cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Indek Ekologi Diatom (Bacillariophyceae) Di Perairan Delta Wulan Demak Jawa Tengah Widianingsih Widianingsih; Annisa Khusnul Khotimah; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.44049

Abstract

Bacillariophyceae atau diatom adalah kelas dari divisi Chromophyta. Bacillariophyceae merupakan spesies yang paling mendominasi di perairan laut. Bacillariophyceae berperan penting dalam ekosistem perairan, yaitu sebagai sumber makanan dalam rantai makanan bagi organisme perairan. Bacillariophyceae memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perairan dengan kondisi yang extrim atau tercemar. Spesies ini menggambarkan kondisi kualitas air di suatu perairan. Jumlah Bacillariophceae yang berlebihan juga akan menyebabkan Blomming Algae, sehingga dapat menyebabkan kandungan oksigen terlarut menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks ekologi kelas Bacillariophyceae di Perairan Delta Wulan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif dengan pendekatan deskriptif. Penentuan lokasi sampling menggunakan metode purposive sampling. Hasil dari penelitian ini ditemukan 48 spesies berbeda dari spesies kelas Bacillariophyceae. Kelimpahan Bacillariophyceae di Perairan Delta Wulan berkisaran 146.658- 322.499 sel/m³. Indeks Keanekaragaman Bacillariophyceae termasuk kategori sedang hingga tinggi (2,43-3,12), Indeks Keseragaman Bacillariophyceae termasuk kategori tinggi (0,66-0,83) dan Indeks Dominansi Bacillariophyceae termasuk rendah (0,06-0,15). Berdasarkan nilai indek ekologi, maka ekosistem perairan Delta Wulan cukup stabil bagi kehidupan fitoplankton khususnya kelas Bacillariophyceae Bacillariophyceae or diatoms is a class of the Chromophyta division. Bacillariophyceae is the most dominant species in the marine ecosystem. Bacillariophyceae play an important role in marine ecosystems, namely as a food source in the food chain for marine organisms. Bacillariophyceae have high adaptability to waters with extreme or polluted conditions. This species describes the water quality conditions in a body of water. Excessive amounts of Bacillariophceae will also cause Blomming Algae, which can cause the dissolved oxygen content to become low or depleted. This research aims to determine ecological indexes of the Bacillariophyceae class. The research method used is exploratory with a descriptive approach. Determining the sampling location uses the purposive sampling method. Bacillariophyceae class data was analyzed to measure abundance, diversity index, uniformity, and dominance. The results of this research found 48 different species from the Bacillariophyceae class. The abundance of Bacillariophyceae in the Wulan Delta waters ranges from 146,658- 322,499 cells/m³. The Bacillariophyceae Diversity Index is in the medium to high category (2.43-3.12), the Bacillariophyceae Uniformity Index is in the high category (0.66-0.83), and the Bacillariophyceae Dominance Index is in the non-dominant type (0.06-0.15). According to the ecology index value, the ecosystem in the Delta Wulan is stable for living Phytoplankton especially class Bacillariophyceae.
Pengaruh Luasan Tutupan Kanopi Terhadap Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove di Taman Edukasi Mangrove Purworejo, Jawa Tengah Sean Dewa Ramadhan; Wilis Ari Setyati; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.41497

