cover
Contact Name
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
Contact Email
jurnaljentera@gmail.com
Phone
+62895384199272
Journal Mail Official
sultanmujtaba.04@gmail.com
Editorial Address
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : https://doi.org/10.26499/jentera
Core Subject :
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December. Article coverage includes poetry, prose, drama, oral tradition, and philology, and while submissions may originate from or focus on literary works from any geographic region or genre, they should provide a critical perspective to voice the societal marginalization within contemporary literature comprising semiotics, critical discourse analysis, descriptive qualitative, content analysis, or textual analysis.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN Asep Yusup Hudayat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3536

Abstract

Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana  tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian  ini  adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat  kesewenangan kaum ménak. Adapun kaum ménak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah. Semangat meruntuhkan penindasan kaum ménak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum ménak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci: perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial  AbstractThis article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who "learned" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” "Temptation for Youths" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonial
HIERARKI SASTRA POPULER DALAM ARENA SASTRA INDONESIA KONTEMPORER Kukuh Yudha Karnanta
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i1.379

Abstract

Artikel berjudul Hierarki Sastra Populer dalam Arena Sastra Indonesia Kontemporer ini merupakan ikhtiar untuk mendeskripsikan, memahami, dan mengeksplisitkan kondisi kealaman sastra Indonesia kekinian yang menjadi latar kemunculan karya sastra yang diberi label ‘populer’. Karya sastra ‘populer’ sesungguhnya selalu muncul di setiap periode dengan problematikayang kurang lebih mirip: apakah populer itu, siapa yang menyebutnya ‘populer’, apa implikasi dari pelabelan ‘populer’, dan bagaimana modus kemunculan serta keberadaannya. Dengan pemahaman bahwa tidak ada satu pun praktik labelisasi yang tidak mengandung implikasi estetis dan sosiologis, artikel ini disusun dengan pendekatan Strukturalisme Genetik yang digagas Pierre Bourdieu. Pendekatan tersebut, yang lantas melahirkan teori Arena Produksi Kultural, berguna untuk mengidentifikasi kontestasi simbolik yang terjadi diantara agen-agen sastra yang bertarung untuk mendapatkan posisi tertentu dalam arena sastra Indonesia kontemporer.
PERIBAHASA BANJAR (MENAMPILKAN KARAKTER NEGATIF UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER POSITIF) H. Rustam Effendi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.441

Abstract

Proverb can be said as an effective and common tool for educating the character values. In term of form, Banjarese proverb can be divided into two types: (1) a type that describes a people who has a good or ideal values (positive characters), and (2) a type of people who does not have any values at all (negative characters). It seems that these types are cross aside, but in reality, these two types actually have the same purpose which is educating good characters for our society. This article talks about one type of those types, which is a type of Banjarese proverb that displaying the negative characters for educating the positive moral values (positive characters). This type of proverb has a lot in numbers, and mostly the society likes this type of proverb more than the first ones. This may be understood because (1) this type of proverb can be act a humorous thing to be discussed, (2) it is more factual so it is easy for the society to understand the meaning of the proverb itself, (3) it is easy to be remembered as it has a clear point, (4) it acts as an early awareness, and (5) it contains a strong critical point for the public community.AbstrakApabila berbicara tentang karakter, peribahasa (termasuk peribahasa Banjar) merupakan wadah yang paling efektif dan paling sering diungkapkan untuk menanamkan nilai karakter. Dilihat dari sisi bentuk, peribahasa Banjar dapat dipilahkan menjadi dua tipe, yakni tipe yang mendeskripsikan/menampilkan manusia berkarakter ideal (karakter positif) dan menampilkan manusia yang sama sekali tidak berkarakter dan atau mengabaikan karakter atau akarakter (karakter negatif). Walaupun dua tipe ini tampaknya berseberangan, tujuannya sama, yakni menanamkan nilai-nilai karakter yang ideal kepada anggota masyarakatnya. Artikel ini hanya menyoroti salah satu dari dua tipe di atas, yakni tipe peribahasa yang menampilkan sosok manusia yang akarakter dan pesan-pesan moral yang terkandung di dalam peribahasa itu. Tipe peribahasa ini lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tipe pertama. Masyarakat juga lebih menyukai tipe ini dalam menyampaikan pesan-pesan moral. Masyarakat Banjar lebih sering menggunakan tipe peribahasa ini disebabkan (a) dapat dijadikan bahan bercanda atau bahan tertawaan, (b) lebih konkret sehingga mudah dipahami, (c) mudah diingat karena acuannya jelas, (d) mengingatkan sejak dini sebelum pelanggaran nilai terjadi, dan (e) berisi kritik yang pedas yang sasarannya berlaku umum.
COVER BELAKANG Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, Nomor 2, Desember 2022 Jentera: Jurnal Kajian Sastra Volume 11, No 2, Desember 2022
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makna Metafungsional dalam Novel Penyelamat Kakakku Karya Jodi Picoult Roni Lo Vun Yin; Mayong Maman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8346

