cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
COVER DEPAN Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, Nomor 2, Desember 2022 Jentera: jurnal Kajian Sastra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LAKI-LAKI “CANTIK” DI MATA PEREMPUAN: KONSTRUKSI TUBUH SUPERHERO DALAM SASTRA CYBER Irana Astutiningsih
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.408

Abstract

Jika perspektif feminisme pada umumnya banyak ‘mencurigai’ karya sastra sebagai arena eksploitasi tubuh perempuan oleh laki-laki, dan jika pada perkembangannya perempuan penulis telah cukup berbicara tentang tubuh perempuan seperti banyak tergambar dalam karya sastra2000-an, dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana perempuan berbicara tentang tubuh dan daya tarik seksual laki-laki dalam sastra cyber. Berangkat dari yang dikatakan Viires tentang sastra cyber, artikel ini memaparkan wacana gender dalam sastra cyber; atau lebih spesifik, tentang bagaimana perempuan penulis nonprofesional menkonstruksi tubuh maskulin dan daya tarik seksual laki-laki melalui fiksi yang mereka tulis dan unggah di internet. Uniknya, konstruksi tubuh ini diungkapkan melalui karakterisasi lelaki pecinta sesama jenis yang juga dideskripsikansebagai laki-laki cantik dalam karya fiksi mereka. Jika di dunia rill para perempuan tersebut kerapkali harus menghadapi kendala normatif untuk ‘bebas berbicara’ terkait dengan isu yang dianggap tabu, internet dengan karakteristiknya yang ‘demokratis’ telah membuka peluang bagi mereka untuk berbicara sebagai subjek. Dalam konteks ini, internet memberi kesempatan bagi para perempuan tersebut untuk mengonstruksi fantasi mereka terkait tubuh dan daya tarik lakilaki sesuai yang mereka inginkan melalui karaktesasi homoseksual, sebuah isu yang kerapkali dianggap tabu secara normatif di dunia riil.
Deiksis Waktu dan Waktu Referensial dalam Sastra Lisan Minangkabau Sheiful Yazan; Arwemi Arwemi; Gina Havieza Elmizan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5204

Abstract

Minangkabau oral literature is a folk literature that tells the story of the past, when people were not familiar with the clock as a means of telling time or modern time concepts such as hours, minutes, and seconds were not used by the community. This article describes how the Minangkabau people of the past explained the deixis of time and referential time. It also explains about the concept of time or time reference and the indication of time throughout the day, duration, time reference used, and the concepts of past, present, and future time. Katopusako utterances, petatah-petitih, and oral literature, such as Tambo Minangkabau, and kaba, especially the classic one, are used as data sources. Ferdinand de Saussure's semiotic theory was used in analysis to find signified data and the meaning of the signifier of the time deixis. The research findings show that time deixis gives an indication of time, time duration,and time reference. All time deixis of Minangkabau and referential time refer to the surrounding natural conditions and human routine activities, as the Minangkabau philosophy says,“alam takambang (nature) becomes the teacher”. AbstrakSastra lisan Minangkabau adalah karya sastra rakyat yang menceritakan kisah masa lampau ketika masyarakat belum mengenal jam sebagai alat penunjuk waktu, atau konsep waktu modern seperti jam, menit, dan detik belum digunakan. Artikel ini memaparkan bagaimana masyarakat Minangkabau masa lalu menuturkan deiksis waktu dan waktu referensial, menjabarkan konsep waktu atau rujukan waktu, serta menjelaskan indikasi waktu sepanjang hari, durasi, acuan waktu yang digunakan, dan konsep waktu masa lalu, sekarang, dan masa depan.Sumber data adalah tuturan kato pusako, petatah-petitih, dan sastra lisan, seperti Tambo Minangkabau, dan kaba, khususnya kaba klasik Minangkabau. Analisis data menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure untuk menemukan data petanda (signified) dan menemukan makna penanda (signifier) dari deiksis waktu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa deiksis waktu memberikan indikasi waktu, durasi waktu, acuan waktu, dan referensi waktu. Semua deiksis waktu dan waktu refensial Minangkabau merujuk kepada kondisi alam sekitar dan kegiatan rutin manusia sebagaimana filosofi Minangkabau mengatakan alam takambang jadi guru.
Paradoks Individualitas: Penjelajahan Dekonstruksi Nilai Komunal dan Individual dalam Cerpen Jakarta Karya Totilawati Tjitrawasita Laetitia Sugestian; Yoseph Yapi Taum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.7872