Abstract

Mangrove adalah ekosistem yang memiliki ciri habitat khas dan unik dari segi vegetasi dan faunanya. Desa Gedangan merupakan salah satu desa yang memiliki ekosistem mangrove di wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.Vegetasi mangrove di Desa Gedangan mengalami degradasi yang disebabkan oleh penebangan pohon, konversi lahan menjadi tambak ikan dan udang, pembangunan pemukiman dan pembuatan lahan pertanian. Penelitian bertujuan menganalisis persentase tutupan kanopi dan menganalisis tingkat kerusakan mangrove. Penelitian dilakukan di Taman Edukasi Mangrove Desa Gedangan pada bulan Mei-Juni 2022. Materi yang digunakan pada penelitian yaitu tumbuhan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode deskriptif dengan penentuan lokasinya menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan data persentase tutupan kanopi mangrove menggunakan metode Hemispherical photography. Pengambilan sampel pada penelitian bertujuan untuk menganalisis kandungan bahan organik dan karbon di dalam substrat. Parameter lingkungan meliputi suhu, salinitas, pH, dan DO diukur secara insitu yang bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan sekitar mangrove. Hasil penelitian nilai kerapatan mangrove jenis Rhizpohora mucronata yaitu 7567 (stasiun 1), 7467 (stasiun 2), 9433 (stasiun 3). Nilai kerapatan mangrove jenis Rhizophora mucronata memiliki kriteria baik dengan kerapatan yang padat sedangkan pada jenis Sonneratia alba memiliki kriteria rusak dengan kerapatan yang jarang, hal ini berdasarkan analisa kriteria baku kerusakan mangrove. Tutupan kanopi mangrove didapatkan hasil persentase sebesar 87,11% (stasiun 1), 89,38% (stasiun 2), 74,68% (stasiun 3). Kandungan bahan organik memiliki hasil sebesar 8,291% (stasiun 1), 8,541% (stasiun 2), 12,221 (stasiun 3). Kandungan karbon memiliki hasil sebesar 4,809% (stasiun 1), 4,954 (stasiun 2), 7,088% (stasiun 3). Mangroves are ecosystems characterized by unique habitat features and distinctive vegetation and fauna. Gedangan Village is one of the villages with a mangrove ecosystem located in the Purwodadi District, Purworejo Regency, Central Java. The mangrove vegetation in Gedangan Village has experienced degradation due to tree cutting, land conversion into fish and shrimp ponds, urban development, and agricultural land expansion. The research aims to analyze the percentage of canopy cover and assess the level of mangrove damage. The study was conducted at the Mangrove Education Park in Gedangan Village in May-June 2022, using mangrove plants as the research material. The research utilized a descriptive method with location selection through purposive sampling. Canopy cover percentage data of mangroves were collected using Hemispherical Photography. Samples were taken to analyze the substrate's organic matter and carbon content. Environmental parameters, including temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen, were measured ex situ to assess the water conditions around the mangroves. The research results indicated that the density value of Rhizophora mucronata mangrove species was 7567 (Station 1), 7467 (Station 2), and 9433 (Station 3). Rhizophora mucronata mangroves were classified as having a "good" condition with dense density, while Sonneratia alba mangroves were categorized as "damaged" with sparse density, based on the analysis using mangrove damage criteria (Minister of Environment Decree No. 201 of 2004). Canopy cover of mangroves yielded percentage results of 87.11% (Station 1), 89.38% (Station 2), and 74.68% (Station 3). The organic matter content was measured at 8.291% (Station 1), 8.541% (Station 2), and 12.221% (Station 3), while the carbon content was found to be 4.809% (Station 1), 4.954% (Station 2), and 7.088% (Station 3).
Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Kappaphycus alvarezii Pada Musim Peralihan II terhadap Bakteri Patogen Aeromonas hydrophila Rheamyta Carissa Siregar; Mahmiah Mahmiah; Nirmalasari Idha Wijaya
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.45407

Abstract

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Keberadaan bakteri A. hydrophila yang melimpah pada suatu perairan sangat membahayakan bagi kultivan yang berada pada perairan tersebut khususnya pada ikan. Bakteri A. hydrophila tersebut termasuk kedalam bakteri patogen yang saat menginfeksi tubuh ikan akan menghasilkan toksin atau racun. Untuk itu perlu adanya pencegahan dengan menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan, seperti rumput laut karena memiliki komponen bioaktif potensial sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak rumput laut merah K. alvarezii dan potensi antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri patogen A. hydrophila dengan larutan etanol 96%. Pengambilan sampel dilakukan pada Musim Peralihan II di bulan Oktober 2023. Uji fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan skrining fitokimia, sementara uji antibakteri menggunakan metode difusi agar (paper dics) dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 20%, dan 40%. Hasil uji fitokimia rumput laut K. alvarezii menghasilkan senyawa alkaloid, tanin, saponin, dan steroid. Uji antibakteri menunjukkan zona hambat pada stasiun 1 lebih besar daripada stasiun 2 dengan hasil berturut-turut 7,35 mm; 7,68 mm;  7,97 mm; 9,32 mm; 10,08 mm pada stasiun 1. Kualitas perairan di stasiun 1 lebih baik yang dapat mempengaruhi metabolit rumput laut dan menghasilkan zona hambat yang besar dibandingkan stasiun 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan mempengaruhi kandungan metabolit bioaktif dalam rumput laut, yang selanjutnya berdampak pada potensi antibakterinya. Selain itu, rumput laut K. alvarezii dapat menjadi solusi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan untuk penyakit pada budidaya ikan yang disebabkan oleh A. hydrophila.
Struktur Komunitas Teripang di Pulau Kemujan dan Pulau Sintok, Balai Taman Nasional Karimunjawa, Jepara Mochammad Syahki Yusup; Bambang Yulianto; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.36498

Abstract

Teripang memiliki distribusi yang cukup luas di perairan Indonesia termasuk di Kepulauan Karimunjawa. Perubahan kondisi lingkungan dapat menyebabkan perubahan komposisi spesies dalam suatu ekosistem. Hal ini akan berdampak pada kelimpahan teripang di habitatnya. Teripang membutuhkan lingkungan yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Penelitian ini memiliki tujuan guna mengetahui kelimpahan teripang pada ekosistem lamun dan hubungan antara faktor fisika kimia perairan terhadap jumlah indidivdu teripang di perairan Karimunjawa terutama pada Pulau Kemujan dan Pulau Sintok. Penelitian berlokasi di Perairan Pulau Kemujan dan Pulau Sintok. Penelitian ini menggunakan metode survey secara purposive sampling, transek kuadran dengan ukuran 50x50 cm2 diletakan pada garis transek sepanjang 100 meter dengan jarak antar transek yaitu 10 meter. Pengambilan data teripang dilakukan bersamaan dengan penghitungan data tegakan lamun. Parameter yang diamati adalah salinitas, suhu, DO, pH, kandungan bahan organik, dan jenis substrat. Hasil penelitian di Perairan Pulau Kemujan dan Sintok ditemukan jenis teripang Holothuria atra dan Synapta maculata. Kepadatan rata-rata pada Pulau Kemujan 0,13 individu/m2 dan pada Pulau Sintok 0,28 individu/m2. Berdasarkan hasil Analisis PCA diketahui bahwa kelimpahan teripang dipengaruhi oleh bahan organik. Nilai biplot axes F1 dan F2 sebesar 80,96%. Kelimpahan teripang berkorelasi positif terhadap bahan organik.
Identifikasi DNA Hasil Tangkapan Udang di Muara Seklenting dan Babalan, Demak Almay Atsiil Harits Syam; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.42378

Abstract

Spesies udang dari famili penaidae dikenal yang ditemukan di perairan Laut Jawa adalah Penaeus merguiensis (udang putih), Penaeus monodon (udang windu), juga ditemukan spesies lain seperti Penaeus indicus (udang dogol), Penaeus semisulcatus, Metapenaeus affinis, Metapenaeus dobsonidan, Metapenaeus ensis (udang barat). Spesies udang komersial utama di Demak adalah udang putih. Meskipun Udang memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai sosio-ekonomi dan ekologi, namun dirasa kurang dalam bidang ilmiah. Teknik DNA merupakan sistem yang dirancang untuk melakukan identifikasi spesies secara cepat dan akurat berdasarkan urutan basa nukleotida dari gen  penanda pendek yang telah terstandarisasi yaitu gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI). Efektifitas COI telah divalidasi untuk bermacam kelompok fauna dan sebagian besar jenis fauna yang diteliti bisa dibedakan menggunakan identifikasi DNA. Hasil BLAST menghasilkan terdapatnya 3 spesies yaitu Penaeus merguensis sebanyak 38 sampel dengan pesent identikal (88,39% - 100%), Metapenaeus brevicornis sebanyak 1 sampel dengan identikal persentase 88,29%, dan Metapenaeus monoceros sebanyak 1 sampel dengan identikal persentase 98,39%. Penaeus merguiensis dan dua spesies lainya memiliki jarak genetik yang hampir sama dengan rata-rata jarak 21%, sementara Metapenaeus brevicornis dan Metapenaeus monoceros memiliki jarak genetik 0,1831 atau 18,31%. Berdasarkan hasil penelitian sampel Udang Putih menggunakan gen COI mtDNA didapatkan 3 spesies udang di perairan Sekelenting, yaitu Penaeus merguiensis, Metapenaeus brevicornis, Metapenaeus monoceros dan 1 spesies udang di perairan Babalan, yaitu Penaeus merguiensis. Jarak genetik terdekat yaitu 18% (Metapenaeus brevicornis dan Metapenaeus monoceros) dan jarak genetik terjauh 21% yakni Metapenaeus brevicornis dan Penaeus merguiensis.
Distribusi Horizontal Jenis Fitoplankton di Pesisir Morodemak Nur Chofifah; Ria Azizah Tri Nuraini; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.45231