Abstract

This study aims to analyze the realization of metafunctional meaning (textual, interpersonal, ideational) and ideology in the novel Penyelamat Kakakku by Jodi Picoult with a functional systemic linguistic approach, descriptive qualitative method. Data collection through documentation, reading, and note-taking techniques that are analyzed by triangulation. The analysis reveals the author's ideology that emphasizes individual rights, family authority, and the relativity of meaning that textually, ideationally, and interpersonally criticizes the power structure and restrictive social norms, while fighting for bodily autonomy and individual freedom. The research findings correlate with the development of critical literacy, literature based on human values, and character development that emphasizes social sensitivity and critical thinking skills towards social reality. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis realisasi makna metafungsional (tekstual, interpersonal, ideasional) dan ideologi dalam novel Penyelamat Kakakku karya Jodi Picoult dengan pendekatan linguistik sistemik fungsional, metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data melalui teknik dokumentasi, baca, dan catat yang dianalisis secara triangulasi. Analisis mengungkap ideologi penulis yang menekankan hak individu, otoritas keluarga, dan relativitas makna yang secara tekstual, ideasional, dan interpersonal mengkritik struktur kuasa serta norma sosial yang mengekang, sekaligus memperjuangkan otonomi tubuh dan kebebasan individu. Temuan penelitian berkorelasi dalam pengembangan literasi kritis, sastra berbasis nilai kemanusiaan, serta pengembangan karakter yang menitikberatkan pada kepekaan sosial dan kemampuan berpikir kritis terhadap realitas sosial.
EKSTASI GAYA HIDUP URBAN DALAM HANACO Resti Nurfaidah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.892

Abstract

   Makalah ini berjudul “Ekstasi Gaya Hidup Urban dalam Hanaco”. Makalah ini memaparkan kondisi manusia urban yang terjebak dalam kungkungan budaya massa. Pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada tiga hal berikut, yaitu perkawinan dan parenting, masalah dan penyelesaian masalah, serta hubungan antarmanusia. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapati jawaban atas ketiga masalah tadi, yaitu bagaimana manusia urban memandang dan menghadapi perkawinan serta parenting, masalah dan penyelesaian masalah, serta hubungan antarmanusia. Pembahasan tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies pada pengaruh budaya massa, terutama di kalangan manusia urban yang terdapat pada data penelitian berupa novel-novel karya Indah Hanaco, yaitu  (1) Black Angel, (2) The Curse of Beauty: Metrolifestyle Sales Promotion Girl, (3) Le Masques, (4) My Better Half,  (5) You Had Me at “Hello”, (6) Heartling, (7) Out of the Blue, (8) Delicious Married, (9) The Passionate Married, (10)  Fixing A Broken Heart,  dan (11) Millionaire’s Heart. Hasil amatan sementara yang dapat terungkap dalam abstrak, antara lain, tampaknya terjadi pergeseran pandangan manusia urban terhadap perkawinan, konsep parenting, masalah dan penanganan masalah, serta hubungan antarmanusia.
Harmoni dan Konflik: Eksplorasi Isu Lingkungan Cagar Alam Novel Kekal Karya Jalu Kencana Juanda Juanda; Iswan Afandi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7060

