cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
RUANG merupakan jurnal penelitian ilmiah yang memberikan kontribusi pengetahuan terkait perencanaan wilayah dan kota. Jurnal ini dipublikasikan oleh Perencanaan Wilayah dan Kota.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
PENGARUH KEBERADAAN DESA WISATA TERHADAP PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Desa Karang Tengah, Kabupaten Bantul) Rarin Karisma Azahra; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.216 KB)

Abstract

Abstrak: Kepariwisataan saat ini banyak diperbincangkan karena dengan mengembangkan sektor pariwisata dapat berpengaruh pada sektor lainya. Salah satu jenis pariwisata yang dibangun oleh masyarakat desa yaitu desa wisata. Suatu desa dapat mengembangkan potensinya pada lahan pertanian dan perkebunan tetapi tidak semua masayarakat di desa yang terdapat potensi wisata dapat dijangkau sebelum adanya desa wsiata. Kondisi Desa Karang Tengah sebelum adanya desa wisata ini, masyarakatnya sulit untuk mencapai kesejahteraan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan dan pengaruh indikator kesejahteraan di desa wisata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Setelah masyarakat bekerjasama untuk menjadikan lahan tersebut sebagai lahan yang dijadikan tempat pariwisata yang berupa desa wisata agrowisata, masyarakat dekat maupun yang jauh dapat menjangkau manfaat dari desa wisata ini. Aktivitas yang dilakukan masyarakat di dalam mengembangkan desa wisata dapat menghasilkan maupun meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar desa wisata. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif yang akan didukung dengan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis crosstab. Hasil dalam penelitian ini adalah hubungan antara tiga indikator yaitu pendapatan, pendidikan, kesehatan dengan desa wisata yang nantinya akan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Setelah mengetahui adanya keterkaitan ketiga indikator tersebut dengan desa wisata dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat adalah menganalisis indikator mana saja yang berpengaruh besar di dalam desa wisata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Karang Tengah. Selain pengaruh dan hubungan, juga akan terlihat dari indikator tersebut peningkatan kesejahteraan masyarakat setelah adanya desa wisata di Karang Tengah. Kata Kunci : Desa Wisata, Kesejahteraan Masyarakat, Indikator Kesejahteraan Abstract: Tourism is currently much criticized because developing the tourism sector can affect other sectors. A type of tourism that was built by the villagers of village tourism. A village can develop its potential in agricultural land and plantations but not all masayarakat in the village of the tourism potential is just before the village of wsiata. Karang Tengah Village conditions prior to this tourist village, its people difficult to prosper. goals to be achieved in this research is to identify the relationship and influence the indicators of well-being in tourist villages against an increase in welfare of society. After the community working together to make the land as land for tourism in the form of agro-tourism, community tourism village near and far reaching benefits of this tourist village. Activities performed societys in developing tourist village can produce and raising revenue for local residents tourist village. The study is done with a method of quantitative analysis that will be supported by descriptive quantitative analysis and crosstab. Results in this research is a relation between three indicators: income, education, health with tourist village that will eventually affects well-being of society. After aware of the interconnectedness third these indicators with tourist village and affects well-being society is analyzing indicators for which has huge in the tourist village against improving the welfare of society in Karang Tengah Village. And relations, in addition to the influence of will also be seen from the indicators improving the welfare of society in the wake of tourist village in Karang Tengah Village. Keywords : Rural Tourism, Social Welfare, Welfare Indicators
BENTUK KETAHANAN IKLIM KAWASAN BERSEJARAH DI KAMPUNG MELAYU SEMARANG Wakhidah Kurniawati; Kristiana Dwi Astuti
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.364 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan iklim merupakan salah satu tantangan global yang paling signifikan yang dihadapi masyarakat dan lingkungan saat ini. Perubahan iklim memiliki implikasi terhadap alam, kehidupan sosial, dan juga kawasan warisan budaya. Perubahan iklim dan kerentanan lainnya menjadi bahaya untuk kawasan konservasi. Kita harus mempersiapkan alternatif terburuk dari perubahan iklim dalam rangka untuk melindungi situs warisan budaya dari kerusakan. Saat ini, daerah pelestarian warisan budaya di Semarang memiliki banyak masalah, seperti masalah banjir, rob, dan kondisi hidup yang tidak sehat. Banyak bangunan bersejarah yang rusak kondisinya dan tenggelam karena rob dan banjir. Jadi, kita perlu pemetaan wilayah untuk mengetahui apa dan bagaimana dampak dari perubahan iklim pada kawasan tersebut dan kemudian memecahkan masalah. Sementara masalah ini terselesaikan, kita dapat mempertahankan karakteristik kawasan cagar budaya, dan akan meningkatkan karakter seluruh kota serta membantu memberikan image baik bagi Semarang.Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis fenomena perubahan iklim yang ada di Kampung Melayu Semarang; 2) Mengidentifikasi karakteristik kerentanan di Kampung Melayu Semarang, 3) Menginvestigasi dampak perubahan iklim terhadap kerentanan kawasan, dan kemudian 4) Merumuskan bentuk ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim yang terjadi.Penelitian ini mencoba untuk menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Dan pendekatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian ini adalah pendekatan spasial. Berdasar dari hasil penelitian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa bentuk ketahanan iklim kawasan bersejarah di Kampung Melayu Semarang berupa adaptasi transformasi bangunan dan no action. Dengan demikian ke depannya direkomendasikan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk bisa mengatasi masalah banjir dan rob setempat agar bangunan-bangunan bersejarah yang ada tetap bisa dipertahankan dan Kampung Melayu bisa bertahan dari perubahan iklim yang ada.Kata Kunci: ketahanan iklim, kawasan warisan budaya, adaptasi, transformasi bangunan, no action ABSTRACT Climate change is one of the most significant global challenges faced by today's society and the environment. Climate change has implications for the nature, social life, and also the area of cultural heritage. Climate change and the vulnerability becomes a hazard to other conservation areas. We must prepare for the worst alternative of climate change in order to protect the cultural heritage sites of damage. Currently, the area of cultural heritage preservation in Semarang have many problems, such as flooding problems, rob, and unhealthy living conditions. Many historic buildings were damaged condition and rob and drowned because of flooding. So, we need to know what area mapping and how the impacts of climate change on the region, and then solve the problem. While this issue is resolved, we can maintain the characteristics of the heritage area, and will enhance the character of the whole city as well as help provide a good image for Semarang.Based on the above , this study aims to: 1 ) analyze the phenomenon of climate change in Kampung Melayu Semarang; 2 ) Identify the characteristics of vulnerability in Malay Kampung Semarang, 3 ) Investigate the impact of climate change on the vulnerability of the region, and then 4 ) Formulate form of resistance region to climate change is happening.This study tries to combine quantitative and qualitative methods. And approaches used to support research activities are spatial approach. Based on the results of the above study it can be concluded that the shape of the climate resilience of the historical district in Kampung Melayu Semarang form of adaptation the transformation of the building and no action. Thus the future of Semarang recommended to the Government to be able to cope with the flood problem of local historic buildings that were there can still be maintained and Kampung Melayu can last from existing climate change.Keywords : climate, cultural heritage areas, adaptation, transformation buildings, no action
DAMPAK HUBUNGAN KOTA DAN DESA DALAM PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN BANDUNGAN (Studi Kasus: Kecamatan Bandungan dan Kelurahan Bandungan) Doddy Aditya Pratama; Soegiono Soetomo
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.312 KB)

