cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Keperawatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 84 Documents
HUBUNGAN PEMBERIAN REWARD UCAPAN TERIMA KASIH DENGAN KEDISIPLINAN WAKTU SAAT MENGIKUTI TIMBANG TERIMA PERAWAT RUANG BEDAH PADA RS NEGERI DI SEMARANG Deni Kristianto; Agus Santoso
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.48 KB)

Abstract

Peningkatan motivasi karyawan harus dilakukan, maka seringkali perusahaan atau instansi memberikan reward atau penghargaan atas kinerja yang telah dicapai oleh individu. Reward adalah sesuatu yangdiberikan atau diterima oleh seseorang setelah dirinya melaksanakan suatu pekerjaan. Reward tersebut dapat bersifat financial (pemberian uang, hadiah) dan nonfinansial (ucapan terima kasih, pujian, isi kerjadan lingkungan kerja). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian  reward ucapan terima kasih dengan kedisiplinan waktu saat mengikuti timbang terima perawat ruang bedah di RS Negeri di Semarang. Penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional dilakukan terhadap 35 perawat pelaksana di ruang bedah RS Negeri di Semarang, dengan menggunakan instrumen penelitianberupa lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar kepala ruang atau kepala tim memberikan ucapan terima kasih setiap timbang terima yaitu (100%) dan perawat pelaksana sebagian besar juga datang tepat waktu saat timbang terima di dapatkan (100%) Hasil statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian reward ucapan terima kasih dengan kedisiplinan waktu saat mengikutitimbang terima perawat di ruang bedah RS Negeri di Semarang.
Pengembangan Case Manager Dalam Patient Centered Care Wiwin Nur Aeni
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.392 KB)

Abstract

The treatment process of the patient is a complex process because it involves sharing of health professions from nurses, doctors, pharmacists, nutrition, as well as administrative personnel. Constraints that occur in the field is the communication between the health team did not fully running. Effective communication between the teams is a necessary condition to provide nursing services primarily focused to patients. Patient centered care is care that is respectful and responsive to choices, needs and personal values of patients and ensuring that value as a guide for all clinical decisions. The aim of this systematic review is to analysis of the development of case manager towards the fulfillment of the rights of patients. Methods : This study used critical appraisal method by leveling the evidence based nursing from proceeding, thesis, dissertation, national as well as international journals. Results : Case manager can meet patients' rights through effective communication. Case manager works closely with the patient so that the maintenance time nurse to the patient lasts a long time since the patient came to the patient's home. Case manager through its role in collecting and organizing various data related to the patient and treatment process which traces the disease, needs, and the potential that exists in the patient so that reconcile the needs / expectations and patient compliance. Conclusions : The effectiveness of case manager in the fulfillment of patients' rights need to be developed early on in the hospital.
HUBUNGAN PENERAPAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD AMBARAWA Siti Kholipah; Eko Susilo; Heni Purwaningsih
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.987 KB)

Abstract

Penerapan budaya organisasi adalah penghayatan nilai organisasi yang ditunjukkan dengan perilaku saat melakukan kegiatan didalam memberikan pelayanan kepada orang lain untuk memberikan kepuasan yang optimal kepada pasien. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara penerapan budaya organisasi dengan kepuasan pasien di RSUD Ambarawa.Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi sebanyak 8256 pasien, sampel 99 responden yang dipilih dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner penerapan budaya organisasi dan kepuasan pasien. Uji statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa penerapan budaya organisasi lemah sebanyak 47 responden (47,5%) dan penerapan budaya organisasi kuat sebanyak 52 responden (52,5%). Kepuasan pasien rendahsebanyak 32 responden (32,3%) dan kepuasan pasien tinggi sebanyak 67 responden (67,7%). Terdapat hubungan antara penerapan budaya organisasi dengan kepuasan pasien di RSUD Ambarawa (p value 0,007, α= 0,05). Saran bagi rumah sakit hendaknya memberikan fasilitas pelatihan dan pengembangan staf untuk meningkatkan penerapan budaya organisasi sehingga meningkatkan budaya kerja yang tanggap terhadap pelanggan.Kata kunci : penerapan budaya organisasi, kepuasan pasien
Pengaruh Program Mentoring Terhadap Penerapan Budaya Keselamatan Pasien Devi Nurmalia; Hanny Handiyani; Hening Pujasari
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.863 KB)

Abstract

Budaya keselamatan pasien merupakan dasar utama dalam keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program mentoring terhadap penerapan budaya keselamatan pasien di ruang rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Semarang. Metode penelitian ini menggunakan quasi experiment design: pretest-posttest with control group design, sampel yang digunakan 90 perawat (45 pada kelompok intervensi dan 45 pada kelompok kontrol). Hasil menunjukkan terdapat pengaruh antara penerapan budaya kelompok kontrol dengan kelompok intervensi sesudah progam mentoring (p= 0.056,2= 4.5 ???? = 0.1) dan RR 2.5. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang tidak mendapatkan program mentoring akan beresiko mengalami penurunan dalam penerapan budaya keselamatan pasien sebesar 2.5 kali lebih besar dibandingkan kelompok yang mendapatkan program mentoring keperawatan.
ANALISIS PENGARUH PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TENTANG FUNGSI MANAJERIAL KEPALA RUANG TERHADAP PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT SWASTA DI SEMARANG Tri Haryanti; Tri Ismu Pujianto; Ni Nyoman Adinatha
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.992 KB)

Abstract

Background: This research background by a management function has not been a good head space as functions of planning, organizing, directing, monitoring and controling. Nursing management is the coordination and integration of nursing resources by applying the management process to achieve the goal, objectivity nursing care and nursing services. Good managerial function in nursing management is critical nursing care in the inpatient nurse practitioner in carrying out documentation of nursing care to clients. Purpose: This study aims to analyze the effect of implementing the nurse's perception of the function manjerial head space of the implementation of documenting nursing care in the inpatient hospital nursing Wilasa Citarum Semarang. Methods: The method of research is a kuantitatif study with cross – sectional study. The research population is 57 nurse practitioner in the inpatient Orchid lounge, Cempaka, Dahlia and Flamboyan. Results: The result shows the perception of the nurse practitioner about managerial functions well enough head room (68.4%), the implementation of good documentation of nursing care (42.1%). Conclusion: a relationship between the perception of the nurse practitionerabout managerial function head space of the implementation of nursing documentation in patient wards (p = 0027).
Hubungan Antara Self Efficacy Dan Stres Kerja Dengan Burnout Pada Perawat Dalam Melakukan Asuhan Hubungan Antara Self Efficacy Dan Stres Kerja Dengan Burnout Pada Perawat Dalam Melakukan Asuhan Muhammad Natsir; Tri Hartiti; Madya Sulisno
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.425 KB)

Abstract

Profesi kesehatan pemberi pelayanan kesehatan di rumah sakit yang paling rentan mengalami burnout adalah perawat. Faktor individu dan faktor lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya Burnout. Faktor individu salah satunya adalah self efficacy sedang faktor lingkungan disebabkan stres kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara self efficacy dan stres kerja dengan burnout pada perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di RS Pemerintah di Kabupaten Semarang. Jenis penelitian observasional pendekatan cross sectional. Populasi perawat di RS Pemerintah di Kabupaten Semarang dengan sampel sebanyak 111 responden. Teknik sampling dengan stratified random sampling. Instrumen berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis bivariat yang digunakan chi square. Hasil penelitianmenunjukkan55% responden memiliki self efficacy tinggi, 64,9% responden mengalami stres kerja sedang, 89,2% responden mengalami burnout rendah. Tidak ada hubungan antara self efficacy dengan burnout, ada hubungan antara stres kerja dengan burnout. Implikasi utuk peneliti selanjutnya dapatmengembangkan penelitian dengan mempertimbangkan faktor individu, faktor lingkungan, faktor organisasi yang dapatmempengaruhi burnout. Rumah sakit dapatmelakukan kegiatan untuk meningkatkan self efficacy perawat melalui pelatihan kompetensi, menurunkan stres kerja dan burnoutmelaluikegiatan refresing, rotasi kerja. Perawat dapat meningkatkan self efficacy melalui peningkatan kompetensi, melakukan koping yang konstruktif untuk mencegah stres kerja dan burnout.
HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD KABUPATEN SEMARANG - Haryanti; Faridah Aini; Puji Purwaningsih
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.653 KB)

Abstract

Kondisi dan beban kerja di instalasi gawat darurat (IGD) perlu diketahui agar dapat ditentukan kebutuhan kuantitas dan kualitas tenaga perawat yang diperlukan dalam ruang IGD sehingga tidak terjadi beban kerja yang tidak sesuai yang akhirnya menyebabkan stres kerja. Bila banyaknya tugas tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia maka akan menjadi sumber stres. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pada perawat di IGD RSUDKabupaten Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Populasi pada penelitian ini adalah perawat di IGD RSUD Kabupaten Semarang. Sampel digunakan tehnik total populasi sebanyak 29 responden. Alat ukurmenggunakan daily log study untuk beban kerja dan alat ukur stres kerja. Analisis data dilakukan dengan uji Kendall Tau. Hasil penelitian didapatkan beban kerja perawat sebagian besar adalah tinggi yaitu sebanyak 27 responden (93,1%). Stres kerja perawat sebagian besar adalah stres sedang sebanyak 24 responden (82,8%). Terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di RSUD Kabupaten Semarang, p value 0,000 (α: 0,05). Saran bagi perawat perlunya manajemen diri yang efektif dan konstruktif sehinga adanya beban kerjayang tinggi dan stres kerja perawat dapat di kendalikan secara efektif sehingga tidak mengganggu kinerja dan tidak memunculkan masalah kesehatan bagi perawat di IGD.Kata kunci: beban kerja, stres kerja perawat, instalasi gawat darurat
Mentoring Budaya Organisasi Oleh Manajer Keperawatan Kusnadi Jaya
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.804 KB)

Abstract

Profesionalisme perawat sebagai employeeakan menumbuhkan iklim kerja yang kondusif sehingga kinerja perawat dapat berkontribusi terhadap pencapaian visi dan tujuan-tujuan rumah sakit sebagai organisasi bisnis. Karena itu profesionalisme harus dibangun diatas nilai-nilai budaya organisasi yang unik. Tujuan: Mengintegrasikan perawatkedalam budaya organisasi Rumah Sakit. Inovasi: Mentoring budaya organisasi dalam fungsi manajemen seorang Manajer Keperawatan di Rumah Sakit. Diskusi: Profesionalisme harus diikuti dengan perilaku legal, etis, serta peka terhadap budaya yang ada dalam lingkungan kerja, termasuk budaya organisasi. Perawat bekerja bukan hanya mentaati standar profesi dan kode etik profesinya saja, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap rumah sakit dan menjadi bagian penting dari budaya organisasi itu sendiri. Menerapkan perilaku caring terhadap organisasinya dan membiasakan perilaku efektif sebagai seorang profesional, dengan strategi mentorship. Kesimpulan: Penanaman budaya organisasi akan memberikan makna terhadap eksistensi perawat bagi organisasi sehingga perilaku pelayanan menjadi sinergi dan iklim pengembangan diri perawat menjadi kondusif.
Pengaruh Loyalitas Dan Kepuasan Terhadap Kinerja Perawat Dalam Asuhan Keperawatan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Yogyakarta I Wayan Sudarta; Edi Dharmana; Agus Santoso
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.358 KB)

Abstract

Latar Belakang :Pelayanan keperawatan di rumah sakit salah satu faktor penentu kualitas pelayanan, perawat bertanggung jawab terhadap klien secara holistik. Survey pelaksanaan Asuhan keperawatan pada pendokumentasian kurang sesuai dengan pelaksanaan tindakan, dan survey tentang kepuasan kerja perawat ada 16,25 % mengatakan tidak puas. Motode: Survey, cross sectional, populasi perawat pelaksana DIII Keperawatan, sampel 73 orang, pengumpulan data dengan Angket, dokumentasi dan observasi, analisa data dengan regressi logistic. Hasilnya :Hasil penelitian tentang Loyalitas dari 73 responden 72 responden kategori tinggi dalam memberikan asuhan keperawatan, kemudian dilakukan uji stastistik regresi Loyalitas koefisien wald 0,000 signifikansi 0, 993 tidak ada pengaruh loyalitas dengan kinerja perawat dalam asuhan keperawatan, Variabel kepuasan dari 73 responden kepuasan kategori tinggi ada 46 responden, kategori sedang ada 27 responden. Dilakukan uji regresi Kepuasan koefisien wald 5,203 signifikansi 0,023 , ada pengaruh kepuasan dengan kinerja perawat dalam asuhan keperawatan. Simpulan :Kepuasan berpengaruh secara signifikan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Variabel loyalitas tidak berpengaruh terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan.
PENINGKATAN PERILAKU CARING MELALUI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PERAWAT Mulyaningsih -
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.628 KB)

Abstract

Perilaku caring perawat sangat diperlukan dalam pelayanan keperawatan. Peningkatan perilaku caring salah satunya melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan komponenpenting dari perawatan karena perawat selalu dihadapkan dengan situasi yang kompleks, yang menuntut penilaian akurat, pengambilan keputusan yang tepat dan merupakan proses pembelajaran terus menerus.Penelitian cross-sectional pada 99 perawat ini bertujuan membuktikan adanya hubungan berpikir kritis dengan perilaku caring perawat. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara berpikir kritis dengan perilaku caring perawat (p=0,00;  0,05). Karakteristik responden yang berhubungan dengan perilaku caring perawat yaitu tingkat pendidikan (p=0,006;  0,05) dan pelatihan (p=0,001;  0,05). Variabel berpikir kritis merupakan faktor yang paling berhubungan dengan perilaku caring perawat (OR=247,139). Hasil penelitian ini menyarankan pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir kritis perawat. Peningkatan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan informal.