cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Posisi Relatif Provinsi di Indonesia Berdasarkan Penggunaan Pengobatan Tradisional: Analisis Komponen Utama Biplot Lusi Kristiana; Astridya Paramita; Pramita Andarwati; Herti Maryani; nailul izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3244

Abstract

The utilization of traditional health services and the use of traditional medicine in Indonesia is still high. There are socio-cultural-natural resources connection in the use of traditional health services and traditional medicine. This study examines Basic Health Research (Riskesdas) 2018 data relating to Indonesia's top ten provinces' relative position, whose community exercises self-traditional health practices and utilizing traditional health services. The analysis was conducted by using PCA-Biplots. Results showed similarities between North Maluku-Maluku-West Papua; Central Sulawesi-South Sulawesi-East Nusa Tenggara-Papua; Special Region of Yogyakarta-Central Java-East Java; South Kalimantan-Banten, while the others were scattered. The utilization of TOGA had a positive correlation with the utilization of traditional medicines. The result of variable diversity identification showed that the community utilizes traditional health services (83.29%) was higher than community exercising self-traditional health practices (73.19%). Actively monitoring, improving information sharing, and educating people on traditional medicine applications, particularly non-communicable disease issues, should be done according to traditional medicine variables' main characteristics in the region. Traditional medicine should serve promotive and preventive health initiatives, as its efficacy in therapeutic use is still debatable. Abstrak Pemanfaatan pelayanan Kesehatan tradisional (yankestrad) dan penggunaan obat tradisional masih cukup banyak. Terdapat keterkaitan sosial, budaya, dan sumber daya alam dalam pemanfaatan yankestrad dan penggunaan pengobatan tradisional lokal. Penelitian ini menganalisis posisi relatif 10 besar provinsi di Indonesia yang melakukan upaya kestrad sendiri dan memanfaatkan yankestrad berdasarkan data Riskesdas 2018. Analisis posisi relatif dalam artikel ini adalah PCA-Biplot. Hasil analisis menunjukkan pola pengelompokan kemiripan sebagai berikut: Malut-Maluku-Pabar; Sulteng-Sulsel-NTT-Papua; DIY-Jateng-Jatim; Kalsel-Banten, dan lainnya tersebar. Variabel pemanfaatan TOGA, semakin positif variabel, maka diikuti oleh pemanfaatan obat tradisional yang semakin baik. Hasil identifikasi keragaman variabel pada pengelompokan 10 besar provinsi dengan masyarakat memanfaatkan yankestrad (83,29%) mempunyai nilai lebih tinggi daripada masyarakat melakukan upaya kestrad sendiri (73,19%). Pemerintah melalui dinas terkait harus melakukan pemantauan, pemberian informasi dan edukasi pengobatan tradisional khususnya untuk penyakit tidak menular dengan penyesuaian terhadap karakteristik pemanfaatan pengobatan tradisional di wilayah tersebut.
Pemanfaatan Metode Tes Cepat Molekuler (XPERT MTB/RIF) Di Kabupaten Sorong Tahun 2014-2018 Kristina Kristina; Dina Bisara Lolong; Dian Perwita Sari
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3321