Abstract

Morodemak merupakan salah satu desa pesisir di Kabupaten Demak yang termasuk desa padat pemukiman dengan sebagian besar wilayahnya berupa hamparan rawa pesisir, petambakan dan mangrove. Seiring berjalannya waktu, Pantai Morodemak kini telah mengalami pencemaran. Masukan bahan pencemar ini akan mempengaruhi dinamika kualitas perairan pesisir yang berdampak pada kehidupan organisme didalamnya, termasuk fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui distribusi fitoplankton secara horizontal dan mengetahui struktur komunitas fitoplankton di Pesisir Morodemak. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif, sedangkan pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 periode waktu pada bulan April 2023 – Juni 2023 di 3 stasiun yang menjorok ke arah laut. Hasil data yang diperoleh dari Pesisir Morodemak ditemukan  sebanyak 40 genus fitoplankton yang terdiri dari 4 kelas yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae dan Cyanophyceae. Nilai kelimpahan fitoplankton berkisar antara 15.708 – 41.281 sel/L yang tergolong tinggi dan termasuk dalam perairan eutrofik. Indeks keanekaragaman di Pesisir Morodemak termasuk dalam penggolongan kategori sedang dengan nilai kisaran antara 2,23 – 2,89. Indeks keseragamannya merata dengan nilai antara 0,70–0,85. Indeks dominansinya sangat rendah dengan nilai kisaran 0,08 – 0,21. Distribusi fitoplankton di Pesisir Morodemak termasuk jenis pola distribusi yang seragam karena memiliki indeks morisita sebesar 0,23 – 0,63. Berdasarkan nilai yang diperoleh, menunjukkan bahwa  struktur komunitas fitoplankton di Pesisir Morodemak adalah stabil.Morodemak is a coastal village in Demak Regency, characterized by dense residential areas and predominantly consisting of coastal marshlands, fishponds, and mangroves. Over time, Morodemak Beach has experienced pollution. The input of pollutants affects the dynamics of coastal water quality, impacting the life of organisms within it, including phytoplankton. This study aims to determine the horizontal distribution of phytoplankton and the phytoplankton community structure in the coastal area of Morodemak. The method used is the descriptive quantitative method, and the sampling in this study utilized purposive sampling. Samples were collected over three time periods from April 2023 to June 2023 at three stations extending towards the sea. The data obtained from the coastal area of Morodemak revealed 40 genera of phytoplankton consisting of four classes: Bacillariophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae, and Cyanophyceae. Phytoplankton abundance ranged from 15.708-41.281 cells/L, classified as high and indicating eutrophic waters. The diversity index in the coastal area of Morodemak is categorized as moderate, with values ranging from 2,23-2,89. The uniformity index is even, with values between 0,70-0,85. The dominance index is very low, with values ranging from 0,08-0,21. The distribution of phytoplankton in the coastal area of Morodemak follows a uniform distribution pattern with a Morisita index of 0,23-0,63. Based on these values, it indicates that the phytoplankton community structure in the coastal area of Morodemak is stable.
Potensi Keanekaragaman Biota Asosiasi Sebagai Daya Tarik Pengembangan Ekowisata Bahari Berbasis Ekosistem Lamun Di Kawasan Pantai Prawehan, Jepara Farsya Sriazka Ramadhani; Ita Riniatsih; AB Susanto
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.51079

Abstract

Pantai Prawehan merupakan salah satu perairan di Jepara yang masih memiliki keanekaragaman jenis lamun beserta biota asosiasinya. Keberadaan lamun dan biota di suatu perairan ini dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekosistem lamun sebagai destinasi ekowisata bahari di kawasan Pantai Prawehan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survey dengan pengambilan data secara langsung di lapangan dan wawancara kepada responden yang selanjutnya dianalisis secara kuantitatif. Data yang diukur meliputi kondisi ekosistem lamun, jenis biota, jenis substrat, dan parameter perairan. Hasil penelitian menunjukkan ditemukanya 6 spesies lamun, tutupan lamun (45,05%), kerapatan lamun (37,67 ind/m2), 12 spesies biota (gastropoda), kecerahan (71,8–76,5%), substrat (pasir), kecepatan arus (0,04–0,1m/s), dan kedalaman lamun (0,5–1,5 m). Berdasarkan hasil penelitian, ekosistem lamun di kawasan Pantai Prawehan berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata bahari karena memiliki keanekaragaman spesies dan terdapat jenis biota yang masih ditemukan. Namun, diperlukan upaya lebih lanjut dalam edukasi, kerjasama, dan konservasi. Salah satu, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan metode transplantasi dan rehabilitas lamun di lokasi penelitian.
Eksplorasi Kegunaan Medis Ekstrak Daun Mangrove Acanthus ilicifolius Sebagai Antibakteri Risma Pratiwi; Delianis Pringgenies; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.49119

