cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Seorang Perempuan Usia 28 Tahun dengan Tinea Cruris Et Corporis: Laporan Kasus Syah Fillia Nurul Maslahah; Eddy Tjiahyono
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinea kruris dan korporis merupakan jenis dermatofitosis tersering yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia merupakan negara berkembang dengan iklim tropis yang menjadi faktor predisposisi terjadinya dermatofitosis. Faktor predisposisi penyakit ini adalah negara dengan iklim tropis, pekerjaan basah dan berat yang memicu keringat, dan sering terjadi pada wanita usia dewasa muda. Kelembaban tubuh yang tinggi menjadi faktor utama pencetus dermatofitosis. Laporan ini memaparkan kasus pasien seorang perempuan usia 28 tahun dengan tinea cruris et corporis di poliklinik kulit dan kelamin RSUD dr. Sayidiman Magetan. Pasien datang dengan keluhan utama berupa bercak kemerahan disertai gatal yang terletak di kedua tungkai bawah, pantat, perut, dan lipatan paha. Keluhan tersebut dirasakan pasien sejak 1 bulan sebelum pasien periksa. Pada pemeriksaan fisik dermatologi didapatkan gambaran klinis berupa makula/ plakat, eritem, bulat, skuama, dengan tepi aktif meninggi, dan central healing. Pasien kemudian diberikan terapi ketokonazole 1 x 200 mg, loratadine 1 x 10 mg selama 4 minggu, dan krim racikan yang berisi ketokonazole krim 10 gr dan gentamicyn krim 10 gr yang dioleskan 2 x sehari (pagi dan malam) selama 4 minggu pada lesi.
Faktor Sosial Ekonomi, Persalinan, dan ASI Eksklusif pada Anak Stunting Usia 2-5 Tahun di Indonesia Indriyati Oktaviano Rahayuningrum; Hillary Rosyida; Muhammad Adnan; Arsya Sakti Yudha
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting. Prevalensi stunting di Indonesia sebanyak 30,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 2-5 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder IFLS 5 yang merupakan survei kesehatan dan sosial ekonomi yang dilakukan secara longitudinal menggunakan metode sampling multistage dan desain cross-sectional. Besar sampel sebanyak 2.251 responden yang dianalisis menggunakan chi square dengan STATA 15.0. Hasil penelitian ini didapatkan prevalensi stunting sebesar 33,1%. Tingkat Pendidikan ayah (p<0,001), tingkat pendidikan ibu (p<0,001), status sosial ekonomi ayah (p<0,001), status sosial ekonomi ibu (p=0,001), dan persalinan dibantu tenaga medis (p<0,001) merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 2-5 tahun di Indonesia, secara statistik bermakna. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor sosial sosial ekonomi dan persalinan memiliki hubungan dengan stunting pada anak usia 2-5 tahun di Indonesia. Meskipun ASI eksklusif memiliki hubungan dengan stunting yang secara statistik tidak bermakna , namun manfaat ASI eksklusif bagi kesehatan anak telah terbukti di berbagai penelitian lainnya. Faktor tingkat pendidikan dan ekonomi orangtua serta pertolongan persalinan dapat menjadi pertimbangan bagi pemegang kebijakan dalam membuat program untuk mengatasi stunting di Indonesia.
Tatalaksana Komprehensif pada Kasus Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Muhammad Irvan; S Sulistyani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia nucleus pulposus (HNP) merupakan suatu kondisi dimana sebagian atau seluruh bagian tengah diskus intervertebralis yang lunak (nucleus pulposus) harus melewati bagian diskus yang lemah, sehingga menyebabkan nyeri punggung dan iritasi akar saraf. Perkiraan prevalensi herniasi diskus, termasuk HNP adalah sekitar 1 hingga 3%. Insiden tertinggi terjadi pada usia 30 hingga 50 tahun. Tatalaksana pada kasus HNP dapat dilakukan secara konservatif dan invasif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi manajemen pada kasus HNP dari berbagai sumber literatur. Penelitian ini merupakan penelitian literature review dengan mengumpulkan berbagai sumber pustaka di internet. Pertama peneliti melakukan pemilihan sumber yang sesuai dengan pembahasan yaitu manajemen/tatalaksana pada hernia nucleus pulposus. Selanjutnya melakukan penelusuran materi yang penting, membaca dan melakukan pencatatan serta menyajikan kajian pustaka yang sesuai dengan pembahasan manajemen pada HNP. Penatalaksanaan HNP secara konservatif merupakan pengobatan lini pertama antara lain istirahat, medikamentosa (menggunakan obat pereda nyeri), non medikamentosa (fisioterapi, kompres panas dingin, maasage), strectching, olahraga, terapi dekompresi hingga injeksi epidural dengan kortikosteroid. Dalam beberapa kasus, terapi invasif seperti injeksi atau pembedahan steroid akar saraf mungkin diperlukan jika pengobatan konservatif tidak efektif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dibutuhkannya tatalaksana komprehensif pada kasus HNP, baik secara konservatif maupun invasif, untuk hasil yang lebih baik.
Perempuan 52 Tahun dengan Edema Paru Kardiogenik: Laporan Kasus Zalfa Afifah; Novita Eva Sawitri
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edema paru merupakan terjadinya perpindahan cairan dari vaskular paru ke interstisial dan alveoli paru. Cairan ini memenuhi alveolus di dalam paru-paru yang menyebabkan seseorang sulit untuk bernafas. Penyebab tersering edema paru disebabkan oleh permasalahan jantung. Pada laporan kasus ini akan membahas seorang perempuan 52 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Surakarta pada tanggal 13 Maret 2023 mengeluhkan sesak dan batuk yang sudah dirasakan sejak 2 minggu dan diperberat ketika pasien beraktivitas dan diperingan ketika pasien istirahat. Dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien yaitu foto rontgen thorax tanggal 13 Maret 2023 didapatkan jantung mengalami pembesaran pada pulmo corakan vaskuler kasar, perihiler kanan kiri suram, diafragma dan sinus kanan kiri suram. Lalu dilakukan juga pemeriksaan laboratorium darah dengan hasil kreatinin sedikit meningkat dengan hasil 2.07 mg/dl, ureum 97.1 mg/dl, SGPT 48.2 U/L, hematokrit menurun 33.9%. Telah dilakukan penatalaksanaan pasien dengan diberi infus renxamin 12 tpm /24 jam, injeksi N-Acetylsistein 1200 mg/12jam, injeksi ketorolac extra 1 amp saat pungsi dilakukan, injeksi ranitidine /12 jam, syringe pump furosemid 200 mg kecepatan o.5cc/jam. Untuk obat oral yang digunakan lesipar 2x1, candesartan 4mg 1x1, sukralfate 3x1, braxidine 2X1, keto g 3x, glikazid 1X 1. Perbaikan klinis belum dapat dilihat pada akhir masa intervensi, karena membutuhkan waktu yang lama sesuai patofisiologi penyakit dan kerjasama antara pasien, keluarga dan provider pelayanan kesehatan.
Seorang Laki-Laki Usia 24 tahun dengan Combustio Grade II A 3% Pedis Dextra et Sinistra Fitri Chyndi Pangestiwi; Abdul Hakam Mubarok
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam. Luka bakar yang luas mempengaruhi metabolisme dan fungsi setiap sel tubuh, semua sistem dapat terganggu, terutama sistem kardiovaskuler. Luka bakar dibedakan menjadi: derajat pertama, kedua superfisial, kedua dalam, dan derajat ketiga. Pada pasien ini terdapat keluhan nyeri, panas dan perih pada kedua telapak kaki karena terpeleset ke sisa pembakaran, namun masih mampu berjalan. Penatalaksanaan dengan pemberian Infus NacL 0,9% 20 tetes per menit, Ceftriaxone 3x1, Ranitidin 2x1, Ketorolac 3x1, Paracetamol 3x1, salep silver sulfadiazine dan rawat luka. Penanganan dalam penyembuhan luka bakar antara lain mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka.
Sistostomi karena Retensi Urin dengan Penyebab yang Tidak Diketahui Nico Gonzales; Abdul Hakam Mubarok
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retensi urin adalah ketidakmampuan untuk berkemih secara volunter yang merupakan keadaan darurat urologis dan sering kali terjadi pada laki-laki. Angka kematian pria dengan retensi urin spontan dalam 1 tahun meningkat dari 4,1% pada pasien berusia 45 hingga 54 tahun menjadi 33% pada pasien berusia 85 tahun ke atas. Pada kasus ini, seorang laki-laki 56 tahun mengeluh tidak bisa BAK dan mengalami sakit pada perut bagian bawah. Didapatkan nyeri tekan pada perut bagian bawah dan vesica urinaria terasa penuh saat pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang lain masih dalam batas normal. Pada pasien ini dilakukan pemasangan Dower Kateter tetapi tidak bisa masuk sepenuhnya karena adanya kemungkinan obstruksi uretra. Kemudian diputuskan dilakukan operasi sistostomi terbuka pada pasien ini. Diagnosis retensi urin ditegakkan namun belum diketahui penyebab pastinya.
Seorang Wanita Berusia 22 tahun dengan Neuritis Optik Bilateral: Laporan Kasus Atika Fatwa Yukhabilla; N Naziya
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Neuritis optik merupakan inflamasi nervus optik terkait penyakit demielinasi disebabkan oleh infeksi, trauma, insufisiensi vaskular, metastasis, toxin atau idiopatik yang dapat menurunkan penglihatan pada satu atau kedua mata disertai rasa nyeri. Laporan kasus ini melaporkan sebuah kasus seorang wanita berusia 22 tahun dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Solo dengan keluhan penglihatan kanan kiri kabur disertai rasa nyeri. Pasien memiliki riwayat sinusitis dan telah menjalani tindakan pembedahan FEES. Status oftalmologis visus OD 2/60 dan OS 1/~, gerakan bola mata OS terhambat ke arah lateral, superotemporal dan inferotemporal, bulbus oculi OS 7⁰ ET, pupil OS terjadi penurunan reflek cahaya dan RAPD serta fundus reflek (+) cemerlang pada ODS. Pemeriksaan darah lengkap didapatkan hemoglobin 10.9 g/dL, hematokrit 33.2%, leukosit 13.2 103/μL, MCV 237fl dan MCH 29.3 pg. ANA profile test menunjukkan borderline systemic sclerosis diffuse and limited form. Pemeriksaan MRI didapatkan massa sinonasal dengan perluasan pada sebagian lobus temporalis kanan serta aspek posterior cavum orbitalis kanan kiri yang tampak menekan ujung distal nervus optikus kanan kiri dan chiasma optikum. Neuritik optik bilateral ditegakkan menjadi diagnosis kerja pada kasus ini. Selanjutnya pasien di rawat inap dan diberikan terapi kortikosteroid berupa injeksi methylprednisolone 250 mg/6 jam selama 3 hari.
Seorang Wanita 72 Tahun dengan Hemiparase Sinistra dan Disartria Lingual Tasya Rasyidah; Titian Rakhma
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke merupakan penyakit kegawatdaruratan neurologi yang bersifat akut dan salah satu penyebab kecatatan dan kematian tertinggi dibeberapa dunia. Tanda-tanda klinis stroke terjadi secara cepat atau mendadak berupa defisit fokal (atau global) pada fungsi otak, dengan gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih tanpa penyebab yang lain selain penyebab vaskuler. Menurut American Heart Association, stroke menduduki peringkat ke-5 di antara semua penyebab kematian di Amerika Serikat, menyebabkan 150.005 kematian pada tahun 2019. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2018, prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7 per 1000 penduduk pada tahun 2013, menjadi 10,9 per 1000 penduudk pada tahun 2018. Pada laporan kasus ini didapatkan seorang wanita berumur 72 tahun dengan keluhan kelemahan pada tangan dan kaki kiri. Pasien juga mengeluh berbicara pelo dan suara tidak jelas. Pasien memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes melitus sudah 5 tahun yang lalu. Hasil pemeriksaan fisik yaitu kesadaran composmentis, Glasgow Coma Scale (GCS) E4V5M6, tekanan darah 145/87 mmHg, kekuatan otot lateralisasi sinistra. Pemeriksaan Computed Tomography (CT) Scan kepala tampak senile brain atrophy. Diagnosis Klinis : Hemiparase sinistra dengan hipertensi dan diabetes melitus. Pasien diberikan tatalaksana yaitu citicolin dan pracetam.
Kejang Demam Kompleks pada Anak Usia 2 Tahun: Laporan Kasus Rahmat Dani Yamsun; Rahma Anindita
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan yang terjadi pada anak yang berumur sekurang kurangnya 6 bulan hingga 5 tahun yang diikuti kenaikan suhu tubuh diatas normal( suhu > 38 C dengan metode pengukuran apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intracranial. Kasus kejang demam di Indonesia ditemukan sekitar 2-4% anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Apabila sudah berusia >6 tahun tetapi jika demam tinggi mendadak mengalami kejang disebut febrile seizure plus. Anak laki-laki dengan kejang demam lebih banyak (66%) dibandingkan dengan anak perempuan (34%). Kejang demam kompleks merupakan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit , kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial.berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam. Salah satu dari ketiga kriteria tersebut ada dapat disebut kejang demam kompleks. Kami melaporkan kasus anak berusia 2 tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan dengan keluhan kejang 2 kali dalam 24 jam, durasi kejang 1-2 menit. Berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan penunjang, diagnosis awal pada pasien adalah kejang demam kompleks. Kasus ini menggambarkan kasus kejang demam kompleks. Kasus ini menekankan pada pentingnya diagnosis dan pengobatan optimal pada kasus kejang demam kompleks.
Seorang Wanita 52 Tahun dengan Carpal Tunnel Syndrome Bilateral Khonsa Afifah Husniyyah; Titian Rakhma
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom terowongan karpal atau Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terjadi ketika saraf median tertekan saat melintasi terowongan karpal. Faktor utama yang berkontribusi terhadap timbulnya CTS adalah peningkatan tekanan di dalam terowongan karpal. Kami melaporkan perempuan berusia 52 tahun datang dengan keluhan jari kedua tangan terasa kebas dan kesemutan sejak setahun yang lalu. Tangan kebas dan kesemutan dirasakan pada ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Kebas dan kesemutan mulanya dirasakan saat malam hari seperti ditusuk jarum, kemudian saat ini dirasakan sepanjang waktu. Keluhan memberat pada saat malam hari hingga pasien terbangun dan ketika selesai melakukan aktivitas. Keluhan berkurang pada saat pasien mengibaskan tangan, mengistirahatkan tangan, dan merendamnya dengan air hangat. Saat ini pasien mengeluhkan tidak bisa menggenggam tas tenteng yang dibawanya terlalu lama. Pemeriksaan fisik dan status generalis dalam batas normal. Pada status lokalis didapatkan atrofi otot tenar -/+, tonus otot thenar melemah -/+, phalen test +/+, reverse phalen test +/+, tinel test +/+, durkan’s test +/+, flick sign +/+, bottle sign +/+. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah meloksikam 2x7.5 mg, gabapentin 2x300 mg, dan mecobalamin 2x500 mcg. Kasus ini membahas mengenai pemeriksaan yang menunjang diagnosis CTS.