cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pusbullhsr@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
BULETIN PENELITIAN SISTEM KESEHATAN
ISSN : 14102935     EISSN : 23548738     DOI : https://doi.org/10.22435/hsr.v23i2.3101
hasil-hasil penelitian, survei dan tinjauan pustaka yang erat hubungannya dengan bidang sistem dan kebijakan kesehatan
Articles 154 Documents
Tingkat Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Rawat Inap di Indonesia Lukman Prayitno; Primasari Syam; Hendrianto Trisnowibowo; Mugeni Sugiharto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.2534

Abstract

Responsiveness of the health system in in-patient services is closely related to patient's reasonable expectations of non-clinical aspects for inpatient care. A comfortable patient can straight influence level of responsiveness. This study aimed to determine level of in-patient responsiveness and significance of respondent characteristics on eight responsiveness domains. It was a further analysis of the Responsiveness Survey of 2017. A Cross-Sectional design with a quantitative approach and has performed in 34 provinces in Indonesia. Most mean responsiveness scores were in range of good scores. Moreover, Lowest score was quality basic amenities domain, while highest score was confidentiality domain. Level of in-patient responsiveness was good category (8,05). Each characteristic has significantly correlated with one or more responsiveness domains. We can increase in-patient responsiveness value that less than 8,0 through improving three responsiveness domains, i.e., dignity, access to social network, and provider choice. Abstrak Ketanggapan rawat inap sistem kesehatan berkaitan dengan harapan logis pasien terhadap aspek non medis. Level Ketanggapan dapat secara langsung mempengaruhi kenyamanan pasien. Penelitian bertujuan mengetahui level Ketanggapan rawat inap dan signifikansi karakteristik responden terhadap 8 domain Ketanggapan. Penelitian ini merupakan analisa lanjut data survei Ketanggapan tahun 2017. Metode penelitian adalah cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Survei ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia. Semua rerata skor Ketanggapan berada pada rentang skor baik. Nilai skor yang paling rendah adalah domain quality basic amenities. Sedangkan nilai skor yang paling tinggi adalah domain confidentiality. Level Ketanggapan rawat inap adalah 8,05 dan masuk kategori baik. Setiap karakteristik mempunyai hubungan signifikan dengan satu atau lebih domain Ketanggapan. Nilai Ketanggapan rawat inap bisa ditingkatkan dengan memperbaiki 3 domain Responsiveness, yaitu Dignity, Acces to social network, Choice of provider.
Pengaruh Penambahan Tepung Ampas Tahu Terhadap Kadar Protein, Kadar Serat, Kadar Air Dan Daya Terima Bakso Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Syafrilia Fillaili; farida wahyu ningtyias; Sulistiyani Sulistiyani
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.2604

Abstract

Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) is launched as an effort to increase fish consumption and improve people’s nutrition through the consumption of fishery products. Food processing modification is an effort to support GEMARIKAN by increasing food processing method to improve fishery products’ nutrition. Tilapia and tofu waste flour are used as ingredients in making tilapia fish meatballs. This study aims to analyze the effect of the addition of tofu waste flour on protein, fiber, water content, and acceptability of tilapia fish meatballs. This research was experimental research with a quasi-experimental type and used a posttest only control group research design. The addition of tofu waste flour (X0: 0 gram; X1; 5 grams; X2: 10 grams; X3: 15 grams) caused the increasing level of protein, fiber, and water of tilapia fish meatballs. Protein content on tilapia fish meatballs are X0: 16.59%; X1: 16.88%; X2: 17.24%; X3: 17.42%, fiber content are X0: 0.08%; X1: 0.14%; X2: 0.25%; X3: 0.35%) and water content were X0: 63.63%; X1: 63.55%; X2: 63.75%; X3: 64.07%). Tilapia fish meatballs with 10 grams addition of tofu waste flour were the most acceptable product. This innovation produced the most preferred meatball product by panelists, and the nutritional content had met the fish meatball's quality standards. Abstrak Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) merupakan suatu usaha untuk meningkatkan konsumsi ikan serta perbaikan gizi masyarakat melalui konsumsi produk perikanan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung GEMARIKAN adalah dengan melakukan modifikasi pengolahan ikan untuk menambah variasi produk perikanan maupun memperkaya kandungan gizinya. Bahan yang digunakan dalam modifikasi produk perikanan pada penelitian ini adalah ikan nila dan tepung ampas tahu yang kemudian diolah menjadi bakso ikan nila. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh penambahan tepung ampas tahu terhadap kadar protein, kadar serat, kadar air dan daya terima pada bakso ikan nila. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan jenis quasi eksperimental menggunakan desain penelitian posttest only control group design. Hasil penelitian menunjukkan seiring peningkatan jumlah penambahan tepung ampas tahu (X0: 0 gram; X1: 5 gram; X2: 10 gram; X3: 15 gram) meningkatkan kadar protein, serat dan air bakso ikan nila. Kadar protein menjadi X0: 16,59%; X1: 16,88%; X2: 17,24%; X3: 17,42%; kadar serat menjadi X0: 0,08%; X1: 0,14%; X2: 0,25%; X3: 0,35%; dan kadar air menjadi X0: 63,63%; X1: 63,55%; X2: 63,75%; X3: 64,07%. Bakso yang disarankan adalah bakso ikan nila dengan penambahan tepung ampas tahu sebanyak 10 gram. Perlakuan ini menghasilkan bakso ikan nila yang paling banyak disukai oleh panelis dan dari segi mutu gizinya telah sesuai dengan standar mutu bakso ikan.
Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan Dasar untuk Difabel di Sukoharjo, Jawa Tengah Aan Kurniawan; Ajeng Kusuma Wardani; Tri Juni Angkasawati; Mugi Wahidin
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.2735

Abstract

Exclusive operations in health services remains a common practice on primary health services in Indonesia, particularly in the First Level Health Facility. This form of services was incapable of covering the need for people with disability (PwD) towards adequate health services. Prerequisite facilities were not available nor accessible for the disabled in need of health treatment. This research was aimed at depicting friendly health services for people with disability at the Puskesmas level. This research looked at several factors, including the need for PwD, assessment of facility provision, evaluating policy support, also support from family and Disabled People Organisation (DPO) to ensure adequate services for PwD. This study is qualitative research with in-depth interviews, observations, and literature reviews, data collection methods. Research sites were three Puskesmas in Sukoharjo, Central Java. The result shows that PwD’s needs on primary health services in Puskesmas include physical accessibility, health worker’s ability to understand them and proper health insurance. DPO in Sukoharjo had actively supported disability rights. DPO and local government had also been working together in the improvement of health services for PwD. However, the three Puskesmas were in the process of improving their supporting facilities. The refurbishment followed building accessibility guidelines from the Ministry of Public Works. This study was a pilot project on inclusive primary health services in Sukoharjo. Abstrak Pola-pola non inklusif masih sering ditemui pada pelayanan kesehatan dasar di Indonesia, khususnya pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Bentuk layanan itu tidak dapat mengakomodir kebutuhan difabel terhadap pelayanan kesehatan yang memadai. Kebutuhan seperti aksesibilitas fisik masih belum tersedia dan dapat diakses oleh difabel yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran pelayanan kesehatan yang ramah bagi difabel pada tingkat Puskesmas. Penelitian ini melihat pada faktor kebutuhan difabel akan pelayanan kesehatan, mengevaluasi ketersediaan pelayanan kesehatan dan faktor dukungan kebijakan, serta melihat faktor dukungan dari keluarga dan organisasi difabel dalam memastikan kebutuhan difabel akan pelayanan kesehatan yang memadai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian dilaksanakan di tiga Puskesmas di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara mendalam, observasi dan penelusuran literatur terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan difabel pada pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas meliputi aksesibilitas fisik, kemampuan petugas dalam memahami dan jaminan kesehatan yang tepat. Organisasi Difabel di Sukoharjo secara aktif mengadvokasi hak difabel kepada pemerintah setempat. Sinergi yang baik terbangun di antara kedua belah pihak dalam meningkatkan pelayanan kesehatan untuk difabel. Sarana dan prasarana penunjang yang lebih aksesibel masih dalam proses peningkatan pada ketiga Puskesmas yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Pembangunan tersebut dilakukan dengan mengikuti petunjuk teknis aksesibilitas gedung. Ini merupakan pilot project pembangunan Puskesmas ramah-difabel di Sukoharjo.
Hubungan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Hipertensi Zulfaa Rif’at Fauziyyah; Solikhah Solikhah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.2986

Abstract

Hypertension is a silent killer that is still a health concern globally including in Indonesia. Consumption of fast foods that contain a high level of natrium, fat, sodium, sugar and MSG can be one of the causes of hypertension. Therefore, this research aimed at exploring the relationship between fast food consumption and hypertension in Indonesian. This research used cross-sectional design with secondary data from Indonesian Family Life Survey 5 (2014-2015). The sampling scheme in this study is based on the 1st IFLS survey scheme, which was stratified based on provinces and urban and rural areas. Samples were taken randomly at the household level. 13 provinces were chosen which represented 83% of the total population and reflected the cultural and socio-economic diversity of the Indonesian people. Data analysis uses multivariate logistic regression. Out of 12,105 respondents those who majority of participants consumed fast foods (73%). Multivariate logistic regression analysis showed that fast food consumption did not have any significant relationship with hypertension (AdjOR = 1.02; Cl 95% = 0.65-1.61; p > 0.05). However, males and respondents who worked were significantly associated with hypertension. Fast food consumption patterns did not correlate to hypertension among Indonesian. However, people need to pay attention to fast food overconsumption in order to be prevented from having hypertension. Future research is needed with other methods in such case-control by adding various risk factors of hypertension. Abstrak Hipertensi merupakan silent killer yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi natrium, tinggi lemak, tinggi sodium, tinggi gula dan MSG menjadi penyebab kejadian hipertensi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi hubungan pola konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari The Indonesian Family Live Survey gelombang 5 (IFLS-5). Skema pengambilan sampel dalam survei ini didasarkan pada skema pengambilan survei IFLS gelombang 1, yang dilakukan secara bertingkat berdasarkan propinsi dan wilayah perkotaan dan pedesaan. Sampel diambil secara acak pada skala rumah tangga. Terpilih 13 propinsi sebagai sampel yang merepresentasikan 83% dari total populasi serta mencerminkan keanekaragaman budaya serta sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Analisis data menggunakan multivariate regresi logistik. Dari 12.105 responden, mayoritas responden sering mengkonsumsi makanan cepat saji (73%). Analisis multivariat menunjukan bahwa orang yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan secara signifikan terhadap kejadian hipertensi (AdjOR = 1,02; CI 95% = 0,65-1,61; p>0,05). Namun responden berjenis kelamin laki-laki dan yang bekerja secara signifikan berhubungan dengan hipertensi. Pola konsumsi makanan cepat saji tidak berhubungan terhadap kejadian hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia. Meskipun begitu konsumsi makanan cepat saji berlebih perlu menjadi perhatian bagi masyarakat agar terhindar dari hipertensi. Diharapkan ada pembuktian hubungan antara makanan cepat saji dengan hipertensi dengan metode lain seperti case control dengan menambahkan berbagai variabel-variabel lain yang kemungkinkan merupakan faktor risiko terhadap kejadian hipertensi.
Kemampuan Klinik Pratama dalam Menangani 195 Diagnosis di Kota Surabaya Eka Fitria Sari; Faihatul Mukhbitin; Ernawaty Ernawaty
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.2991

Abstract

Head of Surabaya City Health Department Decree No.440/19547/436.3/2016 is based on Indonesian Minister of Health Decree No.HK.02.02/MENKES/514/2015. The regulation explains the need for the management of 195 clinical diagnoses in primary health facilities because it is related to the primary health facilities' capability to handle 195 clinical diagnoses. The RRNS achievement table in January-May 2017 shows that primary care clinics were primary health facilities that occupy the unsafe zone (RRNS>5%) namely 16.68% in Surabaya City. The research objective is to analyze the primary care clinics' capability in Surabaya City to handle the 195 clinical diagnoses. This research used a descriptive cross-sectional design in four primary care clinics with 20 people sampled. The results showed that all clinics had not been able to provide complete services. Clinical doctors had good capabilities in accordance with the Head of Surabaya City Health Department Decree No.440/19547/436.3/2016 but were not supported by the completeness of supply following the Indonesia Minister of Health Decree No.HK.02.02/MENKES/514/2015. In conclusion, only 65 (≤33%) clinical diagnoses can be handled properly with the imbalance between the doctors' capabilities and completeness of supply. This research suggests the regulation makers must also review the primary care clinics' capability to provide supplies and clinics can determine the right cost-containment strategy to handle 195 clinical diagnoses. Abstrak SK Kadinkes Kota Surabaya No.440/19547/436.3/2016 didasari oleh Kepmenkes RI No.HK.02.02/MENKES/514/2015. Peraturan yang menjelaskan tentang kebutuhan penatalaksanaan penanganan 195 diagnosis klinis di FKTP karena berkaitan dengan kemampuan FKTP melakukan penanganan. Tabel pencapaian RRNS bulan Januari-Mei 2017 menunjukkan klinik pratama merupakan jenis FKTP yang paling banyak menempati zona tidak aman (RRNS>5%) yakni 16,68% di Surabaya. Penelitian bertujuan menganalisis kemampuan klinik pratama di Kota Surabaya dalam menangani 195 diagnosis klinis. Penelitian menggunakan desain crosssectional deskriptif di empat klinik pratama dengan sampel 20 orang. Hasil menunjukkan semua klinik yang diteliti belum mampu menyediakan pelayanan secara lengkap. Dokter klinik memiliki kemampuan yang baik sesuai SK Kadinkes Kota Surabaya No.440/19547/436.3/2016 tetapi tidak didukung dengan kelengkapan supply yang dibutuhkan sesuai Kepmenkes RI No.HK.02.02/MENKES/514/2015. Kesimpulannya, diagnosis klinis yang dapat ditangani dengan baik hanya sebanyak 65 (≤33%) dengan hambatan ketidakseimbangan antara kemampuan dokter dan kelengkapan supply. Penelitian ini menyarankan pembuat kebijakan juga meninjau kemampuan klinik dalam menyediakan supply dan klinik dapat menentukan strategi cost containment yang tepat untuk menangani 195 diagnosis klinis.
Persepsi Pasien Penyakit Kronis Terhadap Kualitas Dan Kepuasan Pelayanan Sebelum Dan Sesudah Pemberlakuan BPJS Di Unit Rawat Jalan RSH Blitar Nikma Fitriasari; Fajar Juli Nursanti; Siswanto Siswanto
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.2999

Abstract

All hospitals in Indonesia are required to serve BPJS patients with quality services. Service quality consists of five dimensions:tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Quality service increases service satisfaction. Conditions at RSH Blitar showed an increase in outpatient visits by 79.4% after the application of BPJS. This case may lead to changes in service quality. This study identifies the differences in patient perceptions of service quality and satisfaction before and after the application of BPJS. This study applies observational analytic research with a cross-sectional approach. Data collection was from Blitar Hospital Outpatient Unit in April-June 2018. The sample was 66 patients. The Wilcoxon Paired Test indicated a significant difference in perception of service quality and satisfaction before and after the issue of BPJS in outpatients BPJS with chronic illness at RSH Blitar. Abstrak Seluruh rumah sakit di Indonesia wajib melayani pasien BPJS dengan pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan dapat dilihat dari lima dimensi, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Pada dasarnya, pelayanan yang berkualitas meningkatkan kepuasan pelayanan. Kondisi di RSH Blitar menunjukkan peningkatan kunjungan rawat jalan sebesar 79,4% setelah bekerjasama dengan BPJS. Peningkatan kunjungan ini dapat menimbulkan perubahan pada kualitas pelayanan. Studi ini mengkaji lebih lanjut perbedaan persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan dan kepuasan sebelum dan sesudah diberlakukan BPJS. Studi ini adalah analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Pengumpulan data dilakukan di Unit Rawat Jalan RSH Blitar pada bulan April-Juni tahun 2018. Jumlah sampel penelitian adalah 66 pasien. Hasil Uji Paired Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara persepsi dengan kualitas pelayanan dan kepuasan pelayanan sebelum dan sesudah pemberlakuan BPJS pada pasien rawat jalan BPJS dengan penyakit kronis di RSH Blitar.
Hubungan Paritas dan Karakteristik Individu terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi diantara Wanita Usia Subur di Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 Ratna Dwi Wulandari; Agung Dwi Laksono
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 1 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i1.3038

Abstract

East Java Province, which is dominated by Javanese and Madurese, has a community with cultural characteristics that consider having a large number of children will many fortunes. This study aimed to analyze the relationship of parity on the use of contraceptives in women of childbearing age in East Java. The study used data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Survey. The population was women of reproductive age (15-49 years) in East Java. By using stratification and multistage random sampling obtained 5,593 respondents. In addition to the use of contraceptives and parity, other variables were the type of residence, age group, level of education, work status, marital status, socioeconomic status, and health insurance ownership. Determination of influence using binary logistic regression. The results showed that parity was one of the determinants of contraceptive use in East Java. Multiparous women of childbearing age were 4.114 times higher than primiparous women for contraception. Women in the 15-19 age group were 8.413 times more likely to use contraception than the 45-49 year age group. While women in the age group 40-44 years have the possibility of 2.209 times. Women with an elementary-junior high school education were 3.931 times more likely than those without school to use contraception. While those with tertiary education are likely 4.957 times compared to those not in school. Poor women were 1.525 times more likely than the poorest to use contraception. It could be concluded that parity was one of the determinants of contraceptive use in women of childbearing age in East Java Province. Abstrak Provinsi Jawa Timur didominasi oleh suku Jawa dan Madura. Kedua suku memiliki karakter pandangan budaya tentang jumlah anak yang banyak, yaitu banyak anak, banyak rejeki. Penelitian ditujukan untuk menganalisis hubungan paritas terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada wanita usia subur di Jawa Timur. Penelitian menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Populasi adalah wanita usia subur (15-49 tahun) di Jawa Timur. Dengan menggunakan stratification and multistage random sampling didapatkan 5.593 responden. Selain pemakaian alat kontrasepsi dan paritas, variabel lain yang adalah tipe tempat tinggal, kelompok umur, tingkat pendidikan, status bekerja, status perkawinan, status sosioekonomi, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Penentuan pengaruh menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paritas merupakan salah satu determinan pemakaian alat kontrasepsi di Jawa Timur. Wanita multipara kemungkinan 4,114 kali lebih tinggi dibanding wanita primipara untuk memakai alat kontrasepsi. Wanita pada kelompok umur 15-19 tahun memiliki kemungkinan 8,413 kali dibanding kelompok umur 45-49 tahun untuk memakai alat kontrasepsi. Sementara wanita pada kelompok umur 40-44 tahun memiliki kemungkinan 2,209 kali. Wanita berpendidikan SD-SLTP kemungkinan 3,931 kali dibanding yang tidak sekolah untuk memakai alat kontrasepsi. Sedang yang berpendidikan perguruan tinggi kemungkinan 4,957 kalidibanding yang tidak sekolah. Wanita miskin kemungkinan 1,525 kali dibanding yang paling miskin untuk memakai alat kontrasepsi. Dapat disimpulkan bahwa paritas merupakan salah satu determinan pemakaian alat kontrasepsi pada wanita usia subur di Provinsi Jawa Timur.
Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Tingkat Harapan Sembuh Pada Pasien Kanker Yang Menjalani Program Kemoterapi Di Rumah Sakit Baladhika Husada Jember Alvinda Apriliatul Jannah; Anisah Ardiana; Retno Purwandari
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3123

Abstract

Hope is a crucial issue in patients with cancer. Hope can be increased by providing social support. Social support can be obtained from the nurses caring behavior. This research aimed to analyze the relationship between nurses caring behavior and recovery hope level of cancer patients undergoing chemotherapy program at Baladhika Husada Hospital in Jember. A cross-sectional study was conducted to 112 respondents using the Caring Behavior Inventory (CBI-24) questionnaire and Scale of Hope. The data were analyzed applying the Kendall Tau B (τ) correlation. The results showed that there was a relationship between nurses caring behavior with the level of recovery expectancy of cancer patients undergoing chemotherapy programs at Baladhika Husada Hospital in Jember (p-value <0.001; τ = 0.375). Nurse caring behavior increases patient comfort and makes patients more enthusiastic about undergoing therapy. Patients feel valued and get more information from nurses. Therefore, the patient's recovery hopes can increase. This study concludes that nurses caring behavior can increase the expectation of recovery of cancer patients. Abstrak Harapan adalah hal krusial pada pasien kanker. Harapan dapat ditingkatkan dengan pemberian dukungan sosial yang bisa didapat dari perilaku caring perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat harapan sembuh pasien kanker yang menjalani program kemoterapi di Rumah Sakit Baladhika Husada Jember. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan 112 responden didapatkan dengan teknik sampel purposive samping. Data didapatkan melalui kuesioner CBI-24 dan kuesioner skala harapan. Analisis pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Kendall Tau B (τ). Hasil menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku caring perawat dengan tingkat harapan sembuh pasien kanker yang menjalani program kemoterapi di Rumah Sakit Baladhika Husada Jember (p value < 0,001; τ = 0,375). Perilaku caring perawat dapat meningkatkan kenyamanan pasien dan membuat pasien lebih semangat menjalankan terapi yang dijalani. Pasien merasa dinilai dan mendapatkan informasi lebih dari perawat. Maka dari itu, harapan sembuh pasien dapat meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku caring perawat dapat meningkatkan harapan sembuh pasien kanker.
Hubungan Karakteristik Dengan Kesesuaian Bidang Kerja Lulusan Pendidikan DIII Kebidanan Di Jawa Barat Sefrina Werni; Rosita Rosita; Nita Prihartini
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i4.3209

Abstract

Midwifery education graduates ideally work as midwives. This study explored the relationship between characteristics and suitability the field of work graduates of DIII midwifery study program in 2019. This study applied a cross-sectional design with a quantitative approach. The population was graduates in 4 DIII midwifery study programs in West Java and the sample whose access the google form as many as 442 respondents. Google forms distributed by email, Facebook, and WhatsApp group graduates within one month. The dependent variable was the suitability the field of work graduate. In contrast, the independent variables were characteristics of graduate (the status of the study program, age, marital status, year of graduation, the value of IPK, and additional education after graduation). Analysis of data used chi-square. The results showed 10.2% of midwifery study program graduates worked not as midwives, 37.8% of them said that salary was the reason they did outside the midwife profession and another 15.6% expressed no interest as midwives. The results of the bivariate analysis showed that marital status and IPK at graduation had a significant relationship with the suitability of the graduate work field (p <0.005). The commitment of graduates as midwives is the main focus to enhance midwifery professionalism. The existence of graduates whose work outside the midwife profession along with their reasons provided information on the need for strengthening midwife salary standards based on labour regulations. Abstrak Lulusan pendidikan kebidanan idealnya bekerja sebagai bidan. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2019 untuk menilai hubungan antara karakteristik dengan kesesuaian bidang kerja lulusan prodi DIII kebidanan. Penelitian menggunakan desain penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah lulusan di 4 prodi DIII kebidanan di Jawa Barat dan sampel adalah yang mengakses google form. Total sampel sebanyak sebanyak 442 responden. Google form yang disebarkan melalui email, facebook, dan whatsapp group lulusan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai variabel terikat adalah kesesuaian bidang kerja lulusan, variabel bebas adalah karakteristik lulusan (status program studi, umur, status pernikahan, tahun lulus, nilai IPK, dan pendidikan tambahan setelah lulus). Data dianalisis menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 10,2% lulusan prodi DIII kebidanan bekerja bukan sebagai bidan, 37,8% diantaranya menyampaikan bahwa gaji merupakan alasan mereka bekerja di luar profesi bidan dan 15,6% lainnya menyatakan tidak berminat sebagai bidan. Hasil analisis bivariat memperlihatkan status pernikahan dan IPK saat lulus memiliki hubungan yang bermakna dengan kesesuaian bidang kerja lulusan (p<0,005). Komitmen lulusan sebagai bidan merupakan fokus utama untuk meningkatkan profesionalisme bidan. Keberadaan lulusan yang bekerja di luar profesi bidan beserta alasannya memberikan informasi perlunya penetapan standar gaji bidan dengan berpedoman pada aturan ketenagakerjaan.
Hubungan Tingkat Pencapaian Indikator Kapitasi Berbasis Kompetensi (KBK) Dengan Kepuasan Pasien Khujaefah Khujaefah; Ratnawati Ratnawati; Suryani Yuliyanti
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3214

Abstract

Patient satisfaction is one of the health service quality indicators. The national health insurance, the quality in First Level Health Facilities (FKTP) is translated to Competence-Based Capitation indicators. This study aims to elaborate on the correlation between CBC Indicators and Patient Satisfaction at FKTP in Semarang City. A cross-sectional design with observational study was conducted from July to August 2019. According to CBC Data, indicators achievement involving Contact Rate (AK), Non-Specialist Referral Rate (RRnS), and Ratio of Chronic Disease Management Program Attendees (RPPB) were obtained from First Level Health Facility collaborated with Social Health Insurance Administration Body (BPJSK), (consisting of 2 Health Centers, 2 Physician Practices, and 2 Primary Clinics). Furthermore, Patients Satisfaction Data were gathered from 60 respondents, where every ten patients for each FKTP use questionnaire had validation test. Satisfaction Scale uses LIKERT with range 1 for very dissatisfi ed until 5 for very satisfi ed. The Mean of patient satisfaction toward health services at FKTP in Semarang City was Quite Satisfi ed (3,74), satisfaction dimensions lowest were tangible and assurance. The Spearman test results showed that AK was 0.038(p<0,05), RRnS was 0,651(p>0,05), and RPPB was 0,939(p>0,05). It concluded a correlation between the AK indicator and patient satisfaction, whereas RRnS and RPPB indicators were not correlated with patient satisfaction at FKTP in Semarang City. Attempts to increase the contact rate through a healthy contact are needed to improve the FKTPs CBC target achievement. Abstrak Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan kesehatan. Pada era jaminan kesehatannasional, kualitas pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dinyatakan dalam indikator Kapitasi Berbasis Kompetensi (KBK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pencapaian indikator KBK dengan kepuasan pasien di FKTP di Kota Semarang. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2019. Data capaian KBK yang terdiri dari Angka Kontak(AK), Rasio Rujukan non Spesialistik (RRnS) dan Rasio Peserta Prolanis Berkunjung (RPPB) diperoleh dari FKTP mitra BPJS yang terdiri dari 2 Puskesmas, 2 Dokter praktik mandiri, dan 2 klinik pratama. Data kepuasan pasien diperoleh dari 60 responden (masing-masing 10 pasien dari setiap FKTP) menggunakan kuesioner yang sudah di uji validitasnya. Skala kepuasan menggunakan skala LIKERT dengan nilai antara 1 untuk sangat tidak puas sampai 5 untuk sangat puas. Rerata kepuasan pasien terhadap pelayanan di FKTP di Kota Semarang adalah cukup puas (3,74), aspek kepuasan terendah terletak pada dimensi tangible dan assurance. Berdasarkan uji korelasi Spearman didapatkan nilai p<0,05 (0,038) untuk angka kontak (AK), p>0,05 (0,651) untuk RRNS dan p>0,05 untuk (0,939) RPPB. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pencapaian indikator KBK pada indikator AK dengan kepuasan pasien di FKTP di Kota Semarang, sedangkan untuk indikator lain tidak berhubungan. Upaya peningkatan kontak sehat diperlukan untuk memperbaiki capaian target KBK di FKTP.

Page 10 of 16 | Total Record : 154