cover
Contact Name
Luthfi Kurniawan
Contact Email
journal@optimalbynfc.com
Phone
+6282313012644
Journal Mail Official
journal@optimalbynfc.com
Editorial Address
Grand Slipi Tower LT. 5 Unif F, Jalan S. Parman, KAV / 22-24, Village / Sub-district Palmerah, Kec. Palmerah, City Adm. West Jakarta, DKI Jakarta Province.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Optimal Nursing Journal
ISSN : -     EISSN : 30629748     DOI : -
Core Subject :
Optimal Nursing Journal (ONJ) is a national open access journal with a primary focus on the field of healthcare, specifically in the field of nursing. Serving as a specialized platform for researchers and practitioners, ONJ facilitates the sharing of research findings, analysis, and in-depth theoretical reviews. Committed to academic rigor and a rigorous peer-review process, the journal strives to uphold the highest quality and contemporary relevance in nursing practice. Published biannually, in June and December, OMJ aims to make a significant contribution to the advancement of global nursing knowledge and practice. We invite you to join us in shaping the future of nursing through active participation in the ongoing dialog.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Gambaran Kadar Glukosa Darah Peserta Prolanis di Wilayah Kerja Puskesmas Temanggung Anita Shinta Kusuma; Sapto Haryatmo; Suci Aryanti
Optimal Nursing Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740302

Abstract

Pendahuluan: Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi akibat tidak adekuatnya kontrol kadar glukosa darah ketika pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif sehingga menimbulkan hiperglikemia. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) merupakan program dari BPJS Kesehatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup para penderita penyakit kronis dan merupakan kegiatan terintegrasi yang membutuhkan kerja sama solid antara BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan, dan pasien dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014: UPK Kemenkes RI 2021). Objek: Peserta Prolanis dengan DM dimana yang aktif mengikuti Prolanis dari januari sampai Maret 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan design penelitian diskriptif analitik. Tujuan untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah pada peserta prolanis yang menderita Diabates Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Temanggung. Hasil: Penelitian yang didapatkan adalah peserta yang mengikuti prolanis dengan rutin memiliki kadar glukosa darah maksimal dibawah peserta prolanis yang tidak rutin sehingga diharapkan untuk melanjutkan mengontrol kegiatan prolanis secara rutin sebagai upaya untuk mengontrol glukosa. Diskusi: Rata-rata kadar glukosa darah peserta prolanis yang rutin mengikuti kegiatan prolanis tidak jauh berbeda dengan peserta yang tidak rutin mengikuti kegiatan prolanis. Namun, rentang kadar glukosa darah pada peserta prolanis yang rutin mengikuti prolanis lebih sempit dibandingkan dengan yang tidak rutin mengikuti prolanis. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dari kegiatan prolanis dalam membantu menjaga kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Melitus
Preventing Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)The Role of Electric Smoking Alternatives: A Literature Review Nurul Imam; Taufan Citra Darmawan; Khalifatus Zuhriyah Alfianti
Optimal Nursing Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740303

Abstract

Introduction: The incidence rate of Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) remains high, especially in developing countries, with cigarette consumption being a major risk factor contributing to the prevalence of the disease. The purpose of this article review is to explain the role of e-cigarette alternatives in preventing COPD Method: A literature search was conducted in February 2025. The strategy used to search for articles is to use the PICOS framework. The article was identified with the keywords "(Chronic Obstructive Pulmonary Disease OR COPD) AND prevention AND (Electric Smoking Alternatives OR E-Cigarettes OR Vaping". with the 2019-2025 restrictions in English as well as full-text articles, so that relevant articles were obtained. Results: E-cigarettes (EC) and heated tobacco products (HTPs) offer significant reductions in exposure to toxic chemicals compared to conventional cigarettes, potentially reducing negative health impacts, including the risk of COPD exacerbations. Research shows that EC and HTP produce lower biological responses, such as inflammation and activation of stress markers in lung epithelial cells, which may reduce negative impacts on lung health.  Conclusion: E-cigarettes, show potential as a harm reduction strategy that can reduce exposure to harmful substances and help reduce cigarette consumption in COPD patients. Although EC has been shown to be effective in reducing cigarette consumption, its long-term effectiveness still needs more research, and there are concerns about the potential for smoking habit shifts in non-smokers.
Saya Merasa Kesepian dan Masih Ingin Makan Bersama Teman-teman Saya: Pengalaman Manajemen Berat Badan Perempuan Obese Sri Dewi; Setyowati Setyowati; Imami Nur Rachmawati
Optimal Nursing Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740304

Abstract

Pendahuluan: Manajemen penurunan berat badan sering kali gagal karena gaya hidup modern, tetapi penelitian pada masyarakat pedesaan masih jarang dilakukan.. Penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan manajemen berat badan berdasarkan pengalaman perempuan dengan obesitas di Sumatera Barat dengan budaya Minangkabau. Metode: Enam Diskusi Kelompok Terarah dilakukan dengan tiga puluh satu wanita yang mengalami obesitas, yang dipilih secara purposive sampling. Desain penelitian yaitu deskriptif kualitatif dan analisis data menggunakan qualitative content analysis. Hasil: Delapan tema yang ditemukan yaitu: Sulit bergerak dan menstruasi yang tidak teratur sebagai masalah fisik yang berkaitan dengan obesitas; menghadapi pengucilan dan keluhan psikologis akibat obesitas; membatasi asupan makanan namun menghadapi masalah pencernaan; tidak dapat menghindari makanan yang tidak sehat dan makan bersama; membatasi kegiatan di luar ruangan karena penilaian orang lain; hambatan dalam berolahraga karena tugas sebagai Ibu; dukungan keluarga dan lingkungan; dan keinginan yang belum terpenuhi. Pembahasan: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh sosiokultural bagi perempuan dengan obesitas dalam program manajemen berat badan. Saran: Perlu adanya intervensi yang sensitif secara budaya untuk meningkatkan peran tokoh masyarakat dan lingkungan sosial bagi perempuan obese.
Efektifitas Pemberdayaan Pendamping Cegah Stunting dengan Pendekatan Interprofessional Collaboration Terhadap Status Gizi Baduta Berisiko Stunting Sri Mulyanti; Athanasia Budi Astuti; Diyono Diyono
Optimal Nursing Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740305

Abstract

Background. The prevalence of stunting globally in 2023 still reaches 22.3%. The prevalence of stunting in Indonesia is lower at 21.6%, but still exceeds the normal limit from WHO. The government's efforts to reduce stunting are still sectoral and have not prioritized collaboration between health professions, so the results are not optimal. This study seeks to find a new method of reducing stunting with the Interprofessional Collaboration approach. Objective. Analyzing the effectiveness of empowering Stunting Prevention Companions with an Interprofessional Collaboration Approach to the Nutritional Status of children under two years old at Risk of Stunting. Methods. A quasi experimental Pre Post control design. Conducted on 344 mothers or families who have babies aged 6-23 months at risk of stunting in Klaten Regency. Data were analyzed using the Mann Whitney Test. Results. Z Score value of pre-control group-1.13±1.25; Med:-1.13, post -1.08±1.05; Med:1.25, while the intervention group pre -0.34±1.89; Med:-1.50 and post -0.89±1.0; Med:-1.00,Mann Whitney test results Z value: -2.20, p=0.027 Conclusion. Empowerment of Stunting Prevention Companions (PECIS) with an Interprofessional Collaboration Approach effectively improves the nutritional status of toddlers at risk of stunting
Dampak Sosial Dan Kultural Pernikahan Terhadap Kualitas Hidup Lansia Dalam Dinamika Stigma Sosial Di Masyarakat Global: A Literature Review Yance Hidayat; Jipri Suyanto
Optimal Nursing Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740306

Abstract

Early marriage, despite many countries having legislated marriage age limits, still occurs and has significant long-term impacts on the quality of life of individuals, especially older adults who experience it. The social and cultural impacts of early marriage, such as educational inequality, economic hardship, and social stigma, worsen the quality of life of older people who have married young, leaving them isolated and lacking access to necessary services. In a global context, early marriage also affects the physical and mental health of older people, including reproductive health problems, economic dependency, and difficulty adapting to social change, which worsens their condition as they age. The aim of this study was to examine the social and cultural impact of early marriage on older people's quality of life, with a focus on the dynamics of social stigma in global society. This study used the PRISMA approach to conduct a systematic literature review on quality of life in older adults. Selected articles were screened using inclusion and exclusion criteria based on the PICOS framework, which included population, intervention, comparison, outcome, and study design. Literature searches were conducted in reputable databases such as PubMed, Google Scholar, and ScienceDirect, with restrictions on English-language studies published between 2019 and 2025. Studies that met the criteria were included in a narrative synthesis analysis, which identified trends, patterns, and gaps in research findings. The selection and synthesis process was conducted with transparency, ensuring that the research results were based on reliable evidence. Research on the quality of life of older adults shows that various social, cultural, and activity factors influence their well-being. One study found that most older adults had a high quality of life, with traditional values of marriage having a significant effect on their well-being. Marital status also played an important role, with married older people showing better quality of life, especially in social relationships and psychological health. Another study showed the quality of life of older people in social care centers, where age and marital status influenced differences in quality of life, although gender, education, and length of stay did not have a significant effect. Meanwhile, older people's participation in customized cultural activities can improve their quality of life, with the involved group showing significant improvements compared to the control group. Social factors such as culture, marital status, and participation in cultural activities have a major influence on the quality of life of older adults. Local cultural values and social support can improve the well-being of older people, while cultural activities integrated into care also have a positive impact. Programs that support cultural values and meet the social needs of older people are important for improving their quality of life. Cooperation between the government, social institutions and communities is needed to create a supportive environment for the elderly.
Pengaruh Pemberian Masker Moricen (Moringa oleifera dan Centella asiatica) terhadap Derajat Lesi Acne vulgaris pada Remaja di Desa Purworejo, Kecamatan Kandat Farida Hayati; Rachma Diah Ayu Wiwit Diana
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740307

Abstract

Acne vulgaris merupakan masalah kulit disebabkan oleh tersumbatnya pori-pori akibat kotoran atau minyak pada kulit. Acne vulgaris terjadi pada remaja selama masa pubertas ketika kadar hormon androgen meningkat. Penatalaksanaan non farmakologi dapat dilakukan dengan pemberian masker MORICEN yang terbuat dari daun kelor dan herba pegagan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian masker MORICEN (Moringa oleifera dan Centella asiatica) terhadap derajat lesi Acne vulgaris pada remaja.  Desain penelitian menggunakan Pre Experimental dengan one group pre test – post test design. Populasi 42 responden dengan menggunakan Purposive Sampling dengan besar sampel 14 responden. Intervensi dilakukan selama 15 menit dan dilakukan 3 kali seminggu selama dua minggu. Hasil penelitian menunjukkan pre test sebagian besar responden mengalami Acne vulgaris dengan kategori sedang, hasil post test menujukkan hampir keseluruhan responden mengalami Acne vulgaris dengan kategori ringan. Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan P value 0,003 ≤ 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, artinya ada pengaruh pemberian masker MORICEN terhadap derajat lesi acne vulgaris. Berkurangnya  acne vulgaris merupakan efek kombinasi daun kelor dan herba pegagan yang mempercepat penyembuhan kondisi acne dan memperbaiki kondisi sebum.  Disarankan penderita acne vulgaris usia remaja mampu mengaplikasikan terapi nonfarmakologi ini sebagai upaya untuk mengoptimalkan perawatan pada kulit dengan acne vulgaris.
Kebiasaan Ngemil, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi pada Remaja Usia 13 – 15 Tahun di Bekasi : Studi Cross Sectional Lisna Nuryanti; Lina Indrawati; Ayunita Lestari
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740308

Abstract

Pendahuluan: Mengkonsumsi cemilan secara umum diartikan sebagai konsumsi makanan dan minuman di antara waktu makan utama. Seringkali ini melibatkan asupan tinggi lemak, gula, dan garam. Makanan ringan menyumbang sekitar 10% dari total asupan energi harian. Ngemil yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup dapat menyebabkan penumpukan energi dalam tubuh dan mempengaruhi status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan jajanan, aktivitas fisik, dan status gizi pada remaja SMP. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Data remaja usia 13 – 15 – tahun (n = 230, 50,9% perempuan) dikumpulkan menggunakan Food Frequencies Questionaire (FFQ), Physical Activity Questionnaire – Adolescent (PAQ – A) dan BMI (Z – Score). Hasil: Penelitian menemukan bahwa sebagian besar remaja memiliki kebiasaan jajan jarang (51,7%) berkategori “jarang”, 54,3% memiliki aktivitas fisik sedang, dan 77% remaja berstatus gizi normal. Analisis chi – square menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan status gizi (p value 0,009), sedangkan kebiasaan jajanan tidak ada hubungan dengan status gizi (p – value 0,799). Pembahasan: Kebiasaan jajanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko status gizi kurang optimal. Pentingnya pendidikan gizi yang efektif dan promosi aktivitas fisik secara teratur mungkin merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesehatan remaja.
“Jika Diedukasi, Kami Siap”: Perspektif Kesiapan Pokdarwis Dalam Kesehatan Jiwa Berbasis Pariwisata Shofi Khaqul Ilmy; Made Bayu Oka Widiarta; I Komang Gunawan Landra; Kadek Dwi Pitriyani; I Gusti Ayu Armadhira Iswa Adi
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740309

Abstract

Introduction: Local tourism has the potential to serve as a platform for mental-health promotion and prevention; however, the readiness of community actors-particularly tourism awareness groups (Pokdarwis)-remains poorly understood. This study aimed to explore Pokdarwis members’ perceptions and meanings of readiness to advance mental-health efforts through local tourism in Buleleng District, Bali. Methods: A qualitative descriptive phenomenology was conducted with seven Pokdarwis members (including two coordinators) through semi-structured interviews. Data were analyzed using Template Analysis, treating the Community Readiness Model (CRM) as sensitizing concepts (prior knowledge). Trustworthiness was ensured via member checking, peer debriefing, and an audit trail. Results: Six themes emerged: (1) meanings of health along the mental-health dimension (knowledge of the issue); (2) a “quiet yet important” issue (community climate); (3) abundant but unguided potential (existing community efforts); (4) mental-health benefits that remain unpublicized (knowledge of efforts); (5) “If educated, we are ready” (leadership); and (6) potential that is not yet connected (resources). A core theme was synthesized, conditional readiness: “If educated, we are ready.” CRM mapping indicated a position spanning vague awareness to preplanning. Discussion/Recommendations: Stage-matched priorities include strengthening culturally sensitive mental-health literacy; reframing destination narratives toward “restorative tourism”; appointing and training relevant actors; piloting small-scale packages with clear standard operating procedures and referral pathways; and consolidating assets-networks-funding. Community mental-health nurses should act as key collaborators linking Pokdarwis and puskesmas (primary health centers) to support standardization, capacity building, and ongoing quality monitoring of the program.
Efektivitas Spiritual Cupping Nursing terhadap Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Rumah Sehat Holistik In Care Yogyakarta Ahmad Arifin; Aqila Yasa Fauziningrat; Muhammad Iqbal Sutisna
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740310

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah penyakit kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada arteri. Hipertensi ditandai dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg.  Bekam dilakukan dengan penyedotan kulit dibagian tertentu untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh, serta berperan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Selain terapi bekam, langkah pendekatan fisik untuk mengurangi tekanan darah, juga dikombinasikan dengan pendekatan spiritual berupa terapi murottal Al Quran. Dengan demikian, peneliti melakukan penelitian lebih lanjut. Terkait efektivitas spiritual cupping nursing terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Tujuan: Mengetahui efektivitas spiritual cupping nursing terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Rumah Sehat Holistik In Care Yogyakarta. Metode:   Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitif, menggunakan metode praexperiment dengan rancangan one group pre-test – post-test. Jumlah responden 15 orang, teknik yang digunakan simple random sampling. Instrumen menggunakan alat pengukur tekanan darah (sphygmomanometer, stetoskop dan hasil lembar observasi) Menggunakan Uji Wilxocon. Hasil: Hasil analisis penelitian uji normalitas dengan menggunakan Shapiro-wilk mendapat nilai signifikan variabel sistol sebelum (0,001), diastol sebelum(0,000), sistol sesudah (0,009), dan diastol sesudah (0,010). Lalu dilanjutkan menggunakan uji Wilcoxon pada sistol dan diastol menunjukkan nilai p = 0,000 dan p = 0,000 yang berarti nilai p<0,001. Kesimpulan:  Terdapat efektivitas spiritual cupping nursing terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Rumah Sehat Holistik In Care Yogyakarta. Diharapkan peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian dengan menambah variabel -variabel pada Penyakit yang berbeda.
EFEKTIVITAS EDUKASI BUKU SAKU DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN MENGONTROL TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI Prima Trisna Aji; Marta Tania Gabriel Ching Cing; Elinda Rizkasari
Optimal Nursing Journal Volume 3, Number 1, Juni 2026
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740311

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang ditandai dengan rendahnya pengetahuan pasien dan kurang optimalnya pengendalian tekanan darah. Intervensi edukasi menggunakan media sederhana seperti buku saku dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan self-management pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi buku saku dalam meningkatkan pengetahuan dan mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Penelitian melibatkan 44 responden pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan yang telah tervalidasi dan pengukuran tekanan darah. Intervensi diberikan berupa edukasi terstruktur menggunakan buku saku, dan analisis data dilakukan menggunakan uji statistik berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan signifikan pada skor pengetahuan (Δ = 21,82; p < 0,001). Selain itu, terjadi penurunan signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah pemberian edukasi buku saku (p < 0,001). Edukasi buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi serta dapat direkomendasikan sebagai strategi praktis dan cost-effective dalam praktik keperawatan untuk meningkatkan self-management pasien.