Abstract

Tuberculosis (TBC) is one of the health problems in the world, including in Indonesia. According to the World Health Organisation, the adult population is more exposed to TBC. An early TBC case finding is required to prevent disease transmission. The delay in diagnosis of TBC cases and treatment irregularities increase the chances of transmission in the community. The molecular rapid-test (MRT) examination can more accurately detect cases of confirmed TB culture than the microscopic one. Sorong District Hospital has conducted the molecular rapid-test to diagnose TBC since 2014.. This study aims to describe the utilization of MRT in Sorong Regency from 2014-2018. This research used a cross-sectional design. The population were TBC suspects who were examined by MRT at the District Hospital. The samples were all TBC suspects referred to the Sorong District Hospital for MRT examinations from 2014 to July 2018. The secondary data collected from the patient identity, the origin of referral, the type of specimen examined, the purpose of examination, the patient treatment status, and MRT examination results. Most of the MRT examinations were male (54.5%), aged 15-54 years (71.3%), the origin of referrals from internal health facilities (38.7%) and the health centre (37.8%). The MRT examination of most TBC patients with re-treatment cases was 88-90% in 2014-2016 and 53-66% in 2017-2018. Every year, drug-resistant TBC (RO) tests ranged (47-87%). Total MRT examination results obtained 25.7% rifampin sensitive, and 5% rifampin resistant. Conclusion: Most of the MRT examinations were male, aged 15-54 years. The origin of the referral was from the internal health facility/hospital. The purpose of examination was mostly from the drug-resistant TB tests. The results of MRT examination diagnosed 25.7% of new TBC cases and 5% of drug-resistant TBC from the total of 1,528 examinations. Abstrak Penyakit tuberculosis (TBC) merupakan masalah kesehatan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) populasi orang dewasa lebih banyak terpapar TBC. Penemuan kasus TBC sedini penting dalam upaya pencegahan penularan penyakit. Keterlambatan diagnosis kasus TBC dan ketidak teraturan pengobatan memperbesar peluang transmisi di masyarakat. Pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) dapat mendeteksi lebih akurat kasus konfirmasi kultur TBC dibanding dengan pemeriksaan mikroskopik. RSUD Kabupaten Sorong telah menerapkan penggunaan metode diagnosa TBC dengan tes cepat molekuler sejak 2014 hingga saat ini. Tujuan penulisan artikel untuk mengetahui gambaran pemanfaatan TCM di Kabupaten Sorong dari Tahun 2014-2018. Disain penelitian potong lintang. Populasi adalah suspek TBC yang diperiksa TCM di RSUD Kabupaten sedangkan sampel adalah semua suspek TBC yang dirujuk ke RSUD Kab Sorong untuk pemeriksaan TCM periode 2014-Juli 2018. Data sekunder yang dikumpulkan: identitas pasien, asal rujukan, jenis specimen yang diperiksa, tujuan pemeriksaan, status pengobatan pasien, dan hasil pemeriksaan TCM. Pemeriksaan TCM sebagian besarlaki-laki (54,5%), umur 15-54 tahun (71,3%), asal rujukan dari internal faskes (38,7%) dan Puskesmas (37,8%). Pemeriksaan TCM sebagian besar pasien TBC kasus pengobatan ulang yaitu 88-90% tahun 2014-2016 dan 53-66% tahun 2017-2018. Setiap tahun pemeriksaan TBC resisten obat (RO) berkisar (47-87%). Dari seluruh total pemeriksaan TCM diperoleh hasil 25,7% rifampisin sensitive, dan 5% rifampisin resisten. Kesimpulan: Pemeriksaan TCM sebagian besar laki-laki, umur 15-54 tahun, dan asal rujukan dari internal fasyankes/rumah sakit. Tujuan pemeriksaan sebagian besar memeriksa TBC resisten obat. Hasil pemeriksaan TCM mendiagnosa 25,7% kasus TBC baru dan 5% TBC resisten obat dari 1.528 pemeriksaan.
Persepsi Kader Terhadap Program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) Dalam Pengendalian Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan Pondok Betung Kota Tangerang Selatan Yuneu yuliasih; M Ezza Azmi; Rohmansyah Wahyu Nurindra; Arda Dinata; Heni Prasetyowati; Mara Ipa
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3338

Abstract

Program of One House One Larvae Monitoring Specialist (or G1R1J) is a community empowerment endeavor to eradicate mosquito nest of Dengue Hemorrhagic Fever. Program involves one of the family members to be a Larvae Monitoring Specialist at home. Factors influencing community behavior to implement a program are driving factors such as attitudes, and community leader's behavior, health staff, and other health staff that is a community reference group. The study's objective is to know the cadres' perception of the G1R1J Program as an agent of change to control DHF and their roles in a community. A qualitative study with Health Believe Model Approach. Data Collection conducted in the year 2019 using Focus Group Discussion and In-Depth Interview methods. Informants are cadres in Pondok Betung Sub-District Pondok Aren District, which a DBD endemic area in South Tangerang City. Data obtained were then processed according to thematic analysis. The study results showed cadre as a frontline implementation of G1R1J Program, who have a good understanding concerning program technical in Community. Risk perception related to disease and benefit from G1R1J Program is one of cadre motivation to run roles. Lack of response and dependency of the community about cadre are obstacles to conduct G1R1J Program. Efforts can do socialization of the G1R1J Program at the family level, which involves across sectors. Abstrak Program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) adalah satu upaya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanakan pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD). Program tersebut melibatkan salah satu anggota keluarga menjadi jumantik rumah. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku masyarakat dalam pelaksanaan suatu program adalah adanya faktor pendorong berupa sikap dan perilaku tokoh, petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok referensi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi kader terhadap Program G1R1J; sebagai agen perubahan dalam pengendalian DBD dan perannya di masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Health Belief Model (HBM). Pengumpulan data dilakukan pada tahun 2019 melalui Diskusi Kelompok Terarah (DKT) dan wawancara mendalam (In-Depth Interview/IDI). Informan penelitian ini adalah kader yang berada di Kelurahan Pondok Betung Kecamatan Pondok Aren yang merupakan wilayah endemis DBD di Kota Tangerang Selatan. Data yang diperoleh kemudian diolah berdasar analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader sebagai ujung tombak implementasi program G1R1J sudah memiliki pemahaman yang baik tentang teknis program di masyarakat. Persepsi risiko terkait penyakit dan manfaat dari program G1R1J menjadi salah satu motivasi kader dalam menjalankan perannya. Kurangnya respon dan ketergantungan masyarakat terhadap kader menjadi hambatan dalam pelaksanaan program G1R1J. Upaya yang dapat dilakukan adalah sosialisasi program GIRIJ di tingkat keluarga dengan melibatkan lintas sektor.
Kajian Kebijakan Pemanfaatan Obat Tradisional Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pada Era Jaminan Kesehatan Nasional Lucie Widowati; Ondri Dwi Sampurno; Hadi Siswoyo; Rini Sasanti; Nurhayati Nurhayati; Delima Delima
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3379

Abstract

Since the establishment of the Healthcare Social Security Agency (BPJS), there has been a low demand of patient demand for traditional medicine (TM) services in health care facilities. This study examined various aspects, situations/conditions and the potential use of TM in health facilities. Secondary sources, such as policies and regulations, and in-depth interviews, became the primary data. Those who in charge of the BPJS program was the key informant. The study focused on informants, particularly either Semarang or Surakarta. This study analysed the data, both descriptively and inductively. The aspects examined were services, the implementation of OT guarantees with BPJS, clinicians' readiness and government supports. The existence of JKN implies the use of OT to decrease dramatically. The health facilities did not fully utilise the presence of special allocation funds (DAK) and capitation arrangements. The list of TM was to contain the choices for preventive, promotive, curative, and palliative efforts either a compliment or an adjuvant. TM services involved in the path of preventive, promotive or curative actions either as an adjuvant, or complement with conventional medicine. TM financing may be from DAK, capitation funds or APBN II; however, these sources did not optimise yet. This condition happened due to the lack of political will from stakeholders, as well as the absence of standard reference for the Traditional Medicine Formulary, especially BPJS enrollment by the future. Therefore, the Ministry of Health RI has to issue a decree for health facilities obliged to provide services with traditional medicines. Abstrak Sejak dibentuknya Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS),terjadi penurunan permintaan pasien atas layanan obat tradisional di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Tujuan menganalisis berbagai aspek, situasi /kondisipemanfaatan obat tradisional dalam pelayanan di fasyankes. Mengkaji peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait pemanfaatan obat tradisional di fasyankes,dan melakukan wawancara mendalam dengan nara sumber relevan di fasilitas pelayanan kesehatan dan dinas kesehatan terpilih (Kota Surakarta dan Semarang). Analisis dilakukan secara deskriptif dan induktif. Terdapat lebih dari 20 peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait pemanfaatanobat tradisional di fasyankes.Aspek yang dikaji adalah pelayanan, implementasi jaminan OT dengan BPJS, kesiapan klinisi dan dukungan pemerintah. Adanya JKN menyebabkan penggunaan OT mengalami penurunan drastis, adanya pengaturan dana alokasi khusus (DAK) dan kapitasi, tidak dimanfaatkan fasyankes. Komite medik rumah sakit, puskesmas serta dinas kesehatan membutuhkan adanya daftar obat tradisional yang dapat digunakan di fasyankes yang ditetapkan pemerintah. Daftar obat tradisional diharapkan berisi pilihan obat tradisional untuk upaya preventif, promotif, kuratif ringan dan paliatif sebagai komplemen maupun sebagai adjuvan. Pelayanan dengan obat tradisional masuk jalur upaya preventif, promotif atau kuratif ringan baik sebagai adjuvant maupun komplemen dengan obat konvensional. Pembiayaan obat tradisional dapat dilakukan dengan DAK, dana Kapita si atau APBN II, namun belum dimanfaatkan. Kondisi ini karena kurangnya political will dari stake holder dan belum adanya acuan standar Formularium Obat Tradisional, terutama jika kemudian hari dapat dijamin oleh BPJS. Masih dibutuhkan adanya regulasi ketetapan menteri bahwa fasyankes wajib melakukan pelayanan dengan obat tradisional.
Tenageer Behaviors and Teenager Pregnancies in Limakoli Village, Rote Ndao District, East Nusa Tenggara Province, Indonesia Betty Roosihermiatie; Indah Nur Esti Leksani; Oktarina Oktarina; Marizka Khairunnisa
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3386

Abstract

Young marriage still occur in Indonesia. About 0.2% (22,000) teenager 10-14 years were married. Though, Law of marriage the Republic of Indonesia onage requirements are 19 years for men and 16 years for women.Two things for unexpected pregnancy are maintaining or ending a pregnancy by adolescents. The study aimed to determine teenager behaviors and teenager pregnancies in Limakoli village, Rote Ndao District. It was an explorative ethnographic. Inforrmants were selected by snowball sampling. Data were analyzed by thematic analysis. Girls used to do houseworks. Meanwhile, boys had sports in the afternoon. Tenageers got knowledge and information on reproductive health but discussions of pregnancy and the risks were limited. The pregnant teenagers faced gossips and social stigma. One teen pregnacy was faced angry by their parents and families, aborted, quiet, drop out from school. The other teenager covered her second pregnancy, though her parents likely accept her pregnancy. Teenager pregnancies tended not to have antenatal cares. The traditional marriage ‘Terang Kampung’ was not done by underages, likely it included family and extended families. Pregnant teenagers dropped out from schools, in contrast boys did not. Girls had most impact on teenager pregnancies of physical, psychological, and social risks. Hence, an integrative sociocultural intervention for dating with no sexual relations, no adolescence pregnancies and marriage by school, church, primary health center, traditional leaders, village staffs should be developed. Abstrak Pernikahan muda masih terjadi di Indonesia. Sekitar 0,2% (22.000) remaja 10-14 tahun menikah. Padahal, UU Perkawinan Republik Indonesia tentang persyaratan usia adalah 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Dua hal untuk kehamilan yang tak terduga adalah mempertahankan atau mengakhiri kehamilan oleh remaja. Penelitian ini bertujuan menentukan perilaku remaja dan kehamilan remaja di Desa Limakoli, Kabupaten Rote Ndao. Studi ini adalah etnografi eksploratif. Informan dipilih secara snowball sampling. Data dianalisis dengan analisis tematik. Remaja perempuan biasanya melakukan pekerjaan rumah. Sementara, remaja laki-laki berolahraga di sore hari. Remaja memperoleh pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi, tetapi diskusi tentang kehamilan dan risikonya terbatas. Remaja yang hamil menghadapi gosip dan stigma sosial. Seorang remaja hamil menghadapi kemarahan orang tua dan keluarganya, mengalami aborsi, menjadi pendiam, dan putus sekolah. Remaja lainnya menutupi kehamilannya yang kedua, walaupun kemungkinan orang tuanya menerima kehamilannya. Kehamilan remaja cenderung tidak mendapat antenatal care. Perkawinan tradisional 'Terang Kampung' tidak dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, kemungkinan karena melibatkan keluarga dan keluarga besar. Remaja yang hamil mengalami drop out dari sekolah, sebaliknya remaja laki-laki tidak. Remaja perempuan memiliki dampak paling besar pada kehamilan remaja terhadap risiko fisik, psikologis, dan sosial. Sehingga perlu dikembangkan, intervensi sosiokultural integratif untuk berpacaran tanpa hubungan seksual, tidak ada kehamilan remaja dan pernikahan, dengan melibatkan sekolah, gereja, pusat kesehatan primer, pemimpin tradisional, staf desa.
Relevansi, Efektivitas dan Sustainabilitas Model Pemberdayaan Paraji dan Kokolot dalam Upaya Meningkatkan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Sri Handayani; Suharmiati Suharmiati; Karlina Karlina; Yurika Fauzia Wardhani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3406

Abstract

In 2017 and 2018 the Center for Humanities and Health Management conducted health interventions research in Tugu and Rancapinang Village, Cimanggu District, Pandeglang Regency. This research is motivated by the maternal and child health problems that are still experienced in Pandeglang Regency. Intervention research was carried out using a community empowerment method where paraji and kokolot as agents of change to improve childbirth in health facilities. This research uses a qualitative approach with a participatory action research (PAR) method. Data collection methods have used in-depth interviews, focus group discussions, and observations. Paraji and kokolot empowerment model to increase childbirth in health facilities are quite relevant to be implemented because it is following the problem of the presence of pregnant women giving birth at home. In terms of effectiveness, this model is more effectively implemented in Tugu village than in Rancapinang Village because the characteristics of the area and the people of the two villages are different. The sustainability of this model is questionable because it is not yet integrated with the local health service system. As a suggestion, modifying this model according to the social and cultural characteristics of the local community is necessary. Increasing effectiveness in this model is needed to have a strong partnership between paraji, kokolot as agents of change, village midwives, and local facilitators. This model must also be integrated with the local health service system so that sustainability can be realized. Abstrak Pada tahun 2017 dan 2018 Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan melaksanakan riset intervensi kesehatan di Desa Tugu dan Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Riset ini dilatarbelakangi oleh masalah kesehatan ibu dan anak yang masih dialami oleh Kabupaten Pandeglang. Riset intervensi dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat di mana paraji dan kokolot sebagai agen perubahan untuk meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode participatory action research (PAR). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Model pemberdayaan paraji dan kokolot dalam upaya meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan cukup relevan diimplementasikan karena sesuai dengan permasalahan masih adanya ibu hamil yang melahirkan di rumah. Dari segi efektivitas model ini lebih efektif dilaksanakan di Desa Tugu dibandingkan di Desa Rancapinang karena karakteristik wilayah dan masyarakat kedua desa berbeda. Sustainabilitas model ini dipertanyakan karena belum terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan setempat. Sebagai saran, perlu adanya modifikasi dalam model intervensi ini yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat. Untuk meningkatkan efektivitas model ini memerlukan kemitraan yang kuat antara paraji dan kokolot sebagai agen perubahan dengan bidan desa dan pendamping lokal. Model ini juga harus terintegrasi dengan sistem kesehatan lokal sehingga sustainabilitas dapat tercapai.
Association of Smoking Related to Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) with Tobacco Use in Community Health Center Working Area of Sungai Durian, Sintang Regency, West Kalimantan Province Maretalinia Maretalinia; Elvi Juliansyah; Suyitno Suyitno; Aris Yulianto; Dyah Suryani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3544

Abstract

Tobacco use is one of the predicting factors of non-communicable diseases. In 2003, cigarette consumption was the main factor contributing to 4.9 million deaths in developing countries. In 2020, Bureau of Statistics Indonesia reported 31.5% of Indonesian population were tobacco users. Particularly, in West Kalimantan province, more than one-fourth of men are smokers. Specifically, in the working area of Sungai Durian Primary Healthcare Center, third-fourth of men are smokers. This study was conducted to examine the relationship between Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) with tobacco use. This cross-sectional study employed 218 respondents of 4,321 male population. The predicting factors in this study were knowledge, attitude, and practice. The statistical test was done using univariate, bivariate (Chi-Square), and multivariate (binary logistic regression) analyses. The bivariate analysis test showed that knowledge and practice were significantly associated with tobacco use. Regarding the multivariate analysis results, practice was the strongest factor affecting tobacco use (AOR= 4.25, CI 95% (1.93 – 9.36)), and the second strongest factor was knowledge (AOR= 2.46, CI 95% (1.00 – 6.04)). Tobacco use in the working area of Sungai Durian Primary Healthcare Center was mostly affected by practice. Primary healthcare centers as the nearest healthcare facility in the community need to improve health education and decrease tobacco consumption. A tobacco control can be implemented by banning smoking indoors to reduce smoking behavior. Abstrak Penggunaan tembakau merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular. Pada tahun 2003, konsumsi rokok merupakan penyebab utama kematian 4,9 juta penduduk di negara berkembang. 31,5% penduduk Indonesia adalah pengguna tembakau berdasarkan data tahun 2000. Secara khusus di Provinsi Kalimantan Barat, lebih dari satu per empat laki-lakinya adalah perokok, dan secara lebih khusus lagi, tiga per empat laki-laki usia 20-30 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian adalah perokok. Studi ini dilakukan untuk menguji hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap penggunaan tembakau. studi cross-sectional ini melibatkan 180 perokok di antara 4,321 total populasi laki-laki. Faktor prediksi pada studi ini yaitu: pengetahuan, sikap, dan praktik. Uji statistik telah dilakukan yaitu uji tunggal, ganda (Chi-Square), dan multivariabel (binary logistic regression). Uji ganda menemukan bahwa pengetahuan dan perilaku secara signifikan berhubungan dengan penggunaan tembakau. Lebih jauh, berdasarkan hasil multivariabel, perilaku merupakan pengaruh terbesar (AOR= 4,25, CI 95% (1,93 – 9,36)) dan diikuti dengan pengetahuan (AOR= 2,46, CI 95% (1,00 – 6,04)). Penggunaan tembakau di wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian sebagian besar dipengaruhi oleh perilaku. Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan terdekat butuh menyelenggarakan pendidikan kesehatan untuk menurunkan konsumsi tembakau. Pengendalian tembakau yang diimplementasikan dengan larangan merokok di dalam ruangan sangat penting untuk mengurangi kebiasaan merokok.
Pengelolaan Dan Pemanfaatan Data Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) Di Puskesmas Eva Sulistiowati; Andre Yunianto; Sri Idaiani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3567

Abstract

The Healthy Indonesia Program with a Family Approach (PISPK) is conducted by the health center (puskesmas), which addressed to closer the public access to health services with a family target. Puskesmas would accept data and information from family health profiles (Prokesga) based on evidence, that needs to manage adequately so can be utilized as a document of drafting the action plan. Evaluation of the PISPK implementation in 2019 shows that the majority of puskesmas do not conduct and utilize PISPK Data. This study aims to describe how to manage, analyze, and utilization PISPK Data at puskesmas. The analysis is part of the PISPK implementation research conducted by the Center for Research and Development of Health Resources and Services through Participatory Action Research (PAR) approach in 8 puskesmas in Indonesia (2017-2018) using mixed methods. We had performed a Focus Group Discussion for the surveyor and an in-depth interview with the Head of Health Centers. PISPK Data analysed using Excel and SPSS. Results showed that still not proficient in data management and utilization at puskesmas sites. It is caused by several obstacles involve an administrative change of city or district; update of the healthy family application; restricted access of raw data, internet connection, and Prokesga storage, including limitations of data analysis skill also. Barriers can be minimalized use manual analysis and special training for management and data analysis. Results of data analysis for PISPK can also be used to determine program targets, to make a map of the individual problem, family, and area, which is utilized to arrange a draft of the Action Plan. Abstrak Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK) dilaksanakan oleh puskesmas untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan dengan target keluarga. Puskesmas akan mendapatkan data dan informasi dari profil kesehatan keluarga (Prokesga) berdasar evidence yang perlu dikelola dengan baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan rencana usulan kegiatan. Evaluasi pelaksanaan PISPK 2019 menunjukkan mayoritas puskesmas belum melakukan analisis dan pemanfaatan data PISPK. Untuk itu, tulisan ini bertujuan menggambarkan bagaimana pengelolaan, analisis, dan pemanfaatan data PISPK di puskesmas. Analisis merupakan bagian dari riset implementasi PISPK yang dilakukan oleh Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan melalui pendekatan Parcipatory Action Research (PAR) di 8 puskesmas di Indonesia pada tahun 2017-2018 dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Dilakukan Focus Group Discussion (FGD) terhadap petugas puskesmas dan wawancara mendalam kepada kepala puskesmas. Data PISPK diolah dengan menggunakan excel dan SPSS. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan data PISPK di puskesmas lokus belum optimal. Hal ini terkendala, antara lain: perubahan administratif kota/kabupaten, perubahan versi aplikasi KS; tidak ada akses terhadap raw data; terbatasnya sinyal internet dan tempat penyimpanan Prokesga, termasuk juga keterbatasan kemampuan analisis data. Kendala dapat diminimalisir dengan analisis manual, dan pelatihan khusus manajemen dan analisis data. Hasil analisis data PISPK dapat digunakan dalam menentukan sasaran program, membuat peta masalah individu, keluarga dan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk penyusunan rencana usulan kegiatan.
Hubungan Insomnia dengan Hipertensi Hendrik Edison; olwin nainggolan
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3579

Abstract

Insomnia and hypertension are very common and often coexist. There is evidence to suggest that the increase in the prevalence of hypertension in the past decade may be related to an increase of the prevalence of insomnia and with a decrease in sleep duration caused by modern lifestyles. The purpose of this study was to look at the association and magnitude of risk of insomnia with hypertension. This study used secondary data from the 2014 Indonesia Family Life Survey (IFLS5) with respondents ≥19 years old. Conceptual framework with a risk factor model approach. Insomnia disorders are the main independent variable, and hypertension is the main dependent variable. Confounding variables are age, overweight and sex. Association of insomnia disorders to hypertension was analyzed using multiple logistic regression analysis with the significance of P value <0.05. The prevalence of insomnia sufferers aged ≥19 years old in Indonesia based on IFLS5 data was 43.7%. This analysis showed that insomnia was not associated with the incidence of hypertension P>0.05; OR: 0.937 (95% CI 0.873-1.006). The variables associated with the risk of hypertension were age ≥ 40 years old with OR: 5,246 (95% CI 4,885-5,598) and overweight with OR: 2,112 (95% CI 1,985-2,269). In this study, age and overweight contributed 18.9% to the incidence of hypertension. Abstrak Insomnia dan hipertensi sangat umum dan sering kali berdampingan. Bukti menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi hipertensi dalam dekade terakhir kemungkinan terkait dengan peningkatan prevalensi insomnia dan penurunan durasi tidur yang disebabkan oleh gaya hidup modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan dan besaran risiko insomnia terhadap hipertensi. Penelitian ini menggunakan data sekunder Indonesia Family Life Survey tahun 2014 (IFLS5) dengan responden berumur ≥19 tahun. Kerangka konsep dengan pendekatan model faktor risiko. Gangguan insomnia merupakan variabel independen utama, dan hipertensi adalah variabel dependent utama. Variabel perancu adalah umur, kelebihan berat badan (overweight) serta jenis kelamin. Untuk melihat hubungan gangguan insomnia dengan hipertensi menggunakan analisis regresi logistik berganda dengan kemaknaan P value < 0,05. Prevalensi penderita insomnia umur ≥19 tahun di Indonesia berdasarkan data IFLS5 adalah sebesar 43,7%. Analisis ini menunjukkan bahwa insomnia tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi P>0,05; OR: 0,937 (95% CI 0,873-1,006). Variabel yang berhubungan dengan risiko hipertensi adalah umur ≥ 40 tahun dengan OR: 5,246 (95% CI 4,885-5,598) serta overweight dengan OR: 2,112 (95% CI 1,985-2,269). Pada penelitian ini umur dan overweight memberikan kontribusi terhadap kejadian hipertensi sebesar 18,9%.
Indikator Antropometri Sebagai Prediktor Glukosa Darah Puasa Terganggu Pada Usia Dewasa Di Tangerang Selatan Hoirun Nisa; Imanda Zein Fatihah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3604

Abstract

In recent decades, the prevalence of Diabetes Mellitus (DM) type-2 has significantly increased globally and nationally in Indonesia. High risk of DM type-2 is associated with Impaired Fasting Glucose (IFG), and IFG changes conditions are closely related to increasing anthropometric indicators. This study aimed to assess the association between anthropometric indicators and IFG status in adults aged ≥40 years in South Tangerang City. A cross-sectional study was conducted among 320 respondents aged ≥40 years and lived in Sub District of East Ciputat, South Tangerang City. The results of the study indicated that 17.5% of 320 adults had IFG conditions. Anthropometric indicators for central obesity were significantly associated with IFG status. Multivariate analysis indicated that there were significant associations between anthropometric indicators (waist circumference/WC, waist to hip ratio/WHR, waist to height ratio/WHtR), and IFG status (p<0.05). The multivariate-adjusted odds ratios (95% confidence interval) of IFG status for anthropometric indicators were 3.43(1.52-7.71), 7.71(1.79-33.24), and 3.11 (1.04-9.24), respectively. Body Mass Index/BMI was not significantly associated with IFG status (p>0,05). This study noted that examining central obesity indicators regularly merits consideration for the prevention of IFG conditions among adults. We need to increase community awareness to prevent IFG and DM type-2 through health promotion of controlling adults’ body mass and cholesterol with normal fasting blood glucose. Abstrak Pada beberapa dekade terakhir, prevalensi Diabetes Melitus tipe-2 (DM tipe-2) di dunia dan khususnya di Indonesia mengalami peningkatan. Risiko tinggi untuk DM tipe-2 berhubungan dengan Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT). Perkembangan kondisi GDPT dikaitkan dengan peningkatan indikator antropometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indikator antropometri dengan GDPT pada orang dewasa usia ≥40 tahun di Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 320 orang yang berusia ≥40 tahun dan tinggal di Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Hasil penelitian ini menemukan sebanyak 17,5% dari 320 orang dewasa mengalami kondisi GDPT. Indikator antropometri untuk obesitas sentral berhubungan bermakna dengan GDPT. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa lingkar pinggang, Rasio Lingkar Pinggang Panggul dan Rasio Lingkar Pinggang terhadap Tinggi Badan berhubungan dengan kejadian GDPT (Nilai-P <0,05). Setelah disesuaikan dengan faktor perancu, dihasilkan Rasio Odds (95% Confidence Interval) masing-masing sebesar 3,43 (1,52-7,71), 7,71 (1,79-33,24) dan 3,11 (1,04-9,24). Indeks Massa Tubuh tidak ditemukan mempunyai hubungan dengan GDPT. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pengecekan indikator obesitas sentral secara berkala untuk mencegah kondisi GDPT pada orang dewasa. Diperlukan promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengontrol massa tubuh dan lemak tubuh orang dewasa dengan glukosa darah puasa normal untuk mencegah GDPT dan DM tipe-2.

Page 11 of 16 | Total Record : 154