cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Edutech
ISSN : 08521190     EISSN : 25020781     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Edutech adalah jurnal majalah ilmiah di Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia yang terbit sebanyak tiga kali dalam setahun pada bulan Februari, Juni, dan Oktober. Semua artikel yang dikirim melalui proses peer review double blind dan ulasan editor sebelum di publikasikan.Jurnal Edutech atau kepanjangan dari Educational Technology ini menerima artikel tentang pendidikan, teknologi pendidikan dan komunikasi
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 3 (2019)" : 8 Documents clear
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AUDITORY INTELECTUALLY REPETITION (AIR) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA Sinta, Dewi; MZ, Zubaidah Amir
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.17894

Abstract

The ability to solve mathematical problems in students is known to still not meet the expected standards, therefore the Auditory Intelectually Repetition (AIR) Model is one of the models to improve students' Mathematical Problem Solving Ability. This study aims to determine whether the use of the Auditory Intelectually Repetition (AIR) model can improve the ability of students to solve mathematical problems compared to conventional learning in terms of student learning motivation. This study is a literature review study. The results of this study can be concluded that the Mathematical Problem Solving Ability of students who study with the Auditory Intelectually Repetition Learning Model (AIR) is better than students who learn with conventional learning in terms of student learning motivation.Kemampuan Pemecahan masalah matematis siswa diketahui masih belum memenuhi standar yang diharapkan, oleh karena itu Model Auditory Intelectually Repetition (AIR) adalah salah satu model untuk meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan model Auditory Intelectually Repetition (AIR) dapat meningkatkan kemampuan Pemecahan Masalah matematis siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional ditinjau dari motivasi belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian literature review. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) lebih baik dari pada siswa yang belajar dengan pembelajaran Konvensional ditinjau dari Motivasi Belajar siswa.
DESKRIPSI RASA INGIN TAHU SISWA KELAS VII E DAN VII H SMPN 6 MUARO JAMBI Anggraini, Lisa
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.16850

Abstract

This research was conducted at Muaro Jambi 6th Junior High School, with the research subject being students of grade VII E and VII H. Researchers were interested in conducting this research because there had been no previous studies that discussed the curiosity of students, especially at Muaro Jambi 6th Junior High School, and curiosity is a very supportive thing in the learning process. By having high curiosity, the learning process (KBM) can run well, and learning can be meaningful. This research was conducted using observation and instrument techniques in the form of questionnaires. This study aimed to determine the level of curiosity of students of grade VII E and VII H. This study used quantitative approach and data collection techniques was Likert scale. Based on the results of the research, it can be concluded that students of grade VII H have a tendency to choose the category of scientific attitudes often more than students of grade VII E.Artikel ini ditulis untuk mendeskripsikan  rasa ingin tahu siswa . Penelitian ini dilakukan di SMPN 6 Muaro Jambi, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII E dan VII H. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini karena belum ada penelitian sebelumnya yang membahas tentang rasa ingin tahu siswa khususnya di SMPN 6 Muaro Jambi, dan rasa ingin ingin tahu merupakan hal sangat mendukung dalam proses pembelajaran. Dengan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi maka proses pembelajaan (KBM) dapat berjalan dengan baik, dan pembelajaran bisa menjadi bermakna. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan instumen berupa angket. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rasa ingin tahu siswa kelas VII E dan VII H. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuntitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan skala likert. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat diketehui bahwa siswa kelas VII H memiliki kecenderungan memilih kategori sikap ilmiah sering lebih banyak dari pada siswa kelas VII E.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI (UNDERWEAR RULES) TERHADAP PENGETAHUAN ANAK PRASEKOLAH Hudaya, Intan Nurul; Gantini, Dede; Patimah, Siti
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.18071

