cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
TANGGUNG JAWAB ORANG TUA KEPADA ANAK DALAM Q.S. LUQMAN AYAT 12-19 : (Telaah Penafsiran Al-Mawardi Dan Al-Maraghi) Nofri Gunawan; Musli Musli; Mohd Arifullah; Heru Setiawan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.265

Abstract

Moral education is the main foundation in Islamic teachings and the foundation of belief to be used as a basis for all attitudes and behavior given through parents. Children are a source of happiness and conditioning and the most significant trust Allah SWT gives to every parent in the world. Therefore, children are the responsibility of parents. However, including parents, humans are not immune from mistakes, mistakes, and forgetfulness. Many parents need to remember the responsibility of fulfilling their children's rights. This research is library research that uses various sources of literature as a source of research data. Primary data sources are al-Mawardi's commentary, Al-Nukat Wa Al-'Uyun's interpretation, and Mustafa al-Maraghi's interpretation of al-Maraghi. In contrast, secondary data sources in research are books, articles, magazines, newspapers, or other sources. The results of this study are Al-Maraghi and Al-Mawardi. Both of them were reluctant that a child should be taught to worship Allah alone and not associate anything with Him. Then the responsibility of parents in educating children, according to surah Luqman, is by instilling the concept of believing in Allah by not giving Him glory, believing in the Prophets and Messengers, believing in the Books, obeying Allah by praying and doing good to parents, amar ma'ruf nahi mungkar. Luqman forbade his son not to associate partners with Allah with anything because there is no greater injustice than associating partners with Allah with others. Pendidikan akhlak merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam dan dasar-dasar pokok kepercayaan untuk dijadikan pijakan dalam segala sikap dan tingkah lakunya yang diberikan melalui orang tua.Anak sebagai sumber kebahagian dan penyejuk hati, dan amanah terbesar yang Allah swt berikan kepada setiap orang tua di dunia. Karenanya, anak adalah tanggung jawab orang tua. Namun, Manusia tidak luput akan kesalahan, kesilapan dan kelupaan termasuk orang tua. Banyaknya, orang tua yang lupa dengan tanggung jawab dalam menunaikan hak-hak anaknya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research) yang menggunakan berbagai sumber kepustakaan sebagai sumber data penelitian. Sumber data primer adalah buku tafsir al-Mawardi yaitu tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyun dan tafsir al-Maraghi karangan Mustafa al-Maraghi, Sedangkan Sumber data sekunder dalam penelitian adalah buku, artikel, majalah, surat kabar, atau sumber lainnya. Hasil penelitian ini adalahAl-Maraghi dan Al-Mawardi. Keduanya telah sepakat, bahwa hendaklah seorang anak diajarkan untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak menurut surah Luqman yaitu dengan cara menanamkan konsep beriman kepada Allah dengan tidak menyukutakn-Nya, beriman kepada Nabi dan Rasul, beriman kepada Kitab-kitab, Ta’at kepada Allah dengan Shalat dan berbuat baik kepada orang tua, amar ma’ruf nahi mungkar, serta Luqman melarang putranya agar tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, karena tidak ada kazhaliman yang lebih besar daripada menyekutukan Allah dengan lainnya.
AUTHENTICITY OF SANAD HADITH ABOUT TAKBIR 'ĪDAIN IN MUHAMMADIYAH PERSPECTIVE Rohmansyah Rohmansyah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.273

Abstract

Hadith is a reference that Muslims use as an explanation and reinforcement of the Qur'an. Judging from the quality and quantity of transmission, hadith must come from the Prophet. The scholars discussed the authenticity and validity of traditions not sourced from the Prophet SAW, such as the hadith about the Takbir of Eid al-Fitr and Eid al-Adha prayers. This paper aimed to explain the quality status and reasons for accepting hadith, according to Muhammadiyah. This study used a library research method with a descriptive-analytical approach. The research results are as follows; First, the hadiths about the Eid prayer Takbir and Eid al-Adha by Amr supported by Ansari, al-Muzanni, isyah, Abu Hurairah, and Amar are included in the hasan lighairihi hadith because many narrators have narrated the hadith. Second, Muhammadiyah believes that the hasan lighairihi hadith can be accepted and used as a reference in the implementation of Eid al-Fitr and Eid al-Adha takbir as long as the narrators mutually strengthen. This is based on the standardization of the validity of the hadith that meets the criteria of As-Sunnah al-Maqbullah. Hadis merupakan sumber rujukan bagi umat Islam dari masa lalu sampai masa kini. Hadis diposisikan sebagai sumber kedua setelah Alquran yang menjadi penjelas dan menjadi penguat. Sumber hadis harus benar-benar bersumber dari Nabi dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas periwayatan hadis. Namun tidak semua hadis benar bersumber Nabi SAW karena diperbincangkan oleh para ulama dari orisinilitas dan kesahihahannya, seperti hadis tentang takbir salat idul fitri dan idul adha. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang status kualitas hadis dan alasannya dalam penerimaan menurut Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan satu metode kepustakaan atau library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Hasil temuan dari penelitian ini adalah; Pertama, hadis-hadis tentang takbir dalam salat idul fitri dan idul adha disampaikan Amr bin Āṣ yang didukung oleh sahabat yang lain sebagai syāhid atau pendukung yakni Anṣāri, al-Muzanni, Āisyah, Abu Hurairah dan Amār sehingga termasuk kategori hadis ḥasan lighairihi karena banyak perawi yang meriwayatkan hadis. Kedua, menurut Muhammadiyah bahwa hadis ḥasan lighirihi dapat diterima dan dijadikan hujjah dalam pelaksanaan takbir idul fitri dan idul adha selama banyak jalurnya satu dengan lainnya saling menguatkan. Hal ini didasarkan kepada standarisasi kesahihan hadis yang memenuhi kriteria As-Sunnah al-Maqbūllah.
URGENSI PEMIMPIN IDEAL MENGHADAPI SEKULARISASI POLITIK DUNIA ISLAM : (Telaah Konsep Kepemimpinan Perspektif Ibn Taimiyah) Muhammad Fajar Pramono; Jusmidar Jusmidar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.281

Abstract

The notion of secularism is a challenging problem to avoid nowadays with civilization dominated by the west. The secular ideology that distances science from political life with religious matters is already rife, so it takes a leader who can uphold the teachings of Allah and His Apostle to avoid secular dangers. Ahmad Ibn Al-Halim Bin Abd As-Salam Ibn Abdullah Ibn Taimiyah is a very influential Muslim scientist science world concerned with politics, which is supported by his politically nuanced works, presenting several opinions regarding outstanding leadership in building good governance and Islam. The main problem of this paper's target is to avoid the dangers of secularism in the politics of the Islamic world; an ideal leader is the main object. This paper uses a literature study method (Library research), making Ibn Taimiyah the primary reference. From several research results conducted by the author, it can be seen that the dangers of worldly secularization and separating political affairs from religion can be avoided by having a leader who has an Islamic character and upholds the teachings of Allah SWT. Leaders who are obedient in their position and position (Quwwah) and are trustworthy are the solution to the dangers of secularization in the world of Islamic politics. Paham sekularisme merupakan sebuah problem yang tidak mudah untuk di hindari pada masa sekarang dengan peradaban yang didomonasi oleh barat. Paham secular yang menjauhkan ilmu pengetahuan hingga kehidupan politik sosial dengan urusan agama sudah marak terjadi, sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjunjung tunggi ajaran Allah dan Rasulnya untuk menghindari bahaya secular di tengah umat beragama. Ahmad Ibn Al-Halim Bin Abd As-Salam Ibn Abdullah Ibn Taimiyah merupakan seorang ilmuan muslim yang sangat berpengaruh dalam dunia ilmu pengetahuan yang menaruh konsen dalam bidang politik yang didukung dengan karya-karyanya yang bernuansa politik, memaparkan beberapa pendapat mengenai kepemimpinan yang ideal dalam membangun pemerintahan yang baik dan islami. Problem utama yang menjadi sasaran tulisan ini adalah menghindari bahaya sekularisme dalam politik dunia Islam dan seoraang pemimpin ideal menjadi objek utamanya. Tulisan ini menggunakan metode studi pustaka (Library research) yang menjadika pemikiran Ibnu Taimiyah sebagai rujukan Primer. Dari beberapa hasil riset yang dilakukan penulis dilihat bahwa bahaya sekularisasi yang duniawi dan memisakan urusan politik dengan agama, dapat dihindari dengan adanya pemimpin yang memiliki karakter islami dan menjunjung tinggi ajaran Allah SWT. Dari hasil riset yang dilakukan penulis terlihat bahwa Ibn Taimiyah bahwa Pemimpin yang yang taat berpendirian dan berkedudukan (Quwwah), amanah, adil dan berilmu menjadi solusi dari bahaya sekularissasi dunia politik Islam.
TRANSFORMASI DIRI MELALUI PRAKTIK ‘UBUDIYYAH: (Studi Tafsir Maudhu’i Terhadap Tafsir Al-Azhar Buya Hamka) Pathur Rahman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.283

