cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
IMAN AS THE FOUNDATION OF AKHLAQ IN THE PHENOMENON OF MODERN LIFE: Analysis of Said Nursi's Thought on Akhlaq Nur Hadi Ihsan; Nabila Huringiin; Nurmala Indah
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.324

Abstract

This paper attempts to explain the role of faith as a moral principle or foundation in this modern era, according to Badi'uzzaman Said Nursi. Modern human thought and lifestyle problems occur because of the rise of secular views, which reject all metaphysical things, including values and moral studies. The purpose of this study is to analyze the elements of the relationship between Iman and morality in facing the crisis of civilization in modernity. This study is the library and qualitative research. The data collected by the researchers is in the form of a narrative and qualitative. The researchers used descriptive and content analysis methods to explain the relationship between Said Nursi's view of morality and modern human life. The approach utilized by the researcher is a Sufi philosophical approach to suit the approach used by Nursi. This paper explains that Nursi's akhlaq principles which focus on tauhid or aqidah is the basis for forming al-akhlaq al-karimah. Al-akhlaq al-karimah is one solution for the life of modern society, which is far from metaphysical values. The researchers found that iman is the basis for manifesting akhlaq to humans and nature. Researchers suggest that this research be developed and continued in more detail and detail, especially in the study of Iman and Akhlaq. Tulisan ini mencoba menjelaskan peran akidah sebagai asas atau landasan moral di era modern ini, menurut Badi'uzzaman Said Nursi. Masalah pemikiran dan gaya hidup manusia modern terjadi karena munculnya pandangan-pandangan sekular yang menolak segala hal yang bersifat metafisik, termasuk kajian nilai dan moral. Tujuan dari penelitian ini ingin menganalisa unsur-unsur keterkaitan antara iman dan akhlak dalam menghadapi krisis peradaban dalam modernitas. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan kualitatif. Data yang dikumpulkan oleh peneliti berbentuk naratif dan kualitatif. Peneliti menggunakan metode deskriptif dan analisis isi untuk menjelaskan hubungan antara pandangan Said Nursi tentang moralitas dengan kehidupan manusia modern. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan filsafat-sufi yang disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan oleh Nursi. Tulisan ini menjelaskan bahwa prinsip akhlak Nursi yang menitikberatkan pada tauhid atau akidah menjadi dasar pembentukan al-akhlaq al-karimah. Al-akhlaq al-karimah merupakan salah satu solusi bagi kehidupan masyarakat modern yang jauh dari nilai-nilai metafisik. Peneliti menemukan bahwa iman merupakan dasar untuk mewujudkan akhlak kepada manusia dan alam. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dikembangkan dan dilanjutkan lebih detai dan terperinci, khususnya dalam kajian iman dan akhlak.
KAJIAN INTEGRASI AL-QUR’AN DAN SAINS ATAS TIDURNYA ASHHABUL KAHFI DALAM Q.S AL-KAHFI PERSPEKTIF FAKHRUDDIN AL-RAZI Rifqatul Husna; Faridatul Hasanah; Salih Abdulrahman Alsounusi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.327

Abstract

Sleep is a biological need for humans, but excessive sleep will hurt the balance of the brain, so that you will experience headaches and back pain. The Qur’an states that Ashabul Kahf sleeps long and is conscious and healthy. This is in contrast, considering that humans are generally only able to survive with a time limit of 7-8 hours each day. This study aims to understand the continuity of the Qur’an and science regarding the phenomenon of Ashabul Kahf's sleep in the Qur'an in QS. Al-Kahf verses 11, 18 and 19. If measured from habits, sleeping with a long intensity will cause many diseases, but it differs from Ashabul Kahf, who has slept for 309 years and is awake in good health. This study uses a library research study with a descriptive analysis method and uses the maudhu’i (thematic) method in interpreting verses of the Qur’an. Finally, this research concludes that 1) in verse 11, Allah closes Ashabul Kahf's ears by deactivating the ascending reticular activating system so that Ashabul Kahfi does not hear any sound from outside, 2) in verse 17, Allah removes sunlight from Ashabul Kahfi's body, and Allah also does not cover the sun completely, because excessive exposure to sunlight will cause sunburn and damage the genetic material in Cancer Research UK skin cells, and 3) in verse 18 Allah turns Ashabul Kahf’s body back and forth, because turning the body back and forth can keep the skin so that undamaged by the ground Tidur menjadi kebutuhan biologis manusia, akan tetapi tidur secara berlebihan akan berdampak buruk kepada keseimbangan otak, sehingga akan mengalami sakit kepala dan nyeri punggung. Dalam Al-Qura’an disebutkan bahwa Ashabul Kahfi tidur dalam intensitas yang lama dan sadar dalam keadaan yang sehat. Hal ini kontras mengingat pada umumnya manusia hanya mampu bertahan dengan batas waktu 7-8 jam dalam setiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kesinambungan Al-Qur’an dan sains mengenai fenomena tidurnya Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an pada QS. Al-Kahfi ayat 11, 18 dan 19. Jika diukur dari kebiasaan, tidur dengan intensitas yang lama akan menimbulkan banyak penyakit, namun berbeda dengan Ashabul Kahfi yang tertidur selama 309 tahun dan terjaga dalam keadaan yang sehat. Penelitian ini menggunakan kajian library reseach dengan metode analisis diskriptif dan menggunakan metode maudhu’i (tematik) dalam penafsiran ayat Al-Qur’an.  Akhirnya, kesimpulan penelitian ini bahwa 1)  pada ayat 11 Allah menutup telinga Ashabul Kahfi dengan menonaktifkan ascending reticular activating system, sehingga Ashabul Kahfi tidak mendengar suara apapun dari luar, 2) pada ayat 17 Allah menjauhkan sinar matahari dari tubuh Ashabul Kahfi dan Allah juga tidak menutup matahari secara penuh, karena paparan sinar matahari yang berlebihan akan mengalami sunburn (kulit terbakar) dan merusak materi genetik pada Cancer Research UK sel kulit, dan 3) pada ayat 18 Allah membolak balikkan tubuh Ashabul Kahfi, karena membolak balikkkan badan dapat menjaga kulit agar tidak rusak karena tanah
KARAKTERISTIK SYARAH HADIS ‘ABD AL-ŞAMAD AL-FĀLIMBĀNĪ: Tinjauan Kitab Hidāyah Al-Sālikīn Dan Siyar Al-Sālikīn Muhid Muhid; Ananda Prayogi; Faridatul Miladiyah; Andris Nurita; Faris Azhar Izzuddin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.330

Abstract

‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī who was considered a prolific scholar  and had made a major contribution to the development of Islamic scholarship, it turns out that his ways of explaining hadith has a unique way that have been overlooked by previous researchers. In fact, he was not only recognized as an expert scholar in Sufism studies, but also had sufficient credibility to be recognized in hadith narrations. Therefore, this article reveals the characteristics of sharah hadith carried out by ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī in terms of his two books, Hidāyah al-Sālikīn and Siyar al-Sālikīn. The method used in this study is a literature research method with a qualitative approach in the form of exposing examples of hadiths and their editorial sharah in the two related books. The analysis used in this research is descriptive analysis by observing the pattern in the syarah hadith model used by ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī and comparing it with related theories so as to produce a new theory of the characteristics of patterns obtained. The results shows that the syarah hadith of ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī has unique characteristics, namely a language approach patterned by exposing hadiths with hadiths and has a tendency to always combine the abstract concept of Sufism with other things which are practical through definitions and divisions with the ijmali method. This can be seen from the hadiths which are interpreted differently from the Sufism approach, both in Hidāyah al-Sālikīn and Siyar al-Sālikīn. As a suggestion, this findings need to be developed in the future and can become one of the models of sharah hadith that practitioners or the general public can use in explaining the meaning of hadith ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī yang dinilai sebagai ulama yang produktif dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan keilmuan Islam ternyata caranya dalam menjelaskan hadis yang memiliki ciri khas terlewat dari para peneliti sebelumnya. Padahal, dia tidak hanya diakui sebagai ulama yang ahli dalam bidang tasawuf, namun juga memiliki kredibilitas yang cukup diakui dalam periwayatan hadis. Oleh karena itu, artikel ini mengungkap karakteristik syarah hadis yang dilakukan oleh ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī yang ditinjau dari dua kitabnya, Hidāyah al-Sālikīn dan Siyar al-Sālikīn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif yang berupa pemaparan contoh-contoh hadis beserta redaksi syarahnya dalam kedua kitab terkait. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan mengamati pola dalam model syarah hadis yang digunakan oleh ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī serta membandingkannya dengan teori-teori terkait sehingga dapat menghasilkan teori baru dari karakteristik pola yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syarah hadis ‘Abd al-Şamad al-Fālimbānī memiliki karakteristik yang unik, yaitu pendekatan bahasa berpola pensyarahan hadis dengan hadis dan cenderung selalu mencoba memadukan konsep tasawuf yang abstrak dengan hal-hal yang bersifat praktis melalui definisi dan pembagian-pembagian dengan penggunaan metode ijmālī. Hal itu dapat dilihat dari hadis-hadis yang dimaknainya secara berbeda dengan pendekatan tasawuf baik itu dalam kitab Hidāyah al-Sālikīn maupun Siyar al-Sālikīn. Sebagai saran, temuan ini perlu dikembangkan di kemudian hari serta dapat menjadi salah satu model syarah hadis yang dapat digunakan oleh para praktisi atau masyarakat luas dalam menjelaskan makna hadis
KRITIK AL-MARAGHI ATAS PENDAPAT IGNAZ GOLDZIHER DALAM BUKU INTRODUCTION TO ISLAMIC THEOLOGY AND LAW Fitria Apriyani; Muhammad Nur Amin; Ikhwanuddin Ikhwanuddin; Ahmad Musyadad Kholil
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.334

Abstract

This research is a form of criticism of Ignaz Goldziher's opinion in the book Introduction to Islamic Theology and Law which is considered to be at odds with the Sunnah and the word of God in the Qur'an which is the main reference source for Muslims. Ignaz's biggest mistake was to deny the sacredness of the Prophet as a messenger of God and consider the Prophet only as an ordinary human being in general which then gave birth to opinions that are subjective to Islam. Therefore, this research uses the method of character study and historical criticism analysis of Tafsir Al-Maraghi in refuting these opinions. Ignaz Goldziher's thinking in the book is influenced by the Historical Criticism approach he takes in studying Islam, so Ignaz often relates the teachings of Islam to the teachings of previous religions. Imam Maraghi rejects this information, that everything that God has revealed to the Prophet Muhammad in the form of Islamic teachings or the Word of God in the Qur'an is a form of guidance and guidance for humans to be saved from the world's misguidance. Penelitian ini merupakan bentuk kritik pendapat Ignaz Goldziher dalam buku Introduction to Islamic Theology and Law yang dinilai bersebrangan dengan Sunnah dan firman Allah didalam Al-Qur’an yang menjadi sumber rujukan utama umat Islam. kesalahan terbesar Ignaz yakni menafikan sakralitas Rasulullah sebagai utusan Allah dan menganggap Nabi hanya sebagai manusia biasa pada umumnya yang kemudian melahirkan pendapat-pendapat yang bersifar subjektif terhadap Islam. Oleh karena itu, peneilitian ini menggunakan metode studi tokoh dan analisis kritik historis Tafsir Al-Maraghi dalam membantah pendapat-pendapat tesebut. Pemikiraan Ignaz Goldziher didalam buku tersebut dipengaruhi oleh pendekatan Historical Criticism yang dilakukannya dalam mengkaji Islam, sehingga Ignaz sringkali mengaitkan ajaran Islam dengan ajaran agama-agama sebelumnya. Imam Maraghi menolak keterangan tersebut, bahwa segala sesuatu yang sudah Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad baik berupa ajaran Islam atau Firman Allah dalam Al-Qur’an adalah bentuk petunjuk dan pedoman bagi manusia agar selamat dari kesesatan dunia.
SURAH AL-KAHFI AYAT 65: Ilmu Laduni Perspektif Ulama Muslim Tahmid Miftachurrozaq; Waharjani Waharjani; Djamaluddin Perawironegoro; Sarwono Noto Sudarmo
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.338

Abstract

This study is a study of laduni science seen from various perspectives of Muslim scholars, with the background that not all stories in the Qur'an are arranged hierarchically as a giver of advice to mankind.. This study aims to provide an overview of the concept of laduni science from the perspective of Muslim scholars. This study uses a qualitative research design based on historical research and literature. Various reading materials, periodicals, and other references are used as data sources. The results of the study state that laduni knowledge is knowledge that is obtained without an intermediary between the soul and God. Nothing but the light that comes from a magic lamp that hits a clean, empty, and gentle heart A person who understands his own essence also understands his God. Laduni knowledge is not the result of magic that suddenly appears in someone's self; one must go through a process that is not easy to get this knowledge. Laduni knowledge is knowledge that comes directly from God without intermediaries, only from himself and God. Kajian ini merupakan telaah ilmu laduni dilihat dari berbagai sudut pandang para cendekiawan muslim, dengan dilatarbelakangi tidak semua kisah dalam Al-Qur’an tersusun secara hirarkis sebagai pemberi nasehat kepada umat manusia. Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep ilmu laduni dari perspektif cendekiawan muslim. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif berdasarkan penelitian sejarah dan literatur. Berbagai bahan bacaan, majalah, dan referensi lain digunakan sebagai sumber data. Hasil kajian menyatakan bahwa ilmu laduni adalah ilmu yang diperoleh tanpa perantara antara jiwa dengan Tuhan. Tak lain adalah cahaya yang berasal dari lampu ajaib yang menerpa hati yang bersih, kosong, dan lembut. Seseorang yang memahami hakikatnya sendiri juga memahami Tuhannya. Ilmu Laduni bukanlah hasil kesaktian yang tiba-tiba muncul dalam diri seseorang; seseorang harus melalui proses yang tidak mudah untuk mendapatkan ilmu ini. Ilmu Laduni adalah ilmu yang datang langsung dari Tuhan tanpa perantara, hanya dari dirinya sendiri dan Tuhan.
THE IDEA OF ISLAMIZATION: A Study of Imam Suprayogo’s Thought Haila Fardyatullail; Syamsuddin Arif; Sulfa Heemphinit
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.340

Abstract

Modern science has been marred by lingering problems andconsequences, as twentieth-century critics like Theodor Adorno andSeyyed Hossein Nasr argued that modern science has been emptied ofspiritual values and increasingly disconnected from ethical religiousconcerns. As a result, most scientists adhere to the dichotomy betweenscience and religion, implying not only distinction, but also separationand contradiction. Equally problematic is the widely held, but naïve, viewthat science is neutral and value-free, has no human, economic, political,military, national, industrial or commercial interests. In the wake ofrealization that modern science could be harmful and detrimental to theminds and lives of Muslim. Calls for Islamization was launched acrossthe Muslim world from Virginia to Casablanca. This article aims to assessthe idea of Islamization of contemporary science as espoused andelaborated by Imam Suprayogo, a former rector of the State IslamicUniversity (UIN) in Malang, Indonesia. Based on library research, thisstudy found that Imam Suprayogo’s idea of Islamization prescribesintegration of science and religion to eradicate the long-held dichotomybetween the two, particularly between scientific claims and Islamicdoctrines. Imam Suprayogo also proposed to reconstruct a religiousscientific paradigm by introducing the “tree of knowledge” andlaunching the “Tarbiyah Ulul Albab” (education of the Intelligentsia)which has been implemented during his term in an attempt to transformUIN Malang into an Islamic educational institution that teaches bothscience and religion while at the same time projecting the Islamic values. Ilmu pengetahuan modern saat ini, telah dirusak oleh sejumlah masalahdan konsekuensi yang tidak diinginkan, sebagaimana kritikus abad keduapuluh seperti Theodor Adorno dan Seyyed Hossein Nasr menyatakanbahwa ilmu pengetahuan modern telah dikosongkan dari nilai-nilaispiritual dan terputus dari masalah etika keagamaan. Akibatnya, sebagianbesar ilmuwan menganut dikotomi antara ilmu dan agama, hal tersebuttidak hanya perbedaan, tetapi juga pemisahan dan kontradiksi di antarakeduanya. Masalah yang sama datang dari pandangan secara luas, tetapinaif, bahwa ilmu itu netral dan bebas nilai, tidak memiliki kepentinganmanusia, ekonomi, politik, militer, nasional, industri atau komersial.Tanpa disadari bahwa ilmu pengetahuan modern bisa berbahaya danmerugikan pikiran serta kehidupan Muslim. Adapun seruan untukIslamisasi telah diluncurkan ke seluruh dunia Muslim dari Virginia hinggaCasablanca. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji gagasan Islamisasi ilmupengetahuan kontemporer sebagaimana dianut dan dielaborasi olehImam Suprayogo, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN)Malang, Indonesia. Berdasarkan studi pustaka, penelitian ini menemukanbahwa gagasan Islamisasi Imam Suprayogo mengatur integrasi ilmu danagama untuk menghapus dikotomi yang telah lama ada di antarakeduanya, khususnya antara klaim ilmiah dan doktrin Islam. ImamSuprayogo juga mengusulkan untuk merekonstruksi paradigma keilmuanagama dengan memperkenalkan “pohon ilmu” serta meluncurkanprogram “Tarbiyah Ulul Albab” yang telah dilaksanakan selamaistilahnya dalam upaya mentransformasi UIN Malang menjadi lembagapendidikan Islam yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan agamasekaligus memproyeksikan nilai-nilai Islam.
MISUNDERSTANDING OF THE QUR’AN VERSES AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR BY EXTREME MUSLIM IN INDONESIA Ali Mursyid Azisi; Dina Faiqotul Ilmiyah; Velida Apria Ningrum; Muchammad Amiruddin Salamullah; Abdul Majid
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 1 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i1.342

Abstract

This article examines how the misunderstanding of the implementation of the Qur'anic text amar ma'ruf nahi munkar by extreme Islamic groups (HTI, Salafi-Wahabi, and FPI), especially in Indonesia. Presenting the phenomenon that often occurs and the response to acts of violence accompanied by the destruction of facilities is a form of implementing verses that are not in line with the nature of Islam, which was revealed as a religion that perfects all things, including morals. This article is written with a qualitative method using library research steps by referring to appropriate, relevant, and accurate references that can later be accounted for. This article aims to find out how mistakes have been made in interpreting the text of amar ma'ruf nahi mungkar by extreme Islamic groups. The findings of this research are that the Qur'anic verse amar ma'ruf nahi munkar fails to be understood by extreme Islamic groups. The verse upholds goodness and prevents evil instead of being applied with violence. The meaning contained in word "ma'ruf" means "with wisdom" in the realization that amar ma'ruf nahi munkar also has a message that Islam is a religion that invites goodness, safety, benefit, and without violence. This research article will add knowledge and additional study material for academics regarding the dynamics of religious movements, especially in Indonesia. Artikel ini mengkaji tentang bagaimana kesalahpahaman implementasi teks al-Qur’an amar ma’ruf nahi munkar oleh kelompok Islam ekstrem (HTI, Salafi-Wahabi, dan FPI) khususnya di Indonesia. Dengan menampilkan fenomena yang kerap kali terjadi dan respon tindakan kekerasan disertai pengerusakan fasilitas merupakan wujud implementasi ayat yang tidak selaras dengan hakikat Islam yang turun sebagai agama penyempurna segala hal, termasuk akhlak. Artikel ini ditulis dengan metode kualitatif dengan menggunakan langkah library research, dengan merujuk pada referensi yang tepat, relevan dan akurat nantinya bisa dipertenggungjawabkan. Tujuan ditulisnya artikel ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kesalahan yang selama ini kurang tepat dalam memaknai teks amar ma’ruf nahi mungkar oleh kelompok islam ekstrem. Temuan dari penelitian ini adalah, ayat Qur’an amar ma’ruf nahi munkar gagal dipahami oleh kelompok Islam yang berhaluan ekstrem. Ayat tersebut digunakan untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran justru diterapkan dengan kekerasan. Padahal makna yang terkandung dalam kata “ma’ruf” berarti “dengan bijaksana”. Pada sadarnya amar ma’ruf nahi munkar juga memiliki pesan bahwa Islam agama yang mengajak kebaikan, keselamatan, kemaslahatan, dan tanpa kekerasan. Artikel penilitian ini nantinya akan menambah pengetahuan dan tambahan bahan kajian para akademisi-agamawan terkait dinamika gerakan keagamaan khususnya di Indonesia.
KONSEP AL-HAYA’ DALAM PERSPEKTIF HADIS DAN RELEVANSINYA DENGAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL TIKTOK Apriliah April; John Supriyanto; Almunadi Munadi
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.354

Abstract

This article explains a problem, namely the concept of al-h}aya>’ from a hadith perspective and its relevance for TikTok users. Looking at the current conditions, the author assumes that almost all social media users no longer have an attitude of shame, especially when users of the TikTok application follow excessive dancing movements. This research looks directly at several TikTok accounts, then carries out descriptive analysis using a library research approach and is supported by primary data sources such as hadith books: al-Bukhari and Muslim, digital applications such as the Encyclopedia of the 9 books of the Imam and Matktaba Shameela, articles or magazines related to the discussion to be researched. The results of this research show that: first, there are many types of platforms nowadays, making users follow all existing trends. Here the researchers found that the TikTok platform type is very popular with many people. TikTok which has a feature, namely doing a dance movement in front of the public, they follow a trend with a purpose, whether it's for the sake of followers, likes, or other things. Second, this article provides various hadiths containing about al-h}aya>’ which can be used as a guide for someone to see what the limits are in using social media, so a woman can maintain her dignity. Tulisan ini memberikan sebuah penjelasan terhadap sebuah permasalahan yakni tentang konsep al-h}aya>’ perspektif hadis dan relevansinya bagi pengguna media sosial TikTok. Melihat kondisi saat ini, penulis berasumsi bahwa hampir semua pengguna media sosial tidak memiliki sikap malu lagi, demikian ketika para pengguna aplikasi TikTok yang mengikuti gerakan berjoget secara berlebihan. Penelitian ini meninjau langsung pada beberapa akun TikTok kemudian melakukan deskriptif analitis melalui literature review dan didukung dengan sumber data primer seperti kitab-kitab hadis: al-Bukhari dan Muslim, aplikasi digital seperti Ensiklopedi 9 kitab Imam dan al-matktabah al-syamilah, artikel ataupun majalah yang terkait dengan pembahasan yang akan diteliti. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: pertama, banyaknya jenis platform saat ini, menjadikan para penggunanya untuk mengikuti segala tren yang ada, di sini peneliti menemukan bahwasanya jenis platform TikTok sangat diminati banyak orang. TikTok yang memiliki fitur, yakni melakukan sebuah gerakan joget-joget di depan publik, mereka mengikuti sebuah tren tersebut memiliki tujuan, entah itu demi sebuah followers, like, maupun hal lainnya. Kedua, di dalam tulisan ini memberikan berbagai hadis yang memuat tentang al-h}aya>’ yang bisa dijadikan panduan seseorang untuk melihat apa saja batasan dalam bermain media sosial, demikian sebagai seorang perempuan yang mampu menjaga marwahnya.
KONTEKSTUALISASI ESKATOLOGIS DI ERA KONTEMPORER: Analisis Penafsiran Maimun Zubair Dalam Tafsir Safinah Kalla Saya’lamun Fi Tafsiri Shaykhina Maymun Zamzam Qodri; Ahmad Zaidanil Kamil
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.361

Abstract

The discourse of eschatology is still an interesting topic among scholars. In Indonesia, the issue of eschatology and the works that discuss it experienced significant development from the 1990s to the early 2000s, especially during the transition from the New Order government era to reformation. One of the important figures in the delivery of a distinctive and unique eschatology is Maimun Zubair through Safinah Kalla Saya'lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. This work originated from the study of Tafsir Al-Jalalayn every Sunday at Pesantren Al-Anwar Sarang which was collected by Ismail al-Ascholy. Its contextual approach and relevance to the contemporary context has made the concept of eschatology easier to understand by the community. This article aims to review the contextualization of the interpretation of eschatological verses in Safinah Kalla Saya'lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. The research method used is library research and content analysis. Using a sociology of knowledge approach, the results of this study show that Maimun Zubair firmly states that eschatology is not only a prediction of the future to come, but has occurred in the midst of the contemporary era. This is an interesting view and different from other interpretations, both from classical, modern, and Nusantara interpretations that still maintain a more literal interpretation. This work is significant for portraying the role of pesantren clerics such as Maimun Zubair in trying to bridge religious understanding with real life, thus providing valuable guidance for Muslim communities in facing changing times. Maimun Zubair also succeeded in bringing together diverse sources of thought, combining intellectuals from the Middle East and Indonesia with harmonious synergy Diskursus eskatologi masih menjadi topik menarik di kalangan para sarjana. Di Indonesia, isu eskatologi dan karya-karya yang membahasnya mengalami perkembangan siginifikan sejak dekade 1990-an hingga awal 2000-an, terutama selama masa transisi dari era pemerintahan Orde Baru menuju reformasi. Salah satu tokoh penting dalam penyampaian eskatologi yang khas dan unik adalah Maimun Zubair melalui tafsir Safinah Kalla Saya‘Lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. Karya ini berawal dari kajian Tafsir Al-Jalalayn setiap hari ahad di Pesantren Al-Anwar Sarang yang dikumpulkan oleh Ismail al-Ascholy. Pendekatannya yang kontekstual dan relevan dengan konteks kontemporer telah membuat konsep eskatologi menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kontekstualisasi penafsiran ayat-ayat eskatologi dalam tafsir Safinah Kalla Saya‘lamun fi Tafsir Shaykhina Maymun. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dan content analysis. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Maimun Zubair dengan tegas menyatakan bahwa eskatologi tidak hanya merupakan ramalan masa depan yang akan datang, tetapi telah terjadi di tengah-tengah era kontemporer. Ini adalah pandangan yang menarik dan berbeda dengan tafsir lain, baik dari tafsir klasik, modern, maupun Nusantara yang masih menjaga interpretasi yang lebih literal. Karya ini signifikan untuk memotret peran kiai pesantren seperti Maimun Zubair berusaha menjembatani pemahaman agama dengan kehidupan nyata, sehingga memberikan panduan yang berharga bagi masyarakat Muslim dalam menghadapi perubahan zaman. Maimun Zubair juga berhasil menyatukan beragam sumber pemikiran, menggabungkan intelektualitas dari Timur Tengah dan Indonesia dengan sinergi yang harmonis.
TELAAH KITAB TAFASSERE BICARA UGINA SURAH ‘AMMA KARYA AGH. MUHAMMAD AS’AD SENGKANG Nur Adinda; Ida Kurnia Shofa; Muhammad Ghifari
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.363

Abstract

This article examines one of the tafsir books compiled by AGH. Muhammad As'ad, one of the Indonesian clerics who is influential in South Sulawesi. The book of tafsir is entitled Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma. This tafsir is among the first tafsir written using Lontarak script and in Bugis language, so this tafsir book provides a new nuance in the history of the study of al-Qur'an tafsir in South Sulawesi. The book of tafsir was translated into Indonesian by AGH. As'ad students, Sjamsoeddin Singkang. The book Tafasere Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma is classified as a book that has little exposure to the general public, so no research has been found that examines this book of tafsir. This research aims to examine the characteristics, background of interpretation, sources, methods and styles used by AGH. As'ad in interpreting the Koran. This type of research is library research using descriptive analysis methods. From this research it can be seen that the Bugis community was the main target for writing the book Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma because the community's understanding there is still very limited and there are still many ritual practices that are not in accordance with Islamic teachings and beliefs. As for the source of AGH interpretation. As'ad uses the bi al-ray tafsir method. From a methodological aspect, this interpretation uses the ijmali method with simple interpretation. The breadth of explanation falls into the category of bayani interpretation. The targets and order of verses are interpreted using the maudhu'i verse method. The style of interpretation tends to be towards faith and divinity, making it fall into the category of interpretation of the i'tiqadi style. Artikel ini mengkaji salah satu kitab tafsir yang disusun oleh AGH. Muhammad As’ad, salah satu ulama Nusantara yang berpengaruh di Sulawesi Selatan. Kitab tafsirnya diberi judul Tafasere Bicara Ugina Surah Amma. Tafsir tersebut termasuk tafsir pertama yang ditulis menggunakan aksara Lontarak dan berbahasa Bugis sehingga kitab tafsir ini memberikan nuansa baru dalam sejarah kajian tafsir al-Qur’an di Sulawesi Selatan. Kitab tafsir diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh murid AGH. As’ad, Sjamsoeddin Singkang. Kitab Tafasere Bicara Ugina Surah Amma tergolong kitab yang kurang terekspos di masyarakat umum, sehingga belum ditemukan penelitian yang mengkaji kitab tafsir ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik, latar belakang penafsiran, sumber, metode dan corak yang digunakan AGH. As’ad dalam menafsirkan al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa masyarakat Bugis menjadi sasaran utama penulisan kitab Tafasere Bicara Ugina Surah ‘Amma karena pemahaman masyarakat di sana masih sangat terbatas dan masih terdapat banyak praktik ritual yang tidak sesuai dengan ajaran dan keyakinan Islam. Adapun mengenai sumber penafsiran AGH. As’ad menggunakan metode tafsir bi al-ray. Dari aspek metolodogi, tafsir ini menggunakan metode ijmali dengan penafsiran sederhana. Keluasan penjelasan masuk pada kategori tafsir bayani. Adapun sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan menggunakan metode maudhu’i ayat. Corak penafsiran cenderung mengarah ke arah keimanan dan ketuhanan menjadikannya termasuk kategori tafsir corak i’tiqadi.