Abstract

1.424 sexual abuse cases happened to children in 2017. Teaching health education and giving sexual abuse prevention for children are done in early age, so children will be safe from sexual abuse. Underwear rules is simple instructions where children cannot be touched by other on their body which covered by their underwear and children not allowed to touch other’s body which covered by underwear. This research is aimed to know the effect of reproductive health education about underwear rules toward preschool children’s knowledge at TK Yayasan Islam Kecamatan Cipedes in Kota Tasikmalaya. This research used pre experimental method with one group pre-test post-test design. Sampling technic used stratified random sampling with 35 respondents. Statistical analysis test used Wilcoxon test.  The result showed children’s knowledge before health education are vary, good category 7 children, fair category 18 children and poor category 10 children. Moreover, children’s knowledge after health education has improved, 28 children got good category and 7 children got fair category. Statistical test result shows ρ value (0,000) 0,05 which means reproductive health education about underwear rules increase preschool children’s knowledge. There is an effect of reproductive health education about underwear rules toward the knowledge of preschool children.1.424 kasus kekerasan seksual terjadi pada anak di tahun 2017. Mengajarkan pendidikan kesehatan, serta memberikan informasi upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak harus dilakukan sedini mungkin agar anak terhindar dari tindakan kekerasan seksual. Underwear rules adalah aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam anak dan anak tidak boleh menyentuh bagian tubuh orang lain yang ditutupi oleh pakaian dalam. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi tentang underwear rules terhadap pengetahuan anak prasekolah di TK Yayasan Islam Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pre experimental dengan one group pre-test post-test design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Random Sampling dengan jumlah sampel 35 responden. Analisis uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan anak sebelum dilakukan pendidikan kesehatan kategori baik 7 orang, cukup 18 orang dan kurang 10 orang. Pengetahuan anak setelah dilakukan pendidikan kesehatan kategori baik 28 orang dan cukup 7 orang. Hasil uji statistik menunjukkan nilai ρ (0,000) 0,05 yang berarti pendidikan kesehatan reproduksi tentang underwear rules efektif untuk meningkatkan pengetahuan anak prasekolah. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi tentang underwear rules terhadap pengetahuan anak prasekolah.
TINGKAT KEPUASAN GURU TERHADAP KURIKULUM 2013 Mustaqim, Mujahidil
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.17286

Abstract

This article is based on the issuance of regulations that state that there is a revision of the 2013 curriculum. This new regulation is the answer given by the government for the chaos that occurred at the beginning of the 2013 curriculum. The noise of the 2013 curriculum was illustrated by the absence of curriculum trials, then there was also no socialization and teacher training on how to implement the new curriculum as well as changes in content, approach and evaluation which are considered quite complicated than before. The government considers the 2013 curriculum changes to be better than the previous curriculum and in accordance with the conditions of need in the field. However, this is not the case with education practitioners and curriculum implementers in the field who consider that the 2013 curriculum has many technical problems and is very burdensome for teachers. In 2016, a new government regulation was officially issued to resolve the problems that arise. With the arrival of this new regulation, a quantitative study was conducted on teachers regarding the level of teacher satisfaction with the 2013 curriculum revision. The results of the study stated that 90.85% of teachers expressed satisfaction and agreed with the presence of the 2013 curriculum revision. The level of satisfaction was seen from three of the four existing improvements. in the 2013 curriculum revision, namely, First, as many as 78.27% of teachers are satisfied with the effort to restructure spiritual and social attitude competencies in all subjects. Second, as many as 94.29% of subject teachers agreed with the KI-KD coherence and document alignment. Third, the dominance of teachers expresses their satisfaction with providing creative space for teachers in implementing the curriculum in the 2013 curriculum revision regulation.Artikel ini didasari atas terbitnya regulasi yang menyatakan adanya revisi kurikulum 2013. Regulasi baru ini merupakan jawaban yang diberikan pemerintah atas carut marut yang terjadi pada awal kehadiran kurikulum 2013. Kegaduhan kehadiran kurikulum 2013 tergambar dari tidak adanya ujicoba kurikulum, kemudian berlanjut juga tidak ada sosialisasi dan pelatihan guru terhadap how to implementasikan kurikulum baru serta perubahan isi, pendekatan dan evaluasi yang dinilai cukup rumit dari sebelumnya. Pemerintah menganggap secara subtansi kurikulum 2013 perubahan lebih baik dari kurikulum sebelumnya dan sesuai dengan kondisi kebutuhan di lapangan. Namun tidak demikian halnya dengan praktisi pendidikan dan implementator kurikulum di lapangan yang menilai bahwa kurikulum 2013 banyak mengalami kendala secara teknis dan sangat memberatkan guru. Tahun 2016, secara resmi keluar peraturan pemerintah baru guna menyelesaikan persoalan yang timbul. Dengan datangnya regulasi baru ini, dilakukan penelitian kuantitatif kepada guru tentang tingkat kepuasan guru terhadap revisi kurikulum 2013. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 90,85 % guru menyatakan puas dan setuju dengan kehadiran revisi kurikulum 2013. Tingkat kepuasaan dilihat dari tiga dari empat pokok perbaikan yang ada dalam revisi kurikulum 2013, yakni, Pertama, sebanyak 78,27 % guru puas dengan upaya penataan kembali kompetensi sikap spiritual dan sosial pada semua mata pelajaran. Kedua, sebanyak 94,29 % guru mata pelajaran menyatakan setuju dengan koherensi KI-KD dan penyelarasan dokumen. Ketiga, dominasi guru mengungkapkan kepuasan mereka dengan pemberian ruang kreatif kepada guru dalam mengimplementasikan kurikulum dalam regulasi revisi kurikulum 2013.
PENGARUH PEMANFAATAN KAMPUNG RAMAH ANAK TERHADAP ETIKA KOMUNIKASI ANAK USIA SEKOLAH DASAR Sartika, Rika; Mulyani, Nunung; Wulandara, Qanita
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.19258

