cover
Contact Name
Dr. dr. Elman Boy, M.Kes., Sp.KKLP., Subsp.FOMC
Contact Email
implementahusada@umsu.ac.id
Phone
+628112570085
Journal Mail Official
implementahusada@umsu.ac.id
Editorial Address
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Jln.Gedung Arca No. 53 Medan 20217
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Implementa Husada (JIH)
ISSN : -     EISSN : 27220877     DOI : https://doi.org/10.30596/jih.v7i3
Core Subject :
Jurnal Implementa Husada (JIH) is a peer reviewed open access scientific journal in the fields of medicine, health sciences, and healthcare. The journal provides a scholarly platform for researchers, academics, clinicians, healthcare professionals, and other health related scholars to disseminate scientific knowledge, research findings, and evidence based practices that contribute to the advancement of medicine and health. Jurnal Implementa Husada publishes four issues per year, in February, May, August, and November. The journal accepts original research articles, review articles, and case reports, as well as other scholarly manuscripts that are relevant to the journal scope and comply with its editorial policies. The scope of the journal encompasses various areas of medicine and health sciences, including biomedical sciences, clinical medicine, family medicine and primary care, community medicine and public health, and medical and health professions education. Since 2026, Jurnal Implementa Husada has adopted English as the primary language of publication as part of its commitment to increasing the international visibility, accessibility, and dissemination of its published research.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Pengaruh Komorbid Hipertensi terhadap Severitas Pasien yang Terinfeksi Covid 19 Arif Gunawan; Kartika Prahasanti; M. Reza Utama
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v1i2.4972

Abstract

COVID 19 saat ini merupakan salah satu masalah yang ramai diperbincangkan oleh seluruh masyarakat di dunia. Penyebaran virus ini sangat cepat bahkan hampir seluruh negara di dunia merasakan dampak dari virus ini. Virus ini sangat berbahaya apabila menginfeksi orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah dan dipengaruhi usai, jenis kelamin laki-laki, perokok aktif. dan beberapa penyakit komorbid diantaranya adalah hipertensi dan diabetes mellitus. Pada pasien hipertensi, diabetes melitus, dan perokok, diduga adanya peningkatan ekspresi reseptor ACE2. Hipertensi dapat mejadi faktor risiko dari COVID 19, hal ini dikaitkan dengan penggunaan obat anti hipertensi seperti obat angiotensin mengkonversi enzim inhibitor (ACEI) dan angiotensin reseptor blockers (ARBs), karena penggunaan obat ini bisa saja meregulasi reseptor ACE2 bahkan memperparah COVID 19, namun hal ini belum terbukti secara jelas, karena beberapa penelitian juga menjelaskan bahwa penggunaan obat ini tidak mempengaruhi tingkat keparahan COVID 19.
Cek Kesehatan Dan Penyuluhan Pada Lansia di Kelurahan Sei Mati Lingkungan II Medan Shabila Rizka Azzahra; Elman Boy
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 4, No 4 (2023)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v4i4.16790

Abstract

Penuaan adalah tahap alami dalam perjalanan kehidupan, tetapi juga merupakan fase ketika risiko terhadap berbagai masalah kesehatan meningkat. Di antara risiko-risiko tersebut, tekanan darah tinggi, kadar asam urat yang tinggi, gula darah yang tidak terkendali, dan kolesterol yang tinggi adalah masalah utama yang dapat memengaruhi kualitas hidup para lansia. Kami menjelaskan bahwa pemeriksaan tekanan darah, kadar asam urat, gula darah, dan kolesterol dapat mendeteksi dini risiko-risiko kesehatan yang seringkali tidak memiliki gejala yang jelas. Dengan demikian, pencegahan menjadi fokus utama dalam upaya menjaga kesejahteraan lansia. Kami juga membahas bagaimana masing-masing parameter ini dapat memengaruhi kesehatan lansia, serta mengapa pengelolaan yang tepat sangat penting. Dalam konteks ini, kami menyoroti peran penting perubahan gaya hidup, diet seimbang, dan pengobatan jika diperlukan. 
Perbedaan Tingkat Depresi pada Orang dengan Skizofrenia Berdasarkan Jenis Kelamin terhadap Lama Pengobatan di Rumah Sakit Madani Medan Gebby Nusantara; Nanda Sari Nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v4i1.12889

Abstract

Latar Belakang: Skizofrenia merupakan kelainan otak kronis yang dapat bergejala pada saat aktif berupa delusi, halusinasi, bicara tidak teratur, kesulitan berpikir, dan kurangnya motivasi. Orang yang menderita skizofrenia sering kali mengalami masalah kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan dan depresi. Orang yang mengalami skizofrenia juga sering mengalami disfungsi sosial, sehingga lebih mungkin menjadi pengangguran, miskin, dan tunawisma. Hal ini menyebabkan penurunan harapan hidup dengan beberapa perkiraan lebih sedikit 10-12 tahun dibandingkan orang yang tidak menderita skizofrenia. Bukti menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental seperti depresi lebih buruk pada skizofrenia. Sebagai contoh, depresi adalah faktor paling signifikan dalam bunuh diri pada skizofrenia. Tujuan: Mengetahui perbedaan tingkat depresi skizofrenia berdasarkan jenis kelamin terhadap lama pengobatan di Rumah Sakit Madani Medan. Metode: analitik kategorik dengan rancangan penelitian yang dipakai adalah studi cross sectional, Teknis pengambilan sampel yang digunakan penelitian ini adalah Non Probability Sampling yaitu sampel tidak dipilih secara acak dengan metode Purposive Sampling. Data penelitian ini diperoleh dari data primer menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian yang didapatkan bahwa pada laki-laki lama pengobatan 1 tahun 29 orang (33.7%) dan 1 tahun 14 orang (16.3%), pada perempuan lama pengobatan 1 tahun 31 orang (36.0%) dan 1 tahun 12 orang (14%). Hasil analisis antara jenis kelamin terhadap lama pengobatan pada orang dengan skizofrenia adalah p = 0.815 (P0.05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap lama pengobatan pada orang dengan skizofrenia.
Neurological Manifestations in Rheumatoid Arthritis: Scoping Review Andrianto Selohandono; Ana Budi Rahayu; Dewi Yuniasih
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Rheumatoid arthritis (RA) is a chronic autoimmune disease characterized primarily by joint inflammation and deformity. Beyond its articular manifestations, RA often presents with significant neurological complications, including peripheral neuropathy, central nervous system (CNS) vasculitis, cervical myelopathy, and cognitive impairments. These manifestations arise from systemic inflammation and autoimmune mechanisms that damage the nervous system, posing serious risks to patient prognosis. Despite their clinical importance, data on the prevalence, pathophysiological mechanisms, and management of these complications remain limited and scattered across studies. This scoping review aimed to synthesize existing literature on neurological manifestations in RA, focusing on their prevalence, underlying mechanisms, and therapeutic approaches.Methods: Using a systematic methodology, relevant studies were identified from databases including PubMed, Scopus, and ProQuest. Articles published between 2020 and 2024 were selected based on specific inclusion and exclusion criteria.Result: The findings reveal that neurological complications in RA range from peripheral neuropathy, affecting up to 50% of patients, to severe conditions like cerebral vasculitis and rheumatoid meningitis. Cognitive impairment, reported in approximately 31% of patients, highlights the long-term burden of the disease. Early diagnosis and tailored therapeutic interventions, such as immunomodulatory therapies, are critical to mitigating these impacts.Conclusion: This review underscores the need for further research to bridge existing knowledge gaps, develop effective diagnostic tools, and improve management strategies for neurological complications in RA. Comprehensive understanding and multidisciplinary approaches are essential for enhancing patient outcomes and quality of life. 
Eksisi pada Penyakit Von Recklinghausen terhadap Optimasi Fungsi dan Estetika Tubuh: Laporan Kasus Yesica, Harun Adam
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 2, No 1 (2021)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v2i1.7742

Abstract

Neurofibromatosis didefinisikan sebagai kelainan genetik autosomal dominan dan merupakan suatu kondisi yang diturunkan secara genetik, hal ini pertama kali dijelaskan oleh Friedrich Daniel von Recklinghausen. Penyakit ini terjadi pada sistem saraf perifer maupun sentral yang ditandai dengan tumor nodular multiple cutaneus dan subcutaneus. Proses pengangkatan tumor dilakukan dengan eksisi sederhana, yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi dan estetika. Laporan kasus ini membahas seorang anak berusia 3,5 tahun dengan neurofibromatosis pada daerah antebrachii kiri,dirawat di Bagian Bedah Plastik RSPAD Gatot Soebroto dengan gejala yang sudah ada sejak usia lebih muda 2 bulan. Setelah dilakukan eksisi, hasil dari tindakan tersebut cukup baik dan hasil estetika dianggap cukup memuaskan, yaitu pasien mungkin memerlukan perawatan lebih lanjut. Beberapa minggu setelah dilakukan tindakan, diamati bahwa luka eksisi sembuh dengan baik. Eksisi sederhana dilakukan pada antebrachii pasien, dan hasilnya menunjukkan hasil yang memuaskan. Metode khusus ini memberikan manfaat yang menguntungkan sehingga memungkinkan untuk mempermudah dan memaksimalkan pergerakan fungsional ekstremitas dan mobilitas pasien yang tidak terbatas, juga meminimalkan cacat dalam jangka panjang.
Hubungan Emotional Eating dengan Status Gizi pada Remaja SMAS Muhammadiyah 02 Medan Indah Syaidatul Mursidah; Fitri Nur Malini Siregar; Amelia Eka Damayanti; nanda sari nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v5i2.19594

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan masa penting dalam melakukan pemantauan status gizi. Faktor yang dapat memengaruhi status gizi seseorang yaitu emotional eating. Cara sederhana yang dapat diterapkan untuk menentukan status gizi pada remaja adalah dengan mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan emotional eating dengan status gizi pada remaja SMAS Muhammadiyah 02 Medan. Metode: Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang akan diperoleh dari sumber utamanya dengan menggunakan kuesioner Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) dan melakukan pengukuran BB serta TB. Hasil : status gizi overweight-obesitas cenderung mempunyai tingkat emotional eating yang tinggi, diikuti oleh remaja yang memiliki tingkat emotional eating yang sedang. Sedangkan remaja yang tingkat emotional eatingnya termasuk kedalam kriteria rendah adalah remaja yang memiliki status gizi normal. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara emotional eating dengan status gizi. Kata Kunci: Emotional eating, remaja, status gizi 
Perbandingan Efektivitas Pemberian Silver Sulfadiazine dengan Gel Lidah Buaya (Aloe Vera) 99% pada Tikus Putih ( Rattus Norvegicus L.) Jantan Galur Wistar Sebagai Pengobatan Luka Bakar Atika Rahmi; Ratih Yulistika Utami; Hervina Hervina; Humairah Medina Liza Lubis
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v1i1.4541

Abstract

Introduction: Burn injury is a common cause of morbidity and mortality. Outcomes of morbidity and disability for deep burns patients still not improved. Many modalities for wound bed preparation was not satisfied. Aloe vera gel have been used as an anti-inflammatory natural agent, for treatment many deseases. It has also been used in the traditional medicine of many cultures and said to be beneficial in the treatment of disorders such as burns Objective: To find out the comparison of the effectiveness of administration of silver sulfadiazine and aloe vera gel 99% as a treatment of burns in white rat (Rattus norvegicus L.) male Wistar strain. Methodology: The research used True Experiment method with "pretest-posttest with control group design" design Result: The results show that the P value for aloe vera number is 0.05, and the P value for Silver sulfadiazinee levels also showing 0.05. Conclusion: There is a difference in effectiveness of giving 99% aloe vera gel as a treatment for burns in white rats (Rattus norvegicus L.) male Wistar strain.Keywords: Burn Injury,Aloe Vera, Silver sulfadiazinee
Hubungan Pola Makan dengan Sindroma Dispepsia pada Mahasiswa Pre-klinik Fakultas Kedokteran Rika Nuraini Sitakar; Fatinah Shahab; Syarifah Zahra
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 4, No 3 (2023)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v4i3.16304

Abstract

Pola makan sehat merupakan hal penting untuk dimiliki oleh setiap manusia agar terpenuhinya semua nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah, jadwal dan jenis makanan dengan maksud untuk mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan terutama masalah dipencernaan. Kebiasaan konsumsi makanan yang tidak sehat dan tidak teratur pada mahasiswa kedokteran karena kesibukan serta beban tugas yang dimiliki sehingga membuat  mereka rentan  mengalami sindrom dispepsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui apakah terdapat hubungan pola makan dengan sindroma dispepsia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim Semarang. Penelitian ini merupakan studi analitik (kuantitatif) dengan desain studi cross sectional menggunakan data primer berupa kuesioner. Hasil penelitian ini didapatkan mahasiswa yang tidak teratur makan lebih banyak mengalami sindrom dispepsia yaitu sebanyak 96 orang (89,7%) dengan distribusi tertinggi responden berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 86 orang (67,2%). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan sindrom dispepsia pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim Semarang
Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SD Kota Medan Nurul Siti Aisyah Sofyan; Pinta Pudiyanti Siregar
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v3i4.11840

Abstract

Epstein–Barr Virus Circulating Tumor DNA (ctDNA) as a Biomarker in Nasopharyngeal Carcinoma: A Narrative Review Vemas Rifki Pradana; Dila Septianing Nugrahanifa; Arsya Sakti Yudha; Faza Ovita Balqis; Fadhil Emdian Nugraha; Safari Wahyu Jatmiko
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v7i1.26653

Abstract

Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a cancer with a characteristic distribution in East and Southeast Asia, including Indonesia, with an incidence of 4.7 cases per 100,000 population per year. Conventional diagnostic methods still have limitations because they are invasive, carry a risk of false negatives, and are not suitable for repeated monitoring. Liquid biopsy using Epstein-Barr virus circulating tumor DNA (EBV-ctDNA) offers great potential as a noninvasive biomarker for the diagnosis and management of NPC. This narrative review was conducted through a literature search on PubMed and Google Scholar (2020–2025) using keywords related to NPC, EBV-ctDNA, and liquid biopsy. Of the 314 articles identified, 14 publications were selected based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that EBV-ctDNA has a sensitivity of up to 97% in detecting NPC and plays a role in early diagnosis, risk stratification, therapeutic response monitoring, and earlier recurrence detection compared to imaging modalities. Digital PCR and next-generation sequencing technologies improve detection accuracy and enable large-scale population screening applications. EBV-ctDNA has the potential to be a transformative biomarker with high sensitivity and specificity, supporting routine clinical implementation and personalized care for NPC, especially in endemic areas.