cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Disparitas Pembangunan Kesehatan di Indonesia Berdasarkan Indikator Keluarga Sehat Menggunakan Analisis Cluster Herti Maryani; Lusi Kristiana; Astridya Paramita; nailul izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.852 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2622

Abstract

Healthy Indonesia Program with family approach was the main health development program to support the achievement of Healthy Indonesia Program objectives in the 2015-2019 Ministry of Health strategic plan. There were twelve main indicators to mark the health status of a family. This study aimed at grouping provinces in Indonesia based on Healthy Family Indicators 2018 using cluster analysis. The analysis used secondary data published by Welfare Statistics Indonesia 2018, National Statistics Agency, Republic of Indonesia. The variables were 8 taken from 12 Healthy Family Indicators. The type of this research was descriptive. The result of grouping provinces in Indonesia based on the Healthy Family Indicator was divided into 4 clusters. The clusters consisted of fi rst with 3 provinces, second with19 provinces, the third with 8 provinces, and the fourth with 4 provinces. Disparity in health development, particularly Indicators of Healthy Families, still existed in Indonesia. Provinces in eastern Indonesia with very low Healthy Family Indicators were Maluku, North Maluku, West Papua and Papua (cluster 4). Provinces with a high Healthy Family Indicator (cluster 3), consisted of Riau Islands, Jakarta, Yogyakarta, Bali, East Kalimantan, North Kalimantan, South Sulawesi and Gorontalo. Several indicators from Healthy Family Indicators which were under the national target and required much attention were toddlers who received complete immunizations, women aged 15-49 who had been married and following family planning program, and the ownership of the National Health Insurance. Abstrak Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga menjadi program utama pembangunan kesehatan untuk mendukung tercapainya tujuan Program Indonesia Sehat dalam rencana strategis kementerian kesehatan tahun 20152019. Terdapat dua belas indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan provinsi di Indonesia berdasarkan Indikator Keluarga Sehat 2018 menggunakan analisis cluster. Analisis menggunakan data sekunder hasil publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat di Indonesia tahun 2018, Badan Pusat Statistik. Variabel yang dianalisis ada 8 variabel dari 12 Indikator Keluarga Sehat. Jenis penelitian adalah deskriptif. Hasil pengelompokan provinsi di Indonesia berdasarkan Indikator Keluarga Sehat menghasilkan 4 cluster. Cluster pertama terdiri dari 3 provinsi, cluster kedua terdiri dari 19 provinsi, cluster ketiga terdiri dari 8 provinsi dan cluster keempat terdiri dari 4 provinsi. Disparitas pembangunan kesehatan khususnya Indikator Keluarga Sehat masih terdapat di wilayah Indonesia. Provinsi yang berada di wilayah Indonesia bagian timur mempunyai Indikator Keluarga Sehat sangat rendah, yaitu provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (cluster 4). Provinsi dengan Indikator Keluarga Sehat yang tinggi adalah cluster 3 yaitu Kep. Riau, DKI Jakarta, D I Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Indikator Keluarga Sehat yang perlu mendapat perhatian karena masih di bawah target nasional adalah Balita yang pernah mendapat imunisasi lengkap, perempuan usia 15-49 tahun yang pernah kawin sedang menggunakan KB, dan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
The Assessing Promotive and Preventive Programs Efficiency in Indonesia: A Data Envelopment Analysis and Qualitative Approach Mazda Novi Mukhlisa; Windy Haryani; Indra Yoga; Rosa Estetika; Wahyu Pudji Nugraheni
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.2632

Abstract

Health Operational Aid for promotive and preventive programs increases year by year. Despite that, health outcomes remain low. The objective of our study was to measure the technical efficiency of public health programs. We conducted a quantitative approach using Health Production Model to measure the efficiency of 315 districts across 34 provinces in Indonesia. To measure the efficiency score, we run the Data Envelopment Analysis. We also conducted a qualitative one to explore the source of inefficiency by managing interviews and focus group discussion to informants from six districts. The results indicated a wide variation in efficiency among districts. The average efficiency score was 63% with minimal and maximal scores were 15% and 100%, respectively. The high performing districts were in affluent or accessible areas. The qualitative analysis resulted in districts with the mixed planning process and the exact basis for budget distribution, as well as various criteria for priority setting, have higher performance than those which have not. Moreover, there were specific cases played a role in the low performing districts, such as the high-risk population in remote areas and the vaccines issues on halal status. In conclusion, districts still can improve their efficiency in achieving health output using their health resources. Abstrak Bantuan Opersional Kesehatan (BOK) yang digunakan untuk membantu upaya program promotif dan preventif meningkat setiap tahunnya. Akan tetapi, keluaran kesehatan tetap rendah. Tujuan analisis ini adalah menilai efi siensi teknis pada program kesehatan masyarakat yang menggunakan BOK. Dengan menggunakan Model Produksi Kesehatan, kami melakukan pendekatan kuantitatif untuk mengukur skor efi siensi di 315 kabupaten/kota di Indonesia. Skor tersebut diukur dengan Data Envelopment Analysis. Kami juga melakukan pendekatan kualitatif untuk menggali lebih dalam tentang sumber inefi siensi dengan melakukan wawancara dan diskusi kelompok terarah kepada informan di enam kabupaten/ kota. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat variasi skor efi siensi antar kabupaten/kota. Rata-rata efi siensi adalah 63% dengan skor minimal sebesar 15% dan maksimal sebesar 100%. Kabupaten/kota dengan skor efi siensi tinggi berada di area kaya atau mudah diakses. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa kabupaten/kota dengan perencanaan bottom-up yang dikombinasikan dengan top-down, kepastian dasar pembagian distribusi, dan beberapa kriteria untuk setting prioritas memiliki skor efi siensi yang tinggi. Masalah khusus yang dihadapi kabupaten/kota juga berperan dalam inefi siensi, seperti populasi berisiko tinggi di daerah terpencil atau isu halal/haram vaksin. Secara garis besar, kabupaten/ kota masih berpotensi meningkatan efi siensi dalam mencapai output kesehatan dengan menggunakan sumber daya kesehatan yang dimilikinya.
Hubungan Konsumsi Makanan Tinggi Natrium dengan Kejadian Hipertensi pada Buruh Tani di Wilayah Kerja Puskesmas Panti Kabupaten Jember Dwi Linda Aprilia Aristi; Hanny Rasni; Latifa Aini Susumaningrum; Tantut Susanto; Slamet Siswoyo
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.964 KB) | DOI: 10.22435/hsr.v23i1.2741

Abstract

A very heavy workload of farmers must be balanced with optimal food intake in both quantity and quality. The study aimed to identify the relationship between high sodium food consumption and the incidence of hypertension among farm workersat Public Health Center of Panti in Jember Regency. A cross-sectional study design was performed 248 of farmworkers using stratifi ed random sampling. A self-administered questionnaire was used to identify the sociodemography of farm workers. Food frequency questionnaires and sphygmomanometer were performed to measure food frequency consumption and blood pressure. A Chi-square test was used to analyze the objective of the study (p<0,005). The results showed 33.9% of hypertension incident. There were a signifi cant relationship between food consumption and hypertension systolic, such as: biscuit (x2 = 10.466; p-value = 0.005), salted fi sh (x2 = 12.067; p-value = 0.022), milk and processed products (x2 = 9.051; p-value = 0.022), coffee (x2 = 6.025; p-value = 0.049), dan MSG (x2 = 10.298; p-value = 0.006). Meanwhile, the consumption of tea had a signifi cant relationship with hypertension diastolic (p-value 0.039). This study showed that the frequency consumption on biscuits, salted fi sh, milk, coffee and food seasonings was related to the incidence of hypertension systolic. Besides, tea consumption was related to the incidence of hypertension diastolic. Therefore, monitoring blood pressure and regulating the consumption food among farmworkers should be maintained regularly per month through non-communicable disease integrated health service post. Abstrak Beban kerja petani yang cukup berat harus diimbangi dengan asupan makanan yang optimal secara kuantitas dan kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifi kasi hubungan konsumsi makanan tinggi natrium dengan kejadian hipertensi pada buruh tani di Kecamatan Panti Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada 248 buruh tani dengan stratifi ed random sampling. Kuesioner digunakan untuk mengidentifi kasi sosiodemografi dan frekuensi konsumsi makanan. Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan sphygnomanometer digital. Analisis data bivariat dilakukan dengan Chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan kejadian hipertensi sebesar 33,1%. Frekuensi konsumsi makanan tinggi natrium berhubungan dengan kejadian hipertensi sistolik, seperti biskuit (x2 = 10,466; p-value = 0,005), ikan asin (x2 = 12,067; p-value = 0,022), susu dan olahannya (x2 = 9,051; p-value = 0,022), kopi (x2 = 6,025; p-value = 0,049), dan MSG (x2 = 10,298; p-value = 0,006), sementara itu, frekuensi konsumsi teh berhubungan dengan hipertensi diastolik (x2 = 6,504; p – value = 0,039). Penelitian ini dapat disimpulkan frekuensi konsumsi makanan (biskuit, ikan asin, susu, kopi, dan bumbu penyedap makanan) berhubungan dengan kejadian hipertensi sistol, sedangkan kebiasaan minum teh berhubungan dengan kejadian hipertensi diastolik. Oleh karena itu, perlu dilakukan monitoring tekanan darah secara berkala dan pengaturan konsumsi makanan buruh tani melalui kegiatan posyandu penyakit tidak menular (PTM) secara berkala setiap bulannya.
Perilaku-Perilaku Sosial Penyebab Peningkatan Risiko Penularan Malaria di Pangandaran Andri ruliansyah; Firda Yanuar Pradani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.2797

Abstract

Malaria is still a public health problem in Pangandaran Regency. Increasing imported malaria cases from year to year become the main problem since Pangandaran is a tourist destination and is currently doing development in the tourism sector. This study aimed to look at socio-cultural factors in the community that contribute to the increased risk of malaria transmission. This research was conducted with interviews and environmental observations. Respondents were randomly selected from the population living in the District of Pangandaran. The results showed that the habit of going out at night, traveling to endemic areas, and choosing potential breeding places around settlements or tourist attractions would increase the risk of malaria transmission in Pangandaran. In this context, health workers need to discuss and provide understanding to the community about the dangers of malaria transmission so that people become more concerned and make independent prevention eff orts. The development of tourist destinations must also consider environmental factors sMalaria merupakan masalah kesehatan masyarakat yang ditemukan di wilayah Kabupaten Pangandaran. Peningkatan kasus malaria impor dari tahun ke tahun menjadi masalah terutama karena Pangandaran merupakan daerah tujuan wisata dan sedang melakukan pengembangan di sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor sosial budaya di masyarakat yang memiliki potensi meningkatkan risiko penularan malaria. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara dan pengamatan lingkungan. Responden dipilih secara acak dari penduduk yang tinggal di wilayah Kecamatan Pangandaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan keluar malam, kebiasaan bepergian/merantau ke luar kota termasuk ke daerah endemis dan keberadaan tempat perindukan potensial di sekitar pemukiman atau objek wisata akan meningkatkan risiko penularan malaria di Pangandaran. Dalam konteks ini, para petugas kesehatan perlu melakukan pendekatan menyeluruh dan memberikan pengertian kepada masyarakat tentang bahaya penularan malaria sehingga masyarakat menjadi lebih peduli dan melakukan upaya pencegahan secara mandiri. Pengembangan daerah wisata pun harus memperhatikan faktor-faktor lingkungan seperti letak tempat perindukan potensial Anopheles spp. uch as potential places for Anopheles spp brood. Abstrak
Analisis Kebutuhan dan Pemanfaatan Buku Serta Pedoman Pelayanan KIA di Puskesmas: Studi Kualitatif Diyan Ermawan Effendi; Arief Priyo Nugroho; Suharmiati Suharmiati; Lestari Handayani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.3086

Abstract

The high rate of maternal (MMR) and infant mortalities (IMR) is a detrimental health development challenge in Indonesia. The use of the Maternal and Child Health (MCH) handbook and MCH service guidelines are the government’s eff orts in reducing the MMR and IMR. However, the reduction of MMR and IMR is still slow. The fi nding of the previous study asserts the need for MCH handbook and MCH service guidelines modifi cations to be suited to the needs of users, both health workers, and expectant mothers. Therefore, this study mainly aims to analyze the needs and use of MCH handbook and service guidelines by doctors and midwives in the primary health centers. The method was qualitative needs analysis with 137 informants from 12 health centers in three regions of Indonesia. The results revealed that the needs of health workers were clustered in three signifi cant aspects; instrumental (language and book-making materials), managerial (procurement, distribution, and dissemination) and operational (ease of access to MCH handbook and service guidelines as well as the availability of SOP). The fulfi llment of these three aspects is expected to improve the MCH program’s achievement, especially in cities where the research took place and other areas with similar characteristics. Abstrak Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Penggunaan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta pedoman pelayanan KIA merupakan upaya pemerintah dalam penurunan AKI dan AKB. Meskipun demikian, penurunan AKI dan AKB dinilai masih lambat. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan perlunya modifi kasi buku dan pedoman pelayanan KIA disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, baik tenaga kesehatan maupun ibu hamil. Oleh sebab itu, penelitian ini bermaksud menganalisis kebutuhan dan pemanfaatan buku dan pedoman pelayanan KIA oleh dokter dan bidan di puskesmas. Metode yang digunakan adalah analisis kebutuhan kualitatif dengan 137 informan dari 12 puskesmas di tiga Kabupaten/kota di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan kebutuhan nakes terkelompok pada tiga aspek utama, yaitu instrumental (bahasa dan bahan pembuat buku), manajerial (pengadaan, pemerataan distribusi dan sosialisasi) dan operasional (kemudahan akses pada buku dan pedoman layanan KIA dan ketersediaan SOP). Pemenuhan terhadap tiga aspek tersebut diharapkan mampu memperbaiki capaian program pelayanan KIA khususnya di wilayah tempat penelitian.
Inovasi Program Pelayanan Kesehatan Tradisional pada Lansia di Puskesmas Made Kota Surabaya Rukmini Rukmini; Oktarina Oktarina
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.3101

Abstract

Traditional health services (Yankestrad) are part of the health care subsystem in the National Health System, aiming to change the curative treatment paradigm to be promotive and preventive. The study was conducted in 2019, collecting data through in-depth interviews with the Head of Puskesmas and FGD with related cross sectors. The implementation of traditional health services at the Surabaya Made Health Center had been in line with central and regional policies and regulations. The types of complementary traditional health services provided are acupuncture, acupressure, baby massage, and herbal medicine. Most cases of traditional health services for the elderly are relaxation, for non-communicable diseases, stroke, diabetes mellitus, hypertension, and obesity. Yankestrad’s innovation in building with the integration of internal referrals from other polyclinics such as general poly, wound care poly, dental poly, and nutrition poly to yankestrad poly. Innovation outside the building in the form of fostering independent Toga care and acupressure integration with the independent care group (Asman) Acupressure Toga and Elderly Posyandu. Conclusion Yankestrad at the Puskesmas is very potential as an alternative health service for the elderly. This study recommends improving coordination across programs and sectors so that traditional health services can work well and support other programs’ achievement, especially non-communicable diseases and the elderly program. Abstrak Pelayanan kesehatan tradisional (Yankestrad) merupakan bagian subsistem upaya kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional, bertujuan untuk merubah paradigma pengobatan kuratif menjadi promotif dan preventif. Tulisan ini bertujuan mengkaji inovasi program pelayanan kesehatan tradisional pada lansia di Puskesmas Made Kota Surabaya. Studi dilakukan tahun 2019, pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada Kepala Puskesmas dan FGD dengan lintas sektor terkait. Pelaksanaan pelayanan kesehatan tradisional di Puskesmas Made Kota Surabaya telah sesuai dengan kebijakan dan regulasi pusat dan daerah. Jenis pelayanan kesehatan tradisional komplementer yang diselenggarakan adalah akupunktur, akupressure, pijat bayi dan herbal medik. Kasus terbanyak pelayanan kesehatan tradisional untuk lansia adalah relaksasi, untuk penyakit tidak menular stroke,diabetes mellitus,hipertensi,dan obesitas. Inovasi Yankestrad dalam gedung dengan integrasi rujukan internal dari poliklinik lainnya seperti Poli umum, Poli rawat luka, Poli Gigi dan Poli Gizi ke Poli Yankestrad. Inovasi luar gedung berupa pembinaan asuhan mandiri Toga dan akupressure integrasi dengan kelompok asuhan mandiri (Asman) Toga akupressure dan Posyandu lansia. Kesimpulan Yankestrad di Puskesmas sangat berpotensi sebagai salah satu alternatif pelayanan kesehatan pada lansia. Disarankan untuk meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor agar pelayanan kesehatan tradisional dapat berjalan baik dan dapat mendukung pencapaian program lain, terutama program penyakit tidak menular dan lansia.
Hubungan antara Perilaku Merokok Anggota Rumah Tangga dengan Perilaku Merokok Remaja di Indonesia olwin nainggolan; Ika Dharmayanti; A Yudi Kristanto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.3104

Abstract

This study aimed to know the association and risk levels of household other members and adolescent smoking behaviors in Indonesia. As confounding variables of study involving Alcohol Consumption Behavior, Lived Area, and Social-Economics Status Variables. A study hypothesis declared that there was a signifi cant correlation between smoking behavior of household other members as a smoker with the smoking behavior of 15 to 18 years old after being controlled by other variables. Furthermore, this study using a Basic Health Research Secondary Data of 2018 aged 15 until 18 years and a multivariable analyzed uses logistic regression. The results showed a signifi cant correlation (p-value 0,000) between Household Other Members as a Smoker with smoking behavior of 15 to 18 years old after being controlled by confounding variables with OR 1,449 (95% CI 1,346-1,56-0). Smoker Variable not as a Head of Household was signifi cantly correlated (p-value 0,007) with OR 2,002 (95% CI 1,211-3,377), Alcohol Consumption Behavior was signifi cantly correlated (P-value 0,000) with OR 20,602 (95% CI 17,611-24,101), Lived Area with OR 1,129 (95% CI 1,051-1,212), also Social Economic Status with OR 1,098 (95%CI 1,024-1,178). An Alcohol Consumption Behavior Variable was the most dominant variable in determining Adolescent Smoking Behavior. We should focalize on areas identity is driven by health service providers, stakeholders, and policymakers. Accordingly, formulate awareness programs and education, particularly adolescents, to eliminate smoking initiation. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan besaran risiko perilaku merokok anggota rumah tangga lain dengan perilaku merokok remaja berusia 15 sampai dengan 18 tahun di Indonesia. Variable perancu pada penelitian ini meliputi perilaku konsumsi alkohol, wilayah tempat tinggal, serta status sosial ekonomi responden. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan yang bermakna antara perilaku merokok anggota rumah tangga lain sebagai perokok, dengan perilaku merokok remaja usia 15 sampai dengan 18 tahun setelah dikontrol oleh variabel lain. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dengan rentang usia 15-18 tahun dan data di analisis secara multivariabel menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna (p value 0,000) antara anggota rumah tangga lain sebagai perokok dengan dengan perilaku merokok pada remaja usia 15 sampai dengan 18 tahun setelah dikontrol oleh variabel perancu dengan OR 1,449 (95% CI 1,346-1,56-0). Variabel perokok bukan sebagai kepala rumah tangga berhubungan bermakna (p value 0,007) dengan OR 2,002 (95% CI 1,2113,377), perilaku minum alkohol berhubungan bermakna (p value 0,000) dengan OR 20,602 (95% CI 17,611-24,101), wilayah tempat tinggal responden dengan OR 1,129 (95% CI 1,051-1,212), serta status sosial ekonomi dengan OR 1,098 (95%CI 1,024-1,178). Variabel perilaku minum alkohol adalah variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku merokok pada remaja. Perlu fokus identifi kasi area oleh penyedia layanan kesehatan serta para stake holder pembuat kebijakan dalam merumuskan program kesadaran dan pendidikan khususnya pada remaja untuk eliminasi inisiasi merokok.
Cover, Dewan Redaksi, Daftar Isi dan Kata Pengantar Sekretariat Redaksi
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.159 KB)

Abstract

Pengaruh Riwayat Kesehatan Reproduksi terhadap Kejadian Mioma Uteri pada Perempuan di Perkotaan Indonesia Tumaji Tumaji; Rukmini Rukmini; Oktarina Oktarina; Nailul Izza
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i2.3238

Abstract

Uterine myoma is a reproductive health problem that causes serious morbidity and can affect the quality of life of suff erers. Many factors cause uterine myoma. This study aims to analyze the factors related to reproductive health history that can influence the occurrence of uterine myoma in women in urban Indonesia. This study is a non-intervention analysis which is a further analysis of the 2016 PTM Research results. The 2016 PTM research design is cross-sectional. The population is all women aged 25-64 years in urban Indonesia. Data collection was carried out by interview. In this paper, the data analyzed were respondent characteristics, reproductive health history and the incidence of uterine myomas. Data were analyzed univariate, bivariate, and multivariate. The results showed that the age of menarche and parity did not aff ect the incidence of uterine myoma (p= 0.861 and p= 0.424). Meanwhile, giving birth to a child for the fi rst time under the age of 30 reduced the risk by 48% (95% CI: 0.439-0.607). Having children 1-2 has a risk of 1.3 times greater than those who have more than 2 children (95% CI: 1.126-1.463). Use of contraceptives decreases risk by 30% (95% CI: 0.613-0808). The use of hormonal drugs for infertility treatment increases the risk 3.2 times greater (95% CI: 2.562-4.013). Women who did not use hormone replacement therapy were reduced by around 74% (95% CI: 0.114-0.608). The incidence of uterine myoma is influenced by the age of fi rst birth, number of children, use of contraceptives, use of hormonal drugs for infertility treatment, and hormone replacement therapy drugs. Health promotion is needed so that risk factors that can be prevented/modifi ed can be minimized to reduce the chance of developing uterine myoma. Abstrak Mioma uteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang menyebabkan morbiditas yang cukup serius serta dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Banyak faktor yang menjadi penyebab mioma uteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait riwayat kesehatan reproduksi yang dapat mempengaruhi terjadinya mioma uteri pada perempuan di perkotaan Indonesia. Penelitian ini adalah analisis non-intervensi yang merupakan analisis lanjut dari data hasil riset PTM 2016. Desain riset PTM 2016 adalah potong lintang dengan populasi seluruh perempuan usia 25–64 tahun di perkotaan Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Dalam tulisan ini, data yang dianalisis adalah karakteristik responden, riwayat kesehatan reproduksi serta kejadian mioma uteri. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil menunjukkan umur menarche dan paritas tidak berpengaruh terhadap kejadian mioma uteri (p= 0,861 dan p= 0,424). Sementara itu, melahirkan anak pertama kali di bawah umur 30 tahun menurunkan risiko sebesar 48% (95%CI: 0,439–0,607). Memiliki anak 1–2 memiliki risiko 1,3 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki anak lebih dari 2 (95%CI: 1,126–1,463). Penggunaan alat kontrasepsi menurunkan risiko sebesar 30% (95%CI: 0,613–0,808). Penggunaan obat-obatan hormonal pengobatan infertilitas meningkatkan risiko 3,2 kali lebih besar (95%CI: 2,562–4,013). Perempuan yang tidak menggunakan obat-obatan terapi sulih hormon risikonya berkurang sekitar 74% (95%CI: 0,114–0,608). Kejadian mioma uteri dipengaruhi oleh umur pertama kali melahirkan, jumlah anak, penggunaan alat kontrasepsi, penggunaan obat-obatan hormonal pengobatan infertilitas, dan obat-obatan terapi sulih hormon. Diperlukan promosi kesehatan sehingga faktor risiko yang dapat dicegah/dimodifi kasi dapat diminimalkan untuk mengurangi peluang terkena mioma uteri.
Cover, Daftar Isi, Kata Pengantar hsr managerxot
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 2 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.567 KB)

Abstract

Page 9 of 16 | Total Record : 154