stalks. The study began with the manufacture of nipah leaf stalk cellulose and shrimp shell chitosan which was then continued with the synthesis of bioplastics. Bioplastics are made by adding cellulose to a 15% chitosan solution with Nipah frond cellulose with three different concentrations (0%, 0.2%, and 0.4%). The synthesis results were then physically characterized including tensile strength test, biodegradable test, and Scanning Electroscope Microscope (SEM) analysis. Chitosan bioplastic with the addition of nipah frond cellulose has a clear color and will increase to brown along with the addition of cellulose, tensile strength value of 4 - 27.14 Mpa. Based on the biodegradable test, the bioplastic from the research began to decompose on the third day. From the results of SEM analysis, it was found that the addition of cellulose can improve the structure of the bioplastic to be more unified.
Morphometric And Meristic Variations of Threadfin Breams Fish (Family: Nemipteridae) in Kupang: A Comparative Study from Oeba Fish Landing Site and Oesapa Fish Market Umbu Domu Wora; Nenik Kholilah; Fanny Iriany Ginzel; Krisman Umbu Henggu
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.52734

Abstract

Threadfin Bream fish (Nemipteridae) are among the frequently landed species at the Oeba Fish Landing Site and the Oesapa Fish Market in Kupang City, East Nusa Tenggara, Indonesia. These fish are widely consumed by local communities, sold in domestic markets, and exported. This study aimed to analyze the morphometric and meristic characteristics of Threadfin Bream fish and compare the morphological variations of specimens collected from two distinct locations: TPI Oeba and Oesapa Market. The research was conducted from April to May 2023. Four species of Threadfin Bream were identified: Nemipterus japonicus, N. hexodon, N. zysron, and N. aurora. A total of 18 morphometric and 10 meristic characters were measured. The recorded total lengths were: N. japonicus (215 mm), N. hexodon (197 mm), N. zysron (247 mm), and N. aurora (242 mm). Average meristic characteristics included dorsal fin rays D.X.9, pectoral fin rays P.14, ventral fin rays V.I.5, anal fin rays A.III.7, and caudal fin rays C.20. Additional scale counts ranged as follows: pre-dorsal scales (36–41), lateral line scales (137–142), caudal peduncle scales (26–34), transverse body scales (131–169), and caudal fin height (0.8–1.3 mm). These findings contribute baseline data essential for the conservation and sustainable management of Threadfin Bream populations in the coastal waters of Kupang City.
Kelimpahan Makro Debris Di Ekosistem Mangrove Teluk Benoa, Bali Ameta Br Peranginangin; Ni Made Ernawati; Ni Luh Gede Rai Ayu Saraswati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.46213

Abstract

Makro debris ialah sampah yang ditemukan di perairan, dengan ukuran panjang antara 25 cm hingga 1 m. Sampah ini sering ditemukan pada saat air pasang atau surut. Makro debris yang terakumulasi di wilayah pesisir bisa memberi dampak secara ekologis ataupun ekonomi sebab bisa mengganggu stabilitas ekosistem serta keberlangsungan hidup organisme. Salah satu ekosistem yang sering menjadi tempat tersangkutnya sampah dalam jumlah besar adalah ekosistem mangrove. Penelitian ini mempunyai tujuan dalam mengidentifikasi komposisi dan kelimpahan makro debris yang tersebar di Kawasan Mangrove Teluk Benoa, Kabupaten Badung, Bali. Tahap penelitian yang dilakukan dimulai dari observasi secara langsung dan penentuan titik stasiun penelitian, dan pembuatan transek dengan ukuran 5 x 5 meter. Penelitian ini mengidentifikasi komposisi dan kelimpahan makro debris di ekosistem mangrove Teluk Benoa, Bali, dengan fokus pada sampah plastik, kaca, logam, kain, dan karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi makro debris terdiri plastik dari plastik (780 item, 89,45%), diikitu oleh karet (41 item, 4,70%), kain (25 item, 2,87%), kaca (15 item, 2,87%), dan logam (11 item, 1,72%). Berat makro debris tertinggi yang ditemukan ialah jenis plastik atas nilai total 24433 g dengan rata-rata berat 2714,78 dan yang paling kecil terdapat pada jenis logam atas nilai total 1142 g dengan rata-rata berat 252,44. Makro debris yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah jenis plastik yaitu sebesar 7,8 item/m2, sedangkan kelimpahan terendah adalah jenis logam yaitu sebesar 0,11 item/m2 makro debris.
Analisis Jenis dan Kerapatan Epifit pada Beberapa Lamun di Pantai Blebak, Jepara Sri Kandhini; Haeruddin Haeruddin; Arif Rahman; Kukuh Prakoso
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.43743

Abstract

Pantai Blebak merupakan salah satu pantai di Kabupaten Jepara yang memiliki karakteristik sebaran lamun bervariasi, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium. Tingginya aktivitas dan pemanfaatan pada lokasi tersebut, dikhawatirkan dapat mengganggu ekosistem padang lamun dan epifit yang menempel pada lamun. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Mengetahui jenis dan kerapatan epifit pada lamun. (2) Mengetahui indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi epifit pada lamun. (3) Mengetahui perbedaan kerapatan epifit antar jenis lamun. (4) Menganalisis hubungan antara parameter fisika dan kimia perairan terhadap kerapatan epifit pada lamun. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus - Oktober 2023. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan menggunakan line transect yang diletakkan sepanjang 100 meter tegak lurus garis pantai sebanyak 3 transek. Metode pengambilan sampel epifit dilakukan dengan metode sapuan, yaitu daun lamun yang telah dipotong kurang lebih 5 x 2 cm2 dikerik kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquades dan Lugol 1%. Jenis epifit yang ditemukan pada lamun di Pantai Blebak terdiri dari 7 kelas dan 21 genera dengan kerapatan 52929 – 231200 sel/cm2 dan paling banyak ditemukan pada kelas Bacillariophyceae. Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori rendah, indeks keseragaman termasuk dalam kategori sedang, indeks dominansi termasuk dalam kategori sedang yang artinya tidak ada individu yang mendominasi. Analisis perbedaan kerapatan epifit menggunakan Uji Kruskal-Wallis, yaitu kerapatan epifit antar jenis lamun menunjukkan tidak adanya perbedaan. Parameter yang berkorelasi positif dan kuat terhadap kerapatan epifit yaitu salinitas.Blebak Beach is one of the beaches in Jepara Regency which has a varied distribution of seagrass characteristics, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata and Syringodium isoetifolium. It is feared that the high activity and use of this location could disrupt the seagrass ecosystem and the epiphytes attached to the seagrass. The objectives of this research are (1) To determine the type and density of epiphytes in seagrass. (2) Knowing the index of diversity, uniformity and dominance of epiphytes in seagrass. (3) Knowing the differences in epiphyte density between seagrass types. (4) Analyzing the relationship between physical and chemical parameters of waters on the density of epiphytes in seagrass. The research was conducted in August - October 2023. The method used was a purposive sampling method using line transects placed along 100 meters perpendicular to the coastline with 3 transects. The epiphyte sampling method was carried out using a sweeping method, namely seagrass leaves that had been cut to approximately 5 x 2 cm2 were scraped and then put into a bottle containing distilled water and 1% Lugol. The types of epiphytes found in seagrass at Blebak Beach consist of 7 classes and 21 genera with a density of 52929 – 231200 cells/cm2 and are mostly found in the Bacillariophyceae class. The diversity index is included in the low category, the uniformity index is included in the medium category, the dominance index is included in the medium category, which means there is no dominating individual. Analysis of differences in epiphyte density using the Kruskal-Wallis test, namely the density of epiphytes between seagrass types showed no differences. The parameter that has a positive and strong correlation with epiphyte density is salinity.
Stabilitas Ekosistem Marikultur Udang Vannamei pada Komunitas Fitoplankton melalui Indeks Saprobik di Desa Kedongkelor, Kabupaten Pemalang Fadil Apresia; Nazariano Rahman Wahyudi
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.50555