Abstract

The urgency of preserving nature reserves lies in protecting the flora and fauna within them and maintaining the balance of the wider environment. This research aims to examine ecological issues in the novel Kekal by Jalu Kancana using Greg Garrard's ecocritical approach. The qualitative descriptive method was applied to analyze the nature reserve phenomenon in the novel Kekal by Jalu Kancana, published by Mojok in 2019, with 252 pages. Data collection techniques will be carried out through library research, allowing the extraction of relevant data directly from the novel text. The data analysis technique used is an interactive model. The findings show six ecocritical aspects in the novel: pollution, wilderness, disaster, settlement, animals, and earth. Based on the results of the analysis, the tendency of ecological aspects that appear in the novel Kekal, namely settlement issues amounting to 12.20%, forest destruction issues at 9.16%, animal extinction at 8.95%, disasters at 6.90%, pollution at 5.13%, and earth/global warming amounted to 4.89%. The problem of dense settlements in urban to rural areas has the highest percentage of coverage, which shows that this novel significantly describes or discusses settlements. For policymakers, the findings of this research highlight the urgency of environmental protection. They can be used as a basis for designing more effective policies to overcome housing problems, forest conservation, animal protection, deforestation problems, and anticipating disasters in Indonesia.AbstrakUrgensi pelestarian cagar alam tidak hanya terletak pada perlindungan flora dan fauna yang ada di dalamnya, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan lingkungan yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan mengkaji isu-isu ekologi cagar alam dalam novel Kekal karya Jalu Kancana dengan menggunakan pendekatan ekokritik Greg Garrard. Metode deskriptif kualitatif diterapkan untuk menganalisis fenomena cagar alam dalam novel Kekal karya Jalu Kancana, yang diterbitkan oleh Mojok pada tahun 2019 dengan total 252 halaman. Teknik pengumpulan data akan dilakukan melalui studi pustaka, memungkinkan ekstraksi data yang relevan langsung dari teks novel. Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif. Temuan menunjukkan bahwa terdapat enam aspek ekokritik dalam novel tersebut, yaitu polusi, hutan belantara, bencana, pemukiman, binatang, dan bumi. Berdasarkan hasil analisis, kecenderungan aspek ekologi yang muncul dalam novel Kekal, yakni isu pemukiman berjumlah 12,20%, kerusakan hutan 9,16%, hewan 8,95%, bencana 6,90%, polusi 5,13%, dan bumi berjumlah 4,89%. Masalah pemukiman di wilayah perkotaan hingga pedesaan memiliki presentase cakupan tertinggi yang menunjukkan bahwa novel ini secara signifikan menggambarkan atau membahas tentang pemukiman. Temuan penelitian ini menyoroti urgensi perlindungan lingkungan dan dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kebijakan yang lebih efektif dalam mengatasi masalah pemukiman, pelestarian hutan, perlindungan hewan, dan mengatasi masalah deforestasi, serta antisipasi bencana di Indonesia.
Negotiating Identity and the Politics of Chinese Ethnic Assimilation in Clara Ng's Novel "Dimsum Terakhir" Zhou Yin Lin; Wiyatmi Wiyatmi; Deng Yao
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8591

Abstract

This study aims to analyze the representation of Chinese identity in Clara Ng's novel Dimsum Terakhir. The study uses a qualitative approach with a text analysis design based on Stuart Hall's cultural identity theory and a sociological perspective of literature to uncover the construction of ethnic identity through narratives, characters, and social contexts in literary works. Data collection techniques were carried out through literature studies using the reading and note-taking method. The researcher conducted intensive and repeated readings of the text (close reading) to identify relevant data, then grouped them based on thematic categories. Data analysis refers to the stages of qualitative analysis according to Creswell (2015), including organizing data, coding, interpreting themes, and drawing interpretive conclusions by considering the social, historical, and ideological contexts of the text. The results of the study indicate that Chinese identity in the novel Dimsum Terakhir is not singular and static but rather a dynamic and continuously negotiated social construction. The representation of identity is evident through identity politics, such as changes in name, religion, and citizenship status, which reflect structural pressures and assimilation practices. In addition, discrimination and stereotypes that emerge in social interactions indicate the existence of unequal power relations. Culturally, traditions such as Chinese New Year celebrations and the consumption of dim sum are maintained despite restrictions placed on private spaces. This research confirms that the novel "Dimsum Terakhir" represents Chinese identity as a space for social, political, and psychological negotiation, while also providing implications for strengthening multiculturalism and respecting cultural diversity in Indonesia. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas Tionghoa dalam novel “Dimsum Terakhir” karya Clara Ng. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis teks yang didasarkan pada teori identitas budaya Stuart Hall dan perspektif sosiologi sastra untuk mengungkap konstruksi identitas etnis melalui narasi, tokoh, dan konteks sosial dalam karya sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan metode baca dan catat. Peneliti melakukan pembacaan teks secara intensif dan berulang (close reading) untuk mengidentifikasi data yang relevan, kemudian mengelompokkannya berdasarkan kategori tematik. Analisis data mengacu pada tahapan analisis kualitatif menurut Creswell (2015), meliputi pengorganisasian data, pengodean, interpretasi tema, dan penarikan simpulan secara interpretatif dengan mempertimbangkan konteks sosial, historis, dan ideologis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Tionghoa dalam novel “Dimsum Terakhir” tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan merupakan konstruksi sosial yang dinamis dan terus dinegosiasikan. Representasi identitas tampak melalui politik identitas, seperti perubahan nama, agama, dan status kewarganegaraan, yang mencerminkan tekanan struktural serta praktik asimilasi. Selain itu, diskriminasi dan stereotip yang muncul dalam interaksi sosial menunjukkan adanya relasi kuasa yang tidak setara. Dalam aspek budaya, tradisi seperti perayaan Imlek dan konsumsi dimsum tetap dipertahankan meskipun mengalami pembatasan dalam ruang privat. Penelitian ini menegaskan bahwa novel “Dimsum Terakhir” merepresentasikan identitas Tionghoa sebagai ruang negosiasi sosial, politik, dan psikologis sekaligus memberikan implikasi bagi penguatan multikulturalisme dan penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia.
TOKOH-TOKOH NATIVEPHILIA DALAM ANTOLOGI CERPEN SEMUA UNTUK HINDIA KARYA IKSAKA BANU: ANALISIS PASCAKOLONIAL HOMI K. BHABA Fadlun Suweleh
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2837

Abstract

Pada tahun 2014 antologi cerpen Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu dinobatkan sebagai buku prosa terbaik oleh Kusala Sastra Khatulistiwa. Selain kelihaiannya dalam meramu ruang imaji di celah fakta historis, ada hal lain yang menarik dari antologi tersebut, yakni hadirnya tokoh-tokoh Eropa selaku narator atau tokoh sentral, namun tingkah laku mereka tak seperti orang Eropa pada umumnya. Mereka berpotensi memiliki keberpihakan (empati) pada Pribumi. Empati tokoh-tokoh Eropa tersebut bahkan menjadi konflik berulang. Pada penelitian ini, tokoh-tokoh Eropa yang berhaluan kepada Pribumi diistilahkan sebagai nativephilia. Dengan konsep split (terpecah / terbelah) yang dipopulerkan oleh Homi K. Bhabha, penelitian ini menguatkan pandangan Bhabha bahwa Timur (Pribumi) juga ternyata dapat membentuk Barat (Eropa). Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh Eropa tersebut terbelah jiwanya, antara dirinya yang asli (penjajah) dengan dirinya yang lain yang bersimpati pada pribumi (terjajah).Kata kunci: Pascakolonial, Semua untuk Hindia, Nativephilia, Homi K Bhabha.
Analisis Unsur Utopia dalam Tiga Novel Jepang Kontemporer Karya Jiro Akigawa dalam Hubungannya dengan Konsep Uchi Dan Soto di Masyarakat Jepang Nalti Novianti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.349

Abstract

Konsep Utopia yang ada dalam tiga novel Jepang kontemporer karya Jiro Akagawa sangat menggambarkan keadaan masyarakat Jepang dewasa ini. Dalam konsep pergaulan yang sangat meninggikan masalah hierarki, dan ketatnya pergaulan antar persona di Jepang, Akagawa mengeluarkan semua kreativitasnya untuk keluar dari kenyataan tersebut. Novel Akagawa merupakan novel misteri yang mengusung masalah kemasyarakatan, terutama mengenai sifat ketertutupan masyarakat Jepang yang sangat dipengaruhi oleh konsep Uchi dan Soto. Konsep inilah yang membuat masyarakat Jepang membagi diri menjadi ”kelompok dalam” dan ”kelompok luar”. Konsep ini pula yang membuat mereka dianggap sebagai masyarakat tertutup yang tidak aktif membangun hubungan linear ke luar dirinya sendiri. Dalam gaya satire-nya Akagawa mengemukakan gagasannya dalam novel-novelnya untuk menyampaikan pesan pada pembacanya.

Page 6 of 27 | Total Record : 266