cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
APRON
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
BENTUK PENYAJIAN KESENIAN KESENIAN JIDOR SENTULAN DESA BONGKOT KECAMATAN PETERONGAN KABUPATEN JOMBANG ARINDRA F, RIZQI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 2, No 8 (2016): APRON Volume 2 Nomor 8
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jidor Sentulan adalah salah satu kesenian bernafaskan Islam yang berasal dari Kabupaten Jombang. Kesenian ini berasal dari dusun Sentulan desa Bongkot kecamatan Peterongan kabupaten Jombang. Pertunjukan tersebut oleh masyarakat setempat diberi nama Jidor berdasarkan instrumen yang digunakan dan dari asal kesenian ini berada. Pada awalnya kesenian ini sebagai media da’wah agama islam. Seiring berkembangan zaman kesenian ini berubah menajdi kesenian kerakyaktan. Jidor Sentulan adalah kesenian yang unik karena kesenian Jaranan yang diiringi oleh musik sholawatan. Rumusan Masalah Penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Struktur Penyajian kesenian Jidor Sentulan Desa Bongkot Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang? 2) Bagaimana Bentuk Penyajian Kesenian Jidor Sentulan Desa Bongkot Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang? 3) Bagaimana upaya pemangku Kesenian Jidor Sentulan Desa Bongkot Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang dalam  mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat pendukungnya? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi dalam bentuk foto dan video. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Analisis data yang dilakukan menggunakan pencarian dalam penyusunan secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan – bahan lain dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke, dalam unit – unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga dapat mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh hasil 1) Struktur Penyajian dari Jidor Sentulan terdiri dari tiga bagian yaitu a) Bagian awal meliputi pembukaan, tandakan dan arak-arakan; b) Bagian inti adalah bagian yang membawakan cerita; c) Bagian akhir berisi atraksi dari tokoh pendukung, 2) Bentuk Penyajian Jidor Sentulan yang terdapat tokoh utama dan tokoh pendukung mempunyai gerak yang berbeda setiap tokoh dan menggunakan properti berupa gaman dan topeng. Musik iringan yang digunakan adalah jidor, terbang, kendang dan vokal, 3) Upaya mempertahankan eksistensi dari pemangku kesenian Jidor Sentulan dengan melakukan beberapa perubahan yaitu perubahan fungsi, perubahan struktur penyajian dan perubahan tata busana. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah kesenian Jidor Sentulan merupakan kesenian religi yang terlihat dari musik pengiring yang bernafaskan Islam. Simbolisasi tokoh dan cerita yang ditampilkan memiliki pesan moral tentang kehidupan manusia.  Upaya yang dilakukan pemangku kesenian Jidor Sentulan merupakan salah satu upaya mengembangkan budaya yang sudah ada serta memanfaatkannya sebagai penunjang perekonomian. Sebagai usaha melestarikan kesenian daerah dapat dilakukan penelitian lanjutan sebagai usaha pengembangan Jidor Sentulan, lebih mengapresiasi seni pertunjukan daerah setempat dan memperkenalkan ke daerah lain dalam lingkup yang lebih luas. Kata Kunci: Jidor Sentulan, Bentuk Pertunjukan, Struktur Pertunjukan
MUSIK KENTRUNG PADA GRUP APRESIASI SENI BONDOWOSO (KAJIAN TEKS NYANYIAN DAN INSTRUMENTASI) DWI AGUSTIN, VIONITA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Musik Kentrung merupakan seni sastra lisan atau seni bertutur (teater lisan) yang diiringi tabuhan terbangan. Kentrung GAS Bondowoso memiliki keunikan dari segi cerita, musik, maupun dalam penyampaian pantun/ Paleggiren yang dinyanyikan sesuai dengan melodi pakem. Masyarakat di luar Bondowoso sebagai penikmat musik Kentrung mengalami kesulitan untuk memahami teks nyanyian dari musik Kentrung dikarenakan teks nyanyian yang digunakan