cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Gedung Induk Siti Walidah Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
ISSN : 27212882     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 532 Documents
Katarak Senilis Matur Oculus Dextra pada Laki-Laki 62 Tahun Fiqi Rahardian Arismar; Ida Nugrahani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan penglihatan masih menjadi permasalahan utama di Indonesia sekitar 80% disebabkan oleh katarak. Gangguan penglihatan tidak hanya berpengaruh kepada penglihatan tetapi berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan penderitanya. Jadi gangguan penglihatan itu berpengaruh terhadap kualitas hidup orang yang menderitanya. Tuan D datang dengan keluhan pandangan kabur dirasakan pada mata kanan dan kiri sejak lima bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum lemah, tanda vital dalam batas normal, visus kanan 1/~ dan kiri 1/60, kamera okuli anterior mata kanan dalam, dan mata kiri dangkal, jernih, iris berwarna coklat, kedua pupil bulat, letak sentral, pupil kanan berukuran 3mm, pupil kiri berukuran 4mm lonjong, dan reflek pupil +/+. Lensa kanan keruh padat dan kiri keruh kurang padat. Tekanan bola mata didapatkan 10-10 dengan tonometri. Tatalaksana untuk katarak meliputi tindakan bedah yaitu EKIK dan EKEK. Pasien tersebut direncanakan untuk dilakukan operasi katarak. Prognosis pasien ini baik karena katarak merupakan suatu kekeruhan lensa yang dapat diperbaiki dan dapat memperbaiki kualitas hidup pasien.
Seorang Perempuan Usia 64 Tahun dengan Keratokonjungtivitis: Laporan Kasus Ocean Maxmillion Harist Nigel Xavier; Ida Nugrahani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Keratokonjungtivitis merupakan inflamasi pada konjungtiva dan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi, alergi, atau gangguan sistemik. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan jika tidak ditangani dengan tepat. Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 64 tahun datang dengan keluhan mata kanan terasa mengganjal, kemerahan, nyeri, gatal, penglihatan buram, serta sekret mukopurulen yang menetap meskipun telah menggunakan obat tetes mata. Pemeriksaan oftalmologi menunjukkan hiperemi konjungtiva, infiltrat kornea, serta sekret mukopurulen yang mengarah pada diagnosis keratokonjungtivitis. Pasien diberikan terapi antibiotik topikal, antiinflamasi, dan analgesik, serta dijadwalkan kontrol untuk evaluasi klinis lebih lanjut. Kesimpulan: Keratokonjungtivitis dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius apabila tidak dideteksi dan ditangani secara tepat. Diagnosis yang akurat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan oftalmologi sangat penting dalam menentukan terapi yang sesuai. Dengan penatalaksanaan yang tepat, prognosis pasien umumnya baik tanpa gangguan penglihatan jangka panjang.
Seorang Laki-Laki Berusia 66 Tahun dengan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Rahardyan Surya Basusena; Ahmad Muzayyin
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan vertigo yang disebabkan oleh perubahan posisi kepala atau badan terhadap gaya gravitasi dan disertai gejala mual, muntah dan keringat dingin. BPPV merupakan gangguan yang terjadi di telinga dalam dengan gejala vertigo posisional yang terjadi secara berulang-ulang dengan tipikal nistagmus paroksimal. Pada tulisan ini membahas seorang laki-laki berusia 66 tahun dengan diagnosis Benign Paroxysmal Positional Position (BPPV). Pada awalnya, pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan pusing berputar serta memberat jika beraktivitas, dan disertai mual. Tidak ada riwayat Vertigo sebelumnya. Penatalaksanaan BPPV meliputi non farmakologis dan farmakologis. Penatalaksanaan yang sering digunakan adalah non farmakologis yang meliputi manuever seperti manuever Epley, manuever Semount, manuever Lempert, forced prolonged position and Brandt-Daroff Exercise.
Seorang Anak Usia 11 Tahun dengan Febris Hari ke 4 et Causa Dengue Hemorragic Fever Muhammad Umar Alfaruq; Eva Musfalifah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegepty dan stegomiya albopictus, Indonesia keempat serotipe virus dengue tersebut dapat ditemukan dan DENV-3 yang paling virulen. Kami melaporkan kasus seorang anak perempuan berusia 11 tahun 5 dengan keluhan demam naik turun sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, keluhan disertai pusing cekot-cekot, mual, nyeri perut bagian atas, lemas, nafsu makan menurun, rasa haus tidak meningkat. Pemeriksaan fisik didapatkan mata cowong, epistaksis, tidak ditemukan edema palpebra, gusi berdarah. Pemeriksaan thoraks tidak ditemukan efusi pleura. Pemeriksaan abdomen tidak ditemukan hepatomegali, Splenomegali, petekie, pekak beralih, penurunan turgor, bising usus normal. Pemeriksaan ekstremitas didapatkan akral hangat dan CRT >2 detik, pada tahun 2020 pasien menderita penyakit yang sama dengan dirawat di rumah sakit. Pasien mendapatkan terapi Rehidrasi infus RL 225 cc/ jam selama 3 jam, pasien juga sempat diterapi resusirasi syok pada hari pertama dirawat dengan infus RL 270 cc selama 2 jam, lanjut RL 189 cc/ jam, Maintence 135 cc/ jam, Paracetamol syr 3x2 ½ cth/ 4 jam, injeksi paracetamol 270 mg/4 jam, Injeksi Ondansentron 4 mg/8 jam, Inejeksi Ranitidin 30 mg/12 jam, Injeksi Asam Traneksamat 250 mg 2x1.
Seorang Wanita Usia 22 Tahun dengan Penyakit Glaukoma Dextra Syafii Nanda Nuraini; Ida Nugrahani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mata adalah salah satu indera yang penting, hampir 80% informasi diserap melalui sistem visual. Namun fungsi visual juga rentan terhadap berbagai gangguan/kelainan dari yang ringan sampai yang dapat berakibat kebutaan. Upaya mencegah dan menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan. Glaukoma adalah kelainan pada saraf mata yang ditandai dengan neuropati optik disertai hilangnya lapang pandang yang khas dengan peningkatan tekanan intraokular sebagai faktor risiko utama. Saat ini glaukoma menduduki urutan kedua penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia dan dunia. Klasifikasi glaukoma dapat dilakukan berdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan etiologinya glaukoma diklasifikasikan sebagai glaukoma primer, glaukoma sekunder dan glaukoma kongenital. Kebutaan akibat glaukoma pada tipe tertentu semestinya dapat dicegah karena kebutaan akibat glaukoma termasuk dalam kelompok kebutaan yang dapat dicegah. Masalah yang sering dihadapi adalah kurangnya kesadaran/kewaspadaan tentang glaukoma. Hal ini dapat dilatar belakangi kurangnya pengetahuan para petugas kesehatan tentang glaukoma terutama dalam hal mengenali dan menegakkan diagnosis.
Seorang Perempuan Usia 28 Tahun dengan Parotitis Bilateral Imam Muchlis Sukhufam; YM Agung Prihatiyanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parotitis merupakan suatu infeksi pada kelenjar parotis yang umumnya disebabkan oleh virus Paramyxovirus, terutama virus mumps. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi klinis, penatalaksanaan, serta luaran dari seorang pasien perempuan berusia 28 tahun yang mengalami parotitis bilateral dan menjalani perawatan di RSUD Karanganyar. Metode yang digunakan dalam laporan ini meliputi analisis riwayat medis, pemeriksaan fisik, serta evaluasi terhadap terapi yang diberikan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami demam dengan suhu tubuh 37,9 °C, nyeri saat menelan, serta pembengkakan yang nyata pada area leher selama delapan hari. Pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya pembesaran kelenjar parotis bilateral yang disertai nyeri. Penatalaksanaan yang diberikan mencakup pemberian analgesik, cairan intravena, dan terapi suportif lainnya. Berdasarkan laporan ini, parotitis bilateral pada pasien dewasa dapat ditangani dengan terapi suportif yang optimal, termasuk pengelolaan nyeri dan hidrasi yang adekuat. Deteksi dini serta penanganan yang tepat memiliki peran penting dalam mencegah komplikasi yang lebih serius.
Laporan Kasus: Seorang Laki-Laki Usia 56 Tahun dengan Hipertensi, Stroke Recurrent, Coronary Artery Disease ec Atrial Fibrilasi Unstable, Ventricular Extrasystole Bagus Oktofa Haryanto; Setyo Utomo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke sindrom yang terjadi akibat gangguan fungsi otak fokal atau global, terjadi secara mendadak disebabkan oleh gangguan serebrovaskular. Stroke berulang atau stroke reccurent atau biasa di sebut stroke sekunder/ stroke serangan ke dua dan setelahnya. Serangan stroke berulang ini lebih fatal dari stroke primer sebab area kerusakan otak bertambah luas dari sebelumnya. Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempitan arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung. Kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek, baik fisik, psikologis, maupun sosial yang berakibat pada penurunan kapasitas fungsional jantung dan kenyaman. Berdasarkan laporan kasus ini, diketahui seorang laki-laki usia 56 tahun datang ke IGD RSUD Hardjono Ponorogo 26 Januari 2024 pagi hari, diantar oleh keluarga dengan keluhan sulit bicara, lemah anggota gerak sebelah kanan, nyeri dada, sesak nafas, sulit menelan. Pasien mendapat terapi Inf. asering 16tpm, inj. citicoline 500mg/ 12j, inj. piracetam 1gr/8j, P.O Biocombin 2x1g, P.O Ramipril 1x5mg, P.O Bisoprolol 1x2,5mg, P.O Notisil 1x2mg.
Anak Perempuan Berusia 15 Tahun dengan Otitis Media Akut Stadium Perforasi Auricula Dextra Fathin Mufidah; Nurmala Shofiyati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis media akut adalah infeksi telinga tengah yang merupakan penyakit multifaktorial seperti infeksi, alergi, dan lingkungan, yang sering diawali dengan infeksi saluran nafas atas sehingga menyebabkan gangguan fungsi tuba Eustacius. Otitis media akut sering disebebkan oleh infeksi bakteri. Otitis media dapat mengenai pada semua usia, paling sering pada usia antara 6 bulan hingga 24 bulan. Dengan demikian anak yang menderita infeksi saluran pernafasan atas perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui adakah keterlibatan otitis media. Laporan kasus ini melaporkan seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang dibawa ke poli THT-KL RSUD Ir Soekarno Sukoharjo dengan keluhan telinga berdenging sebelah kanan, sejak 5 hari yang lalu disertai penurunan pendengaran. Pasien mengatakan juga anaknya telinga terkandang terasa gatal dan nyeri pada sebelah telinga kanannya. Keluar cairan warna kuning dan berbau tidak sedap di telinga kanannya. Pasien memiliki kebiasaan sering mengorek telinga dengan cotton bud dan jari tangannya. Pada pemerikaan telinga sebelah kanan terdapat membran timpani tampak adanya perforasi , cone of light menghilang, dan hiperemis. Telinga sebelah kiri terdapat membran intak dan cone of light, tidak tampak perforasi dan hiperemis. Tatalaksana pada pasien diberikan antibiotik dan analgetik yang di berikan selama 3 hari, dan di observasi kembali untuk melihat perkembangannya.
Studi Kasus: Tumor Nasofaring pada Pria 59 Tahun dengan Dugaan Kanker Nasofaring Nurhasyanah Fatmasari; Dony Hartanto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah kanker sel skuamosa yang berasal dari epitel permukaan nasofaring, dengan perkembangan yang umumnya terjadi di sekitar ostium tuba Eustachius pada dinding lateral nasofaring. Di Indonesia, KNF merupakan jenis kanker kepala leher yang paling sering, menyumbang 28% dari seluruh kanker THT-KL. Berdasarkan data GLOBOCAN 2012, insidens KNF di Indonesia tercatat 5,6 per 100.000 penduduk per tahun, dengan prevalensi tertinggi pada usia 40-50 tahun dan rasio pria dan wanita 2,3:1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada tiga klasifikasi histologi kanker nasofaring yang perlu diperhatikan.Tujuan dar laporan kasus ini adalah untuk menilai karakteristik klinis pasien dengan karsinoma nasofaring. Laporan Kasus: Seorang pria berusia 59 tahun datang ke poli dengan keluhan dahak bercampur darah selama dua bulan, disertai sakit kepala, penurunan pendengaran pada telinga kanan, dan benjolan nyeri di leher. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan limfadenopati pada sisi kanan dan kiri serta hipertrofi konkha pada kedua sisi. Pemeriksaan endoskopi hidung menunjukkan adanya massa tumor pada fossa Rosenmüller bilateral. Untuk memastikan diagnosis, direncanakan pemeriksaan lanjutan berupa biopsi massa tumor nasofaring. Langkah ini penting untuk menentukan apakah massa tersebut merupakan karsinoma nasofaring, sehingga dapat diberikan tatalaksana yang tepat berdasarkan hasil diagnosis yang akurat.
Seorang Wanita Berusia 59 Tahun dengan Myofascial Trigger Point Syndrome Paralumbal Sinistra: Laporan Kasus Niken Mafatiha Nafila; Retno Setianing
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Myofascial Trigger Point Syndrome (MTPS) merupakan nyeri otot regional yang berasal dari suatu titik tertentu pada suatu otot yang mengakibatkan spasme pada otot dan rasa nyeri yang parah. Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala motorik, sensorik, dan gejala otonom. Prevalensi yang dilaporkan memiliki rentang dari 95% pada pasien dengan nyeri muskuloskeletal. Penyebab umum penyakit ini dapat berupa trauma langsung maupun tidak langsung, kondisi patologis tulang belakang, paparan terhadap tegangan yang berulang dan kumulatif, atau postur tubuh yang tidak sesuai. Disajikan laporan kasus pada seorang wanita berusia 59 tahun dengan keluhan nyeri punggung kiri bawah yang menjalar. Pemeriksaan fisik pada regio spine didapatkan adanya asimetris bahu, asimetris lipatan lemak, nyeri tekan pada paralumbal sinistra, trigger point pada paralumbal sinistra, nyeri gerak, dan fleksibilitas trunk terbatas. Pemeriksaan penunjang MRI lumbal tanpa kontras didapatkan kesan stenosis lumbosacral, spondilolisthesis, dan osteoporosis. Tatalaksana rehabilitasi medik yang diberikan adalah fisioterapi berupa latihan stabilitas postur dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).