cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018" : 10 Documents clear
PROFIL SASTRAWAN KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Suminto A. Sayuti; Else Liliani; Kusmarwanti Kusmarwanti
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.22015

Abstract

AbstrakKampus berfungsi tidak hanya sebagai jembatan untuk mencapai pendidikan tinggi, namun juga wahana untuk mengembangkan kompetensi individu, termasuk dalam bidang sastra. Sastrawan-sastrawan muda atau yang bertumbuh ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau kampus ini biasa disebut sastrawan kampus. Ppenelitian ini bertujuan mengidentifikasikan latar belakang sosial, ideologi, profesionalisme kepengarangan, dan posisi sosilal  sastrawan kampus FBS UNY khasanah sastra Indonesia. Penelitian  ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan fokus penelitian pada sastrawan kampus yang aktif menulis prosa (novel dan cerpen) di Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, sastrawan kampus Universitas Negeri Yogyakarta sebagian besar berasal dari suku Jawa. Sastrawan kampus lebih banyak didominasi lelaki.  Umumnya, sastrawan kampus memiliki latar belakang keluarga yang berkorelasi dengan dunia pendidikan. Kedua, sastrawan kampus umumnya lebih memilih memperhatikan hal-hal yang dianggap sering diabaikan dalam kehidupan untuk ditulis dalam karya mereka. Idealisme mengenai nilai-nilai otentik yang berbenturan dengan nilai pragmatisme masyarakat menjadi energi besar yang menggerakkan sastrawan-sastrawan kampus untuk menulis. Ketiga, sastrawan-sastrawan kampus umumnya tidak menjadikan menulis sebagai profesi utama mereka. Menulis adalah kerja sampingan. Sastrawan kampus tidak bergantung pada patronase tertentu.  Keempat, beberapa sastrawan kampus memiliki posisi yang cukup penting dalam sastra Indonesia. Posisi ini dipengaruhi oleh produktivitas karya, promosi dan publikasi, serta jejaring yang dimiliki. Semakin banyak karya yang dihasilkan dan dipublikasikan secara massif di berbagai media, maka penulis karya tersebut akan semakin dikenal oleh masyarakat.Kata kunci: profil, sastrawan kampus, sosiologi pengarang   Abstract               The aims of this study are: (1) to identify the social background of campus writers, (2) to explain the social ideology of campus writer, (3) to explain the professionalism of campus writer, and (4) to map the social position of FBS UNY campus writers in Indonesian literature. This research is a fenomenological qualitative research with a focus of research on campus writers who are active in writing prose (novels and short stories) in the Faculty of Language and Arts of UNY, using the author's sociology approach. The research subjects were selected purposively, namely Herlinatiens, Kedung Darma Romansha, Eko Triono, Muhammad Qadhafi, and Kun Anindito. Data collection techniques used in interviews, searches and studies of campus literary works, as well as news searches in various media. The validity used is expertjudgment, while the reliability of the data is triangulation between researchers and sources. The results of the study show: (1) most of the Yogyakarta State University campus writers are from Javanese. Campus writers are dominated by men. Generally, campus writers have a family background that correlates with the world of education, except Kedung Dharma. (2) Campus writers generally prefer to pay attention to things that are considered often ignored in life to be written in their work. Idealism about authentic values that collide with the pragmatism of the community becomes a great energy that motivates campus writers to write. (3) Campus writers generally do not make writing their main profession. Writing is a side job. Campus writers do not depend on certain patronage. (5) Some campus writers have quite important positions in Indonesian literature. This position is influenced by the productivity of works, promotions and publications, and the networks that are owned. The more massive work produced and published in various media, the writer of the work will be increasingly known by the public.Keywords: profile, campus writer, author’s sociology approach
REFERENSI ENDOFORA DALAM NOVEL LAGUNA KARYA IWOK ABQARY DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA Asep Muhyidin
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.20078

Abstract

AbstrakKeterkaitan antarkalimat dan antarparagraf dalam sebuah tuturan merupakan syarat dalam pembentukan sebuah wacana karena dengan keterkaitan yang padu wacana menjadi utuh. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan referensi endofora dalam novel Laguna karya Iwok Abqary. Data yang diambil yaitu satuan lingual berupa kalimat yang memiliki penanda referensi endofora yang bersifat anaforis dan kataforis. Sumber data dalam penelitian ini berupa sumber data tertulis berupa paragraf-paragraf yang terdapat pada novel. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah simak. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih. Hasil penelitian sebanyak 401 pemarkah referensi endofora anaforis dan 71 buah referensi endofora kataforis. Sebagian besar pemarkah referensi endofora berupa pronomina persona.  Hasil penelitian dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA. Untuk  itu, guru harus mampu membuat skenario pembelajaran yang menyebabkan siswa dapat memahami penggunaan referensi endofora dalam paragraf, sehingga pada akhirnya siswa memahami isi dan amanat yang terkandung dalam novel tersebut. Kata Kunci: Referensi endofora, novel, pembelajaran bahasa IndonesiaENDOPHORA REFERENCES IN LAGUNA NOVEL BY IWOK ABQARY AND ITS IMPLICATIONS FOR LEARNING INDONESIAN LANGUAGE AT HIGH SCHOOL. AbstractThis study aims to describe the use of endophora references in Laguna novel by Iwok Abqary. The data taken is a lingual unit of sentences that has an endophora references marker that is anaphoric and cataphoric. The data were collected through written data in the form of paragraphs contained in the novel. The method used to collect data in this research is referred to reading. Data analysis in this study uses the cloze method. The result of the research is 401 references of anaphoric endophora references and 71 cataphoric endophora references. Most endophora references referrals are pronouns of persona. The results can be applied in learning Indonesian language in high school. For that, teachers should be able to create learning scenarios that cause students to understand the use of endofora references in paragraphs, so that ultimately students understand the content and the mandate contained in the novel. Keywords:  Endophora references, novel, Indonesian language intruction
PROSOCIAL BEHAVIOR CHARACTER OF THANOS IN THE FILM AVENGERS INFINITY WARS Muzaki, Ferril Irham
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.20186