Abstract

Resistensi bakteri terhadap antibiotik dan dampak dari sifat resistensi tersebut menjadi sebuah masalah yang dihadapi, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan untuk terus mencari alternatif antibiotik baru yang berasal dari bahan alam, tak terkecuali tumbuhan mangrove. Ekstrak daun mangrove diketahui menunjukkan aktivitas terhadap berbagai strain bakteri. Keberadaan mangrove Acanthus ilicifolius yang melimpah di ekosistem mangrove membuka peluang besar untuk eksplorasi metabolit yang berpotensi sebagai agen antibakteri alami. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu ekstraksi, evaporasi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri. Ekstrak daun Acanthus ilicifolius diketahui positif mengandung alkaloid, tanin, steroid, saponin, dan flavonoid. Ekstrak daun juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan S. aureus yang dilihat dari zona bening yang terbentuk disekitar kertas cakram. Bacterial resistance to antibiotics and the impact of this resistance are problems that are being faced, so ongoing efforts are needed to look for new antibiotic alternatives derived from natural ingredients, including mangrove plants. Mangrove leaf extract is known to show activity against various bacterial strains. The abundant presence of Acanthus ilicifolius mangroves in mangrove ecosystems opens up great opportunities for the exploration of metabolites that have the potential to act as natural antibacterial agents. This research was carried out through several stages, extraction, evaporation, phytochemical screening, and antibacterial activity test. Acanthus ilicifolius leaf extract is known to contain alkaloids, tannins, steroids, saponins, and flavonoids. Leaf extract also has antibacterial activity against E. coli and S. aureus bacteria as seen from the clear zone that forms around the paper disc.
Variasi Ukuran Kerang Hijau (Perna viridis) Di Pesisir Tambak Lorok,Semarang Ghani Hakim Hakim; Nur Taufiq-Spj; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43127

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu kerang yang hidup di daerah estuari, teluk, dan daerah mangrove yang memiliki substrat pasir berlumpur dengan salinitas yang sedikit lebih rendah. Kerang hijau merupakan salah satu kerang yang mampu bertahan hidup dan berkembang biak pada tekanan ekologis yang tinggi tanpa gangguan dan tanpa persediaan pakan. Kerang hijau tersebar luas di wilayah perairan Indonesia dan spesiesnya melimpah di wilayah pesisir, mangrove, dan muara sungai. Kawasan Tambak Lorok Kecamatan Semarang Utara merupakan wilayah pesisir di wilayah Pantai Utara. Daerah tersebut memiliki sumberdaya hayati berupa kerang hijau (Perna viridis). Adanya perbedaan ukuran panjang, tebal cangkang, dan berat daging dipengaruhi oleh kondisi perairan dan waktu pemijahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui variasi morfometri ukuran kerang hijau (Perna viridis). Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif. Hasil perhitungan hubungan panjang dan berat kerang hijau (P.viridis) dari Sampel pertama dan kedua memiliki nilai konstanta b<3 yang berarti allometrik negatif yaitu pertumbuhan panjang lebih dominan daripada pertumbuhan berat. Hasil pengukuran menunjukkan ukuran panjang, tebal cangkang, dan berat daging P.viridis beragam pada setiap stasiun pengambilan sampel. Frekuensi kehadiran P.viridis dalam berbagai ukuran selama dua Sampel pada dua stasiun tersebut juga bervariasi,selalu ada perbedaan ukuran P.viridis yang di ambil dari perairan Tambak Lorok. Green mussel (Perna viridis) is one of the shellfish that live in estuaries, bays and mangrove areas which have muddy sand substrates with slightly lower salinity. Green mussel is one of the shellfish that are able to survive and reproduce under high ecological pressure without disturbance and without food supplies. Green mussel is widespread in Indonesian waters and the species is abundant in coastal areas, mangroves and river estuaries. The Tambak Lorok area, North Semarang District, is a coastal area in the North Coast region. This area has biological resources in the form of green mussel (Perna viridis). The differences in length, shell thickness and meat weight are influenced by water conditions and spawning time. The aim of this research is to determine the morphometric variations in size of green mussel (Perna viridis). The method used in this research uses an exploratory descriptive method. The results of calculating the relationship between length and weight of green mussel (P.viridis) from the first and second Sample have a constant value of b<3 which means negative allometric meaning that length growth is more dominant than weight growth. The measurement results showed that the length, shell thickness and meat weight of P.viridis varied at each sampling station. The frequency of presence of P. viridis in various sizes during the two Sample at the two stations also varied, there was always a difference in the size of P. viridis taken from Tambak Lorok waters.    
Kajian Perubahan Luasan Mangrove Menggunakan Citra Landsat 2013, 2016, 2021 Pesisir Tayu Fahmi Ari Zuhdi; Rudhi Pribadi; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.36163

Abstract

Kondisi mangrove saat ini semakin memburuk dan rusak akibat aktivitas manusia dan bencana alam, yang menyebabkan terjadinya perubahan luasan mangrove. Lahan mangrove banyak beralih fungsi untuk berbagai kepentingan. Penting untuk memantau kondisi mangrove secara berkala menggunakan teknik penginderaan jauh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luasan mangrove yang terjadi di wilayah pesisir Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Materi penelitian yang digunakan adalah citra Landsat 7 dan Landsat 8. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei menggunakan klasifikasi multispektral dengan asumsi terjadi perubahan luasan hutan mangrove dari citra multitemporal yang telah dilakukan koreksi geometrik dan radiometrik. Citra satelit Landsat yang telah terdigitasi dioverlay satu sama lain, sehingga diketahui perubahan luasan mangrove periode tahun 2013-2021. Hasil analisis perubahan luasan mangrove di wilayah pesisir Desa Keboromo pada kurun waktu 8 tahun (2013-2021) bertambah 4,17 ha dengan laju perubahan 50,3% yang semula pada tahun 2013 seluas 4,12 ha, pada tahun 2021 bertambah menjadi 8,29 ha. Desa Sambiroto mengalami penambahan 5,14 ha dengan laju perubahan 52,72% yang semula pada tahun 2013 seluas 4,61 ha bertambah menjadi 9,75 ha. Desa Tunggulsari mengalami penambahan 8,04 ha dengan laju perubahan 85,9 % yang semula pada tahun 2013 seluas 1,32 ha menjadi 9,36 ha. Dapat disimpulkan ketiga desa tersebut mengalami penambahan luasan mangrove dikarenakan kegiatan rehabilitasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pati. Hasil analisis penelitian menunjukkan dari ketiga desa tersebut bahwa penambahan luasan mangrove terbesar yaitu Desa Tunggulsari.The current condition of mangroves is getting worse and damaged due to human activities and natural disasters, which causes changes in mangrove area. Mangrove area have changed functions for various purposes. It is important to regularly monitor the condition of mangroves using remote sensing. The purpose of this study was to determine changes in mangrove area that occurred in the coastal area of Tayu District, Pati Regency. The research material used is Landsat 7 and Landsat 8 imagery. This research method is survey method with a multispectral classification with the assumption that there was a change in the area of mangrove forests from multitemporal imagery that have been corrected geometrically and radiometrically. Landsat satellite imagery that have been digitized are overlayed with each other, so that changes in mangrove area are known for the period 2013-2021. The results of the analysis of changes in mangrove area in the coastal area of Keboromo Village over a period of 8 years (2013-2021) increased by 4.17 ha with a change rate of 50.3% which was in 2013 an area of 4.12 ha increased to 8.29 ha. Sambiroto Village experienced an increase of 5.14 ha with a rate of change of 52.72% which was 4.61 ha in 2013 and increased to 9,36 ha. Tunggulsari village experienced an increase of 8.04 ha with a change rate of 85.9% which was in 2013 covering an area of 1.32 ha to 9.36 ha. It can be concluded that the three villages experienced an increase in mangrove area due to rehabilitation activities carried out by groups and the Pati Regency government. The results of the research analysis from the three villages that the largest increased the mangrove area was Tunggulsari Village.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue