cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
Perbedaan Efikasi Diri Berdasarkan Tipe Pola Asuh Orangtua pada Remaja Tengah di Denpasar Widiyanti, A.A. Mas Diah; Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.431 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p17

Abstract

  Parenting style are all forms of interaction process between parent and child that will give effect to the personality development of children. The growth of self-efficacy in adolescents is evolve regularly. Beginning of the growth of self-efficacy focused on the elderly, then influenced by siblings, peers, and other adults. In this case the parents and family members have an important role in the formation of adolescent self-efficacy. Patterns of parenting and good interaction with family members is a contributing factor to form a positive self-efficacy in adolescents. Different dynamics of parenting style will also form a different self efficacy in adolescents. The aim of this research is to investigate the difference of self-efficacy based on parenting style of middle adolescents in Denpasar. This research is quantitative comparison. The subjects were middle adolescents in Denpasar as many as 380 people to the criteria of Grade X and XI Senior High School in Denpasar. The sample were selected using Area Probability Random Sampling Method. Method of data collection using the Parenting Scale has tested its validity, the reliability of 0.952 as well as Self-Efficacy Scale also has reliability 0.962. Distribution of the data obtained indicates normal data and homogeneous. Statistical analysis methods with techniques of comparative One Way Anova. Results obtained F = 22.275, p = 0.000 and analysis of Post Hoc get results indicate that the authoritative parenting has a significance of 0.000 Authoritarian, authoritative parenting with 0,000 Permissive, Authoritarian parenting Permissive amounted to 0.163. It means that the difference in self-efficacy based on the type of authoritative parenting with authoritarian, self-efficacy differences with Permissive parenting authoritative, and there is no difference in self-efficacy on the Authoritarian Permissive parenting adolescents in the middle of Denpasar. Keywords : Parenting Style, Self-Efficacy, Middle Adolescents
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSI ANTARA PENDENGAR MUSIK HARDCORE DENGAN PENDENGAR MUSIK KLASIK Dharmasasmitha, Virgina; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.149 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p01

Abstract

Musik dapat menjadikan seseorang berintraksi dengan orang lain, dan juga bisa mempengaruhi suasana hati seseorang  (Schwartz & Fouts, 2003). Kecerdasan emosi dapat distimulasi oleh musik. Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks (kadang-kadang disebut neokorteks) sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurangi emosi yaitu sistem limbik, padahal keduanya mempunyai hubungan. Interaksi yang disebabkan rangsangan bunyi musik dapat menentukan kecerdasan emosi. Musik hardcore yang termasuk dalam musik keras dan musik klasik yang termasuk dalam musik lembut merupakan jenis musik yang berbeda. Irama musik yang berbeda akan menyebabkan kondisi emosi yang berbeda pula. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparasi. Subjek penelitian ini adalah remaja akhir yang mendengarkan musik hardcore dan musik klasik di Bali sebanyak 100 orang dengan kriteria sering mendengarkan musik, berusia antara 18-21. Metode pengambilan sampelnya dengan metode Simple Random Sampling. Metode pengambilan datanya dengan Skala Kecerdasan Emosi dengan reliabilitas 0,939. Normalitas variabel kecerdasan emosi sebesar 0,925 dan homogenitas variabel kecerdasan emosi adalah 0,204. Metode analisis datanya dengan teknik independent sample t test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik dengan nilai t -0,020 dan nilai signifikansi 0.984. Artinya tidak ada perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik.   Kata kunci : Kecerdasan Emosi , Pendengar Musik, Hardcore, Klasik 
Perbedaan Tingkat Agresivitas Petugas Satuan Polisi Pamong Praja di Bali ditinjau dari Dimensi Kepribadian Big Five dan Kecerdasan Emosional Pratiwi, Putu Tika; Ary, Luh Kadek Pande
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.276 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p17

