cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
SYIAH: POLITIK ATAU AGAMA? (Studi Analisis Perspektif Muhibuddin Al-Khatib) M Kholid Muslih; Munar Moh Shobirin; Muhammad Dhiaul Fikri; Khotimatul Mahbubah; Silmi Kaffah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.235

Abstract

Judging from the history of the emergence of Shia there are different views of Shia leaders. Some say that the early emergence of Shi'ism was just a political movement. This is seen by the support for Sayyidina Ali as caliph after the death of the Prophet. Another opinion states his appearance as a supporter and follower of Sayyidina Ali in the battle of Jamal and Shiffin. However, it is different from a contemporary thinker who wrote about Shi'ism in the book Al-Khututh al-'Aridhah Li Dini al-Syi‘ah, namely Muhibuddin al-Khatib. Departing from the contradiction of the emergence of Shi'ism itself, this paper aims to explore the opinion of Muhibuddin al-Khatib. This research is a qualitative study of literature. Sources of data were obtained from books, journals, articles, and everything relevant to this research. This research method uses a comparative method of the opinion of Shia leaders. As for the results of this research, according to Muhibuddin al-Khatib, the early emergence of Shiites in the first period was political and not religious, where the imams of the Ahl al-Bayt handed over all rights to all people in terms of power and deliberation, as well as the rights of all Muslims in choosing and nominating who entitled to the caliphate. However, there is an evolution in Shiite thought about the transformation of Shiite groups from politics to religion by the "Imamiyah" who link the idea of the "Imamah Ilahiyah". More than that, believing in the Imamate has been included in the pillars of faith. Muhibuddin al-Khatib concludes that the Shi'ites have made their priests like God. Thus, the theology becomes the core and principle of Shi'ism which changes from a political face to a theology. So, Muhibuddin al-Khatib concluded that Shi'ism is not just a school or sect, but has turned into a religion. This is because there are special beliefs that are not found in Muslims who follow the Qur'an and the Sunnah of the Prophet.   Dilihat dari sejarah kemunculan Syiah terdapat perbedaan pandangan dari para tokoh Syiah. Ada yang menyatakan bahwa awal kemunculan Syiah hanyalah gerakan politik. Ini dilihat dari dukungan terhadap Sayyidina Ali sebagai khalifah pasca wafatnya Nabi. Pendapat lain menyatakan kemunculannya sebagai pendukung dan pengikut Sayyidina Ali dalam pertempuran Jamal dan Shiffin. Akan tetapi, berbeda dengan seorang tokoh pemikir kontemporer yang menulis tentang Syiah dalam kitab Al-Khututh al-‘Aridhah Li Dini al-Syi‘ah, yakni Muhibuddin al-Khatib. Berangkat dari kontradiksi kemunculan Syiah itu sendiri, makalah ini bertujuan menelusuri pendapat Muhibuddin al-Khatib. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif pustaka. Sumber data diperoleh dari buku, jurnal, artikel dan segala hal yang relevan dengan penelitian ini. Metode penelitian ini menggunakan metode komparatif pendapat para tokoh Syiah. Adapun hasil penelitian ini adalah menurut Muhibuddin al-Khatib awal munculnya Syiah pada periode pertama bersifat politik bukan agama, di mana para imam Ahlul Bait menyerahkan seluruh hak kepada seluruh umat dalam hal kekuasaan dan musyawarah, serta hak semua muslim dalam pemilihan dan mencalonkan siapa yang berhak atas kekhalifahan. Akan tetapi, terdapat evolusi dalam pemikiran Syiah tentang transformasi kelompok Syiah dari politik ke agama oleh "Imamiyah" yang menghubungkan gagasan "imamah ilahiyyah". Lebih dari itu, mengimani imamah telah dimasukkan ke dalam rukun iman. Muhibuddin al-Khatib menyimpulkan bahwa Syiah telah menjadikan para imam-imam mereka seperti Tuhan. Sehingga, teologi tersebut menjadikan inti dan asas dari Syiah yang merubah dari wajah politik menjadi teologi. Maka, Muhibuddin al-Khatib berkesimpulan bahwa Syiah bukan hanya sekedar mazhab maupun sekte, akan tetapi sudah berubah menjadi agama. Ini dikarenakan terdapat kepercayaan khas yang tidak ditemukan pada orang Islam pengikut al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
INTEGRASI TEOLOGI ISLAM, SUFISME, DAN RASIONALISME HARUN NASUTION Ermagusti Ermagusti; Syafrial Syafrial; Rahmad Tri Hadi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.237