Abstract

Kolam marikultur yang mengalami akumulasi sisa pakan dari biota, seperti udang dibiarkan menumpuk sehingga berpotensi menjadi toksik akibat senyawa amonia dan nitrit yang tinggi, terutama jika tidak dilakukan pembersihan rutin serta pemberian probiotik guna menguatkan peran fitoplankton sebagai dekomposer. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif, khususnya terhadap mahluk renik dan biota marikultur dalam perairan. Keanekaragaman fitoplankton adalah mahluk alami yang digunakan sebagai dekomposisi zat-zat organik tanpa menyebabkan kualitas air menurun. Penelitian ini untuk mengetahui suatu komunitas fitoplankton di tambak udang vannamei di Desa Kedongkelor dengan masa pemeliharaan yang sudah berjalan selama 1 bulan (30 hari). Penelitian ini menggunakan metode analisis data untuk mendukung indeks ekologi seperti: indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan saprobik. Hasil berdasarkan penelitian menunjukkan jenis fitoplankton memiliki kelimpahan yang berbeda berdasarkan presentase (%) yaitu Green Algae (GA) dengan 41,8, Bacillariophyceae dengan 23,7, Cyanophyceae dengan 29,3, Dinophyceae dengan 5,2. Kategori keanekaragaman fitoplankton tergolong rendah berdasarkan indeks diperoleh 1,22. Kategori keseragaman fitoplankton tergolong tinggi dan kategori dominansi fitoplankton tergolong tidak ada yang dominan. Kategori saprobik pada 4 kolam tergolong dalam pencemaran sedang (fase α-Mesosaprobik) dan berat (fase Polisaprobik). Mariculture Mariculture ponds that accumulate leftover feed from cultured organisms, such as shrimp, are often left unmanaged, leading to the potential buildup of toxic compounds, particularly ammonia and nitrite. This risk is exacerbated in the absence of regular cleaning and probiotic application, which otherwise support the role of phytoplankton as natural decomposers. Such conditions may have detrimental effects, especially on microfauna and cultured aquatic organisms. Phytoplankton diversity represents a natural mechanism for decomposing organic matter without compromising water quality. This study aims to assess the phytoplankton community structure in a vannamei shrimp pond located in Kedongkelor Village after one month (30 days) of cultivation. The study employed ecological index-based data analysis, including diversity, evenness, dominance, and saprobic indices. The findings revealed that phytoplankton abundance varied among groups, with the following relative percentages: Green Algae (GA) 41.8%, Bacillariophyceae 23.7%, Cyanophyceae 29.3%, and Dinophyceae 5.2%. The phytoplankton diversity index was categorized as low, with a value of 1.22. Evenness was classified as high, while dominance was negligible, indicating no single dominant group. Saprobic index analysis showed that water quality in the four ponds ranged from moderately polluted (α-Mesosaprobic phase) to heavily polluted (Polysaprobic phase). 
Respon Pertumbuhan dan Sintasan Benih Enhalus acoroides Terhadap Pengkayaan Nutrien Menggunakan Limbah Budidaya Udang Aditya Hikmat Nugraha; Tri Apriadi; Fadhliyah Idris; Widia Kartika Di Sari Putri
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.42850

Abstract

Dilaporkan bahwa luasan ekosistem lamun di dunia terus mengalami penurunan. Salah satu faktor diantaranya adalah tingginya konsentrasi nutrien di perairan pesisir yang berasal dari aktivitas masyarakat. Benih lamun merupakan salah satu fase penting di dalam awal perkembangan kehidupan lamun. Selain itu juga nutrien menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan benih lamun. Pada penelitian ini sumber nutrien yang akan digunakan dalam proses pembenihan lamun berasal dari limbah budidaya udang.  Tujuan Penelitian ini untuk mengukur respon pertumbuhan dan tingkat sintasan benih lamun Enhalus acoroides yang dikultivasi pada media limbah budidaya udang dan mengukur perubahan konsentrasi nutrien pada limbah budidaya udang sebagai media tumbuh benih lamun Enhalus acoroides. Benih lamun Enhalus acoroides ditumbuhkan pada tiga perlakuan yaitu : jumlah tegakan lamun jarang (perlakuan A), jumlah tegakan lamun sedang (perlakuan B) dan jumlah tegakan lamun rapat (perlakuan C). Proses kultivasi dilakukan selama 4 minggu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya benih lamun mengalami penurunan pertumbuhan. Tingkat sintasan benih lamun tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan nilai sebesar 90%. Penyerapan nutrien (amonia, nitrat, dan fosfat) yang terdapat pada limbah budidaya udang optimal terjadi pada perlakuan C. Konsentrasi nutrien pada seluruh perlakuan cenderung mengalami penurunan It is reported that the area of seagrass ecosystems worldwide continues to decline. One of the factors is the high concentration of nutrients in coastal waters originating from community activities. Seagrass seedling are one of the critical phases in the early development of seagrass life. In addition, nutrients are also one of the factors that influence the development of seagrass seeds. In this study, the nutrients used in the seagrass seeding process come from shrimp farming waste. The purpose of this study was to measure the growth response and survival rate of seagrass seeds Enhalus acoroides cultivated in shrimp farming waste media and to measure changes in nutrient concentration in shrimp farming waste as a growing medium for seagrass seeds Enhalus acoroides. Seagrass seeds Enhalus acoroides were grown in three treatments, namely: the number of sparse seagrass stands (treatment A), the number of medium seagrass stands (treatment B) and the number of dense seagrass stands (treatment C). The cultivation process was carried out for 4 weeks. The study results showed that seagrass seeds generally experienced a decrease in growth. The highest survival rate of seagrass seeds was found in treatment C, with a value of 90%. The absorption of nutrients (ammonia, nitrate, and phosphate) in shrimp farming waste was optimally achieved in treatment C. Nutrient concentrations in all treatments tended to decrease.
Ekosistem Lamun di Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara: Kondisi Ekosistem dan Sampah Makroplastik Dewinda Safitri; Subagiyo Subagiyo; Bambang Yulianto; Diah Permata Wijayanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49596

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir penting sebagai habitat beragam biota laut, penyedia sumber makanan, penyerap karbon biru serta penahan sedimen. Akan tetapi saat ini berpotensi terganggu dan terancam keberlanjutannya akibat aktivitas manusia termasuk sampah makroplastik. Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara merupakan area wisata yang berdekatan dengan tambak dan pemukiman warga.  Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi ekosistem dan sampah makroplastik pada padang lamun di Pantai Prawean dan Pantai Blebak, Jepara. Penelitian dilakukan dengan metode survey lapangan. Data komposisi dan tutupan lamun dikumpulkan dengan teknik line transect dan quadrat sampling. Sampah makroplastik dikumpulkan dengan teknik CSIRO untuk mengidentifikasi jenis, ukuran, dan berat sampah pada setiap lokasi penelitian. Selain itu juga juga dilakukan pengukuran secara insitu parameter kualitas perairan, meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan kecepatan arus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan komposisi jenis lamun antara Pantai Prawean dan Pantai Blebak. Di Pantai Prawean ditemukan lima spesies lamun sedangkan di Pantai Blebak hanya ditemukan tiga spesies lamun. Kondisi tutupan lamun di Pantai Prawean sebesar 37,26% masuk kategori “kurang sehat”, sedangkan di Pantai Blebak sebesar 19,69% masuk kategori “miskin”. Sampah makroplastik yang ditemukan didominasi oleh jenis LDPE, PET, dan PS, dengan total berat 373 gram di Pantai Prawean serta 870 gram di Pantai Blebak. Keberadaan makroplastik ini diperkirakan berkontribusi terhadap kondisi lamun dan tutupannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan lingkungan dan mitigasi sampah terutama makroplastik yang lebih intensif untuk menjaga keberlanjutan ekosistem padang lamun dan jasa ekosistem yang dihasilkannya di perairan Jepara.
Analysis of Heavy Metal Content in Odaiba Waters, Japan Using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) Hasya Ainun Nashih; Takato Negishi; Kuo Hong Wong; Asami Mashio; Hiroshi Hasegawa; Ali Ridlo; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.53234

Abstract

This study aims to determine the content of dissolved heavy metals (Mn, Co, Ni, Cu, Zn, Cd, Pb) using Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). This method was chosen because it has high sensitivity and the ability to detect elements in ultra-low concentrations accurately. Water samples were collected on July 13, 2024, and analyzed using selective resin and UV irradiation for the separation of metals. The results showed that primary metals (Zn, Mn, Ni, Cu) exceeded the CASS-6 reference limits, with Zn having the highest concentration (88.69 ± 1.92 nM). In contrast, minor metals (Cd, Pb, Co) were below the reference values, reflecting a stable distribution of heavy metals. The increase in significant metal concentrations is thought to be related to the timing of sampling in the summer, which coincides with the rainy season, potentially increasing runoff carrying heavy metals from the city center and industry to the waters of Odaiba. The detection results of minor metals in this study indicate that ICP-MS is effective for measuring heavy metal content at very low quantities. Environmental parameters, such as pH, temperature, and salinity, are also believed to influence the solubility and mobility of metals.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue