Jurnal EMPATI
Jurnal EMPATI is a scientific publication media that will be published six times a year in February, April, June, August, October, and December. Jurnal EMPATI is a scientific publication that accommodates scientific articles and empirical studies in Clinical Psychology, Developmental Psychology, Industrial & Organizational Psychology, Educational Psychology, Social Psychology, Psychometry, Experimental Psychology, and Applied Psychology.
Articles
1,454 Documents
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER ORANGTUA DENGAN PERILAKU AGRESIF SISWA/SISWI SMK YUDYAKARYAMAGELANG
Einstein, Gustav;
Indrawati, Endang Sri
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (292.695 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15390
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dengan perilaku agresif pada Siswa-Siswa SMK Yudya Karya Magelang. Populasi penelitian ini adalah Siswa-Siswi kelas X dan XI SMK Yudya Karya Magelang. Sampel penelitian berjumlah 85 orang yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi, yaitu skala perilaku agresif (48 aitem, dengan 39 item valid dan 9 aitem gugur dengan α= 0,956) dan skala pola asuh otoriter orang tua (48 aitem, dengan 35 aitem valid dan 13 aitem gugur dengan α=0,953).Data yang diperoleh berdasarkan hasil analisi regresi sederhana menunjukkan nilai korelasi rxy = 0,671 dan signifikan pada 0,000(p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan positif antara pola asuh otoriter orangtua dengan perilaku agresif pada siswa-siswi SMK Yudya Karya Magelang dapat diterima.Nilai koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa arah hubungan kedua variabel adalah positif, artinya semakin tinggi pola asuh otoriter orang tua maka akan semakin tinggi perilaku agresif pada siswa-siswi SMK. Pola asuh otoriter orang tua memberikan sumbangan efektif sebesar 45,0% pada perilaku agresif dan sebesar 55,0% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
MASALAH-MASALAH PSIKOLOGIS DAN COPING STATEGIES ISTRI PADA PASANGAN COMMUTER MARRIAGE
Noorwendah Tanjung Arumrasmi;
Karyono Karyono
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 (Agustus 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (48.729 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2013.7369
Emansipasi wanita yang semakin marak belakangan ini semakin memberikan jalan bagi para wanita dewasa untuk semakin berkarya dan memaksimalkan potensi-potensi yang mereka miliki. Banyak dari ibu muda yang memiliki karir bagus rela melepaskan karirnya demi dapat mengabdi terhadap kehidupan rumah tangganya, namun ada juga istri-istri yang rela hidup terpisah dengan suaminya demi menunjang karir masing-masing dan juga demi memperbaiki kesejahteraan keluarga (dual-career, commuter marriage).Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif fenomenologis dengan analisis DFI (deskripsi fenomenal individual). Subjek berjumlah tiga orang dengan karakteristik: memiliki pekerjaan dan tinggal terpisah dengan suami, usia pernikahan maksimal 5 tahun, dan memiliki sedikit anak atau belum sama sekali. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan observasi, didukung dengan menggunakan materi audio.Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa subjek mengalami beberapa masalah psikologis selama menjalani commuter marriage, subjek#1 menyatakan bahwa kehidupan yang sedang dijalani tidaklah normal seperti yang lainnya karena harus tinggal berjauhan dengan suami dan anaknya dan hanya bisa bertemu saat akhir pekan saja, serta merasakan ketidakstabilan emosi saat awal berpisah, subjek#2 merasa sedih dan kesepian, dan subjek#3 merasa berat saat di awal-awal pernikahan. Berbagai cara dilakukan oleh ketiga subjek agar mulai terbiasa dengan situasi tersebut selain itu dengan adanya dukungan dari keluarga serta tempat kerja dapat membuat ketiga subjek menjadi sedikit lebih mudah dalam menjalani pernikahan tersebut.
