cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Penelitian Palinologi pada Sedimen Paleogen di Kawasan Indonesia Bagian Barat Eko Budi Lelono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 2 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.2.734

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut akibat tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Asia yang diperkirakan berlangsung pada Eosen Tengah (Hall, 1998). Pada Oligosen Awal proses rifting dan subsid- ence (yang sudah dimulai pada Eosen Akhir) terus berlanjut yang ditandai dengan pembentukan pull-apart basin di beberapa daerah seperti Laut Cina Selatan, Sumatra dan Laut Jawa Barat Utara (Morley, 2000). Pada fase awal pembentukan pull-apart basin ditandai oleh terbentuknya endapan danau atau darat lainnya yang dibuktikan dengan dominasi alga air tawar Pediastrum spp. seperti ditemukan pada Cekungan Jawa Barat Utara. Mendekati umur Oligosen Akhir proses penurunan cekungan (subsidence) berlangsung sangat intensif pada area yang luas. Proses ini ditambah dengan kenaikan muka laut menyebabkan penyusutan daratan akibat penggenangan air laut, sehingga sedimentasi umumnya terjadi di lingkungan transisi sampai laut dangkal. Hal ini ditandai oleh kehadiran beragam palinomorf air payau (mangrove dan back- mangrove) pada penampang sumur umur Oligosen Akhir seperti dijumpai di Cekungan Jawa Barat Utara dan Jawa Timur Utara. Secara umum, keragaman dan kelimpahan palinomorf umur Oligosen jauh rendah dari pada umur Eosen. Hal ini disebabkan kondisi iklim lebih kering yang mendominasi umur Oligosen, meskipun di beberapa tempat dipengaruhi oleh iklim basah.
Biosida Asam Anakardat Penghambat Aktivitas Paecilomyces sp. dalam Mendegradasi Avtur Sri Kadarwati
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 2 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.2.735

Abstract

Avtur sebagai bahan bakar penerbangan kandungan utamanya adalah hidrokarbon, sedikit senyawa pengotor yang berupa garam anorganik dan air. Komposisi hidrokarbon avtur ini terdiri atas parafin, olefin, naftena, dan aromat. Di daerah tropis seperti Indonesia, avtur tidak dapat bebas 100% dari air, karena adanya kondensasi dan keterlarutan air dalam avtur. Adanya air dalam avtur walaupun sedikit sekali akan membantu pertumbuhan mikroba, karena air merupakan bahan utama yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya. Bahan-bahan lain yang mem- pengaruhi pertumbuhan mikroba adalah unsur-unsur C, H. O, N, S, P, dan mineral. Unsur-unsur ini semuanya kemungkinan terdapat dalam avtur, sehingga besar kemungkinannya mikroba dapat tumbuh dalam avtur. Hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba tersebut adalah kondisi fisik yang meliputi suhu, kelembapan, dan pH. Hasil penelitian PPPTMGB"LEMIGAS" (1983) menunjukkan adanya mikroba dalam bahan bakar penerbangan, yaitu bakteri, kapang, aktinomisetes, dan khamir, antara lain Bacillus, Pseudomonas, Micro- coccus, Nisseria, dan Cladosporium resinae. Paecilomyces sp. merupakan kapang yang dominan di Indonesia (Sri Kadarwati, 1989). Avtur dalam penggunaannya memerlukan penanganan dan pengawasan yang ketat, mengingat pemakaiannya sebagai bahan bakar pesawat udara, mempunyai risiko tinggi apabila terkontaminasi oleh mikroba sehingga terjadi degradasi avtur, merusak pompa bahan bakar, penyumbatan pada filter dan berakibat fatal. Dalam menunjang pengawasan yang ketat ini, perlu meningkatkan pengawasan kualitas avtur tidak hanya dari sifat fisik saja, tetapi juga mempelajari masalah pengrusakan kualitas yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Oleh karena itu maksud dan tujuan penelitian ini adalah mencari biosida yang dapat menghambat pertumbuhan/aktivitas mikroba dalam avtur dan tidak merusak mutu avtur.
Karakterisasi Biopolimer untuk Aplikasi Microbial Profile Modification (MPM) yang Dihasilkan oleh Isolat Bakteri BLCC N-197 Zulkifliani Zulkifliani
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 2 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.2.736

Abstract

Eksploitasi minyak bumi secara konvensional masih terbatas jumlah produksinya; diperkirakan 1/3 dari kandungan minyak awal (OOIP) dari cadangan minyak bumi yang ada dalam reservoir masih tersisa dalam pori-pori batuan. Untuk mengatasi permintaan minyak bumi yang semakin meningkat diperlukan suatu teknologi baru yang dapat mengeksploitasi sumur minyak secara maksimal. Minyak bumi yang masih terperangkap dalam pori-pori batuan dalam reservoir masih dapat diproduksi kembali dengan teknologi En- hanced Oil Recovery (EOR). Teknologi ini merupakan salah satu metode yang sangat berperan dalam usaha meningkatkan dan memperpanjang masa produksi minyak. Salah satu teknologi perolehan minyak secara EOR adalah Microbial Enhanced Oil Recovery (MEOR), yaitu pengurasan minyak bumi dengan memanfaatkan aktivitas atau bioproduk dari mikroba (exogenous dan indigenous microbes), seperti biopolimer, biosurfaktan, biofilm, biogas, dan bioasam. Biopolimer merupakan salah satu bioproduk yang dapat digunakan untuk menurunkan permeabilitas pada daerah-daerah yang mempunyai permeabilitas tinggi atau pori-pori batuan yang terbentuk dari reservoir yang heterogen dengan proses penyumbatan yang selektif (permeability modification). Modifikasi permeabilitas adalah teknik yang umum digunakan untuk memperpan- jang masa produksi lapangan minyak yang mengguna- kan metode waterflood. Saturasi minyak residu (ROS) yang merupakan minyak sisa setelah proses water- flood sebagai target untuk aplikasi proses penyumbatan selektif (selective plugging) dengan menggunakan biopolimer atau polimer jenis lain. Ada tiga tipe penyumbatan oleh mikroba yang telah diketahui, yaitu penyumbatan oleh sel-sel yang hidup (viable bacte- rial cells), sel-sel yang telah mati (non viable bacte- rial cells), dan bioproduknya (di antaranya biopolimer). Sehubungan dengan pemanfaatan biopolimer tersebut untuk aplikasi teknologi MEOR, perlu dilakukan penelitian skala laboratorium untuk mengetahui karakteristik biopolimer, di antaranya adalah resistensi biopolimer terhadap suhu tinggi (100°C), pengaruh biopolimer terhadap sudut kontak minyak dan batuan, serta analisis efek biopolimer terhadap permeabilitas. Diharapkan dengan uji karakteristik tersebut dapat diketahui unjuk kerja biopolimer (biopolymer perfor- mance) untuk diaplikasikan dalam meningkatkan pengurasan minyak, khususnya untuk reservoir yang mempunyai persoalan thief zones dan suhu tinggi.
Penggunaan Alat DSA PD - E700 (Pendant Drop Shape Analysis) untuk Mengukur Tegangan antarmuka dari Campuran Minyak - Surfaktan - Air Formasi pada Kondisi Temperatur dan Tekanan yang Berbeda Nuraini Nuraini
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 2 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.2.737

Abstract

Pada beberapa reservoir, jumlah minyak yang tersisa pada produksi tahap primer relatif kecil dibandingkan dengan kandungan minyak awal dari reservoir tersebut, yaitu dengan tingkat perolehan tahap primer rata-rata 40 %. Hal ini nenunjukkan bahwa jumlah minyak yang tersisa masih cukup besar. Untuk mendapatkan minyak yang tersisa tersebut, dilakukan penginjeksian fluida (larutan surfaktan) yang diharapkan akan dapat mendesak minyak dan meningkatkan faktor perolehan minyak. Injeksi larutan surfaktan termasuk salah satu metode EOR (Enhanced Oil Recovery) yang berfungsi dan berperan menurunkan tegangan antarmuka minyak - surfaktan-air formasi, oleh sebab itu makalah ini difokuskan pada penggunaan alat: DSA PD-E700 (Pendant Drop Shape Analysis), untuk mengukur tegangan antarmuka dari campuran minyak - surfaktan air formasi pada berbagai kondisi temperatur dan tekanan.
Studi Pengembangan Spesifikasi Marine Fuel Indonesia Rasdinal Ibrahim; Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.738

Abstract

Sebagai negara kepulauan, sampai saat ini Indo- nesia belum mempunyai spesifikasi khusus untuk bahan bakar perkapalan (marine fuel). Kapal-kapal niaga, kargo dan tanker yang berlayar di perairan In- donesia umumnya menggunakan bahan bakar minyak diesel (IDO), minyak bakar (FO), dan minyak solar (HSD), sedangkan kapal-kapal kecil, ferry dan nelayan menggunakan minyak solar sebagai bahan bakar. Kebutuhan BBM untuk mesin diesel nasional pada tahun 2004 masing-masing diperkirakan sebagai berikut: HSD 24,6 juta KL, IDO 1,2 juta KL, dan FO sebesar 6,8 juta KL. Penggunaan minyak diesel di Indonesia sangat beragam, baik untuk mesin diesel industri, pembakaran langsung melalui burner di dapur industri, pembangkit listrik, maupun mesin diesel perkapalan. Sedangkan dalam spesifikasi BBM nasional hanya ada satu grade minyak diesel, sehingga konsumen harus menyesuaikan kebutuhan bahan bakarnya dengan bahan bakar yang tersedia di pasaran, walaupun mungkin terdapat kekurangan dalam efisiensi dan kinerja mesinnya. Dalam memasuki era globalisasi, dan diberlakukannya UU Migas No. 22 Tahun 2001 serta terbukanya sektor hilir migas, di mana selain PERTAMINA pihak swasta nasional dan asing dapat memasarkan BBM di dalam negeri, maka kebutuhan bahan bakar diesel perkapalan (marine fuel) akan dipasok pihak swasta melalui impor dari luar negeri. Mengingat makin banyaknya permintaan marine fuel dari kapal-kapal nasional maupun asing yang singgah dan mengisi bahan bakarnya di pelabuhan Indone- sia, maka di pandang perlu menyediakan bahan bakar perkapalan yang memenuhi persyaratan spesifikasi marine fuel internasional Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah perlu meninjau kembali spesifikasi minyak diesel In- donesia, kemungkinan pengembangannya sesuai spesifikasi di dunia internasional, termasuk penyediaan spesifikasi khusus untuk marine fuel, dengan tetap memperhatikan kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya serta memenuhi persyaratan lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMIGAS" sebagai pusat litbang, berfungsi memberi masukan bagi kebijakan Pemerintah di bidang migas termasuk dalam penetapan spesifikasi BBM nasional, sehingga spesifikasi yang ditetapkan telah melalui pengkajian teknologi sebelum diterapkan secara nasional. Makalah ini merupakan suatu kajian awal pengembangan spesifikasi marine fuel Indonesia, yang membahas beberapa spesifikasi marine fuel internasional sebagai acuan, kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya, dan memenuhi persyaratan lingkungan, sebagai masukan bagi kebijakan pemerintah dalam menetapkan spesifikasi BBM nasional khususnya spesifikasi marine fuel Indonesia.
Efek Pemakaian Aditif Deterjen EF terhadap Kebersihan Nosel Injektor Motor Diesel Injeksi Langsung Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.739

Abstract

Seperti telah diketahui bahwa bahan bakar dapat terbakar hanya dalam bentuk uap, pada motor diesel perubahan bahan bakar dari cair menjadi uap terjadi pada saat bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar motor diesel. Selama injeksi, bahan bakar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga terjadi penyalaan sendiri secara merata dalam waktu yang singkat. Untuk mendapatkan kinerja optimum bahan bakar, maka atomisasi bahan bakar harus berlangsung sempurna dan membentuk pola injeksi yang normal seperti kerucut yang utuh. Injeksi bahan bakar ke dalam ruang bakar motor diesel dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu injeksi tidak langsung (indirect injection, IDI) dan injeksi langsung (direct injection, DI). Untuk mendapatkan turbulensi dan campuran udara bahan bakar yang baik, maka kedua sistem injeksi bahan bakar ini menggu- nakan ruang bakar dan nosel injektor yang berbeda. Pada injeksi tidak langsung, bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang muka atau pusaran (swirl chamber) dengan nosel injektor berlubang satu atau nosel pasak (pintle nozzle), selanjutnya dari ruang pusaran tersebut gas pembakaran dialirkan ke ruang bakar utama. Sedangkan motor diesel injeksi langsung menggunakan ruang bakar terbuka dengan nosel injektor berlubang banyak (multi holes nozzle), bahan bakar diinjeksikan langsung ke dalam ruang bakar utama. Setelah motor diesel dioperasikan dalam waktu yang lama akan terbentuk deposit karbon pada nosel injektor, ruang bakar dan katup-katup motor diesel. Deposit karbon pada nosel injektor akan mempengaruhi debit aliran bahan bakar, pola semprotan bahan bakar, efisiensi mesin dan emisi gas buang. Untuk membersihkan deposit yang sudah terbentuk (clean up) pada bagian-bagian tertentu mesin kendaraan yang sudah lama beroperasi atau menjaga kebersihan (keep clean) bagian-bagian tersebut seperti pada nosel injektor kendaraan baru. Dalam studi ini dipergunakan aditif deterjen EF untuk keep clean pada kendaraan baru. Dalam pelaksana- an penelitian ini digunakan dua buah kendaraan baru bermotor diesel injeksi langsung yang dioperasikan secara berpasangan. Satu kendaraan menggunakan minyak solar tanpa aditif (STA) dan pasangannya menggunakan minyak solar ditambah aditif deterjen EF (SEF). Kedua kendaraan tersebut dioperasikan secara normal melalui trayek tertentu hingga mencapai akumulasi jarak tempuh 15.000 km. Dari hasil-hasil pengukuran kebersihan nosel injektor yang dilakukan pada awal dan akhir uji jalan, ternyata nosel injektor SEF lebih bersih dari pada STA.
Peranan Proses Katalitik dalam Pembuatan Bahan Bakar Minyak Ramah Lingkungan A.S Nasution; Olberin Sidjabat; Morina Morina; Herizal Herizal
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.740

Abstract

Dalam proses industrialisasi yang berwawasan lingkungan bahan bakar minyak haruslah memenuhi persyaratan ramah lingkungan yang kian meningkat ketat. Masalahnya, kualitas dan jumlah produksi minyak bumi cendrung menurun sedangkan kebutuhan dan persyaratan bahan bakar minyak (bensin dan so- lar) ramah lingkungan semangkin meningkat . Bahan bensin harus berangka oktana tinggi dengan pembatasan kadar hidrokarbon tak jenuh dan juga kadar sulfurnya. Persyaratan bahan bahan solar adalah antara lain berangka setana tinggi dan kadar hidrokarbon tak jenuh dan sulfur rendah. Pembatasan kadar hidrokarbon tersebut dan sulfur dapat menurunkan emisi gas buangnya (Tabel 1) 821 Pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan tersebut memerlukan komponen- komponen bensin dan solar bermutu tinggi dengan bantuan proses-proses katalitik. PERTAMINA mengelola berbagai jenis minyak bumi sebesar 1063 MBCD pada 7 unit yang mengoperasikan 24 unit proses katalitik (Tabel 2). Produk kilang PERTAMINA meliputi bahan bakar (LPG, bensin avgas, avtur, kerosin dan solar), bahan dasar pelumas, bahan baku petrokimia (paraxylene, purified terphthalic acid (PTA), propylene) dan polypropylene 415) Pada umumnya proses-proses katalik tersebut adalah proses-proses yang cukup pelik dan rumit ditinjau baik dari segi fundamental/teori maupun dari segi operasionalnya. Pemahaman tingkah laku proses- proses katalik secara lebih terarah dan kontinu adalah salah satu usaha untuk meningkatkan unjuk kerja proses katalik tersebut. Unjuk kerja proses-proses katalik dan konfigurasi kilang minyak PERTAMINA untuk pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan, karakteristik komponen bahan bakar dan komposisinya dalam pembuatan bahan bakar ramah lingkungan dan berbagai spesifikasinya serta partisipasi Puslitbangtek Migas "LEMIGAS" pada operasi dan pengembangan kilang minyak pertamina dan beberapa penelitian katalis/proses katalitik disajikan dalam makalah ini.
Uji Korosi Internal pada Pipa Baja Standar API 5 L Grade B Menggunakan Perangkat Lunak CMS 100 Abdoel Goffar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.741

Abstract

Pipa salur pada proses produksi minyak dan gas bumi diperkirakan 80 % mengalami kerusakan yang disebabkan oleh korosi, antara lain berupa pengurangan ketebalan (loss metal), korosi retak karena tegangan (stress corrosion cracking) dan penggetasan karena hidrogen (hydrogen embrittlement) (Jones, 1992). Uji laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan metode antara lain adalah uji celup kupon yang pengukurannya berdasarkan kehilangan berat (loss metal), tetapi metode ini membutuhkan waktu lama, tenaga dan biaya yang tinggi. Metode lain adalah Impedansi (EIS = Electrochemical Impedance Spectroscopy), Tafel Extrapolation, tetapi berbeda dalam hal penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor- faktor yang mempengaruhi laju korosi diantaranya: suhu, kecepatan pengadukan dan volume aliran gas CO, dengan menggunakan metode polarisasi tahanan yang menggunakan perangkat lunak CMS 100 untuk mendapatkan data korosi secara lebih cepat dan akurat. Larutan uji diambil dari air Lapangan Selatan dan air Lapangan Melibur dari PT Kondur Petroleum SA yang berlokasi di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Riau, Sumatera.
Pengaruh Inti Asam Katalis Bifungsional pada Produk Hidrokonversi A.S Nasution
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.742

Abstract

Salah satu proses katalitik yang cukup penting untuk pemecahan masalah Sumatran Light Waxy Residu (SLWR) dan pembuatan bahan bakar kerosin dan solar adalah proses hidrokonversi. Kajian literatur studi dan penelitian pengolahan SLWR untuk pembuatan distilat sedang dan pelumas telah dilakukan (1,2,3). Katalis hidrokonversi ini mengandung dua jenis inti aktif yaitu inti aktif metal dan inti aktif asam. Untuk mendapatkan data informasi yang lebih banyak mengenai hidrokonversi SLWR tersebut, maka telah dilakukan suatu seri penelitian hidrokonversi distilat vakum SLWR tersebut dengan bantuan dua jenis katalis bifungsional yang inti aktif asamnya berbeda. Untuk bahan pembanding, telah pula diselidiki pengaruh inti aktif asam katalis hidrokraking pada proses hidrokonversi wax dan normal heptana murni. Penelitian ini telah dilakukan pada tem- peratur dari 300°C sampai dengan 420°C dan tekanan dari 30 sampai dengan 110 kg/ cm dengan bantuan alat catatest unit. Alat catatest unit ini dilengkapi dengan alat pengatur temperatur di dalam reaktor dan dapat dijalankan secara kontinu. Makalah ini akan menguraikan hasil penelitian proses hidrokonversi distilat vakum SLWR, wax dan n. heptana dengan memakai katalis bifungsional yang inti aktif asamnya berbeda.
Pengaruh Kualitatif dan Kuantitatif Surfaktan Terhadap Peningkatan Perolehan Minyak Tjuwati Makmuro
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 38 No 1 (2004)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.38.1.743

Abstract

Pada umumnya jumlah penggunaan minyak dari penyimpanan pada waktu produksi adalah relatif kecil dibandingkan dengan kandungan minyak dari penyimpanan tersebut, sehingga minyak yang tersisa dalam mervoar masih cukup besar. Hal ini disebabkan oleh adanya potensi pori-pori dan perbedaan interaksi antarmuka minyak dan udara, sehingga dapat menghambat aliran minyak yang terproduksi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas penginjeksian dan kosurfaktan kerja antara lain adalah terjadinya adsorpsi batuan dengan adanya kandungan mineral (lempung) yang dominan. Tujuan dari penelitian laboratorium ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas penginjeksian kosurfaktan terhadap peningkatan perolehan minyak. Dalam penelitian ini digunakan satu batuan inti (core) berupa batu pasir (sandstone) dengan panjang 4,56 cm, diameter 2,5 cm, porositas 19,99 %, permeabilitas 56,76 mD, pada kondisi percobaan temperatur 40 °C dan laju injeksi 10 cc/jam dan kosurfaktan yang  digunakan dalam penelitian ini adalah petroleum sulfonat (Leonox A), yang dilarutkan ke dalam air formasi dengan kandungan garam 21000 ppm. Pengurasan minyak pertama-tama dilakukan dengan cara injeksi udara dan menghasilkan minyak sekitar 2.6 cc dengan perolehan sebesar 73.45 %.  Dari proses injeksi air dapat dilihat ternyata minyak yang terproduksi belum seluruhnya, berarti masih ada minyak yang tertinggal di reservoir, yaitu masih terjebak dalam pori-pori batuan.  Salah satu penyebabnya adalah karena adanya perbedaan tegangan antar muka minyak-air yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat mendukung pendesakan kosurfaktan adalah absorpsi batuan reservoar terhadap larutan kosurfaktan.  Dari hasil petrografi, batuan percontoh yang dianalisa merupakan batuan pasir, memiliki kandungan mineral yang dominan, yaitu silika = 91%.  Segmen yang dominan adalah kaolinit. Hasil pengamatan tegangan antar muka minyak dan udara, solusi yang baik digunakan adalah kosurfaktan dengan konsentrasi 2.3 % yang menghasilkan harga antarmuka minyak-air (IFT) sebesar 0.0507 dyne/cm. Perolehan minyak yang dihasil- kan dari penginjeksian air adalah sebesar 73,45%. Setelah dilakukan penginjeksian kosurfaktan ke dalam batuan, dapat menaikan produksi minyak, yaitu: sebesar 25,954% setelah penginjeksian air.  Dan perolehan minyak keseluruhan dari penelitian ini adalah sebesar 99.40 %.

Filter by Year

1980 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue