cover
Contact Name
Chairunnisa
Contact Email
jurnalkemenhub@gmail.com
Phone
+6281213236151
Journal Mail Official
jurnalkemenhub@gmail.com
Editorial Address
Jl. Medan Merdeka Timur No. 5, Gambir, Jakarta 10110
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Warta Ardhia: Jurnal Transportasi
ISSN : 02159066     EISSN : 25284045     DOI : https://doi.org/10.25104/wa
Core Subject : Engineering,
Jurnal Warta Ardhia adalah jurnal yang mewadahi publikasi ilmiah peer-reviewed serta sumber informasi yang kredibel dari hasil penelitian, ide, dan gagasan dengan cakupan nasional dan global. Publikasi tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan pengetahuan serta memperkuat kemampuan stakeholder terkait dalam mengenali dan memecahkan berbagai persoalan di sektor transportasi. Jurnal ini diterbitkan oleh Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, yang sebelumnya diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara dengan Nomor Akreditasi 72/E/KPT/2024. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan kajian ilmiah di bidang transportasi udara, yang mencakup kebijakan, sarana, prasarana, rute, tarif, evaluasi kebijakan, serta perkembangan teknologi. Seluruh artikel ditelaah oleh minimal dua orang reviewer. Warta Ardhia diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles 281 Documents
Persaingan Airbus dan Boeing di Industri Jasa Angkutan Udara Indonesia Minda Mora
Warta Ardhia Vol. 39 No. 4 (2013)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v39i4.123.244-258

Abstract

Airbus and Boeing are the largest aircraft industry in the world today. Competition between the two companies has been characterized as a duopoly , particularly in the jetliner market since 1990. Aircraft market is usually divided into two categories of products , namely narrow -body aircraft and wide-body aircraft. Indonesia is one of potential market for Airbus and Boein . This study aims to determine the map competition between Airbus and Boeing in Indonesian airline by calculating market share of those two companies . The calculations show that In the period of 2001 to 2013 , Airbus began to enter the market of Indonesia airline , by taking 38.8 % market share of sales of single aisle aircraft , while the res , 61.2 % , was taken by Boein . For selling twin-aisle aircraft , Airbus dominates with a market share of 87.8 %. Airbus dan Boeing merupakan dua raksasa industri pesawat terbang di dunia pada saat ini. Persaingan antara kedua perusahaan tersebut telah ditandai sebagai duopoli, khususnya di pasar pesawat jet sejak tahun 1990. Pasar pesawat terbang biasanya dibagi menjadi dua kategori produk, yaitu pesawat berbadan sempit dan pesawat berbadan lebar. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi pasar yang potensial bagi Airbus dan Boeing untuk memasarkan pesawat-pesawat produksinya. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peta persaingan antara Airbus dan Boeing di pasar industri jasa angkutan udara Indonesia dengan menghitung pangsar pasar ke dua perusahaan tersebut di Indonesia. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Pada kurun waktu 2001 sampai dengan 2013, Airbus mulai memasuki pasar perusahaan jasa angkutan udara Indonesia, dengan mengambil 38.8% pangsa pasar penjualan pesawat udara berlorong tunggal, sedangkan sisanya, 61.2%, diambil oleh Boeing. Untuk penjualan pesawat udara berlorong ganda, Airbus mendominasi dengan pangsa pasar sebesar 87.8%.
Telaah Literatur Mencegah Kecelakaan Landas Pacu di Bandar Udara di Indonesia Minda Mora
Warta Ardhia Vol. 40 No. 3 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i3.132.203-214

Abstract

Assessment literature to prevent accidents Landing Runway at airport in Indonesia is important because the high level of accidents runway in Indonesia. Presentation accident on the runway is also increasing every year. This study attempted to parse the things that can happen as one of the factors that influence the occurrence of the accident off pacudi Indonesia.Pengkajian literature untukmencegah Kecelakaan Landas Pacu di Bandar Udara di Indonesia penting dilakukan karena masih tingginya tingkat kecelakaan landas pacu di Indonesia. Presentasi kecelakaan di landas pacu juga semakin meningkat setiap tahunnya. Kajian ini mencoba mengurai hal-hal yang dapat terjadi sebagai salah satu factor yang turut mempengaruhi terjadinya kecelakaan landas pacudi Indonesia.
Pengkajian Pelaksanaan dan Pengembangan Kapasitas Pengolahan Limbah Padat Dan Limbah Cair Di Bandara Sultan Thaha-Jambi Yuke Sri Rizki; Rosidin Syamsudin
Warta Ardhia Vol. 40 No. 3 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i3.131.189-202

Abstract

Assessment of the implementation and development of the processing capacity of solid waste and liquid waste in an airport provides an overview of wastewater treatment systems generated from airport operations. This study takes a case study at Sultan Taha Jambi as airports are managed by PT Angkasa Pura II (Persero) that each year the relative increase in the number of aircraft movements, passenger, baggage and cargo transport. This study uses qualitative descriptive method and forecasting. The results of the analysis in the form of recommendations and the action carried out by the organizers of the airport is the expansion of the TPS (Disposal meantime), completing the construction of the WWTP (Waste Water Treatment Plant), and to separate waste into organic and non-organic at polling locations.Pengkajian tentang pelaksanaan dan pengembangan kapasitas pengolahan limbah padat dan limbah cair di bandar udara memberikan gambaran tentang sistem pengolahan limbah yang dihasilkan dari pengoperasian bandar udara.Pengkajian ini mengambil studi kasus di Bandara Sultan Thaha-Jambi sebagai bandar udara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) yang setiap tahun relatif mengalami peningkatan dalam jumlah pergerakan pesawat, penumpang, bagasi dan angkutan kargonya.Pengkajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan peramalan.Hasil analisis berupa rekomendasi dan program aksi yang dilaksanakan oleh penyelenggara bandar udara yaitu perluasan TPS (Tempat Pembuangan Sementara), menyelesaikan pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), dan melakukan pemisahan sampah menjadi sampah organik dan non-organik di lokasi TPS.
Metode Pengukuran Peralatan Localizer di Bandar Udara (Studi Kasus Bandar Udara Sam Ratulangi-Manado) Feti Fatonah
Warta Ardhia Vol. 40 No. 3 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i3.130.173-188

Abstract

In accordance with the Rules of DGCA number: 83 2005, about the testing procedures on the ground (ground inspection) equipment electronics and electrical facilities, the cost of all existing facilities at the airport including ILS localizer testing should be carried out on land with parameters determined in order to maintain the operational performance of equipment in accordance with the standards and operational requirements that have been set. And in accordance with ICAO Annex 10 Document 8071, then to determine the performance of the localizer equipment mandatory calibration flight. This calibration flight periodically for localizer equipment provisions must be implemented four months in which the airport in cooperation with the Ministry of Transportation calibration.Sesuai dengan Peraturan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara nomor : 83 tahun 2005, tentang prosedur pengujian di darat ( ground inspection ) peralatan fasilitas elektronika dan listrik penerbangan maka semua fasilitas yang ada di Bandara termasuk ILS, Localizer harus dilaksanakan pengujian di darat dengan parameter yang telah ditentukan guna mempertahankan kinerja operasional peralatan sesuai dengan standard dan persyaratan operasional yang telah ditetapkan. Dan sesuai dengan annex 10 Document 8071 ICAO, maka untuk mengetahui kinerja dari peralatan localizer maka wajib dilakukan penerbangan kalibrasi. Penerbangan kalibrasi ini berkala untuk peralatan localizer ketentuannya harus dilaksanakan 4 bulan sekali dimana pihak Bandar udara bekerja sama dengan Balai kalibrasi Kementerian Perhubungan.
Perkiraan Kebutuhan Depo Pengisian Avtur Pesawat Udara di Indonesia Nugraha Nugraha
Warta Ardhia Vol. 40 No. 3 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i3.129.163-172

Abstract

Purpose of the implementation of this work is to make a study of the readiness and the role of the regulator, Transport Company Flight Indonesia and PT Pertamina in order Estimated Needs Filling Fuel Depots and Development Aircraft (DPPU) to Increase Efficiency of Aircraft Operation. The aim of this work is to provide policy advice on estimates and Development Needs Filling Fuel Depots Aircraft (DPPU) to Increase Efficiency of Aircraft Operation Maksud pelaksanaan pekerjaan ini adalah membuat kajian tentang kesiapan dan peran Regulator, Perusahaan Angkutan Penerbangan Indonesia serta PT Pertamina dalam rangka Perkiraan Kebutuhan dan Pembangunan Depo Pengisian BBM Pesawat Udara (DPPU) Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengoperasian Pesawat Udara.Tujuan pelaksanaan pekerjaan ini adalah untuk memberikan masukan kebijakan tentang Perkiraan Kebutuhan Dan Pembangunan Depo Pengisian BBM Pesawat Udara (DPPU) Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengoperasian Pesawat Udara.
Implementasi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) di Indonesia Yati Nurhayati; Susanti Susanti
Warta Ardhia Vol. 40 No. 3 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i3.128.147-162

Abstract

Teknlologi ADSB is a new technology in the observation plane which is a combination of global positioning system (GPS), so that the aircraft can be traced to the position, velocity, wind direction, and altitude. This tool can be installed in the aircraft or ground stations and more superior than the radar.ADS-B is indeed a revolutionary look, start with only the antenna and the tool less than for a small refrigerator can detect aircraft and air traffic displays.Automatic Dependent Surveillance- Broadcast (ADS-B) is a detection technology where each plane passing owned transponder emits every two times per second information altitude, position, speed, direction, and other information to ground stations and other aircraft. This information is obtained from the information the Global Positioning System (GPS) or backup Flight Management System (FMS) in each plane. Teknlologi ADSB adalah teknologi baru dalam pengamatan pesawat terbang yang merupakan kombinasi global positioning system (GPS), sehingga pesawat bisa terlacak posisi, kecepatan, arah angin, dan ketinggian. Alat ini bisa dipasang di pesawat atau stasiun darat dan lebih unggul dari radar. ADS-B ini memang terlihat revolusioner, dengan hanya berbekal antenna dan alat kurang dari sebesar lemari es kecil dapat mendeteksi pesawat terbang dan menampilkan lalu lintas udara.Automatic Dependent Surveillance- Broadcast (ADS-B) adalah teknologi pendeteksi dimana setiap pesawat lewat transponder yang dimiliki memancarkan setiap dua kali dalam tiap detik informasi ketinggian, posisi, kecepatan, arah, dan informasi lainnya ke stasiun darat dan pesawat lainnya. Informasi ini didapat dari informasi Global Positioning System (GPS) atau backup Flight Management System (FMS) yang ada di pesawat masing-masing.
Pemilihan Tipe Pesawat Udara Berdasarkan Estimasi Biaya Operasional untuk Pesawat Udara Jarak Menengah Tito Yusmar; Welly Pakan
Warta Ardhia Vol. 40 No. 1 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i1.166.59-70

Abstract

Domestic aviation industry is currently in a growing state. This year, some airlines make a purchase of new aircraft to strengthen its fleet. Some types of aircraft procured by the Indonesian airline is Sukhoi Superjet 100, the Boeing 737 Next Generation aircraft, the Airbus A330-200 and MA-60. Those aircraft type is the medium range aircraft that could potentially become competitors to each other. This research aims to determine the type of medium range aircraft with has most efficient operational costs in serving a particular route. Operating costs calculation for 7 (seven) types of aircraft i.e. Airbus 1319, A320, 8737-300, B737-400, 13737-500, 13737-800 and 13737- 900ER showed that Boeing 737-900 ER aircraft operated by Lion Air has the most efficient direct operating costs ( 0.07981 USD / seat- nmi) followed by Boeing 737-400 aircraft with a seating capacity of 170 seats operated by Citilink Garuda Indonesia (0.08636 USD / seat-nmi). Industri penerbangan dalam negeri saat ini semakin berkembang. Mulai tahun ini, banyak perusahaan jasa angkutan udara yang melakukan pembelian pesawat baru untuk memperkokoh armadanya. Beberapa tipe pesawat udara yang didatangkan oleh perusahaan jasa angkutan udara Indonesia adalah pesawat Sukhoi SuperJet 100, Boeing 737 Next Generation, Airbus A330-200 dan MA-60. Tipe pesawat udara tersebut merupakan tipe pesawat udara medium range yang berpotensi menjadi kompetitor satu sama lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipe pesawat udara medium range dengan biaya operasional paling hemat dalam melayani rute tertentu. Dari 7 (tujuh) tipe pesawat yang dihitung biaya operasionalnya yaitu Airbus A319, A320, B737-300, 18737- 400, B737-500, B737-800 dan B737-900ER, pesawat tipe Boeing 737-900ER yang dioperasikan oleh Lion Air menjadi pesawat udara dengan biaya operasional langsung paling hemat yaitu 0,07981 US$/seat-nmi, diikuti oleh Boeing 737-400 dengan kapasitas kursi sebanyak 170 kursi yang dioperasikan oleh Citilink Garuda Indonesia. sebesar 0,08636 US$/seat-nmi.
Pengembangan Aerospace Park di Indonesia berdasarkan Potensi Pergerakan Pesawat Udara Jaka Yanuwidiasta
Warta Ardhia Vol. 40 No. 1 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i1.164.45-58

Abstract

One of the supporting industries that has high development in line With the rapid growth of aviation services in Indonesia the business Of aircraft including the procurement and production of spare parts and overhaul including the procurement and production of spare parts and the provision of supporting human resources. In 2012, there were 30 business entities engaged in the business of and aircraft is incorporated in IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). The purpose of this research was to obtain an overview of potential development of the Aerospace Park in Indonesia and find alternative airport that could be developed as an Aerospace Park in Indonesia. Based on the potential movement of aircraft and land availability, it is proposed to develop Aerospace Park in Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang. Smarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok. Salah satu industri pendukung yang sangat berkembang sejalan dengan pesatnya pertumbuhan jasa penerbangan di Indonesia adalah bisnis pemeliharaan dan perawatan pesawat udara termasuk pengadaan dan produksi suku cadangnya serta penyediaan SDM pendukungnya. Pada tahun 2012, tercatat 30 badan usaha yang bergerak dalam bisnis perneliharaan dan perawatan pesawat udara yang tergabung dalam IAMSA (Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran pengembangan Aerospace Park di Indonesia dan mengetahui alternatif bandar udara yang bisa dikembangkan sebagai Aerospace Park di Indonesia. Berdasarkan potensi pergerakan pesawat udara dan faktor ketersediaan lahan diusulkan pengembangan Aerospace Park di Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta, Hussein Sastranegara Bandung, Kertajati Majalengka, Juanda Surabaya, Sultan Hasanuddin Makassar, Sam Ratulangi Manado, Sentani Jayapura, Segun Sorong, Kualanamu Medan, Hang Nadim Batam, Raja Fisabilillah Tanjung Pinang_ Samarinda Baru, Tjilik Riwut Palangkaraya dan BIL Lombok.
Analisis Fasilitas dan Pelayanan Cacat dan lanjut Usia di Bandar Udara Supadio - Pontianak Yuke Sri Rizki; Jeni Sartika
Warta Ardhia Vol. 40 No. 1 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i1.162.31-44

Abstract

Facilities and services for disabled and elderly passengers have to be provided by the airport. This research was conducted to provide an overview of facilities and services for disabled accessibility in the airport. The study took a case studyin Supadi Airport-Pontianak. The method used in this research is descriptive qualitative analysis and policy analysis. The results showed Supadio-Pontianak airport has been equipped with facilities for disabled accessibility and elderly in accordance with the requirements in the Minister of Transportation Decree No, 71 Year 1999 on Accessibility For People with Disabilities and Hospitals In Transportation Infrastructures and the Minister of Public Works of the Republic Indonesia Number 468 / Kpts / 1998 on Technical Requirements Accessibility In Public Buildings and the Environment.Fasilitas dan pelayanan penyandang cacat dan lanjut usia di bandar udara merupakan suatu hal yang harus dipenuhi oleh pengelola bandar udara, Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang penyediaan fasilitas dan pelayanan bagi aksesibilitas penyandang cacat yang akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara. Penelitian mengambil studi kasus di Bandar Udara Supadio-Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis adalah deskriptif kualitatif dan analisis kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan Bandar udara Supadio - Pontianak telah dilengkapi dengan fasilitas bagi aksesibilitas penyandang cacat dan lanjut usia sesuai dengan yang disyaratkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas Bagi Penyandang Cacat dan Orang Sakit Pada Sarana dan Prasarana Perhubungan dan Keputusan Menteri Pekerjaan IJmum Republik Indonesia Nomor 468/KPTS/199B tentang Persyaratan Teknis aksesibilitas Pada Bangunan Umum dan Lingkungan.
Pengembangan Sisi Udara Bandar Udara Nunukan sebagai Bandar Udara untuk Pertahanan Nasional Ali Murtadho
Warta Ardhia Vol. 40 No. 1 (2014)
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Kementerian Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v40i1.160.19-30

Abstract

Nunukan airport is one of the pioneer airports in the border region. Aside from being a pioneer airports, this airport has important role for the defense and security interests of the territory of the Republic Of Indonesia. The purpose of this research is to analyze the readiness of the airport airside facilities as defense side of the border area. The method used in this study is quantitative by comparing the calculation with facilities available as needed. From the calculation showed that runway needed for the Hercules C-1300 B is 1.455 m and Hercules C-1300 H 30 is 1.862m. Airport organizers need to increase the velue of the runway PCN from 12 / F/ C / T to 37 / F / C / Y / T with surface thickness is 10 cm layer of pavement, base course 18 cm, 41 cm and subbase course. Bandar Udara Nunukan merupakan salah satu bandar udara perintis di wilayah perbatasan. Selain sebagai bandar udara perintis, Bandar udara Nunukan sekaligus sebagai bandar udara perbatasan yang mempunyai nilai strategis untuk kepentingan pertahanan dan keamanan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisa kesiapan fasilitas Sisi udara Bandar Udara Nunukan sebagai bandar udara pertahanan diwilayah perbatasan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah kuantitatif dengan membandingkan antara fasilitas yang tersedia dengan hasil perhitungan sesuai dengan kebutuhan. Dari perhitungan didapatkan hasil bahwa penjang landas pacu yang dibutuhkan untuk pesawat Hercules C-1300 H 30 adalah 1.455 m dan Hercules C-1300 H 30 adalah 1.862 m. Penyelenggara bandar udara perlu juga melakukan peningkatan nilai PCN landas pacu dari 12/F/C/Y/T menjadi 37/F/C/Y/T dengan tebal lapisan perkerasan surface 10 cm, base course 18 cm, dan subbase course 41 Cm.

Page 3 of 29 | Total Record : 281