Abstract

This study aims to explore alternative interpretations of the short story Jakarta to demonstrate that such interpretation is not absolute. The data for this study is collected through library research. This study employs an eclectic approach by combining objective and discursive methods. Teeuw's semiotic theory is used for objective analysis, while Derrida's deconstruction theory is applied for discursive analysis. In the process data analyzation, the researcher anaylized the short story's elements using Teeuw's semiotic theory, identified the ideology embodied in the story, carried out decentering with Derrida's deconstruction theory, and identified as well as developed novel ideas that arose from the decentering process. The findings of this study reveal that the interpretation of the short story Jakarta is not absolute. The analysis using Teeuw's theory reveals that the story foregrounds the importance of family as a community, in which personal interests are considered secondary. However, the application of Derrida's deconstruction theory uncovers a new idea within the story, namely that each individual has the right to prioritize personal interests over non-urgent communal concerns. This idea is found through the characterization of Pak Pong's selfishness, as reflected in the conflict within the short story Jakarta. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penafsiran alternatif terhadap cerpen Jakarta untuk menunjukkan bahwa penafsiran terhadap cerpen ini tidak bersifat mutlak. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Dalam proses analisis, penelitian ini menggunakan pendekatan eklektik dengan menggabungkan metode objektif dan diskursif. Teori semiotika Teeuw digunakan untuk analisis objektif, sedangkan teori dekonstruksi Derrida diterapkan dalam analisis diskursif. Dalam melakukan analisis, peneliti menganalisis struktur cerpen dengan teori semiotika Teeuw, mengidentifikasi ideologi yang terkandung dalam cerpen, melakukan decentering dengan teori dekonstruksi Derrida, dan mengidentifikasikan serta merumuskan gagasan baru yang muncul dari proses decentering. Penelitian ini menemukan bahwa penafsiran terhadap cerpen Jakarta tidaklah mutlak. Analisis dengan teori Teeuw menunjukkan bahwa cerpen ini mengedepankan pentingnya keluarga sebagai sebuah komunitas, dengan kata lain kepentingan pribadi ditempatkan sebagai urusan sekunder. Namun, penerapan teori dekonstruksi Derrida berhasil mengungkap sebuah gagasan baru dalam cerpen ini, yaitu bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengutamakan kepentingan pribadinya dan menomorduakan urusan komunal yang tidak mendesak. Gagasan ini ditemukan melalui karakter keegoisan Pak Pong yang tercermin dalam konflik cerpen Jakarta.
PENGANTIN-PENGANTIN BOCAH DALAM SASTRA BERLATAR DI INDONESIA, AFGHANISTAN, DAN BANGLADESH Novita Dewi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.876

Abstract

Artikel ini membahas tokoh-tokoh perempuan yang menikah di usia muda pada tiga karya sastra terpilih yang berlatar tempat di Indonesia, Afghanistan, dan Bangladesh, yaitu “Inem” karya Pramoedya Ananta Toer, novel A Thousand Splendid Suns oleh Khaled Hosseini, dan cerpen Razia Sultana Khan “Seduction”. Metode content analysis dan pendekatan feminisme, multikulturalisme, dan poskolonialisme digunakan untuk menelisik penggambaran pengantin-pengantin bocah dalam ketiga karya. Terdapat tiga temuan yaitu, pertama, perekonomian keluarga menjadi pertimbangan perkawinan anak dan dianggap kewajaran pada tradisi dan waktu tertentu.  Kedua, pengantin-pengantin bocah menjadi korban demi menjaga kehormatan keluarga. Ketiga, terjadi normalisasi kekerasan ketika pengantin-pengantin belia yang dikorbankan itu dianggap sebagai kelumrahan saja.    Kata-kata kunci: pengentasan kemiskinan, kehormatan keluarga, normalisasi kekerasan
Citra Makanan Indonesia dalam Puisi di Atas Meja Makan: Kajian Gastrokritik Icha Nurhalimah; Ari Ambarwati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 12, No 2 (2023): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v12i2.6863

Abstract

This study focuses on describing the image of Indonesian food in the collection of Poems on the Dining Table by Nova. In general, poetry only introduces how the author feels about what he feels about life, but through this gastrocritical research researchers want to show the distinctive form of poems with food themes and as a form of characteristics and culture from the area. Gastronomy has an important role to play in conveying the history of food it originated and became more than just food. The methods used in this study are qualitative methods and careful reading methods to describe the concept of gastrocriticism in culinary and art. The procedures in data collection used to collect data are the stage of determining the source of the data, the stage of reading the whole, the stage of categorizing the concept of gastrocriticism, and the stage of describing the results of gastrocriticism. The discovery of culinary and artistic concepts in poetry on the dinner table includes, 1) the image of taste, 2) the way of presentation, and 3) the way the food is consumed. Of the three culinary and artistic concepts, the most dominant result obtained in poetry research on the dinner table is the way of presentation. AbstrakPenelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan citra makanan Indonesia dalam kumpulan Puisi di Atas Meja Makan karya Nova. Pada umumnya puisi hanya mengenalkan bagaimana perasaan penulis terkait apa yang dirasakan tentang kehidupan, tetapi melalui penelitian gastrokritik ini peneliti ingin menunjukan bentuk khas dari puisi-puisi yang bertema makanan dan sebagai bentuk ciri khas dan budaya dari daerah tersebut. Gastronomi memiliki peran penting dalam menyampaiakan sebuah sejarah makanan itu berasal dan menjadi lebih dari sekedar makanan. Metode  yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode kualitatif dan metode membaca cermat untuk mendeskripsikan konsep gastrokritik pada kuliner dan seni. Prosedur dalam pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu tahap menentukan sumber data, tahap membaca keseluruhan, tahap mengkategorikan konsep gastrokritik, dan  tahap menjabarkan hasil dari gastrokritik. Penemuan konsep kuliner dan seni dalam puisi di atas meja makan diantaranya, 1) citra rasa, 2) cara penyajian, dan 3) cara makanan tersebut dikonsumsi. Dari ketiga konsep kuliner dan seni, hasil yang diperoleh dalam penelitian puisi di atas meja makan yang paling dominan adalah Citra rasa.
Representasi Perempuan dalam Novel Selaput Biru Karya Laksmi Pamuntjak: Kajian Ginokritik serta Implikasi pada Nilai Moral Amelia Susanti; Maman Suryaman; Esti Swatika Sari
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8458

Abstract

This study is motivated by the representation of women in Selaput Biru, a novel by Laksmi Pamuntjak, examined through a gynocritical perspective and its implications for moral values, demonstrating that women can enact resistance through women’s writing and women’s culture. The study aims to describe the representation of women in Selaput Biru based on a gynocritical approach and to analyze its implications for moral values. This research employs a qualitative descriptive method with a focus on literary text analysis. The data were obtained from textual excerpts of the novel through systematic and repeated reading, followed by data recording and conclusion drawing. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data collection, data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the representation of women is articulated through women’s modes of writing and women’s culture, with a particular emphasis on values. The identified moral values encompass the relationship between humans and God (gratitude and sincerity), the relationship with oneself (self-confidence, happiness, fear, sadness, and regret), and the relationship with others (disappointment, affection, happiness, and empathy). These findings affirm women as authorial subjects who construct moral values through women’s literary works by employing distinctive writing strategies that negotiate patriarchal perspectives. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh representasi perempuan dalam novel Selaput Biru karya Laksmi Pamuntjak yang dikaji melalui perspektif ginokritik serta implikasinya terhadap nilai moral, yang menunjukkan bahwa perempuan dapat melakukan perlawanan melalui tulisan dan budaya perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi perempuan dalam novel Selaput Biru berdasarkan pendekatan ginokritik serta implikasinya terhadap nilai moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan fokus pada analisis teks sastra. Data diperoleh dari teks dan kutipan novel melalui teknik baca secara sistematis dan berulang terhadap teks yang memuat representasi perempuan, kemudian melakukan pencatatan, dan kesimpulan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi perempuan ditampilkan melalui model penulisan perempuan dan budaya perempuan yang berfokus pada values (nilai-nilai). Nilai moral yang ditemukan meliputi hubungan manusia dengan Tuhan berupa rasa syukur dan keikhlasan, hubungan dengan diri sendiri berupa kepercayaan diri, kebahagiaan, ketakutan, kesedihan, dan penyesalan, serta hubungan dengan sesama berupa kekecewaan, kasih sayang, kebahagiaan, dan empati. Temuan ini menegaskan perempuan sebagai subjek penulis yang membangun nilai moral melalui karya perempuan seperti melalui kacamata patriarki dengan strategi penulisan khas perempuan.
GERAK KOMUNITAS FIKSIMINI DI RUANG SIBER Mohammad Rokib
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v1i2.278

