cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 422 Documents
KEPUASAN PERKAWINAN PASANGAN PADA GELAHANG Sanjiwani, Anak Agung Sri; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.965 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p19

Abstract

Perkawinan pada gelahang merupakan suatu fenomena yang relatif baru bagi orang Bali yang beragama Hindu. Perkawinan pada gelahang dikatakan berbeda dengan dua bentuk perkawinan lainnya yaitu perkawinan biasa dan nyentana. Perbedaan tersebut adalah status pasangan yang setara yaitu sebagai purusa dan pasangan yang memilih perkawinan pada gelahang akan memiliki kewajiban dan tanggung jawab ganda yang tidak dialami oleh pasangan pada perkawinan biasa atau nyentana. Situasi tersebut kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan perkawinan pada gelahang. Mayoritas pasangan menginginkan hubungan perkawinan yang setara dan pasangan harus selalu menyesuaikan pemahaman pribadi terkait apa yang diharapkan terhadap pasangan pada perannya masing-masing untuk mendapatkan kepuasan perkawinan. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggali kepuasan perkawinan pasangan pada gelahang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara dan observasi dengan melibatkan tiga pasangan yang menjalani perkawinan pada gelahang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan terkait beratnya pelaksanaan perkawinan pada gelahang tidak memengaruhi pasangan dalam mengevaluasi kepuasan perkawinan. Hal ini dapat terjadi karena perkawinan pada gelahang merupakan satu-satunya solusi bagi kedua belah pihak pasangan. Pasangan perkawinan pada gelahang menunjukkan kepuasan menyangkut 1) perilaku pasangan yang sesuai dengan harapan; 2) keberadaan anak yang sangat berharga; 3) hubungan yang terjalin baik dengan orangtua serta mertua; dan 4) dukungan orang sekitar terkait pelaksanaan perkawinan pada gelahang.  Perasaan kurang puas juga dirasakan pasangan perkawinan terkait kondisi ekonomi dan sifat pasangan. Penggunaan kalimat yang sederhana dengan bahasa sehari-hari menjadi saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat memudahkan pengambilan data pada responden penelitian.   Kata Kunci: Kepuasan perkawinan, perkawinan pada gelahang, kewajiban ganda
Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Pasutri dengan Keharmonisan dalam Pernikahan Dewi, Nyoman Riana; Sudhana, Hilda
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.818 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p03

Abstract

Marital harmony will be difficult to achieve without a good interpersonal relationship between husband and wife. In creating a good interpersonal relationship needs effective communication so as to prevent yourself from situation that could damage the relationship and can lead to not harmonious marriage. This study aimed to determine the relationship between interpersonal communication with marital harmony.   This study is a quantitative research that used a product moment correlation. The sampling technique used is the technique simple random sampling, with 110 subjects. The scale used in this research are scale interpersonal communication and scale marital harmony. Based on the results obtained correlation values (r) of 0,649 with probabilities of 0,000 (p<0,05). The result from test data analysis is that there is a positive and significant correlation between interpersonal communication with marital harmony. The effective contribution to interpersonal communication with marital harmony is 42,2% and the others are 57,8% is influenced by other factors not examined in this study.   Keywords: Interpersonal communication, marriage harmony
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PENYESUAIAN PERNIKAHAN PADA WANITA BALI YANG MENJALANI PERNIKAHAN NGEROB DI DENPASAR Astasari, Ni Putu Widya Dharma; Lestari, Made Diah
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.082 KB)

Abstract

Marriage is one of young adulthood’s development tasks. Some problems often arise in the initial period of marriage and disturb the marital adjustment process. In some countries with strong collective culture, a big family involvement is crucial and give an impact to marital adjustment process. In Bali, there is a culture called ngerob. Ngerob is a situation where one of the boys of a family should stay at parents home to continue the obligations and responsibilities of parents in customs, which means that a married man should invite his wife to live in a home with his parents. Adjustment with the partner's family is important in ngerob marriage. In order to reach a success marital adjustment, the wife is expected to have stable emotions. Emotionally intelligent wife is considered to have good self-control, able to express emotions appropriately, so that they can adapt with the circumstances it faces. The aim of this research is to determine the relation between emotional intelligence and marital adjustment among Balinese women who are ngerob in Denpasar. Subjects were Balinese woman who are married, living with in-laws (ngerob) and live in Denpasar (n=60). Data were collected through emotional intelligence questionnaire with and the marital adjustment questionnaire with. The data were analyzed using product moment correlation test. The correlation coefficient between emotional intelligence and marital adjustment are 0.503 with a significance level of 0.000 (p <0.05). The results of this research showed that there is a positive and significant correlation between emotional intelligence and marital adjustment among Balinese women who are ngerob in Denpasar. The higher level of emotional intelligence encourage a better marital adjustment process among Balinese women who are ngerob in Denpasar. Keywords : emotional intelligence, marital adjustment, ngerob
Hubungan antara Self Regulated Learning dan Kelekatan Remaja Awal terhadap Ibu dengan Prestasi Belajar Siswa SMP N 6 Denpasar Putri, Putu Riana Artyanti; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.462 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p06

Abstract

One of the main aims the achievement of adolescents is the achievement of learning. The teens looked at the successes and failures in achieving the feat would be a prediction for the success and failure when adult. Accomplishment of learning is influenced by many factors that originate from internal factors or external factors of students. One of the internal factors that may affect the achievement of student learning is the ability of the students in applying self regulated learning and from external factors, adolescents against parental attachment to mother can be one of the factors that affect the achievement of student learning. The purpose of this research is to know the relationship of the self regulated learning and adolescents attachment against the mother with the learning achievements of the adolescents in school. The subject in this study is students of class VIII SMP N 6 Denpasar chosen with stratified random sampling as many as 150 students. Instrument in this study is self regulated learning scales, attachment scale and scale data student report cards. Student report cards data on the research data is unnormal distribution, then the analysis of the data used in this research is the analysis of correlation Spearman's. From the results of the analysis of correlation Spearman's correlation coefficient shows the value of self-regulated learning with the learning achievements of 0,320 (p=0.000) and the correlation coefficient adolescents attachment against the mother with the learning achievements of 0,196 (p=0,016). From the results of the analysis performed looks that the correlation coefficients of Self-regulated learning with greater achievements as compared with correlation coefficient of adolescents attachment against the mother.Keywords: Achievements, self regulated learning, early adolescents attachment with mother , early adolescents
Coping pada Remaja yang Kecanduan Bermain Game Online Wiguna, Ganda Yogi; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.769 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p15

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang di dalamnya terjadi perubahan fisik dan perubahan psikologis. Pada masa remaja mulai muncul rasa ingin tahu yang besar yang menyebabkan remaja tersebut mencoba hal-hal yang baru, dan mengikuti trend yang booming di teman sebayanya, salah satu trend tersebut adalah game online. Game online merupakan game yang berbasis elektronik visual serta menggunakan jaringan internet. Sebagai salah satu trend yang ramai dimainkan, game online memiliki dampak positif dan negatif. Dari dampak negatif game online akan menimbulkan masalah-masalah pada remaja yang kecanduan bermain game. Masalah-masalah ini mendorong remaja untuk melakukan beberapa coping atau solusi untuk menyelesaikannya. Masalah dan coping inilah yang akan diteliti oleh peneliti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui masalah apa saja yang dialami remaja yang kecanduan bermain game online dan coping yang dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan lima responden yang dapat digolongkan menjadi belum bekerja, sudah bekerja dan yang ketiga masih kuliah. Hasil dari penelitian ini adalah masalah yang dialami oleh remaja yang kecanduan bermain game dapat dikelompokkan menjadi empat pokok masalah yaitu masalah dengan diri sendiri, masalah dengan orangtua, masalah dengan pacar, dan masalah dengan teman. Berikutnya coping yang dilakukan remaja yang menjadi gamers tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu yang efektif dan yang tidak efektif. Kata kunci: remaja, kecanduan, game online, masalah, coping
Hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Ryoningrat, Ratih; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.172 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p02

Abstract

Masa remaja sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Remaja ingin mengetahui banyak hal serta ingin selalu mencoba berbagai hal baru dan ingin mengetahui berbagai informasi tentang seksualitas, karena berhubungan dengan perubahan dan perkembangan aspek fisiologis yang dialaminya. Oleh karena itu, pada masa ini, remaja mulai tertarik untuk mengeksplorasi pengetahuan tentang seksualitas dari berbagai macam sumber, termasuk mengaksesnya dari pornografi salah satunya film porno karena dianggap lebih membangkitkan gairah seksual remaja. Selain itu film porno juga memengaruhi konsep “maskulinitas” ketika remaja ingin menunjukkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya dan ingin di akui oleh teman sebayanya. Maskulinitas adalah peran gender, kedudukan, perilaku, dan bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual kemudian dibentuk oleh kebudayaan (Barker, 2001). Maskulinitas yang tinggi juga ditemukan pada budaya yang menganut garis keturunan patrilineal yang mengganggap posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dalam segala hal. Darwin (2001) mengemukakan bahwa timbulnya “maskulinitas yang tinggi” pada budaya patriarki karena adanya anggapan bahwa laki-laki menjadi sejati jika berhasil menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 243 remaja laki-laki pada rentang usia 15-18 tahun dan tengah menempuh pendidikan di SMAN Bali yang dipilih dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu cluster sampling. Instrumen penelitian ada dua, yaitu skala intensitas menonton film porno (r= 0,925) dan skala sifat maskulinitas (r= 0.882). Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dengan hasil signifikansi sebesar 0,136 (p>0,05), sehingga kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali. Kata kunci: Intensitas menonton film porno, maskulinitas, remaja Bali.
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Terhadap Konsentrasi Siswa Kelas V Sekolah Dasar dalam Mengerjakan Soal Ulangan Umum Agustini, Ni Made Yanthi Ary; Sudhana, Hilda
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.47 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p06

Abstract

  Aromatherapy in Balinese life very closely. Aromatherapy has an influence on the function of the body such as making a fresh indoor air, creating a calm, can be used as antibiotics, antiseptics may be useful to take the fight against the virus, soaking emotion, can be a tool for relaxation, and also improves concentration. Concentration in the world of education is a very important one in doing general replications. This study aimed to verify whether there are effects of aromatherapy to the concentration of children in the fifth grade of primary school working on the general test questions. This research is a quantitative study with pre-experimental methods, sampling technique used is cluster random sampling. Subjects in this study were fifth grade elementary school students who are following the general replication at SD Negeri 5 Tonja by 82 students. Collecting data using a concentration questionnaire with Likert scale and data analysis by independent sample t-test. After conducting validity and reliability there are 25 items left from a total of 34 items on the reliability coefficient of 0.876. After doing               the independent sample t-test significance p values obtained for 0.823 (> 0.05). This means there is no effect of aromatherapy to the concentration of children in the fifth grade of primary school working on the general test questions.  Based  on  additional  data  to  see  the  concentration  of  each  day,  there  is  an increasing concentration in the experimental group students, but has not reached a significant point.   Keywords: Aromatherapy, Concentration, Students, General Test  
HUBUNGAN KONFORMITAS DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP AGRESIVITAS PADA REMAJA MADYA DI SMAN 7 DENPASAR Amanda, Anak Agung Ayu Nisha; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.882 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p10

Abstract

Pengaruh normatif dan pengaruh informasi berdampak pada tingkah laku seseorang yang disebut dengan konformitas. Konformitas bisa berdampak negatif dan positif, konformitas negatif contohnya adalah tawuran yang dapat merujuk ke tindak agresivitas. Remaja yang memiliki rentang usia 13-18 rentan terhadap tindak agresivitas terkait dengan emosi remaja yang fluktuatif (Rice, 2001). Agresivitas yang tinggi dapat diturunkan dengan kecerdasan emosional yang tinggi, karena dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi seseorang mampu mengenali emosi diri dan orang lain dan mampu mengelola emosi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan konformitas dan kecerdasan emosional terhadap agresivitas pada remaja madya di SMAN 7 Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah 226 orang siswa kelas I dan II SMAN 7 Denpasar berusia antara 15-18. Instrumen penelitian ini adalah skala agresivitas (? = 0.882) Buss dan Perry (dalam Bryant & Smith, 2001), skala konformitas (? = 0.902) , dan skala kecerdasan emosional (? = 0,872) (Simarmata, 2005). Hasil analisis regresi berganda menghasilkan R= 0,452 (F= 28,667; p< 0,05) dapat dikatakan bahwa konformitas dan kecerdasan emosional memiliki hubungan terhadap agresivitas. Hasil korelasi parsial antara konformitas dengan agresivitas dengan mengontrol variabel kecerdasan emosional adalah 0,300 (p<0,05) yang berarti konformitas dengan agresivitas memiliki hubungan yang positif yang artinya adalah semakin tinggi konformitas, semakin tinggi pula tingkat agresivitas. Hasil korelasi parsial antara kecerdasan emosional dengan agresivitas dengan mengontrol variabel konformitas adalah -0,256 (p<0,05) yang berarti kecerdasan emosional dengan agresivitas memiliki hubungan yang negatif yang artinya semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat agresivitasnya semakin rendah.   Kata Kunci : Agresivitas, Konformitas, Kecerdasan Emosional, Remaja Madya
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Fitrianti, Eka Indah; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.433 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p13

Abstract

Every human being has a unique meaning of life, as well as individuals with schizotypal disorder. One characteristic of schizotypal patients is the distortion of mind that leads to something mystical (Halgin & Whitbourne, 2009), in this case it includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes special and gifted children, such as genius children, gifted children, talented children, as well as indigo children who have a sixth sense or supernatural capability (Sunartini, 2009). Indigo people are also believed to have a purpose of life that is different from ordinary people generally. It leads to Frankl’s theory which states that purpose of life is part of the meaning of life (Bastaman, 2007). Therefore, researchers consider that the uniqueness of the meaning of life of indigo people and its association with the concept of self and distorted thinking on people with schizotypal disorder is important to investigate more deeply.This study used a type of qualitative research with case study approach. The study involved one respondent along with the support of informants. Data collection was done through observation, interviews, and the use of relevant documents. The results of the study were able to explain the meaning of the respondents’ lives tied to the aspects of meaningfulness of life assessment, the factors that affect the meaningfulness of life, factors of meaning formation, and the meaning of life deformation processes. Other findings were the respondents’ self-concepts and abnormalities which then lead to a result which indicates that the relationship between the meaning of life, self-concept, and abnormalities.Keywords: indigo, the meaning of life, self-concept, schizotypal disorder.
Gambaran Kecemasan Orangtua yang hanya Memiliki Anak Perempuan di Kabupaten Tabanan, Bali Monika, Kadek Ayu; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.559 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p06

Abstract

Indonesia mengenal tiga sistem kekerabatan dalam memperoleh garis keturunan, yaitu sistem kekerabatan patrilineal, sistem kekerabatan matrilineal dan sistem kekerabatan parental (Sukerti, 2012). Bali merupakan salah satu daerah yang menganut sistem kekerabatan patrilineal, dimana kekerabatan ini ditentukan bahwa garis keturunan hanya dilihat dari garis laki-laki, oleh karena itu konsekuensinya ahli waris hanyalah anak laki-laki (Sukerti, 2012). Hal tersebut berarti bahwa memiliki anak laki-laki adalah sebuah keharusan bagi masyarakatnya untuk tetap meneruskan garis keturunan, dan akan menjadi sebuah masalah bagi individu yang tidak memiliki anak laki-laki, hal tersebut terkait dengan mencari penerus garis keturunan, takut akan kehilangan anak, dan kekhawatiran tidak ada yang akan bertanggung jawab dengan kehidupan orangtua ketika tua (Monika, 2016). Begitupula yang terjadi pada orangtua di Bali khususnya daerah Tabanan, salah satu kabupaten yang terbilang fleksibel atau terbuka, dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di Bali terkait dengan hukum keluarga, khususnya perkawinan, menganggap bahwa dengan hanya memiliki anak perempuan itu berarti tidak dapat meneruskan garis keturunannya. Masyarakat yang tidak dapat meneruskan keturunannya tentu akan merasa cemas akan posisi tersebut. Kecemasan (anxiety) menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2013) menjelaskan bahwa merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai gambaran kecemasan orangtua yang hanya memiliki anak perempuan di daerah Tabanan, Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada tujuh orang responden dan wawancara pada tujuh orang significant others. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kecemasan orangtua yang hanya memiliki anak perempuan terdiri dari perasaan orangtua, bentuk kecemasan, faktor yang memicu dan menurunkan kecemasan, serta upaya yang dilakukan orangtua yang hanya memiliki anak perempuan. Kata kunci: kecemasan, orangtua, anak perempuan