cover
Contact Name
Ahmad Mustaniruddin
Contact Email
ahmad_mustanirruddin@uinjambi.ac.id
Phone
+6285369694000
Journal Mail Official
tajdid@uinjambi.ac.id
Editorial Address
Jl. Jambi Ma. Bulian KM.16, Simp. Sei Duren, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 25023063     EISSN : 25415018     DOI : https://doi.org/10.30631/tjd.v25i1.5205
Core Subject :
TAJDID Jurnal Ilmu Ushuluddin focuses on the renewal of Islamic scholarship through critical, contextual, and integrative studies that bridge classical texts, Islamic thought, social and cultural Muslims to contemporary realities and issues. The journal welcomes literature and empirical research in the field of Islamic studies especially on, but not limited to the Quran and Hadith, Islamic Theology (Kalam), Islamic Philosophy, Islamic Mysticism (Tasawuf), Islamic Politics, and Religious Studies. All of these disciplines are acceptable as long as they are aligned with that focus. TAJDID emphasizes an interdisciplinary and innovative approach that promotes intellectual renewal (Tajdid Al Fikr Al Islami), encouraging dialogue among scholars who seek to reinterpret Islamic knowledge in the evolving context of the Muslim world and humanity at large to support The Sustainable Development Goals (SDGs), prevent a clash of civilizations and promote Islam Rahmatan Li Al Alameen. Scholars from any country and region concerned with the renewal of Islamic scholarship throughout Muslim history and geography in the Islamic World and beyond may submit their articles to Tajdid and use this open access journal.
Arjuna Subject : -
Articles 211 Documents
INTERPRETASI HADIS: ANTARA HERMENEUTIKA DAN SYARH AL-HADITS (STUDI KOMPARATIF) Muhammad Syarifudin; Masruhan Masruhan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.171

Abstract

This article attempts to analyze the syarh al-hadith method of classical and contemporary scholars and the hermeneutic method of Islamic scholars in explaining (interpreting) the Prophet's hadith. Because most scholars who write about the interpretation of hadith with a hermeneutics approach, instead use references in classical hadith syarh. Therefore, the author wants to examine the relevance of hermeneutical methods or theories in the study of syarh al-hadith. Is hermeneutics appropriate to be applied as a single foundation in the interpretation of hadith or is it only a complement to the syarh al-hadith? This article concludes after trying to compare the interpretations of the hadith commanding to fight humans until they say there is no god but Allah using the two approaches or methods above, and it turns out that both can go hand in hand and complement each other. Moreover, the hermeneutics approach is more about the meaning of the context of the hadith at the beginning of its emergence to the present, which requires an understanding of the meaning of the hadith according to its originator at the time of the background of the hadith (asbab wurud) and the history of this can be known through the syarah hadith method, especially, syarah hadith with other narrations or through the words of friends who lived contemporaries with the Prophet (originator). Besides that, the study of the original language of the text is also used as a reference in this case, which is part of the syarah of hadith as well.   Artikel ini mencoba menganalisis metode syarah hadis ulama klasik dan kontemporer dan metode hermeneutika cendekiawan Islam dalam menjelaskan (menginterpretasi) hadis Nabi. Karena, kebanyakan cendekiawan yang menulis mengenai interpretasi hadis dengan pendekatan hermeneutika, justru menggunakan rujukan dalam syarah hadis klasik. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti relevansi metode atau teori hermeneutika dalam kajian syarh al-hadits. Apakah hermeneutika layak diterapkan sebagai pondasi tunggal dalam interpretasi hadis ataukah hanya menjadi pelengkap syarh al-hadits? Artikel ini mengambil kesimpulan setelah mencoba membandingkan penafsiran terhadap hadis perintah memerangi manusia sampai mereka mengucapkan tiada Tuhan selain Allah dengan menggunakan dua pendekatan atau metode di atas.  Ternyata keduanya bisa berjalan beriringan dan saling melengkapi. Terlebih pendekatan hermeneutika lebih kepada pemaknaan konteks hadis di awal munculnya ke masa kini, yang mana hal itu memerlukan pemahaman akan makna hadis menurut pencetusnya di masa lahirnya hadis (asbab wurud) tersebut dan histori mengenai hal ini dapat diketahui melalui metode syarah hadis. Terutama syarah hadis dengan riwayat lainnya atau melalui perkataan Sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi (pencetus). Di samping itu kajian bahasa asli teks juga dijadikan rujukan dalam hal ini, yang merupakan bagian dari syarah hadis juga.
KONTEKSTUALITAS DALAM PENAFSIRAN MENURUT BACTIAR SURIN: MELETAKKAN RASIONALITAS SEBAGAI PERANGKAT PEMAHAMAN AL-QUR’AN Mahbub Ghozali; Ali Usman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.173

Abstract

The Rationality in interpretation that tends to be disputed can be used as an instrument to provide the contextual meaning of the Qur’an. Rationality equipped by science can actualize meanings that are more relevant to the development of society. The actual meaning has an impact on easier understanding for the community. This study aims to reveal the function of rationality in contextual interpretation without having to be fixated on the significance of a verse. This study uses primary data sources from Terjemah dan Tafsir al-Qur’an bahasa Arab dan Latin by Bachtiar Surin. This interpretation is used, aside from being abandoned by many researchers, it is also used as another way to actualizing meaning. This study uses a qualitative method with content analysis as a data analysis tool. This study finds the significance of rationality in interpretation through the inseparable relationship of reason with the Qur'an. Intellect as a gift from God can be used to explain God's language. In its application, Rationality can provide contextual meaning in two forms. First, the actualization of meaning with terms that are relevant to a modern context. Second, rationality functions as scientific reasoning to provide factual evidence for the meaning of the Qur'an. The actualizing of the Qur'an meaning can be achieved by rationality so that the contextual device in interpretation does not only emphasize significant meaning on the verse. Rasionalitas dalam penafsiran yang cenderung diperselisihkan dapat dijadikan sarana untuk memberikan pemahaman terhadap al-Qur’an secara kontekstual. Rasionalitas yang dilengkapi oleh ilmu pengetahuan dapat mereaktualisasi makna yang lebih relevan dengan perkembangan masyarakat. Pemaknaan secara aktual berdampak pada pemahaman yang lebih mudah kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fungsi rasionalitas dalam penafsiran kontekstual tanpa harus terpaku dengan signifikansi pesan yang terkandung dalam sebuah ayat. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan sumber data primer dari Terjemah dan Tafsir al-Qur’an bahasa Arab dan Latin karya Bachtiar Surin. Tafsir ini digunakan, selain ditinggalkan oleh banyak peneliti juga didasarkan pada penggunaan cara lain dalam mengaktualisasi makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai perangkat analisa data. Penelitian ini menemukan signifikansi rasionalitas dalam penafsiran melalui hubungan akal dengan al-Qur’an yang tidak dapat dipisahkan. Akal sebagai anugerah Tuhan dapat digunakan untuk menjelaskan bahasa Tuhan. Dalam aplikasinya, akal dapat memberikan penafsiran secara kontekstual dalam dua bentuk. Pertama, reaktualisasi makna dengan istilah yang relevan dengan keilmuan modern. Kedua, rasionalitas berfungsi sebagai penalaran ilmiah dengan bentuk memberikan bukti faktual atas kebenaran kandungan makna al-Qur’an. Keberhasilan rasionalitas dalam mereaktualisasi makna dengan dua bentuk tersebut membuktikan bahwa penafsiran kontekstual dapat ditempuh dengan menggunakan rasionalitas yang bersifat subjektif, sehingga perangkat kontektulitas dalam penafsiran tidak hanya menekankan pada penemuan pesan makna sesuai dengan penggunaannya di masa al-Qur’an turun.
RUMAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (STUDI TERM AL-BAIT, AL-MASKAN, AL-MA’WA DAN AL-DAR DENGAN METODE SEMANTIK ENSIKLOPEDIK) Lilik Ummi Kaltsum; Fitriatul Anita
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.176

Abstract

This study reveals verses about the house with the aim of finding the concept of the house from the perspective of the Qur’an. The mention of the word house in the Qur’an is mentioned in various ways, namely al-bait, al-maskan, al-ma’wa and al-dar. During the Covid-19 pandemic, the home is the focus of all activities. The whole concept of the house from the perspective of the Qur’an is very necessary to maximize the function of the house according to the instructions of the Qur’an. The method used in this study is the thematic method, namely the method of interpreting the Qur’an which seeks to explain the verses of the Qur’an by referring to a particular subject so that it can produce a more systematic understanding. The thematic method was chosen because it was considered more appropriate to comprehensively build the Qur’anic concept on a particular theme. In revealing certain meanings, this research uses a semantic approach. The semantic approach is used to understand reality through language correctly, while at the same time linking meaning to the fact of using language in a situational context. This study concludes that house ownership in the Qur’an is attributed to Allah swt., to humans and to animals. While the function of the house in the Qur’an is mentioned as a place to live, a place of worship, a prison for adulterers and as a place to get security. Manners related to the house in the Qur’an have special details. The Qur’an regulates the etiquette of visiting both in an inhabited house and an uninhabited house. In particular, the Qur’an also regulates the etiquette of visiting the house of the Prophet Muhammad, and regulates eating etiquette at the house of close relatives.   Penelitian ini mengungkap ayat-ayat tentang rumah dengan tujuan untuk menemukan konsep rumah perspektif al-Qur’an. Penyebutan kata rumah dalam al-Qur’an disebutkan dalam berbagai macam, yaitu al-bait, al-maskan, al-ma’wa dan al-dar. Pada masa pandemi Covid-19, rumah menjadi tumpuan segala kegiatan. Konsep utuh tentang rumah perspektif al-Qur’an sangat diperlukan untuk memaksimalkan fungsi rumah sesuai petunjuk al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tematik yaitu metode penafsiran al-Qur’an yang berusaha menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan mengacu pada satu pokok bahasan tertentu sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang lebih sistematis. Metode tematik dipilih karena dinilai lebih tepat untuk membangun konsep al-Qur’an tentang tema tertentu secara komprehensif. Dalam mengungkap makna tertentu, penelitian ini menggunakan pendekatan semantik. Pendekatan semantik digunakan untuk memahami realitas lewat bahasa secara benar, sekaligus mengaitkan makna dengan fakta pemakaian bahasa dalam konteks situasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemilikan rumah dalam al-Qur’an dinisbahkan pada Allah swt., pada manusia dan pada binatang. Sedangkan fungsi rumah dalam al-Qur’an disebutkan sebagai tempat tinggal, tempat peribadatan, tempat penjara bagi wanita penzina serta sebagai tempat memperoleh keamanan. Tata krama terkait rumah dalam al-Qur’an memiliki perincian yang khusus. Al-Qur’an mengatur tata krama bertamu baik dalam rumah yang berpenghuni maupun rumah yang tidak berpenghuni. Secara khusus al-Qur’an juga mengatur tata krama bertamu di rumah Nabi Muhammad saw., serta mengatur tata krama makan di rumah karib kerabat.
IDEOLOGI ZIONISME DALAM TIMBANGAN TEOLOGI ISLAM: KAJIAN ATAS RASISME DALAM PEMIKIRAN ZIONISME M. Kholid Muslih; Amal Fathullah Zarkasyi; Abdul Rohman; Rahmat Adi Nur Rifa Da’i
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.178

Abstract

Zionism is one of the great agenda of the Jewish nation to rule the world. The movement can be considered far from human values, all of which originate from their ideology contained in the Talmud and Protocols of Zion. This article aims to reveal the basic ideas of Zionism which became their principle in the movement to conquer the world. Through a search of the literature regarding the theme of the discussion and the descriptive-critical analysis method, it is hoped that it can explain the racism side of the Zionist ideology which is clearly contrary to Islamic Islamic theology and human values. This study shows several important points, including: first, Zionism is a movement of the Jewish people to reclaim Baitul Maqdis; second, the Modern Zionism Movement was initiated by Theodor Herzl through the establishment of the Modern State of Palestine; third, the Zionist movement is based on their ideology taken from the Talmud and the Protocols of Zion. The core ideology in these two sources is to assert that the Jews are the best nation in the world, nations other than them are considered not descendants of Adam and even considered animals, God has given the Jews the rights to rule over all nations other than them, and so on; Fourth, the ideology of Zionism if viewed from the perspective of Islamic theology there are many mistakes because basically Allah views all human beings as equal and the only difference is their piety, there are some confusions in the Zionist conception of God, and some of their ideologies have confusion between argument one and argument. other. Therefore, the author concludes that the ideology of Zionism is contrary to the point of view of Islamic theology, besides that it is also not in accordance with the principles of humanity.   Zionisme merupakan salah satu agenda besar bangsa Yahudi untuk menguasai dunia. Gerakannya bisa dianggap jauh dari nilai kemanusiaan, di mana semua itu bersumber dari ideologi mereka yang ada dalam Kitab Talmud dan Protocols of Zion. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap dasar-dasar pemikiran Zionisme yang menjadi prinsip mereka dalam gerakan menaklukkan dunia. Melalui penelusuran literatur-literatur berkenaan dengan tema pembahasan dan metode deskriptif-analisis kritis diharapkan dapat menjelaskan tentang sisi rasisme ideologi Zionisme yang itu jelas bertentangan dengan teologi Islam dan nilai kemanusiaan. Penelitian ini menunjukkan beberapa poin penting, di antaranya yaitu: pertama, Zionisme merupakan gerakan bangsa Yahudi untuk merebut kembali Baitul Maqdis; kedua, Gerakan Zionisme modern diprakarsai oleh Theodor Herzl melalui pembentukan Negara Modern Palestina; ketiga, Gerakan Zionisme tersebut didasari oleh ideologi mereka yang diambil dari Kitab Talmud dan Protocols of Zion. Inti ideologi dalam kedua sumber ini adalah menegaskan bahwa bangsa Yahudi merupakan bangsa terbaik di dunia, bangsa selain mereka dianggap bukan keturunan Adam bahkan dianggap hewan, Tuhan telah menganugrahi bangsa Yahudi hak-hak untuk menguasai seluruh bangsa selain mereka, dan lain sebagainya; keempat, ideologi Zionisme tersebut jika ditinjau dari perspektif teologi Islam terdapat banyak kesalahan karena pada dasarnya Allah memandang semua umat manusia itu sama dan yang membedakannya hanyalah ketakwaannya, terdapat beberapa kerancuan dalam konsepsi Zionis tentang Tuhan, dan beberapa ideologi mereka memiliki kerancuan antara argumen satu dengan argument lain. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa ideologi Zionisme bertentangan dengan sudut pandang teologi Islam, selain itu juga banyak tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan.
THE RECOGNITION OF EXISTENCE AND BIBLICAL TRUTH IN THE PERSPECTIVE OF THE QUR'AN (Critical Study of the Development of Liberal Islamic Thought in Indonesia) Asep Setiawan
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.207

Abstract

This article seeks to highlight and provide answers to the controversial opinions that have recently been frequently campaigned by some liberal Muslim figures that the Qur'an recognizes the existence and truth of previous scriptures such as the Bible. They use several verses in the Qur'an, 5:44, 46-47 and 66, to justify the above opinions supported by partial interpretation experts under their understanding and purpose. In this study, the author used the library research method, which is research-based on library studies. The approach used is descriptive-analytical, which describes existing data sources, then analyzed and interpreted using available data sources. The opinion of liberal Islamic thinkers that it is enough for the Jews to use the Torah in carrying out religious law, and the Christians that they simply follow the rules in the Bible, this is because their methodology in understanding the verse is wrong. They did not explain at all the abuses committed by Jews and Christians. Including their defiance of Allah's command and about the guidance of the coming of the Prophet Muhammad with his perfect and universal sharia, which they are obliged to follow and obey, which is the information contained in their holy book. In understanding the verses of the Qur'an, they do not use methodological steps that can be accounted for in the discipline of interpretation. Contextual schools are emphasized for several texts that are alleged to be anti-religious pluralism. While on the other hand, literal schools are applied to verses that support the notion of religious pluralism.   Artikel ini berupaya untuk mengetengahkan dan memberikan jawaban atas pendapat kontroversial yang belakangan ini sering dikampanyekan oleh beberapa tokoh muslim liberal bahwa al-Qur’an mengakui eksistensi dan kebenaran kitab suci sebelumnya seperti Bibel. Mereka menggunakan beberapa ayat dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 44, 46-47, dan ayat ke-66 untuk menjustifikasi pendapat di atas didukung dengan menukil pendapat dari para ahli tafsir secara parsial sesuai dengan paham dan tujuan mereka. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode library research, yakni penelitian yang didasarkan pada studi pustaka. Adapun pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan sumber data yang ada, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan dengan menggunakan sumber data yang tersedia. Pendapat para pemikir Islam liberal bahwa kaum Yahudi cukup berhukum dengan Taurat begitu pula kaum Nasrani, yang katanya cukup berhukum dengan Injil atau Bibel, dikarenakan mereka cacat secara metodologis dalam memahami ayat tersebut. Mereka sama sekali tidak menerangkan tentang penyelewengan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Termasuk tentang pembangkangan mereka terhadap perintah Allah dan tentang petunjuk akan datangnya Nabi Muhammad saw. dengan syariatnya yang sempurna dan universal yang wajib diikuti dan ditaati oleh mereka, yang mana informasi tersebut terdapat di dalam kitab mereka. Dalam memahami ayat-ayat al-Quran, mereka tidak menggunakan ukuran metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara disiplin ilmu tafsir. Mazhab kontekstual ditekankan untuk sejumlah teks yang diduga anti kemajemukan beragama. Sementara di sisi lain, mazhab literal diterapkan untuk ayat-ayat yang mendukung paham pluralism agama.
STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN MAHMUD MUHAMMAD TAHA TENTANG KONSEP NASAKH AL-QUR’AN Muhammad Al Fikri; Ahmad Mustaniruddin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.230

Abstract

This article discusses one of the topics of the study of the Qur'anic science which was developed by one of the contemporary thinkers, namely Mahmud Muhammad Taha. He considered that the Islamic teachings contained in the madaniyah verses were irrelevant at this time because they contained values ​​that were less tolerant and even radical. Meanwhile, the Makiyah verses contain fundamental values ​​such as justice, equality, tolerance, democracy, and human rights. So, according to him, madaniyah verses need to be replaced with these makiyah verses. With such an inverted nasakh concept, he wants to carry out an evolution of sharia where according to him sharia is something historical that can change according to the situation and conditions that require it. The concept of nasakh al-Qur'an developed by Taha is different from the concept of nasakh agreed upon by the majority of scholars. Therefore, based on the critical analysis in this article, it can be said that the nasakh Taha concept still has a number of epistemological problems so that it is not valid for use in interpreting the verses of the Qur'an. Artikel ini mendiskusikan tentang topik kajian ilmu al-Qur’an yang dikembangkan oleh salah satu tokoh pemikir kontemporer yaitu Mahmud Muhammad Taha. Ia menilai bahwa ajaran Islam yang terkandung dalam ayat-ayat madaniyah tidak Sesuai dengan nilai – nilai kemanuasiaan dan masyarakat modern karena ayat madaniyah mengandung nilai radikalisme dan berlawanan dengan hak asasi manusia. Sementara ayat-ayat makiyah berisi tentang nilai-nilai fundamental seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, demokrasi, dan HAM. Sehingga, menurutnya, ayat-ayat madaniyah perlu di-nasakh dengan ayat-ayat makiyah tersebut. Dengan konsep nasakh terbalik seperti demikian ia ingin melakukan evolusi terhadap syariat di mana menurutnya syariat merupakan sesuatu yang bersifat historis yang dapat berubah sesuai situasi dan kondisi yang menghendakinya. Konsep nasakh al-Qur’an yang dikembangkan oleh Taha tersebut berbeda dengan konsep nasakh yang disepakati oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, berdasarkan analisis kritis dalam artikel ini dapat dikatakan bahwa konsep nasakh Taha tersebut masih terdapat sejumlah permasalahan epistemologis sehingga tidak valid untuk digunakan dalam penafsiran al-Qur’an.
PENANGANAN KONFLIK AGAMA DI KOTA JAMBI BERBASIS KEBIJAKAN PUBLIK Abdul Halim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.337

Abstract

This research seeks to analyze the policy of Jambi City Government in handling of religious conflict, especially the establishment of worship place, in Jambi City. This research adopted qualitative approach with case study of research type. Jambi City is a religiously plural area that has experienced conflicts over the establishment of worship places. Because of this, the Jambi City Government issued a policy of intensive coordination with religious leaders, peaceful conflict resolution, verification of permits for worship places and development of tolerance villages. These policies are intended so that religious conflicts that commonly occur in plural societies do not continue and threaten the harmonization of society. This research is scientifically and practically significant since it: Contributes to enriching the theoretical aspect of the academic studies on public policy in the reality of the government’s role and its use of this model in managing public areas, especially in religion. This research completely discussed the perceptions about the tracks of the government’s role and the extent of use of realism in public policy, especially in the religious conflict. As well as define the realist conditions, means, methods, and tools adopted by the researchers in strengthening the public policy theory to achieve study of government’s role in handling public problems, especially in religious conflict. Penelitian ini berupaya menganalisis kebijakan Pemerintah Kota Jambi dalam penanganan konflik agama khususnya pendirian rumah ibadah di Kota Jambi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Kota Jambi merupakan daerah yang majemuk beragama yang mengalami konflik pendirian rumah ibadah. Karena itu, Pemerintah Kota Jambi mengeluarkan kebijakan koordinasi intensif dengan tokoh agama, penyelesaian konflik secara damai, verifikasi izin tempat ibadah dan pengembangan kampung toleransi. Kebijakan tersebut dimaksudkan agar konflik keagamaan yang lazim terjadi dalam masyarakat majemuk tidak berlanjut dan mengancam harmonisasi masyarakat. Penelitian ini signifikan secara ilmiah dan praktis karena: Berkontribusi untuk memperkaya aspek teoretis kajian akademik tentang kebijakan publik dalam realitas peran pemerintah dan penggunaan model ini dalam mengelola ruang publik, khususnya dalam bidang agama. Penelitian ini secara lengkap membahas persepsi tentang jejak peran pemerintah dan sejauh mana penggunaan realisme dalam kebijakan publik, khususnya dalam konflik agama. Serta menentukan kondisi realis, cara, metode, dan perangkat yang digunakan peneliti dalam memperkuat teori kebijakan publik untuk mencapai kajian peran pemerintah dalam menangani masalah publik, khususnya dalam konflik agama.
RASIONALITAS BARAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP STUDI HADIS Taufik Kurahman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.221

Abstract

Rationality has a very significant role as a measure of knowledge. Knowledge is declared valid if it is in accordance with the positivist ratio, which means that something true is one that can be proven empirically. The rationality that emerged as a critique of the Church’s absolute religious doctrine grew widely, even entering into Islamic studies, including the study of hadith. The use of rationality in hadith studies in turn has a major influence. This research aims to see and understand how the emergence of positivist rationality in the West, its development which includes the study of hadith, and the influence of rationality on Muslim scholars in viewing and understanding hadith. This article is in the form of library research with documentation techniques, which means that data collection is done by looking at various reports or scientific research results such as books, articles, official notes, and so on. The collected data were analyzed by a descriptive technique which aims to make a systematic, factual, and accurate description of the data. While the approach used is the philosophy of science, especially ontology. With this approach, this study found that the ontological status of science in the West is one of the factors why only the empirical world can be justified. By using positivist rationality in Islamic studies that have many metaphysical dimensions, there is a rejection of Islamic religious knowledge. Some Muslim scholars who are influenced by Western rationality reject some, even all of the existence and authenticity of hadith.   Rasionalitas menduduki peran yang sangat signifikan sebagai tolok ukur suatu pengetahuan. Pengetahuan dinyatakan valid jika sesuai dengan rasio positivis, yang berarti sesuatu yang benar adalah yang dapat dibuktikan secara empiris. Rasionalitas yang muncul sebagai kritik terhadap doktrin keagamaan mutlak Gereja berkembang dengan sangat luas, bahkan memasuki studi keislaman, termasuk studi hadis. Penggunaan rasionalitas dalam studi hadis pada gilirannya membawa pengaruh besar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan memahami bagaimana kemunculan rasionalitas positivis di Barat, perkembangannya yang meliputi studi hadis, serta pengaruh rasionalitas terhadap para cendekiawan muslim dalam memandang dan memahami hadis. Penelitian ini berupa kajian pustaka dengan teknik dokumentasi, yang berarti pengumpulan data dilakukan dengan melihat berbagai laporan atau hasil penelitian ilmiah berupa buku, artikel, catatan resmi dan lain sebagainya. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap data. Untuk membedah data tersebut digunakan pendekatan filsafat ilmu, khususnya ontologi. Dengan pendekatan tersebut, penelitian ini menemukan bahwa status ontologis sains di Barat menjadi salah satu faktor mengapa hanya dunia empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan menggunakan rasionalitas positivis ke dalam kajian keislaman yang memiliki banyak dimensi metafisik, maka terjadi penolakan terhadap pengetahuan-pengetahuan keagamaan Islam, khususnya hadis. Beberapa cendekiawan muslim yang terpengaruh rasionalitas Barat menolak sebagian, bahkan seluruh eksistensi dan autentisitas hadis.
ISLAM AND HOMO DEUS IN ANTHROPOCENTRIC THEOLOGY: A RELIGIOUS CHALLENGE IN THE FUTURE Syazna Maulida; Suhermanto Ja'far
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.229

Abstract

This article discusses Islam and Homo Deus in anthropocentric theology. As for the background of the research this is that in the 21st century humanity logically hopes that the spirit Homo Deus will lead them to put more effort into searching for meaning real life. Meanwhile, Artificial Intelligence technology (artificial intelligence) is currently preferred and is even believed to be able to undermine spiritual intelligence human beings, thereby weakening human efforts in finding meaning in life and solving social problems in their environment, such as caring for social change, ignorance, poverty and underdevelopment.The method used in this article is a qualitative method library (study library). Sources of data obtained from the results of literature studies that limited to matters that have relevance to this study. Findings in this research is that modern technology gives mankind most likely obtained a tremendous increase in material life but does not mean at the same time providing a means for improving the quality of humanity. Thus in the future the role of religion will be even greater, especially religion which is seen in its totality, as a way of life, as a giver of meaning to life. Religious teachings such as Islam which should be a guide for its adherents become very important in providing ethical guidance to humans, including in the ethics of the development and use of science and technology. Islam with spiritual teachings, exercises in reviving the human conscience, its absolute values ​​as contained in the Qur'an and Hadith mutawatir, the teachings of humanism, the position of reason which is high in Islam, so that it can lead to a rational interpretation is religion that can meet the needs of mankind in modern times.   Artikel ini mendiskusikan tentang Islam dan Homo Deus dalam teologi antroposentris. Adapun yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah bahwa pada abad 21 secara logis umat manusia berharap bahwa semangat Homo Deus akan membawa mereka untuk lebih berupaya dalam mencari makna kehidupan yang sebenarnya. Sementara itu, teknologi Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) saat ini lebih diutamakan bahkan diyakini dapat menggerogoti kecerdasan spiritual manusia sehingga melemahkan ikhtiar manusia dalam mencari makna kehidupan dan memecahkan masalah-masalah sosial, seperti peduli terhadap perubahan sosial, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif kepustakaan (library research). Sumber data yang diperoleh dari hasil studi literature yang dibatasi dengan hal-hal yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Hasil temuan dalam penelitian ini adalah bahwa teknologi modern memberi umat manusia kemungkinan besar memperoleh peningkatan hidup material yang luar biasa namun tidak berarti juga sekaligus menyediakan sarana bagi peningkatan kualitas kemanusiaan. Demikian dimasa depan peran agama akan semakin besar khususnya agama yang dilihat secara totalitas, sebagai jalan hidup, sebagai pemberi makna kehidupan. Ajaran agama seperti Islam yang seharusnya menjadi pedoman untuk penganutnya menjadi sangat penting dalam memberikan bimbingan etika pada manusia termasuk dalam etika pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam dengan ajaran kerohanian latihan-latihan dalam menghidupkan nurani manusia, nilai-nilainya yang absolut sebagaimana yang terdapat pada al-Qur‘an dan hadis mutawatir, ajaran humanisme, kedudukan akal yang tinggi dalam Islam, sehingga dapat menimbulkan penafsiran rasional adalah agama yang dapat memenuhi kebutuhan umat manusia di zaman modern.
REAKTUALISASI TOLERANSI BERAGAMA SURAH AL-KAFIRUN: (Telaah Perbandingan Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Maraghi) Rahmawati Hidayat; Musa Al Kadzim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.232

Abstract

Indonesia recognizes several legitimate religions that can be embraced by its population through Pancasila and Number 1 from UU PNPSof 1965. However, according to BPIP RI, intolerance occurs every year and there is always an increase from time to time. Even the results of a survey conducted at the University of Brawijaya on its students show that the percentage of students with high tolerance character is still very small. These two things become the basis for the author to feel it is important that research related to tolerance is carried out. Utilizing the movement of the majority of the population who adheres to Islam, the author examines tolerance in parts of the Muslim holy book, especially in Surah al-Ka>firu>n as a complete sura to be studied. This research is a literature study on the interpretation of tolerance in surah al-Ka>firu>n with the comparative method of Tafsir al-Misbah by Quraish Shihab as a representative of exegetes with an Indonesian context and Tafsir al-Maraghi by Ahmad Mustofa al-Maraghi as a comparison. and perfect interpretation. This research aims to find the similarities and differences between the two commentators and also to find a creative synthesis from the results of the analysis of the two commentators. The results of the research in this paper are that Surah al-Ka>firu>n has three important teaching points for Muslims about tolerance. First, in religion, one must hold fast to what one holds. Second, the difference between God and worship is something that cannot be mixed up and cannot be forced. Third, this surah is an affirmation that every human being will be rewarded according to his deeds. In the Indonesian context, the teachings of tolerance are not only applied when they become a majority group, but also when they become a minority group in an area.   Indonesia mengakui beberapa agama sah yang dapat dianut penduduknya melalui Pancasila sebagai dasar negara dan UU PNPS No. 1 tahun 1965. Namun, menurut BPIP RI intoleransi setiap tahun terjadi dan selalu ada peningkatan dari waktu ke waktu. Bahkan, hasil survei yang dilakukan di Universitas Brawijaya terhadap mahasiswanya menunjukkan masih sangat kecil persentase mahasiswa berkarakter toleransi tinggi. Kedua hal tersebut menjadi landasan penulis merasa penting penelitian yang berhubungan dengan toleransi diangkat. Memanfaatkan pergerakan mayoritas penduduk yang menganut agama Islam, penulis meneliti toleransi pada bagian kitab suci umat islam, khususnya pada surah al-Ka>firu>n sebagai surah yang utuh untuk diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka tentang penafsiran toleransi pada surah al-ka>firu>n dengan metode komparatif Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab sebagai perwakilan mufasir berkonteks keIndonesiaan dan Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustofa al-Maraghi sebagai pembanding dan penyempurna penafsiran. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dari kedua mufasir dan juga menemukan sintesis kreatif dari hasil analisis kedua mufasir. Hasil penelitian pada tulisan ini adalah Surah al-Ka>firu>n memiliki tiga poin ajaran penting untuk umat islam tentang toleransi. Pertama, dalam beragama haruslah berpegang teguh pada yang dianut masing-masing. Kedua, perbedaan Tuhan dan ibadah merupakan hal yang tidak bisa dicampurbaurkan dan tidak bisa dipaksakan. Ketiga, surah ini merupakan penegasan bahwa setiap manusia akan diganjar sesuai dengan amal perbuatannya. Pada konteks ke-Indonesia-an, ajaran toleransi bukan hanya diterapkan pada saat menjadi kelompok yang mayoritas saja, tetapi juga pada saat menjadi kelompok minoritas pada suatu daerah.