Abstract

Agresivitas adalah setiap tindakan yang bertujuan untuk membahayakan atau melukai makhluk hidup lain,dimana agresivitas dapat dilakukan oleh siapa saja, dan tidak jarang justru dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Dalam berbagai pemberitaan diketahui bahwa anggota Satpol PP seringkali terlibat dalam tindakan agresivitas ketika menjalankan tugas. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat agresivitas petugas Satpol PP ditinjau dari dimensi kepribadian big five (neuroticsm, extraversion, openness to experience, agreeableness, conscientiousness) dan kecerdasan emosional. Subjek penelitian ini adalah 135 anggota Satpol PP dari Kabupaten Badung yang dipilih dengan menggunakan teknik pengambilan sampel cluster sampling. Adapun instrumen dari penelitian ini adalah skala agresivitas, skala kepribadian big five, dan skala kecerdasan emosional. Pada penelitian ini untuk menganalisis data digunakan analisis kovarian (ancova). Hasil analisis kovarian menunjukkan bahwa dimensi kepribadian big five dan kecerdasan emosional memiliki kontribusi terhadap agresivitas anggota Satpol PP. Perbedaan agresivitas anggota Satpol PP berdasarkan dimensi kepribadian big five, secara signifikan menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat agresivitas ditinjau dari dimensi kepribadian big five yang dimiliki oleh masing-masing anggota Satpol PP. Sedangkan perbedaan tingkat agresivitas dilihat dari kecerdasan emosional sebagai kovarian dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa secara signifikan ada perbedaan tingkat agresivitas ditinjau dari kecerdasan emosional. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok subjek dengan dimensi kepribadian neuroticism memiliki rata-rata tingkat agresivitas yang lebih tinggi dibanding kelompok subjek lainnya. Diketahui pula bahwa kelompok subjek dengan rata-rata tingkat agresivitas yang paling rendah dimiliki oleh kelompok subjek dengan dimensi kepribadian openness to experience. Kata Kunci : Agresivitas, Kepribadian Big five, Kecerdasan Emosional,Satpol PP.
PERAN KEHARMONISAN KELUARGA DAN PENERIMAAN TEMAN SEBAYA TERHADAP KONSEP DIRI REMAJA SMP DI DENPASAR Dewi, A.A. Ayu Trisna; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.798 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p17

Abstract

  The self-concept is a very important mental aspect in a early adolescent’s life because it can influence their behavior. Self-concept is not innate, but rather influenced by environmental stimuli at an early age. Family condition is one of the environmental stimuli that can influence self-concept. In outside-the home life, the responses of peers while interacting also contribute significantly to the self-concept. This study aims to determine the roles of family harmony and peer acceptance to teenagers’ self-concept of Junior High School adolescent in Denpasar. Subjects in this study were 224 of Junior High School adolescent in Denpasar, represented by the State Junior High School 1 of Denpasar. Instruments in this study were self-concept scale, family harmony and scale of peer acceptance. The results of multiple regression analysis shows that R = 0.560 (F = 50.395, p <0.05), it can be stated that the harmony of the family and peer acceptance jointly contribute to the self-concept. Determination coefficient of 0.313 indicates that the effective contribution of family harmony and peer acceptance to the self-concept amounted to 31.3%. Standardized beta values on family harmony with the self-concept is 0.285 (p <0.05) whereas peer acceptance with the self-concept at 0.361 (p <0.05). Thus it can be stated the role of peer acceptance is greater than the harmony of the family for the self- concept.   Keywords: self-concept, family harmony, peer acceptance, junior high school adolescent
GAMBARAN PENERIMAAN IBU DENGAN ANAK AUTISME SERTA PENERAPAN TERHADAP DIET BEBAS GLUTEN DAN KASEIN Sudarmintawan, Putu Sonia Insani; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.591 KB)

Abstract

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang berawal sebelum anak berusia 2,5 tahun yang ditandai dengan masalah dalam kemampuan sosial dan emosional, kekurangan komunikasi, dan adanya tindakan repetitif dan ritualistik. Penerimaan dari orangtua yang memiliki anak dengan autisme diperlukan agar anak dengan autisme mendapat penanganan yang tepat, sehingga prognosis anak dapat membaik. Salah satu penanganan atau terapi yang dapat diberikan bagi anak dengan autisme adalah diet bebas gluten dan kasein. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran penerimaan ibu dengan anak autisme, serta melihat bagaimana penerapan diet bebas gluten dan kasein untuk anak dengan autisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden dalam penelitian ini adalah dua orang ibu yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data terhadap kedua responden dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini adalah kedua ibu telah menunjukkan penerimaan terhadap anak dengan autisme, namun hanya satu satu orang ibu yang menerapkan diet bebas gluten dan kasein. Perbedaan tersebut akan dijelaskan dalam tiga tema besar penelitian ini, yaitu gambaran penerimaan orangtua dengan anak autisme, penerapan diet bebas gluten dan kasein, dan faktor lain yang mendukung penerapan diet bebas gluten dan kasein. Kata kunci: Penerimaan orangtua, autisme, diet bebas gluten dan kasein
Hubungan dukungan sosial dan efikasi diri dengan motivasi berprestasi pada remaja awal dan tengah yang tinggal di panti asuhan di Bali Manuaba, Ida Bagus Purwa Arsha; Susilawati, Luh Kadek Pande Ary
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.03 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p16

Abstract

Abstrak Remaja yang ditelantarkan atau berpisah dari orangtua akan mencari alternatif untuk menggantikan fungsi keluarga yang hilang agar hak-haknya tetap terpenuhi, melalui alternatif berbasis panti asuhan. Remaja yang tinggal di lingkungan panti asuhan sebagian besar akan mengalami tekanan dan masalah selama tinggal di panti asuhan, hal ini dikarenakan dukungan berupa bantuan dari pengasuh yang kurang didapatkan oleh remaja, lingkungan panti asuhan yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggal, serta adanya perbedaan norma, kebiasaan, dan budaya yang berbeda dengan daerah asalnya. Remaja yang tinggal di panti asuhan perlu mendapatkan dukungan sosial untuk mengurangi tekanan yang dirasakan sehingga remaja dapat meningkatkan motivasi berprestasi selama tinggal di panti asuhan. Efikasi diridinyatakan dapat membantu individu dalam mengatasi tekanan yang dihadapi selama tinggal di panti asuhan, serta dapat mempermudah remaja untuk meningkatkan motivasi berprestasi selama tinggal di panti asuhan di Bali. Subjek dalam penelitian ini adalah 95 orang remaja awal dan tengah yang tinggal di panti asuhan. Hasil uji regresi berganda menunjukkan koefisien regrresi sebesar 0,574 dan koefisien determinasi sebesar 0,329, dengan signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), dengan demikian terdapat hubungan dukungan sosial dan efikasi diri dengan motivasi berprestasi pada remaja awal dan tengah yang tinggal di panti asuhan di Bali.Koefisien beta terstandarisasi dari dukungan sosial menunjukkan nilai sebesar 0,368 dan signifikansi 0,000 (p<0,05), sehingga dukungan sosial berhubungan secara signifikan dengan motivasi berprestasi pada remaja awal dan tengah. Koefisien beta terstandarisasi dari efikasi diri menunjukkan nilai sebesar 0,303 dan signifikansi 0,002 (p<0,05), sehingga efikasi diri berhubungan secara signifikan dengan motivasi berprestasi pada remaja awal dan tengah. Kata kunci: motivasi berprestasi, dukungan sosial, efikasi diri, remaja panti asuhan, Bali
Hubungan Antara Harga Diri dengan Pengambilan Keputusan untuk Kawin pada Wanita Bali Usia Dewasa Awal Wiraswati, Anak Agung Ketut Sri; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.773 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i01.p02

Abstract

Early adulthood have a need to develop an intimate relationship through marriage (Santrock, 2002). Before deciding to hold the marriage, they conducted a series of decision-making process. Self-esteem is one of the variables that involved in individual decision-making. The main purpose of this study is to investigate the direction and strength of relationship between self-esteem and decision-making to get married among early adulthood Balinese women. A total of 196 Balinese women aged between 20 up to 40 years old and married becoming the subject of this quantitative correlational research. The sampling technique was two-stage cluster sampling. Measuring instruments used are the self-esteem scale (27 items; rxx` = 0,883) and decision-making to get married scale (16 items; rxx` = 0,824). Data were processed using Pearson Product Moment analysis, simple linear regression, and one-way ANOVA analysis. Statistical analysis show, there is significant correlation between self-esteem and decision-making to get married among early adulthood Balinese women (r= 0,723; p= 0,000). The coefficient of determination obtained for 0,523 which means that 52,3% of the variance that occurs in the decision-making to get married variable can be explained by the variance in self-esteem variable. F test analysis found that the mean scores for decision-making to get married did not differ significantly when assessed from the level of education (F= 1,169; p= 0,323) and birth order (F= 0,601; p= 0,550).   Keywords: Self-esteem, decision-making to get married, Balinese women, early adulthood
MEMAAFKAN PADA PEREMPUAN DEWASA MUDA YANG PERNAH MENGALAMI KEKERASAN OLEH ORANGTUA PADA MASA ANAK-ANAK Yoela, Yemima; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.523 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p16

Abstract

Berbagai kasus kekerasan terhadap anak terus terjadi, berdasarkan data yang dimiliki oleh Badan Keluarga Berencana (KB) dan Perlindungan Perempuan (PP) Kota Denpasar, terdapat 148 kasus kekerasan pada tahun 2013, 143 kasus pada tahun 2014 dan 116 kasus di tahun 2015 (sampai bulan Oktober 2015). Sebanyak 80 persen kekerasan yang menimpa anak-anak dilakukan oleh keluarga, termasuk orangtua. Kekerasan yang dialami akan menimbulkan berbagai macam dampak yang terbawa hingga anak tersebut dewasa, seperti harga diri rendah, mengalami depresi pada masa dewasa, masalah dalam membina hubungan dengan orang lain, agresivitas, dan lain-lain. Kekerasan yang terjadi juga dapat merusak hubungan antara orangtua dengan anak. Salah satu cara agar individu dapat mengalami pemulihan dari dampak-dampak tersebut dan mengembalikan hubungan dengan pelaku adalah dengan memaafkan, yaitu kesediaan individu untuk melepaskan haknya untuk membalas, memberikan penilaian negatif dan menunjukkan perilaku yang berbeda terhadap pihak yang melakukan kesalahan, merespons dengan belas kasihan, kemurahan hati serta kasih terhadap orang tersebut. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui bagaimana proses memaafkan perempuan dewasa muda yang pernah mengalami kekerasan oleh orangtua pada masa anak-anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak tiga orang perempuan dewasa muda yang sudah memaafkan orangtuanya, beserta satu significant others dari masing-masing responden. Hasil penemuan dalam penelitian ini dibagi dalam dua kategori, yaitu Kategori I: Kekerasan yang Dialami (bentuk kekerasan: emosional/psikis, penelantaran dan fisik, dan dampak kekerasan: diri sendiri, keluarga dan lingkungan sosial) dan Kategori II: Proses Memaafkan (fase menyadari kemarahan, fase memutuskan untuk memaafkan, fase berusaha untuk memaafkan dan fase mendalami). Kekerasan yang dialami ketiga responden, yaitu psikis, penelantaran dan fisik menyebabkan berbagai macam dampak dalam kehidupan masing-masing responden, kemudian ketiganya memutuskan untuk memaafkan orangtua yang melakukan kekerasan setelah menyadari bahwa Tuhan sudah mengampuni dan menginginkan ketiga responden untuk memaafkan. Proses memaafkan tersebut juga dibantu oleh komunitas yang mendorong ketiga responden untuk memaafkan. Kata Kunci: memaafkan, kekerasan pada anak, perempuan dewasa muda.
KONSEP SEHAT DAN SAKIT PADA INDIVIDU DENGAN UROLITHIASIS (KENCING BATU) DI KABUPATEN KLUNGKUNG, BALI Krisna Triyono, Samuel Dwi; K. Herdiyanto, Yohanes
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.019 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p04

Abstract

Pada era globalisasi ini, dengan perkembangan pengobatan medis yang semakin maju, masih banyak dari masyarakat yang tetap menggunakan pengobatan tradisional, yang dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Menurut Asimo (1995) penggunaan pengobatan tradisional tidak terlepas dari ketidakpuasan terhadap pengobatan medis. Hal ini juga terlihat pada masyarakat Bali yang masih banyak menggunakan pengobatan tradisional. Gagasan tersebut didukung dengan pre-eliminary study yang menunjukan adanya ketergantungan terhadap pengobatan tradisional yang mengakibatkan keterlambatan pengobatan medis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Responden yang digunakan pada penelitian ini merupakan salah seorang kepala keluarga dengan kasus keterlambatan pengobatan medis, dengan dua orang informan untuk memperkuat data penelitian. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa konsep sehat dan sakit pada responden penelitian dipengaruhi oleh; 1) faktor biologis yakni pemahaman terhadap kondisi fisiologisnya; 2) faktor psikologis yang mempengaruhi responden terhadap konsep sehat dan sakitnya dan cara yang dilakukan untuk menjaga kesehatannya; 3) faktor sosial yakni pengaruh masyarakat dan keluarga terhadap konsep sehat dan sakitnya. Health seeking behavior responden terbentuk, karena dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk berdasarkan pengetahuan dan sikap responden serta health system model yang terdiri dari karakteristik predisposisi, karakteristik pendukung, dan karakteristik kebutuhan yang juga dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, serta sosialnya. Berdasarkan hasil temuan tersebut didapatkan bahwa health seeking behavior responden dalam menggunakan pengobatan usada dan juga medis dipengaruhi oleh konsep sehat dan sakit yang dimilikinya. Kata Kunci: konsep sehat dan sakit, health seeking behavior, health system model
Hubungan antara Berpikir Positif Dengan Harga Diri pada Lansia yang Tinggal di Panti Jompo di Bali Andini, Ayu; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.315 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p13

Abstract

Year by year, the amount of elderly who lives at nursing home in Bali are increasingly. Most of them be carried to nursing home by their families with a reason that they are not able to take care of their elderly at home. It makes that there is a lot of elderly think negatively about the decision to put them at nursing home. Negative thinking makes them have a low self esteem. According to it, this study aiming to see the relationship positive thinking and self esteem to the elderly. This study is a correlational study between 84 elders who lives at nursing home in Bali as a subject. Method of data collection in this study is using questionnaires. The variable of positive thinking is measured positive thinking questionnaire, and the variable of self esteem is measured by self esteem questionnaire. Both of them are already valid and reliable. Positive thinking questionnaire consist of 22 items which validity range from 0,259 to 0,935 and the coefficient reliability is 0,944. Self esteem questionnaire consist of 23 items which validity range from 0,282 to 0,938 and the coefficient reliability is 0,959. The result of nonparametric Kendall’s Tau show that there is a significant relationship between positive thinking and self esteem (r=0,422 ; p=0,000). It that can be concluded that variable of positive thinking can explain the variable of self esteem in 17,8%. It can explain that the hypothesis  which stating that there is a relationship between positive thinking and self esteem to the elderly who lives at nursing home in Bali can be accepted. The other things that can explain about the relationship between positive thinking and self esteem are because the elderly able to; (1)accept themselves and their condition, (2) adapt with their environment, (3) see themselves positively, (4) show their power, (5) show their competence.   Keyword : positive thinking, self esteem, elderly, and nursing home