cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
jurkep.jiwa@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
jurkep.jiwa@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Nursing and Health Sciences | University of Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia
ISSN : 23382090     EISSN : 26558106     DOI : 10.26714/jkj
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Keperawatan Jiwa publishes articles in the scope of mental nursing broadly but is limited, especially in the field of mental nursing in healthy groups, risks, and disorders. Articles must be the result of research, case studies, results of literature studies, scientific concepts, knowledge and technology that are innovative and renewed within the scope of mental nursing science both on a national and international scale.
Articles 819 Documents
Upaya Mengontrol Perilaku Agresif pada Perilaku Kekerasan dengan Pemberian Rational Emotive Behavior Therapy Moomina Siauta; Hani Tuasikal; Selpina Embuai
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.798 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.27-32

Abstract

Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa.WHO (2015) menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental.Perilaku kekerasan merupakan salah satu penyakit jiwa yang ada di Indonesia, dan hingga saat ini diperkirakan jumlah penderitanya mencapai 2 juta orang, terutama dengan gejala perilaku agresif dan bila tidak tertangani dengan baik maka akan menimbulkan dampak yang buruk kepada klien serta lingkungannya, sehingga perlunya suatu tindakan keperawatan yang secara mandiri diberikan untuk menangani perilaku agresif itu sendiri yaitu dengan Terapi Ration Emotive Behavior. Jenis penelitian adalah dengan pendekatan studi kasu (Studi kasus).Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan bahan audio visual.Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling, dengan 6 klien perilaku kekerasan di RSKD Maluku.Penelitian dilakukan bulan Maret sampai dengan Oktober 2019.Jenis pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dan lembar observasi klien.Lokasi penelitian RSKD Maluku.Sesuai dengan masalah yang peneliti angkat yaitu untuk mengontrol perilaku agresif dengan penerapan rational emotive behavior therapy dan SP yang telah diterapka, peneliti hanya menyusun intervensi terfokus pada masalah halusinasi pendengaran karena semua tindakan untuk mengontrol perilaku kekerasan juga dapat meminimalkan semua masalah keperawatan yang ada pada klien perilaku kekerasan. Kata kunci: perilaku agresif, rational emotive behavior therapy EFFORTS TO CONTROL AGGRESSIVE BEHAVIOR IN VIOLENCE BEHAVIOR WITH RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY ABSTRACTOne type of mental disorder WHO states, at least one in four people in the world who fix mental problems. In Indonesia, and to date it is estimated that the number of sufferers reaches 2 million, most of the above mentioned are complex challenges and if not handled properly will cause problems for the client and his environment, so action is needed. Independent care is provided for Rational Therapy itself, namely Ration Emotive Behavior Therapy. This type of research is a case study study (case study). Data collection through collection, interview, collection, and audio-visual material.Sampling using purposive sampling, with 6 clients practicing violence in Maluku Regional General Hospital. This research was conducted from March to October 2019. Types of data collection were done by interview and client observation sheets. Research location of Maluku Regional Public Hospital. In accordance with the issues raised by researchers, namely for those who are related to therapy using emotive rational behavior therapy and SP that has been applied, researchers can only focus on interventions on the issue of delegation hallucinations to help change existing clients to overcome these problems. Keywords: aggressive behavior, rational emotional behavior therap
Pengaruh Kompetensi Sosial Perawat terhadap Kepuasan Kerja Perawat Mooniek Setyowati; Luky Dwiantoro; Bambang Edi Warsito
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.61-68

Abstract

Perawat merupakan sumber daya manusia yang penting dirumah sakit. Kompetensi perawat akan mempengaruhi kualitas pekerjaan. Kompetensi sosial harus dimiliki perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Kompetensi sosial berdampak pada kepuasan kerja perawat.Desain penelitian menggunakan Quasy Experimental dengan pre post test with control group. Jumlah sampel 18 kelompok intervensi dan 18 kelompok kontrol. Penggumpulan data penelitian menggunakan kuesioner komptensi sosial dan kuesioner kepuasan kerja Minesotta. Rerata usia responden kelompok intervensi nilai mean 28,8bulan dan kelompok kontrol adalah 29,2, kelompok intervensi mayoritas memiliki pendidikan Diploma III Keperawatan sebanyak  83,3% dan kelompok kontrol mayoritas berpendidikan Diploma III Keperawatan sebesar 88,9%. Nilai rata-rata lama kerja kelompok intervensi adalah 4,22 dan standar deviasi 1,39 dan nilai minimal-maksimal 1-6. Pada kelompok kontrol, nilai rata-rata lama kerja adalah  4. Uji analisis pada kelompok intervensi menggunakan Paired t-testdidapatkan hasil p-value sebesar 0,000, hasil tersebut <alpha sehingga dinyatakan terdapat pengaruh intervensi kompetensi sosial terhadap kepuasan kerja perawat. Kata kunci: kompetensi sosial, kepuasan kerja  THE EFFECT OF NURSING SOCIAL COMPTENCE ON NURSING SATISFACTION ABSTRACTNurses are important human resources in hospitals. Nurse competence will affect the quality of work. Social competence must be possessed by nurses in providing nursing care. Social competence has an impact on job satisfaction of nurses. Research design uses Quasy Experimental with pre-post test with control group. The number of samples was 18 intervention groups and 18 control groups. Research data collection using social competency questionnaire and Minesotta job satisfaction questionnaire. The mean age of respondents in the intervention group mean value was 28.8 months and the control group was 29.2, the majority intervention group had a Diploma III Nursing education of 83.3% and the majority control group had a Diploma III Nursing education of 88.9%. The average length of work of the intervention group was 4.22 and the standard deviation was 1.39 and the minimum-maximum value was 1-6. In the control group, the average value of length of work was 4. Discussion: The analysis test in the intervention group using the Paired t-test obtained a p-value of 0,000, the results were <alpha so that it was stated that there was an influence of social competence interventions on nurse job satisfaction. Keywords: social competence, job satisfaction
Beban Keluarga Berhubungan dengan Kemampuan Keluarga dalam Merawat Pasien Halusinasi Rokayah, Cucu; Novian, Fahmi Dwi; Supriyadi, Supriyadi
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.97-102

Abstract

Skizofrenia merupakan suatu gangguan mental yang menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu.Penderita skizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi.Dampak terberat yang dirasakan oleh keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi adalah dampak pada psikologis, terutama stress atau beban yang dirasakan oleh keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Beban Keluarga dengan Kemampuan Keluarga Dalam Merawat Pasien Halusinasi di InstalasI Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan tehnik purposive samplingterhadap 69 responden dari populasi 996 responden di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner beban keluarga dan kemampuan keluarga yang terdiri dari kognitif dan psikomotor. Analisa univariat dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi dan analisa bivariat pada penelitian ini menggunakan uji chi square  hasil penelitian menunjukan beban berat yaitu 35 responden (50,7 %), sedangkan untuk kemampuan keluarga baik 46 responden (42 %). kesimpulannya bahwa ada hubungan antara beban keluarga dengan kemampuan keluarga dalam merawat pasien halusinasi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat dengan nilai p value (0,001) < (0,005). Kata kunci: halusinasi, beban keluarga, kemampuan keluarga FAMILY BURDEN CONNECTED WITH FAMILY ABILITY TO TREAT HALLUCINATORY PATIENTS ABSTRACTSchizophrenia is a mental disorder that causes the onset of thought, perception, emotion, movement, strange and disturbing behavior. Schizophrenia 70% of them have hallucinations.The toughest impact the family feels in treating patients with hallucinations is its impact on the psychological, especially the stress or burden felt by the family.The purpose of this research is to know the family's burden relationship with the ability of the family to treat hallucinative patients in the installation of hospital outpatient in West Java province.This method of study uses descriptive correlation with purposive sampling technique against 69 respondents from the population of 996 respondents in an outpatient installation of psychiatric hospitals in West Java province. The instruments used in this reseacrh used family load questionnaires and family skills questionnaires comprising cognitive and psychomotor. Univariate analysis in this research using frequency distribution and bivariat analysis of this study using chi square test. the results showed a heavy burden of 35 respondents (50.7%), while for family ability of either 46 respondents (42%).in conclusion that there is a connection between the burden of the family with the ability of families to treat hallucinatory patients in the hospital outpatient installation in the psychiatric province of West Java with a value of P (0.001) < (0.005). Keywords: hallucinations, family load, abillity family
Karakteristik Kepribadian Antisosial Kusuma, Annisa Dwianggreni; Sativa, Shania Ocha
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.862 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.33-36

Abstract

Secara epidemiologi gangguan kepribadian antisosial ditemukan sebanyak 2-4 % pada laki-laki dan 0.5-1% pada wanita. Prevalensi usia puncak ditemukannya kepribadian ini pada 24-44 tahun. Penegakkan diagnosis kepribadian ini dapat menggunakan PPDGJ III dan DSM-V. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literature review. Sumber pustaka yang digunakan dalam menyusun literatur ini terdiri dari buku pedoman, jurnal nasional, jurnal internasional, maupun website. Penelusuran sumber pustaka dilakukan melalui akses data NCBI dan Google Scholar terkait karakteristik kepribadian antisosial. Sumber pustaka yang digunakan terdiri dari 15 pustaka yang ditulis mulai dari tahun 1999 hingga 2019. Hasil penelitian menunjukkan gangguan kepribadian antisosial sering terjadi pada laki-laki di lingkungan penjara dan adanya abnormalitas pada grey matter lobus parietal otak dan white matter lobus oksipital. Simpulan gangguan kepribadian antisosial yaitu terlihat berkarisma, memiliki riwayat hidup dalam hal kriminal, tidak ada waham, pikiran tidak rasional, mudah menjebak orang terlihat dalam aktivitasnya dan khasnya yaitu tidak adanya penyesalan terhadap perbuatannya dikarenakan kurangnya kontrol empati dan perasaan terhadap orang lain. Kata kunci: kepribadian antisosial, penegakkan diagnosis, prevalensi CHARACTERISTIC OF ANTISOSIAL PERSONALITY ABSTRACTEpidemiologically antisocial personality disorder is found as much as 2-4% in men and 0.5-1% in women. The peak age prevalence for this personality is found in 24-44 years. The management of this personality diagnosis can use PPDGJ III and DSM-V. The method used in this research is the literature review study. The method used is a literature review that was taken from a guidebook, national journals, international journals, and website. The literature consists of 15 library sources which are traced through NCBI aand Google Scholar data access. Literature Sources used were written in 1999 to 2019. The results showed antisocial personality disorder often occurs in men in prison environments and abnormalities in gray matter parietal lobes of the brain and white matter in the occipital lobe. Conclusions of antisocial personality disorder that is seen to be charismatic, have a history of life in criminal matters, no misunderstanding, irrational thoughts, easy to trap people seen in their activities and typically that there is no remorse for their actions due to lack of empathy control and feelings towards others. Keywords: antisocial personality, diagnosis,  prevalence
Upaya Promotif dan Preventif Kesehatan Jiwa melalui Deteksi Dini Berbasis Web Novianti, Evin; Tobing, Duma Lumban; Wibisono, Bayu
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.148 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.69-74

