Warta Ardhia: Jurnal Transportasi
Jurnal Warta Ardhia adalah jurnal yang mewadahi publikasi ilmiah peer-reviewed serta sumber informasi yang kredibel dari hasil penelitian, ide, dan gagasan dengan cakupan nasional dan global. Publikasi tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan pengetahuan serta memperkuat kemampuan stakeholder terkait dalam mengenali dan memecahkan berbagai persoalan di sektor transportasi. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, yang sebelumnya diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara dengan Nomor Akreditasi 72/E/KPT/2024. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang transportasi udara, yang mencakup kebijakan, sarana, prasarana, rute, tarif, evaluasi kebijakan, serta perkembangan teknologi. Seluruh artikel ditelaah oleh minimal dua orang reviewer. Warta Ardhia diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles
281 Documents
Pengoperasian Bandara Pondok Cabe untuk Penerbangan Jarak Pendek (Airtaxi) Menggunakan Pesawat Udara Jenis Turboprop
Lita Yarlina;
Evy Lindasari
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v45i1.352.21-36
Bandar Udara Khusus Pondok Cabe merupakan bandar udara domestik yang beroperasi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 55 tahun 2015 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulation) tentang Bandar Udara (Aerodrome). Status Bandar Udara Pondok Cabe, Propinsi Banten, adalah milik PT. Pertamina (Persero) yang dikelola oleh PT. Indo Pelita Air Service, anak usaha PT. Pertamina (Persero). Metode analisis yang digunakan dalam pengkajian ini dengan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu mengevaluasi berbagai aspek yakni kesiapan sarana dan prasarana bandara Pondok Cabe menjadi bandar udara yang diusahakan pengoperasiannya untuk penerbangan jarak pendek (airtaxi) dengan menggunakan pesawat udara jenis turbo prop sebagai objek kajian. Bandar udara Pondok Cabe berpeluang menjadi bandar udara yang diusahakan pengoperasiannya untuk penerbangan jarak pendek (airtaxi) dengan menggunakan pesawat udara jenis turbo prop, tetapi untuk penggunaan ruang udara harus disesuikan dengan slot time penerbangan (flight schedule) di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Selama pesawat udara melakukan approach hingga landing di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, maka pergerakan (take-off/landing) di Bandar Udara Pondok Cabe dikoordinasikan dengan penyelenggara navigasi Airnav Halim dikarenakan berada pada template missed approach segment dan OCA Final Approach Segment adalah 535 ft. Selama terdapat pesawat udara yang melakukan holding di HLM VOR, pergerakan pesawat udara take-off/landing di Bandar Udara Pondok Cabe dibatasi ketinggian maksimum 1500 ft. Pengawasan dan pengendalian terhadap pelayanan navigasi penerbangan (air traffic services) Bandar Udara Pondok Cabe jika menjadi bandar udara yang diusahakan untuk melayani penerbangan jarak pendek (airtaxi) tetap di lakukan Airnav Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Fasilitas navigasi yang terdapat pada Bandar Udara Pondok Cabe berupa Non Directional Beacon (NDB) sehingga prosedur yang dapat dibuat adalah Instrument Approach Procedure (IAP) NDB RWY 36 untuk CategoriA/B.
OPTIMALISASI KETERSEDIAAN TEMPAT DUDUK (SEAT CAPACITY) ANGKUTAN UDARA PADA MASA LEBARAN DENGAN PENDEKATAN POTENTIAL DEMAND BERBASIS BIG DATA
Eny Yuliawati;
Susanti Susanti;
Yati Nurhayati;
Lita Yarlina
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v45i1.351.37-48
Trend permintaan angkutan udara menunjukkan kecenderungan meningkat secara signifikan, namun ketersediaan tempat duduk sering tidak terpenuhi terutama pada masa lebaran H-7 s.d H+7. Disisi lain terdapat permasalahan beban angkutan jalan yang sangat tinggi pada masa lebaran khususnya di Pulau Jawa yang berdampak pada lamanya waktu tempuh arus mudik-balik masa lebaran. Moda angkutan udara dapat dimaksimalkan pada koridor tertentu untuk mengurangi beban jalan pada masa arus mudik balik lebaran. Potential demand dengan pendekatan Big Data melalui Maskapai Penerbangan dan Travel Agent Online dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan ketersediaan tempat duduk (seat capacity) pesawat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Optimalisasi melalaui pendekatan Big Data bersinergi dengan para stakeholders diharapkan dapat memetakan potential demand, sehingga dapat tercapai pemenuhan kebutuhan ketersediaan tempat duduk (seat capacity) pada masa lebaran. Hasil penelitian menunjukan dari 12 rute penerbangan yang diduga merupakan rute terpadat, terdapat 6 rute yang perlu dilakukan penambahan seat capacity mengingat potensi permintaan penumpang angkutan udara yang cukup tinggi. Sementara pengamatan terhadap kemampuan bandar udara, dari enam (6) bandara pengamatan diperoleh hasil bahwa bandara “mampu” melayani lonjakan arus mudik balik lebaran. Penilaian didasari atas variabel yang dijadikan indikator untuk menentukan kesiapan, variabel tersebut adalah fasilitas dan personil sisi udara, sisi darat, ground handling dan ketersediaan slot time. Dari ke-6 bandara tersebut 5 (lima) bandara siap melayani penerbangan extra flight maupun penggantian pesawat menjadi wide body (bigger size), sementara hanya 1 bandara yaitu Bandara Adi Sucipto yang tidak memungkinkan untuk melakukan penambahan kapasitas melalui perubahan type pesawat yang lebih besar (bigger Size), dengan demikian penambahan kapasitas dilakukan melalui penambahan frekwensi penerbangan (extra flight). Sementara berdasarkan capturing terhadap potential demand berbasis big data diperoleh hasil terdapat 64 % hingga 89,5 % penumpang yang tidak dapat memperoleh tiket pada 12 rute pengamatan selama rentang masa lebaran tahun 2018. Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan kebijakan para stakeholders dan memberikan impact terhadap ketersediaan kursi (seat capacity) angkutan udara pada masa lebaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta diharapkan pula pada koridor tertentu angkutan udara dapat mengurangi beban jalan sehingga tidak terjadi kemacetan panjang selama masa arus mudik balik lebaran.
Evaluasi Pengelolaan General Aviation Terminal (GAT) Ditinjau Dari Regulasi Penerbangan
Harry Yanto
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
General Aviation dan Air Charter menjadi salah satu sektor terobosan yang semakin berkembang. Kebanyakan penumpang di GAT ini merupakan pengguna pesawat carter untuk kebutuhan wisata sekaligus bisnis. Di Indonesia, pengembangan General Aviation Terminal di bandar udara belum secara spesifik diperuntukkan untuk melayani penerbangan General Aviation dan Air Charter yang melayani masyarakat umum. Saat ini Bandar udara Ngurah Rai Bali yang sudah menyediakan terminal khusus bagi penumpang pesawat General Aviation dan Air Charter. Dalam pengelolaan General Aviation Terminal (GAT) harus mengacu terhadap standar. Namun saat ini aturan pengelolaan GAT secara khusus belum ada masih mengacu terhadap standar pengelolaan terminal penerbangan komersil. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan bahwa masih perlu ditingkatkan standar keamanan bagi penumpang dalam pemeriksaan penumpang dan bagasi serta optimalisasi fasilitas dan jumlah petugas dalam meningkatkan pelayanan.
Pengaruh Steep Approach Terhadap Operasional Runway
Faisal Esa Arighi;
Ervina Ahyudanari
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v45i1.341.1-12
Kebutuhan transportasi udara terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kebutuhan ini juga berdampak pada lingkungan sekitar bandar udara dan salah satunya adalah dampak kebisingan dari operasional pesawat. Dalam penelitian ini, akan dibandingkan kapasitas runway dengan sudut approach standar (3⁰) dengan steep approach (4,5⁰). Dengan data lalu lintas dari peak hour eksisting, akan diketahui kapasitas runway awal menggunakan diagram ruang-waktu yang menghasilkan kapasitas ultimate dari runway tersebut dan dapat diketahui pula kapasitas runway steep approach. Dengan kapasitas runway ultimate dan kapasitas runway steep approach, akan diketahui perbedaan kapasitas dari kedua metode approach dan diketahui pengurangan kapasitas dari steep approach. Hasil analisa menggunakan diagram ruang waktu menunjukkan bahwa tidak terjadi pengurangan kapasitas dengan 34 pergerakan per jam. Jenis pesawat yang memenuhi target kecepatan 137±4kt adalah Airbus A320. Kesimpulan dari penelitian ini adalah steep approach tidak mengurangi kapasitas runway pada peak hour. Pada peak hour, pesawat cenderung homogen dalam tipe wake turbulence yang dihasilkan. Penggunaan ILS akan diperuntukkan bagi standard approach dan steep approach dapat menggunakan Microwave Landing System atau GBAS (Ground Based Augmentation System) Landing System. Terjadi pengurangan kebisingan tingkat 2 dari 1400 m menjadi 1282 m dan pada area perumahan sekitar bandara sebesar 60,5%.
Perbandingan Karakteristik Marshall Gradasi BBA dan Gradasi FAA Untuk Perkerasan Bandara dengan Memanfaatkan Agregat Buatan
Gusti Made Bagus Baskara
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v45i1.340.59-66
One important part of the asphalt mixture is the aggregate gradation. Characteristics of concrete asphalt mixtures such as stability and flow are strongly influenced by aggregate gradations. The purpose of this study is to obtain the Marshall characteristics of asphalt concrete mixtures using artificial aggregates with BBA (Bitumineux pour chausées Aéronautiques) gradation and FAA (Federal Aviation Administration) gradation. Artificial aggregates that have been obtained in previous studies are the materials that will be used in this study. From the results experiment it was found that the asphalt concrete mixture using BBA gradation had the highest stability compare to the stability of FAA gradation with value of 2055,9 Kg and 2039,1 Kg respectively. The highest flow value in the BBA gradation mixture was 3.63 mm while the FAA gradation mixture was 3.60 mm. For Marshall Quotient values, the mixture of BBA gradation is 566.8 Kg / mm and FAA gradation mixture is 571.8 Kg / mm. Salah satu bagian penting dalam campuran beraspal adalah gradasi agregat. Karakteristik campuran aspal beton seperti stabilitas dan flow sangat dipengaruhi oleh gradasi agregat. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan karakteristik Marshall campuran aspal beton yang menggunakan agregat buatan dengan gradasi BBA (Beton Bitumineux pour chausées Aéronautiques) dan gradasi FAA (Federal Aviation Administration). Agregat buatan yang sudah diperoleh dalam penelitian sebelumnya menjadi bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini. Dari hasil pemeriksaan didapat bahwa campuran aspal beton yang menggunakan gradasi BBA mempunyai nilai stabilitas tertinggi yaitu sebesar 2055,9 Kg, sedangkan nilai stabilitas campuran gradasi FAA sebesar 2039,1 Kg. Nilai flow tertinggi pada campuran gradasi BBA yaitu sebesar 3,63 mm sedangkan campuran gradasi FAA sebesar 3,60 mm. Untuk nilai Marshall Quotient campuran gradasi BBA sebesar 566,8 Kg/mm dan campuran gradasi FAA sebesar 571,8 Kg/mm.
Kajian Potensi Cross Wind Dalam Pembangunan New Yogyakarta International Airport Guna Keselamatan Penerbangan
fatkhu royan;
Bambang Wijayanto
Warta Ardhia Vol. 45 No. 1 (2019)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v45i1.339.49-58
Angin merupakan unsur cuaca yang sangat penting dalam keselamatan penerbangan. Penelitian ini bertujuan melakukan analisa profil angin bulanan dan potensi terjadinya Crosswind dalam pembangunan New Yogyakarta International Airport. Metode yang dipakai dengan memasang 4 (empat)buah AWS (Automatic Weather Station) di ujung landasan selama bulan Maret Huingga September 2017. Hasil pengamatan dan analisa menunjukan bahwa pola angin pada periode Maret – Mei memiliki arah yang bervariasi dengan kecepatan rata-rata 5 – 8 knot. Pada Juni – September, pola angin berhembus dari arah Timur – Tenggara dengan kecepatan rata-rata 6 – 9 knot. Selama periode pengamatan kecepatan angin maksimum yang terjadi antara 14 – 20 knot dan tidak ditemukan potensi terjadinya cross wind untuk panjang runway 3.600 meter.
THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE, JOB SATISFACTION, AND PROFESSIONAL COMMITMENT ON INNOVATIVE BEHAVIOR OF FLIGHT INSTRUCTORS AT THE CIVIL FLIGHT SCHOOL IN INDONESIA
Afen Sena
Warta Ardhia Vol. 46 No. 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v46i1.374.1-17
Abstract—In a dynamic and rapidly changing environment, innovation is the crucial factor for organizational success. Innovations that are needed primarily are innovations at the individual level or innovative behavior, which is a source of innovation at the organization level. This study aims to investigate the factors that influence the flight instructor's innovative behavior at flight schools in Indonesia, mainly based on organizational culture, job satisfaction, and professional commitment. The study used a quantitative approach with a survey method with a sample of 98 flight instructors taken through simple random sampling. Data collection is using a questionnaire with a five-point Likert scale and data analysis using path analysis. The findings in the study indicate that organizational culture, job satisfaction, and professional commitment have a positive direct effect on innovative behavior. Organizational culture is also indicating to have a positive direct effect on job satisfaction and professional commitment. Other findings show that job satisfaction does not directly effect on professional commitment. Based on the results of this study, the factors of organizational culture, job satisfaction, and professional commitment must be positioned as a strategic factor in the process of organizational management at flight schools in order to obtain sufficient attention. These three factors must also be continuously improved to strengthen innovative behavior among flight instructors.
Analisa Kesepakatan ASEAN Open Skies Terhadap Lalu Lintas Penumpang dan Pesawat di Asia Tenggara
Benny Lala Sembiring
Warta Ardhia Vol. 46 No. 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v46i1.390.18-25
Sektor transportasi udara merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kegiatan perekonomian di suatu negara. untuk mencapai hal tersebut negara-negara yang tergabung di dalam ASEAN (Association of South East Asian Nation) sepakat untuk menjalankan kebijakan liberalisasi transportasi udara atau lebih dikenal dengan ASEAN Single Aviation Market (ASAM) atau ASEAN Open Skies. Tujuan dari kebijakan tersebut adalah meliberalisasi akses pasar dengan mengendurkan hambatan kebebasan transportasi udara (freedom of air) yang ke-3, ke-4 dan ke-5 antar negara-negara anggota ASEAN. Studi ini secara spesifik bertujuan untuk menghitung akibat dari kesepakatan ASEAN Single Aviation Market terhadap volume penumpang internasional dan maskapai penerbangan (low-cost carrier/LCC dan full-service carrier/FSC). Studi ini menggunakan data lalu lintas penumpang dan pesawat yang diperoleh dari OAG (official airline guide) yaitu data lalu lintas udara dengan rute kedatangan dan keberangkatan 30 bandara utama internasional di Asia Timur dan Asia Tenggara, pada periode waktu tahun 2010, 2015 dan 2017). Metode penelitian yang digunakan pada studi ini menggunakan DID (Difference in Differences) fixed effects, dengan jumlah observasi sebanyak 232,437 OD city pair (Origin-destination city pair). Hasil dari studi menunjukkan bahwa kesepakatan ASEAN Open Skies berdampak positif terhadap lalu lintas penumpang dan pesawat, yaitu total penumpang internasional, penumpang LCC, maskapai LCC, dan maskapai FSC pada rute antar-kota di Asia Tenggara, baik rute kedatangan maupun keberangkatan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur yang terkait dengan industri penerbangan khususnya tentang liberalisasi transportasi udara.
Percepatan Implementasi Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Untuk Pengembangan Infrastruktur Bandar Udara di Indonesia
Yati NURHAYATI Nurhayati;
DEDES KUSUMAWATI KUSUMAWATI KUSUMAWATI;
ENY YULIAWATI YULIAWATI YULIAWATI
Warta Ardhia Vol. 46 No. 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v46i1.359.26-38
Minimnya dana yang dimiliki oleh pemerintah dalam membangun infrastruktur transportasi, khususnya transportasi udara menghambat pengembangan dan perbaikan layanan dibidang transportasi udara yang harus diberikan kepada masyarakat. Salah satu layanan vital bagi masyarakat adalah bandar udara. Bandar udara merupakan aset pemerintah yang harus dikelola terus menerus dan merupakan komponen produktif penting dari seluruh perekonomian. Keterbatasan pendanaan yang dimiliki oleh pemerintah dalam pengembangan pada 301 bandar udara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, memungkinkan terjalinnya pihak badan usaha dalam pengembangan bandara-bandara tersebut melalui Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (Public Private Partnership). Untuk mendapatkan gambaran mengenai negara yang sudah banyak melibatkan keuangan swasta dalam pengembangan, pengoperasian maupaun pemeliharaan sektor publik khususnya bandar udara, dilakukan benchmarking ke negara yang sudah sukses, yaitu negara Jepang. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai key success factors dan pembelajaran dalam pengelolaan bandara di Jepang antara lain sinergi dengan pemerintah lokal untuk mengoptimalkan industri pariwisata, kreativitas dalam menciptakan pendapatan non-aero, concern dalam penyediaan aksesibilitas bandara, perencanaan kawasan bandara yang komperhensif dan mitigasi risiko yang matang, dan integrasi opersional terhadap semua lini usaha layanan bandara sehingga meningkatkan efisiensi waktu pelayanan dan efisiensi biaya. Kata kunci: Kerjasama Pemerintah Badan Usaha, Bandar Udara, Benchmarking, Key ssucces Factors
Pengaruh Pelayanan dan Fasilitas Digital Terhadap Kepuasan Penumpang di Bandara Internasional Kualanamu
Ok Yoga Syah Putra;
Sarinah Sihombing;
Chaidir Tasran
Warta Ardhia Vol. 46 No. 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25104/wa.v46i1.383.60-70
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari pelayanan dan fasilitas digital terhadap kepuasan penumpang di Bandara Internasional Kualanamu, Medan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 sampel penumpang keberangkatan domestik Bandara Internasional Kualanamu. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang sangat kuat antara pelayanan dan fasilitas digital terhadap kepuasan penumpang. Nilai dari kontribusi variabel pelayanan dan fasilitas digital sebesar 77,1% mempengaruhi kepuasan penumpang di Bandara Internasional Kualanamu, Medan.