cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Seorang Laki-Laki Usia 20 Tahun dengan Abses Paru Sinistra Et Causa Tuberculosis Widji Astuti Damayanti
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abses paru merupakan infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus/nekrotik debris) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih yang disebabkan oleh infeksi mikroba. Penyebab utama terjadinya abses paru primer adalah Streptococcus pneumoniae atau Staphylococcus aureus. Diagnosis abses paru pada anak ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. Dicurigai abses paru apabila terdapat keluhan demam dan batuk, dan adanya tanda-tanda konsolidasi paru. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memperkuat diagnosis abses paru meliputi rontgen dada, ultrasonografi, dan computed tomography (CT Scan). Tatalaksana abses paru meliputi pemberian makanan dan cairan yang cukup dan oksigen, pemberikan antibiotika, drainase dan tindakan operatif (lobektomi). Laporan Kasus : Seorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke poli paru RSUP Surakarta dengan keluhan sesak, sesek disertai suara ngik-ngik, napas ampek, pusing kadang-kadang, batuk tidak berdahak, demam selama 3 hari. Riwayat sesak dan batuk berdahak 3 bulan lalu, batuk disertai dahak berwarna kuning, sesak nafas dirasakan pada saat melakukan kegiatan dan sehabis merokok, makin memberat ketika beraktivitas, berkurang ketika beristirahat. Pada pemeriksaan rotgen thorak pada tanggal 31 oktober didapatkan kesan suspect abses paru sinistra dengan corakan vaskuler kasar, tampak gambaran luscen dengan air fluid level di lobus superior kiri diafragma dan sinus normal.
Upaya Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Wanita Usia 60 Tahun dengan Diabetes Sheila Faadhila Sifak; Awang Lilih Vridea Cahayaning Penggalih; Tri Kurnia Ahmad Islamuddin; Tri Nugroho Wibowo; Yusuf Alam Romadhon
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Seorang wanita Ny.S berusia 60 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan kesemutan, sering kencing, dan merasa haus. Pemeriksaan di puskesmas menunjukkan bahwa pasien terdiagnosis diabetes melitus. Pasien tinggal dengan suaminya yang juga menderita diabetes melitus .Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk memberikan edukasi pentingnya menjaga pola hidup sehat agar mengidentifikasi risiko penyakit diabetes melitus yang diderita oleh Ny. S. Metode penelitian ini dengan mengunjungi pasien secara langsung dengan cara wawancara kepada pasien dan anggota keluarganya. Melakukan kunjungan ke rumah pasien yang beralamat di Telukan RT 05 RW 07 Grogol, Sukoharjo. Pasien mengalami diabetes melitus selama 5 tahun. Hasil pemeriksaan GDS meningkat pada kunjungan ketiga yaitu 277 mg/dL.Dengan menerapkan penyuluhan mengenai diabetes melitus dapat meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan terkhusus penderita diabetes melitus agar menghindari komplikasi yang mungkin terjadi. Salah satu intervensi yang diberikan yakni terapi farmakologi dari Puskesmas, dan dari tim penulis, memberikan edukasi pentingnya teratur minum obat , diet nutrisi, dan latihan aktivitas fisik.
Seorang Pria 54 Tahun dengan Nyeri Ketika Berkemih Cut Aqsa Dibintang Akbari; Riza Mazidu Sholihin
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah penyakit yang sangat sering mengakibatkan masalah pada pria. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) mempunyai karakteristik berupa hiperplasia pada stroma dan epitel prostat. Prevalensi histologi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) meningkat dari 20% laki-laki berusia 41-50 tahun, 50% pada laki-laki berusia 51-60 tahun, hingga lebih dari 90% pada laki-laki berusia >80 tahun. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) menimbulkan manifestasi klinis seperti Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS), hipertrofi, serta distensi kandung kemih dengan akibat retensi urine, nokturia dan disuria. Pada kasus ini, pria berumur 54 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri saat berkemih sejak 1 bulan yang lalu, saat berkemih terasa tersendat-sendat, terasa ingin kencing saat malam hari. Keluhan disertai nyeri hilang timbul di bagian pinggang. Pada pemeriksaan fisik Pemeriksaan umum dalam batas normal. Pada pemeriksaan rectal toucher didapatkan tonus sphincter ani kuat, mukosa licin, teraba utriculus prostaticus, konsistensi kenyal, permukaan licin, tidak teraba adanya nodul, tidak didapatkan STLD. Hasil pemeriksaan Ultrasonography (USG) abdomen didapatkan ukuran prostat membesar (52ml). Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil Ultrasonography (USG) pasien dinyatakan dengan diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). Penatalaksanaan kasus ini diberikan medikamentosa dan dilakukan Transurethral Resection of the Prostate (TURP).
Seorang Perempuan 61 Tahun dengan Dermatitis Numularis: Laporan Kasus Niken Sari Oktafiani; Retna Ika Suryaningrum
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis numularis merupakan dermatitis dengan lesi lonjong atau berbentuk mata uang, berbatas tegas dengan efloresensi berupa papul vesikel, seringnya mudah pecah sehingga mudah basah. Penyakit ini sering mengenai laki-laki dibandingkan perempuan, sering pada usia 50-65 tahun. Penyebab pasti dermatitis numularis belum diketahui, namun diduga penyebabnya adalah Staphylococcus sp. dan Micrococcus sp. selain itu juga didahului oleh stress, trauma kimiawi dan fisik, kelembaban lingkungan yang rendah, minuman yang mengandung alkohol. Laporan kasus ini membahas seorang perempuan, Ny.K berusia 61 tahun dengan keluhan gatal pada kedua kaki sejak 2 bulan yang lalu disertai adanya bercak merah di kakinya. Status dermatologis pada pedis dextra dan sinistra didapatkan effloresensi berupa makula eritem berbentuk numular (coin lession) berbatas tegas, terdapat central healing, terdapat skuama tipis, pada tepi luka terdapat vesikel. Terapi yang diberikan ialah Methyl Prednisolon 2x8mg dan Loratadine 1x10 mg per Oral. Obat topikal yang diberikan antara lain pemberian Desoximetasone cream 0,25% dioleskan 2x sehari. Edukasi yang diberikan kepada pasien yaitu untuk menjaga hygene terutama didaerah lesi dan menggunakan pelembab untuk menjaga kulit agar tidak kering sehingga penyakit pasien tidak semakn parah.
Seorang Laki-Laki 44 Tahun dengan Endoftalmitis Oculi Sinistra Eva Yuliana Nurafinda; Dessira Rizka Tri Ariany
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endoftalmitis merupakan suatu kondisi peradangan mata yang berat dapat berakibat hilangnya penglihatan mata. Hal ini dapat terjadi akibat respon mediasi sistem imun terhadap antigen (sterile endophthalmitis) ataupun akibat dari suatu infeksi. Endoftalmitis terbagi atas endogen dan eksogen. Insiden endoftalmitis bakteri dilaporkan mencapai 0,06% pada level terendah dan tertinggi sebanyak 0,5%.Diagnosis endoftalmitis berdasarkan kondisi klinis ini biasanya ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion. Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Seorang pria berusia 44 tahun dengan keluhan mata kiri kabur 1 minggu yang lalu akibat kemasukan lumpur saat bekerja. Kabur dirasakan semakin lama semakin berat. Keluhan disertai dengan mata bengkak, merah, nyeri, gatal, pedih, berair, silau dan mengganjal. Pemeriksaan lokalis mata didapatkan visus mata OS 1/300, CI,PCI, Erosi kornea, dan hipopion mata sebelah kiri. Sehimgga didapatkan diagnosiss endoftalmitis oculi sinistra. Tatalaksana yang diberikan Ciprofloxacin 2x500mg, Levocin tetes mata 1 tetes tiap jam untuk mata kiri, tetes mata cendo tropin 3x sehari untuk mata kanan, tetes mata tetes mata sanbe tears 1 tetes tiap jam untuk mata kiri dan selanjutnya dirujuk.
Oftalmopati Graves Derajat Sedang-Berat pada Pasien Wanita Berumur 20 Tahun: Sebuah Laporan Kasus Anissa Tasya Ayuningtyas; Chandra Prabaswara
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oftalmopati Graves merupakan kondisi ekstratiroidal pada penyakit Graves terjadi pada pasien dengan penyakit Graves (90%), Tiroiditis Hashimoto (9%), hipotiroidisme primer (1%) atau tanpa kelainan Tiroid (6%). Autoimunitas terhadap antigen yang diduga dimiliki tiroid dan orbita berperan dalam patogenesis penyakit, terjadinya peningkatan volume otot ekstraokular, jaringan ikat orbital, dan jaringan adiposa. Karakteristik klinis seperti proptosis, retraksi kelopak mata, neuropati optik progresif, dan miopati restriktif. Pertimbangan terapi yang sesuai berdasarkan derajat keparahan pada kasus. Diagnosis serta tatalaksana yang adekuat penting untuk prognosis yang lebih baik pada kasus oftalmopati graves. Tujuan studi ini untuk melaporkan kasus wanita berusia 20 tahun dengan diagnosa Oftalmopati Graves pada kedua mata. Seorang wanita berusia 20 tahun datang ke departemen mata dengan proptosis bilateral, nyeri orbita, penurunan ketajaman penglihatan, serta diplopia yang muncul tiba-tiba dua bulan sebelumnya. Pasien memiliki gejala hipertiroid yang khas dan indeks Wayne menunjukan pasien memiliki hipertiroid. Diagnosis oftalmopati Graves pada pasien ditegakan dengan protokol dari European Group of Graves Orbitopathy (EUGOGO), yang penting untuk menentukan pilihan terapi serta prognosis hasil penglihatan. Pemeriksaan serta penatalaksanaan oftalmopati Graves bersifat multidisiplin dan memerlukan kepatuhan terapi yang sangat baik untuk mencapai prognosis dan kualitas hidup yang baik.
Laporan Kasus Infeksi Tetanus Derajat 4: Dampak Karies Gigi dan Perjalanan Penyakit yang Cepat Syahrun El Mubaraq; Rada Citra Saputra; Mulyono Agung Prihatiyanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tetanus merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Clostridium tetani yang memiliki prognosis yang dapat menjadi buruk dengan cepat. Salah satu tantangan manajemen tetanus berupa identifikasi port de entry infeksi. Kami menyajikan kasus seorang pasien dengan inisial Tn. AS yang mengalami tetanus derajat 4 yang diduga berasal dari infeksi karies gigi. Temuan klinis saat masuk IGD berupa disfagia, trismus, dan spastisitas otot berat, spasme spontan dengan atau tanpa rangasangan. Pasien segera mendapatkan terapi antibiotik, manajemen simptomatik, serta tatalaksana suportif. Sayangnya perawatan luka pada gigi tidak dapat dilakukan karena terhalang oleh trismus berat. Selama perawatan bangsal kondisi pasien memburuk dengan muculnya gangguan otonom sehingga perjalanan penyakit menjadi lebih cepat kemudian menimbulkan komplikasi kardiorespiratorik dan neurologis. Komplikasi tersebut akhirnya mengakibatkan kegagalan sistem organ dan kematian. Prognosis pasien yang buruk akibat faktor lokasi infeksi, terlambat masuk rumah sakit, dan riwayat imunisasi. Kasus ini menekankan pentingnya pencegahan tetanus melalui penanganan dini, perawatan kesehatan gigi yang efektif dan perawatan luka yang tepat. Dalam hal ini peningkatan kesadaran masyarakat tentang kepatuhan terhadap vaksinasi tetanus dan manajemen luka termasuk gigi juga dapat memainkan peran penting dalam mengurangi insiden kasus yang fatal seperti ini di masa depan.
Seorang Anak Usia 7 Tahun setelah Mengalami Drowning M. Ridho Tjan; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drowning merupakan suatu keadaan masuknya cairan yang cukup banyak ke dalam saluran napas atau paru-paru sehingga dapat terjadi gangguan pada pernapasan, dengan atau tanpa adanya komplikasi. Beberapa faktor risiko terjadinya tenggelam adalah jenis kelamin laki-laki, kurangnya pengawasan, dan epilepsi. Pada kasus ini, seorang anak laki-laki usia 7 tahun datang ke IGD dengan keluhan gelisah setelah tenggelam di kolam renang umum. Dia dirujuk dari puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan rontgen dada. Saat di IGD terjadi penurunan kesadaran, pasien tampak gelisah dan meronta-ronta, napas cepat, mata pasien tertutup dan tidak bisa diajak komunikasi. Sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami muntah berisi air jernih berkali-kali kemudian saat di IGD pasien kembali mengalami muntah berisi air bercampur makanan. Pada pemeriksaan penunjang yaitu Foto Thorax AP didapatkan edema paru akut dengan diagnosis banding pneumonia aspirasi. Pada kasus ini, setelah mendapat terapi oksigen selama 1 jam di IGD pasien kembali sadar dan dapat berkomunikasi. Selain itu diberikan terapi medikamentosa yaitu antibiotik dengan rute intravena.
Seorang Anak Laki-Laki Berusia 4 dengan Buang Air Besar Berlendir Eko Jaenudin; Mutiara Azzahra
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare didefinisikan sebagai defekasi dari 3 atau lebih tinja lembek atau cair perhari atau frekuensi lebih dari normal. Diare merupakan rias dari gejala intususepsi yaitu buang air besar disertai lendir dan darah, nyeri perut, muntah. Intususepsi adalah suatu keadaan inversi segmen usus ke segmen usus lainnya. Kasus intususepsi seringkali diasumsikan karena peristaltik usus yang tidak terkoordinasi, atau karena hiper plasma limfoid, yangmungkin terjadi pada infeksi gastrointestinal. Dilaporkan seorang anak laki laki (usia 4 tahun) datang ke IGD RSUD Dr Harjono Ponorogo dengan keluhan BAB disertai lendir sejak 3 hari SMRS. BAB berwarna kuning dengan konsistensi cair disertai lendir, tidak terdapat darah BAB kira-kira berukuran 1/4 gelas belimbing sebanyak lebih dari 10 kali dalam satu hari. Keluhan lain demam sejak 5 hari SMRS, mual dan muntah lebih dari 10x dalam 1 hari muntah berisi makanan dan lendir 1/2 gelas. Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien mengeluhkan nyeri perut hilang timbul dan mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Pasien mengeluhkan batuk, berdahak warna hijau kekuningan, pilek dan sesak. Apabila diberi makan dan minum pasien langsung muntah. Tanda-tanda vital pasien laju pernafasan 24x/menit, nadi 140x/menit, suhu 37,5°C, SpO2 98% dan berat badan 15,2 kg. Pemeriksaan inspeksi abdomen terdapat darm contour, darm steifung, auskultasi terdapat hiperperistaltik usus, metalic sound, palpasi nyeri tekan seluruh regio abdomen, teraba massa pada regio kiri atas, tidak ada pembesaran organ. Ektremitas atas dan bawah akralnya hangat, CRT <2 detik.
Seorang Anak Laki-Laki 6 Tahun dengan Skabies Impetigenisata: Laporan Kasus Deanna Lailatul Azizah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skabies diartikan sebagai penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, homisis dan produknya seperti telur dan feses. Infeksi terjadi akibat kontak langsung dari kulit ke kulit maupun kontak tidak langsung kulit melalui benda yang sering digunakan bergantian dengan orang lain, seperti handuk, pakaian, sprei, bantal, ditandai dengan gatal dan erupsi pada kulit. Skabies terjadi di seluruh dunia sekitar 300-400 juta kasus per-tahun. Sedangkan di beberapa negara berkembang prevalensi skabies sekitar 6%-27% populasi umum dan tinggi pada anak-anak hingga remaja. Kami melaporkan kasus seorang anak laki-laki berusia 6 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan gatal yang memberat terutama saat malam hari disertai bintil-bintil kemerahan sejak dua bulan yang lalu. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diagnosis awal pada pasien ini adalah Skabies Impetigenisata. Kasus ini menggambarkan Skabies Impetigenisata. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus Skabies Impetigenisata.