cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mentari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Invasi Akasia Berduri (Acacia nilotica) (L.) Willd ex Del. Di Taman Nasional Baluran Jawa Timur dan Strategi Penanganannya Djufri, Djufri
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acacia nilotica is a thorny wattle native species in India, Pakistan and much of Africa. This Acacia is widely distributed in tropical and subtropical Africa from Egypt and Mauritania to South Africa. The invasion of A. nilotica has resulted in the reduction of savannah wide in Baluran National Park reaching about 50%. Presure to the savannah has a great impact on the balance and preservation of whole ecosystem in Baluran. Some efforts have been to fight against the wide-spreading of invasion of A. nilotica for example eradication chemically use Indamin 72 HC and 2,4 D Dinitropenol, but result is not effective. And so it is with eradication in the mechanic use bulldozer appliance, and cut away to burn, not yet given optimal result, proven invasion of A. nilotica in this time not yet deductible, exactly growing wide. For the reason, require to be looked for alternative is way of the other eradication, so that the wide-spreading of preventable invasion A. nilotica. Otherwise hence the possibility of big savannah exist in National Park of Baluran metamorphose to become forest of A. nilotica.
PERKEMBANGAN GERAK FUNDAMENTAL PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK Ahadin, Ahadin
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan gerak fundamental pada anak taman kanak-kanak terdiri atas gerak lokomotor, gerak nonlokomotor, dan gerak manipulatif. Gerak ini merupakan gerak dasar yang perlu dipelajari dan dilatih bagi anak-anak usia taman kanak-kanak. Apabila gerak fundamental ini dipelajari dan dikuasai dengan konsep pembelajaran gerak yang benar dan tepat, dapat diharapkan anak memiliki fondasi untuk mempelajari keterampilan gerak pada berbagai cabang olahraga kemudian hari baik. Gerak lokomotor terdiri dari gerak: lari, lompat, congklang, loncat, dan melewati, gerak nonlokomotor terdiri dari gerak: mendorong, menarik, menekuk, melingkar, dan berbelok, sedangkan gerak manipulatif terdiri dari gerak: melempar, menangkap, menyerang, menendang, dan menderibel. Gerak fundamental mempunyai format dasar dari seluruh gerakan yang sering juga dideskripsikan sebagai dasar dari penguasaan keterampilan gerak bagi anak usia taman kanak-kanak.  Penguasaan gerak fundamental pada anak taman kanak-kanak dipengaruhi oleh pertumbuhan, perkembangan, lingkungan, dan ketepatan dalam memberikan tugas dan latihan dengan mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran yang tepat. Kata kunci:   gerak fundamental, lokomotor, nonlokomotor, dan manipulatif Fundamental motor development in children kindergarten consist of locomotor movements, nonlokomotor motion, and motion manipulative. This motion is a motion base that needs to be learned and practiced for children of kindergarten age. If the motion is learned and mastered fundamental to the concept of learning the correct and proper motion, can be expected to have a foundation for children to learn movement skills in a variety of sports then a good day. Locomotor motion consists of the motion: run, jump, gallop, skip, and passed, the motion nonlokomotor consists of motion: pushing, pulling, bending, coiling, and turn, while the manipulative motion consists of the motion: throwing, catching, striking, kicking, and menderibel. Fundamental motion has the basic format of the whole movement is often described as the basis of mastery of movement skills for children of kindergarten age. Mastery of fundamental movement in preschool children are affected by the growth, development, the environment, and accuracy in delivering tasks and exercises by following the stages of learning the right. Keywords: fundamentals of motion, locomotor, nonlokomotor, and manipulative
PENDEKATAN SUPERVISI DAN SUMBANGANNYA TERHADAP PENINGKATAN PROFESIONAL GURU SMA NEGERI 4 BIREUEN G, Mariana
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus agar dapat melaksanakan fungsinya secara profesional. Salah satu pembinaan yang dilakukan adalah melalui supervisi, yaitu pembinaan eksternal yang dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor. Pendekatan supervisi oleh Kepala SMA Negeri 4 Bireuen adalah pendekatan direktif, nonderektif dan kolaboratif. Indikator yang membedakan ketiga pendekatan supervisi tersebut adalah dari segi tanggung jawabnya. Pada pendekatan direktif, tanggung jawab sepenuhnya pada supervisor, sedangkan tanggung jawab guru rendah. Pada nondirektif, tanggung jawab guru yang besar, sedangkan supervisor hanya sebagai pendorong dalam memecahkan masalah. Untuk pendekatan kolaboratif, supervisor dan guru berbagi tanggung jawab. Penelitian ini untuk mengetahui sumbangan kegiatan supervisi terhadap peningkatan profesional guru di SMA Negeri 4 Bireuen dengan metode kualitatif dengan data primer (wawancara) dan data sekunder (dokumen). Populasi terdiri dari Kepala SMA Negeri 4 Bireuen dan guru 34 orang. Hasil penelitian menunjukkan:                   1. Pendekatan supervisi yang sering digunakan adalah pendekatan kolaboratif, namun  sewaktu-waktu juga menggunakan pendekatan direktif dan nondirektif; 2. Ketiga pendekatan supervisi yang digunakan oleh Kepala SMA Negeri 4 Bireuen telah memberi sumbangan terhadap peningkatan profesional guru-guru SMA Negeri 4 Bireuen. Kata kunci: pendekatan supervisi, pendekatan profesional     Guru is a component of the human resources that must be nurtured and developed continuously in order to carry out their functions in a professional manner. One of the coaching is done is through supervision, coaching the external work done by the school principal as a supervisor. Approach to supervision by the Head of State High School 4 Bireuen is a directive approach, nonderektif and collaborative. Indicators that distinguishes three approaches in terms of supervision is responsibility. In a directive approach, the sole responsibility of the supervisor, while the responsibility of teachers is low. In non-directive, a major responsibility of the teacher, while the supervisor only as a driving force in solving the problem. For collaborative approach, supervisors and teachers share the responsibility. Study was to determine the contribution of supervision activities to promote the professionalism of teachers at SMAN 4 Bireuen with qualitative methods of primary data (interviews) and secondary data (documents). The population consists of Chief SMAN 4 Bireuen and teachers 34. The results showed: 1. Approach to supervision that is often used is a collaborative approach, but any time too directive and non-directive approach; 2. The three approaches that are used by the chief supervision SMAN 4 Bireuen has contributed to the professional enhancement of teachers SMAN 4 Bireuen. Keywords: approach to supervision, professional approach
PENINGKATKAN MUTU DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SESUAI DENGAN TUNTUTAN GLOBAL Usman, Nasir
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menjadi variabel determinan dan kedudukannya krusial ketika suatu bangsa menginginkan warganya berkualitas. Menjadikan pendidikan sebagai leading sector, benchmarking dari negara-negara lain,  good and clean government dalam era global bukan hanya sebagai persyaratan, tetapi lebih dari itu, ia menjadi keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Reformasi dan transformasi pendidikan selayaknya dilaksanakan sebagai langkah pembaruan dan pemberdayaan peningkatan mutu pendidikan, yang dilakukan secara simultan dengan sektor-sektor lainnya, Untuk itu, proses pembelajaran pada berbagai lembaga pendidikan harus berpijak pada empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Kata kunci: peningkatan mutu, penyelenggaraan pendidikan   Education becomes the determinant variables and crucial position when a nation wants quality citizens. Make education as the leading sector, benchmarking of other countries, good and clean government in a global era is not just a requirement, but more than that, it becomes imperative that can not be indispensable for improving welfare. Reform and transformation of education reform should be implemented as a step to improve the quality of education and empowerment, which are carried out simultaneously with other sectors, for that, the learning process in educational institutions should be based on four pillars of education, namely: learning to know, learning to do , learning to live together and learning to be. Keywords: quality improvement, education
KEMAMPUAN GURU BAHASA INGGRIS MELAKSANAKAN MODEL PEMBELAJARAN AUTHENTIC ASSESSMENT DI SMA KOTA BANDA ACEH Asnawi, Asnawi
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan guru Bahasa Inggris melaksanakan model pembelajaran Asesmen Otentik di SMA Negeri Kota Banda Aceh. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap pelaksanaan model pembelajaran Asesmen Otentik di SMA Negeri Kota Banda Aceh. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif. Populasi penelitian ini adalah semua guru bahasa Inggris di SMA Kota Banda Aceh, sedangkan sample/subjek penelitian ini adalah tiga orang guru Bahasa Inggris dan lima orang siswa yang  dipilih dari tiga SMA di Kota Banda Aceh secara acak. Metode pengumpulan data dalam penelitian  adalah dengan menggunakan lembar observasi pengamatan guru dan angket respon siswa. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan pengolahan data diperoleh hasil: (1) tingkat kemampuan guru Bahasa Inggirs SMA dalam melaksanakan model pembelajaran Asesmen Otentik di kota Banda Aceh termasuk kategori baik, (2) pada umumnya siswa SMA memberikan respon senang terhadap pelaksanaan model pembelajaran Asesmen Otentik di kota Banda Aceh. Kata Kunci: kemampuan guru, autentik asesmen, This study aimed to describe the ability of English teachers implement instructional model authentic assessment in high schools in Banda Aceh. The study also aims to determine the students response to the implementation of the teaching model in SMA Authentic Assessment of Banda Aceh. This research is descriptive-qualitative. The study population was all high school English teacher in the city of Banda Aceh, while the sample / subject of this research are three English teachers and five students were selected from three high schools in the city of Banda Aceh at random. Methods of data collection in this research is to use the observation sheet observation of teachers and students questionnaire responses. Data processing is done using descriptive statistics. Based on the obtained results of data processing: (1) the level of high school English cuisine English teachers ability to implement models of authentic assessment of learning in the city of Banda Aceh, including both categories, (2) high school students are generally happy to respond to the implementation of authentic assessment model of learning in the city of Banda Aceh. Keywords: the ability of teachers, authentic assessment,
STRATEGI PEMECAHAN MASALAH YANG KREATIF DALAM MEMBANTU PROSES BELAJAR SISWA Gani, Sofyan A
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar dan dalam berinteraksi dengan komunitas sekolah sangat beragam. Permasalahan-permasalahan tersebut ada yang dapat dipecahkan sendiri oleh siswa yang bersangkutan, dengan teman, ada pula yang membutuhkan bantuan guru. Khusus yang membutuhkan bantuan guru, salah satu cara pemecahan masalah adalah dengan tidak memberi jawaban secara langsung, melainkan mengajak anak untuk berpikir melalui beberapa tahap agar sampai pada pemecahan masalah dimaksud. Kata kunci:      pemecahan masalah, proses belajar mengajar, problem solving The problems faced by students in the learning process and in its interaction with the school community is very diverse. These problems exist that can be solved solely by the student, with friends, others who need help the teachers. Special needs teacher assistance, one way to solve the problem is by not giving direct answers, but encourage children to think through several stages in order to arrive at problem solving question. Keywords: Problem solving, teaching and learning, problem solving
KEUJRUEN BLANG DAN PEMBERDAYAAN PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR IRIGASI (Suatu Penelitian Aspek Sosiobudaya) Yusuf, Rusli
Jurnal Mentari Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keujruen Blang merupakan perangkat adat dalam masyarakat Aceh yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengatur, mendampingi dan membina petani sawah termasuk perkumpulan petani pemakai air irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis  persepsi petani sawah (perkumpulan pemakai air  irigasi)  terhadap kehadiran Irigasi teknis, (2)  menganalisis persepsi masyarakat tani terhadap keberadaan  perkumpulan petani pemakai air (P3A) sebagai wadah pengelolaan air irigasi di petak tersier, (3) menganalisis persepsi masyarakat tani terhadap peran  Keujruen Blang sebagai pengelola air pada masa yang lalu (sebelum ada irigasi teknis), (4) menemukan  nilai sosial budaya yang dapat menghambat dan mendorong  peran keujruen blang dalam memberdayakan pengelolaan air irigasi dan petani, dan (5) menemukan komitmen institusi desa (gampong) dan kemukiman terhadap peran keujruen blang dalam pemberdayaan petani pemakai air (petani sawah). Penelitian kualitatif ini dipusatkan pada tiga Kabupaten yang memiliki jaringan irigasi teknis, yaitu Kabupaten Pidie, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat Daya. Untuk menentukan responden digunakan teknik sampel bertujuan (purposive). Data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam ini dianalisis secara logis dan komparatif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan irigasi teknis dan  Keujruen Blang, baik dalam tatanan nilai budaya Aceh maupun dalam tataran kebijakan pemerintah yang diintegrasikan ke dalam P3A dinilai positif oleh sebagian besar masyarakat tani dalam mengoptimalkan kegiatan pertanian sawah. Peran keujruen blang dinilai cukup dominan dalam memberdayakan petani, karena ia melakukan tugas-tugas seperti  mengkoordinasikan kegiatan gotong-royong pembersihan saluran (limeuh lueng),  mengkoordinasikan  penelusuran saluran sampai dengan sumber air,  membagi air sampai ke petak-petak sawah warga, membantu geuchik mengkoodinasikan kegiatan khanduri, dan menyelesaikan permasalahan yang muncul antar anggota masayarakat yang berkenaan dengan  sengketa pembagian air dan tanah pertanian di sawah. Kata kunci : keujruen blang dan petani pemakai air irigasi.
PROSPEK PEMBANGUNAN KAWASAN KOPERASI PERTANIAN TERPADU DI ACEH Hasan, Ishak
Jurnal Mentari Vol 11, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara nasional subsektor pertanian masih berjalan terpisah satu sama lain, termasuk juga dengan sektor-sektor lainnya. Kondisi ini juga  terjadi di Provinsi Aceh, padahal sektor ini memiliki potensi yang cukup besar apabila dikelola secara terintegratif dan bersifat kooperatif. Sektor pertanian yang terdiri dari subsektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan jika disatukan mulai dari kegiatan di hulu sampai ke hilir dalam wadah koperasi akan memiliki kekuatan yang besar dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Gagasan ini menjadi sangat penting di masa depan, mengingat persaingan global semakin ketat yang berakibat buruk pada kemampuan sektor pertanian berkompetisi dengan negara lain. Apabila semua subsektor pertanian ini berjalan secara terpadu maka nilai tambah menjadi meningkat. Di sisi lain ketidakmampuan sektor pertanian berorientasi ekspor juga menjadi masalah yang penting dalam menghadapi persaingan. Hal ini sangat penting karena sebagian besar rakyat kita bergantung hidup pada sektor ini. Koperasi memegang peranan penting dalam menyatukan kekuatan yang tercerai-berai tersebut sehingga memiliki bargaining positon yang kuat dalam menghadapi persaingan. Kawasan terpusat tersebut dapat direncanakan dalam bentuk pilot proyek sedemikian rupa agar sub sektor dimaksud terkait satu sama lain. Apabila gagasan ini dapat diwujudkan secara nyata di lapangan maka diperkirakan pendapatan masyarakat dapat meningkat dan dengan demikian kantong-kantong kemiskinan di Aceh dapat dientaskan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kata kunci: koperasi pertanian terpadu, temanidirian sektor pertanian. Nationally subsectors of agriculture still runs separate from each other, as well as with other sectors. This condition also occurs in the province of Aceh, but this sector has great potential if managed issue an integrated and cooperative. Agricultural sector, which consists of sub-food crops, plantations, livestock, and fisheries activities taken together ranging from upstream to downstream in the cooperative will have great power in providing for the welfare of the community. This idea is very important in the future, given the global competition becomes more intense the negative impact on the agricultural sectors ability to compete with other countries. If all sub-sectors in an integrated farming runs to increase the value added. On the other hand the inability of the export-oriented agricultural sector is also a significant problem in the face of competition. This is very important because most of our people live dependent on this sector. Cooperatives play an important role in bringing together the scattered forces so that it has a strong bargaining positon in the face of competition. The central region can be plotted in the form of pilot projects in such a way that sub-sector is related to one another. If this idea can be manifested in the field predicted income can be increased and thus the pockets of poverty in Aceh can be alleviated in the not too long. Keywords: integrated agricultural cooperatives, agricultural temanidirian.
ANALISIS KUALITAS VEGETASI SEPANJANG PANTAI BANDA ACEH PASCATSUNAMI (THE VEGETATION QUALITY ANALISYS IN BANDA ACEH BEACH AFTER TSUNAMI) Djufri, Djufri
Jurnal Mentari Vol 11, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objectivees of this research were; to acquered of vegetation in Banda Aceh beach after tsunami, and else the research to find expression about of camposition, association, species diversity index (H’), similarity index (IS), and species distribution pattern. The stap of research were; observation and segmentation of study area. The size of study area is 420 ha, and sampel area is 10% of population. The station of sampling is (a). Ujung Batee Beach (UBB), (b). Lhoknga Beach (LB), and Ule Lee Beach (ULB). For each of sampling location a given ten of sampling quadrat with five replicatiion until of total sample is 50 quadrat. The observated variable is total species, absolute diversity, absolute frequency, and absolute dominance. The calculated of infortance value used formula is DR + FR + DMR., and calculated of species diversity index with Shannon-Wiener formula. The category of species diversity index is; if H’<1 very low category, H’>1-2 low category, H’>2-3 median category, and H’>3-4 high category. The result of this research; (a). The vegetation physiognomy in Ule Lee Beach was fundamental changed after tsunami, (b). The vegetation physiognomy in Ujung Batee Beach no significans changed after tsunami, (c). The planting of mangrove species in Ujung Batee Beach not yet optimal results, (d). Dominance of tree in Ujung Batee Beach and Loknga Beach is Casuarina equisetifolia, and Cocos nucifera, and dominance of underbrush is Calatropis gigantea, (5). For the moment effort necessary of serious reclamation in Banda Aceh Beach after tsunami specific. Key words: kualitas vegetasi, spesies
TEORI DALAM PENELITIAN SOSIAL Jamil, TM
Jurnal Mentari Vol 11, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Manusia senantiasa berusaha mencari kesempurnaan dan kebenaran, di dorong oleh hasrat ingin tahunya yang selalu ada dan tidak pernah padam. Melalui berbagai penelitian, banyak rahasia tersingkap sudah. Pengetahuan orang semakin luas. Ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan kumpulan pengalaman dan pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur dan kebenarannya sudah teruji. Maka ilmu pengetahuan mempunyai nilai umum yang dapat dipergunakan menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Namun, banyak masalah belum juga terpecahkan; disamping itu muncul masalah-masalah baru. Oleh karena itu, penelitian/ penyelidikan lahir dari masalah kehidupan manusia sendiri yang memerlukan pemecahan. Meskipun tidak ada cara yang sama sekali dapat dipergunakan untuk menghilangkan ketidaktentuan (uncertainty), namun unsur-unsur ketidak tentuan karena kurangnya informasi itu dapat diperkecil dengan mempergunakan metode ilmiah. Metode ini akan mengurangi bahaya berbuat salah atas pilihan dari bermacam-macam tindakan. Riset sebenarnya merupakan penerapan atau aplikasi dari metode ilmiah. Dengan kata lain riset sinonim dengan metode ilmiah. Sifat ilmiah atau tidak ilmiah erat hubungannya dengan metode penyimpulan. Suatu tulisan disebut ilmiah bila pokok pikiran yang dikemukakannya disimpulkan melalui suatu prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian-pembuktian yang cukup meyakinkan. Bukti yang cukup meyakinkan ini biasanya merupakan fakta-fakta yang didapat secara objektif dan berhasil lolos dari berbagai proses pengujian. Kadar ilmiah dari suatu penelitian dapat bervariasi bergantung pada pengalaman dan keterampilan penelitian serta besarnya dana yang tersedia dan waktu penelitian.         PEMBAHASAN Pengertian Teori Seorang ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta atau kenyataan. Ia ingin mencari dalil, yaitu generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dan dengan dalil ini ahli tersebut dapat meramalkan rangkaian peristiwa berikutnya. Sekumpulan data baru mempunyai arti dan guna kalau tersusun dalam satu sistem pemikiran yang disebut teori.[1] Teori adalah prinsip-prinsip umum yang ditarik dari fakta-fakta; mungkin juga berupa dugaan yang menerangkan sesuatu seperti teori atom, teori gravitasi, teori evolusi, dan sebagainya. Jadi teori merupakan suatu sudut pandangan. apakah teori itu spekulasi? Sebelum dibuktikan kebenarannya, teori memang dianggap sebagai spekulasi. Tetapi ia akan menjadi fakta setelah pembuktian dilakukan. Bagi seorang peneliti, teori menjadi alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Betapa teori ini sangat penting, untuk menuntun peneliti dan ilmuwan dalam upaya mengembangkan wawasan keilmuan, agar tak mengalami stagnasi. Oleh karena itu (1) teori bukan spekulasi (2) teori dan fakta saling berhubungan (3) peneliti sangat berkepentingan dengan keduanya - teori dan fakta. Fakta dan teori bersifat saling mendorong. Teori memberi arah dalam proses ilmiah, sebaliknya fakta memegang peranan dalam mengembangkan teori. Pertumbuhan ilmu pengetahuan nampak dalam fakta-fakta baru dan teori baru. Fakta-fakta yang baru dan menyimpang akan menciptakan teori baru; dan teori yang ada mungkin menjadi tidak berguna lagi atau harus dirumuskan kembali. Melakukan suatu riset tanpa interprestasi teoritis atau membuat teori tanpa riset adalah melupakan pokok teori sebagai alat untuk mencapai suatu pemikiran yang ekonomi.[2] Untuk menemukan sebuah teori yang terbukti kebenarannya, mula-mula dibuat teori sementara yang dipergunakannya sebagai pedoman atau petunjuk untuk memecahkan masalah. Peneliti kemudian mencari data untuk menguji kebenaran teori sementara yang dibuatnya itu. Teori ini disebut hipotesis, selaku pemecahan sementara terhadap masalah yang diteliti. Ia akan menjadi dalil atau teori setelah berulang kali diperiksa kebenarannya. Contoh:[3] Teori : Manusia yang dibesarkan di dalam suasana yang bebas pada umumnya lebih berkesempatan untuk berhasil maju dengan usaha sendiri dari pada yang dididik di dalam suasana penuh tekanan dan larangan. Bertitik tolak pada teori ini dibuat hipotesa sebagai berikut : Anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya tidak membebaskan keluar rumah untuk mengunjungi berbagai peristiwa, tidak dapat melakukan tugas luar yang diberikan oleh guru. Dalam survai "Kesejahteraan Anak dan Pemuda Tahun 1969”, dikemukakan anggapan dasar (postulate) sebagai titik tolak pemikiran.[4] Bahwa anak-anak dan pemuda adalah tenaga yang potensial yang akan memberikan tenaganya di hari depan untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu haruslah mereka diberi perlindungan terhadap penyakit kelaparan kekurangan makanan dan dislokasi-dislokasi sosial serta disiapkan untuk pekerjaan melalui pendidikan dan latihan. Maka dari itu tindakan-tindakan yang tepat perlu diambil untuk memenuhi kebutuhan anak. Dalam hubungan ini para petugas perencanaan yang menyusun pola pembangunan nasional harus memberi perhatian yang lebih memadai dalam memenuhi kebutuhan anak-anak dan pemuda. Hipotesa yang ditarik sejalan dengan anggapan dasar di atas: Tingkat kemakmuran dan kesejahteraan penduduk pada umumnya (termasuk anak dan pemuda) masih sangat rendah. Kondisi-kondisi sosial-ekonomi-budaya pada umumnya belum memenuhi syarat-syarat yang memadai untuk perkembangan anak dan pemuda. Hipotesa tersebut diperoleh setelah penelitian pendahuluan bahwa di Indonesia mayoritas penduduk berpenghasilan rendah yang sebagian besar habis untuk makan, sehingga mereka tidak mampu untuk menabung dan memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, rekreasi dan sebagainya. Jadi tidak ada perbedaan pokok antara teori dan hipotesa dari segi pemecahan masalah. Hipotesa sebagai pemecahan sementara dan menjadi teori setelah terpecahkan. Perbedaan hipotesa, teori dan dalil terletak pada tingkat generalitas dan kepastiannya. Teori merupakan anggapan dasar atau postulat yang menjadi sumber hipotesa ; sedangkan dalil adalah titik tolak yang lebih kuat tingkatannya. Manfaat Teori dalam Penelitian Kita melakukan kegiatan penelitian sosial secara ilmiah karena kita ingin memahami dunia yang kompleks ini, baik demi memuaskan rasa ingin tahun maupun untuk mengantisipasi peristiwa yang akan terjadi ataupun untuk mengontrol peristiwa yang terjadi. Karena itu suatu penelitian ilmiah selalu dimulai dengan suatu yang ingin kita ketahui. Inilah yang disebut masalah penelitian. Yang ingin kita ketahui itu dapat dibedakan menjadi dua tingkatan. Pertama suatu pernyataan yang belum diketahui jawabannya sama sekali. Misalnya, apakah betul remaja masa kini telah melakukan hubungan seks sebelum nikah (free sex)? Jawaban pertanyaan ini akan berupa diskripsi dan kesimpulan data dari satu variable. Yang ingin kita ketahui ini baru pada tingkatan gejala sosial saja, belum mencari jawaban atas kehadiran gejala tersebut. Misalnya, 42 % remaja Jawa Timur telah melakukan free sex (hasil penelitian T.M. Jamil di Jawa Timur). Kedua, suatu pertanyaan telah diketahui jawabannya tetapi masih meragukan kebenarannya. Misalnya, betulkah control sosial yang lemah merupakan penyebab praktek free sex dikalangan remaja (penjelasan yang dikemukakan T.M. Jamil di Surabaya Post, 2 November 2007). Bentuk pertanyaan yang berangkat dari keraguan ini sudah mengandung kemungkinan penjelasan atas suatu gejala terjadi. Dalam pertanyaan ini telah terkandung suatu teori yang ingin diuji kebenarannya dalam dunia nyata. Apabila free sex dilihat sebagai salah satu bentuk perilaku menyimpang, maka teori yang dikemukakan oleh Emile Durkheim tentang “integrasi sosial” mungkin dapat digunakan untuk menjelaskan gejala tersebut. “Makin tinggi derajat deferensiasi structural dan generalisasi nilai tanpa diikuti oleh spesifikasi norma yang sama derajatnya dalam suatu sistem sosial, maka makin besar pula derajatnya dalam suatu sistem sosial, maka makin besar pula derajat anomie sehingga makin tingggi pula tingkat penyimpangan dalam kelompok tersebut”.[5] Yang hendak kita ketahui karena itu, ialah betulkah derajat integrasi sosial yang rendah akan melahirkan perilaku menyimpang. Konkretnya, betulkah intgrasi sosial yang rendah dikalangan remaja melahirkan perilaku free sex? Cara yang paling efektif untuk mendapatkan jawaban yang berguna dan akurat bagi pertanyaan tipe kedua ialah menggunakan metode penelitian empiric untuk menyelidiki hubungan kedua variable tersebut (integrasi sosial dan perilaku menyimpang) dalam dunia nyata. Akan tetapi selain untuk tujuan penelitian, teori juga berguna untuk tujuan-tujuan ilmiah lainnya. Pertama, teori memberikan pola bagi intrepretasi data. Kedua, teori menghubungkan satu studi dengan studi lainnya.[6] Ketiga, teori menyajikan kerangka sehingga konsep dan variable mendapatkan arti penting. Dan keempat, teori memungkinkan kita mengintepratasi makna yang lebih besar dari temuan yang kita peroleh dari suatu penelitian.   Teori dan Penjelasan Apabila konsep merupakan pertanyaan “what” sehingga yang dilakukan dalam konseptualisasi tiada lain merupakan diskripsi realitas baik secara denotative (keluasan) maupun secara konotatip (kedalaman), maka teori merupakan pertanyaan “why” sehingga yang dilakukan dalam teoritisasi ialah menjelaskan mengapa suatu gejala terjadi seperti itu. Teori merupakan seperangkat proposisi yang menggambarkan mengapa suatu gejala terjadi seperti itu. Proposi-proposisi yang dikandung dan yang membentuk teori terdiri atas beberapa konsep yang terjalin dalam bentuk hubungan sebab-akibat. Akan tetapi karena di dalam teori juga terkandung konsep teoritik, maka sebenarnya selain berfungsi menjelaskan suatu gejala yang timbul teori juga berfungsi menggambarkan realitas dunia sebagaimana yang dapat diobservasi. Kalau teori diartikan sebagai hubungan kausal, logis dan sistematik antara dua atau lebih konsep, maka teori tiada lain merupakan penjelasan suatu gejala konsep atau variable pengaruh menjelaskan mengapa konsep atau variable terpengaruh terjadi. Karena itu penjelasan (explanation) dapat dibagi dua unsur, yaitu yang menjelaskan (explanan) dan yang dijelaskan (explanandum). Yang menjekaskan itu terdiri atas dua jenis pernyataan : generalisasi/ konsep, dan kondisi antesendent atau yang menyebabkan generalisasi/ konsep tersebut. Kedua pernyataan ini akan digunakan untuk menjelaskan eksplanandum. Mengikuti Durkheim tadi deferensiasi structural dan generalisasi nilai merupakan suatu konsep ( generalisasi atas suatu fenomena yang kompleks), anomie merupakan kondisi antesedentnya, dan perilaku menyimpang (free sex) sebagai eksplanandumnya. Penjelasan sendiri terletak pada deferensiasi structural, generalisasi nilai dan anomie. Penjelasan atas pertanyaan “mengapa” suatu gejala terjadi harus dapat menunjukkan bahwa gejala yang hendak dijelaskan itu secara logis sesuai dengan premisnya atau kemungkinan besar sesuai dengan premisnya. Dengan kata lain, penjelasan dapat pula dibedakan menjadi dua model, yaitu model deduktif, dan model induktif-statistika. Model deduktif ditandai oleh hubungan logic antara premis dan konklusi, antara eksplanan dan eksplandum. Jika premis benar maka konklusi juga benar. Dalam model ini, kaharusan tidak terletak pada premis tetapi pada hubungan antara premis dan konklusi yang dikontrol oleh premis. Selain itu, suatu penjelasan dapat dikatakan benar-benar menjelaskan apabila generalisasinya didukung oleh fakta empiric. Jadi penjelasan ilmiah terhadap suatu kejadian diberikan dengan jalan menunjukkan bahwa kejadian itu merupakan salah satu contoh dari tendensi umum. Kenyataan bahwa Amerika Serikat menerapkan sistem dua partai dapat dijelaskan secara deduktif sebagai berikut : 1) semua sistem politik yang menerapkan sistem tunggal anggota per distrik (single member district) mempunyai sistem dua partai (generalisasi), 2) sistem politik Amerika menerapkan sistem tunggal anggota per distrik (kondisi antesendent). Dalam kenyataan generalisasi itu tidak dengan sendirinya benar. Karena itu generasi emperik harus diuji dan secara potensial dapat dibuktikan keliru. Tidak seperti model penjelasan deduktif, penjelasan induktif statistika terhadap suatu kejadian individual tidak selalu sesuai dengan generalisasi kejadian itu. Premis (generalisasi) mungin saja benar, tetapi konklusi tentang suatu kejadian dapat saja salah. Penjelasan tidak terletak pada mengapa konduksi benar tetapi mengapa hal itu sangat mungkin (probable). Kalau data menunjukkan bahwa 80% pegawai negeri mengidentifikasi diri secara politik kepada GOLKAR, kita tidak dapat begitu saja menarik kesimpulan bahwa semua pegawai negeri adalah anggota GOLKAR. Akan tetapi kita dapat menarik kesimpulan bahwa apabila bertemu dengan seorang pegawai negeri kemungkinan besar dia adalah anggota GOLKAR. Dalam literatur metodologi disebutkan berbagai macam penggolongan atas pola penjelasan. Akan tetapi dari berbagai penggolongan itu, lima pola penjelasan ini selalu disebutkan.[7] Dalam praktek penelitian penjelasan yang ditawarkan tidak hanya satu jenis saja melainkan kombinasi dari dua atau lebih penjelasan. Pertama, penjelasan genetic atau historic memberi jawaban atas pertanyaan “mengapa” dengan merujuk pada serangkaian tahap peristiwa yang telah terjadi sebelum kemunculan gejala tersebut. Penjelasan yang diberikan oleh Marx mengenai kemunculan kapitalisme misalnya merupakan penjelasan historik. Kedua, penjelasan fungsional memberi jawaban atas pertanyaan “mengapa” dengan merujuk pada letak dan kegunaan objek yang ditelaah itu dalam keseluruhan sistem tempat objek itu berada. Mengapa pemerintah melaksanakan penataran P4 secara menyeluruh? Jawaban yang diberikan secara fungsional ialah penataran P4 tidak hanya berfungsi bagi integrasi nasional tetapi juga memberikan legitimasi bagi pihak yang memerintah. Ketiga, penjelasan disposisi memberikan jawaban atas pertanyaan “mengapa” dengan merujuk pada kecenderungan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu dalam situasi tertentu pula. Termasuk kedalam kecenderungan ini ialah sikap, pendapat, kepercayaan, nilai dan ciri-ciri kepribadian. “Seorang liberal memilih Partai Demokrat” (liberal menggambarkan disposisi) merupakan contoh penjelasan disposisi. Keempat, penjelasan intensional memberikan jawaban atas pertanyaan “mengapa” dengan merujuk pada maksud atau tujuan tindakan. “X melakukan tindakan Y karena X ingin mendapatkan/ mencapai T” berdasarkan generalisasi bahwa “seseorang yang menginginkan T cenderung melakukan Y dalam situasi tertentu”. Mengapa kalangan masa cenderung mengikuti kegiatan suatu gerakan politik  justru pada tahap akhir suatu gerakan mencapai tujuannya? Jawaban yang diberikan penjelasan intensional ialah massa mengikuti gerakan politik pada tahap akhir menjelang gerakan akan mencapai tujuannya karena massa ingin ikut mendapatkan keuntungan dari hasil gerakan tersebut. Kelima, penjelasan rasional memberikan jawaban atas pertanyaan “mengapa” dengan merujuk pada cara pencapaian tujuan yang paling efisien. Suatu tindakan dianggap rasional apabila ia mencapai tujuannya secara paling efesien. Perbedaan penjelasan intensional dengan rasional terletak pada klaim bahwa tindakan rasional adalah tindakan yang paling efesien untuk mencapai tujuan. Tindakan yang intensional tidak mengajukan klaim seperti ini. Penjelasan rasional atas keterlibatan massa pada tahap akhir gerakan politik itu ialah massa mengikuti gerakan politik pada tahap akhir menjelang gerakan akan mencapai tujuannya karena massa ingin mendapatkan keuntungan dari hasil gerakan tersebut karena dinilai paling sedikit resikonya. Mengikuti kegiatan suatu gerakan sejak awal dianggap tidak rasional karena mengandung banyak resiko. Selain menjelaskan, teori juga berfungsi untuk memperkirakan gejala yang bakal terjadi. Kedua fungsi ini berkaitan erat. Artinya, apabila seseorang ilmuan dapat memberikan penjelasan (generalisasi dan kondisi antesendent) terhadap suatu gejala (eksplandum) secara tepat, maka ilmuan dengan sendirinya juga dapat memperkirakan gejala yang akan terjadi. Kalau penjelasan yang diberikan Vilfredo Pareto benar, yaitu “makin tinggi derajat sentralisasi kekuasaan, maka paksaan atau ancaman paksaan makin sering digunakan sebagai alat pengendalian masyarakat.[8] Maka dimana saja dan kapan saja terjadi sentralisasi kekuasaan yang tinggi akan banyak menggunakan paksaan atau ancaman paksaan sebagai alat pengendalian masyarakat.   Hal yang Bukan Teori Sebelum kita membahas bagaimana menggunakan teori, ada baiknya terlebih dahulu kita menjernihkan penggunaan kata teori yang tidak tepat. Pertama, perbedaan yang sering dibuat, antara teori dan praktek; “that is fine in theory, but it won’t work in practice”. Baik dalam teori tetapi tidak dalam prakteknya. Pandangan ini mencoba mengatakan bahwa teori itu tidak realistic. Penggunaan kata teori di sini tidak tepat karena setiap teori yang “baik” mestilah sesuai dengan kenyataan. Apabila suatu teori tidak ingin sesuai dengan realitas empiric, maka teori itu tidak tepat lagi dikatagorikan sebagai teori karena telah kehilangan objektivitas. Suatu pernyataan dikatakan objektif kalau pernyataan itu sesuai dengan objeknya (kenyataan). Sebagaimana telah diungkapkan di atas, teori merupakan abstraksi, sistimatisasi, dan generalisasi atas realitas atau fenomena yang kompleks. Hal ini berarti setiap ilmuan dituntut untuk mengkaji secara terus menerus teori yang dimilikinya dengan menghubungkannya dengan realitas yang membentuk teori tersebut, yaitu melalui kegiatan penelitian ilmiah. Kedua, kata teori digunakan baik untuk menggambarkan yang seharusnya (what ought to question) maupun untuk menggambarkan senyatanya (what is question). Pengertian teori yang dimaksudkan dalam ilmu sosial ialah yang menggambarkan kenyataan empirik. Sementara itu, teori acapkali digambarkan dalam bentuk “procedural rule” dan sistem klasifikasi. Durkheim dalam buku “The Rules of  Sociologial Method” mengemukakan bahwa sebab yang menentukan suatu fakta sosial hendaklah dicari diantara fakta sosial yang mendahuluinya dan tidak diantara keadaan kesadaran individual.[9] Artinya, fungsi suatu fakta sosial harus selalu dicari dalam hubungan dengan beberapa tujuan sosial. Awal mula semua proses sosial yang penting seyogyanya dicari di dalam konstitusi internal suatu kelompok sosial, bukan pada psikologi ataupun pisiologi anggota kelompok tersebut. Ketika menganjurkan kita untuk mengkaji “konstitusi internal” suatu kelompok sosial sebagai sumber perilaku sosial, Durkheim sesungguhnya tidak menyodorkan penjelasan melainkan menyodorkan aturan prosedural. Tidak seperti teori yang sesungguhnya, aturan procedural ini tidak dapat diuji kebenarannya dalam dunia empiric. Namun aturan prosedural dapat dinilai dari segi kemanfaatanya. Sistem klasifikasi pada dasarnya menggolongkan satu kasus tertentu pada salah satu dari beberapa klas atau tipe yang disusun berdasarkan kriteria tertentu. Kalau tempat tinggal di daerah pemukiman elit dijadikan sebagai salah satu kriteria bagi keanggotaan dalam strata sosial “upper-upper sosial class” maka seseorang yang termasuk strata “upper-upper sosial class” tidak mungkin tinggal di pemukiman kumuh. Fakta ini tidak menggambarkan dunia nyata tetapi menggambarkan konsekuensi logis dari kriteria yang diadopsi oleh orang menyusun klasifikasi. Akan tetapi klasifikasi ini berguna untuk menyederhanakan fenomena sosial yang kompleks.   Strategi Menggunakan Teori Untuk menjelaskan suatu gejala, kita dapat menggunakan salah satu dari tiga strategi berikut ini.[10] Pertama, strategi kausal yaitu mencari sebab-sebab dari suatu gejala. Sistem politik birokratik-otoriter (gejala) mungkin merupakan produk pembangunan ekonomi kapitalistik tergantung yang tertunda (independent and delayed capitalistic economic development) (sebab-sebab gejala); penggunaan kriteria universal yang semakin meluas dalam rekrutmen berbagai organisasi politik dan masyarakat dan hubungan-hubungan impersonal yang semakin berkembang dalam masyarakat, mungkin merupakan akibat yang ditimbulkan oleh birokrasi rasional. Kedua, strategi komposisional yaitu mencari komponen-komponen yang membentuk suatu gejala, seperti organisasi jabatan yang hirarkis, pengangkatan hanya berdasarkan kualifikasi tehnis saja, dan setiap jabatan mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri merupakan komponen-komponen yang membentuk gejala birokrasi rasional. Atau, mencari konteks yang menjadi “induk” gejala yang diteliti (gejala yang diteliti merupakan bagian saja dari konteks yang lebih besar), seperti sistem politik, sistem budaya ataupun sistem ekonomi merupakan konteks gejala birokrasi tersebut. Dan akhirnya, strategi klasifikasi yaitu menjelaskan suatu gejala dengan cara mencari dan menentukan posisi gejala tersebut dalam skema taksonomi (klasifikasi suatu fenomena kompleks berdasarkan kriteria tertentu). Hubungan birokrasi dengan politik misalnya, dapat diklasifikasi menjadi empat kategori berdasarkan prinsip atau nilai yang mengatur kedua konsep ini : birokrasi patrimonial, Negara birokrasi (bureaucratic polity), birokrasi otoriter, dan birokrasi politik (bureaucratic politics). Apabila hendak menjelaskan gejala birokrasi dan politik di Indonesia dengan strategi ini, maka yang harus dilakukan ialah menempatkan gejala birokrasi di Indonesia dalam empat kategori itu termasuk tipe birokrasi manakah gejala birokrasi dan politik tersebut. Dimensi lain dari teori yang perlu diketahui ialah dimensi lingkup (scope) dan tingkat abstraksi suatu teori. Lingkup teori dapat dilihat dari segi substansinya, yaitu fokus gejala yang hendak dijalankan apakah unsur dari suatu sistem ataukah sistem itu sendiri. Selain itu, lingkup teori dapat pula dilihat dari segi tempat dan waktu, yaitu kapan dan dimana gejala yang akan dijelaskan itu terjadi. Gejala yang hendak dijelaskan itu mungkin hanya klas menengah suatu masyarakat, bukan sistem politiknya. Klas menengah yang hendak dijelaskan itu hanya yang terjadi di Eropa Barat pada abad ke sembilan belas, bukan diseluruh benua Eropa dan tidak pada abad keduapuluh. Dimensi tingkat abstraksi suatu teori dapat dilihat dari segi kedekatan konsep-konsep yang terkandung dalam teori dengan observasi aktual. Hipotesis yang sudah siap diuji memiliki derajat abstraksi yang rendah, sedangkan nalar hubungan kausal antar konsep memiliki derajat abstraksi yang tinggi. Yang terakhir ini masih berupa general law, sedangkan yang pertama sudah mengalami proses deduksi. Kedua dimensi di atas berkaitan erat. Semakin tinggi tingkat abstraksi teori, semakin luas pula lingkup teori tersebut. Akan tetapi semakin luas lingkup teori belum tentu semakin tinggi tingkat abstraksinya.[11] Perubahan pada tingkat abstraksi akan mempengaruhi luas sempit lingkup teori. Akan tetapi perubahan luas lingkup teori belum tentu mempengaruhi tingkat abstraksi. Karena persyaratan teori tersebut sukar dipenuhi oleh ilmu sosial, maka yang dianjurkan ialah prinsip parsimony, yaitu daya cakup teori yang bersyarat berikut sederhana bila dibandingkan dengan teori lain untuk gejala yang sama, tinggi tingkat abstraksinya, luas lingkupnya, dan dapat diuji dalam dunia nyata. PENUTUP   DATAR PUSTAKA     Ramlan Subakti, “Penyusunan Teori dalam Penelitian”, Bahan Kuliah Program Doktor, Universitas. Airlangga, 2008.   Alan C. Isaak, Scope and Methods of Political Seience: An Introduction to the Methodology of Political Ingguiry, (Homewood, II. : The Dorsey Press, 1981), halaman 147-165; Robert Brown, Explanation in Sosial Science, (Chicago, II.; Aldine Publishing Company, 1963), halaman 47-164; Wakter Walace, The Logic of Science in Sociology, (New York : Aldine Publishing Company 1971), halaman 90-101; dan Ernest Nagel, The Structure of Science. (             : Harcourt, Bracwe & World Inc., 1961). Halaman 20-26.   Kenneth R. Hoover, The Elements of Sosial Scientific Thinking, (New York: St. Martin’s Press, 1980), halaman 39.   Jonathan Turner dan Leonard Beghley, The Emergence of Sociological Theory, (Homewood, II : The Dorsey Press, 1981).   Balai Penelitian dan Peninjauan Sosial Departemen Sosial RI, Metode Penelitian Sosial dalam Praktek, Yogyakarta, 1970, hal. 12-14.   Dr. Winarno Surachmad, Dasar Teknik Research, CV. Tarsito, Bandung, 1972, hal.53 [1] J. Supranto MA, Metode Riset, Lembaga Penerbit Fak. Ekonomi Universitas Indonesia , Jakarta, 1974, hal. 15.     Hasrat Ingin Tahu Manusia dan Pengertian Metode Ilmiah [1] Dr. Winarno Surachmad, Dasar Teknik Research, CV. Tarsito, Bandung, 1972, hal.53 [2] J. Supranto MA, Metode Riset, Lembaga Penerbit Fak. Ekonomi Universitas Indonesia , Jakarta, 1974, hal. 15. [3] Dr. Winarno Surachmad op.cit., hal.54 [4] Balai Penelitian dan Peninjauan Sosial Departemen Sosial RI, Metode Penelitian Sosial dalam Praktek, Yogyakarta, 1970, hal. 12-14. [5] Jonathan Turner dan Leonard Beghley, The Emergence of Sociological Theory, (Homewood, II : The Dorsey Press, 1981). [6] Kenneth R. Hoover, The Elements of Sosial Scientific Thinking, (New York: St. Martin’s Press, 1980), halaman 39. [7] Alan C. Isaak, Scope and Methods of Political Seience: An Introduction to the Methodology of Political Ingguiry, (Homewood, II. : The Dorsey Press, 1981), halaman 147-165; Robert Brown, Explanation in Sosial Science, (Chicago, II.; Aldine Publishing Company, 1963), halaman 47-164; Wakter Walace, The Logic of Science in Sociology, (New York : Aldine Publishing Company 1971), halaman 90-101; dan Ernest Nagel, The Structure of Science. (             : Harcourt, Bracwe & World Inc., 1961). Halaman 20-26. [8] Turner dan Beeghley, The Emergence…, halaman 534. [9] Halaman 110-111 [10] Wallace, The Logic…, halaman 101-106. [11] Ramlan Subakti, “Penyusunan Teori dalam Penelitian”, Bahan Kuliah Program Doktor, Universitas. Airlangga, 2008.

Page 2 of 29 | Total Record : 286