Abstract

This article describes the integration of Islamic theology, Sufism, and rationalism from Harun Nasution's Islamic thought. The more developed human life and way of thinking, the more advanced science and paradigm. Of course, one science and another will be interrelated and related. However, in current developments, scientific developments experience a dichotomy of scientific hegemony. The cause of this observation is to investigate the combination of technological know-how and any other in order that its miles were hoping that it will likely be greater complete, systematic, and comprehensive to observe Harun Nasution's Islamic thought. The study's approach used is a descriptive-analytical technique with bayani (observation/text analysis), irfani (intuitionism), and burhani (rationalism), also, data from articles, books, and various other research results in various literary magazines. The results of the study show that: First, bayani (text observation/analysis) emphasizes the authority of texts/nash (al-Qur'an and Hadith) and is justified by the instinct of concluding (istidlal). Thus, Islamic theology is the authority for textual on the role of reason in confirming matters related to matters of religiosity or human religiosity. Second, irfani (intuitionism; Sufism) emphasizes the knowledge obtained through the irradiation of the essence by God to His servant (kasyf) according to love-based spiritual training (riyadhah). Third, burhani (rationalism) is a means of confirmation of sources originating from texts, social and religious realities or beliefs, as well as intuitive or inner experiences. Thus, the three sources are integrated and have relevant values ​​to the life of modern Indonesian society.   Artikel ini menjelaskan tentang integrasi teologi Islam, sufisme, dan rasionalisme dari pemikiran Islam Harun Nasution. Semakin berkembangnya kehidupan dan cara berpikir manusia, maka semakin berkembang pula keilmuan dan paradigmanya. Tentu, antara satu ilmu dengan keilmuan lainnya akan saling berkaitan dan berhubungan. Namun, pada perkembangan saat ini, perkembangan keilmuan justru mengalami dikotomi atau hegemoni keilmuan. Tujuan penelitian ini menganalisis integrasi antara satu keilmuan dengan keilmuan lainnya, supaya diharapkan lebih utuh, sistematis dan komprehensif untuk meneropong pemikiran Islam Harun Nasution. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan bayani (observasi/analisis teks), irfani (intuisisme), dan burhani (rasionalisme), dan data diperoleh menurut aneka macam literatur artikel jurnal, buku, dan aneka macam output penelitian lainnya. Hasil penelitian mengambarkan bahwa: Pertama, bayani (observasi/analisis teks) yang menekankan dalam otoritas teks/nash (al-Qur’an dan hadis) dan dijustifikasi sang insting penarikan kesimpulan (istidlal). Maka, teologi Islam menjadi otoritas keterangan nash terhadap kiprah logika pikiran pada mengkonfirmasi hal-hal yang terkait menggunakan soal-soal keberagamaan atau religiusitas manusia. Kedua, irfani (intuisisme; sufisme) yang menekankan dalam pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat sang Tuhan pada hamba-Nya (kasyf) sesudah adanya olah ruhani (riyadhah) yang dilakukan atas dasar cinta. Ketiga, burhani (rasionalisme;) sebagai alat konfirmasi atas sumber yang berasal dari nash, realitas sosial dan keagamaan atau keyakinan, serta pengalaman intuitif atau batiniah. Sehingga, ketiga sumber tersebut saling terintegrasi satu sama lainnya, dan mempunyai nilai relevansi dengan kehidupan masyarakat modern Indonesia.
IDEOLOGICAL BIASES IN THE QURANIC EXEGESIS:: Nawawi al-Bantani and Muhammad Uthaimin’s Views on Heresy Ahmad Fawaid; Viatul Karimah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.239

Abstract

This paper aims to figure out Nawawi al-Bantani and Muhammad al-‘Uthaimin about the heresy verses in the Qur’an. This research stems from the problem of the scholar’s views and responses to the traditions that are considered heretical. From this controversy, this article attempts to analyze the meaning of heresy in Nawawi’s interpretation of Marāḥ Labīd and Muhammad al-‘Uthaimin’s interpretation of the Tafsīr Qur’ān al-Karīm. These two works of interpretation represent two different religious schools and regions. By using descriptive-analytical and comparative methods, this study produced two findings, 1) the mazhabiyyah paradigm adopted by the mufassir greatly influenced the results of tafsir; 2) despite using the same method of monitoring the Qur’an, both Nawawi al-Bantani and Muhammad al-‘Uthaimin made different restrictions because of their ideological influence. The results of this study also show that Nawawi al-Bantani in the interpretation of Marāḥ Labīd and the control of Muhammad al-‘Uthaimin in the interpretation of the Qur’an al-Karim about heresy in the Qur’an have different connotations. From the socio-historical context, the resources, methods, and styles used to have a significant influence so as to produce differences and similarities in the verse about heresy. The position of this research is the finding of Afif Suaidi (2021) regarding ideological tendencies in transliterating the Koran that the variety and translation of the Koran is caused by the religious understanding adopted by the author and aims to support ideology in its interpretation.   Tulisan ini bertujuan mengkaji penafsiran Nawawi al-Bantani dan Muhammad al-‘Utsaimin tentang ayat-ayat bid’ah. Penelitian ini berangkat dari perdebatan para ulama’ tentang sikap dan respon mereka terhadap sejumlah tradisi yang dianggap bid’ah. Berangkat dari kontroversi tersebut, artikel ini berusaha menganalisis makna bid’ah dalam tafsir Marāḥ Labīd karya Nawawi dan Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm karya Muhammad al-‘Uthaimin. Dua karya tafsir ini merepresentasikan dua aliran keagamaan dan kawasan yang berbeda. Dengan menggunakan deskriprif-analitis dan metode komparatif, penelitian ini menghasilkan dua temuan, 1) bahwa paradigma mazhabiyyah yang dianut oleh mufassir sangat mempengaruhi pada hasil penafsirannya; 2)  meski menggunakan metode yang sama dalam menafsirkan al-Qur’an, baik Nawawi al-Bantani dan Muhammad al-‘Uthaimin mengasilkan penafsiran yang berbeda karena dipengaruhi ideologinya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penafsiran Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marāḥ Labīd dan penafsiran Muhammad al-‘Uthaimin dalam Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm tentang bid’ah dalam al-Qur’an memiliki konotasi yang berbeda. Dari konteks sosio-historis, sumber penafsiran, metode, dan corak yang digunakan memberikan pengaruh signifikan sehingga menghasilkan perbedaan serta persamaan dalam penafsiran ayat tentang bid’ah. Posisi penelitian ini adalah menegaskan temuan Afif Suaidi dkk (2021) tentang tendensi ideologis dalam transliterasi al-Qur’an bahwa ragam penafsiran maupun terjemahan atas al-Qur’an disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang dianut penulisnya dan bertujuan mempromosikan ideologi tertentu dalam tafsirnya.
EKSISTENSI FORUM BANGUN ACEH DALAM MENDAMPINGI LIVELIHOOD DISABILITAS: (Tinjauan Teologi Sosial) Dara Maisun; Roma Ulinnuha
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.242

Abstract

The purpose of this paper is to look at and reflect back on how religion, government, institutions, and society should view people with disabilities. The Bangun Aceh Forum is a facilitator for the sustainability of the livelihoods of people with disabilities so that they can continue to be productive and hone their abilities. This study applying a qualitative method, the study show that as a social institution and has a focus on developing marginalized communities towards a more secure direction, the provision of infrastructure is provided with the needs and conditions of disability. So far, the mention of disability describes disability in a broad context, even though people who experience mental problems can also be categorized as disabilities. There are no different ways of handling physical and non-physical disabilities. In the study of theology, persons with disabilities are a group of people who must be accepted in social life without labels and differences physically or mentally. However, in fact, the disabled until now continue to receive labels that are not good and have not changed from time to time where people think that people with disabilities are very dependent on humans with normal physical conditions and are not independent, and the talents they have are often neglected because they do not have the space and resources. place in people's lives. it is not uncommon to find people with disabilities who desperately choose to become beggars. Both physical and non-physical disabilities from time to time will continue to receive discriminatory treatment from the community, whether consciously or unconsciously. The provision, attention and understanding of disability self still needs to be improved in the socialization of social communities in order to understand the real concept and meaning of disability.   Tujuan tulisan ini adalah untuk melihat dan merefleksikan kembali bagaimana seharusnya agama, pemerintah, lembaga, dan masyarakat dalam memandang kaum disabilitas. Forum Bangun Aceh menjadi fasilitaor bagi keberlangsungan livelihood penyandang disabilitas agar terus produktif dan mengasah kemampuan yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, hasil menunjukkan bahwa sebagai lembaga sosial yang memiliki fokus untuk pengembangan masyarakat marjinal ke arah yang lebih menjamin, penyediaan sarana-prasarana yang diberikan dengan kebutuhan dan kondisi disabilitas. Di tengah kerancuan penyebutan disabilitas, orang dengan gangguan jiwa juga dapat dikategorikan sebagai disabilitas. Terlebih lagi cara penanganan penanganan yang dilakukan terhadap disabilitas fisik dan non-fisik tidak dibedakan. Pada kajian ilmu teologi, penyandang disabilitas adalah kelompok masyarakat yang harus diterima dalam kehidupan sosial tanpa label dan perbedaan secara fisik maupun secara mental. Namun nyatanya para difabel samapi saat ini terus mendapatkan labelling yang tidak baik dan tidak berubah darai masa kemasa di mana masyarakat menganggap kelompok diabilitas hidupnya sangat tergantung pada manusia dengan kondisi fisik yang normal dan tidak mandiri, dan bakat yang mereka miliki seringkali terabaikan karena tidak memiliki ruang dan tempat dalam kehidupan masyarakat. tak jarang menemukan para disabilitas yang putus asa memilih menjadi pengemis. Baik disabilitas fisik maupun non-fisik dari masa-kemasa akan terus mendapatkan perlakuan diskriminasi dari masyarakat baik dilakuan secara sadar maupun secara tidak sadar. Pembekalan, perhatian dan pemahaman akan diri disabilitas masih sangat perlu di tinggkatkan lagi bagi masyarakat sosial agar memahami konsep dan arti diri disabilitas yang sesungguhnya.
HUMANISTIC DERADICALIZATION BY ABRAHAM MASLOW APPROACH: (Terrorism Counter-measures Strategy in Lingkar Perdamaian Foundation) Aditia Muhammad Noor; Nailul Fauziyah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.244

Abstract

Deradicalization is interpreted as a step to return the paradigm of exclusivity towards an understanding of inclusiveness. However, in practice, deradicalization is only carried out at a normative level, namely changing the paradigm. In fact, if explored more deeply, deradicalization should touch the background of the involvement of terrorist groups. This study not only discusses the steps of deradicalism as a form of guidance and protection for former terrorists so that they can be rehabilitated but also provides an ideal deradicalization solution by exploring the motives of the aspects that influence it. This research was conducted at the Lingkar Perdamaian Foundation, one of the institutions that participated in the deradicalization program, thus presenting two questions; what is the deradicalization strategy at the Lingkar Perdamaian Foundation, and how the implications of this deradicalization are carried out. To obtain these answers, this study used descriptive qualitative methods by conducting interviews, observations, and documentation as data collection tools. This research shows the strategy carried out by the Lingkar Perdamaian Foundation into three things; first, through ideological development, assistance to families of ex-terrorist convicts, and economic recovery. All of these strategies are measured based on needs, as Abraham Maslow's theory regarding the hierarchy of needs, the availability of the above needs is intended so that they do not repeat the terror in their past, this will change the perspective of extremist ideology to a tolerant ideology. The implications of deradicalization at the Lingkar Peace Foundation are marked by the opening of an inclusive understanding that accepts all forms of differences in religious views and believes in the Unitary State of the Republic of Indonesia as the legitimate homeland.   Deradikalisasi dimaknai sebagai langkah untuk mengembalikan kembali paradigma ekslusifitas menuju pemahaman inklusifitas. Akan tetapi dalam praktiknya, deradikalisasi hanya dilakukan pada level yang normatif, yakni sekedar merubah paradigma. Padahal jika ditelusuri lebih dalam seharusnya deradikalisasi menyentuh latarbelakang keterlibatan kelompok teroris. Kajian ini bukan hanya membahas mengenai langkah deradikalisme sebagai bentuk pembinaan dan perlindungan bagi mantan teroris agar dapat direhabilitasi, tetapi juga memberi solusi deradikalisasi ideal dengan menelusuri motif aspek yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan di Yayasan Lingkar Perdamaian, salah satu lembaga yang turut melakukan program deradikalisasi, sehingga menghadirkan dua pertanyaan; bagaimana strategi deradikalisasi di Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), dan bagaimana implikasi deradikalisasi tersebut dilakukan. Untuk memperoleh jawaban tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai alat pengumpulan data. Penelitian ini menunjukan strategi yang dilakukan Yayasan Lingkar Perdamaian kedalam tiga hal; pertama, melalui pembinaan ideologi, pendampingan keluarga mantan napiter dan pemulihan ekonomi. Semua strategi ini diukur berdasarkan kebutuhan, sebagaimana teori Abraham Maslow mengenai hierarchy of need, ketersediaan kebutuhan di atas dimaksudkan agar mereka tidak kembali mengulangi teror di masa lalunya, hal ini akan mengubah cara pandang ideologi ekstrimis menuju ideologi toleran. Adapun implikasi dari deradikalisasi di Yayasan Lingkar Perdamaian di tandai dengan terbukanya pemahaman inklusif yang menerima segala bentuk perbedaan dalam pandangan agama serta meyakini NKRI sebagai tanah air yang sah.
METAMORPHOSIS INTEGRASI THEOLOGI ISLAM DENGAN SPIRIT WIRAUSAHA Anzu Elvia Zahra; Ahmad Mustaniruddin; Kadir Sobur; Edy Kusnadi; Juliana Mesalina
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.285

Abstract

This research is initiated by the economic contestation in both the Islamic and Western worlds. In the context of Islamic theology, there are several views which say that success is dependent on human’s effort and God's will. The purpose of this research is to explore the concept of entrepreneurial motivation that carried out by the Qolbu Management (QM), Emotional Spiritual Quotion (ESQ) and The Pattern of Allah's Help (PAH). It’s a qualitative approach. The source of data in this research are by analyzing books, videos, audio visuals such as Youtube, then by studying literature (library research). Scientific interviews will also be conducted with several individuals (academics and practitioners) as supporters of the distinction of Islamic theology with an entrepreneurial spirit. The findings were motivated by the emergence of the concept Qolbu Management, ESQ and PAH which is one of the efforts to integrate the teachings of Theological Tauhid into the concept of Islamic entrepreneurship. The similarities between the concepts of Qolbu Management, ESQ and PPA are Theological Tauhid. While the differences are the Qolbu Management Concept is closer to Asy Ariyah theology, ESQ is closer to the Mu'azilah theology concept, while PAH is more identical to the Jabariyah concept. The point of the concept of entrepreneurship, monotheism and the concept entrepreneurial of Qalbu Management, ESQ and PAH, namely: Guiding towards the maximum monotheism and teaching humans to try with their potentials and do not forget to surrender to Allah SWT Penelitian ini diawali dengan kontestasi perekonomian baik di dunia Islam maupun Barat. Dalam konteks teologi Islam ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa kesuksesan adalah tergantung dari usaha manusia dan kehendak Tuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendalami konsep motivasi wirausaha yang dilakukan oleh Manajemen Qalbu (MQ), Emotional Spritual Quotion (ESQ) dan Pola Pertolongan Allah (PPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dengan menganalisis buku-buku, video-video, audio visual seperti Youtube, kemudian dengan studi literatur (library research). Wawancara ilmiah juga akan dilakukan dengan beberapa individu (akademisi dan praktisi) sebagai pendukung distingsi ilmu teologi Islam dengan spirit wirausaha. Hasil temuan dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yang merupakan salah satu usaha untuk mengintegrasikan ajaran-ajaran Tauhid Teologis kedalam konsep wirausaha secara islami. Adapun persamaan dari konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yaitu Tauhid Teologis. Sedangkan perbedaannya Konsep Manajemen Qolbu Lebih mendekati teologi Asy Ariyah, ESQ mendekati Konsep teologi Mu’tazilah sedangkan PPA lebih identik dengan konsep Jabariyah. Titik temu konsep kewirausahaan dan ketaudhid dan konsep wirausaha manajemen Qalbu, ESQ dan PPA yakni : Membimbing terhadap ketauhidan yang maksimal dan mengajarkan manusia untuk berusaha dengan potensi yang dimiliki dan kemudian tidak lupa akan berpasrah diri kepada Allah SWT
FILSAFAT KETUHANAN: Argumen Logis Tentang Tuhan Perspektif Filosof-Filosof Barat Amin Khoirul Abidin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.196

Abstract

God is an essential aspect of human life. There is nothing in the history of human life that does not have a belief in God, although the concept of the divinity of each religion or belief has differences. Many ideas or concepts about God and His attributes often result in lengthy debates about God. Belief in God can at least be divided into monotheism, Trinitarianism, and polytheism. Belief in God, of course, raises many fundamental questions and demands logical answers. Does God exist, or does He only exist in human minds? How to prove it logically? These are the questions that will be the focus of this paper. The method used in this paper is the analytical-descriptive method, which is a method that describes and analyzes a problem. The material object of this study is the knowledge of God, and philosophy is the formal object. To prove God logically, there are at least four logical arguments to answer whether God exists, namely, St. Anselm's ontological argument based on human reason, St. Thomas Aquinas' cosmological argument based on natural phenomena, William Paley's teleological argument based on goals, and Immanuel Kant's moral argument which is based on morality. Tuhan merupakan aspek paling penting dalam kehidupan manusia. Tidak ada dalam sejarah kehidupan manusia yang tidak memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Meskipun konsep ketuhanan masing-masing agama atau keyakinan memiliki perbedaan. Akibat banyak gagasan atau konsep tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya, seringkali hal tersebut menimbulkan perdebabatan panjang. Kepercayaan terhadap Tuhan setidaknya dapat dibagi menjadi tiga yaitu; konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, Ketuhanan Yang Mahatiga atau Trinitas, dan Ketuhanan yang Maha Banyak. Kepercayaan terhadap Tuhan tentu saja menimbulkan banyak sekali pertanyaan mendasar dan menuntut jawaban yang logis. Apakah Tuhan benar-benar ada atau Dia hanya ada dalam pikiran manusia? Bagaimana membuktikannya secara logis? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi fokus pembahasan tulisan ini. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode analisis-deskriptif, yaitu sebuah metode yang menggambarkan dan menganalisis suatu permasalahan. Objek materil kajian ini yaitu pengetahuan tentang Tuhan, dan filsafat sebagai objek formalnya. Dalam upaya membuktikan Tuhan secara logis, setidaknya ada empat argument-argumen  logis untuk mejawab apakah tuhan ada, yaitu; argumentasi ontologis St. Anselmus yang berbasis kepada akal manusia, argumentasi kosmologis St. Thomas Aquinas yang berbasis kepada fenomena alam, argumentasi teleologi William Paley yang berbasis kepada tujuan, dan argumentasi moral Immanuel Kant yang berbasis kepada moralitas.
TASAWUF WUJUDIYAH: Hakikat Wujud dalam Ajaran Tasawuf Datu Abulung Faisal Ridho Abdillah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.256

Abstract

Discussions about the nature of being have developed into a hot topic of debate between supporters and opponents during Datu Abulung, leading to egregious accusations leveled at those who adhere to this school of thought. They are said to equate God with nature. The explanation in the Resale Sufism book may cause people to misunderstand  ​​the nature of being. Sufism Wujuiyah, which puts forward the idea of ​​the oneness of creatures and God, is clearly understood as a view contrary to the majority's opinion and is seen as such. As a result, the palace was very concerned when Sheikh Abdul Hamid explained this idea to the broader community. This research wants to take an in-depth look at Datu Abulung's Sufism teachings and complement the weaknesses of previous studies. This type of research uses library research. In general, in this library research, data sources are written materials consisting of primary data sources and secondary data sources, while the primary source is from the manuscript of the Resale of Sufism left by Datu Abulung and secondary sources in the form of books and several journals/magazines which contain contains the thoughts of Datu Abulung. The research results show that Datu Abulung's Sufism teachings can be accounted for, and the source is clear from the Qur'an and Hadith. The essence of being in Datu Abulung's Sufism teachings still explicitly recognizes the zahiriyah dualism between the servant and God. Diskusi tentang hakikat wujud telah berkembang menjadi topik perdebatan hangat antara pendukung dan penentang pada masa Datu Abulung, yang mengarah ke tuduhan buruk yang ditujukan pada mereka yang menganut aliran pemikiran ini. Mereka dikatakan menyamakan Tuhan dengan alam. Kemungkinan penjelasan dalam kitab Risalah Tasawuf  yang menyebabkan orang salah memahami gagasan hakikat wujud. Tasawuf wujudiyah yang mengemukakan gagasan tentang keesaan makhluk dan Tuhan, jelas dipahami sebagai pandangan yang bertentangan dengan pendapat mayoritas dan dipandang demikian. Alhasil, pihak istana sangat prihatin ketika Syekh Abdul Hamid memaparkan gagasan ini kepada masyarakat luas. Penelitian kali ini ingin melihat secara mendalam tentang ajaran tasawuf datu Abulung serta melengkapi kekuangan dari penelitian sebelumnya. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian pustaka (library research). Secara general, dalam penelitian kepustakaan (library research) ini, sumber data yang merupakan bahan tertulis terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder, adapun sumber primer dari naskah Risalah Tasawuf peningggalan Datu Abulung dan sumber sukender berupa buku dan beberapa jurnal/majalah yang didalamnya mengandung pemikiran dari Datu Abulung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran tasawuf Datu Abulung bisa dipertanggungjawabkan dan sumbernya jelas dari al-Qur’an dan Hadist. Hakikat wujud dalam ajaran tasawuf Datu Abulung masih secara eksplisit mengakui dualisme zahiriyah antara hamba dan Tuhan.
AL-DAKHIL DALAM TAFSIR ILMI: (Kajian Kritik Husein Al-Dhazabi Atas Kitab Al-Jawahir Fi Tafsir Al-Qur’an) Ahmad Rozy Ride; Abdul Kadir Riyadi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.262

Abstract

This study discusses Husein al-Dzahabi's criticism of dakhil in the interpretation of Tanthawi Jauhari, which in his interpretation, Tanthawi interprets many verses related to science (al-ayat al-Kauniyah) known by tafsir al-‘ilmi. Using the literature method (library research) and descriptive-qualitative approach, the author describes the data obtained from the book al-Tafsir wa al-Mufassirun and the book al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an as well as relevant data. So it can be concluded that in his interpretation, Tanthawi takes a considerable portion of the interpretation of al-ayat al-kauniyah (scientific interpretation) and is interpreted briefly and not infrequently also includes hikayat (saga), which refers to the Gospel of Barnabas or riwayat whose origin cannot be accounted for, his interpretation is also considered too excessive and imposing in relating it to developing science. So that the results of the interpretation are not appropriate or out of the meaning of the verses, and in this context, Al-Qur'an is not an object of research but as evidence and reinforcement of existing scientific findings and as an explanation of the miracles of the Al-Qur'an which was revealed for every age. Penelitian ini membahas kritikan Husein al-Dzahabi tentang dakhil dalam penafsiran Tanthawi Jauhari yang mana dalam penafsirannya, Tanthawi banyak menafsirkan ayat-ayat yang memiliki kaitan dengan ilmu sains (al-ayat al-Kauniyah) yang dikenal dengan tafsir al-‘ilmi. Dengan mengggunkan metode kepustakaan (library research) dan pendekatan deskriptif-kualitatif, penulis memaparkan data yang diperoleh dari kitab al-Tafsir wa al-Mufassirun dan kitab al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an serta data yang relevan. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam penafsirannya, Tanthawi mengambil porsi yang sangat banyak atas penafsiran ayat al-kauniyah (tafsir ilmi) dan ditafsirkan secara singkat dan tidak jarang juga menyertakan hikayat yang merujuk kepada kitab Injil Barnabas atau periwayatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya, penafsirannya juga dianggap terlalu berlebihan dan memaksakan dalam mengaitkannya dengan ilmu-ilmu sains. Sehingga menjadikan hasil penafsirannya tidak sesuai atau keluar dari maksud ayat-ayat tersebut dan dalam konteks ini Al-Qur'an bukan sebagai objek penelitian tetapi sebagai bukti dan penguat temuan ilmiah yang ada dan sebagai penjelasan tentang keajaiban dan kemukjizatan Al-Qur'an yang diturunkan untuk setiap zaman.
STUDI APLIKASI METODE KEMIRIPAN REDAKSI PERSPEKTIF FADEL SALEH AS SAMARRAI: Tafsir Surah Al-Tin Syahrul Rahman; Afrizal Nur; Arsyad Abrar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.264

Abstract

This article intends to explain how Fadel as Samarrai applies the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method in interpreting surah at-Tin in his book Ta'bir al Qurany. Fadel as Samarrai is a contemporary Arabic language expert who actively teaches on campus and social media. This literature study employs a descriptive analysis method and a historical-philosophical approach. This study shows that the book at Ta'bir al Qurany predominantly used the tafsir bi arra'yi method, which is very strong with the nuances of its lughawi interpretation. This study concludes, first, that the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to use the method of interpreting the Qur’an with the Qur’an. For example, as Samarrai interprets verse 6 of surah at Tin by referring to verse 3 of surah al-Asr and also explains the editorial of verse 25 of al Insyiqaq. Second, the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to accommodate many verse meanings. Third, the more observant and thorough a mufassir looks at the similarity of the editorial of a verse, the more linguistic secrets are opened that may be closed to others. The more the similarity in the editorial side of the verses of the Qur’an is ignored, the more negative stigma towards the language of the Qur’an is opened. Artikel ini bermaksud menjelaskan bagaimana Fadel as Samarrai mengaplikasikan metode al Tasyabuh wa al ikhtilaf (persamaan dan perbedaan redaksi ayat) dalam menafsirkan surah at-Tin dalam kitabnya Ta’bir al Qurany. Fadel as Samarrai adalah seorang pakar bahasa Arab kontemporer yang aktif mengajar di kampus dan juga aktif di media social. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan historical-filosofi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kitab at Ta’bir al Qurany secara dominan menggunakan metode tafsir bi arra’yi yang sangat kuat dengan nuansa tafsir lughawinya. Penelitian ini menyimpulkan, pertama siapapun yang menerapkan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung menggunakan metode penafsiran al Quran dengan al Quran. Contohnya, as Samarrai menafsirkan ayat 6 surah at Tin dengan merujuk ayat 3 surah al Ashr dan juga menjelaskan redaksi ayat 25 al Insyiqaq, analisa as Samarrai menyimpulkan bahwa perbedaan redaksi ayat sejalan dengan konteks surah.  Kedua, menggunakan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung mengakomodir banyak makna ayat. Ketiga, semakin jeli dan teliti seorang mufassir melihat sisi kemiripan redaksi satu ayat, semakin terbuka rahasia-rahasia kebahasaan yang mungkin tertutup untuk orang lain. Semakin diabaikan sisi kemiripan redaksi ayat al Quran semakin terbuka hadirnya stigma negatif terhadap bahasa al Quran.