Abstract

PERILAKU PROSOSIAL KARAKTER THANOS DALAM FILM AVENGERS INFINITY WARSAbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kisah sentuhan emas raja Midas yang diceritakan kembali dalam film “Avengers: the Infinity War”. Kisah raja Midas berhubungan dengan kekosongan setelah banyak yang tak tertandingi. Sember data primer adalah tampilan visual dan scenario film “Avengers: the Infinity War”, sedangkan data sekunder adalah diskusi kritis yang membahas film tersebut dalam kanal Youtube dan Netflix. Analisis data menggunakan pendekatan wacana kritis. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, nilai-nilai moral yang dikemas melalui pesan bahwa sesuatu dapat lebih berharga daripada kekuasaan. Jika dalam versi lama, yang penting adalah ketersediaan makanan dan minuman, raja tidak bisa makan dan minum karena setiap menyentuh semuanya dengan emas, termasuk makanan. Pesan terbaru yang ditampilkan melalui “Avengers: Infinity War” adalah kekuatan luar biasa tanpa saingan. Kedua, yang didapatkan  bukan kekuatan tanpa pertandingan, tetapi rasa kebingungan karena telah dijauhi oleh seluruh komunitas. Kondisi digambarkan pada adegan terakhir saat kehilangan enam batu penyihir yang memiliki kekuatan. Ketiga, memegang posisi dalam komunitas berarti menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Temuan tersebut berimplikasi pada pentingnya kegiatan pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah dasar,  melaksanakan pembelajaran berbasis nilai-nilai kemanusiaan sesuia dengan perkembangan peserta didik. Kata kunci: sentuhan emas, king midas, avengers, perilaku prososial AbstractThe objective of this study is analyzing the story of the golden touch of the king of Midas which had been retold in Avengers: the Infinity War. The method is analyzing topics of the long story of events and times. Briefly, the story of the king of Midas relates to the emptiness after being much unchallenged. The results are (1) the moral values are packed in a message that something more valuable than power. If in the old version, the important thing is the availability of food and drink, the king cannot eat and drink because every touched it all to gold including the Food. The recent version, which is mechanized in the Avengers: Infinity War this time that is lifted is an incredible power without rivals. (2) Instead of getting everything, power without a match,a sense of confusion because in the final scene just lose the six sorceress stones that have of powers since it has been shunned by the whole community. (3) It holds a meaningful community position on humanitarian improvement. The main conclusions are, (1) The teaching and learning in elementary school environments teaches humanity-based learning based on justice which is in accordance with the basic humanitarian principle which emphasizes on learning that adjusts to the development of learners' position. (2) The underlying thing on the background of self-reliance and humanity is fair and dignified. This is the starting point of the universal message to own pro-social personality, by patriotic movie. Keywords: gold touch, king midas, avengers, pro-social behavior
DIASPORA ETNIK NON-ANGLO-SAXON DALAM MASYARAKAT ETNIK ANGLO SAXON: KEGETIRAN DAN KETERASINGAN Sugi Iswalono; Niken Anggraeni
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.22412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan, memaparkan dan menganalisis: 1) jenis-jenis represi yang dialami para persona dalam puisi karya beberapa penyair Amerika yang berasal dari etnik non-Anglo-Saxon, yaitu Julia Alvarez, Naomi Shihab Nye, Rhina P. Espaillat, dan lê thį diễm thúy; 2) resistensi yang masing-masing persona lakukan atas represi yang mereka alami; dan 3) bagaimana akhirnya para persona tersebut menemukan jati diri mereka masing-masing sebagai akibat dari represi yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah puisi yang berjudul Bilingual Sestina karya Julia Alvarez, Blood karya Naomi Shihab Nye, Bilingual/Bilingile karya Rhina P. Espaillat, dan to my sister lê thi diem trinh shrapnel shards on blue water karya  lê thį diễm thúy. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat karya-karya tersebut dan dianalisis dengan teori postkolonialisme dan sumber-sumber yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa represi yang dialami oleh etnik minoritas ini sebagaimana direpresentasikan oleh persona dalam masing-masing puisi di atas terjadi dalam aspek kehidupan sosial-budaya, ekonomi, dan politik mereka, dan represi tersebut tidak hanya dilakukan oleh etnik mayoritas Anglo-Amerika, namun juga oleh kelompok mereka sendiri. Resistensi yang mereka lakukan pun terjadi dalam bidang yang sama. Jati diri yang mereka temukan berpijak pada resistensi yang mereka lakukan yang sebetulnya merupakan “counter attack” mereka. Kata kunci: Anglo-Saxon/Amerika, postkolonialisme, represi, resistensi, temuan jati diri                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 THE DIASPORA OF NON-ANGLO-SAXON ETHNICS IN THE ANGLO-SAXON ETHNIC COMMUNITY: BITTERNESS AND ALIENATION AbstractThis study aims at finding, describing, and analyzing: 1) types of repression experienced by the personae in some poems by American writers of non-Anglo-Saxon ethnic origins, i.e. Julia Alvarez, Naomi Shihab Nye, Rhina P. Espaillat, and lê thį diễm thúy; 2) the resistance against the repression they experience; and 3) how they come to their self-recognition on account of the repression which they bear in their everyday life. The study employed a qualitative descriptive approach. The data sources were poems entitled  Bilingual Sestina by Julia Alvarez, Blood by  Naomi Shihab Nye, Bilingual/Bilingile by Rhina P. Espaillat, and to my sister lê thi diem trinh shrapnel shards on blue water by  lê thį diễm thúy. The data were collected by reading and making notes on the works and analyzed by the post-colonial theory and other related sources. The findings show that the repression experienced the ethnic minority as represented by the personae of the poems takes place in their socio-cultural, economic, and political aspects of life, and it is made not only by the ethnic majority of Anglo-Saxon, but also by their own groups. The resistance which they execute also takes place in the same aspects. As a matter of fact, their self-recognition is based upon the resistance they have brought about which is a sort of their counter attack. Keywords: Anglo-Saxon/American, postcolonialism, repression, resistance, self-recognition
ANALISIS SEMIOTIKA PEIRCE DALAM PENGGUNAAN BAHASA EMPAT PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA MPR RI Hastangka Hastangka; Armaidy Armawi; Kaelan Kaelan
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.20059

Abstract

AbstrakPenggunaan istilah “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” sebagai program sosialisasi MPR RI telah menimbulkan perdebatan. Istilah yang digunakan sejak tahun 2009 ini memberi dampak pada aspek linguistik di antaranya aspek sosiolinguistik, semantik, pragmatik, dan semiotika bahasa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persoalan semiotik penggunaan istilah Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara oleh MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa frasa Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Pengumpulan data dilakukan menggunakan inventarisasi data, kategorisasi data, dan klarifikasi data. Metode untuk menganalisa penelitian ini memakai analisis semiotika. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, istilah “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” merupakan preposisi unik dan tidak lazim dalam konteks sosiolinguistik masyarakat Indonesia. Kedua, istilah Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara yang mengkategorikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan bentuk kesalahan semantik dan pragmatik. Ketiga, secara aturan penulisan simbol dan tanda, istilah tersebut bertentangan dengan hakikat kedudukan dan fungsi dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika karena dijadikan sebagai satu varian yang sama, yaitu pilar. Keempat, penggunaan istilah Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara telah mengacaukan sistem tanda dan simbol, terutama pada makna semiotis Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kata Kunci: Bahasa, Empat Pilar, Semiotik, Simbol.    PEIRCE SEMIOTIC ANALYSIS IN THE USE OF THE FOUR PILLAR OF LANGUAGE NATION AND STATE OF MPR RI Abstract The application of the term “Four Pillars of the Nation and of the State” as the socialization program of MPR RI evokes debates. This term, which has been used since 2009, gives a significant  impact in many aspects of linguistics, especially in the aspect of sosiolinguistic, semantic, pragmatic, and semiotics of language. This research aims to describe and analyze the problem of semiotics in the use of the Four Pillars of the Nation and of the State by the People's Consultative Assembly of the Republic of Indonesia. The “Four Pillars” referred to by the People's Consultative Assembly consist of Pancasila, 1945 Constitution, the Unitary State of the Republic of Indonesia, and Unity in Diversity. The research data is from the phrase “Four Pillars of the Nation and of the State” which is collected by using the data inventory, data categorization, and data clarification. Method of analyzing the data in this research is using semiotic analysis. Result: The results of this study indicate that: first, the term “Four Pillars of the Nation and of the State” is a unique and unusual preposition in the sociolinguistics context of Indonesian society. Second, this term which categorizes Pancasila, the 1945 Constitution, the Unitary State of the Republic of Indonesia, and Unity in Diversity becomes a  mistake of the language terminology. It is because they are on the contrary to the semantic and pragmatic aspects. Third, based on the rules of writing the symbols and the sign, the Four Pillars of the Nation and of the State does contradict the position and function Pancasila, the 1945 Constitution, the Unitary State of the Republik of Indonesia, and Unity in Diversity originally have, as one exact same variant. Fourth, based on the semiotic aspects, the use of the Four Pillars of the Nation and of the State has disrupted the system of signs and symbols, especially the semiotic meaning of Pancasila, the 1945 Constitution, the Unitary State of the Republic of Indonesia, and Unity in Diversity. Keywords: language, four pillars, semiotics, symbol.
SETRATEGI KOMUNIKASI DALAM PROSES BHÂKALAN ETNIK MADURA DI DAERAH TAPAL KUDA Akhmad Haryono
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.18070

Abstract

This article aims at describing the communication strategy used by Madurese ethnic members in Tapal Kuda regions in bhâkalan process.  For this aim, the linguistic approach was used in this research. The data were collected with participatory observation such as interview, recording, and documentary study. The collected data were then transcripted into the written data and analyzed using discourse analysis with pragmatic concept.  The research result indicated that Madurese  language (ML) used in bhâkalan  process constitutes ML variation of èngghi-enten (ML È-E) ,èngghi-bhunten (ML È-B), and ênja’-iya (ML Ê-I). The rhetorical style used in bhâkalan  process is indirect rhetorical style, that is figurative language. Pangadâ’ (delegation) is compared to vegetation, animal, and wind. Language variation (as politeness form) and rhetorical style are used as  communication strategy in  bhâkalan process. 
MAKNA REALISME MAGIS DALAM NOVEL JOURS DE COLÈRE DAN ’ENFANT MÉDUSE KARYA SYLVIE GERMAIN Ferli Hasanah; Mega Subekti; Vincentia Tri Handayani
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.19990

