cover
Contact Name
Dara Fatia
Contact Email
darafatia@usk.ac.id
Phone
+6285260959380
Journal Mail Official
jsu@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung FISIP, Universitas Syiah Kuala Jl. Teuku Nyak Arief, Darussalam, Banda Aceh, Aceh - Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : 10.24815
Core Subject :
Jurnal Sosiologi USK: Media Pemikiran & Aplikasi (JSU) is an international, open-access, and double-blind peer-reviewed journal committed to fostering critical sociological inquiry and empirical research. The journal serves as an academic forum for researchers, academicians, and practitioners to disseminate original studies, theoretical reflections, and critical perspectives on contemporary social dynamics. JSU prioritizes manuscripts that demonstrate a strong sociological orientation by integrating theory, methodology, and empirical evidence to analyze social structures, relations, and transformations. Interdisciplinary approaches are welcomed, provided that sociology remains the primary analytical framework. Accredited SINTA3, JSU maintains rigorous editorial standards and ethical publishing practices, contributing to the development of contextual, policy-relevant, and internationally engaged sociological knowledge.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "vol. 19 no. 2 (2025)" : 13 Documents clear
Peran Kampung Batik Panca Mukti sebagai Agen Pelestarian Batik Sungai Lemau di Kabupaten Bengkulu Tengah Yopan Tri Agustian; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.449

Abstract

This study aims to analyze the preservation efforts of Sungai Lemau Batik undertaken by Kampung Batik Panca Mukti as an agent of local cultural preservation. The research employs a descriptive qualitative approach and was conducted in Panca Mukti Village, Pondok Kelapa District, Central Bengkulu Regency. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews, and documentation. The analysis is guided by Anthony Giddens’ structuration theory, particularly the concept of agency, which conceptualizes agents as social actors with reflexive capacities to reproduce and transform social structures. The findings indicate that the preservation of Sungai Lemau Batik is carried out through various strategies, including the maintenance of traditional production techniques, the use of natural materials, community-based batik training, the development of educational tourism, and promotion through social media, exhibitions, and bazaars. Batik artisans are not merely economic actors but also cultural agents who consciously maintain authenticity, philosophical values, and local cultural identity. Therefore, the preservation of Sungai Lemau Batik can be understood as the outcome of sustained and adaptive agential practices in response to ongoing socio-cultural dynamics. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya pelestarian Batik Sungai Lemau yang dilakukan oleh Kampung Batik Panca Mukti sebagai agen pelestarian budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi di Desa Panca Mukti, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis penelitian mengacu pada teori strukturasi Anthony Giddens, khususnya konsep agensi yang memandang agen sebagai aktor sosial yang memiliki kapasitas reflektif dalam mereproduksi dan mentransformasikan struktur sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Batik Sungai Lemau dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain mempertahankan teknik produksi tradisional, penggunaan bahan alami, pelatihan membatik bagi masyarakat, pengembangan wisata edukasi, serta promosi melalui media sosial, pameran, dan bazar. Pengrajin batik tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai agen kultural yang secara sadar menjaga keaslian, nilai filosofis, dan identitas budaya lokal. Dengan demikian, pelestarian Batik Sungai Lemau merupakan hasil dari praktik agensi yang berlangsung secara berkelanjutan dan adaptif dalam menghadapi dinamika sosial budaya.
Alih Komoditas sebagai Strategi Otonomi Petani dalam Peralihan Tembakau ke Cabai Rawit Merah di Desa Munggangsari Kabupaten Temanggung Desita Wulandani; Gunawan Gunawan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.450

Abstract

This study aims to analyze the impacts of agricultural commodity switching from tobacco to red chili pepper on the economic dynamics and social structure of rural society in Munggangsari Village. This transition emerged as a response by farmers to structural inequalities embedded in the tobacco trading system, characterized by price monopolization by middlemen and graders, an oligopsonistic market structure, and farmers’ dependence on external capital. These conditions positioned farmers in a structurally subordinate role in price determination and profit distribution. This research employs a qualitative descriptive approach using participant observation, in-depth interviews, focus group discussions, literature review, and documentation. The study was conducted in Munggangsari Village, Ngadirejo Sub-district, Temanggung Regency, Central Java, from January to April 2025, involving 12 informants. The findings show that the shift to red chili pepper cultivation has led to significant changes in production patterns and labor arrangements while reducing farmers’ dependence on tobacco middlemen. This transition has also reshaped patron–client relations, increased household financial autonomy, and altered the roles and positions of agricultural laborers. Socially, commodity switching has produced a more fluid configuration of power relations and expanded farmers’ capacity to negotiate livelihood strategies. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak alih komoditas pertanian dari tembakau ke cabai rawit merah terhadap dinamika ekonomi dan struktur sosial masyarakat Desa Munggangsari. Alih komoditas ini muncul sebagai respons petani terhadap ketimpangan struktural dalam tata niaga tembakau yang ditandai oleh dominasi juragan dan grader, sistem pasar oligopsoni, serta ketergantungan petani pada permodalan eksternal. Kondisi tersebut menempatkan petani pada posisi lemah dalam penentuan harga dan distribusi keuntungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatoris, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, studi literatur, dan dokumentasi. Penelitian dilaksanakan di Desa Munggangsari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada Januari–April 2025 dengan melibatkan 12 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peralihan ke komoditas cabai rawit merah mendorong perubahan signifikan dalam pola produksi dan sistem kerja, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap juragan tembakau. Pergeseran ini juga mengubah relasi patron-klien, meningkatkan kemandirian pengelolaan keuangan rumah tangga petani, dan memengaruhi posisi serta peran buruh tani. Secara sosial, alih komoditas membentuk konfigurasi relasi kekuasaan yang lebih cair dan membuka ruang negosiasi yang lebih besar bagi petani dalam menentukan strategi penghidupan mereka.
Dominasi Perempuan dalam Praktik Peribadatan Mingguan Komunitas Katolik di Banda Aceh Mutiara Asyukkati; Hasan Basri M. Nur; Khairil Fazal; Juwaini Juwaini; Mawardi Mawardi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.458

Abstract

This study aims to analyze the forms and meanings of women’s dominance in the weekly worship practices at the Sacred Heart Catholic Church in Banda Aceh. This phenomenon is particularly noteworthy as it occurs in a region where the majority of the population is Muslim, yet the Catholic community continues to exhibit distinct internal dynamics in its religious life. The research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical method. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with church leaders and congregants, and documentation of worship activities. The findings reveal that women’s dominance in worship is not only quantitative but also qualitative, encompassing leadership roles in the choir, liturgical activities, and church-based social services. This dominance stems from historical, social, and spiritual factors, in which women play a vital role in sustaining the faith community amid the limited number of believers. The study highlights that the religious roles of women in Banda Aceh reflect a form of religiosity that is inclusive, resilient, and contextually attuned to local culture. This research contributes to the broader discourse on gender and religious practice within minority communities in Indonesia. Abstrak Artikel ini mengkaji dominasi perempuan dalam praktik peribadatan mingguan di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Banda Aceh. Fenomena ini berlangsung dalam konteks sosial Banda Aceh sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim, sementara komunitas Katolik berada dalam posisi minoritas dengan dinamika keagamaan yang khas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pemimpin gereja dan jemaat, serta dokumentasi kegiatan peribadatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi perempuan dalam kehidupan peribadatan tidak hanya terlihat dari aspek kuantitatif, tetapi juga kualitatif, yang tercermin dalam kepemimpinan paduan suara, keterlibatan dalam liturgi, dan peran aktif dalam pelayanan sosial gereja. Dominasi tersebut terbentuk melalui faktor historis, sosial, dan spiritual, di mana perempuan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan komunitas iman di tengah keterbatasan jumlah umat. Studi ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan perempuan Katolik di Banda Aceh merefleksikan religiositas yang inklusif, resilien, dan kontekstual terhadap budaya lokal.
Fatwas as Political Articulation: The Role of the MPU in Shaping Local Democracy in Aceh Muhammad Ridha Firdausy; T Wildan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.463

Abstract

This article examines the role of ulama in local democracy in Aceh through an analysis of electoral-related fatwas and taushiyahs issued by the Aceh Ulama Consultative Assembly (Majelis Permusyawaratan Ulama, MPU) between 2004 and 2024. Employing a qualitative approach based on document analysis, the study examines religious texts related to elections, political leadership, and public participation. The findings show a significant shift in the character of MPU’s religious rulings, from taushiyahs that primarily offered general moral guidance to fatwas that are more normative, specific, and institutionally embedded. This shift is evident in the use of legal-religious terminology, the formulation of leadership criteria, the regulation of voter participation, and the explicit prohibition of political practices considered contrary to Islamic principles. These developments indicate that democracy in Aceh is accepted conditionally, insofar as it operates within the framework of Islamic values. In this context, ulama function not only as moral authorities but also as institutional actors who actively shape and frame local democratic practices. Abstrak Artikel ini mengkaji peran ulama dalam demokrasi lokal di Aceh melalui analisis fatwa dan taushiyah pemilu yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh selama periode 2004–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis dokumen terhadap seluruh produk keagamaan MPU yang berkaitan dengan pemilu, kepemimpinan politik, dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk keagamaan MPU mengalami pergeseran penting, dari taushiyah yang bersifat imbauan moral dan etis menuju fatwa yang lebih normatif, spesifik, dan terlembagakan. Pergeseran ini tampak dalam penggunaan diksi hukum, penetapan kriteria kepemimpinan, pengaturan partisipasi pemilih, serta penegasan larangan terhadap praktik politik yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Temuan ini memperlihatkan bahwa demokrasi di Aceh diterima secara bersyarat, yakni sepanjang dijalankan dalam kerangka nilai-nilai syariat. Dalam konteks tersebut, ulama tidak hanya berperan sebagai otoritas moral, tetapi juga sebagai aktor institusional yang membingkai dan mengarahkan praktik demokrasi lokal.
Governmentality dan Relasi Kuasa di Pelantar Privatter: Praktik Konsumsi Konten Pornografi di Kalangan Perempuan Gen-Z Sayyidah Awwaliyah Rahmah; Medhy Aginta Hidayat
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.592

Abstract

This article examines the operation of governmentality in the consumption of pornographic content by Generation Z women through the Privatter platform. Employing a qualitative netnographic approach, the study involved informants selected through purposive sampling. Data were collected from digital archives, online interviews as collaborative data, and participatory observation of Alternate Universe (AU) content consumption within closed digital spaces. The data were analyzed thematically, with validity ensured through source triangulation. The findings indicate that the consumption of narrative pornography among Generation Z female AU readers is not merely transgressive, but operates through subtle mechanisms of governmentality. The normalization of pornographic content circulation within AU reading cultures, voluntary compliance through password-seeking practices, the use of content warnings by authors as a form of self-governance, tendencies toward hyperconsumption, and the interrelated power relations among platforms, authors, and readers collectively reflect an internalized process of self-regulation. Abstrak Artikel ini mengkaji cara kerja governmentality dalam praktik konsumsi konten pornografi oleh perempuan Generasi Z melalui platform Privatter. Dengan menggunakan metode kualitatif berpendekatan netnografi, penelitian ini melibatkan informan yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui arsip digital, wawancara daring sebagai data kolaboratif, serta observasi partisipatif terhadap aktivitas konsumsi konten Alternate Universe (AU) di ruang digital tertutup. Analisis data dilakukan secara tematik dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pornografi naratif di kalangan pembaca AU perempuan Gen-Z tidak semata-mata bersifat transgresif, melainkan beroperasi melalui mekanisme governmentality yang subtil. Normalisasi distribusi konten pornografi dalam budaya membaca AU, praktik pencarian kata sandi sebagai bentuk kepatuhan sukarela, penggunaan peringatan konten oleh penulis sebagai strategi pengelolaan diri, kecenderungan hiperkonsumsi, serta relasi kuasa yang saling terkait antara platform, penulis, dan pembaca merepresentasikan proses regulasi diri yang terinternalisasi.
Peliyanan (Othering): Sebuah Praktik Kekerasan Kultural terhadap Perempuan Pekerja Migran Kabupaten Indramayu Jawa Barat Arifah Rahmawati; Dody Wibowo; Akhmad Jauhari; Nobertus Mario Baskoro
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.660

Abstract

This qualitative study examines othering as a form of cultural violence experienced by Indonesian women migrant workers. Othering is conceptualized as a social practice that constructs women as different and inferior, thereby producing stigma, labeling, and unequal gender relations, including among women themselves. Despite their significant contribution to household economies through remittances, women migrant workers continue to face degradation, suspicion, and social control both in their home communities and in destination countries. Data were collected through in-depth interviews with women migrant workers in three villages in Indramayu Regency, focus group discussions with non-migrant women, and field observations and documentation. The analysis centers on power relations, identity construction, and the control of knowledge and technology as key arenas through which othering operates. The findings demonstrate that othering functions through the normalization of stigma, social surveillance, and the restriction of access and agency, systematically lowering the social position of women migrant workers. Conceptually, this study affirms othering as a cultural mechanism that reproduces gender inequality in the context of labor migration. Abstrak Penelitian kualitatif ini menganalisis peliyanan atau othering sebagai bentuk kekerasan kultural yang dialami perempuan pekerja migran Indonesia. Peliyanan dipahami sebagai praktik sosial yang mengonstruksi perempuan sebagai pihak yang berbeda dan inferior sehingga melahirkan stigma, pelabelan, serta relasi gender yang timpang, termasuk di antara sesama perempuan. Meskipun remitansi mereka berkontribusi signifikan terhadap ekonomi keluarga, para pekerja migran tetap menghadapi perendahan martabat, kecurigaan, dan kontrol sosial di kampung asal maupun di negara tujuan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan perempuan pekerja migran di tiga desa di Kabupaten Indramayu, diskusi kelompok terarah dengan perempuan nonmigran, serta observasi dan dokumentasi lapangan. Analisis difokuskan pada relasi kuasa, konstruksi identitas, serta penguasaan pengetahuan dan teknologi sebagai arena kerja peliyanan. Temuan menunjukkan bahwa peliyanan beroperasi melalui normalisasi stigma, pengawasan sosial, dan pembatasan akses serta agensi yang secara sistemik menurunkan posisi sosial perempuan pekerja migran. Secara konseptual, penelitian ini menegaskan peliyanan sebagai mekanisme kultural yang mereproduksi ketimpangan gender dalam konteks migrasi kerja.
Peran Pemangku Adat dan Model Pelestarian Hutan Komunal di Gampong Suak Awe, Aceh Barat Rizki Fauzan Simatupang; Riki Yulianda; Sopar Sinambela; Irma Juraida; Tri Quari Handayani; Afriani Maifizar
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.1390

Abstract

This study examines the role of customary leaders (pemangku adat) in sustaining communal forest conservation and identifies a participatory conservation model grounded in local wisdom in Gampong Suak Awe, Pante Ceureumen District, West Aceh Regency. The urgency of this study derives from the increasing threat of ecological degradation, economic pressure, modernization, and the declining authority of traditional institutions in forest-dependent communities in Aceh. This research employed a descriptive qualitative approach with an interpretive paradigm. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with ten purposively selected informants consisting of customary leaders, village officials, community figures, and residents directly involved in communal forest management, as well as documentation review. Data validity was ensured through source and methodological triangulation, while data were analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that customary leaders play a central role in communal forest governance through the enforcement of inherited adat norms, the prohibition of indiscriminate logging, a three-zone forest classification system, participatory supervision, customary deliberation, and the application of graduated social sanctions. The dominant conservation model is participatory, adaptive, and rooted in local wisdom, with customary deliberation serving as the main mechanism for collective decision-making. Although this system faces challenges such as economic pressure, modernization, declining youth participation, and limited formal recognition, customary leaders continue to maintain their social legitimacy while adapting to changing social conditions. This study confirms that adat-based forest conservation not only protects ecological balance, but also strengthens cultural identity and social continuity, offering a relevant model for community-based forest management in Aceh. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peran pemangku adat dalam menjaga keberlanjutan hutan komunal serta mengidentifikasi model pelestarian partisipatif berbasis kearifan lokal di Gampong Suak Awe, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Urgensi penelitian ini bertolak dari meningkatnya ancaman degradasi ekologis, tekanan ekonomi, arus modernisasi, dan melemahnya otoritas institusi adat pada masyarakat yang kehidupannya bergantung pada hutan di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas pemangku adat, perangkat gampong, tokoh masyarakat, dan warga yang terlibat langsung dalam pengelolaan hutan komunal, serta penelusuran dokumentasi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, sedangkan analisis dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangku adat berperan sentral dalam tata kelola hutan komunal melalui penegakan norma adat yang diwariskan secara turun-temurun, larangan penebangan pohon secara sembarangan, sistem pembagian kawasan hutan menjadi tiga zona, pengawasan partisipatif, musyawarah adat, serta penerapan sanksi sosial secara bertahap bagi pelanggar. Model pelestarian yang berkembang bersifat partisipatif, adaptif, dan berpijak pada kearifan lokal, dengan musyawarah adat sebagai mekanisme utama dalam pengambilan keputusan bersama. Meskipun menghadapi tantangan berupa tekanan ekonomi, arus modernisasi, melemahnya keterlibatan generasi muda, dan terbatasnya pengakuan formal, pemangku adat tetap mampu mempertahankan legitimasi sosialnya seraya menyesuaikan diri dengan dinamika sosial yang terus berkembang. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian hutan berbasis adat tidak hanya menjaga keseimbangan ekologis, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan keberlanjutan sosial masyarakat, serta menawarkan model yang relevan bagi pengelolaan hutan berbasis komunitas di wilayah Aceh.
Calabai dan Calalai: Diantara Ekspresi Gender dan Peran Sosial pada Masyarakat Suku Bugis di Mata Global Adita Rachmadina Sule
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gender equality has become a central focus in International Relations, with various legal instruments such as the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) urging states to respect, protect, and fulfill individual rights without gender-based discrimination. Amid this global norm, the Bugis society of South Sulawesi recognizes five gender identities — Orowane, Makkunrai, Calabai, Calalai, and Bissu — offering an alternative perspective on gender social construction. This study aims to analyze the gap between international legal norms that recognize gender diversity and their implementation in the Indonesian national legal context, particularly within the Bugis community. The research employs Acharya's Norms Localization theory (2004) to trace how international norms on gender equality and non-binary gender identities are received, adapted, or resisted in the Indonesian local context. Using a qualitative method combining literature review, legal document analysis, and participatory cultural approaches, the findings reveal that although the Bugis community has historically demonstrated inclusivity toward gender diversity, the localization of international norms continues to face obstacles due to the tensions between local traditions, national law, and international standards. The study argues that the Bugis model of gender recognition provides valuable insights for enriching global discourses on inclusivity and human rights, and calls for a dialogical approach between local cultural custodians and contemporary legal frameworks to create more inclusive national policies. Abstrak Isu kesetaraan gender telah menjadi fokus utama dalam kajian Hubungan Internasional, dengan berbagai instrumen hukum seperti Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang menuntut negara-negara untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak individu tanpa diskriminasi berbasis gender. Namun, di tengah norma global ini terdapat fenomena masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan yang mengakui lima identitas gender — Orowane, Makkunrai, Calabai, Calalai, dan Bissu — yang menawarkan perspektif berbeda terhadap konstruksi sosial gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesenjangan antara norma hukum internasional yang mengakui keberagaman gender dengan implementasinya dalam konteks hukum nasional Indonesia, khususnya dalam masyarakat Bugis. Penelitian menggunakan teori Norms Localization dari Acharya (2004) untuk menelusuri bagaimana norma-norma internasional diterima, diadaptasi, atau mengalami resistensi dalam konteks lokal Indonesia. Dengan metode kualitatif melalui studi literatur, analisis dokumen hukum, dan pendekatan partisipatif terhadap narasi budaya Bugis, hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Bugis memiliki sejarah panjang dalam mengakui keragaman gender, proses lokalisasi norma internasional masih menghadapi hambatan akibat benturan antara nilai lokal, hukum nasional, dan norma internasional. Penelitian ini menegaskan bahwa model pengakuan gender Bugis menawarkan peluang untuk memperkaya wacana global tentang inklusivitas dan hak asasi manusia.
Jaringan Advokasi Transnasional Ingo Global Peace Foundation dalam Mengadvokasi Kampanye “One Dream One Korea” Isman Habibillah
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.1395

Abstract

This article examines the role of the Global Peace Foundation (GPF) as an International Non-Governmental Organization (INGO) in constructing a transnational advocacy network through the One Dream One Korea campaign addressing the issue of Korean Peninsula reunification. The study employs a qualitative approach based on document and literature analysis, drawing on the framework of Transnational Advocacy Networks (TAN), which emphasizes four primary tactics: information politics, symbolic politics, leverage politics, and accountability politics. The findings indicate that GPF has actively developed cross-border networks through international forums, cultural campaigns, and the production of symbolic narratives emphasizing shared identity and peace. Information and symbolic politics play a significant role in expanding the discourse of reunification within global civil society networks. Meanwhile, leverage and accountability politics are manifested primarily in the strengthening of normative commitments and relational ties among non-state actors. These findings suggest that GPF’s transnational advocacy contributes to reinforcing the cultural and normative dimensions of reunification discourse, while its translation into formal state policy processes evolves gradually within broader domestic political and regional geopolitical dynamics. Artikel ini menganalisis peran Global Peace Foundation (GPF) sebagai International Non-Governmental Organization (INGO) dalam membangun jaringan advokasi transnasional melalui kampanye One Dream One Korea terkait isu reunifikasi Semenanjung Korea. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi dokumen dan literatur dengan kerangka Transnational Advocacy Network (TAN) yang menekankan empat taktik utama: information politics, symbolic politics, leverage politics, dan accountability politics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GPF secara aktif mengembangkan jaringan lintas negara melalui forum internasional, kampanye budaya, dan produksi narasi simbolik yang menekankan kesatuan identitas dan perdamaian. Taktik information dan symbolic politics berperan dalam memperluas jangkauan wacana reunifikasi pada tingkat masyarakat sipil dan jejaring global. Sementara itu, penerapan leverage dan accountability politics lebih terbatas pada penguatan relasi dan komitmen normatif antar-aktor non-negara. Temuan ini menunjukkan bahwa advokasi transnasional GPF berkontribusi pada penguatan dimensi kultural dan normatif isu reunifikasi, meskipun transformasinya ke dalam ranah kebijakan formal negara berlangsung secara gradual dan bergantung pada dinamika politik domestik dan geopolitik regional.
Partnership dalam Perspektif Arnstein: Telaah Kritis Partisipasi Masyarakat pada Ekowisata Hutan Mangrove di Aceh Maisyura Maisyura; Akmal Saputra; Nodi Marefanda; Masrizal Masrizal
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol. 19 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Sosiologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v19i2.1459

Abstract

This study examines community participation in the management of mangrove forest ecotourism in Langsa City, Aceh, through the lens of Arnstein’s Ladder of Citizen Participation. A qualitative approach was employed, with data collected through observation, in-depth interviews with ten key informants, and documentation. The results indicate that community participation currently oscillates between the placation and partnership levels. Local communities and traditional institutions (Lembaga Adat) are actively involved, particularly in the downstreaming of Micro, Small, and Medium Enterprise (MSME) products, environmental supervision, and community education in collaboration with PT. PEKOLA Langsa. Furthermore, the community maintains institutional relationships with the Langsa City Government via the Youth, Sports, and Tourism Office. These findings demonstrate that the community functions not merely as an object of development but as a subject in ecotourism management. The study implies that strengthening this partnership is vital for the ecological and economic sustainability of mangrove ecosystems. Abstrak Penelitian ini mengkaji partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekowisata hutan mangrove di Kota Langsa, Aceh, dengan menggunakan perspektif Tangga Partisipasi Arnstein. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap sepuluh informan kunci, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat berada pada level placation (penenangan) dan partnership (kemitraan). Masyarakat lokal dan lembaga adat terlibat aktif terutama dalam hilirisasi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pengawasan lingkungan, serta edukasi masyarakat melalui kolaborasi dengan PT. PEKOLA Langsa sebagai pengelola. Selain itu, masyarakat juga menjalin hubungan kelembagaan dengan Pemerintah Kota Langsa melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kemitraan merupakan elemen kunci bagi keberlanjutan ekologis dan ekonomi hutan mangrove.

Page 1 of 2 | Total Record : 13