KECERDASAN SPIRITUAL PADA PENGGUNA DAN PENGEDAR NARKOBA DI LAPAS KEDUNGPANE SEMARANG
Muhammad Dzikron Fadhlurrohman;
Yeniar Indriana
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 1, Tahun 2019 (Januari 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.139 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2019.23580
Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memaknai setiap kejadian yang telah terjadi yang membuat seseorang menjadi tahu apa yang harus dilakukan kedepanya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana kecerdasan spiritual pengguna dan pengedar narkoba yang berada di dalam lapas, sehingga mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan agar kehidupan mereka lebih bermakna atau lebih positif. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif fenomenologi dengan metode eksplikasi data. Partisipan dalam penelitian ini dipilih dengan teknik purposive. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang merupakan pengguna dan pengedar narkoba namun, bukan narapidana residivis. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan sebelumnya partispan diberikan informed consent. Hasil penelitian menunjukkan ketiga partisipan memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Kecerdasan spiritual yang baik dari ketiga partisipan ditunjukan dengan mampu menerima keadaan sekarang, bangkit dari kejadian masa lalu, dan menjadikan kejadian masa lalu sebagai pelajaran untuk menentukan langkah kedepan. Dua dari tiga subjek menunjukkan kecerdasan spiritual yang dipengaruhi oleh religiusitas, itu terlihat dengan semakin dekat mereka dengan pencipta. Saat mereka dekat dengan pencipta, mereka menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama mereka meskipun dalam keadaan yang susah sekalipun. Kecerdasan spiritual yang baik membuat mereka menjadi tahu rencana apa yang akan mereka lakukan kedepanya.
HIDUP TERUS BERLANJUT: PERGULATAN EMOSI PADA WANITA KARIR YANG DITINGGAL MATI SUAMI
Dinda Putri Perdana;
Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 (April 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.544 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2015.14883
Setiap kehidupan keluarga berlangsung berdasarkan struktur, salah satu contohnya yaitu adanya pola-pola interaksi di dalam keluarga. Hilangnya pasangan hidup karena kematian akan mengakibatkan perubahan struktur keluarga sehingga muncul istilah orangtua tunggal atau single parent. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman dan perasaan pada wanita karir yang menjalani kehidupannya sebagai seorang single parent karena kematian pasangan. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis - Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dipilih untuk menggali informasi lebih dalam untuk memperoleh makna dari pengalaman yang dilalui oleh subjek. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur. Subjek penelitian ini ialah tiga orang wanita single parent yang memiliki jabatan di perusahaan tempatnya bekerja yang diperoleh melalui snowball sampling technique. Transkrip wawancara dianalisis untuk mendapatkan tema-tema induk yang terdiri dari, (1) dinamika emosi single parent, (2) proses merespon perubahan, dan (3) fokus menjadi single parent. Hasil penelitian ini mengungkapkan kekhasan yang terjadi pada seorang wanita karir yang single parent bahwa mereka mengalami adanya pergulatan emosi yang menjadi masalah terbesar bagi penyesuaian dirinya. Perasaan yang muncul tidak hanya perasaan sedih, terkejut dan tidak percaya, tetapi juga muncul perasaan bersalah pada suami, perasaan iri melihat keharmonisan pasangan suami istri dan keluarga yang utuh serta perasaan kecewa akan sikap suami. Dengan menghadapi tantangan dalam pergulatan emosi yang terjadi, wanita single parent mampu memaknai pengalamannya sebagai peralihan tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Makna single parent juga dimaknai sebagai peran orangtua yang lebih fokus dalam pengasuhan anak.
HUBUNGAN SIKAP TERHADAP MEDIA SOSIAL DENGAN PARTISIPASI SOSIAL IBU-IBU YASINAN DESA NGEMBUL, KABUPATEN BLITAR
BAROKATUL ASIYAH;
Annastasia Ediati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (332.68 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2017.20097
This study was conducted to determine the relationship between attitudes toward social media with social participation in Yasinan ladies Ngembul Village, Blitar District. The population in this study amounted to 140 mothers of Yasinan members. The sample of this research is 75 people from Dusun Ngembul and Sumberpandan obtained with incidental sampling. The measuring tool used is the scale of attitude toward social media (α = 0,785) and social participation scale (α = 0,876). Simple regression test showed a positive and significant relationship between attitude toward social media with social participation (rxy = 0,476; p <0,001). The more positive attitudes toward social media then the higher the social participation, and vice versa. Attitudes towards social media affecting 22.6% in social segregation and the rest of 77.4% influenced by other factors not disclosed in this study.
HUBUNGAN ANTARA KETIDAKPUASAN BENTUK TUBUH DENGAN INTENSI MELAKUKAN PERAWATAN TUBUH PADA WANITA DEWASA AWAL
Arsanti Oktawati Suseno;
Kartika Sari Dewi
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 (Agustus 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.271 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2014.7535
Wanita dewasa awal memiliki kebutuhan yang relatif lebih besar dalam memperhatikan tubuh dan penampilannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, muncul keinginan merawat serta memelihara tubuh yang bertujuan untuk menjaga kecantikan wajah, kulit, dan bentuk tubuh yang disebut dengan intensi melakukan perawatan tubuh. Perawatan tubuh yang dilakukan di klinik kecantikan maupun pusat kebugaran bertujuan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh wanita yang dapat menyebabkan ketidakpuasan bentuk tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara ketidakpuasan bentuk tubuh dan intensi melakukan perawatan tubuh pada wanita dewasa awal. Subjek dalam penelitian ini adalah 37 orang wanita dewasa awal yang melakukan perawatan tubuh di klinik kecantikan dan pusat kebugaran yang diperoleh melalui teknik sampling convenience sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Ketidakpuasan Bentuk Tubuh (25 aitem, α = 0,855) dan Skala Intensi Melakukan Perawatan Tubuh (25 aitem, α = 0,859), yang telah diujicobakan pada 56 orang responden. Hasil analisis data dengan korelasi Spearman rho menghasilkan koefisien korelasi sebesar -0,260 dengan p = 0,060. Hasil tersebut menunjukkan arah hubungan negatif yang tidak signifikan antara ketidakpuasan bentuk tubuh dengan intensi melakukan perawatan tubuh pada wanita dewasa awal.
EKSPLORASI PENGALAMAN STRESS PADA INDIVIDU YANG BERPERILAKU BRUKSISME (Studi Kualitatif dengan Pendekatan Fenomenologis)
Dinie Ratri Desiningrum
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 (Oktober 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (335.064 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15402
Penelitian ini bermaksud mengeksplorasi pengalaman stres dari seorang yang berperilaku bruksisme melalui sudut pandang pengalaman stres yang dialami masing-masing subjek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi deskriptif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara semi terstruktur. Subjek penelitian berjumlah tiga orang yang merupakan seorang dengan kebiasaan berperilaku bruksisme saat tidur (sleep bruxism). Peneliti menggunakan teknik purposive yaitu teknik pemilihan subjek dengan menetapkan kriteria tertentu kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh individu yang akan dijadikan subjek penelitian. Hasil penelitian menemukan bahwa pengalaman stres masing-masing subjek dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang mengakibatkan bermacam dampak. Ketiga subjek memunculkan reaksi berupa coping, yaitu katarsis, emotion-focused coping dan problem-focused coping. Pengalaman stres masing-masing subjek juga dipengaruhi oleh self concept dan lingkungan sosial dari masing-masing individu.
HUBUNGAN ANTARA EMOTIONAL LABOR DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA PERAWAT RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG
Puspita, Diraveica Widya;
Siswati, Siswati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 (Agustus 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (395.239 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2018.21738
Psychological well-being merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri yang memiliki fungsi psikologi positif ditandai dengan penerimaan diri, relasi sosial yang positif, mempunyai tujuan hidup, pengembangan diri, penguasaan lingkungan dan otonomi. Emotional labor merupakan kemampuan individu dalam mengelola emosi dengan menampilkannya sesuai tuntutan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional labor dengan psychological well-being pada perawat RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Sampel penelitian sebanyak 100 perawat dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan dua skala sebagai alat ukur, yaitu skala psychological well-being (32 aitem dengan α=0.933) dan skala emotional labor (29 aitem dengan α=0,937). Berdasarkan analisis regresi sederhana didapatkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti terbukti, yaitu terdapat hubungan positif yang signifikan antara emotional labor dengan psychological well-being (rxy = 0,356 dengan p = 0,000). Semakin tinggi emotional labor maka akan semakin tinggi psychological well-being. Sebaliknya, semakin rendah emotional labor maka semakin rendah pula psychological well-being. Sumbangan efektif yang diberikan dalam penelitian ini sebesar 12,7% dan 87,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian. Kata kunci: emotional labor, psychological well-being, perawat, RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang
GAMBARAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN (HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE) PADA PASIEN KANKER PAYUDARA (Sebuah Studi Kasus)
Luthfi Noor Aini
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 (Agustus 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/empati.2015.13009
Keberadaan penyakit kanker dalam tubuh, serta serangkaian pengobatan yang harus dijalani menyebabkan perubahan fisik dan psikis pada diri subjek karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru dalam hidupnya sehingga berpengaruh pada aspek yang menentukan kualitas hidup seseorang khususnya kualitas hidup terkait kesehatan (Health Related Quality of Life). Tujuan penelitian ini adalah eksplorasi bagaimana gambaran kualitas hidup terkait kesehatan serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien kanker payudara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang wanita penderita kanker payudara berusia 53 dan 74 tahun, dua orang informan pendukung yakni anggota keluarga (suami dan anak) serta tiga orang informan ahli yaitu dua orang dokter spesialis dan psikolog. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumen. Peneliti menggunakan model analisis eksplikasi data. Hasil penelitian menunjukkan kedua subjek memiliki HRQOL yang positif. Aspek utama yang menentukan kualitas hidup terkait kesehatan pada kedua subjek adalah kesehatan dan fungsi psikologis. Indikator aspek kesehatan dan fungsi psikologis yaitu: spiritualitas, dan semangat tinggi yang dimiliki subjek. Selain semangat tinggi, indikator spiritualitas sangat berpengaruh pada subjek SH. Subjek mengalami peningkatan dalam hal spiritual dibanding saat sebelum menderita kanker payudara. Sedangkan pada subjek MY menekankan pada indikator semangat tinggi. Dukungan yang diberikan keluarga pada MY hanya sebatas dukungan instrumental berupa kesediaan untuk mengantar saat berobat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup terkait kesehatan yang positif diantaranya: pengetahuan dan pemahaman terhadap penyakit, faktor ekonomi, usia dan dukungan sosial.
HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TERHADAP TEMAN SEBAYA DENGAN KEMATANGAN KARIR PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 1 TRUCUK KLATEN
Muntamah, Muntamah;
Ariati, Jati
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 (Oktober 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (403.475 KB)
|
DOI: 10.14710/empati.2016.15446
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan terhadap teman sebaya dengan kematangan karir pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten. Sampel penelitian berjumlah 195 siswa yang diambil menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi yaitu Skala Kematangan Karir (24 aitem valid, α= 0,848) dan Skala Kelekatan terhadap Teman Sebaya (16 aitem valid, α= 0,845). Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = 0,431 dengan p=0,00 (p < 0,001) yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara kelekatan terhadap teman sebaya dengan kematangan karir pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Trucuk Klaten. Semakin aman kelekatan terhadap teman sebaya maka kematangan karir akan semakin tinggi. Variabel kelekatan terhadap teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 18,6% terhadap variabel kematangan karir.