cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Kandungan Karbon Pada Sedimen Dan Struktur Komunitas Mangrove Di Kelurahan Lalowaru, Sulawesi Tenggara Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti; Retno Hartati; Sri Sedjati; Aan Pratama
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.44048

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan dalam upaya mitigasi dalam fenomena perubahan iklim. Mangrove dapat berfungsi sebagai penyerap karbon yang signifikan, yakni menyumbang sekitar 30% dari total penyerapan karbon di ekosistem pesisir. Mangrove dapat menyimpan karbon secara efektif pada bagian sedimen, oleh karena itu dilakukannya penelitian untuk mengkaji struktur mangrove dan kandungan karbon pada sedimen. Penelitian dilakukan pada 8-10 November 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskripstif. Pengambilan data mangrove dilakukan dengan menggunakan transek line plots dengan ukuran 10x10 m. Pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan menarik garis transek sepanjang 100 meter. Sampel diperoleh dari 3 stasiun dengan kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm pada jarak 0 meter, 50 meter dan 100 meter dari titik surut terendah dengan menggunakan sediment core. Analisis karbon sedimen menggunakan metode Loss on Ignition (LOI), sedangkan analisis ukuran butir sedimen menggunakan metode granulometri. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kelurahan Lalowaru memiliki kerapatan termasuk kedalam kategori sedang hingga padat yaitu berkisar 1.367 ind/ha-2.367 ind/ha yang didominasi oleh Rhizopora mucronata di setiap stasiun. Jenis sedimen mangrove di Kelurahan Lalowaru  didominasi oleh pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Kandungan karbon yang diperoleh yaitu sebesar 4.426,3 ton karbon. Stasiun 3 memiliki kerapatan tertinggi berkisar 2.367 ind/ha dengan kandungan karbon rata-rata sebesar 27,2 ton/ha. Mangroves are one of the coastal ecosystems that play a role in mitigation efforts in the phenomenon of climate change. Mangroves can serve as a significant carbon sink, contributing about 30% of total carbon sequestration in coastal ecosystems. Mangroves can store carbon effectively in the sediment section, therefore research was conducted to examine the structure of mangroves and carbon content in sediments. The study will be conducted on November 8-10, 2023. The research method used is descriptive. Mangrove data collection was carried out using transect line plots with a size of 10x10 m. Sediment sampling is carried out by drawing a transect line 100 meters long. Samples were obtained from 3 stations with depths of 0-20 cm and 20-40 cm at distances of 0 meters, 50 meters and 100 meters from the lowest low tide point using sediment cores. Sediment carbon analysis uses the Loss on Ignition (LOI) method, while sediment grain size analysis uses the granulometry method. The results showed that Lalowaru Village has a density included in the medium to dense category, which ranges from 1,367 ind / ha to 2,367 ind / ha which is dominated by Rhizopora mucronata at each station. The type of mangrove sediment in Lalowaru Village is dominated by muddy sand and sandy mud. The carbon content obtained is 4,426.3 tons of carbon. Station 3 has the highest density of 2,367 ind/ha with an average carbon content of 27.2 tons/ha
Strategi Pengembangan Ekowisata Rekreasi Pantai Berbasis Keterlibatan Stakeholder di Pantai Bandengan, Jepara Maulana Muhammad Isa; Ibnu Pratikto; Agus Indarjo
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.41809

Abstract

Potensi pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara dan promosi panorama keindahan alam dan budaya bangsa. Salah satu potensi wisata yang ada di Indonesia yaitu Pantai Bandengan yang berada di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Potensi yang ada perlu dikembangkan dan dikelola secara berkelanjutan dengan sinergitas antar stakeholder. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli hingga September 2023, bertujuan untuk mengetahui indeks kesesuaian wisata, keterlibatan stakeholder serta perumusan konsep dan strategi pengembangan di Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan Jepara. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dengan menggunakan 3 stasiun dan wawancara (kuesioner). Analisis data menggunakan analisis kesesuaian wisata dan analis swot untuk mengetahui rumusan strategi pengembangan. Hasil pengukuran Indeks Kesesuain Wisata atau IKW untuk Pantai Bandengan diperoleh nilai 94,4 %. Hasil terhadap analisis keterlibatan stakeholder di Pantai Bandengan Jepara menunjukkan stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan berasal dari unsur pemerintahan (government) dan masyarakat (community). Stakeholder yang terlibat adalah: Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Pengelola Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan dan komunitas PKL Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan serta masyarakat lokal. Pemetaan stakeholder berdasarkan kepentingannya terdiri dari stakeholder primer yaitu komunitas PKL dan masyarakat lokal, serta stakeholder sekunder yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara dan Pengelola Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan. Adapun hasil analisis stakeholder berdasarkan kepentingan dan pengaruh, yakni sebagai subyek (subjects) dan pemain kunci (key player). Hasil SWOT untuk strategi pengembangan Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan Jepara yaitu: pengoptimalan kelestarian alam kawasan wisata, sinergitas antar stakeholder dalam pelaksanaan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat akan sadar wisata dengan diaktifkan kembali pokdarwis, pengoptimalan daya jual kawasan dalam menarik investor dan promosi kawasan. The potential for tourism as a source of foreign exchange for the country and the promotion of a panoramic view of the nation's natural and cultural beauty. One of the tourism potentials in Indonesia is Bandengan Beach which is located in Jepara Regency, Central Java Province. Existing potential needs to be developed and managed sustainably with synergy between stakeholders. This research was conducted from July to September 2023, aiming to determine the tourism suitability index, stakeholder involvement and the formulation of development concepts and strategies in Bandengan Beach Jepara Recreational Ecotourism. Data collection was carried out through field surveys using 3 stations and interviews (questionnaires). Data analysis uses tourism suitability analysis and SWOT analysis to determine the formulation of development strategies. The results of measuring the Tourism Suitability Index or IKW for Bandengan Beach obtained a value of 94.4%. The results of the analysis of stakeholder involvement at Bandengan Beach in Jepara show that the stakeholders involved in management come from government and community elements. The stakeholders involved are: Jepara Regency Regional Government through the Jepara Tourism and Culture Office, Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object Management and the Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object PKL community as well as the local community. Stakeholder mapping based on their interests consists of primary stakeholders, namely the street vendor community and local communities, as well as secondary stakeholders, namely the Jepara Tourism and Culture Office and the Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object Manager. The results of the stakeholder analysis are based on interests and influence, namely as subjects and key players. The SWOT results for the Bandengan Jepara Beach Recreational Ecotourism development strategy are: optimizing the natural sustainability of the tourist area, synergy between stakeholders in the implementation and development of community empowerment to become aware of tourism by re-activating the local community groups, optimizing the selling power of the area in attracting investors and promoting the area.
Kontaminasi Kadmium (Cd) dalam Air, Sedimen, dan Kerang Hijau (Perna viridis) di perairan pantai Semarang Maurina Edenie Pangalasen; Bambang Yulianto; Subagiyo Subagiyo; Diah Permata Wijayanti
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49292

Abstract

Pantai Semarang rentan terkontaminasi logam berat kadmium yang bersumber dari aktivitas antropogenik, diantaranya berasal dari industri dan pelabuhan, kadmium merupakan salah satu logam berat yang sangat beracun dan tidak esensial. Kadmium dan senyawanya bersifat hidrofilik sehingga mudah masuk ke rantai makanan dan terakumulasi di dalamnya. Konsumsi makanan terkontaminasi kadmium yang berlebihan atau dalam jangka panjang telah menimbulkan kekhawatiran menyebabkan kerusakan serius pada organ-organ penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi kadmium pada air laut, sedimen, dan kerang hijau di Perairan Pantai Semarang serta menentukan batas aman konsumsi kerang hijau dari wilayah tersebut. Analisis kadmium dilakukan menggunakan metode spektroskopi serapan atom. Hasil penelitian pada bulan September dan Oktober menunjukkan bahwa konsentrasi kadmium dalam air laut berkisar antara <0,0008 – <0,001 mg/L, dalam sedimen <1,932 mg/Kg, dan dalam kerang hijau <0,020 – 0,0049 mg/Kg. Batas aman konsumsi kerang hijau dari Perairan Pantai Semarang masing-masing adalah 2,625 – >5,25 mg dan 2,14 – >5,25 mg untuk anak-anak, 7,875 – >15,75 mg dan 6,43 – >15,75 mg untuk wanita, serta 10,50 – >21 mg dan 8,57 – >21 mg untuk pria. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan kualitas lingkungan perairan serta pengawasan konsumsi kerang hijau guna meminimalkan risiko kesehatan akibat paparan kadmium.
Estimasi Potensi Lestari dan Musim Penangkapan Cumi-cumi (Loligo sp) di WPPNRI 571 Sumatera Utara Farhan Ramdhani; Septy Heltria; Muhammad Hafidz Ibnu Khaldun; BS Monica Arfiana; Fauzan Ramadan
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.52709

Abstract

Perairan Sumatera Utara yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 571 memiliki potensi sumber daya cumi-cumi (Loligo sp.) yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi potensi lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) dan menganalisis pola musim penangkapan cumi-cumi yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan. Data yang digunakan adalah data produksi dan upaya penangkapan cumi-cumi pada periode tahun 2018–2022, kemudian dianalisis menggunakan model surplus produksi Schaefer dan Indeks Musim Penangkapan (IMP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai MSY cumi-cumi sebesar 3.886,62 ton/tahun dengan effort optimum (Fopt) sebanyak 3.078 trip/tahun. Rata-rata produksi tahunan berada di bawah nilai MSY, namun peningkatan effort yang signifikan disertai penurunan CPUE dari 2,07 ton/trip (2018) menjadi 1,66 ton/trip (2022) mengindikasikan tekanan eksploitasi yang meningkat. Analisis IMP menunjukkan musim puncak penangkapan terjadi pada bulan Mei, Oktober, November, dan Desember, yang diindikasikan dengan nilai IMP >100% dan peningkatan kelimpahan klorofil-a (0,60–0,69 mg/L). Hubungan positif antara IMP dan klorofil-a menunjukkan bahwa dinamika oseanografi memiliki kaitan terhadap kelimpahan cumi-cumi di perairan WPPNRI 571 Sumatera Utara.  The waters of North Sumatra, located within Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (FMA-RI) 571, are known to have a high potential of squid (Loligo sp). This study aims to estimate the Maximum Sustainable Yield (MSY) and analyze the fishing season patterns of squid landed at the Oceanic Fishing Port (PPS) of Belawan. The data used include squid production and fishing effort from 2018 to 2022, which were analyzed using the Schaefer surplus production model and the Fishing Season Index (IMP). The results indicate that the MSY of squid is 3,886.62 tons/year with an optimum effort (Fopt) of 3,078 trips/year. Although the annual production remains below the MSY, the significant increase in fishing effort accompanied by a decrease in CPUE—from 2.07 tons/trip in 2018 to 1.66 tons/trip in 2022—suggests increasing exploitation pressure. The IMP analysis shows that peak fishing seasons occur in May, October, November, and December, indicated by IMP values exceeding 100% and an increase in chlorophyll-a concentrations (0.60–0.69 mg/L). The positive correlation between IMP and chlorophyll-a implies that oceanographic dynamics play an important role in influencing the availability of squid in the waters of FMA-RI 571. These findings highlight the need for adaptive and ecosystem-based fisheries management strategies to ensure the sustainability of squid stocks in this region.
Kesesuaian Lahan Untuk Transplantasi Lamun di Pantai Ujung Piring dan Pantai Blebak, Jepara Rifandi Septiadi Ompusunggu; Ita Riniatsih; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.42611

Abstract

Pantai Ujung Piring dan Pantai Blebak memiliki ekosistem lamun yang kurang sehat (<29%) dengan total penutupan lamun pada sub stasiun Blebak I adalah 20,77%, pada sub stasiun Blebak II adalah 14,91%, pada sub stasiun Ujung Piring I 19,96%, sedangkan pada sub stasiun Ujung Piring II tidak ada lamun. Aktivitas manusia memberikan dampak negatif terhadap vegetasi lamun. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperbaiki fungsi ekologis ekosistem padang lamun, salah satunya yaitu melalui metode transplantasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekosistem padang lamun yaitu kerapatan, penutupan dan kondisi ekologis yang selanjutnya digunakan untuk menilai indeks kesesuaian lahan dalam penentuan prioritas sumber bibit dan donor dalam transplantasi lamun. Metode yang digunakan dalam pemilihan titik stasiun adalah survey eksplorasi. Metode lamun berdasarkan life strategy lamun dan disesuaikan dengan karakteristik padang lamun di Pantai Ujung Piring dan Pantai Blebak. Pada stasiun Pantai Blebak ditemukan 3 jenis lamun, yaitu T. hemprichii, C. rotundata, dan O. serrulata, sedangkan stasiun Pantai Ujung Piring ditemukan 3 jenis lamun, yaitu T. hemprichii, C. rotundata, dan E. acoroides. Hasil analisis PTSI sub stasiun Pantai Ujung Piring I, sub stasiun Pantai Blebak I dan Blebak II mendapat skor 0, sedangkan sub stasiun Pantai Ujung Piring II mendapat skor 8, sehingga sub stasiun Pantai Ujung Piring II sesuai sebagai lokasi transplantasi jenis T. hemprichii dan bibit lamun dapat diambil dari sub stasiun Pantai Ujung Piring I, sub stasiun Pantai Blebak I dan Blebak II.
Keanekaragaman Jenis Gastropoda Sebagai Indikator Kesehatan Ekosistem Mangrove di Teluk Benoa, Bali Netty Sukma Maha; Ni Made Ernawati; Devi Ulinuha
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.46432

Abstract

Kesehatan ekosistem hutan mangrove dapat dinilai dengan keanekaragaman biota yang berasiosiasi di dalamnya, dimana biota tersebut menjadi salah satu indikator kesehatan hutan mangrove. Hutan mangrove memiliki peran diantaranya, membantu perputaran mata rantai makanan, menjadi tempat tinggal banyak biota, dan tempat pemijahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan hutan mangrove berdasarkan keanekaragaman gastropoda di Teluk Benoa. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April 2024 dengan metode transek kuadrat berukuran 1x1 m pada 4 stasiun. Masing-masing stasiun terdapat 3 titik dan setiap titik dibuat 5 transek pengamatan sehingga total transek pengamatan adalah 60. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 20 spesies gastropoda dari 6 famili antara lain Potamididae (6 spesies, yaitu Cerithidea cingulata, Cerithidea obtusa, Cerithidea Cerithidea pulchra, Terebralia sulcata, Terebralia palustris, Telescopium telescopium), Neritidae (7 spesies, yaitu Vittina turrita, Neritina turrita, Nerita picea, Nerita exuvia, Nerita planospira, Neritodryas dubia, Vittina gagates), Ellobiidae (2 spesies, yaitu Cassidula sulculosa, Cassidula aurisfelis), Littorinidae (2 spesies, yaitu Littoraria intermedia, Littoraria scabra), Muricidae (2 spesies, yaitu Chicoreus capucinus, Chicoreus groschi), dan Assimineidae (1 spesies, yaitu Spaerassimine miniata). Nilai kelimpahan gastropoda berkisar antara 0,6-11,53 ind/m2 dengan kelimpahan tertinggi yaitu spesies Spaerassimine miniata dengan spesies dengan kelimpahan terendah yaitu spesies Neritodryas dubia. Nilai indeks keanekaragaman gastropoda berkisar antara 1,5-2,02, termasuk dalam kategori sedang dan tidak terdapat spesies yang dominan. Status kesehatan hutan mangrove Teluk Benoa berdasarkan keanekaragaman gastropoda termasuk dalam kategori jelek hingga kategori baik dengan persentase yaitu kondisi 17% jelek, 41% sedang, dan 42% baik. The health of the mangrove forest ecosystem can be measured by the diversity of biota associated with it, where the biota is one of the indicators of the health of the mangrove forest. Mangrove forests have roles including helping the rotation of the food chain, being a place for many biota to live, and a spawning ground. This study aims to determine the health of mangrove forests based on the diversity of gastropods in Benoa Bay. This study was conducted in March - April 2024 using the 1x1 m quadrat transect method at 4 stations. Each station has 3 points and each point is made 5 observation transects so that the total observation transects are 60. Based on the research results, 20 species of gastropods from 6 families were obtained, including Potamididae (6 species, namely Cerithidea cingulata, Cerithidea obtusa, Cerithidea Cerithidea pulchra, Terebralia sulcata, Terebralia palustris, Telescopium telescopium), Neritidae (7 species, namely Vittina turrita, Neritina turrita, Nerita picea, Nerita exuvia, Nerita planospira, Neritodryas dubia, Vittina gagates), Ellobiidae (2 species, namely Cassidula sulculosa, Cassidula aurisfelis), Littorinidae (2 species, namely Littoraria intermedia, Littoraria scabra), Muricidae (2 species, namely Chicoreus capucinus, Chicoreus groschi), and Assimineidae (1 species, namely Spaerassimine miniata). The reporting value of gastropods ranges from 0.6-11.53 ind/m2 with the highest reporting being the Spaerassimine miniata species with the species with the lowest reporting being the Neritodryas dubia species. The gastropod diversity index value ranges from 1.5-2.02, included in the moderate category and there are no dominant species. The health status of the Benoa Bay mangrove forest based on gastropod diversity is included in the poor to good category with a percentage of conditions of 17% poor, 41% moderate, and 42% good.
Morfometri Rajungan (Portunus pelagicus) Berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin, Tingkat Kematangan Gonad, dan Faktor Kondisi di Perairan Pegagan Madura Leni Maryani; Ahmad Sundoko; Lailatul Qomariah; Farhan Rahmadan; Tiara Santeri; Ragil Susilowati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.48725

Abstract

Sumber daya rajungan saat ini telah mengalami tekanan terhadap kelangsungan hidup akibat semakin meningkatnya upaya penangkapan di alam. Pengelolaan sumberdaya rajungan diperlukan informasi tentang kondisi biologi rajungan untuk penetapan ukuran, jenis kelamin, dan jumlah yang boleh ditangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur ukuran lebar karapas dalam hubungannya dengan perbedaan jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, dan faktor kondisi rajungan. Metode yang digunakan adalah metode observasi melalui pengukuran lebar, berat, dan tingkat kematangan gonad kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran rajungan termasuk dalam kategori rajungan remaja hingga dewasa baik untuk rajungan jantan maupun rajungan betina. Pola pertumbuhan rajungan jantan koefesien nilai b sebesar 3,09 dan rajungan betina 3,14 menunjukkan pola pertumbuhan rajungan di perairan Perairan Pegagan Madura bersifat allometrik positif. Sebagian besar rajungan betina berada pada fase matang gonad sehingga faktor kondisi rajungan betina cenderung lebih rendah dibandingkan rajungan jantan hal ini disebabkan sebagian besar rajungan betina baru melewati fase pemijahan. Perlu adanya perlindungan terhadap rajungan yang semakin menurun dikarenakan penangkapan yang berlebihan.  The current blue swimming crab resources have experienced pressure on survival due to increasing fishing efforts in nature. Management of crab resources requires information on the biological conditions of crabs to determine the size, sex, and number that can be caught. This study aims to analyze the structure of carapace width concerning sex differences, gonad maturity levels, and crab condition factors. The observation method is used to measure the width, weight, and gonad maturity levels and then analyze them descriptively. The study results showed that based on the size, the crabs are included in the juvenile to adult crabs category for both male and female crabs. The growth pattern of male crabs with a coefficient of b value of 3.09 and female crabs 3.14 indicates that the growth pattern of crabs in the waters of Pegagan Madura Island is Allometric positive. Most female crabs are in the gonad maturity phase, so the condition factor of female crabs tends to be lower than male crabs because most female crabs have just passed the spawning phase. There needs protection for crabs, which are declining due to excessive fishing.
Tingkat Keberhasilan Penetasan Telur Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) pada Sarang Buatan di Pantai Pelangi Donan Satria Yudha; Rahmi Ramadhani Putri
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.47128

Abstract

Penyu Lekang termasuk kategori hewan dilindungi dan terancam punah. Ancaman utama pada spesies ini yaitu kerusakan habitat, perburuan daging dan telur oleh predator alami ataupun manusia, dan lokasi sarang alami yang sering terkena abrasi. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah penetasan dan melindungi telur penyu adalah dengan melakukan pemindahan telur dari sarang alami ke sarang buatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui persentase keberhasilan penetasan telur penyu lekang pada sarang buatan di Pantai Pelangi. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juli 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pada penelitian ini digunakan dua jenis sarang buatan dengan 5 buah ember yang diletakkan di luar ruangan dan 5 buah boks plastik di dalam ruangan. Parameter yang diukur yaitu suhu dan kelembapan. Berdasarkan hasil uji analisis regresi linear sederhana diketahui suhu memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat keberhasilan penetasan pada sarang buatan ember dan boks plastik dengan R2=0,4197 dan R2=0,5006. Kelembapan juga memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat keberhasilan penetasan pada sarang buatan ember dan boks plastik dengan R2=0,6537 dan R2=0,3801. Persentase keberhasilan penetasan pada sarang ember menunjukkan hasil 76%, sedangkan persentase pada sarang boks plastik menunjukkan hasil 92%.
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Merah Acanthophora sp. dari Perairan Pesisir Timur Pulau Bintan Asdi Wijaya; Jelita Rahma Hidayati; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.40681

Abstract

Rumput laut merupakan tumbuhan tallophyta yang memiliki nilai ekonomis penting karena kandungan senyawa bioaktifnya. Rumput laut merah jenis Acanthophora sp. memiliki potensi sebagai antioksidan karena kandungan senyawa bioaktif yang beragam. Perairan pulau Bintan memiliki kelimpahan dan keanekaragaman rumput laut yang dipengaruhi oleh karakteristik air dan zona intertidal. Peneitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut merah Acanthophora sp. yang diperoleh dari perairan pesisir timur Pulau Bintan. Penelitian terdiri atas analisis kandungan senyawa bioaktif, kandungan total fenolat, kandungan total flavonoid, kandungan pigmen dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan kandungan senyawa bioaktif yang ditemukan yaitu senyawa steroid dan tanin. Kandungan total fenolat dan flavonoid sebesar 11 mg GAE/g sampel dan 0,217 mg QE/g sampel. Sedangkan kandungan pigmen klorofil a sebesar 0,6044 mg dan kandungan karotenoid sebesar 1,375 μmol. Ekstrak Acanthophora sp. memiliki aktivitas antioksidan DPPH dengan nilai IC50 sebesar 367,473 ppm dan tergolong antioksidan sangat lemah.
Variabilitas Suhu Permukaan Laut Dipengaruhi oleh ENSO dan IOD di Laut Jawa, Tahun 2007-2021 Moses Wicaksono Kurniawan; Aziz Rifai; Dwi Haryo
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.46498

Abstract

Laut Jawa merupakan laut di Indonesia yang masuk ke dalam WPP-NRI 712 berdasarkan Permen KP Nomor 18 tahun 2014 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia dimana laut tersebut menjadi wilayah yang berpotensi sehingga terjadi upaya untuk konservasi, pengendalian, dan pengawasan sumber daya ikan. Hal tersebut dapat menjadi faktor dalam penelitian untuk mengetahui dinamika laut yang terjadi untuk pengamatan dan pengawasan potensi Laut Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi suhu permukaan laut (SPL) di Laut Jawa tahun 2007-2021 dimana dinamika iklim global dan iklim regional yang mengevaluasi kualitas perairan dipengaruhi oleh SPL yang menjadi salah satu faktor pentingnya. Penelitian ini menggunakan data OISST (Optimally Interpolated Sea Surface Temperature), data kecepatan dan arah angin, serta indeks ENSO dan IOD. Data yang diperoleh diolah menggunakan Software IDL yang hasilnya berupa data spasial secara klimatologi untuk sebaran SPL dan angin. Selanjutnya, data tersebut secara temporal diklasifikasikan berdasarkan fenomena ENSO dan IOD yang sedang terjadi dari tahun 2007-2021 berdasarkan indeks ENSO (ONI) dan IOD (DMI). Pengaruh ENSO dan IOD terhadap variabilitas SPL dianalisis menggunakan grafik confidence level 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat kejadian La Nina berlangsung, nilai rata-rata SPL lebih rendah daripada kondisi normal. Pada saat kejadian El Nino, nilai rata-rata SPL lebih tinggi daripada kondisi normal. Selain itu, pada saat kejadian IOD negatif berlangsung, nilai rata-rata SPL lebih rendah daripada kondisi normal dan saat kejadian IOD positif berlangsung, nilai rata-rata SPL lebih tinggi daripada kondisi normal.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue