cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ISTORIA
ISSN : 18582621     EISSN : 26152150     DOI : -
Core Subject : Education,
Journal Istoria is a high quality research journal that is published by History Education Study Program Universitas Negeri Yogyakarta in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) and Keluarga Alumni Prodi Pendidikan Sejarah (KAPPS). Journal Istoria is providing a platform that welcomes and acknowledges high quality empirical original research papers about education written by researchers, academicians, professional, and practitioners from all over the world.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
HAMBATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH ISLAM TERPADU (STUDI KASUS SDIT AL HASNA KLATEN) Danu Eko Agustinova
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.393 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v10i1.3598

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan yang dialami dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik di Sekolah Islam Terpadu. Dimana pada model sekolah ini, pendidikan karakter telah dilaksanakan lebih awal sejak kelahiran model sekolah tersebut. Penelitian ini dilakukan di SDIT Al Hasna Klaten. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal. Cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan criterion-based selection. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan pencatatan dokumen. Validasi data dilaksanakan dengan trianggulasi. Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Hambatan yang dialami dalam proses penanaman karakter berasal dari dalam dan dari luar. Hambatan dari dalam meliputi pendidik yang kurang bisa memahami karakteristik masing-masing siswa. Kurangnya sarana penunjang dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, sistem full day itu sendiri yang ternyata memiliki beberapa kelemahan. Sedangkan, hambatan dari luar adalah kurang partisipasi aktif orang tua dalam proses penanaman karakter. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Hambatan, SDIT Al Hasna.
KESULITAN-KESULITAN GURU DALAM IMPLEMENTASI KTSP MATA PELAJARAN SEJARAH SEKOLAH MENENGAH ATAS (Penelitian di SMA N I Prambanan Klaten) Terry Irenewaty
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 11, No 1 (2015): ISTORIA Edisi Maret 2015, Vol. 11, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.146 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v11i1.5770

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui realitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri I Prambanan Klaten dan (2) mengetahui kesulitan-kesulitan guru sejarah dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran sejarah. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bersifat naturalistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran sejarah di SMA N I Prambanan Klaten menunjukkan kecenderungan pembelajaran yang sifatnya rutinitas, kurang memperhatikan kualitas proses dan hasil yang substantif sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran sejarah sebagaimana termuat dalam Permendiknas No 22 tahun 2006, (2) dalam implementasi KTSP guru sejarah masih menemukan banyak kesulitan-kesulitan baik secara teoritik maupun praktik. Adapun kesulitan-kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran sejarah yang menyangkut implementasi KTSP adalah: (1) kesulitan dalam mengembangkar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) menyiapkan atau mengemas materi pembelajaran, (3) menggunakan media yang mtakhir, (4) memfokuskan perhatian siswa, (5) menerapkan variasi metode pembelajaran, (6) memberikan umpan balik, (7) memberikan rangsangan motivasi, (8) mengevaluasi pembelajaran secara komprehensif, dan (9) mengembangkan secara keseluruhan KTSP itu sendiri. Kata Kunci: realitas, pembelajaran sejarah, KTSP.
PENERAPAN MODEL DELIKAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS-SEJARAH DI SMP MUHAMMADIYAH IV YOGYAKARTA Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 7, No 1 (2008): ISTORIA Edisi Maret 2018, Vol. 7, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.7 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v7i1.6308

Abstract

AbstractFor students at Junior High School, the subject of social studies is very bored tobe heared. Learning method is one of several factors that cause these problem. The goal of our research is to apply the delikan method to improve the quality of social studies learning at Junior High School.This class action research uses recommendation from Kurt Lewin models involving a spiral of cycles: initial idea, reconnaissance (fact finding), general plan, implement, and evaluate. We implements two cycles in which paper in first cycles and comic in second cycles. Delikan is a learning method involves hear (de), see (li), and done (kan). For implement this method we divide class on eight groups. For each groups, we give one theme for their task.From our research, we conclude that implementation of Delikan method lead improvement on social studies subject at Junior High School level. We have four parameters indicating the fenomenon. First, students have done the task with happy. They have a pleasant time to improve their ability to write and draw. Second, students enjoy work together in group collaboration with their classmate. This method can improve social relations between the students. Third, this method can exploit another student’s competencies, for example: write, draw etc. Finally, delikan motivate students to further learn with read another sources: book, magazine, internet, etc.Keyword: delikan, social studies, method of learning.
EKSISTENSI PERJUANGAN WANITA MASA KOLONIAL Terry Irenewaty
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 12, No 1 (2016): ISTORIA Edisi Maret 2016, Vol. 12, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.378 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v12i1.9541

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui peranan nyai pada masa kolonial, dan (2) Mengetahui transformasi modernisasi wanita di Jawa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Sejarah. Langkah-langkah dalam penelitian sejarah meliputi: pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh laki-laki Eropa biasa disebut dengan ‘nyai’. Pengambilan nyai dilakukan karena sedikitnya jumlah perempuan Eropa didatangkan ke Hindia Belanda. Seorang nyai akan berfungsi sebagai pembantu rumah tangga hingga pemuas kebutuhan seksual tuan Eropanya. Praktik pergundikan banyak terjadi dalam beberapa tempat yang memang pada saat itu menjadi pusat-pusat pemerintahan atau perekonomian pemerintah Hindia Belanda. Nyai merupakan perempuan-perempuan pertama yang terpenetrasi oleh kebudayaan baru yang dibawa tuan Eropanya. Peranan nyai sebagai mediator budaya Jawa dan Eropa dapat dilihat dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain rijsttafel (kebiasaan makan), busana, bahasa, dan gaya hidup. Kata Kunci: Eksistensi, Nyai, Masa Kolonial.
Menggali Nilai-Nilai dan Hakikat Wanita Dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara Dyah Kumalasari
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 13, No 1 (2017): ISTORIA Edisi Maret 2017, Vol. 13, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.419 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v13i1.17611

Abstract

AbstractThis study aims to analyze more about the nature of women in the view of Ki Hadjar Dewantara and what values can be developed in the process of learning in the course of History of Women. This research is designed to use critical historical methods. Critical historical methods include the process of collecting, testing, analyzing the source with criticism both internally and externally, then interpreted and presented in the form of writing history. Four procedures in the process of historical research follow the steps of historical writing as follows: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The result of the research explains that Ki Hadjar Dewantara idea and thought is based on cultural and religious background and loaded with eastern values so that it can balance the study of feminism which mostly raises the ideas of women movement from Western concept and is often less culturally appropriate East. That women are naturally different from men both physically and psychologically. However, women still have to get the same rights in education. Women should be forward-thinking and educated in order to properly educate their sons. Women are also not prohibited for a career, but must still adjust to the nature of her femininity. Careers suitable for women according to Ki Hadjar Dewantara is in the field of education, medical, and art. Keywords: values, essence of woman, emancipation, feminism, History of woman
ABDURRAHMAN WAHID DAN MODERNISASI PENDIDIKAN PESANTREN Saefur Rochmat
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 14, No 1 (2018): ISTORIA Edisi Maret 2018, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.224 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v14i1.19397

Abstract

Sudah lebih dari 8 Indonesia belum bisa bangkit dari situasi krisis ekonomi, hal ini terjadi karena Indonesia mengalami krisis multidimensional yang muaranya adalah krisis budaya. Benar kata Tony Barnett, kita tidak kekurangan tenaga profesional dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, namun permasalahannya terletak pada konteks budaya bagi impelentasi keputusan teknis. Max Weber juga berkeyakinan kalau pemikiran agama mempunyai pengaruh besar bagi diterimanya sistem industri kapitalis. Atau dengan kata lain, industri modern berkembang di Eropa setelah tersebarnya teologi Protestan dari Jean Calvin. Hal itu menyanggah pandangan bahwa agama merupakan unsur yang paling sulit mengalami perubahan dan perubahannya itu bersifat reaksioner terhadap perubahan masyarakat. Islam belum bisa tampil sebagai peradaban yang unggul karena belum berhasil mengembangkan suatu pemikiran keagamaan yang menyeluruh. Dalam kasus Indonesia, umat Islam dituntut mampu merumuskan budaya Islam Indonesianis. Pembaharuan Islam masih bersifat parsialis karena hanya didasarkan pada aspek rasio (bersifat normatif berdasarkan al-Qur’an dan Hadits) dan melupakan tradisi bangsa Indonesia. Akibatnya, pembaharuan itu ditentang oleh mereka yang tinggal di daerah pedesaan yang hidup selaras dengan tradisi.
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DAN GERAKAN IKHWANNUL MUSLIMIN MENURUT HASAN AL-BANNA iin mas niyah
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 15, No 2 (2019): ISTORIA Edisi September 2019, Vol. 15, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.679 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v15i2.25412

Abstract

ABSTRAKHasan al-Banna sebagi tokoh yang terkemuka di zamannya. Menurut Hasan al-Banna aspek ketuhanan atau keimanan merupakan segi terpenting dalam pendidikan Islam. Yang demikian itu karena tujuan pertama dari pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang beriman kepada Allah. dalam Islam, iman bukanlah sekedar ucapan atau pengakuan belaka. Iman merupakan kebenaran yang jika masuk ke dalam akal akan memberi kepuasan akli, jika masuk ke dalam  perasaan akan memperkuatnya, jika masuk ke dalam iradah atau keinginan (will) akan membuatnya dinamis dan mampu menggerakkan. Tiang pendidikan berdasar ketuhanan adalah hati yang hidup dan salalu berhubungan dengan Allah SWT, meyakini pertemuan dengan-Nya dan hisab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Hat adalah satu-satunya pegangan yang dapat ditunjukkan oleh seorang hamba kepada Tuhannya pada hari kiamat sebagai sarana bagi keselamatannya. Menurut al-Banna, secara garis besar tujuan pendidikan Islam dibagi menjadi dua bagian: tujuan akhir (permanen) dan tujuan antara (kontekstual).Kata kunci: Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin,pendidikan Islam,[WU1] ABSTRACTHasan al-Banna was a prominent figure in his day. According to Hasan al-Banna the aspect of divinity or faith is the most important aspect of Islamic education. That is because the first goal of Islamic education is to shape people who believe in Allah. in Islam, faith is not just a mere speech or confession. Faith is a truth that if it enters into the mind will give satisfaction, if it enters the feeling it will strengthen it, if it enters into the iradah or desire (will) will make it dynamic and able to move. Godhead-based education poles are hearts that live and are always in touch with Allah SWT, believe in meeting Him and His reckoning, expecting His mercy and fearing His punishment. Hat is the only handle that can be shown by a servant to his Lord on the Day of Judgment as a means for his salvation. According to al-Banna, broadly the aim of Islamic education is divided into two parts: the final goal (permanent) and the intermediate goal (contextual). Keyword : Hasan Al-Banna, Muslim Brotherhood, Islamic education, 
PENGGUNAAN MUSEUM SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN OUT-CLASS V. Indah Sri Pinasti
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 8, No 1 (2010): ISTORIA Edisi September 2010, Vol. 8, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.082 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v8i1.3719

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Museologi melalui pembelajaran out -class pada Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Pengembangan model pembelajaran out -class dilatarbelakangi oleh perlunya dinamisasi dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meng-hasilkan pembelajaran bermakna, mencari, menemukan, dan memecahkan per-masalahan dalam perkuliahan dengan penerapan metode out-class. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan hasil ujian mahasiswa dalam mata kuliah museologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kualitas pembelajaran pada mahasiswa semester gasal yang mengambil mata kuliah Museologi melalui pengembangan dan penerapan model pembelajaran out-class.Diperoleh kesimpulan bahwa dari penelitian ini berhasil meng-indentifikasi museum-museum yang ada di Yogyakarta. Dari beberapa museum yang berhasil diidentitikasi tersebut hanya terdapat beberapa museum yang efektif dan relevan untuk dijadikan sumber belajar siswa dalam mata kuliah Museologi. Kata Kunci: Pembelajaran Bermakna, Museum
PENDIDIKAN DALAM PEMIKIRAN KONFUSIUS admin Wisnu istoria
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 9, No 1 (2011): ISTORIA Edisi April 2011, Vol. 9, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.146 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v9i1.6256

Abstract

Abstrak Konfusius adalah salah seorang pemikir besar dunia. Banyak hasil pemikirannya yang masih relevan sampai sekarang, salah satunya adalah pemikiran mengenai pendidikan. Bahkan beberapa pemikiran Konfusius di bidang pendidikan telah melampaui pemikiran dari zamannya. Baginya pendidikan adalah hak setiap orang tanpa memandang status sosial. Pendidikan juga  menjadi kurang berharga bila tidak dibarengi dengan keseimbangan emosi, dan usaha untuk menghasilkan keseimbangan tersebut tergantung pada pendidikan li. Tulisan berikut ini akan mengulas lebih jauh mengenai hasil pemikiran Konfusius dalam bidang pendidikan berkaitan dengan peranannya sebagai seorang pendidik. Kata Kunci: Pendidikan, Konfusius.
PERSPEKTIF SPIRITUALISME DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Danu Eko Agustinova
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v10i1.3166

Abstract

Banyak materi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk membangun karakter bangsa, dengan melalui penanaman dan transformasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, akhlak mulia dan nilai-nilai luhur ke-Indonesia-an seperti nilai-nilai religiositas, kemanusiaan dan keadilan, sosialisme, nasionalisme, patriotisme, demokrasi, toleransi, kearifan, keteladanan. Tentu hal ini sangat menuntut keberanian dan kreativitas guru. Dan sebagai bagian dari upaya pengembangan profesionalismenya, guru perlu merubah pembelajaran sejarah yang kognitif menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan menyentuh aspek-aspek afektif atau kecerdasan emosional, serta kecerdasan spiritual. Pembelajaran sejarah yang bersifat kognitif hanya akan melahirkan kepuasan dengan durasi sesaat, sebaliknya pembelajaran sejarah yang mampu melatih kecerdasan emosional dan spiritual, akan melahirkan kesadaran sejarah yang sejati. Inilah modal penting untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter, bangsa berkepribadian. Kata Kunci: Spiritualisme, Pembelajaran, Sejarah

Page 6 of 19 | Total Record : 190


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 2 (2025): ISTORIA Edisi September 2025, Vol. 21. No. 2 Vol. 21 No. 1 (2025): ISTORIA Edisi Maret 2025, Vol. 21. No. 1 Vol. 20 No. 2 (2024): ISTORIA Edisi September 2024, Vol. 20. No.2 Vol. 20 No. 1 (2024): ISTORIA Edisi Maret 2024, Vol. 20. No.1 Vol. 19 No. 2 (2023): ISTORIA Edisi September 2023, Vol. 19. No.2 Vol. 19 No. 1 (2023): ISTORIA Edisi Maret 2023, Vol. 19. No.1 Vol. 18 No. 2 (2022): ISTORIA Edisi September, Vol. 18. No.2 Vol. 18 No. 1 (2022): ISTORIA Edisi Maret, Vol. 18. No. 1 Vol 17, No 2 (2021): ISTORIA Edisi September, Vol. 17. No. 2 Vol 17, No 1 (2021): ISTORIA Edisi Maret, Vol. 17. No. 1 Vol 16, No 1 (2020): ISTORIA Edisi Maret 2020, Vol 16, No.1 Vol 16, No 2 (2020): ISTORIA Edisi September, Vol. 16. No. 2 Vol 15, No 2 (2019): ISTORIA Edisi September 2019, Vol. 15, No.2 Vol 15, No 1 (2019): ISTORIA Edisi Maret 2019, Vol. 15, No.1 Vol 14, No 2 (2018): ISTORIA Edisi September 2018, Vol. 14, No.2 Vol 14, No 1 (2018): ISTORIA Edisi Maret 2018, Vol. 14, No.1 Vol 13, No 2 (2017): ISTORIA Edisi September 2017, Vol. 13, No.2 Vol 13, No 1 (2017): ISTORIA Edisi Maret 2017, Vol. 13, No.1 Vol 12, No 2 (2016): ISTORIA Edisi September 2016, Vol. 12, No.2 Vol 12, No 1 (2016): ISTORIA Edisi Maret 2016, Vol. 12, No.1 Vol 11, No 2 (2015): ISTORIA Edisi September 2015, Vol. 11, No.2 Vol 11, No 1 (2015): ISTORIA Edisi Maret 2015, Vol. 11, No.1 Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1 Vol 9, No 1 (2011): ISTORIA Edisi April 2011, Vol. 9, No.1 Vol 8, No 1 (2010): ISTORIA Edisi September 2010, Vol. 8, No.1 Vol 7, No 1 (2008): ISTORIA Edisi Maret 2018, Vol. 7, No.1 More Issue