Abstract

Perkembangan teknologi infomasi yang sangat pesat di Indonesia telah mencip-takan ruang baru dunia sastra. Ragam karya sastra meruah dan menjelma dalam bentuk baru dunia siber yang menonjolkan indra visual. Selera sastra pada gilirannya membentuk citranya sendiri dengan desain semacam genre baru yang berusaha bergerak melampaui ruang sebagaimana gerakan komunitas “fiksimini”. Kelompok itu mampu memopulerkan mini karya sastra yang dianggap ringkas tanpa menegasikan esensi karya sastra. Komunitas Fiksimini mampu menciptakan sensibilitas baru yang membuat masyarakat berselera terhadap karya sastra? Melalui paradigma pascastrukturalis mode of information (Mark Poster), tulisan ini berusaha menyajikan deskripsi konteks kecenderungan sastra baru sebagaimana kehadiran komunitas fiksimini. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dalam usaha memahami gerak komunitas fiksimini di ruang jejaring sosial dan situs web. Apabila dalam masyarakat modern (strukturalis) yang dominan adalah media tulisan fisik dan percetakan yang bersifat mekanik, konteks masyarakat mutakhir (pascastrukturalis) cenderung termediasi oleh media audiovisual yang bersifat elektronik. Kemunculan komunitas itu merupakan aktualisasi kebudayaan mutakhir yang menciptakan sensibilitas baru serta membentuk citra indrawi yang bermacam-macam dengan mudah melalui media elektronik.Kata kunci: ruang siber, komunitas fiksimini, sensibilitas baru
SASTRA INDONESIA MODERN DAN MANUSIA URBAN Acep Iwan Saidi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.387

Abstract

Artikel ini berisi kajian tentang sastra Indonesia modern dalam kaitannya dengan kehidupan manusia urban. Beberapa hal penting yang menjadi ruang lingkup kajian adalah karakteristik manusia urban, representasinya dalam karya sastra Indonesia modern, dan posisi sastra urban dalam sejarah sastra Indonesia. Melalui kajian ini, ditemukan fakta bahwa di dalam karya sastra Indonesia modern, sosok manusia urban bukan tema yang hanya mencuat dalam karya termutakhir. Namun, dengan karakteristiknya yang berbeda-beda dari setiap zaman, permasalahan manusia urban telah muncul sejak sastra Indonesia modern itu lahir.
Figur Remaja Pendukung Nazi dalam Film Lore: Perkembangan Identitas Remaja dan Pergerakan Posisi Korban-Pelaku Radistya Nabila Syawallifa; Lisda Liyanti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.1754

Abstract

The involvement of a child in a case which put them in the position of victim or perpetrator needs to be reviewed through their identity development. One of the cases that discussed the issue about victim and perpetrator was the postwar situation when the Nazi regime collapsed on the end of World War II. Lore (2012) by Cate Shortland became one of the movies that took time on postwar situation and bringing up the issue of victim or perpetrator through the perspective of adolescent. The subject of this study is the identification of the Nazi supporter adolescent’s position as victim or perpetrator that is depicted in the movie Lore. The method used in this study is qualitative method with the main theory of Alterität und Identität by Wolfgang Raible and the adolescent identity status theory by James Marcia. The theory of Alterität und Identität is used to analyze how the main character interacts with foreign things she encounters in the postwar period and its influence on her identity awareness. The identification of the character’s position as victim or perpetrator on postwar context in the movie Lore was carried out using the status of adolescent identity theory. The result of this analysis shows that there is a development of identity experienced by the character Lore, so that the movie depicts her as a victim based on the adolescent identity development. AbstrakKeterlibatan seorang anak dalam suatu kasus yang memposisikannya sebagai korban atau pelaku perlu ditinjau melalui perkembangan identitasnya. Salah satu kasus yang mengangkat isu tentang korban dan pelaku adalah keadaan setelah perang ketika rezim Nazi runtuh pada akhir Perang Dunia II. Film Lore (2012) karya sutradara Cate Shortland menjadi salah satu film yang berlatarkan setelah perang dan mengangkat isu korban dan pelaku melalui perspektif remaja. Hal yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah identifikasi posisi remaja pendukung Nazi sebagai korban atau pelaku yang digambarkan dalam film Lore. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teori Alterität und Identität (Perbedaan dan Identitas) milik Wolfgang Raible dan teori status identitas remaja milik James Marcia. Teori Alterität und Identität digunakan untuk menganalisis bagaimana interaksi tokoh utama dengan hal-hal asing yang ditemuinya pada masa setelah perang dan pengaruhnya terhadap kesadaran identitas. Identifikasi penggambaran posisi tokoh sebagai korban atau pelaku dalam konteks setelah perang dilakukan menggunakan teori psikologi mengenai status identitas remaja. Hasil dari analisis menunjukkan terdapat perkembangan identitas yang dialami oleh tokoh Lore, sehingga posisinya digambarkan di dalam film ini sebagai korban berdasarkan perkembangan identitas remaja.      

Page 7 of 27 | Total Record : 266