cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
mkb.fkunpad@gmail.com
Editorial Address
Gedung Rumah Sakit Pendidikan Unpad/Pamitran Unpad (Teaching Hospital Building) Faculty of Medicine Unpad, 3rd Floor Jl. Prof. Eyckman No. 38 Bandung, 40161, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : 0126074X     EISSN : 23386223     DOI : 10.15395/mkb
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Bandung (MKB)/Bandung Medical Journal publishes peer-reviewed original articles and case reports in basic medical research, clinical research, and applied medical science. This journal is published quarterly (March, June, September, and December) by Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted with acceptance for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 651 Documents
Perbedaan Manifestasi Klinis dan Laboratorium Kolestasis Intrahepatal dengan Ekstrahepatal pada Bayi Prasetyo, Dwi; Ermaya, Yudith Setiati; Martiza, Iesje
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.082 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n1.733

Abstract

Ikterus fisiologis sering didapatkan pada bayi dan kebanyakan gejalanya ringan. Gejala ikterik biasanya akan menghilang dalam 2 minggu setelah lahir. Pada ikterus yang terkonjugasi terjadi defek produksi intrahepatal, transpor transmembran dari empedu, yaitu kolestasis intrahepatal (IH) atau obstruksi kolestasis ekstrahepatal (EH) yang mengakibatkan hambatan empedu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan manifestasi klinis dan laboratorium kolestasis IH dengan EH pada bayi. Studi potong lintang dilakukan pada 72 bayi dengan kolestasis yang datang ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, periode Januari 2014–Desember 2015. Analisis data dilakukan dengan uji Pearson Chi-kuadrat dan Mann-Whitney. Subjek terdiri atas 43 (60%) laki-laki dan 29 (40%) perempuan, kolestasis IH sebanyak 61 orang (85%), dan EH sebanyak 11 (15%). Pada penelitian ini didapatkan perbedaan bermakna manifestasi klinis asites antara kolestasis IH dan EH (p=0,047), sedangkan venektasi, hepatomegali, dan splenomegali tidak didapatkan perbedaan bermakna. Pada pemeriksaan warna feses tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,936), demikian juga hasil laboratorium bilirubin total, bilirubin direk, glutamat oksaloasetat transaminase, glutamat piruvat transaminase, alkali fosfatase, dan gama glutamil transferase serum tidak berbeda bermakna. Simpulan, didapatkan perbedaan manifestasi klinis asites, sedangkan manifestasi klinis yang lain dan hasil laboratorium tidak didapatkan perbedaan antara kolestasis IH dan EH. [MKB. 2016;48(1)45–50]Kata kunci: Kolestasis ekstrahepatal, kolestasis intrahepatal, laboratorium, manifestasi klinisDifferences of Clinical Manifestation and Laboratory Findings in Intra-Hepatic and Extra-Hepatic Cholestasis in InfantsAbstractPhysiological jaundice found in infants and most symptoms are often mild. Jaundice symptoms usually disappear within 2 weeks after birth. In conjugated jaundice defects in intra-hepatic production, transmembran transport from bile, i.e. cholestasis intra hepatic (IH), or extra-hepatic (EH) obstruction/cholestasis occur, resulting in bile barriers. This study was conducted to look at the differences in the clinical and laboratory manifestations of IH and EH cholestasis in infants. A cross-sectional study was performed on 72 infants with cholestasis who came to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, during the period of January 2014–December 2015. Data analysis was performed with Pearson Chi-square test and Mann-Whitney. Subjects consisted of 43 (60%) infant boys and 29 (40%) infant girls, IH cholestasis were 61 (85%) and EH cholestasis were 11 (15.3%). Significant differences in the clinical manifestations of acites with IH and EH cholestasis were found (p=0.047), whereas insignificant differences in venectation, hepatomegaly and splenomegaly were observed. On examination of stool color, no significant difference was found (p=0.936). The same was true for laboratory results of total bilirubin, direct bilirubin, serum glutamic oxaloacetic transaminase, glutamic pyruvic transaminase, alkaline phosphatase and gamma glutamyl transferase. In conclusion, we found differences in clinical manifestation of acites, while for other clinical manifestations and laboratory results no differences were found between IH and EH cholestasis. [MKB. 2016;48(1)45–50]Key words: Clinical manifestation, extra-hepatic cholestasis, intra-hepatic colestasis, laboratory
Paparan Pestisida terhadap Kejadian Anemia pada Petani Hortikultura Agustina, Norsita; Norfai, Norfai
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.188 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n4.1398

Abstract

Pengaruh keracunan pestisida terhadap kadar hemoglobin menyebabkan penurunan produksi atau peningkatan penghancuran sel darah merah. Tujuan penelitian ini mengetahui dan menganalisis paparan pestisida, jenis kelamin, masa kerja, dan status gizi terhadap kejadian anemia pada petani hortikultura. Penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional.  Jumlah sampel berjumlah 50 petani hortikultura di RT. 07. Kelurahan Landasan Ulin Utara Kota Banjarbaru pada bulan Juni-Agustus 2018. Data kadar cholinesterase dan kadar hemoglobin didapatkan melalui uji laboratorium di Laboratorium dasar Dinas Kota Banjarmasin, sedangkan data status gizi didapatkan dengan cara melakukan pengukuran menggunakan alat timbangan digital dan stature meter serta data jenis kelamin dan masa kerja didapatkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Hasil pengumpulan data dianalisis dengan menggunakan statistik univariate, bivariate dengan uji statistik chi square menggunakan alat bantu program komputer aplikasi statistical product and service solutions (SPSS) dengan nilai kemaknaan p=0,05. Variabel yang secara statistik terdapat hubungan bermakna dengan kejadian anemia pada petani hortikultura adalah paparan pestisida (variabel independen) dan status gizi (variabel perancu) dengan nilai p≤0,05, sedangkan variabel yang secara statistik tidak terdapat hubungan dengan kejadian anemia pada petani hortikultura adalah jenis kelamin dan masa kerja dengan nilai p>0,05. Paparan pestisida dan status gizi mempunyai kontribusi dan peranan yang sangat penting terjadi anemia pada petani hortikultura.Kata kunci: Anemia, paparan pestisida, petani hortikultura Pesticides Exposure and Anemia in Horticultural FarmersPesticide poisoning is a serious problem in agricultural communities in poor and developing countries. Pesticide poisoning on hemoglobin levels causes a decrease in production or increased destruction of red blood cells. The purpose of this study was to explore and analyze the influence of pesticide exposure, gender, working period and nutritional status on the incidence of anemia in horticultural farmers. This was a cross-sectional analytical survey on 50 horticultural farmers in Banjarbaru Landasan Ulin Utara Village RT. 07. Data on cholinesterase levels and hemoglobin levels was obtained through laboratory tests at the Banjarmasin City’s basic laboratory while the nutritional status data were obtained through measurements using digital scale and stature meter. Data on gender and working period were gained through questionnaire-based interviews. Data collected were analyzed using univariate and bivariate statistics with the chi square statistical test using the statistical product and service solutions (SPSS) with a significance value of p=0.05. Variables with statistically significant relation with the incidence of anemia in horticultural farmers were exposure to pesticides (independent variables) and nutritional status (confounding variables) with a  p-value of ≤0.05 while variables that are not statistically related to anemia in horticultural farmers are gender and working period with a p-value of >0.05. Pesticide exposure and nutritional status have a very important contribution and role in the occurrence of anemia among horticultural farmers.Key words: Anemia, exposure of pesticides, farmers of  horticulture
Jenis dan Jumlah Mikroorganisme Aerob pada Persalinan Spontan Kurang dan Cukup Bulan tanpa Ketuban Pecah Dini S. Meliala, Yan O'Neil; Krisnadi, Sofie Rifayani; Effendi, Jusuf Sulaeman
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1254.589 KB)

Abstract

Persalinan kurang bulan merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas perinatal. Angka kejadian persalinan kurang bulan yang disebabkan infeksi sebesar 40–50%. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini didahului oleh korioamnionitis serta mengetahui perbandingan jenis dan jumlah mikroorganisme aerob penyebab korioamnionitis pada persalinan spontan kurang dan cukup bulan tanpa ketuban pecah dini. Penelitian ini merupakan studi komparatif dengan rancangan studi silang (cross sectional). Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan rumah sakit jejaringnya periode Juli–Agustus 2009 dengan subjek penelitian sebanyak 53 penderita. Analisis data dengan uji statistik digunakan uji chi-kuadrat dan untuk membandingkan perbedaan dua usia persalinan rata-rata digunakan uji beda (uji t). Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Tidak terdapat perbedaan karateristik penderita pada kedua kelompok subjek penelitian. Terdapat hubungan bermakna kedua kelompok dengan korioamnionitis (p=0,004), terdapat perbedaan bermakna jenis mikroorganisme aerob antara kedua kelompok (p=0,025), dan terdapat perbedaan bermakna jumlah mikroorganisme aerob antara kedua kelompok (p=0,003). Simpulan, persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini disebabkan korioamnionitis dan jumlah mikroorganisme mempengaruhi kejadian persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah dini. [MKB. 2012;44(1):44–9].Kata kunci: Korioamnionitis, mikroorganisme aerob, persalinan spontan kurang bulan tanpa ketuban pecah diniSpecies and Number of Aerob Microorganism in Preterm and Term Spontaneous Delivery with Intact MembranePreterm birth is the main cause of perinatal mortality and morbidity. Prevalence of preterm delivery which is caused by infection is 40–50%. The aim of this study was to determine that spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane is initiated by chorioamnionitis and to find out the comparison of aerob microorganism species and number from spontaneous preterm and term delivery without premature rupture of the membrane. This was a comparative cross sectional study. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung and satelite hospital, from July to August 2009, the subjects were 53 patients. This study analyzed with chi-square and t-test to differentiate average of gestational age with p<0.05. There’s no significant difference of characteristic between two research subject groups, significant difference between two research subject groups with chorioamnionitis (p=0.004), significant difference of aerob microorganism species between two research subject groups (p=0.025) and significant difference number of aerob microorganism between two research subjects (p=0.003). In conclusions, chorioamnionitis can initiate a spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane and the number of microorganism indicated the virulence of microorganism that caused chorioamnionitis which is initiated spontaneous preterm delivery without premature rupture. [MKB. 2012;44(1):44–9].Key words: Aerob microorganism, chorioamnionitis, spontaneous preterm delivery without premature rupture of the membrane DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.211
Luaran Penutupan Duktus Arteriosus Persisten Transkateter di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Kuswiyanto, Rahmat Budi; Firman, Armijn; Rayani, Putria; Rahayuningsih, Sri Endah
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.36 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.915

Abstract

Saat ini penutupan duktus arteriosus persisten (DAP) transkateter merupakan terapi pilihan karena memiliki efikasi yang baik, masa rawat yang singkat, risiko yang lebih rendah, dan bebas dari parut dada. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi luaran jangka pendek dan menengah penutupan DAP transkateter. Penelitian merupakan laporan deskriptif analitik pasien yang menjalani penutupan DAP transkateter secara konsekutif di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode Mei 2011 sampai dengan Juni 2014 dengan melakukan evaluasi pemeriksaan klinis dan ekokardiografi saat 24 jam, 1, 3, 6, dan 12 bulan setelah prosedur. Selama periode penelitian terdapat 132 pasien DAP yang menjalani penutupan transkateter, terdiri atas 42 laki-laki dan 90 perempuan, dengan median usia 3,9 tahun, berat badan 11,25 kg, tekanan sistol arteri pulmonalis 56 mmHg, ukuran defek 3,4 mm, flow ratio 2,8, fluoroscopy time 16 menit, dan procedure time 67 menit. Segera setelah prosedur 54% memperlihatkan penutupan lengkap, smoky residual 41%, dan residual ringan 6%. Sebagian besar pasien dipulangkan sehari setelah prosedur, tidak ada yang meninggal dan komplikasi hanya 3,8%. Semua pasien memperlihatkan penutupan lengkap pada follow-up. Penutupan DAP transkateter merupakan terapi yang aman dan efektif dengan masa rawat yang singkat dan komplikasi yang minimal. [MKB. 2016;48(4):234–40]Kata kunci: Duktus arteriosus persisten, penutupan transkateter Outcome of Transcatheter Occlusion of Patent Ductus Arteriosus in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung: a Preliminary ReportAbstractTranscatheter closure of patent ductus arteriosus (PDA) is a treatment of choice with good efficacy, shorter hospitalization, less risks, and chest scar free. The objective of this study was to evaluate the immediate and mid-term outcomes of transcatheter closure of PDA. An analytic descriptive study was peformed on patients underwent transcatheter PDA occlusion in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between May 2011 and June 2014. Evaluation was conducted through clinical examination and echocardiography 24 hours, 1, 3, 6 and 12 months after the procedure. The procedure was successful in 132 PDA patients (42 males and 90 females). The median age, body weight, systolic pulmonary artery pressure, PDA size, flow ratio, fluoroscopy time, and procedure time were 3.9 years, 11.25 kg, 56 mmHg, 3.4 mm, 2.8, 16 minutes, and 67 minutes, respectively. Immediately after the procedure, 54% patients had complete closure, 41% experienced smoky residual shunt and only 5% experienced small residual shunt. The mortality and complication rate was 3.8%. Most of the patients were discharged the next day after the procedure. All patients showed complete closure during followed-up. Transcatheter closure of PDA is safe and effective with shorter hospitalization and minimum complications. [MKB. 2016;48(4):234–40]Key words: Patent ductus arteriosus transcatheter closure
Hubungan Kadar Albumin Serum dengan Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin Urine pada Penderita Sindrom Nefrotik Anak Nurisya, Deasy; Nataprawira, Heda Melinda; Sekarwana, Nanan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.755 KB)

Abstract

Neutrophil gelatinase-associated lipocalin  (NGAL)  merupakan  penanda biologis  kerusakan ginjal yang kadarnya meningkat sejalan dengan terjadinya kerusakan pada tubulus proksimal. Tujuan  penelitian untuk  menganalisis hubungan  kadar albumin serum dengan NGAL urine pada penderita SN anak dalam serangan.  Subjek adalah  penderita SN dalam serangan berusia 1−14 tahun. Penelitian observasional analitik dengan metode potong lintang dilaksanakan  di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah  Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung dari September 2011 sampai Maret 2012. Pemeriksaan kadar albumin serum  dilakukan dengan metode bromcresol green dan  NGAL urine dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Uji statistik dengan Korelasi  Pearson  untuk data dengan distribusi normal.  Subjek terdiri atas 14 laki-laki dan 10 perempuan. Kadar albumin serum rerata dan  NGAL urine rerata  adalah 1,37 (SB 0,33) g/dL dan  2.719,37 (SB 3.781,82) ng/mL.  Hasil analisis menunjukkan hubungan bermakna antara penurunan kadar albumin serum dan  peningkatan kadar NGAL urine (r=-0,519; p=0,009).  Simpulan, semakin rendah kadar albumin serum maka semakin tinggi kadar  NGAL urine. Pada penderita SN anak dengan hipoalbuminemia perlu diwaspadai penurunan fungsi ginjal.    Kata kunci: Albumin, anak,  NGAL urine, sindrom nefrotikCorrelation between Serum Albumin and Urine Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin Levels in Children with Nephrotic SyndromeNeutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) is a biological marker found in kidney damage that increases in proximal tubular  damage. The purpose of this study was to analyze the correlation between serum albumin and  urine NGAL (uNGAL) levels in children with NS at initial presentation or relapse. Subjects in this study were 1−14 year-old children with NS. An observational analytical study with cross sectional design was conducted in the Pediatric Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Bandung City Public Hospital from September 2011 to March 2012. The serum albumin level and uNGAL level were measured using bromcresol green method and enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), respectively. Data were analyzed using Pearson correlation test on normal distribution data. Subjects consisted of 14 boys  and 10 girls. Mean serum albumin  and  uNGAL levels were 1.37 (SD 0.33) g/dL  and  2,719.37 (SD 3,781.82) ng/mL, respectively. There was a significant correlation between decreased albumin level and elevated uNGAL level (r=−0.519, p=0.009). In conclusion, the lower the albumin level, the higher the uNGAL level. An awareness should be developed towards the possibility that hypoalbuminemia in children with NS might decrease renal function. Key words:  Albumin, children, nephrotic syndrome, uNGAL DOI: 10.15395/mkb.v46n3.319
Isolasi Bacillus thuringiensis Lokal dari Tanah Kota Bandung Berdasarkan Ketinggian Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana; Faridah, Lia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1055

Abstract

Demam dengue (DD) merupakan penyakit endemis di negara berkembang termasuk Indonesia. Kasus DD di Kota Bandung mencapai angka tertinggi di antara kota lain di Jawa Barat, yaitu sebesar 1.180 kasus. Belum ditemukan obat yang tepat dalam menangani infeksi ini. Walaupun sudah ditemukan vaksin, namun penggunaan vaksin ini masih terbatas pada usia dan kalangan tertentu. Dengan demikian, pengendalian vektor baik secara kimiawi maupun biologis, masih menjadi prioritas. Salah satu agen biologis untuk mengendalikan populasi larva nyamuk adalah Bacillus thuringiensis (Bt). Penelitian dilakukan selama bulan Januari–Desember 2015. Penelitian ini merupakan suatu eksperimen dengan rancangan faktorial yang bertujuan mendapatkan isolat Bt dari tanah di berbagai ketinggian di Kota Bandung. Sampel tanah diambil dari ketinggian 600 m, 800 m, serta 1000 m dan setiap ketinggian diambil 3 lokasi dengan metode acak. Bt diisolasi dengan medium selektif. Isolat bakteri yang diperoleh kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan gram, pengamatan endospora subterminal, uji fermentasi glukosa, sitrat, indol, dan manitol. Kelimpahan Bt di tiap ketinggian dihitung menggunakan Bt index. Hasil identifikasi mendeteksi terdapat 3 isolat yang menunjukkan kemiripan dengan Bt, yaitu isolat STBD.2.02, CBRM.3.01, dan KOPO.3.02. Nilai Bt index menunjukkan kelimpahan Bt di ketinggian 800 m lebih tinggi dibanding dengan ketinggian yang lain. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Kata kunci: Bacillus thuringiensis lokal, Bandung, ketinggian, tanah     Local Bacillus thuringiensis Isolation from Bandung Soil by Altitude Dengue fever (DF) is an endemic disease in developing countries including Indonesia. Bandung has the highest number of Dengue Fever in West Java Province with 1,180 cases. There  is currently  no drugs or vaccines that can prevent dengue fever and dengue hemorrhagic fever, making vector control, both chemically and biologically, the primary prevention approach. One biological agent that has been used to control the larval population is Bacillus thuringiensis (Bt). This study is an experimental study with factorial design aimed to obtain Bt isolates from soil of various altitude around Bandung city area period January to December 2015. Soil samples were acquired from 600 m, 800 m and 1,000 m above sea level. Sampling was conducted randomly from 3 points at every altitude. Bt were isolated with a selective medium. The acquired bacteria samples were then identified using gram stain, subterminal endospore observation, as well as glucose fermentation, citrate, indole, and manitol tests. Bt abundance for each altitude was calculated using Bt index. Three isolates with similarity with Bt were identified, i.e. STBD 2.02, CBRM 3.01 and KOPO 3.02 isolates. Bt index value indicates that the abundance of Bt at 800 m altitude is the highest compared to others. [MKB. 2017;49(2):110–4]   Key words: Altitude, Bandung, local Bacillus thuringiensis, soil
Metode Cepat Identifikasi Flavonoid dari Daun Ocimum sanctum L. (Selasih) Dhianawaty, Diah; Panigoro, Ramdan; Surialaga, Samsudin; Purushothman, Pricilla
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1897.245 KB)

Abstract

Manfaat suatu tumbuhan sebagai obat herbal diperoleh dari kandungan kimianya, misalnya flavonoid. Flavonoid bermanfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Oleh karena itu, kandungan flavonoid dapat dijadikan sebagai acuan manfaat suatu tanaman dan dibutuhkan metode identifikasi flavonoid yang cepat. Tujuan penelitian untuk memperoleh metode cepat kandungan flavonoid dalam Ocimum sanctum. Telah dilakukan penelitian ekstraksi, isolasi, dan identifikasi flavonoid daun Ocimum sanctum di laboratorium Kimia Medik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada tahun 2005. Flavonoid diekstraksi sinambung dengan etanol 95%, diisolasi dengan kromatografi kertas/lapis tipis selulose dan asam asetat 2%, kemudian dilanjutkan dengan pengembang: n-butanol–asam asetat–air, kloroform–asam asetat–air, forestall, asam asetat 5%, 15%, 35%, dan 50%. Flavonoid diidentifikasi dengan pereaksi geser dan sinar ultraviolet. Hasil isolasi dengan asam asetat 2% dan 35% berturut-turut memberikan dua bercak flavonoid, sebagai flavon, FOAc-1 mempunyai Rf=0,69 dan FOAc-2 mempunyai Rf=0,57. Pengembang lainnya memberikan satu bercak flavonoid. Simpulan, isolasi dengan asam asetat 2% dan 35% berturut-turut serta identifikasi dengan pereaksi geser dan sinar ultraviolet merupakan metode yang cepat untuk identifikasi kandungan flavonoid dalam Ocimum sanctum. [MKB. 2012;44(1):32–7]. Kata kunci: Flavonoid, identifikasi flavonoid, Ocimum sanctumRapid Identification Method of Flavonoid from Ocimum sanctum L. (Selasih) Leaves A plant’s effectiveness as a herbal drug comes from its chemical content such as flavonoids. Flavonoids are useful for human body health. Therefore flavonoids content can be used as a marker from the usefulness of a plant, and rapid identification method of flavonoid is needed. The objective of the research was to get a rapid method of flavonoid content identification from Ocimum sanctum. The extraction, isolation and identification of flavonoids from Ocimum sanctum leaves has been done at Medical Chemistry laboratory Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran in 2005. Flavonoids were extracted continually by 95% ethanol, were isolated with paper chromatography/cellulose TLC and 2% acetic acid, then continued with elucidation reagents: n-butanol–acetic acid–water, chloroform–acetic acid–water, forestall, 5%, 15%, 35% and 50% acetic acids. Flavonoids were identified with diagnostic reagents and ultraviolet light. Isolation with 2% and 35% acetic acids respectively gave two spots of flavonoids as flavon, FOAc-1 had Rf=0.69 and FOAc-2 had Rf=0.57. The other elucidation reagents gave one spot of flavonoid. In conclusion, isolation with 2% and 35% acetic acids respectively and identification with diagnostic reagent and ultraviolet light is a rapid method for identification of flavonoids content in Ocimum sanctum. [MKB. 2012;44(1):32–7].Key words: Flavonoid, identification of flavonoid, Ocimum sanctum DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.73
Daya Antibakteri Filtrat Asam Laktat dan Bakteriosin Lactobacillus bulgaricus KS1 dalam Menghambat Pertumbuhan Klebsiella pneumoniae Strain ATCC 700603, CT1538, dan S941 Fauziah, Prima Nanda; Nurhajati, Jetty; Chrysanti, -
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.559 KB)

Abstract

Lactobacillus bulgaricus menghasilkan asam laktat dan bakteriosin yang memiliki efek farmakologik, di antaranya sebagai antibakteri. Klebsiella pneumoniae penyebab pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri asam laktat dan bakteriosin L. bulgaricus terhadap berbagai strain K. pneumoniae secara in vitro dengan menggunakan teknik agar tuang dan difusi cakram, selanjutnya data dianalisis dengan ANAVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan’s multiple range test (DMRT). Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung pada bulan Agustus­–Oktober 2012. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 30% filtrat asam laktat dan 20% filtrat bakteriosin L. bulgaricus bersifat bakterisidal terhadap berbagai strain K. pneumoniae. Semakin besar konsentrasi filtrat asam laktat dan bakteriosin L. bulgaricus menunjukkan pengaruh peningkatan daerah hambat berbagai strain K. pneumoniae. Analisis data dengan ANAVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan’s multiple range test (DMRT) menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi filtrat terbesar terhadap daerah hambat K. pneumoniae diperoleh pada perlakuan konsentrasi 90% filtrat asam laktat L. bulgaricus, sedangkan daerah hambat terbesar diperoleh K. pneumoniae strain ATCC 700603 pada konsentrasi 90% filtrat bakteriosin sebesar 16,667 mm. Simpulan, filtrat asam laktat dan bakteriosin L. bulgaricus memiliki daya antibakteri terhadap pertumbuhan K. pneumoniae. Besar daya antibakteri L. bulgaricus  terhadap pertumbuhan K. pneumoniae dipengaruhi oleh jenis filtrat, konsentrasi filtrat L. bulgaricus, dan strain bakteri K. pneumoniae. [MKB. 2015;47(1):35–41]Kata kunci: Antibakteri, asam laktat, bakteriosin, Klebsiella pneumoniae, Lactobacillus bulgaricusAntibacterial Effect of Lactic Acid Filtrate and Bacteriocins of Lactobacillus bulgaricus KS1 on Inhibiting the Growth of Klebsiella pneumoniae ATCC 700603, CT1538, and S941 StrainsLactobacillus bulgaricus produces lactic acid and bacteriocin which have been reported to have various pharmacologic properties, including their role  an antibacterial agent. Klebsiella pneumoniae, as an agent of pneumonia, remains a public health problem in tropical countries. This study was aimed to observe the antibacterial activities of lactic acid filtrate and bacteriocins of L. bulgaricus toward againsts K. pneumoniae strains by in vitro experiment. The experiment took place in Microbiology Laboratory, Teaching Hospital, Padjadjaran University, Bandung, August–October 2012. In vitro laboratory analytic study has been conducted on lactic acid filtrate and bacteriocins of L. bulgaricus against the K. pneumoniae strains. The study used agar pour plate and agar disk diffusion method and analyzed by ANAVA followed by Duncan’s multiple range test (DMRT). The 30% lactic acid filtrate and 20% bacteriocins filtrate concentrations of L. bulgaricus showed bactericidal characteristics againts the growth of K. pneumoniae strains. Greater concentration of lactic acid filtrate and bacteriocins of L. bulgaricus led toincreasing effect of growth inhibition zones of K. pneumoniae strains. Statistical analysis of variance (ANOVA) showed that the greatest concentration effect of L. bulgaricus filtratefor inhibiting K. pneumoniae strains was achieved in 90% lactic acid filtrate concentration treatment, whereas the greatest inhibition zones for K. pneumoniae ATCC 700603 was obtaubed in 90% bacteriocins filtrate concentration, amounting 16.667 mm. In conclusion, lactic acid filtrate and bacteriocins L. bulgaricus have antibacterial effects on K. pneumoniae. The level of antibacterial effect of L. bulgaricus against the growth of K. pneumoniae strains depends on the type of  filtrate, L. bulgaricus filtrate concentration, and K. pneumoniae strain. [MKB. 2015;47(1):35–41]Key words: Antibacterial, bacteriocins, Klebsiella pneumoniae, lactic acid, Lactobacillus bulgaricus DOI: 10.15395/mkb.v47n1.395   
Hubungan antara Pola Sidik Bibir dan Jenis Suku Melayu Riau Afandi, Dedi; Mandatasari, Melissa
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.827 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n4.1147

Abstract

Sidik bibir telah lama digunakan sebagai salah satu metode identifikasi individu.  Penelitian hubungan pola sidik bibir dengan jenis suku belum banyak diteliti, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendapatkan hubungan pola sidik bibir antara galur murni suku Melayu Riau dan suku bukan Melayu Riau.Penelitian studi potong lintang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Riau antara bulan Juli sampai Agustus tahun 2015.  Sebanyak 160 mahasiswa memenuhi kriteria sampel penelitian dengan metode pengambilan sampel secara acak sederhana.  Kriteria eksklusi adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran yang mengalami kelainan anatomi pada bibirnya (labiochisis/ labiopalatochisis), pascatrauma, dan alergi terhadap lipstik. Metode Vahanwal-Nayak-Pagare digunakan untuk mencetak pola sidik bibir. Pola sidik bibir ditetapkan dengan menggunakan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi pada kedelapan kuadran bibir.  Jenis suku terbanyak adalah suku bukan Melayu Riau 111 (69,4%) dibanding dengan galur murni suku Melayu Riau 49(30,6%). Uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan hanya pada kuadran 3 (p = 0,04).  Dapat disimpulkan bahwa pola sidik bibir dapat digunakan untuk metode alternatif identifikasi personal, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk membedakan galur murni suku Melayu Riau dengan bukan Melayu Riau pada populasi penelitian.Kata kunci: Klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi, sidik bibir, suku melayu RiauAssociation between Lip Print Pattern and Riau Malay EthnicsLip print have long been used as one of the personal identification methods. Studies on the lip print pattern associated with ethnicity has not been widely available, especially in Indonesia. This was a  study aimed to identify association between lip printi patterns and pure strains of Riau Malay and non-Malay Riau. A cross-sectional study was conducted at the Faculty of Medicine, University of Riau, between July to August 2015. A total of 160 students who met the criteria were selected through simple random sampling. Exclusion criteria were lip anatomic abnormalities (labiochisis/labiopalatochisis), post trauma experience, and allergic to lipstick. The Vahanwal-Nayak-Pagare method was used for printing the lip pattern. Lip print pattern was established using Suzuki and Tsuchihashi classification on eight lip quadrants. Most subjects were non-Malay Riau 111 (69.4%) with the remainings were identified as (n=49, 30.6%). The statistical test showed a significant relation only in Quadrant 3 (p=0,04). It is concluded that lip print pattern can be used as an alternative method in personal identification; however, it cannot be used to distinguish the pure strains of the Riau Malay ethnics from the non-Riau Malay ethnics in the study population. Key words: Lip print, Riau Malay ethnic, Suzuki and Tsuchihashi classification
Polimorfisme Gly972Arg Gen IRS-1 dan Cys981Tyr Gen PTPN1 sebagai Faktor Risiko pada Sindrom Metabolik dengan Riwayat Berat Bayi Lahir Rendah Permana, Hikmat; Nugraha, Gaga Irawan; Kariadi, Sri Hartini K. S.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1889.983 KB)

Abstract

Peningkatan prevalensi obesitas terjadi di seluruh dunia dan dapat mengenai semua tingkatan usia. Faktor risiko peningkatan sindrom metabolik berhubungan dengan perubahan gaya hidup, obesitas, dan berat lahir rendah. Penelitian ini dilakukan bertujuan menganalisis genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan berat bayi lahir rendah (BBLR) sebagai risiko terhadap sindrom metabolik. Pada tahun 2009 terkumpul sebanyak 97 BBLR dan 100 bayi berat lahir normal (BBLN) berusia 20–21 tahun. Penelitian kohort retrospektif ini merupakan bagian penelitian kohort sebelumnya di kecamatan Tanjung Sari pada tahun 1989. Peran genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan BBLR terhadap sindrom metabolik diuji dengan regresi logistik multipel. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna genotipe IRS-1 dan PTPN1 dengan faktor-faktor sindrom metabolik, tetapi hanya genotipe IRS-1 berhubungan signifikan dengan trigliserida (p=0,006). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 pada BBLR mempunyai nilai prediksi terhadap peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 menunjukkan faktor risiko terhadap tekanan darah sistol dan kolesterol high density lipoprotein (HDL). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 merupakan faktor dominan sebagai penyebab peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Simpulan, polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 merupakan faktor risiko peningkatan tekanan darah sistol dan kolesterol HDL. Bayi berat lahir rendah merupakan faktor risiko peningkatan gula darah puasa. [MKB. 2012;44(3):170–8].Role of Polymorphism Gly972Arg Gene IRS-1 and Cys981Tyr Gene PTPN1 as Risk Factors in Metabolic Syndrome with History of Low Birth WeightIncreasing prevalence of obesity occurs worldwide and can affect all ages levels. Risk factors of increasing metabolic syndrome were associated with changes in lifestyle, obesity and low birth weight (LBW). This study was aimed to analyze the genotype IRS-1, genotype PTPN1 and LBW in metabolic syndrome risk factors. In 2009, this restrospective cohort study was comprised of 97 LBW and 100 normal birth weight (NBW), aged 20–21 years old, from the previous cohort study in District Tanjung Sari since 1989. The role of IRS-1 gene, PTPN1 gene and LBW in the metabolic syndrome factors were analyzed using multiple logistic regressions. The result showed there were no significant relationship between IRS-1 and PTPN1 genotype with metabolic syndrome factors but only IRS-1 genotype was significantly associated with trygliceride (p=0.006). Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism in LBW has predictive value of increasing diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism showed a risk factor for systolic blood pressure and high density lipoprotein (HDL) cholesterol. Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism was a dominant factor to increase diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. In conclusions, Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism is a risk factor of increased systolic blood pressure and HDL cholesterol, and LBW is the risk factor increasing fasting glucose level. [MKB. 2012;44(3):170–8]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.137