menggunakan bahasa Madura. Keberadaannya yang kurang diketahui oleh masyarakat luas mendorong untuk segera mendokumentasikan kesenian tersebut sebagai salah satu upaya pelestarian kesenian tradisional. Rumusan masalah yaitu : bagaimana kajian teks nyanyian musik Kentrung pada GAS Bondowoso, dan bagaimana sajian setiap instrumen sebagai musik pengiring dalam musik Kentrung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan lokasi penelitian di Sanggar GAS Bondowoso, tepatnya di Jalan Raya Curahdami depan polsek Curahdami RT/RW 01 Desa Curahdami, Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso. Dan stasiun televisi GMTV (Gerbong Maut Televisi). Sumber data yang digunakan yaitu sumber data manusia dan sumber data non manusia, yang berhubungan dengan musik Kentrung. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan yaitu terbang Kentrung Kendang, terbang Kentrung Pethot, terbang Kentrung Jidur (Bass). Fungsi instrumen diantaranya sebagai pengatur irama dan jalannya sajian, sebagai penentu akhir lagu, dan sebagai pengatur tempo. Instrumen juga menganalisis organologi instrumen terbang, dan teknik memainkan instrumen terbang. Teks nyanyian dengan menganalisis arti kata-kata dalam teks nyanyian dan makna dari teks nyanyian secara keseluruhan. Teks nyanyian yang digunakan berupa pantun berbahasa Madura yang memiliki pola rima yang beragam dan beraturan sehingga enak didengar. Pola rima yang ada di pantun diantaranya a-a-a-a dan a-b-a-b. Beberapa teks nyanyian menggunakan pantun bebas yaitu pantun yang tidak bersajak a-b-a-b ataupun a-a-a-a hanya saja mengutamakan persamaan bunyi.. Kata Kunci : Kentrung, Bentuk Melodi, Instrumentasi, Teks Nyanyian
BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIS RODDAT SHOLAWAT BISYAHRI DALAM HADRAH ISHARI DESA SOOKO KABUPATEN GRESIK LESTARI, VIENDA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Hadrah ISHARI Desa Sooko Kecamatan Wringinanom merupakan Hadrah ISHARI yang memiliki ciri khas dalam bentuk penyajiannya, seperti: (1) Gerak tari (Roddat) lebih variatif yaitu selalu berkembang dan memberikan gerak-gerak tambahan, seperti duduk sujud dan tolehan kepala.. (2) Konsisten dalam bergerak di tunjukkan dengan meratakan dan menyamakan porsi atau batasan dalam bergerak. (3) Hadrah ISHARI Desa Sooko banyak didukung kaum muda, sehingga memungkinkan untuk mengembangkan tarian yang lebih variatif dan tidak mempengaruhi makna di dalamnya.  Penelitianm ini membahas tentang (1) bentuk gerak Roddat Sholawat Bisyahri dalam Hadrah ISHARI Desa Sooko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik, (2) Makna simbolis gerak Roddat Sholawat Bisyahri dalam Hadrah ISHARI Desa Sooko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Pembahasan masalah dalam penelitian ini menggunakan teori bentuk dan teori makna. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan tehnik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk mengetahui validitas data penulis menggunakan tehnik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Tehnik analisis data menggunakan analisis berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa, bentuk gerak Roddat Sholawat Bisyahri ada dua macam yaitu Roddat badan dan Roddat tangan. Motif gerak terdiri atas: sujud penghormatan, duduk bersimpuh, duduk setengah berdiri, lafadz dan sendakep toleh. Struktur gerak Roddat dibangun melalui proses gerak yang diawali dengan sujud penghormatan. Pada bagian isi struktur gerak terdiri atas motif duduk bersimpuh, duduk setengah berdiri, lafadz dan sendakep toleh. Makna representatif bentuk gerak Roddat adalah seluruh makhluk yang ada di antara langit dan bumi bertasbih mengagungkan dan menyucikan Allah SWT. Secara diskursif makna gerak Roddat Sholawat Bisyahri di dasarkan pada kecrek, Roddat tangan dan Roddat badan. Kecrek merupakan bentuk rasa gembira atas kelahiran Nabi Muhammad karena hal itu merupakan Anugrah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada ummat manusia. Makna gerak Roddat tangan dan Roddat badan Sholawat Bisyahri bagaikan melukiskan lafadz Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Simpulan penelitian ini adalah bahwa Hadrah ISHARI Desa Sooko memiliki bentuk gerak Roddat yang terdiri dari Roddat tangan dan Roddat badan. Bentuk Roddat tersebut memiliki makna bagi kehidupan sosial agama masyarakat luas terutama masyarakat di Desa Sooko Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik.   Kata Kunci : Bentuk dan Makna
MANAJEMEN PERTUNJUKAN PARADE SURYA SENJA DI GEDUNG GRAHADI SURABAYA RISKI ANANDA, ISTIFANI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Parade Surya Senja ialah suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan pada tanggal 17 setiap bulan dalam satu tahun, pada pukul 15.00 hingga pukul 18.00 bertempat di lapangan utama gedung Grahadi Surabaya kegiatan ini berisikan unjuk gelar pertunjukan seni musik drum band dan seni tari masal yang diikuti oleh perwakilan daerah seJawa Timur, kegiatan parade surya senja diakhiri dengan upacara penurunan bendara. Kegiatan ini merupakan kegiatan besar yang melibatkan daerah se Jawa Timur tentu di dalamnya ada suatu pengelolaan yang baik.         Berdasarkan latar belakang pada penulisan ini dapat diambil suatu rumusan masalah yaitu: 1. bagaimana manajemen pertunjukan Parade Surya Senja meliputi: Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakan, Pengawasan; 2. Apa saja faktor penghambat yang ada di dalam manajemen pertunjukan Parade surya senja Tujuan penelitian ini, mendeskripsikan manajemen pertunjukan Parade Surya Senja yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan serta faktor  yang dapat menghambat penyelenggaraan kegiatan Parade Surya Senja.                  Kegiatan  Parade Surya Senja awal dilaksanakan tanggal 17 Oktober 1988 hingga saat ini masih aktif dilakukan, untuk penelitian ini kegiatan parade surya senja yang akan dipaparkan kegiatan parade surya tanggal 17 bulan Maret 2016. Perencanaan dari kegiatan Parade Surya Senja berupa 1)proposal kegiatan 2)pembuatan SK 3)penjadwalan dan 4) penganggaran, perencanaan tersebut dibuat oleh Kepala biro administrasi kemasyarakatan sekretariatan Daerah Provinsi Jawa Timur selaku ketua I yang di ajukan dan di tanda tangani oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa timur selaku ketua umum. Pengorganisasian parade surya senja berlaku jangka panjang dalam satu tahun dengan fleksibel tidak kaku, para sie ditunjuk berkompetensi masing-masing pada bidangnya, penggerakan pada kegiatan ini dilakukan sebelum kegiatan, saat gladi bersih tanggal 16 dan saat  pelaksaanaan kegiatan Parade Surya Senja pada tanggal 17. Untuk Pengawasan yang pada kegiatan parade surya senja oleh ketua satu atau ketua peneyelenggara yang dilakukan sebelum kegiatan, saat kegiatan berlangsung dan selesainya kegiatan dilakukan.   Kata Kunci : manajemen pertunjukan parade surya senja perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan
GSBD SEBAGAI PROGRAM UNGGULAN UPT TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR (TBJT) VIOLET, REVERENSI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK GSBD sebagai peristiwa seni budaya merupakan event besar yang menjadi program unggulan UPT TBJT.Kegiatan GSBD diselenggarakan tiap tahun sejak 2011 hingga sekarang masih tetap bertahan.GSBD sebagai peristiwa seni budaya merupakan event besar, dan dalam hal ini bahwa untuk dapat menyelenggarakan GSBD tentu bukanlah pekerjaan mudah.Namun dalam setiap penyelenggaraan tampak ada pengelolaan yang baik agar             GSBD tetap menjadi program unggulan atau utama di UPT TBJT. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya  pada penyelenggaraan GSBD UPT TBJT maka perlu dilakukan penelitian secara mendalam.             Rumusan masalah penelitian adalah (1) Bagaimanakah program GSBD di UPT TBJT? (2) Bagaimana proses persiapan penyelenggaraan GSBD ?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil UPT TBJT dan latar belakangu keberadaan program GSBD. Metode penelitian mengenai GSBD merupakan penelitian lapangan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata maupun tulisan, oleh karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.  Menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi serta dilakukan validitas data melalui teknik triangulasi . Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumen berharga mengenai pengelolan seni pertunjukan, yang dapat pula dijadikan bahan evaluasi bagi pengelola UPT Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) dalam mempertahankan sistem penyelenggaraan GSBD selanjutnya. Kesimpulan atau hasil penelitian yang didapat yaitu mengenai program GSBD yang ada di UPT TBJTtelah menjadi ruang publik yang senantiasa dinantikan oleh masyarakat. Kegiatan ini merupakan media promosi bagi daerah-daerah di wilayah Jawa Timur dan mampu membuat masyarakat mengerti akan kesenian daerah. Kata kunci: Taman Budaya Jawa Timur, Gelar Seni Budaya Daerah, Pengelolaan Program.
SINONGKELAN DI DESA PRAMBON KECAMATAN TUGU  KABUPATEN TRENGGALEK  SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN RITUAL OCTARIANTI, ANUGRAH
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Kesenian tradisional dipentaskan dalam upacara tertentu sering dijumpai pada masyarakat agraris yang masih kental dengan keparcayaan animisme dan dinamisme. Kesenian yang tumbuh pada masyarakat primitif cenderung bersifat sakral dan magis, karena digunakan untuk mengungkapkan ekspresi kepada hal gaib. Pertunjukan seperti ini dapat dijumpai pada suatu masyarakat pedesaan, salah satunya Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Berpijak ulasan tersebut dapat dibagi menjadi tiga rumusan masalah yakni, 1.Bagaimana asal-usul terjadinya Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek? 2. Bagaimana bentuk penyajian Sinongkelan di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek? 3. Mengapa Sinongkelan berfungsi sebagai ritual bersih Desa di Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tehnik pengumpulan data berupa metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta menggunakan triangulasi tehnik, sumber dan waktu. Hasil penelitian yang dilakukan, Sinongkelan merupakan cerita asal-usul Desa Prambon. Sinongkel diangkat menjadi pemimpin di Desa tersebut karena telah berhasil mengembalikan kemakmuran Desa Prambon dari paceklik yang kemudian diberi julukan Prabu Anom. Sinongkelan ini diikuti oleh para sesepuh yang mendapat wangsit untuk menjadi tokoh maupun wayang. Tugas untuk menjadi wayang maupun tokoh dalam Sinongkelan tidak dapat digantikan oleh orang lain kecuali orang yang bersangkutan sudah tidak mampu melaksanakan tugasnya. Ada beberapa sesaji yang digunakan di antaranya ladha sega gurih, mule, metri dan sebagainya. Segala sesaji tersebut dimasak oleh para wanita yang sudah Luas Ari dan dibantu oleh  para warga lainnya secara bergotong royong. Sinongkelan digelar di halaman rumah pemangku adat yakni Bapak Seni dan disaksikan oleh para warga sekitar. Kesenian ini hanya terlihat sederhana jika dilihat sekilas tanpa memaknai apa yang terkandung di dalam dialog maupun gerak tari, karena Sinongkelan disajikan secara simbolik dengan dialog dan ucapan secara tidak wantah namun menggunakan sanepo/ sanepan atau perumpamaan. Gerakan digunakan sangat sederhana, hanya dengan duduk bersila serta mengayunkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri, namun jika dipahami gerakan tersebut mempunyai makna yang luas. Sinongkelan memiliki beberapa fungsi di antaranya adalah sebagai Ritual Bersih Desa yang dilakukan setiap satu tahun sekali pada bulan Selo. Sinongkelan mempunyai keterkaitan dalam budaya masyarakat yakni penghormatan terhadap leluhur, gotong royong antar sesama warga,  ketertiban, kepatuhan terhadap budaya, persaudaraan dan sebagai aset wisata. Kata Kunci: Sinongkelan, Bersih Desa.
EKSISTENSI MUSIK TRADISIONAL TIONGKOK OLEH GRUP MUSIK KEMUNING SURABAYA CHRISTIAN, EKA
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Grup musik Kemuning adalah sebuah Grup musik tradisional Tiongkok yang didirikan pada tanggal 20 Juni 2005. Tujuan utama didirikannya Grup musik ini adalah untuk melestarikan musik tradisional Tiongkok di Indonesia, khususnya musik tradisional Tiongkok di Surabaya. Aktivitas dari Grup musik Kemuning ini diantaranya dengan mengadakan latihan rutin setiap Senin malam, bermain di berbagai acara, seperti pernikahan, ulang tahun, imlek, lebaran, natal, dll. Dalam acara tertentu, grup musik Kemuning juga mengkolaborasikan antara musik dan lagu-lagu Tiongkok, Indonesia dan barat, sebagai wujud akulturasi antara budaya Tiongkok, Indonesia dan barat. Grup musik Kemuning juga pernah mengikuti festival keroncong se- Jawa Timur di Jember pada tahun 2006, dan berhasil menjadi juara 2 dalam festival tersebut. Selain itu, Grup Musik Kemuning Surabaya juga memberikan kursus musik, khususnya musik tradisional Tiongkok, sebagai upaya regenerasi anggota sekaligus upaya pelestarian musik tradisional Tiongkok. Dari beberapa contoh aktivitas dan kegiatan Grup Musik Kemuning Surabaya di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Eksistensi Musik Tradisional Tiongkok oleh Grup Musik Kemuning Surabaya” ini, karena Penulis berasumsi bahwa eksistensi/keberadaan dari Grup musik Kemuning ini juga dapat berkontribusi bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang tertarik dan berminat untuk mempelajari alat musik tradisional Tiongkok sekaligus menjadi media pelestarian musik tradisional Tiongkok di Surabaya. Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana bentuk penyajian musik oleh grup musik Kemuning dan Bagaimana usaha atau upaya grup musik Kemuning untuk mempertahankan eksistensinya di masyarakat. Pendekatan penelitian pada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan objek penelitian “musik tradisional Tiongkok oleh grup musik Kemuning Surabaya” dan subjek penelitian yang meliputi: “pendiri sekaligus sesepuh grup musik Kemuning, pemain guzheng dan dizhi grup musik Kemuning, tetangga sekitar jalan Kemuning, tokoh masyarakat tionghoa Surabaya, dan penikmat dari grup musik Kemuning”. Simpulan dari penelitian, yaitu Format bentuk penyajian Grup musik Kemuning biasanya menggunakan panggung dalam suatu ballroom atau ruangan dengan menggunakan sound system, mike, kursi bagi pemain musik dan penyanyi, alat-alat musik seperti guzheng, yangqing, dizi, erhu, biola, keyboard, angklung, kolintang, dan alat-alat pendukung lainnya. Kostum atau seragam yang digunakan oleh Grup musik kemuning ketika tampil diberbagai acara adalah kostum perpaduan batik dan dang zhuang, celana jeans atau celana kain, rok atau dress, sepatu pantofel dan high heels. Lagu-lagu yang dimainkan oleh Grup musik Kemuning tidak hanya lagu-lagu mandarin saja, melainkan juga memainkan lagu-lagu Indonesia, barat, dan lagu-lagu lain sesuai konteks acaranya. Usaha Atau Upaya yang dilakukan Grup musik Kemuning untuk mempertahankan eksistensinya yaitu dengan berusaha disiplin untuk berlatih, memberikan kursus musik, regenerasi anggota, pembaruan lagu, adanya dukungan dana dari pihak internal maupun eksternal, dan promosi. Kata kunci : Eksistensi, Grup musik Kemuning, musik tradisional Tiongkok, bentuk penyajian
EKSISTENSI KOMUNITAS TEATER GONG 96 STKIP BIMA RATNASARI, MERI
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK                   Komunitas Teater Gong 96 STKIP adalah Salah Satu Komunitas Kesenian Teater yang ada Di Bima Nusa Tenggara Barat, yang  keberadaannya terlihat dan mampu pertahan dengan waktu cukup yang lama. Awal terbentuk tahun 1996 dan mampu bertahan sampai pada saat ini.                 Adapun rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebagai berikut: Bagaimana Eksistensi Komunitas Teater Gong 96 STKIP Bima Nusa Tenggara Barat? Dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik keabsahan data menggunakan trigulasi sumber.            Hasil analisis yang didapat menunjukkan bahwa komunitas teater Gong 96 STKIP adalah salah satu komunitas teater di Bima yang  ada, serta mampu bertahan ditengah banyaknya komunitas seni teater yang tidak bertahan lama . dan keberadaannya tidak lepas dari tanggapan berbagai pihak seperti (1). Masyarakat. (2). Pemerintah (3). Pendidikan luar dan dalam kampus STKIP, yang memberikan dampak yang besar bagi perkembangannya.berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan komunitas teater Gong 96 STKIP Bima dengan rutin melakukan berbagai kegiatan dan pementasan.   Kata Kunci     : Eksistensi, Teater Gong 96, Perkembangan
TINJAUAN KONTRAPUNG LAGU FUGA DALAM LUTE SUITE BWV 998 KARYA J,S BACH FADHIL RASYADI, ALMAS
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Fuga (bahasa latin = ‘kejaran’) merupakan karangan musik yang tersusun menurut peraturan khususu dalam 2-8 suara, namun biasanya dengan 3 atau 4 suara saja. Fuga adalah musik polifoni dengan gaya tiruan dalam taraf yang paling tinggi dan paling luas. Dayanya terletak dalam tema dengan ‘kontrapungnya’ yang sekaligus merupakan lawan dan pelengkap dari tema. Fuga lebih bebas dari pada kanon; namun lebih kompak dibandingkan dengan motet, karena biasanya fuga hanya memakai satu tema. Fuga umumnya merupakan musik instrumental: hal ini nampak pada irama serta lompatan-lompatan melodi tema; sedangkan ricercare (pendahulu fuga) masih membawa warisan musik motet: tema / temanya melodis dengan irama sederhana, dengan langkah kurang lebih diatonis (Prier, 2009: 127). Kontrapung mengandung arti perlawanan antartitik. Di dalam music merupakan gaya music yang disuse secara bersahut-sahutan, berasal dari kata punctus contra punctus atau point contra point. Landasan kontrapung adalah sederetan melodi pokok sebagai titik-titik yang akan diperlawankan. Music-music kontrapungtis yang dikenal dalam reportoir lama menggunakan canto fermo (cantus firmus) sebagai jalur melodi pokoknya. Rumusan Masalah p enelitian ini adalah bagaimana kontrapung lagu Fuga Lute Suite BWV 998 karya J.S Bach. Objek penelitian difokuskan pada kontrapung lagu Fuga Lute Suite BWV 998 karya J.S Bach. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian diperoleh dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penyimpulan (conclusion). Adapun uji keabsahan data menggunakan validitas data. Teknik komposisi fuga mempunyai struktur Subject yang telah tersusun lantas diimitasi pada tingkat V dan disebut dengan istilah answer (A). Nada pada sopran yang menyertai (A) disebut dengan counter subject (CS) apabila dimunculkan tiap kali (S) atau (A) dimainkan. Namun jika hanya sekali muncul disebut counterpoint atau kontrapung Ekspsosisi ini dapat dilihat bagaimana subject dan answer selalu bermunculan dan selalu diiringi oleh counter subject atau kontrapung sebagai pelengkap answer. Untuk episode, bagian ini selalu sebagai jembatan untuk menuju eksposisi selanjutnya. Seni bermain fuga disini ialah bagaimana menonjolkan subject dan answer meskipun terdapat suara register atas yang terkadang membuat kita terkecoh dalam memainkannya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lagu Fuga BWV 998 memiliki bentuk EKSPOSISI 1 – EKSPOSISI 2 – EKSPOSISI 3 – EPISODE 1 – EKSPOSISI 4 – EPISODE 2.  Kata Kunci : Fuga, Kontrapung, Lute Suite BWV 998, J.S Bach
MAHALUL QIYAM HADRAH ISHARI DESA NGUMPUL, KECAMATAN JOGOROTO, KABUPATEN JOMBANG (KAJIAN BENTUK MUSIK DAN INSTRUMENTASI) QONI ALI CHAFID, ACHMAD
APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan Vol 1, No 9 (2016): Volume 1 Nomor 9 (2016)
Publisher : APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak       ISHARI merupakan organisasi sosial keagamaan yang menjalankan Thoriqoh atau amalan Mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara bersholawat. Sholawat yang dilakukan disebut dengan sholawat Hadrah ISHARI.Mahalul Qiyam adalah salah satu lagu bacaan sholawat Hadrah ISHARI dengan penyajiannya yang paling berbeda. Bentuk penyajian yang paling menonjol adalah dengan cara berdiri. Dari segi musikalitas, bacaan sholawat Mahalul Qiyam memiliki beberapa bentuk motif lagu yang berbeda pada setiap syairnya. Penelitian dilakukan pada Grub Hadrah ISHARI Ranting Ngumpul Jogoroto, Kabupaten Jombang karena grub tersebut masih eksis, sering mengikuti undangan keluar kota dan pernah mengikuti festival Hadrah ISHARI Se-Kabupaten Jombang. Rumusan masalah dalam penelitian ini mengkaji tentang bagaimana bentuk musik Mahalul Qiyam dan bagaimana Instrumentasi musik Mahalul Qiyam. Kajian teori menggunakan teori musik dasar, Ilmu bentuk Analisis Musik dan teori instrumentasi dari Pono Banoe.Dalam mengkaji bentuk lagu Mahalul Qiyam digunakan ketiga teori tersebut agar dapat menemukan data mengenai analisis bentuk musik lsholawat Mahalul Qiyam.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Proses pengamatan atau observari lapangan dilakukan saat Hadrah ISHARI membawakan lagu Sholawat Mahalul Qiyam. Selain melalui proses pengamatan atau observasi lapangan, juga dilakukan proses wawancara yang di bagi menjadi dua jenis wawancara yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pendokumentasian data dilakukan juga bersamaan dengan proses observasi. Setelah data temuan tersebut terkumpul, selanjutnya dilakukan triangulasi data agar data untuk memperoleh data yang sahih. Hasil yang didapatkan dalam penelitian bentuk musik Mahalul Qiyam  adalah, Mahalul Qiyam merupakan sebuah  lagu yang komposisinya hampir mirip dengan musik sonata klasik dengan tangga nada C Mayor dan sukat 4/4. Lagu Mahalul Qiyam terdiri dari bagian Introduksi, Ekposisi, Developmen,  Rekapitulasi dan Coda. Sajian  Mahalul Qiyam berupa musik ensembel campuran yang terdiri dari vokal dan Instrumen Perkusi. Bentuk formasi penyajiannya adalah Hadi atau pimpinan Hadrah, Penabuh Rebana dan Roddat.Vokal dipegang oleh Hadi dan Petugas Roddat, sedangkan pada perkusi dipegang oleh penabuh Rebana dan kecrek pada petugas Roddat.vokal berperan sebagai melodi utama, sedangkan perkusi sebagai pengirng, latar musik dan pemanis lagu. Irama pukulan perkusi dibagi menjadi dua yaitu tuirama yahum dan irama joss. Kata Kunci: Mahalul Qiyam, Hadrah, ISHARI, bentuk musik, instrumentasi

Page 4 of 11 | Total Record : 110