Abstract

Abstrak: Hubungan kota dan desa merupakan suatu bentuk interaksi yang terjadi karena adanya aktivitas yang mengaitkan keduanya, salah satunya yaitu pariwisata. Hal ini terjadi karena adanya tiga faktor penyebab berjalannya aktivitas tersebut, yaitu faktor rekreasi, bisnis dan hiburan. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang paling dominan terjadi di kawasan Bandungan karena adanya peranan dari orang-orang desa dalam  melayani orang-orang kota sebagai wisatawan yang berwisata selama selama satu hingga dua hari di hari weekend. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan rekreasi karena adanya potensi alam yang dimiliki oleh kawasan desanya tersebut. Hal tersebut menimbulkan suatu hubungan antara penduduk kota dengan penduduk desa. Selain itu, Bandungan juga memiliki kedekatan jarak dari kota Semarang dan Ungaran. Sehingga hal tersebut pula menimbulkan keramaian yang dikarenakan adanya peningkatan fasilitas pariwisata, dan berdampak ke lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana dampak pariwisata yang ditimbulkan dari kedatangan penduduk kota yang melakukan rekreasi ke kawasan Bandungan dari segi fisik dan non-fisiknya?. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pariwisata terhadap tiga aspek, yaitu kondisi ekonomi, sosial-budaya, dan kondisi fisiknya. Dimana untuk dampak pariwisata terhadap kondisi ekonomi dan sosial-budayanya cenderung positif. Salah satunya hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja. Namun tidak demikian dengan perkembangan fisiknya yang cenderung berdampak negatif, karena bersifat merusak sistem ekologi lingkungan. Hal ini dikarenakan belum adanya kebijakan penataan ruang yang jelas di kawasan Bandungan. Sehingga kesimpulan dan rekomendasinya adalah, kawasan Bandungan merupakan salah satu contoh kawasan yang mengalami perubahan dari kawasan pedesaan menjadi perkotaan yang memerlukan tindakan penataan sesuai dengan peraturan daerah setempat. Kata Kunci : Pariwisata, Hubungan Kota-Desa, Ekonomi, Sosial, Budaya, Fisik Lingkungan, Urbanisasi Satelit.  Abstract: Urban-Rural’s Relationship is a form that occurs both of these activities . By causing of three factors of activity progressed , are recreation , business and entertainment . Those three is the most dominant factor in Bandungan had utilized , because this type is activity that is done by common travelers. They do from urban to rural tourism held by one until two days at the weekend. In fact, can be invoking relationship between dweller and villagers. Furthermore the  distance Of Bandungan is not far from the city of Semarang and Ungaran. Thus, this activity will lead the crowd resulting from an increase in tourism facilities, of course, also have an impact on changes in physical and non-physical in the region, both positive and negative impacts. The question in this study is to know what kind of tourism impacts arising from the arrival of the city's population recreation area to Bandungan?. Related to aspects of the services performed by residents around the city residents (tourists) that impact on the non-physical changes to the physical condition. The method used is descriptive qualitative analysis method. The results is to determine the impact of tourism on three aspects, namely economic, social-cultural, and physical environment. Where to the impact of tourism on socio-economic conditions and culture tend to be positive. But not so with the physical development of the region which tends to have a negative impact, because it is damaging the ecology of environment due to the lack of a clear spatial planning policies in Bandungan. So, it was concluded that Bandungan’s region changed into urban areas that require action in accordance with the regulatory region structuring the local area.Keywords: Tourism, Urban-Rural Interaction, Economy, Social, Culture, Physical Environment, Satelite Urbanization.
IDENTIFIKASI KEUTUHAN MORFOLOGI KAMPUNG PECINAN PARAKAN Syarif Hidayat; Nurini .
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.107 KB)

Abstract

Abstrak: Kota Parakan mempunyai kampung yang dapat menunjukkan karakteristik kota Parakan yaitu kampung pecinan dimana di dalamnya terdapat beberapa bangunan berarsitektur tradisional Tionghoa dan penduduk mayoritas keturunan etnis Tionghoa. Keberadaan kampung pecinan Parakan semakin lama semakin tersingkir dengan keberadaan arsitektur modern yang saat ini berkembang. Fenomena diatas mengarahkan pada suatu pertanyaan penelitian yaitu Bagaimana kondisi keutuhan morfologi Kampung Pecinan Parakan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keutuhan morfologi di kampung pecinan kota Parakan. Dengan tujuan tersebut maka analisis yang dilakukan adalah analisis kondisi fisik kawasan Kampung Pecinan Parakan, meliputi aspek struktural (bentuk figure ground dan pola jaringan jalan), fungsional (sistem linkage kawasan), dan visual (langgam arsitektur kawasan); analisis kondisi non fisik kawasan meliputi aspek kehidupan (sosial budaya, keagamaan dan perekonomian masyarakat Kampung Pecinan Parakan); lalu dilanjutkan merumuskan kondisi keutuhan kampung pecinan di Kota Parakan. Hasil dari analisis menunjukkan kampung Pecinan Parakan telah mengalami banyak perubaha. Parakan tumbuh menjadi kota perdagangan dengan dilewatinya jalur Wonosobo dan Kendal sehingga aktifitas kampung pecinan Parakan berkembang menjadi kawasan pertokoan modern; jumlah persentase bangunan kuno tradisional Tionghoa di Pecinan Parakan hanya tinggal 20%; karena pengaruh perkembangan zaman masyarakat Tionghoa Parakan mulai meninggalkan budaya Tionghoa, semua budaya dan kegiatan keagamaan hanya dipusatkan di Klenteng Hok Tek Tong. Walaupun kondisi keutuhan Pecinan Parakan sudah mengalami perubahan namun ciri khas Kampung Pecinan Parakan masih dapat terlihat dan dirasakan, karena masih terdapatnya laggam bentuk arsitektur Tionghoa yang masih bertahan serta aktifitas budaya Tionghoa yang masih rutin diadakan di Klenteng Hok Tek Tong Parakan. Kunci  : Morfologi, Kampung Pecinan, Keutuhan. Abstract: The town of Parakan has a kampong/village that potentially can show/represent the characteristics of the town. That is the Chinatown kampong, where people can find several Chinese traditional buildings and the majority population of Chinese ethnic descend. The existence of Chinese kampong in Parakan is progressively eliminated by the presence of modern architecture that is currently growing. This phenomenon leads to a research question, “How is the condition of the Chinese Kampong’s morphological integrity? The purpose of this study is to identify the morphological integrity Parakan’s Chinatown. With the mentioned purpose, so the research/analysis can be conducted is the physical condition analysis of Chinatown in Parakan. it covers the structural aspects (form of figure ground and road network patterns), functional (regional linkage system), and visual (regional architectural style); analysis covering the region of non-physical conditions aspects of life (social, cultural, religious and community economic Parakan village Chinatown), and then proceed to formulate the conditions on the integrity of the village Chinatown Parakan City.The results of the analysis show that the village/kampong has undergone many changes. Parakan has grown into a commercial town where the routes to Wonosobo and Kendal are passing by and it leads the economic activities in Parakan’s Chinatown are developing progressively into a modern commercial area; the percentage of traditional Chinese buildings in Chinatown Parakan are only 20%, due to the influence of the times Parakan Chinese community began to leave the Chinese culture, all cultures and religious activity is concentrated in the temple Hok Tek Tong. Keywords: Morphology, Chinatown, Integrity
IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG PERKOTAAN PADA KORIDOR JALAN UTAMA DI KELURAHAN KALICACING, KOTA SALATIGA Paramita Dyah Maharani PP; Djoko Suwandono
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.835 KB)

Abstract

Abstrak : Pertumbuhan kota yang cukup pesat menyebabkan kawasan berkembang mengikuti alur jaman dan gaya hidup masyarakatnya. Tidak adanya peraturan daerah yang kuat untuk melestarikan kawasan ini sehingga banyak kawasan yang mengalami perkembangan struktur ruang perkotaan. Permasalahan terbesar terjadi pada kawasan pusat perkotaan di Kelurahan Kalicacing yaitu Koridor Jalan Letjen Sukowati, Jalan Semeru, Jalan Jendral Ahmad Yani, dan Lapangan Pancasila. Lokasi kawasan yang berada pada pusat perkotaan dengan Lapangan Pancasila sebagai ikon alun-alun perkotaan membawa kawasan ini menuju perubahan yang cukup signifikan dan tidak beraturan. Perubahan struktur ruang perkotaan di Koridor-koridor Jalan Utama Kelurahan Kalicacing, Salatiga dikaji dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian berbasis observasi lapangan. Metode analisis deskriptif kualitatif dilakukan guna mendeskripsikan hasil perkembangan fisik dan non-fisik kawasan studi berdasarkan landasan teori yang digunakan. Pendekatan kualitatif pada penelitian ini fokus pada identifikasi fisik dan non-fisik kawasan. Dimana pendekatan sejarah digunakan untuk melakukan analisis urban tissue dan pola perkembangan wilayah, selanjutnya melakukan analisis kondisi fisik wilayah studi, dan terakhir pendekatan sistem aktivitas digunakan untuk melakukan analisis kondisi non-fisik wilayah studi. Selanjutnya hasil observasi akan dianalisis dengan menggunakan analisis perancangan kota hingga dihasilkan seberapa besar tingkat perkembangan struktur ruang perkotaan pada Koridor Jalan Letjen Sukowati, Jalan Semeru, Jalan Jendral Ahmad Yani, dan Lapangan Pancasila di Kelurahan Kalicacing, Kota Salatiga. Dengan dilakukan penelitian terhadap perkembangan struktur ruang perkotaan kawasan pusat perkotaan diharapkan dapat menghidupkan kembali struktur ruang kawasan yang mulai tidak beraturan, dapat mengembangkan nilai-nilai dari potensi yang ditemukan dan dapat dikembangkan untuk berbagai sektor, dan juga mengevaluasi seberapa jauh upaya pemerintah untuk mempertahankan kawasan sesuai dengan peraturan yang ada.Kata kunci       :     struktur ruang perkotaan, koridor jalan, pusat perkotaan Abstract: As the city is quite loved since the colonial era, Salatiga nowadays has a lot of historical value in the form of objects of cultural heritages. As found in around the Kalicacing, Salatiga. The biggest problems occur in areas of urban centers in Main Corridor of Kalicacing namely Lt. Sukowati St, Semeru St, Jenderal Ahmad Yani St, and Lapangan Pancasila. Location area within the urban centers of the Lapangan Pancasila as urban square icon to bring this region to the significant changes and irregular. Changes in the structure of urban space corridors Kalicacing, Salatiga will be examined using a qualitative approach to this type of research based on field observations. Methods of qualitative descriptive analysis was conducted to describe the results of the physical and non-physical study area based on the theoretical basis that is used. Qualitative approach in this study focused on identifying the physical and non-physical region. Where the historical approach is used to perform the analysis of the urban tissue and the pattern of regional growth, further analyzing the physical condition of the study area, and the last activity of the systems approach is used to perform the analysis of non-physical conditions of the study area. Furthermore, the observation will be analyzed using urban design to the extent resulting spatial structure of urban development on Lt. Sukowati St, Semeru St, Jenderal Ahmad Yani St, and Lapangan Pancasila in the Kalicacing, Salatiga. By doing research on the development of urban spatial structure of urban central region is expected to revive the area spatial structure began irregularly, can develop the values of the potential are found and can be developed for various sectors, and also evaluate how far the government's efforts to maintain the appropriate region with existing regulations.Keywords       :     space structure, street elements, central business districts
KAJIAN SEBARAN RUANG AKTIFITAS BERDASARKAN SENSE OF PLACE (RASA TERHADAP TEMPAT) PENGGUNA DI PECINAN SEMARANG Annisa Nur Fauziah; Wakhidah Kurniawati
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.638 KB)

Abstract

Abstrak: Suatu tempat yang memiliki sense of place yang tinggi, maka akan mendorong orang diam disana dan tinggal lebih lama(Najavi, 2011: 192). Namun, yang terjadi di Pecinan justru sebaliknya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, proporsi penduduk yang pindah mendominasi data demografi Pecinan Semarang. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji sebaran ruang aktifitas di Pecinan berdasarkan sense of place pengguna. Dalam konteks ini, sense of place pengguna akan menentukan bagaimana intensitas dalam beraktifitas di ruang-ruang yang terdapat di Pecinan Semarang. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan penelitian deduktif positivistic, dengan metode penelitian statistic deskriptif. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa temuan Najavi tersebut ternyata tidak berlaku di Pecinan Semarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ruang-ruang yang memiliki sense of place tinggi, intensitas penggunaan ruangnya justru paling rendah dibanding ruang-ruang lain di Pecinan Semarang. Salah satunya ditemui pada ruang-ruang wisata budaya di Pecinan Semarang yang tersebar di Jalan Gg Warung, Gg Lombok, Gg Pinggir, Gg Cilik dan Wotgandul Timur.Sebaliknya, ruang-ruang yang memiliki intensitas penggunaan ruang sangat tinggi, justru sense of place-nya hanya tergolong sedang.Ini ditemui di ruang-ruang permukiman berupa ruko di Gg Pinggir dan Gg Baru serta ruang komersial berupa gudang di Gg Beteng, Gg Belakang, dan Kalikuping.Di Pecinan Semarang, aspek fisik, emosional, dan fungsional yang mengacu pada keunikan tempat cenderung lebih membantu pengguna untuk menyadari dan mengembangkan sense of place dibanding dengan pengalaman pengguna terhadap tempat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  intensitas penggunaan ruang aktifitas di Pecinan tidak berkaitan dengan sense of place pengguna di Pecinan Semarang. Kata kunci :sebaran ruang aktifitas, sense of place, Pecinan Semarang Abstract: A place which has high level of sense of place, encourage people to dwell and stay a little longer (Najavi, 2011: 192). But, the opposite occurred in Semarang Chinatown. In the last five years, the proportion of people who moved dominate the demographic in Semarang Chinatown. According to this, it is necessary to examine the distribution of activity space in Chinatown based on sense of place. In this regard, the sense of place will determine the intensity of use of space in Semarang Chinatown. To achiece this goal, researchers used deductive positivistic approach, with descriptive statistical research methods. The research proved that the statement whose claimed by Najavi does not fit in Semarang Chinatown. Spaces that have a strong sense of place, have the lowest intensity). These spaces are identified as space for cultural tourism which spread across Gg Warung, Gg Lombok, Gg Pinggir, Gg Cilik, and Wotgandul Timur. In the other hand, spaces that have moderate sense of place, has a very high intensity of use. These space are identified as shop house at Gg Pinggir and Gg Baru and warehouses in Gg Beteng, Gg Belakang, and Kalikuping. In Semarang Chinatown, physics, emotional, and functional aspects refers to uniqueness place which help people to develop sense of place rather than users experience with place. Thus, it can be concluded that intensity of use of activity space is not associated with the sense of place in Semarang Chinatown. Keywords: distribution of activity space, sense of place, Semarang Chinatown  
BENTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA PESISIR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PEKALONGAN Musaddun .; Kurniawati Wakhidah; Santy Paulla Dewi; Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.643 KB)

Abstract

Abstrak: Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dengan panjang pantai 81.000 km dan terbentang di sepanjang wilayah pesisirnya yang mempunyai berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi keberlanjutan pembangunan. Oleh karena itu dengan adanya beberapa potensi yang terdapat di kawasan pesisir tersebut, saat ini kawasan pesisir banyak yang dimanfaatkan sebagai aktivitas utama masyarakat. Begitu pula yang terjadi di kawasan pesisir Kabupaten Pekalongan dimana mempunyai beberapa potensi wisata pesisir yang dapat dikembangkan. Namun dalam perkembangannya, timbul berbagai macam permasalahan yang berkaitan dengan kawasan pesisirnya. Permasalahan tersebut apabila tidak ditindaklanjuti akan mempengaruhi keberlanjutan dan keberadaan wisata pesisirnya. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pengembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dalam mewujudkan keberlanjutan kawasan pesisir berupa konsep pengembangan, kebijakan dan pengelolaan serta pembiayaan kawasan. Pendekatan penelitian yang dipakai dalam studi ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini yang dilakukan dalam memetakan potensi dan masalah serta kondsi eksiting kawasan dalam menentukan arahahan pegembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan melalui metode deskriptif analisis. Sedangkan pendekatan kuantitatif yang dilakukan adalah dalam menentukan lokasi prioritas yang akan dikembangkan sebagai wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dengan melihat keberlanjutannya melalui metode scoring dan pembobotan.      Kata Kunci : pengembangan, wisata, pesisir Abstract:. Indonesia has a long coastline with long sandy beaches and stretches 81,000 km along the coastal areas that have the potential that can be harnessed for sustainable development. Therefore, the presence of several potential contained in the coastal areas, many coastal areas currently utilized as the primary activity of the community. Similarly, occurring in coastal areas and Pekalongan regency, which had some coastal tourism potential that can be developed. But in its development, a wide range of issues arise relating to the coastal region. These problems, if not acted upon and will affect the sustainability of coastal tourism destinations. Based on this, the study aims to provide guidance on the development of coastal tourism in the District and the City of Pekalongan in realizing sustainability of coastal areas such as concept development, policy and management and finance areas. The research approach used in this study is a quantitative and qualitative approach. Qualitative approach in this study were done in mapping the potential and problems as well as in determining the region eksiting kondsi arahahan pegembangan coastal tourism in the District and the City of Pekalongan through descriptive analysis method. While the quantitative approach taken is to determine the location of which will be developed as a priority coastal tourism in Pekalongan to see sustainability through scoring and weighting methods. Keywords: development, tourism, coastal
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI MASYARAKAT UNTUK TETAP BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN BENCANA ROB KELURAHAN KEMIJEN KECAMATAN SEMARANG TIMUR KOTA SEMARANG Ananto Bangkit Pradana; Mussadun .
Ruang Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.154 KB)

Abstract

Abstrak: Bencana Rob sering terjadi di Kota Semarang. Berdasarkan data BMKG Kota Semarang, sejak bulan April hingga Mei tahun 2012, rob telah menggenangi sejumlah wilayah pesisir Kota Semarang, dan yang terparah adalah Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Semarang Timur dengan ketinggian rob antara 50 cm hingga 100 cm. Namun masih banyak terdapat permukiman kumuh pada kawasan tersebut. Seperti pada permukiman kumuh yang terletak di Kelurahan Kemijen Semarang Timur. Pada Kelurahan ini ketinggian rob dapat mencapai hingga 100 cm berdasarkan data BMKG Bulan Mei tahun 2012 dalam Harian Suara Karya Semarang. Akibat bencana rob yang semakin parah dari tahun ke tahun, penduduk yang berada di permukiman tersebut harus selalu beradaptasi dengan bencana rob dengan cara meningkatkan lantai, membuat bendungan kecil di depan rumah, meninggikan jalan lingkungan, dan membangun tanggul disekitar area pemukiman. Untuk melakukan hal tersebut membutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan setiap lima tahun. Namun mereka tetap menginginkan untuk tinggal di daerah rawan bencana rob seperti di Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat ditinjau dari aspek fisik alam dan fisik buatan, sosial dan perekonomian, untuk tetap bertempat tinggal di permukiman pesisir kumuh dan rawan bencana rob yang terdapat di Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat untuk tetap bertempat tinggal di Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang. Faktor pertama yang paling mempengaruhi preferensi masyarakat untuk tetap tinggal di Kelurahan Kemijen dengan nilai variansi terbesar yaitu 32,450%. adalah kondisi aksesibilitas dan kondisi sosial yang terdiri dari variabel kondisi hubungan kekeluargaan, tingkat keamanan, organisasi lingkungan dan hubungan tetangga di Kelurahan Kemijen.Kata Kunci : Kawasan Kumuh, Kawasan Bencana, Bencana Rob, Preferensi Abstract: Tidal flood hazard often occur in the city of Semarang. Based on  BMKG Semarang, from April to May in 2012, Tidal flood has been flooded several coastal areas of the city, and the worst is, the District of North Semarang and Semarang District East, with tidal height between 50 cm to 100 cm. But still there are many slums  in the areas. As in the slums located in the Village of East Semarang Kemijen.  At this village tidal heights can reach up to 100 cm based on data BMKG In May of 2012 in Semarang Suara Karya. Tidal flood hazard is getting worse from year to year, the population residing in these settlements must always adapt to tidal flood hazard by increasing the floor, made a small dam in front of the house, elevating roads, and building embankments around residential areas. To do so, required much money that must be paid every five years. But they still want to live in disaster-prone areas such as in Kemijen, East Semarang. This study aims to determine the factors that influence people's preferences in terms of the physical aspects of the natural and artificial physical, social and economic, to remain living in slum settlements and disaster-prone coastal tidal flood hazard located in Kemijen, East Semarang District, Semarang City. Results of the study showed that there are five factors that influence people's preference to remain living in Kemijen, East Semarang. The first factor that most affects people's preference to remain in the Village Kemijen with the largest variance value is 32.450 % is the condition of accessibility and social conditions consisting of kinship variable conditions, the level of safety, environmental organizations and neighbors in the Village Kemijen relationship.Keywords : Slum, Disaster Zone, Tidal Flood Disaster, Preferences
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KELURAHAN LAMPER KIDUL Retno Putri Hapsari; Djoko Suwandono
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.992 KB)

Abstract

Abstrak : Pembangunan kota saat ini semakin berkembang pesat. Adanya pengalihfungsian lahan dari ruang terbuka menjadi kawasan industri, kawasan perkantoran, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan permukiman, jaringan transportasi serta sarana dan prasarana menyebabkan minimnya ruang terbuka hijau di perkotaan. Salah satu pengalihfungsian RTH menjadi perkantoran dan permukiman di Kelurahan Lamper Kidul Kecamatan Semarang Selatan. Untuk mendapatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang fungsional dalam suatu sistem perkotaan perlu adanya pengelolaan yang komprehensif dari berbagai pihak yaitu pemerintah, swsata, dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengindetifikasi peran serta seluruh elemen masyarakat dalam pengelolaan RTH di Kelurahan Lamper Kidul. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif didukung dengan deskriptif kualitatif dan metode tabulasi silang. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat merupakan unsur utama dalam mengelola dan menjaga kualitas RTH. Bentuk peran serta masyarakat dalam upaya perbaikan lingkungan di Kelurahan lamper Kidul yaitu dengan memberikan sumbangan berupa dana dan tenaga dengan kerja bakti. Selain itu, mereka juga mengadakan pertemuan warga yang dilakukan satu bulan sekali di setiap RT dan dalam melakukan kegiatan untuk pengelolaan lingkungan warga melakukannya tanpa merasa terpaksa sama sekali. Untuk tingkat peran serta masyarakat di kelurahan ini dipengaruhi oleh lamanya tinggal. Lamanya tinggal memiliki keterkaitan yang kuat dengan tingkat peran serta masyarakat dalam proses keterlibatan warga dalam pertemuan, kegiatan fisik/kerja bakti, keaktifan berdiskusi dan membayar iuran/sumbangan. Tingkat peran serta masyarakat seperti ini menurut Arnstein dapat digolongkan pada tingkat informing dan consultation.  Kata Kunci: Peran Serta Masyarakat, Pengelolaan, Ruang Terbuka Hijau Abstract : Nowadays, urban development growing rapidly. Lack of green open space in urban areas caused by land converting from open space into industrial areas, office areas, commercial and service areas, residential areas, network transportation and facilities. One of example land converting happend in Lamper Kidul village, district south of Semarang City. Lamper Kidul area changed into office and residential area which was used to be as green open space. Comprehensive management by government, private sector and participation community really need to do, to get well funcional green open space in all areas. This research aims to identify the participation of all elements of the society to manage the green open space in Lamper Kidul Village. This research was conducted by quantitative anlysis method with quantitative descriptive analysis technique and supported by qualitative and crosstab method. Based on the result of the research, participation community is the key element to managing and maintaning the quality of green open space. Participation community due plat forms to improving environment are try to find some funds and working together as small team work community. One of activities are conduct small meeting once in each month. Environmental management, community do it as real withaout any preasure from anything. The level paticipation of community depends how long people live in that area. The more long community have been live in some area, the more strong participation of community as a step process meeting, phisical dues, and to get a lot of funds. Arnstein said that level of paticipation community that explained above can be classified as level of “informing and consutation”. Keywords : Community Participation, Management, Green Open Space
KOTA SEMARANG MENUJU KOTA KREATIF Lupita Fajri Anisa; Diah Intan Kusumo Dewi
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.013 KB)

Abstract

Abstrak: Adanya peningkatan iklim kreatif memunculkan banyaknya komunitas-komunitas kreatif yang mulai menggunakan ruang-ruang di Kota Semarang untuk beraktivitas. Semakin banyaknya komunitas kreatif yang bermunculan membuat Kota Semarang memiliki peluang untuk berkembang menjadi Kota Kreatif. Menjadikan Kota Semarang sebagai Kota Kreatif tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif serta alat analisis yang digunakan adalah AHP (Analitycal Hierarchi Proses) yang bertujuan untuk mengkaji peran dan pengaruh komunitas kreatif dalam  pengembangan kreativitas di Kota Semarang serta melihat peluang Kota Semarang menjadi sebuah kota yang kreatif. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Kota Semarang sudah  memiliki cukup modal untuk berkembang menjadi kota yang kreatif. Modal tersebut berupa komunitas-komunitas kreatif yang secara konsisten menggunakan dan memanfaatkan ruang-ruang publik di Kota Semarang. Aktivitas-aktivitas komunitas kreatif di Kota Semarang memiliki peran tersendiri didalam membantu pengembangan Kota Semarang khususnya membuka peluang untuk menjadi kota yang kreatif. Berdasarkan hal tersebutlah maka dapat dikatakan bahwa Kota Semarang memiliki peluang untuk mengembang menjadi kota yang kreatif. Meskipun demikian peluang tersebut masih tergolong kecil karena beberapa kriteria masih belum tumbuh optimal di Kota Semarang seperti pengembangan ekonomi kreatif, penyelenggaraan event-event kreatif serta dukungan pemerintah yang masih belum mencukupi sehingga diperlukan pengoptimalan untuk meningkatkan kriteria-kriteria yang belum tumbuh optimal tersebut.Kata Kunci : Kreativitas, Komunitas Kreatif, Kota Kreatif  Abstract: The increased creativity eliciting many creative communities to begin using many space in the Semarang city. The increasing number of community creative popping up, make the Semarang city has a chance to develop into the Creative City. To make the Semarang City as the Creative City will not be conducted easily. This research using a qualitative quantitative with the descriptive analysis and then using AHP ( Analitycal Hierarchi Process ) as a tool of quantitative analyse. It aimed to assessing the role and influence of creative communities in the development of creativity in the Semarang City. And also to see an opportunities of Semarang City to becoming into a Creative City. The result of this research found that the Semarang City has enough to develop into a Creative City. Semarang City has assets to be a Creative City. That is creative communities who always consistently using many public space in Semarang City. Creative communities ' s activities in the Semarang City having its own role in assisting development of the Semarang CIty especially to open up the opportunity to become a Creative City. Based on those so it can be said that the Semarang City  has a chance to inflate become a Creative City. However, those odds are still relatively small, because some of the criteria are still not growing optimal in Semarang City such as a creative economic development, organizing creative events and Government support. They are still not sufficient so it is necessary to improve the optimization criteria are yet to grow optimally.Keywords : Creativity, Creative Communities, Creative City