Abstract

This paper examines the method of self-transformation through ubudiyah practices. The main focus of this research is the meaning of worship in the interpretation of Al-Azhar by Buya Hamka. The purpose of this research is to know and offer to the general public the method of self-transformation through worship to Allah SWT, as written by Buya Hamka in the interpretation of Al-Azhar. This research is library research, using the maudhu'i interpretation research methodology. The primary source in this study is the book Tafsir Al-Azhar written by Haji Abdul Malik Karim Amrullah and published by the Jakarta Nurul Islam Foundation in 1982. Meanwhile, in data analysis, the author used the critical hermeneutic method. This study found that the method of self-transformation through the practice of ubudiyyah in Buya Hamka's view is not limited to carrying out the five pillars of Islam; shahadah, prayer, zakat, fasting, and pilgrimage, but taking wisdom or wisdom from the essence of worship itself, so that worship can lead a person to submit and obey whatever Allah wills and always be grateful for what Allah wants. This study also found that in interpreting the verses about worship Buya Hamka uses a tasawuf approach so that Buya Hamka's interpretation of worship is not limited to procedures in worship but can take lessons from the worship carried out. Tulisan ini mengkaji tentang metode transformasi diri melalui praktik ubudiyah. Fokus utama dalam penelitian ini adalah pemaknaan ibadah dalam tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui serta menawarkan kepada khalayak umum tentang metode transformasi diri melalui ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana yang dituliskan oleh Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan liblary research, dengan menggunakan metodologi penelitian tafsir maudhu’i. Sumber primer dalam penelitian adalah kitab Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam Jakarta pada tahun 1982. Sedangkan dalam analisis data penulis menggunakan metode hermeneutika kritis. Penelitian ini menemukan bahwa metode transformasi diri melalui praktik ubudiyyah dalam pandangan Buya Hamka adalah dengan cara tidak sebatas menjalankan lima pilar agama Islam; syahadah, salat, zakat, puasa dan haji, akan tetapi megambil hikmah atau kebijaksanaan dari esensi ibadah itu sendiri, sehingga ibadah yang dilakukan dapat mengantarkan seseorang untuk tunduk dan patuh atas apapun kehendak Allah serta senantiasa berterimakasih atas apa yang Allah kehendaki. Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat tentang ibadah Buya Hamka menggunakan pendekatan tasawuf, sehingga penafsiran Buya Hamka tentang ibadah tidak sebatas mengenai tatacara dalam ibadah, melainkan dapat mengambil hikmah atas ibadah yang dijalankan.
THE CONCEPTS OF PERSONALITY AND SPIRITUALITY DEVELOPMENT IN PSYCHOLOGY : (Study Of Analysis Perspective Badi'uzzaman Said Nursi) Jarman Arroisi; Manzilatul Fadhilah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.291

Abstract

A recent discovery in psychology that is very amazing is that the central brain is active when a person's personality and spirituality can function as a balancer between the roles of the soul and the physical. In this context, Badiuzzaman Said Nursi initiated a concept of how to develop the development of one's personality and spirituality in psychology as a solution to the problems faced by humanity today in the form of globalization, westernization, secularization and liberalization which makes humans lose direction and grip on life. Therefore, human personality and spirituality are easily swayed. This research is a qualitative research, by taking library data as the object of research. The library data is in the form of books by Badiu'zzaman Said Nursi, as well as research works or notes that help in concluding the concept of personality development and spirituality in psychology from the perspective of Badiu'zzaman Said Nursi. Furthermore, using descriptive-analytic method as an analytical knife in drawing conclusions. The results of this study are that the development of a person's personality and spirituality cannot be separated from religious and divine aspects. According to Badiuzzaman Said Nursi, the concept of the development of one's personality in psychology is divided into four ways, namely: (1) Confession of one's helplessness before God Almighty, (2) Confession of self-poverty towards God Almighty, (3) Expecting God's love , (4) Doing reflection or meditation. While the concept of developing one's spirituality in psychology is also divided into four ways, namely: (1) Through the light of faith in God, (2) Through holistic devotion (worship) to God, (3) Manifesting God's asthma that is reflected in them, and (4) Following the way of the Qur'an or the way of nature. Sebuah penemuan terbaru dalam ilmu psikologi yang sangat mengagumkan adalah bahwa sentral otak bersifat aktif apabila kepribadian dan spiritualitas seseorang dapat berfungsi sebagai penyeimbang antara peran jiwa dan fisik. Dalam konteks ini, Badiuzzaman Said Nursi menggagas sebuah konsep bagaimana mengembangkan perkembangan kepribadian dan spiritualitas seseorang dalam ilmu psikologi sebagai solusi problematika yang dihadapi oleh umat manusia masa kini berupa arus globalisasi, westernisasi, sekularisasi, dan liberalisasi yang menjadikan manusia kehilangan arah dan pegangan hidup. Karenanya, kepribadian dan spiritualitas manusia mudah terombang ambing. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil data-data kepustakaan sebagai obyek penelitian. Data pustaka tersebut berupa buku-buku karya Badiuzzaman Said Nursi, serta karya-karya penelitian atau catatan-catatan yang membantu dalam menyimpulkan konsep perkembangan kepribadian dan spiritualitas dalam ilmu psikologi perspektif Badiu'zzaman Said Nursi. Selanjutnya menggunakan metode deskriptif-analitik sebagai pisau analisis dalam mengambil kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian ini adalah, perkembangan kepribadian dan spiritualitas seseorang tidak dapat dilepaskan dari aspek religi dan ketuhanan. Menurut Badiuzzaman Said Nursi, konsep perkembangan kepribadian seseorang dalam ilmu psikologi terbagi menjadi empat cara, yaitu: (1) Pengakuan ketidakberdayaan seseorang di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, (2) Pengakuan kemiskinan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (3) Mengharapkan cinta Tuhan, (4) Melakukan refleksi atau meditasi. Sedangkan konsep perkembangan spiritualitas seseorang dalam ilmu psikologi terbagi menjadi empat cara juga, yaitu: (1) Melalui cahaya keimanan kepada Tuhan, (2) Melalui pengabdian secara holistik (ibadah) kepada Tuhan, (3) Memanifestasikan asma Allah yang terefleksi dalam diri mereka, dan (4) Mengikuti jalan al-Qur’an atau jalan hakikat.
KHURUJ FI SABILILLAH: Gerakan Sufisme Jamaah Tabligh di Palembang Perspektif Gerakan Pembaharuan Islam Abdul Karim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.293

Abstract

This paper aims to find out the practice of khuruj fi sabilillah as a Sufism movement run by Jamaah Tabligh and to know the style of the khuruj fi sabilillah movement from the perspective of the Islamic renewal movement in the city of Palembang. This research is field research with primary data sources from observation, interviews, and documentation. Meanwhile, in data analysis techniques, the authors use the method proposed by Miles and Huberman. This study found that the tablighi congregation presented a new typology in the Islamic renewal movement: moderate radicalism with a Sufistic nuance. This study also found new facts, namely three periods of movement; the introduction period (1965-1985), consolidation period (1985-1992), and expansion period (1992-present). The teachings of Sufism carried out by Jama'ah Tabligh are believing in and realizing the essence of the sentence of thayyibah, khusyu' and khudu' prayers, knowledge, and remembrance, glorifying Muslims, improving intentions, and da'wah ilallah. This research is expected to make an academic contribution to the treasures of Islamic science, especially in the field of Sufism. It is expected to be able to enlighten the public about the Sufism movement or khuruj fi sabilillah, which the Tablighi Jamaat runs. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui praktik khuruj fi sabilillah sebagai gerakan sufisme yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh serta mengetahui corak gerakan khuruj fi sabilillah perspektif gerakan pembaharuan Islam di kota Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan sumber data primer yang dihasilkan dari proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam teknik analisis data, penulis meggunakan metode yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan bahwa jama’ah tabligh menampilkan tipologi baru dalam gerakan pembaharuan Islam, yaitu radikalisme-moderat yang bernuansa sufistik. Penelitian ini juga menemukan fakta baru, yaitu tiga periodisasi gerakan; periode perkenalan (1965-1985), periode konsolidasi (1985-1992), dan periode ekspansi (1992-sampai sekarang). Adapun ajaran tasawuf yang dijalankan oleh Jama’ah tabligh ialah meyakini dan mewujudkan hakikat kalimat thayyibah, salat khusyu’ dan khudu’, ilmu dan zikir, memuliakan umat muslim, memberbaiki niat, dan dakwah ilallah. Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi akademis bagi khazanah ilmu keislaman khususnya di bidang ilmu tasawuf serta diharapkan mampu memberi pencerahan kepada masyarakat tentang gerakan sufisme atau khuruj fi sabilillah yang dijalankan oleh Jamaah Tabligh.
PENGANTIN TAMAT KAJI SEBAGAI TRADISI PADA UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BATANG ASAI DALAM SOROTAN LIVING QUR’AN Bambang Husni Nugroho; Ahmad Mustaniruddin; Junita BR. Surbakti
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.323

Abstract

Traditions inherited from ancestors from generation to generation always have a deep moral message. In addition, the process of preserving local culture has also experienced a pattern of integration of religious teachings, especially Islam. The tradition of ending kaji is a unique tradition rooted in the people of Muara Pemuat Batang Asai Village as a form of local culture that has integrated Islamic teachings. Because of this, this research aims to uncover the messages contained in the tradition of the end of the study by focusing on knowing the basis, procession, meaning, understanding and values contained in this tradition. To dig up all the necessary information, this field-based research uses qualitative methods by applying the meaning approach and the living Qur'an approach. Like the field qualitative method, in collecting research data using observation, documentation and in-depth interviews. This study found that the implementation of the tradition of the kaji graduate, apart from being based on the hereditary habits of the ancestors, was also reinforced by various arguments about the virtues of reading the Koran. The procession in this tradition is generally divided into two, namely the process of picking up the bride and groom by the main bako (bibik) to take her home, and the process of sending her back to the parents' house after being decorated and ready to carry out the end of the study. Uniquely when picking up, the bako mother has to carry a peliman, which is a bowl containing lime, betel nut, areca nut, and a knife or keris left by the ancestors. Then when sending back, the bride and groom are taken to the parents' house to be honored by asang-asung, a chair tied with bamboo and decorated which has been lifted by the relatives of ipa (cousins), and the main bako accompanies from behind carrying the main paibut, jamba, and rice tray. For the people of Muara Pemuat village, the end of the study tradition is understood in terms of its functions and benefits. The function of this tradition is as a token of parental gratitude, as a form of parental responsibility towards their children, and as a reinforcement of local customs. Then the benefits that can be drawn from this tradition are to obtain blessings, to become a means of increasing reading of the Qur'an, to motivate families about the importance of being proficient in reading the Qur'an, to become a place for friendship, to become a place for self-maturity and finally, to become a means of charity. Not only that, the tradition of graduating from the study also contains deep values. There are at least eight values contained in this tradition, namely divine values, human values, spiritual values, ritual values, life values, social values, moral values and intellectual values Tradisi warisan para leluhur dari generasi ke generasi senantiasa memiliki pesan moral yang mendalam. Selain itu proses pelestarian budaya lokal juga telah mengalami pola integrasi ajaran keagamaan terutama agama Islam. Tradisi tamat kaji adalah tradisi unik yang mengakar pada masyarakat Desa Muara Pemuat Batang Asai sebagai bentuk budaya lokal yang telah terintegrasi ajaran agama Islam. Sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menyingkap pesan yang terkandung dalam tradisi tamat kaji dengan berfokus pada mengetahui tentang dasar, prosesi, pemaknaan, pemahaman hingga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut. Untuk menggali semua informasi yang diperlukan, penelitian yang berbasis lapangan ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan pendekatan makna dan pendekatan living Qur’an. Layaknya metode kualitatif lapangan, dalam mengumpulkan data penelitian ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan tradisi tamat kaji, selain didasari oleh kebiasaan turun temurun nenek moyang, juga diperkuat oleh berbagai dalil tentang keutamaan tentang membaca al-Qur’an. Prosesi dalam tradisi inipun secara umum terbagi dua yaitu proses penjemputan pengantin oleh induk bako (bibik) untuk dibawa kerumahnya, dan proses pengantaran kembali ke rumah orangtua setelah selesai dihias dan siap melaksanakan tamat kaji. Uniknya saat penjemputan, induk bako harus menggendong peliman yaitu sebuah mangkuk yang berisi kapur, sirih, pinang, dan pisau atau keris peninggalan nenek moyang. Kemudian saat pengantaran kembali, pengantin dibawa ke rumah orang tua dengan dijunjung asang-asung, sebuah kursi yang diikat dengan bambu dan sudah diberi dekorasi yang diangkat oleh para sanak ipa (sepupu), dan induk bako mengiring dari belakang dengan membawa induk paibut, jamba, dan talam beras. Bagi masyarakat desa Muara Pemuat tradisi tamat kaji ini dipahami dari segi fungsi dan manfaatnya. Fungsi dari tradisi ini yaitu sebagai tanda terima kasih orangtua, sebagai bentuk tanggung jawab orangtua terhadap anaknya, dan sebagai penguatan adat istiadat setempat. Kemudian manfaat yang dapat diambil dari tradisi ini yaitu untuk memperoleh keberkahan, menjadi sarana peningkatan baca al-Qur’an, memotivasi keluarga betapa tentang pentingnya mahir membaca al-Qur’an, menjadi ajang silaturrahmi, menjadi ajang pendewasaan diri dan terakhir menjadi sarana bersedekah. Tidak hanya sebatas itu, tradisi tamat kaji ini juga memiliki kandungan nilai yang dalam. Setidaknya ada delapan nilai yang terkandung dalam tradisi ini yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai spiritual, nilai ritual, nilai kehidupan, nilai sosial, nilai moral dan nilai intelektual
PERSINGGUNGAN TASAWUF DAN HADIS DI NEGERI BAWAH ANGIN PADA ABAD KE-17: Telaah Shurūṭ al-ʻārif al-Muḥaqqiq Karya Syaikh Yusuf al-Makassari Alhusni Alhusni; Dody Sulistio; Edi Kurniawan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.304

Abstract

Indonesia-Malay scholars in the past have paid great attention to hadith, but a special work which prescribes hadiths with Sufism nuances, Shaykh Yusuf was the initial figure who started it. However, studies on Shaykh Yusuf’s tasawuf thought have so far focused more on tasawuf itself, paying little attention to hadith’s aspects. This article discusses the intersection of Sufism and hadith in Shurūṭ al-ʻĀrif al-Muḥaqqiq by Shaykh Yusuf, a work that elaborate two hadiths: qalb al-mu’min ʻarsh Allāh and man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah. This paper shows that from the hadith of qalb al-mu’min ʻarsh Allāh emerged the key terms such as al-qalb, al-insān al-kāmil, al-iḥāṭah, al-maʻiyyah, and conditions al-ʻārif al-muḥaqqiq borrowed from earlier Sufis such as Junayd al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibn ʻArabi and others. However, Shaykh Yusuf’s creativity lies in his elaboration of these five key terms as the basis for the intersection of hadith and tasawwuf in the hadith man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah i.e. those who know themselves, then realize that they do not exist, all that exists is Being al-Ḥaqq, so that he also proceeds to become a perfect person, al-insān al-kāmil. Para ulama nusantara telah menaruh perhatian besar terhadap hadis, tetapi suatu karya khusus yang mensyarahkan hadis-hadis bernuansa tasawuf, Syaikh Yusuf merupakan tokoh awal yang mengawalinya. Hanya saja, kajian-kajian terhadap pemikiran tasawuf Syaikh Yusuf selama ini lebih difokuskan pada tasawuf itu sendiri, kurang memperhatikan aspek hadis. Tulisan ini mendiskusikan persinggungan tasawuf dan hadis dalam Shurūṭ al-ʻĀrif al-Muḥaqqiq karya Syaikh Yusuf, sebuah karya yang mensyarahkan dua hadis: qalb al-mu’min ʻarsh Allāh dan man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah. Tulisan ini merupakan kajian pustaka dimana sumber utamanya dari bahan-bahan kepustakaan. Tulisan ini menyimpulkan bahwa dari hadis qalb al-mu’min ʻarsh Allāh muncullah istilah-istilah kunci seperti al-qalb, al-insān al-kāmil, al-iḥāṭah, al-ma‘iyyah, dan syarat-syarat al-‘ārif al-muḥaqqiq yang ia pinjam dari para sufi terdahulu seperi Junayd al-Baghdadi, al-Ghazali, Ibnu ‘Arabi dan lain-lain. Hanya saja, kreatifitas Syaikh Yusuf terletak pada elaborasinya terhadap kelima istilah kunci tersebut sebagai landasan terhadap persinggungan hadis dan tasawuf pada hadis man ʻarafa nafsah fahuwa ʻarafa rabbah, yakni orang yang kenal akan dirinya, maka sadar bahwa ia tidak ada, yang ada hanyalah Wujud al-Ḥaqq, sehingga ia berproses menuju insan paripurna, al-insān al-kāmil.
KONSEP ADAB ISTI’DZAN DALAM AL-QUR’AN MENURUT ABD AL-HAYY AL-FARMAWY: Pendekatan Tafsir Maudhui Aprilita Hajar; Abdul Kadir Riyadi; Ashfia Syahida
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.309

Abstract

In this discussion, researchers get a contemporary problem related to the occurrence of some deviations, caused by the lack of knowledge about religious teachings and manners in this day and age, one of which is to ignore the business of asking permission, small things that are underestimated will cause other bad things, such as minors who fall into adultery, promiscuity, until moral damage. The result of accidentally seeing what is not yet supposed to be seen, due to lack of knowledge in terms of the importance of asking permission. Therefore, the researcher will study the concept of adab and the command to ask permission in the Qur'an, using the maudhui tafsir approach, which the researcher uses is a qualitative method using literature studies. Instructions in Surat An-Nur, according to Abd al-Hayy Al-Farmawi about ethics in doing isti'dzan is the obligation to first ask permission to the owner of the house if it will be a guest, say hello, and return home if the owner of the House does not want to receive guests, and there are also Ethics in entering public and special houses, especially in doing isti'dzan in private homes. As for the results obtained from this discussion, it is important to put forward all forms of procedures and ethics or morals in doing something, one of which is to get used to asking for permission, and follow all existing norms. Because if small things like this have been ignored, then there will be various forms of bigger problems, and various other deviations appear. Especially in the case of the isti'dan manners practiced in families living in one house. Because it is very fatal if from an early age it is not accustomed to start behaving with good morals. The urgency is to, avoid the presence of things that are not desirable, and maintain Muru'ah or honor of others. Pada tema ini peneliti mendapatkan sebuah permasalahan kontemporer terkait terjadinya beberapa penyimpangan, yang disebabkan oleh minimnya pengetahuan tentang ajaran agama dan sopan santun pada zaman sekarang ini, salah satunya adalah dengan menghiraukan urusan meminta izin, hal kecil yang disepelekan akan menimbulkan hal buruk lainnya, seperti anak di bawah umur yang terjerumus ke dalam perbuatan zina, pergaulan bebas, sampai kerusakan moral. Akibat tidak sengaja melihat apa yang belum seharusnya dapat dilihat, akibat kurangnya pengetahuan dalam hal pentingnya meminta izin. Oleh karena itu peneliti akan menelaah terkait konsep adab dan perintah untuk meminta izin dalam Al-Qur’an, menggunakan pendekatan tafsir maudhui, yang peneliti gunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Petunjuk dalam Surat An-Nur, menurut Abd Al-Hayy Al-Farmawi tentang etika dalam melakukan isti’dzan adalah kewajiban untuk terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik rumah jika akan sedang bertamu, mengucapkan salam, dan kembali pulang jika pemilik rumah tidak ingin menerima tamu, dan juga terdapat etika-etika dalam memasuki rumah umum dan khusus, terutama dalam melakukan isti’dzan dalam rumah pribadi. Adapun hasil yang diperoleh dari pembahasan ini adalah pentingnya untuk mengedepankan segala bentuk tata cara dan etika atau akhlak dalam melakukan sesuatu, salah satunya adalah dengan membiasakan diri untuk meminta izin, dan mengikuti segala norma-norma yang ada. Karena jika hal kecil seperti ini telah diabaikan, maka akan timbul berbagai bentuk permasalahan yang lebih besar, dan muncul berbagai penyimpangan-penyimpangan lainnya. Khususnya dalam adab isti’dzan yang dilakukan dalam keluarga yang tinggal di dalam satu rumah. Karena sangat berakibat fatal jika sejak dini tidak dibiasakan untuk memulai berakhlak dengan akhlak yang baik. Urgensinya adalah untuk, menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan, dan menjaga muru’ah atau kehormatan orang lain.
SUFIS’ UNDERSTANDING ON TWENTY ATTRIBUTES OF ALLAH IN MA'DIN AL-ASRĀR FI MANHAJ AL-ABRĀR MANUSCRIPT Rahmat Hidayat; Titik Pudjiastuti; Nyimas Umi Kalsum; Haji Muhammad Yamin bin Haji Abdul Ranni
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.322

Abstract

In Islamic history of Palembang, manuscript has contributed to the transmission of knowledge. Religious works was an achievement for the Muslim scholars in the past. One of Palembang's cultural heritage is the Ma'din al-Asrār manuscript. This text contains theological teachings. In terms of theology, Palembang's Muslim scholars adhered to the understanding of the nature of God. As with observations on theological works that talk about nature 20, it is found that the majority of his studies use the Kalam Science approach (reasoning approach). This is different from the description of the 20 characteristics contained in the Ma'din al-Asrār manuscript. The purpose of study is to analyse how Sufis understand on the 20 attributes of Allah. This article uses a library research, with the primary data source is the book Alih Aksara Naskah Ma'din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Data collection uses literature study, and data analysis uses text interpretation methods. This research concludes that the 20 attributes which is understood by the Sufis is more orientated to theological-sufistic, where the discussion of aqidah is attempted to feel it (żauq). For example, wujud they understood as a substance, ta’ayyunāt (entity), maẓhar (appearance), tajalliyāt (manifestation), aṡar (former or influence); qidam is understood by being which is not preceded by even nothingness ('adam); baqā' with azaliyah (a being that existed before something existed) and aḥadiyatu'Llāh (oneness of God, and except Him the call muqayyad (being dependent on others); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ is denying everything except Him even  the being of human himself, and many other discussion. Dalam sejarah Islam di Palembang, naskah berkontribusi besar dalam transmisi keilmuan. Menulis masalah-masalah keagamaan menjadi satu prestasi bagi ulama-ulama silam. Salah satu satu warisan budaya tulis masa lampau Palembang adalah naskah Ma‘din al-Asrār. Naskah ini memuat ajaran-ajaran teologis. Dalam hal teologis, ulama-ulama silam Palembang menganut paham sifat 20 Allah. Sebagaimana pengamatan terhadap karya-karya teologi yang berbicara tentang sifat 20, didapati bahwa mayoritas kajian-kajiannya menggunakan pendekatan Ilmu Kalam (pendekatan akal). Hal ini berbeda dengan uraian sifat 20 yang terdapat di dalam naskah Ma‘din al-Asrār, dimana sifat tersebut mereka memahaminya dengan pendekatan sufistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan pemahaman ulama sufi terhadap sifat 20. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan sumber data primer buku Alih Aksara Naskah Ma‘din al-Asrār Fi Manhaj al-Abrār (MAFMA). Pengumpulan data menggunakan studi literatur, dan analisa datanya menggunakan metode interpretasi teks. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sifat 20 yang dipahami oleh kaum sufi lebih berorientasi pada teologis-sufistik, dimana pembahasan akidah diupayakan untuk merasainya (żauq). Misalnya wujud mereka pahami dengan zat, ta’ayyunāt, maẓhar (penampakan), tajalliyāt (manifestasi), aṡar (bekas atau pengaruh), bahkan wahm atau khayālī dapat dikategorikan juga sebagai wujud; qidam dipahami dengan wujud yang tidak didahului oleh ketiadaan sekalipun (‘adam); baqā’ dengan aḥadiyatu’Llāh (keesaan Allah) dan azaliyah, dan selain-Nya adalah wujud muqayyad (wujud yang bergantung dengan yang lain); mukhālafatuhū li al-ḥawadiṡ dipahami dengan menafikan segala sesuatu selain-Nya hingga pada diri manusia itu sendiri. dan lain-lain seterusnya.