cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
jurkep.jiwa@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
jurkep.jiwa@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Nursing and Health Sciences | University of Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia
ISSN : 23382090     EISSN : 26558106     DOI : 10.26714/jkj
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan Jiwa publishes articles in the scope of mental nursing broadly but is limited, especially in the field of mental nursing in healthy groups, risks, and disorders. Articles must be the result of research, case studies, results of literature studies, scientific concepts, knowledge and technology that are innovative and renewed within the scope of mental nursing science both on a national and international scale.
Articles 819 Documents
Penerapan Standar Asuhan Keperawatan Jiwa Ners untuk Menurunkan Intensitas Waham Pasien Skizofrenia Fallon Victoryna; Ice Yulia Wardani; Fauziah Fauziah
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.072 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.45-52

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang kompleks. Gejala yang paling sering ditemui adalah waham. Waham dialami oleh 60% penderita skizofrenia dengan intensitas yang lebih berat dibandingkan dengan gangguan jiwa yang lain. Pasien waham memiliki kecenderungan untuk memunculkan reaksi agresif karena adanya upaya konfrontasi dari lingkungan terkait pemikiran dan keyakinannya yang tidak realistis. Kecenderungan tersebut merupakan efek dari besarnya intensitas waham yang dialami pasien. Salah satu cara untuk mengontrol perilaku agresif tersebut adalah melalui latihan deeskalasi. Penanganan yang komprehensif perlu diberikan berdasarkan standar asuhan keperawatan (SAK) jiwa dan pemberian latihan deeskalasi secara adekuat pada pasien dengan gangguan proses pikir waham. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan jiwa ners dan latihan deeskalasi terhadap agresifitas pasien untuk menurunkan intensitas waham. Metode yang dilakukan adalah berupa analisis kasus pada pasien yang dirawat di RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, dengan diagnosis keperawatan gangguan proses pikir waham kebesaran. Hasil dari pemberian intervensi selama 8 hari adalah pasien mengalami penurunan intensitas waham dari skor 16 dengan kategori berat menjadi skor 11 dengan kategori sedang. Kesimpulannya terdapat penurunan intensitas waham dengan menerapkan standar asuhan keperawatan jiwa ners dan latihan deeskalasi terhadap agresifitas pada pasien skizofrenia. Kata kunci: deeskalasi, skizofrenia, standar asuhan keperawatan, waham APPLICATION OFPSYCHIATRIC NURSING CARE STANDARDS TO REDUCE THE INTENSITY OF DELUTION SCHIZOPHRENIA ABSTRACTSchizophrenia is a complex mental disorder. The most common symptom is delusions. Estimated 60% of schizophrenics have more severe intensity compared to other mental disorders with the same diagnose. Patients with delusions tend to elicit aggressive reactions because of attempts at confrontation from the environment related to unrealistic thoughts and beliefs. The tendency is the effect of the amount of delusions experienced by patients. One way to control aggressive behavior is through de-escalation exercises. Comprehensive treatment needs to be given based on psychiatric nursing care standards and the provision of adequate de-escalation exercises to patients with delusional thought processes. The writing of this final scientific work aims to illustrate the application of nursing care and de-escalation exercises to the aggressiveness of patients to reduce the intensity of delusions. The method used is a case analysis in patients treated at Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, with a nursing diagnosis of oversized thought processes. The result of giving generalist therapy for 8 days is that the patient experienced a decrease in delusions intensity from a score of 16 with a severe category to a score of 11 with a moderate category. In conclusion, there is a decrease in the intensity of delusions by applying psychiatric nursing care standards and de-escalation training on aggressiveness in schizophrenic patients. Keywords: de-escalation, delution, psychiatricnursing care, schizophrenia
Analisis Bentuk Pengabaian yang Dialami Lansia yang Tinggal Bersama Keluarga Ezalina Ezalina; Rizanda Machmud; Nursyrwan Effendi; Yantri Maputra
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.231 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.83-88

Abstract

Meningkatnya jumlah lansia perlu diperhatikan pengasuhan yang diberikan oleh keluarga berupa pemenuhan kebutuhan fisik, pskologis, dan finansial sehingga lansia tidak terabaikan. Terdapat jenis pengabaian yang dialami lansia ketika tinggal bersama keluarga yaitu pengabaian fisik, psikologis, dan finansial.Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bentuk pengabaian yang dialami lansia berdasarkan pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, dan finansial. Jenis penelitian adalah kualitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 6 orang informan lansia. Analisis data menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan dari hasil wawancara dengan lansia didapatkan dalam pemenuhan kebutuhan fisik lansia tidak menjadi kewajiban anak, diberikan oleh anak jika anak menyanggupi, bantuan yang diberikan lansia dibayar secara gratis. Berdasarkan pemenuhan kebutuhan psikologis didapatkan lansia hanya sebagai objek, keluarga kurang peka dengan yang diinginkan lansia dan dalam pemenuhan kebutuhan finansial didapatkan pemenuhan keuangan lansia tidak rutin diberikan, lansia butuh uang untuk pegangan. Diharapkan pihak puskesmas melalui pemegang program lansia agar memberikan pedampingan kepada keluarga (care giver) dalam merawat lansia di rumah melalui keterlibatan kader. Kata kunci: pengabaian, lansia, keluarga ANALYSIS OF THE NEGLECT TYPES EXPERIENCED BY THE ELDERLIES LIVING WITH THEIR FAMILY  ABSTRACTThe increasing number of elderly people leads to the need of giving attention on the care given by their families in terms of physical, psychological, and financial needs so they will not be neglected. There are three kinds of neglect experienced by them when living with their families, namely: physical, psychological, and financial neglects. This study aims to explore the neglect types experienced by the elderly based on the fulfillment of physical, psychological, and financial needs.This study used qualitative approach. The sampling technique used was purposive sampling with 6 elderly informants as the samples. Thematic analysis was used to analyze the data. Based on the results of interview, it was found that the physical need of the elderly is not their children’s obligation, given if their children undertake it, the assistance provided by the elderly is considered free of charge. While, based on the psychological needs, the elderly is only as an object, their families is less sensitive to what the elderly wants. Then, in the financial needs, the elderly's financial fulfillment is not given routinely, the elderly need money to handle. It is expected that the Puskesmas (Community Health Center) through the holder of elderly program will provide assistance to the families (care givers) in caring for the elderly at home through the involvement of cadres. Keywords: neglect, family, elderly
Penurunan Tingkat Stres Keluarga Pasien Skizofrenia melalui Mindfulness Spiritual Islam Medika Utama; Meidiana Dwidiyanti; Diyan Yuli Wijayanti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.574 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.21-26

Abstract

Keadaan stres yang terjadi pada keluarga pasien skizofrenia akan dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup keluarga dan berpengaruh terhadap kesembuhan pasien. Jika keadaan yang menyebabkan stres pada keluarga tidak dapat ditanggulangi dengan baik, maka pasien yang menderita skizofrenia tersebut akan mengalami lebih banyak penderitaan dan akhirnya dirawat berulang-ulang di rumah sakit tanpa menunjukan tanda-tanda membaik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh intervensi mindfulness spiritual Islam dalam mengatasi keadaan stres yang terjadi pada keluarga pasien skizofrenia. Stres yang terjadi pada keluarga pasien skizofrenia yang terjadi karena keluarga merasa terbebani dan kurangnya rasa penerimaan juga kesadaran terhadap keadaan pasien. Penelitian ini menggunakan quasy-experiment dengan rancangan pre test - post test control group design. Sampel atau responden dalam penelitian ini adalah anggota keluarga dari pasien dengan skizofrenia yang memenuhi keriteria  inklusi berjumlah 50 responden yang terdiri dari 25 kelompok kontrol dan 25 kelompok intervensi. Berdasarkan hasil penelitian yang dihitung menggunakan uji statistic menggunakan mann-whitney test terdapat penurunan stres sesudah diberikan intervensi pada kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,000 < 0,05).Nilai mean rank intervensi sebesar 13,00 lebih kecil dibandingkan dengan nilai mean rank kontrol 38,00 berarti bahwa terdapat penurunan stres pada kelompok intervensi setelah diberikan intervensi. Kata kunci: mindfulness spiritual Islam, skizofrenia, stres keluarga REDUCING STRESS LEVEL IN FAMILY MEMBERS OF PATIENTS WITH SCHIZOPHRENIA THROUGH ISLAMIC SPIRITUAL MINDFULNESS ABSTRACTStressful conditions in family members of patients with schizophrenia will affect the quality of family life as well as the patient’s recovery. If such conditions are not properly managed, the patients may experience more suffering and readmission without any signs of improvement. Stress in the family members of patients with schizophrenia occurs due to the family burden and the lack of acceptance as well as the awareness of the patient’s condition. The purpose of this study was to determine the effects of Islamic spiritual mindfulness on decreasing stress in family members of patients with schizophrenia. This study used a pretest-posttest quasi-experimental design with a control group. The samples were 50 families of patients with schizophrenia who met the inclusion criteria, and were assigned to the intervention group (n=25) and the control group (n=25). Based on the results of the Mann-Whitney test, it was found that there was a decrease in stress after the implementation of Islamic spiritual mindfulness in the intervention and control groups (p=0.000 <0.05). The mean value of stress in the intervention group was 13.00 while in the control group was 38.00 indicating that there was a decrease in stress in the intervention group after the intervention. The Islamic spiritual mindfulness gaveeffects on reducing stress in family members of patients with schizophrenia.   Keywords: family stress, schizophrenia, islamic spiritual mindfulness
Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Pra-Sekolah di Negara-Negara Berkembang Rizka Adela Fatsena; Dewi Rokhanawati
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.211 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.185-192

Abstract

Stunting mempengaruhi sepertiga anak di negara berkembang. Studi melaporkan bahwa faktor resiko stunting seperti sosial ekonomi, karakteristik ibu, karakteristik anak dan lingkungan terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan Literature Review untuk meninjau secara sistematis faktor resiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak-anak pra-sekolah di negara-negara berkembang. Penelitian dilakukan dengan mencari artikel dari 3 database elektronik, yaitu PubMed, ProQuest, dan Science Direct, dari 2014 hingga 2020. Artikel teridentifikasi 503 artikel setelah dilakukan studi appraisal menggunakan program Critical Appraisal Skills Program (CASP), dan metode sintesis menggunakan modifikasi PEOS didapatkan 8 artikel untuk direview akhir. Data ditinjau menggunakan pedoman PRISMA-P. Delapan studi ditinjau dari 503 studi yang diekstraksi. Artikel melaporkan bahwa faktor sosial ekonomi, karakteristik ibu, karakteristik anak dan lingkungan menjadi faktor resiko kejadian stunting. Faktor resiko kejadian stunting dipengaruhi, antara lain semakin buruk sosial ekonomi keluarga dan lingkungan maka kejadian stunting semakin meningkat dan semakin baik karakteristik ibu dan anak maka kejadian stunting semakin sedikit. Kata kunci: faktor resiko, prasekolah, stunting RISK FACTORS THAT INFLUENCE STUNTING EVENTS IN PRE-SCHOOL CHILDREN IN DEVELOPING COUNTRIES ABSTRACTStunting affects one third of children in developing countries. Studies report that stunting risk factors such as socioeconomic, maternal characteristics, child characteristics and the environment are involved in the growth and development of children. This study aims to systematically review risk factors that influence the incidence of stunting in pre-school children in developing countries. The research are conducted by searching for articles from 3 electronic databases, namely PubMed, ProQuest, and Science Direct, from 2014 to 2018. Articles were identified 503 articles after an appraisal study using the Critical Appraisal Skills Program (CASP) program, and the synthesis method used modification PEOS obtained 8 articles for final review. Data were reviewed using PRISMA-P guidelines. Eight studies were reviewed from the 503 extracted studies. The article reports that socioeconomic factors, maternal characteristics, child characteristics and the environment are risk factors for stunting. Risk factors for stunting events are affected, among others, the worse the socioeconomic family and the environment, the incidence of stunting is increasing and the better the characteristics of mother and child, the fewer stunting events. Keywords: preschoolers, risk factors, stunting
Tingkat Depresi Lansia yang Tinggal di Panti Sosial Putu Eka Novayanti; Mateus Sakundarno Adi; Rita Hadi Widyastuti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.694 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.117-122

Abstract

Menua merupakan suatu keadaan yang pasti dirasakan oleh setiap individu, namun menua dengan sehat belum tentu dirasakan oleh setiap lansia. Salah satu masalah psikologis yang paling banyak terjadi pada lansia ialah depresi. Depresi pada lansia sering sekali tertutupi oleh gejala fisik. Depresi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya biologi, psikologis dan sosial. Angka kejadian depresi yang terus meningkat dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan serta kualitas hidup lansia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat depresi lansia yang tinggal di panti sosial. Penelitian ini merupakan suatu studi dengan desain cross sectional. Observasi dilakukan terhadap 135 lansia yang didapatkan melalui teknik purpossive sampling dan dilakukan pada bulan Maret 2020. Kriteria inklusi penentuan sampel adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas, lansia yang telah menghuni panti selama lebih dari 6 bulan dan tidak memiliki keluarga. Hasil penelitian didapatkan bahwa lansia yang tinggal di panti sosial terbanyak pada rentang usia 65-69 tahun (37,0%),  rentang usia lansia yang paling sedikit adalah lansia yang berusia 80 tahun keatas (10,4%). Jenis kelamin lansia yang paling banyang tinggal di panti sosial adalah laki-laki yaitu sebanyak 73 lansia (54,1%). Data karakteristik pendidikan lansia yang tinggal di panti sosial paling banyak adalah SD sebanyak 50 lansia (37,0%). Status pernikahan lansia yang ada di panti sosial terbanyak adalah duda yaitu sebanyak 65 lansia (48,1%). Tingkat depresi pada lansia yang ada di panti sosial terbanyak adalah tingkat depresi ringan yaitu sebanyak 55 lansia (40,7%) Kata kunci: depresi, lansia, panti sosial THE LEVEL OF DEPRESSION IN THE ELDERLY LIVING IN NURSING HOME ABSTRACTAging is a condition that must be felt by every individual, but aging is not necessarily healthy for every elderly. One of the most common psychological problems in the elderly is depression. Depression in the elderly is often masked by physical symptoms. Depression is influenced by several factors including biology, psychological and social. It is faered that the incidence of depression will increase the quality of health and the elderly quality of life. The aim of this study is to determine the level of depression in the elderly who live in nursing homes. Ths research is a study with cross sectional design. The observations were made on 135 elderly who were obtained through purposive sampling techniques and carried out in March 2020. The inclusion criteria for determining the sample are the elderly who are aged 60 years and over, the elderly who have inhabited in nursing home for more than 6 months and have no family. The result showed that the most elderly people living in nursing home were in the age range of 65-69 years (37,0%), the lowest age range was the elderly who were aged 80 years and over (10,4%). The most eldely sexes who live in nursing home are male, as many as 73 elderly people (54,1%). Data on the characteristics of the education of the elderly who live in nursing home is the most elementary school as many as 50 elderly (37,0%). The status of the marriage of the elderly in the most nursing home is widower with 65 elderly people (48,1%). The highest level of depression in elderly at nursing home is the level of mild depression, which is 66 elderly (40,7%). Keywords: depression, elderly, nursing home
Manajemen Beban dengan Pendekatan Terapi Keluarga Triangles dalam Mengatasi Beban Subjektif Keluarga Merawat Klien Diabetes Melitus Surya Efendi; Herni Susanti; Ice Yulia Wardani; Angelina Roida Eka
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.36 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.153-160

Abstract

Diabetes Melitus atau DM merupakan penyakit metabolik dengan angka kejadian yang mengalami peningkatan setiap tahunnya baik di dunia maupun di Indonesia. DM dapat memberikan dampak kepada penderita dan keluarga yang merawat. Dampak yang dialami keluarga dalam merawat penderita DM adalah meningkatnya beban keluarga yang akan berpengaruh terhadap kualitas perawatan kepada klien. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melakukan analisis lebih lanjut mengenai penerapan manajemen beban dengan pendekatan terapi keluarga triangles dalam mengatasi beban subjektif keluarga merawat klien DM. Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah laporan kasus. Intervensi dilakukan terhadap satu keluarga penderita DM. Beban subjektif keluarga dinilai melalui pengamatan dan wawancara setelah intervensi dilaksanakan. Hasil yang didapatkan adalah beban subjektif keluarga, yaitu sedih dan kesal akibat kesalahpahaman antara klien dan keluarga dapat teratasi setelah dilakukan manajemen beban dengan pendekatan terapi keluarga triangles. Kata kunci: diabetes mellitus, manajemen beban, psikoedukasi keluarga, terapi keluarga triangles BURDEN MANAGEMENT WITH TRIANGLES FAMILY THERAPY APPROACH IN OVERCOMING SUBJECTIVE FAMILY BURDEN THREATING THE CLIENTS OF DIABETES MELITUS ABSTRACTDiabetes Mellitus or DM  is a metabolic disease with an increasing incidence every year. DM affects patients and families who care of them. The impact experienced by the family in treating patients with DM is increased family burden which will affect the quality of client care. The purpose of this study is to conduct further analysis of family burden management with triangles therapy approach in overcoming subjective burden of caring clients with DM. The method used in this study is a case report. This study was conducted on a family of DM patients. The subjective burden of the family was assessed through observation and interviews after the intervention is carried out. The results were the subjective family burden, that was sad and upset due to misunderstanding between client and family can be resolved after burden management with family triangles therapy approach was done. Keywords: burden management, diabetes mellitus, family psychoeducation, family triangles therapy
Peluang Psikoedukasi Keluarga untuk Pencegahan Kekambuhan Orang dengan Gangguan Jiwa di Papua Nasrah Halim; Achir Yani Syuhaimie Hamid
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.966 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.193-202

Abstract

Psikoedukasi keluarga dapat digunakan sebagai alternatif pencegahan kekambuhan  Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) khususnya di Papua yang memiliki keterbatasan sumberdaya kesehatan antara lain kemampuan mengakses fasilitas layanan kesehatan, dan keterbatasan tenaga kesehatan.  Kondisi ini diperberat dengan banyaknya jumlah ODGJ serta keadaan geografis yang sulit.  Artikel ini bertujuan menguraikan  peluang psikoedukasi keluarga dalam mengatasi keterbatasan sumberdaya kesehatan di Papua. Metode yang digunakan adalah review sistematis (systematic review)  pada artikel yang dipublikasikan di database elektronik nasional maupun internasional. Jurnal Lokal menggunakan pencarian google sedangkan jurnal internasional menggunakan database ProQuest, Sage Publications, Science Direct SpringerLink. Dan Wiley Online. Kriteria inklusi meliputi psikoedukasi keluarga yang berfokus dalam pencegahan kekambuhan dan pemulihan ODGJ baik di Indonesia dengan rentang tahun 2018-2020 sedangkan Internasional rentang tahun 2015-2020. Hasil didapatkan 1464 artikel ekstraksi 33 artikel yang relevan yang kemudian penulis mengidentifikasi 21 artikel yang menunjukkan efektivitas psikoedukasi keluarga dalam pencegahan kekambuhan ODGJ baik pada jurnal nasional maupun internasional. Kata kunci: pencegahan kekambuhan, psikoedukasi keluarga OPPORTUNITIES FOR FAMILY PSYCHEDUCATION FOR RELAPSE PREVENTION OF PEOPLE WITH THE MENTAL DISORDER  IN PAPUA ABSTRACTFamily psychoeducation can be used as an alternative relapse prevention of people with mental disorders (PWMD), especially in Papua, which has limited health resources both health care facilities, health workers, the number of ODGJ and geographical conditions. The purpose of this article is to identify opportunities for family psychoeducation in overcoming the limitations of health resources in Papua. The method used is a systematic review of articles published in national and international electronic databases. Local journals use Google search while international journals use ProQuest, Sage Publications, Science Direct SpringerLink databases. And Wiley Online. Inclusion criteria include family psychoeducation which focuses on relapse prevention and recovery of PWMD both in Indonesia in the range 2018-2020 while International ranges in 2015-2020. The results obtained were 1464 articles extracted 33 relevant articles which then the authors identified 21 articles that show the effectiveness of family psychoeducation in preventing PWMD recurrence in both national and international journals.  Keywords: family psychoeducation, relapse prevention
Tingkat Stres Lansia dengan Penyakit Tidak Menular Dian Aulia Kurniawati; Mateus Sakundarno Adi; Rita Hadi Widyastuti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.507 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.123-128

Abstract

Stres pada lansia dengan penyakit tidak menular merupakan masalah psikososial yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan lansia apabila tidak segera diatasi, terutama dalam hal perawatan dirinya yang berpusat pada kepatuhan dalam pengobatan serta manajemen diri. Namun, penelitian yang membahas tentang tingkat stres pada lansia dengan penyakit tidak menular di wilayah kerja Puskesmas Pudakpayung Kota Semarang belum tersedia sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk melihat tingkat stres lansia dengan penyakit tidak menular: diabetes mellitus dan hipertensi. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 109 lansia dengan penyakit tidak menular yang didapatkan melalui teknik total sampling di wilayah kerja Puskesmas Pudakpayung di Kota Semarang pada tahun 2020. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah lansia berusia 60 tahun keatas dengan penyakit tidak menular yaitu diabetes melitus dan hipertensi, menderita penyakit < 5 tahun. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Depresion, Anxiety, Stress Scale (DASS-42) berisi 14 pertanyaan, dengan tingkatan Discriminant validity dan mempunyai reliabilitas sebesar 0,8806 berdasarkan Cronbach Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia dengan diabetes melitus sebagian besar mengalami stres sedang sebesar 62,7% dan lansia dengan hipertensi mengalami stres sedang sebesar 59,1%. Kata kunci: lansia, penyakit tidak menular, stres STRESS LEVELS IN ELDERLY WITH NON-COMMUNICABLE DISEASES  ABSTRACTStress in elderly with Non-communicable Diseases is an psychosocial problem that can affect the quality of life and well-being of the elderly if not immediately addressed, especially in terms of self-care that is centered on adherence in medication and self-management. However, research that discusses about the levels of stress in elderly with non-communicable diseases in the working area of Pudakpayung’s Public Health Centers in Semarang City is not yet available, so this research are needs to be done to look at the stress levels in elderly with non-communicable diseases : diabetes mellitus and hypertension. The study used a cross sectional design with 107 elderly with non-communicable diseases to be a sample obtained through total sampling techniques in Pudakpayung’s Public Health Centers in Semarang City on 2020. The criteria of inclusion in this study were the elderly aged 60 years and above with non-communicable diseases, suffering from illness < 5 years. The instruments used in this study were Depression, Anxiety, Stress Scale (DASS-42) contains 14 questions, with levels Discriminant validity and reliability have amounted to 0,8806 by Cronbach Alpha. The results showed that elderly with diabetes mellitus mostly experienced moderate stress by 62,7% and the elderly with hypertension experienced moderate stress by 59.1%.  Keywords: elderly, non-communicable diseases, stress
Penurunan Tingkat Kecemasan dan Gula Darah pada Penderita DM Tipe 2 melalui Spiritual Mindfulness Based On Benson Relaxation Rohmawati, Riska; Helmi, Arif
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.161-168

Abstract

Perubahan mendadak dalam hidup membuat penderita DM menunjukkan beberapa reaksi psikologis negatif yang menghasilkan glukosa darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh mindfulness spiritual berdasarkan relaksasi benson pada kecemasan, gula darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental quasy dengan pre-test dan post-test dengan desain kelompok kontrol dengan sampel 30 responden dan teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu (15 menit untuk setiap intervensi). Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner SRAS Zung untuk kecemasan dan glukometer untuk mengukur GDP dan GDPP. Tes statistik menggunakan Mann Whitney Test dan Wilcoxon Signed. Hasil tes statistik menunjukkan bahwa perhatian spiritual berdasarkan relaksasi benson mempengaruhi penurunan kecemasan pada setiap kelompok (p = 0,000 untuk kelompok perlakuan dan p = 1,00 untuk kelompok kontrol), secara signifikan mengurangi kadar glukosa darah rata-rata (p = 0,000 untuk perawatan kelompok dan p = 0,48 untuk kelompok kontrol). Perhatian spiritual berdasarkan benson relaksasi membantu pasien meningkatkan fokus mereka pada kondisi saat ini tanpa upaya untuk menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sehingga pasien lebih nyaman dan merasa tenang. Intervensi ini mempengaruhi pengurangan kecemasan, rata-rata gula darah pasien DM tipe 2. Kata kunci: DM tipe 2, gula darah, kecemasan, perhatian spiritual, reaksasi benson REDUCING ANXIETY AND BLOOD SUGAR LEVELS ONDM TYPE 2 PATIENTS THROUGH SPIRITUAL MINDFULNESS BASED ON BENSON RELAXATION ABSTRACTSudden changes in life make DM sufferers show some negative psychological reactions that result in a blood glucose. The purpose of this study was to explain the influence of spiritual mindfulness based on benson relaxation on anxiety, blood sugar in DM type 2 patients. This study used a quasy experimental study design with pre-test and post-test with control group design with a sample of 30 respondents and a sampling technique using consecutive sampling . The intervention was carried out for 4 weeks (15 minutes for each intervention). This study uses the Zung SRAS questionnaire instrument for anxiety and a glucometer to measure GDP and GDPP. Statistical tests using the Mann Whitney Test and Wilcoxon Signed. Statistical test results show that spiritual mindfulness based on benson relaxation affects the decrease in anxiety in each group (p = 0.000 for the treatment group and p = 1.00 for the control group), significantly reducing average blood glucose levels (p = 0.000 for the treatment group and p = 0,48 for the control group). Spiritual mindfulness based on benson relaxation helps patients improve their focus on current conditions without any effort to blame themselves, others, and the environment so that patients are more comfortable and feel calm. This intervention affected the reduction of anxiety, average blood sugar of type 2 DM patients. Keywords: anxiety, benson relaxation, blood sugar, spiritual mindfulness, type 2 DM
Pengalaman Adaptasi Survivor Schizophrenia Pasca Perawatan di Rumah Sakit Niman, Susanti; Christian, Febri
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.07 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.2.2020.203-210

Abstract

Schizophrenia adalah gangguan jiwa berat ditandai dengan perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Gejala schizophrenia berlangsung selama jangka waktu minimum  satu  bulan dan kemunduran  fungsi  berlangsung minimum selama enam bulan dengan tingkat kekambuhan 70 - 82%. Penderita schizophrenia sering ditemukan kurang mendapat dukungan sosial dalam mengoptimalkan proses rehabilitasi setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit. Tujuan studi untuk mengekplorasi pengalaman survivor schizophrenia beradaptasi pasca rawat. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif fenomenologi terhadap 10  informan. Hasil  ditemukan 5 tema adaptasi pasca perawatan di rumah sakit yaitu cara menghadapi suatu permasalahan, memiliki pekerjaan setelah keluar dari rumah sakit jiwa, dukungan keluarga, dukungan lingkungan dan dukungan tenaga kesehatan. Kesimpulan adaptasi survivor schizophrenia pasca perawatan di rumah sakit  membutuhkan kemampuan problem solving, dukungan dari keluarga dan masyarakat. Kata kunci: adaptasi, pengalaman, schizophrenia, survivor THE EXPERIENCE OF SCHIZOPHRENIA SURVIVOR ADAPTATION POST-CARE IN HOSPITAL    ABSTRACTSchizophrenia is a severe mental disorder characterized by changes in a person's perceptions, thoughts, affect, and behaviour. Schizophrenia symptoms last for a minimum period of one month and deterioration of function lasts for a minimum of six months with a recurrence rate of 70 - 82%. Schizophrenia sufferers are often found to lack social support in optimizing the rehabilitation process after undergoing treatment at the hospital. Purpose to explore the experience of survivor schizophrenia adapting post-treatment. Method Qualitative with a phenomenological descriptive approach to 10 informants. Results found 5 adaptation post-treatment themes in the hospital namely how to deal with a problem, having a job after leaving the mental hospital, family support, environmental support and support of health workers. Conclusion: Adaptation of post-treatment schizophrenia survivors in hospital requires problem- solving skills, support from family and community.  Keywords: adaptation, experience, schizophrenia, survivor

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): Agustus 2025 Vol 13, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 12, No 4 (2024): November 2024 Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 12, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 12, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 11, No 4 (2023): November 2023 Vol 11, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 11, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 10, No 4 (2022): November 2022 Vol 10, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 10, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 10, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 9, No 4 (2021): November 2021 Vol 9, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 9, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 9, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 8, No 4 (2020): November 2020 Vol 8, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 7, No 3 (2019): November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa More Issue