Abstract

AbstrakDalam sastra, realisme magis dianggap sebagai alat yang ampuh untuk menunjukkan perlawanan terhadap kolonialisme dan neokolonialisme, terutama di negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya digambarkan masih menderita akibat efek destruktif kolonialisme. Penelitian bertujuan mendeskripsikan makna realisme magis dalam novel Jours de Colère dan l’Enfant Méduse karya Sylvie Germain. Berbeda dengan definisi genre fantastique (Todorov, 1970), realisme magis hadir sebagai bagian wajar dan tak terpisahkan dari cerita yang realis (Chanady, 1985). Realisme magis yang ada dalam kedua novel ini ada pada mitos, legenda, dan dongeng yang tergambar dalam narasi, deskripsi, maupun tokoh-tokohnya. Sejalan dengan Eugene Arva (1995) yang mengungkapkan bahwa realisme magis adalah jalan untuk mengungkapkan trauma yang tidak bisa diungkapkan, tokoh-tokoh dalam kedua novel memiliki pengalaman traumatis baik yang disaksikan maupun yang dialami sendiri. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif analitis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hal-hal magis yang melekat pada tokoh-tokoh di kedua novel dapat diargumentasikan bermakna sebagai strategi untuk mengungkapkan berbagai kejadian ekstrem yang ada dalam novel seperti kekerasan seksual dan pembunuhan. Penggunaan realisme magis ini tidak berfungsi untuk membuat pembaca memahami, namun untuk merasakan peristiwa yang terjadi.Kata Kunci: realisme magis, le mal, fantasi, traumaAbstractThis paper is intended to reveal the meaning of magical realism in the novels of Sylvie Germain's Jours de Colère l’Enfant Méduse. In contrast to the definition of the genre fantastique (Todorov, 1970), magical realism is present as a reasonable and inseparable part of a realist story (Chanady, 1985). The magical realism that exists in these two novels lies in myths, legends, and fairy tale that are depicted in the narration, description, and characters. Eugene Arva (1995) revealed that magical realism is a way to express unexplained trauma, the characters in both novels have traumatic experiences both witnessed and experienced by themselves. By using a qualitative approach and analytical descriptive method, the results of this study indicate that the magical things inherent in the characters in both novels can be argued as a strategy to express extreme events experienced such as sexual violence and murder. The use of magic realism is not working to make the reader understand, but to feel the events that occurred.Keywords: Magical realism, evil, fantasy, trauma
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM CERPEN-CERPEN KARYA OKA RUSMINI Rokhmansyah, Alfian; Valiantien, Nita Maya; Giriani, Nella Putri
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.16785

Abstract

Kekerasan yang dialami oleh perempuan umumnya terjadi akibat adanya budaya patriarki yang masih berakar di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran kehidupan perempuan Bali dalam cerpen-cerpen karya Oka Rusmini, khususnya yang berkaitan dengan kekerasan akibat kebudayaan patriarki. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan ancangan kritik sastra feminis untuk mendapatkan gambaran lebih detail mengenai kehidupan perempuan. Dalam penelitian ini, cerpen karya Oka Rusmini yang digunakan adalah cerpen Api Sita dan Pesta Tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan mengalami tindak kekerasan. Kekerasan yang dialami tokoh perempuan adalah kekerasan secara langsung dan kekerasan tidak langsung. Kekerasan tersebut dilakukan oleh tokoh laki-laki. Kekerasan yang dialami oleh tokoh perempuan terjadi karena adanya unsur patriarki, baik dari laki-laki pribumi maupun laki-laki asing (penjajah). Akibat adanya kekerasan yang diterima tokoh perempuan menyebabkan munculnya dampak pada diri tokoh perempuan tersebut, yaitu rasa benci terhadap kodratnya sebagai perempuan, dan keinginan yang meluap-luap untuk balas dendam.
DIKSI MAJAS OKSIMORON DAN TERJEMAHANNYA DALAM ANTOLOGI PUISI “TIDAK ADA NEW YORK HARI INI” I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini; Ronald Umbas
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.20438

Abstract

Karya sastra dan penerjemahan mempunyai peran penting dalam perkembangan bahasa. Cara berekspresi dengan menggunakan diksi dalam karya sastra, khususnya puisi dan terjemahannya memberi peluang bagi pengayaan kosa kata dan pendalaman makna. Penelitian ini merupakan kajian penerjemahan puisi yang berfokus pada diksi majas oksimoron. Analisis ditujukan untuk mengetahui jenis antonim dan strategi  penerjemahan diksi bertentangan pada antologi puisi “Tidak ada New York Hari Ini” dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Metode kualitatif diterapkan dengan melakukan pengamatan (observation) dan analisis isi (content analysis) untuk mencermati diksi yang menciptakan nuansa bertentangan. Ada dua hal utama yang menjadi hasil penelitian ini. Pertama, diksi majas oksimoron dapat berupa (a) oposisi kembar yakni pertentangan mutlak dari dua leksikon, (b) gradual yakni leksikon bertentangan yang menunjukkan gradasi terukur, dan (c) relasional yakni oposisi yang memiliki kaitan hirarkis. Kedua, strategi penerjemahan secara harfiah dan harfiah-makna. Secara harfiah, penerjemahan dilakukan dengan padanan yang makna leksikalnya sesuai, sedangkan secara harfiah-makna penerjemahan dilakukan dengan menggunakan padanan alternatif untuk memberi kesan lebih estetis dan puitis. Kata Kunci: diksi, oksimoron, strategi penerjemahan, penerjemahan puisi DICTIONS OF OXYMORONIC EXPRESSION AND  THEIR TRANSLATION IN THE POEM ANTHOLOGY “TIDAK ADA NEW YORK HARI INI”AbstractLiterary works and translation play a significant role in language development. The expression realized through dictions in literary works, particularly as found in a poem can encourage the enrichment of vocabulary and the exploration of meaning. This is a poetry translation study that is focused on dictions of oxymoronic expressions. It aims at investigating the types of antonym and strategies used to translate the dictions selected to represent the opposite atmosphere in the poem anthology “Tidak ada New York Hari Ini” and its translation in English. This study utilized qualitative method that was applied through close observation and content analysis on the dictions, which were chosen to create a contradictory situation. Two significant results were found in this study. First, this study showed that the dictions of oxymoronic expressions were classified into binary, gradable and relational antonyms. Binary opposition constitutes the oppositeness that cannot be measured. Gradable antonym is the word pairs whose meaning is possibly graded. Relational antonym is shown in the pairs of words that are related to each other through converse relations. Second, two translation strategies – literal translation and literal-meaning translation – were applied in translating the antonyms representing oxymoronic expressions.  Literal translation was shown by the choice of utilizing established equivalent in the translation whose meaning is very close to the source language. Meanwhile, literal-meaning was applied to establish idiomatic translation through the utilization of alternative equivalents that were meant to give more aesthetic and poetic impressions. Keywords: diction, oxymoron, strategies of translation, poetry translation
REALISASI BAHASA INDONESIA PENDERITA BIBIR SUMBING SEBUAH STUDI KASUS
LITERA Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i3.18883

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi realisasi dan perubahan fonem bahasa Indonesia berupa kata, frasa, dan kalimat yang diucapkan penderita bibir sumbing. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian studi kasus. Objek dalam penelitian ini berupa (1) realisasi kata, frasa, dan kalimat bahasa Indonesia, perubahan fonem yang mengiringinya, dan fonem-fonem yang sulit diujarkan oleh penderita bibir sumbing. Sumber data (informan) dalam penelitian ini adalah dua orang penderita bibir sumbing (labiozchis) yang berusia 40 tahun dan 13 tahun. Penyediaan data menggunakan metode simak dan teknik (1) simak libat cakap, (2) rekam, (3) catat. Analisis data menggunakan metode padan dan teknik hubung banding menyamakan. Hasil penelitian menunjukan konsonan letupan, geseran, sampingan, geletar, dan sengauan mengalami perubahan fonem yang tidak konsisten. Artinya perubahan bergantung pada fonem yang menyertai.Kata kunci: fonetik, realisasi bahasa Indonesia, bibir sumbing, anak berkebutuhan khusus, studi kasus CLEFT LIP SUFFERERS AND ITS REALIZATION IN INDONESIAN LANGUAGE AbstractThe research aimed to identify the realization and phoneme changes in Indonesian language in the form of words, phrases and sentences uttered by cleft lip sufferers. The study used a case study as its research design. The objects in research are (1) the realization of words, phrases, and sentences, (2) the phoneme changes, and (3) difficult phonemes in Indonesian language uttered by cleft lip sufferers. The participants of the study are two cleft lip sufferer (labiozchis) with two different age level of 40 and 13 years old. For collecting the data, this study implemented some techniques: (1) observation (2) recording, and (3) notetaking. For analysing the data, this study used the connecting and comparing techniques. The result showed the fricative phonemes, as well as the lateral, trill, and nasal changes tended to be inconsisten. The changes depend on the preceding phonemes.Key word: phonetic, Indonesian language realization, cleft lip, childern with special need, case study

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue