cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
RUANG merupakan jurnal penelitian ilmiah yang memberikan kontribusi pengetahuan terkait perencanaan wilayah dan kota. Jurnal ini dipublikasikan oleh Perencanaan Wilayah dan Kota.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
PENGARUH PERKEMBANGAN PERKOTAAN TERHADAP MORFOLOGI KAMPUNG KAUMAN KOTA SEMARANG Cynthia Putriyani Alie; Djoko Suwandono
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.696 KB)

Abstract

Abstrak: Kota Semarang telah merupakan salah satu pusat peradaban budaya di Indonesia sejak jaman dulu. Kota Semarang menjadi wadah perpaduan berbagai macam budaya yaitu Arab, Tionghoa, Eropa, dan Jawa (pribumi). Kampung Kauman merupakan salah satu kampung kota di Semarang yang dulunya sebagai embrio perkembangan kota dan tempat tinggal masyarakat pribumi. Kauman juga dikenal sebagai pusat peradaban Islam yang ditunjukkan dengan adanya Masjid Agung Kauman sehingga menjadi kawasan penting kebudayaan Semarang. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, untuk melihat seberapa besar pengaruh perkembangan perkotaan terhadap morfologi Kampung Kauman dimana variabel-variabel penelitian ditentukan di awal yaitu variabel morfologi berupa pemanfaatan lahan, pola jalan, dan tipe bangunan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan kuesioner untuk data-data primer sedangkan untuk data-data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data-data ke instansi terkait. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya pengaruh dari perkembangan perkotaan terhadap morfologi Kampung Kauman. Pengaruh terhadap pemanfaatan Lahan terlihat dari adanya perubahan fungsi bangunan di Kampung Kauman, yang kemudian juga berpengaruh terhadap tipe bangunan yang ada. Sementara untuk pengaruh terhadap pola jaringan jalan lebih bersifat non fisik berupa peningkatan pergerakan terutama di jalan-jalan yang berhubungan dengan jalan-jalan perkotaan Kota Semarang.  Kata kunci : Perkembangan Kota, Kampung Kauman, Morfologi Kota. Abstract: Semarang is the one of the cultural city centers in Indonesia since earlier times. It  has been into a various kinds of culture, which is arab, chinese, europe, and Java (indigenous). Kampung Kauman is the one of kampung in Semarang where formerly as the embrio of the  urban development in Semarang and the shelter of indigenous had lived. It  is also known as the center of  Islamic civilization, which shown by the Kauman’s grand mosque  that indicates an important culture district in Semarang. This research use the quantitative methods which is to see how big impacts of urban development on Kampung Kauman’s Morphology. Variabel in this reasearch is such as land use, patterns of road, and types of building. Data primary is collected by  observations and questionnaire, meanwhile, data secondary is collected by data to related agencies. This research result that the impact of urban development has indicated on Kampung Kauman’s morphology. The impact of land use,  has changed in the function of building and also has impact on the type of existing buildings. The patterns of urban street has been impact on non –physical’s form, that is increased in the movement on  streets in Semarang. Keywords : Urban development, Kampung Kauman, Urban Morphology
KAJIAN DESAIN KAWASAN BERBASIS KONSEP WSUD (WATER SESITIVE URBAN DESIGN) DI DAERAH LANGKA AIR (Studi Kasus: Desa Gambirmanis, Kec. Pracimantoro, Kab. Wonogiri) Herlina Kusuma Wardani; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.299 KB)

Abstract

Abstrak: Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kawasan yang letaknya berada di daerah hulu Sungai Bengawan Solo dimana kawasan ini memiliki peranan sebagai kawasan resapan air guna menjaga keseimbangan air kawasan di bawahnya. Kabupaten Wonogiri memiliki luas daerah tangkapan air yang cukup besar sehingga memungkinkan untuk menyimpan cadangan air bagi wilayah-wilayah yang ada di dalamnya. Namun pada kenyataannya, masih ada wilayah di Kabupaten Wonogiri yang mengalami kelangkaan air. Masalah kelangkaan air di Kabupaten Wonogiri ini terutama berada pada Kecamatan Pracimantoro. Kecamatan Pracimantoro merupakan kecamatan terbesar yang ada di Kabupaten Wonogiri. Namun karena jenis tanah yang ada di wilayah ini sebagian besar terdiri dari tanah kars,dimana tanah kars ini memiliki karakteristik menyerap air secara cepat sehingga kawasan di atasnya menjadi kering namun di satu sisi tanah ini menyimpan cadangan air yang cukup besar di bawahnya. Ini yang menyebabkan kawasan di sekitar Kecamatan Pracimantoro sering terjadi kekeringan. Kawasan yang paling parah dalam kelangkaan sumberdaya air di Kecamatan Pracimantoro ini terletak di Desa Gambirmanis. Desa ini seringkali tidak terjangkau oleh infrastruktur penunjang termasuk diantaranya infrastruktur jaringan air bersih. Selain tidak terjangkaunya desa oleh prasarana air bersih, desa ini juga bertanah kars sehingga sungai-suangai yang ada hampir semua mengering akibat air yang terserap oleh tanah, disamping itu tidak adanya sumber mata air menyebabkan semakin sulitnya sumber air bersih yang bisa didapatkan oleh masyarakat. Kondisi ini menyebabkan desain kawasan yang dapat menyimpan cadangan air menjadi sangat penting bagi Desa Gambirmanis.        Kata Kunci : Kelangkaan Air, Desain Kawasan, WSUD (Water Sensitive Urban Design). Abstract: Wonogiri is one area that is located in the headwaters of the Solo River where the region has a role as a water catchment area in order to maintain the water balance in the area below it . Judging from land use Wonogiri , almost 90 % is an area of green open space consisting of forest , mixed farms , fields and moors (RTRW Kabupaten Wonogiri Tahun 2011-2031) . Wonogiri has catchment area is large enough to allow water to save up for those areas that are in it . But in reality , there are still areas in Wonogiri experiencing water scarcity . The problem of water scarcity in the Wonogiri district is primarily located on Pracimantoro . Pracimantoro is the largest districts in the Wonogiri . However, because of the type of soil in this area is mostly composed of karst soil , where it has the characteristics of karst soil absorb water quickly so that it becomes a dry area on one side of the ground , but in this store are fairly large water reserves beneath it . This causes the area around Pracimantoro frequent droughts . The most severe in the area of water resource scarcity in Pracimantoro is located in the village of Gambirmanis . Gambirmanis Village often not affordable by supporting infrastructure including water supply network infrastructure . In addition to the village by the inaccessibility of clean water infrastructure , this village also landed karst river so that there is almost dried up due to water absorbed by the soil , in addition to the absence of water sources making it even harder to clean water can be obtained by the public . These conditions led to the design area that can store water up to be very important for the village Gambirmanis.Keywords : Water Scarcity , WSUD ( Water Sensitive Urban Design )
POTENSI STRUKTUR RUANG PUSAT KOTA PESISIR TUBAN DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA Aldia Kemala Fatikha; Sugiono Soetomo
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kota Tuban merupakan salah satu kota tua di Pesisir Utara Jawa yang masih terjaga filosofi tatanan ruang tradisionalnya dimana Pusat Kota Pesisir Tuban masih memiliki peninggalan identitasnya di masa lampau walaupun memiliki fungsi yang berbeda. Keutuhan dari tatanan ruang tradisional Pusat Kota Pesisir Tuban memiliki keunikan tersendiri dalam kepariwisataan Indonesia. Pariwisata kota-kota tradisional tentu menawarkan potensi yang sesuai dengan karakter dari kota itu sendiri. Potensi inilah merupakan potensi yang dimiliki Pusat Kota Pesisir Tuban yang langsung dinikmati kualitas visual, kualitas fungsional serta kualitas lingkungan. Adanya keunikan keutuhan pola Kota Tuban dalam meningkatkan daya tarik wisata dan pengembangan pariwisata yang didukung kualitas spasial keruangan pariwisata serta aktivitas pembentuk ruang sehingga dapat menambah kualitas penawaran wisata dan meningkatkan permintaan wisata dalam pengembangan pariwisata. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat memunculkan sebuat pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimana karakteristik potensi struktur ruang Pusat Kota Pesisir Tuban dalam pengembangan pariwisata?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi pada kawasan Pusat Kota Pesisir Tuban dalam pengembangan pariwisata berdasarkan struktur kota dan sejarah kota. Metode yang digunakan adalah metode campuran antara kualitatif dan kuantitatif (Mixed-Method) Pengumpulan data kualitatif melalui wawancara yang dilakukan secara purposive kepada individu yang ditentukan, sedangkan pengumpulan data kuantitatif menggunakan accidental sampling dengan cara menyebar kuesioner kepada responden wisatawan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif spasial mengenai pariwisata Kawasan Pusat Kota Tuban dan analisis BCG untuk mengetahui keseimbangan antara penawaran dan permintaan pariwisata dalam kesiapannya menjadi kawasan wisata. Hasil akhir penelitian ini adalah karakteristik potensi Pusat Kota Pesisir Tuban dalam pengembangan pariwisata berdasarkan struktur ruang kawasan. Kata Kunci : Potensi, Struktur Ruang, Pusat Kota Pesisir Tuban, Pengembangan Pariwisata. Abstract: Tuban is one of the traditional city on the North Coast of Java is still maintained their traditional space setup philosophy which core still has relics of past identity despite having different functions . The integrity of the traditional space of Tuban Coastal Center is unique in the Indonesian tourism . Traditional tourism cities certainly offer the potential to suit the character of the city itself. This potential of the Coastal Center are directly owned Tuban visual quality , functional quality and the quality of the natural environment. The existence of a unique pattern integrity Tuban to improving attraction and tourism development is also supported tourism spatial quality and space-forming activity so as to increase the quality of supply and demand tourism in tourism development . Based these conditions, can bring sebuat research question is "How are potential space structure characteristic of Coastal Center Tuban in tourism development?" . The purpose of this study was to analyze the potential of the central business district, Tuban Coastal tourism development based on the structure of the city and the city 's history . The method used is a mixture of qualitative methods and quantitative (Mixed - Method) Qualitative data collection through interviews conducted purposively to individuals who are determined, whereas quantitative data collection using accidental sampling by means of questionnaires to the respondents spread rating . The analysis in this study used a descriptive analysis of the spatial area of tourism Tuban Town Center and BCG analysis to determine the balance between supply and demand of tourism in readiness to be a tourist area . The end result of this research is the potential characteristics of the Coastal Center Tuban in tourism development based on spatial structure . Keywords: Potensial, Space Structure, City Centre of Tuban Coastal, Tourist Development
PERUBAHAN FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN AKIBAT BANJIR ROB DI KAWASAN LAYUR KOTA SEMARANG Arion Januar Prasasti; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.377 KB)

Abstract

Abstrak: Banjir rob terus-menerus menggenangi permukiman yang ada di Jalan Layur Kelurahan Dadapsari. Hal tersebut berdampak langsung terhadap kondisi bangunan rumah dan infrastruktur yang ada di jalan Layur. Banjir rob di jalan Layur terjadi karena kawasan tersebut memiliki permukaan tanah yang lebih rendah dibanding kawasan lainnya. Kawasan ini mengalami penurunan muka tanah antara 8-10 cm setiap tahunnya. Jalan Layur merupakan satu-satunya jalan yang paling rendah di Kelurahan Dadapsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perubahan fisik lingkungan permukiman yang diakibatkan oleh banjir rob dalam kurun waktu 2003-2013. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang di temukan adalah perubahan fisik pada bangunan rumah yang ada di jalan Layur yang meliputi RT 5 di RW 7 dan RT 5, 6,7 di RW 4 pada kurun waktu 2003-2013 yang dipengaruhi oleh penghasilan penghuninya. Perubahan fisik tersebut yaitu  peninggian lantai bangunan, penggantian material alas rumah, menambal dan pengecatan tembok yang retak atau keropos, meninggikan atau menghilangkan plafon rumah serta menambah lantai bangunan 1 tingkat. Selain itu perubahan fisik pada infrastruktur yaitu peninggian jalan di RW 4 pada tahun 2009, pengaspalan jalan di RW 7 pada tahun 2011, pembangunan talud di sepanjang selokan dan Kali Semarang serta pembangunan rumah pompa pada tahun 2009. Kata Kunci : Fisik Lingkungan Permukiman, Banjir Rob Abstract: Continuous tidal flood commemorate the existing settlements at Jalan Layur Kelurahan Dadapsari. This is a direct impact on the condition of the home building and existing infrastructure at Jalan Layur . Tidal flood at Jalan Layur happens because this areas has a lower ground level than other areas. This areas due to land subsidence 8-10 cm per year.  Jalan Layur is the only way that the lowest in Kelurahan Dadapsari. This study aims to determine the form of the physical changes caused by tidal flood neighborhoods causes tidal flood in the period 2003-2013. The method used in this study is a qualitative method qualitative descriptive analysis techniques. The result is a physical change to the building houses in Jalan Layur which includes RT 5 at RW 7  and RT  5, 6, 7  at RW 4 in the period from 2003 to 2013, adjusted income residents. Physical changes in the elevation of the floor of the building, replacement of the base material, patching and painting the walls were cracked or porous, raising or eliminating the ceiling of the house and add 1 level floor of the building. In addition to the physical changes in the elevation of the road infrastructure, among others, in RW 4 in 2009, paving the way in RW 7 in 2011, talud development along the gutter and Kali Semarang as well as the construction of the pump house in 2009. Keywords : Physical of settlements, flood tidal
STRUKTUR DAN POLA RUANG KAMPUNG UMA LENGGE BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL DI DESA MARIA, KABUPATEN BIMA NUSA TENGGARA BARAT Siti Fatimah Azzahra; Nurini .
Ruang Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.717 KB)

Abstract

Abstrak: Kampung Tradisional Uma lengge merupakan kampung yang memiliki kompleks bangunan peninggalan budaya yang sudah berumur ratusan tahun dan telah resmi dijadikan sebagai obyek wisata serta cagar alam oleh pemerintah Kabupaten Bima. Pada umumnya, Uma Lengge memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai tempat tinggal sekaligus sebagai tempat penyimapanan hasil panen. Namun, kompleks Uma Lengge yang berada di Desa Maria ini merupakan kompleks bangunan rumah kuno yang dimanfaatkan hanya sebagai tempat penyimpanan hasil bumi, seperti padi, jagung, dan lain sebagainya. Tata letak kompleks Uma Lengge ini sangat berhubungan dengan tradisi suku Bima, terutama masyarakat di sekitar kampung tradisional Uma Lengge tersebut. Keberadaan kompleks tradisional Uma Lengge sejak ratusan tahun yang lalu, sejalan dengan kebutuhan masyarakatnya, mengakibatkan struktur dan pola ruang yang ada menjadi seperti tak terencana.     Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji struktur dan pola ruang perkampungan berdasarkan kearifan lokal di Desa Maria, Kabupaten Bima dan apa saja yang menyebabkan terbentuknya struktur dan pola ruang tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bima merupakan contoh kota tradisional atau rural yang sebagian wilayahnya tidak terencana, yang memiliki kampung-kampung tradisional dengan ciri khas rumah panggung. Kampung Tradisional Uma Lengge ini memiliki bentuk figure ground yang bersifat homogen. Secara fisik terdapat area tambahan karena kebutuhan masyarakat akan ruang untuk mengadakan upacara adat setiap tahun ketika musim panen berakhir yaitu upacara Ampa Fare, yang mengakui bahwa setiap makhluk hidup pasti memiliki cara tersendiri dalam berdoa kepada sang pencipta.Kata Kunci : Struktur Pola Ruang, Kearifan  Lokal, Uma Lengge, Bima Abstract: Traditional Kampung Uma lengge is a village which has complex cultural heritage buildings hundreds of years old and has been officially in use as a tourist attraction as well as a nature reserve by the government of Bima . In general , Uma Lengge has several functions , namely as a residence and also a storage crop . However , Uma Lengge complex which is  in the village of Maria is an ancient complex houses of building used only as a storage crops , such as rice , corn , and so forth . Uma Lengge complex layout is highly correlated to all Bima ethnic traditions , especially the traditional village communities around the Lengge Uma . As traditional complex Lengge Uma has existed since hundreds of years ago , and the Uma Lengge community’s necessity , lead the structure and patterns of existing space into such unplanned . seeing this problems above , it can be concluded that the research question is how local knowledge can shape the structure and spatial patterns of Traditional Kampung Uma Lengge in Bima. The purpose of this study was to examine the structure and pattern of settlement space based on local wisdom in the village of Maria , Bima and to know what causes the formation of structures and patterns of space in one of the traditional village complex Uma Traditional Lengge in Bima . The results of this study is an example of Bima traditional or rural town that partly unplanned , which has traditional villages with distinctive feature of stage house . Uma Lengge and Jompa as  a traditional village in the village of Uma Lengge Maria is a legacy handed down from ancestors Mbojo Fund . Traditional village Uma Lengge of figure ground has a shape that is homogeneous . Physically, there are additional areas that exist in the traditional village of Uma Lengge because society will need space to hold a traditional ceremony every year. When the harvest season ends Ampa Fare will perform in the ceremony , which recognizes that every living things must have its own way for  praying to the Creator . Keywords: Pattern Space Structures, Local Wisdom, Uma Lengge, Bima
TINGKAT AKSESIBILITAS FASILITAS SOSIAL BERDASARKAN KONSEP UNIT LINGKUNGAN DI PERUMNAS BANYUMANIK KOTA SEMARANG Eko Setyo Widyonarso; Nany Yuliastuti
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.519 KB)

Abstract

Abstrak: Perumnas Banyumanik merupakan salah satu perumahan skala besar (massal) yang dibangun Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang pada tahun 1978 sampai 1979. Perumnas ini dibangun dengan jumlah 5.024 unit terdiri tiga tipe (D21, D33 dan D36). Kualitas lingkungan perumnas yang berumur 34 tahun pada kondisi sekarang mengalami penurunan, menyebabkan penurunan minat penghuni mengakses fasilitas sosial yang ada di perumnas. Padahal seharusnya perumahan ideal mempertimbangkan kemudahan penghuni mengakses fasilitas sosial. Konsep unit lingkungan menjelaskan bahwa perumahan ideal adalah perumahan yang mempertimbangkan jarak, cara mengakses dan waktu tempuh yang singkat. Secara tersirat konsep tersebut mempertimbangkan akan akses yang mudah untuk meningkatkan minat mencapai fasilitas sosial. Penurunan tersebut dikhawatirkan juga menurunkan tingkat aksesibilitas fasilitas sosial yang sekarang. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat aksesibilitas fasilitas sosial berdasarkan konsep unit lingkungan di Perumnas Banyumanik. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat aksesibilitas fasilitas sosial di perumnas ini termasuk dalam kategori indeks aksesibilitas tinggi, dengan nilai indeks mencapai 2.40. Tingkat aksesibilitas tersebut paling tinggi pada fasilitas peribadatan (nilai indeks mencapai 2.58). Sedangkan tingkat aksesibilitas terendah pada fasilitas pendidikan (nilai indeks mencapai 2.14). Apabila ditinjau dari tipologi rumah, tingkat aksesibilitas sarana lingkungan tertinggi pada tipe rumah D33 dengan nilai indeks mencapai 2.45 (tinggi). Secara umum tingkat aksesibilitas fasilitas sosial di Perumnas Banyumanik dipengaruhi oleh radius pelayanan fasilitas sosial dengan nilai indeks 2.77 (tinggi), tingkat pencapaian dengan nilai indeks 2.06 (menengah) dan nilai indeks intensitas penggunaan 2.38 (tinggi). Tingkat pencapaian pada kemudahan menengah menjelaskan semakin tingginya penghuni perumnas yang mengakses fasilitas sosial di luar perumnas. Berdasarkan penelitian ini pemerintah diharapkan meningkatkan kualitas daya tarik fasilitas sosial yang ada di dalam perumnas untuk meningkatkan minat mengakses.Kata Kunci : neighborhood unit concept, social infrastructure, accessibility to facilities Abstract: Perumnas Banyumanik is one of mass housing that was built Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang in 1978-1979. Perum Perumnas Reginal V Kota Semarang has built 5.024 unit consist of D21, D33 and D36. After 34 years the quality of Perumnas environment has decreased, that condition makes interest to access social facilities decreasing. Whereas the ideal housing should consider the ease of access to Perumas residents. The neighborhood unit concept explained the ideal housing has  consider the  distance, the way to access social facilities and short lapse of time. On the other side, that concept consider the ease of access to increase the interest to access the social facilities. That decreasing skeptically will decrease current accessibility level of social facilities. Therefore, the purpose of this research is to measure the accessibility rate of neighborhood social facilities based on neighborhood unit concept in Perumnas Banyumanik. The result based on analysis are the accessibility level of Perumnas social facilities is high with index value reaches 2.40. The highest accessibility rate is worship facilities  (index value reaches 2.58). Even though the lowest is educational facilities (index value reaches 2.14). The highest of accessibility rate of the neighborhood social facilities of house tipology  is D33 type with index value reaches 2.45 (high). Generally, the accessibility level of social facilities influenced by the services facilities radius with index value 2.77 (high), achievement rate with index value 2.06 (medium) and intensity of use rate with index value 2.38 (high). The intensity of use rate is medium explain that Perumnas residents who access the social facilities outside Perumnas is increasing. Based on this research, the government expected to increase the Perumnas social facilities attraction quality to increase housing residents  access interest.Keywords: neighborhood unit concept, social infrastructure, accessibility to facilities