Abstract

 The number of cases of Children Against the Law (ABH) in 2018 in Tasikmalaya is quite high, there are several cases involving ABH one of the causes due to lack of knowledge and understanding of the norms and ethics that apply in the community. One of them is a forum so that children can learn and understand the ethics of communication in the community, namely by having a child-friendly village (KRA) which oversees and provides guidance on ethics to children. This study aims to determine the effect of the use of KRA on the ethics of child communication. The population in this study were elementary school children in RW 03 as many as 169 people. The sample in this study amounted to 47 people, using quantitative methods and purposive sampling technique. Data collection using questionnaires and observation sheets. Data analysis using the Spearman rank test. The results of the Spearman rank test obtained a value of rs. 0.543 if the sign value. or value of 0.001 0.05, this means that there is an influence between the use of KRA on the communication ethics of elementary school age children in RW 03 Kampung Babakan Kalangsari. Judging from the percentage of the high category of communication ethics of children who use KRA (92.6%) higher than the high category of communication ethics of children who do not use KRA, this shows that the communication ethics of children who use KRA are higher than those who do not use it.Angka kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) pada tahun 2018 di Tasikmalaya cukup tinggi, terdapat beberapa kasus yang melibatkan ABH salah satu penyebabnya akibat kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai norma dan etika yang berlaku di masyarakat.  Salah satunya wadah supaya anak dapat belajar dan  memahami etika komunikasi di masyarakat yaitu dengan adanya kampung ramah anak (KRA) yang menaungi dan memberikan pengarahan mengenai etika kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan KRA terhadap etika komunikasi anak. Populasi pada penelitian ini adalah anak sekolah dasar (SD) di RW 03 sebanyak 169 orang. Sampel  dalam penelitian ini berjumlah 47 orang, dengan menggunakan metode  kuantitatif dan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji rank spearman. Hasil uji statistik rank spearman diperoleh nilai rs 0,543 apabila dengan nilai sig. atau ρvalue sebesar 0,001 0,05, hal ini berarti terdapat pengaruh antara pemanfaatan KRA terhadap etika komunikasi anak usia SD di RW 03 Kampung Babakan Kalangsari. Dilihat dari presentase kategori tinggi etika komunikasi anak yang memanfaatkan KRA (92,6%) lebih tinggi dari pada kategori tinggi etika komunikasi anak yang tidak memanfaatkan KRA, hal ini menunjukan bahwa etika komunikasi anak yang memanfaatkan KRA lebih tinggi dari yang tidak memanfaatkan.
IMPLEMENTASI MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS CORE TERHADAP KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA Nida, Ria Rahma; Suyatna, Agus; Wahyudi, Ismu
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.17334

Abstract

Monotonous learning can make students bored, it is necessary to innovate by using instructional media and new models of learning that students are more interested in participating in learning. This study aimed to determine the effect of the use of interactive multimedia in teaching physics-based CORE against generic science skills of students. This research is an experimental study uses a one group pretest-posttest design with Paired Sample T-Test with the population ie all students of class XI MIA SMA Negeri 9 Bandar Lampung and the sample are students of class XI MIA 3, taken using cluster random sampling technique. The research instrument is the test sheet about generic science skills are made in the form of multiple choice objective test models to test student’s generic science skills covered in the material optics. Tests were performed twice, there are pretest and posttest. Based on the tests, the value of Sig 0, 05 and the average yield of N-Gain is 0.75 so it was included in the high category. It means that there is the effect of the use of interactive multimedia in physics learning-based CORE against generic science skills of students marked by an increase in average student pretest and posttest results.Pembelajaran yang monoton dapat membuat siswa bosan, maka perlu dilakukan inovasi menggunakan media pembelajaran dan model pembelajaran yang baru agar siswa lebih tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran fisika berbasis CORE terhadap keterampilan generik sains siswa. Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang menggunakan one group pretest posttest design. Populasi pada penelitian ini, yaitu seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 9 Bandarlampung dan kelas XI MIA 3 sebagai sampelnya yang diambil menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan, yaitu lembar tes soal keterampilan generik sains yang dibuat dalam model pilihan ganda untuk menguji keterampilan generik sains siswa yang tercakup dalam materi optika. Tes dilakukan dua kali, yaitu pretest dan posttest. Hasil penelitian yang diperoleh diuji menggunakan Paired Sample T-Test. Berdasarkan uji, diperoleh nilai Sig 0,05 dan hasil rata-rata N-Gain yaitu 0,75 sehingga termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran fisika berbasis CORE terhadap keterampilan generik sains siswa yang ditandai dengan adanya peningkatan rata-rata hasil pretest dan posttest siswa.
ANALYSIS OF COMPILING TEXTBOOKS FOR DEVELOPING READING SKILLS IN ARABIC LANGUAGE Tausiah, Hilma; Rosita, Eros; Amanillah, Sofa; Sauri, Sofyan
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.17501

Abstract

Textbooks represent one of the important sources mainly used in teaching and learning contexts. Many teachers compiled textbooks that cube with the national curriculum authorized by the government. Therefore, some of the teacher are not qualified enough to compile such textbook. Texrbooks must be carefully designed in order to be understood  by readers. The aim of this research was to explore how teacher prepare Arabic textbooks to develop reading skills. Specifically, the main objective of this study was to provide a clear understanding, specify the function, identify the essential techniques, and present the stages or genre of compiling Arabic reading textbooks. The study used a descriptive analytical base on a qualitative approach. The result showed that teachers show ability to compile textbooks properly and correctly in accordance with the function, the techniques and genre of the Arabic textbook of reading skills.Buku teks merupakan salah satu sumber belajar dan bahan ajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran oleh setiap pengajar. Bahkan buku teks banyak disusun oleh para pengajarnya sendiri yang disesuaikan dengan kurikulum yang telah disusun oleh pemerintah yang diberi nama kurikulum nasional (Kurnas). Namun pada kenyataannya tidak semua orang mengerti dan paham dalam menyusun buku teks. Maka dari itu, penyusunannya pun perlu diperhatikan dengan cermat agar dapat diterima dan dipahami oleh semua pihak yang berkepentingan. Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui penyusunan buku teks dalam meningkatkan keterampilan membaca bahasa Arab. Sedangkan tujuan khususnya untuk mengetahui pengertian, fungsi, dasar-dasar, landasan dan tahapan buku teks. Metode yang digunakan studi deskriptif  analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah adanya kemampuan untuk menyusun buku teks dengan baik dan benar yang sesuai dengan fungsi, dasar-dasar, landasan dan tahapan buku teks.
FENOMENA LABELLING DAN SELF-CONCEPT SISWA SEKOLAH DASAR Nugrahaeni, Sri Devi Eka; Permana, Sidik; Hilmia, Rahma Sayyida; Darmayanti, Mela
EDUTECH Vol 18, No 3 (2019)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v18i3.17546

Abstract

Moral crisis among the students in the elementary school has been a concerned phenomenon of education nowadays. One of the moral crisis which has been happening a lots around the educational environment is bullying. Verbal bullying called then as “labelling” is the continuously growing trouble around the elementary environment. Labelling is “imaging” toward someone. The educators’ role is quite important as key person in preventing and solving this labelling case happened among students. This research raised the phenomenon of labelling reviewed by descriptive qualitative method and used three instruments; interviewing students, teachers, and observation at the field. This phenomenon of labelling is a treat and challenge for students’ future. Because in the fact, labelling would disturb the students’ self-concept forming process, that how they concept themselves for their own future. The result of this research could be beneficial as the image of reality for the educators to concern the problem in social interaction among students in the school.Krisis moral para siswa sekolah dasar menjadi fenomena pendidikan hari ini yang memperihatinkan. Salah satu dari krisis moral yang masih marak terjadi di lingkungan pendidikan adalah gejala “bullying”. Bullying verbal yang kemudian disebut juga dengan istilah “labeling” adalah masalah yang terus menerus berkembang di lingkungan anak sekolah dasar. Labeling merupakan pemberian julukan terhadap seseorang. Peran para pendidik sangat penting sebagai key person dalam upaya pencegahan dan penyelesaian kasus labelling yang terjadi pada para peserta didik. Penelitian ini mengangkat fenomena labeling yang akan diulas dengan metode kualitatif deskriptif dan menggunakan tiga instrumen, yaitu wawancara dengan beberapa siswa, guru, dan observasi lapangan. Fenomena labeling ini merupakan ancaman, rintangan, serta tantangan bagi masa depan para siswa. Karena faktanya, labeling akan mengganggu proses pembentukan self-concept siswa, yaitu bagaimana ia mengkonseptualisasi dirinya untuk masa depan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai gambaran realitas lapangan bagi para pendidik untuk lebih memperhatikan masalah interaksi sosial peserta didik di sekolah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8