Abstract

Kader merupakan tenaga potensial di masyarakat yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan kesehatan jiwa masyarkat. Perberdayaan kader kesehatan jiwa dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan deteksi dini berbasis web agar kader memiliki pemahaman tentang masalah kesehatan jiwa, mendeteksi dini ganggguan jiwa dan melakukan rujukan puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pelatihan deteksi dini berbasis web dalam upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa. Desain Quasi experiment pre and post test without control group” dengan intervensi pelatihan deteksi dini berbasis web digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian ini terdiri dari 18 orang kader kesehatan yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data dilakukan dengan membandingkan data sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan deteksi dini berbasis web terhadap kemampuan kognitif dan psikomotor dengan menggunakan uji statistik paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kemampuan kognitif dan psikomotor yang signifikan  p value 0,000 (p < 0,05). Salah satu upaya promotif dan preventif kesehatan jiwa dapat dilakukan melaui deteksi dini berbasis web. Kata kunci: deteksi dini, kader, kesehatan jiwa PROMOTIVE AND PREVENTIVE EFFORTS FOR MENTAL HEALTH THROUGH WEB-BASED DETECTION EARLY ABSTRACTCadres are potential workers in the community who have an important role in improving the mental health of the community. Empowerment of mental health cadres can be done by providing web-based early detection training so that cadres have an understanding of mental health problems, early detection of mental disorders and make a referral of health centers. This study aims to analyze the effectiveness of web-based early detection training in mental health promotion and prevention efforts. Quasi-experiment design pre and post-test without control group "with a web-based early detection training intervention used in this study. The sample of this study consisted of 18 health cadres taken using a purposive sampling technique. Data analysis was performed by comparing data before and after getting web-based early detection training on cognitive and psychomotor abilities using a paired t-test statistical test.The results showed a significant change in cognitive and psychomotor abilities, p-value 0,000 (p <0.05. One of the promotive and preventive efforts of mental health can be done through web-based early detection. Keywords: early detection, cadres, mental health
Konsep Diri dan Ketidakberdayaan Berhubungan dengan Risiko Bunuh Diri pada Remaja yang Mengalami Bullying Wahyudi, Udi; Burnamajaya, Bram
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.1-8

Abstract

Bullying merupakan perilaku negatif yang dilakukan secara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyerang karena adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat.Tindakan bullying dapat berdampak buruk bagi korban maupun pelakunya di masa depannya. Dampak tersebut meliputi kesepian, pencapaian akademik yang buruk, kesulitan penyesuaian (adaptasi), meningkatnya risiko penggunaan zat, keterlibatan dalam tindakan kriminal dan kerentanan gangguan mental emosional seperti cemas, insomnia, penyalahgunaan zat, depresi, mempunyai self-esteem rendah, kesulitan interpersonal, gangguan konsep diri, dan depresi (ketidakberdayaan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan ketidakberdayaan dengan risiko bunuh diri pada remaja yang mengalami bullying di SMA Negeri 7 Kota Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode cross-sectional study dengan bentuk pendekatan rancangan correlation study. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 183 orang didapat dari teknik randomsampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji hubungan dengan menggunakan Chi-Square antara konsep diri dengan ketidakberdayaan didapatkan nilai ρ (0,000) lebih kecil daripada nilai α (0,05), sedangkan uji hubungan antara konsep diri dengan risiko bunuh diri didapatkan nilai ρ (0,013) lebih kecil daripada nilai α (0,05). Dengan demikian bahwa ada hubungan antara konsep diri dan ketidakberdayaan dengan risiko bunuh diri pada remaja yang mengalami bullying di SMA Negeri 7 Kota Bogor. Kata kunci: bullying, konsep diri, ketidakberdayaan, risisko bunuh diri SELF-CONCEPT AND INEQUALITY CONNECTED WITH RISK OF SELF-SUFFICIENT IN ADOLESCENTS WHO HAVE BULLYING ABSTRACTBullying is a negative behavior that is carried out repeatedly by a person or group of people who are attacking because of an imbalance of power between the parties involved. Bullying actions can have a negative impact on victims and perpetrators in the future. These impacts include loneliness, poor academic achievement, adaptation difficulties, increased risk of substance use, involvement in criminal acts and susceptibility to mental emotional disorders such as anxiety, insomnia, substance abuse, depression, low self-esteem, interpersonal difficulties, disturbances self concept, and depression (helplessness). The purpose of this study was to determine the relationship between self-concept and powerlessness with the risk of suicide in adolescents who experienced bullying in SMA Negeri 7 Kota Bogor. This research is a quantitative study using a cross-sectional study method with a correlation study design approach. The sample in this study amounted to 183 people obtained from random sampling techniques. The results showed that based on the results of the relationship test using Chi-Square between self-concept and powerlessness, the value of ρ (0,000) was smaller than the value of α (0.05), while the test of the relationship between self-concept and risk of suicide obtained a value of ρ (0.013 ) is smaller than the value of α (0.05). Thus that there is a relationship between self-concept and powerlessness with the risk of suicide in adolescents who experience bullying in SMA Negeri 7 Kota Bogor. Keywords: bullying, self-concept, helplessness, suicide risk
Faktor –Faktor yang Mempengaruhi terjadinya Salah Perlakuan terhadap Lansia Yori Yolanda; Efri Widianti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.633 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.103-108

Abstract

Salah perlakuan adalah suatutindakan disengaja yang menimbulkan bahaya atau suatu kegagalan caregiver dalam memenuhi kebutuhan dasar lansia. Pelaku salah perlakuan lansia yang ditemui di rumah biasanya dilakukan oleh anak laki-laki ataupun keluarga yang merawat lansia. Dampak negatif akibat dari salah perlakuan yaitu cemas dan depresi serta kematian setelah 7 sampai 8 tahun kemudian. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk mengetahui faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya salah perlakuan terhadap lansia. Pencarian literatur menggunakan elektronik database melalui Google Scholar, Proquest dan PubMed, menggunakan kata kunci faktor resiko, lansia dan salah perlakuan. Kriteria inklusi adalah:artikel fulltext yang diterbitkan antara 2008-2018, bahasa inggris dan bahasa indonesia, pencarian artikel yang relevan dengan tema yang akan diambil. Berdasarkan searching menggunakan kata kunci diperoleh 1100 artikel. Didapatkan 11 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya salah perlakuan terhadap lansia antara lain rendahnya dukungan sosial, beban stres dari caregiver, kerusakan kognitif lansia, tingkat ekonomi rendah dan ketergantungan fungsi fisik seperti lansia memerlukan bantuan dalam kegiatan sehari-hari. Faktor resiko sangat penting guna mencegah tindakan salah perlakuan pada lansia dan meningkatkan kualitas hidup lansia.Kata kunci: faktor resiko, lansia dan salah perlakuan FACTORS THAT AFFECT ELDERLY ABUSE: A LITERATURE REVIEW ABSTRACTElder abuse isan intentional act, which causes harms or failures by a caregiver to satisfy the elder's basic needs. Perpetrators of abuse are typically described as male or family members who are looking for elderly person. The negative effects of elderly abuse are anxiety and depressionas well as death after 7 to 8 years later.The objective of this study was to identify the risk factors contributing to elder abuse. Literature research in this study was conducted through three electronic databases namely Google Scholar, Proquest and PubMed, using the keywords elderly, abuse and risk factor.Inclusion criteria are: full-text articles published in English language between 2008-2018,and the search of articles which are relevant to the theme. Based on the literature search by using keywords that mentioned before, it was obtained 1100 articles. Among those articles, there were 11 articles that met the inclusion criteria. The risk factorscontributing to elder abuseare low of social supports, caregiver burden and stress, cognitive disorders, poor economic conditions, and functional dependence in the elderly like becoming dependent on others for help in performing daily living activities. The risk factors is very helpful in preventing abuse of the elderly and improving the quality of life for the elderly. Keywords: abuse, elderly abuse, elder misstreatment, risk factor
Kejadian Depresi pada Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Mei Elfrida Sinaga; Megah Andriany; Artika Nurrahima
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.37-44

Abstract

Meningkatnya jumlah  warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan di lapas menyebabkan munculnya masalah psikologis termasuk depresi. Depresi yang dialami WBP perempuan berdampak pada aspek lain yaitu keluarga, anak, dan komunitas. Kondisi ini menjadi beban tambahan bagi WBP perempuan selama di lapas dikarenakan terpisah dari anak, masalah hak asuh anak, larangan kontak dengan anak, kegagalan peran menjadi ibu maupun istri sehingga memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri, orang lain, dan masa depan, dapat berpengaruh buruk secara berkelanjutan memicu terjadinya perilaku negatif seperti melukai diri sendiri bahkan bunuh diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan masalah depresi yang dialami WBP perempuan selama menjalani masa pidana di Lapas. Metode penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Subjek penelitian sebanyak 159 WBP perempuan yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling dengan kriteria inklusi usia 18 tahun ke atas, sudah mendapatkan putusan vonis menjalani masa pidana dan kriteria eksklusi adalah WBP perempuan yang berada di ruang isolasi, tidak memiliki penyakit kronis, dan residivisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat depresi WBP perempuan kategori ringan sampai sedang. Kata kunci: depresi, warga binaan pemasyarakatan perempuan THE INCIDENCE OF DEPRESSION ON FEMALE INMATES IN CORRECTIONAL SETTING ABSTRACTThe increasing number of female inmates in Prison led to the emergence of psychological problems including depression. Depression experienced by female inmate’s impact on other aspects, namely family, children, and community. This condition becomes an additional burden for the female inmates in Prison due to separate from the child, the issue of child custody, a ban on contact with children, the failure of the role of being a mother and wife and so have a negative view of themselves, others, and future can be a bad influence in a sustainable trigger the occurrence of negative behaviors such as self-mutilation and even suicide. The purpose of this study is to describe the problem of depression experienced by female inmates during a period of criminal in Prison. The research method used descriptive quantitative. Data collection was done using Beck Depression Inventory-II (BDI-II) questionnaires. The subject of the study a total of 159 female inmates selected using purposive random sampling with the inclusion criteria of age 18 years and above, already get the verdict undergo a criminal past and an exclusion criterion is a female inmate who are in isolation, do not have a chronic illness, and recidivism. The results showed that the level of depression female inmate's category of mild to moderate. Keywords: depression, female inmates
Peran Spiritual Berhubungan dengan Perilaku Sosial dan Seksual Remaja Ardhian Indra Darmawan; Shanti Wardhaningsih
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.936 KB) | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.75-82

Abstract

Setiap manusia yang ada di dunia memiliki keyakinan yang dianut. Spiritual  adalah dasar dari kehidupan manusia dalam aktivitas kehidupan di dunia. Salah satu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan adalah hubungan sosial antar manusia.  Perkembangan manusia dimulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa sampai lanjut usia. Masa remaja adalah fase transisi yang berada diantara fase anak - anakmenuju fase dewasa. Setiap fase perkembangan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungankeluarga dan spiritual. Abad 21 memberikan potensi adanya pergeseran nilai emosional dan sosial remaja ke arah negatif, seperti pergaulan bebas yang dilakukan oleh remaja. Data diambil  melalui PubMed, ProQuest, dan Google Cendekia menggunakan kata kunci: spiritual, sikap spiritual orang tua, perilaku sosial dan seksual remaja. Hasil dari delapan artikel yang diperoleh, diidentifikasi sebanyak empat tema, yaitu Spiritual dalam hubungan sosial, spiritual dalam perilaku dan kesehatan mental remaja, perilaku seksual berdasarkan budaya dan yang terkahir yaitu kontrol spiritual dalam perilaku dan pendidikan seksual. Hakekat dari nilai yang sosial yang terkandung dalam spiritual mampu memberikan dampak bagi kehidupan sosial remaja. Peran tingkat pengetahuan dan aplikasi nilai spiritual oleh orang tua dan lingkungan remaja tinggal mampu memberikan dampak bagi perilaku sosial remaja.  Perilaku sosial remaja yang didalamnya terdapat perilaku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yaitu perilaku seksual.  Remaja yang pengalaman hidupnya belum banyak, maka berisiko salah dalam mengambil keputusan untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupannya termasuk hubungan sosialnya. Meningkatnya pemahaman nilai spiritual akan mampu mengontrol perilaku yang dilakukan oleh remaja untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Kata kunci: peran spiritual, perilaku sosial dan seksual, remaja SPIRITUAL ROLE DEALING WITH SOCIAL AND SEXUAL BEHAVIOR OF YOUTH ABSTRACTEvery human being in the world have adopted beliefs. Spirituality is the foundation of human life in the world's life activity. One of the events that happen in life is the social relationships between people. Human development begins from infants, toddlers, children, teenagers, adults to elderly. Adolescence is a transitional phase that is between phases of a child - the child towards the adult phase. Each phase of human development is influenced by several factors, one of which is a spiritual family and environmental factors. The 21st century provides the potential for a shift in adolescent emotional and social values in the negative direction, such as promiscuity conducted by adolescents. Data retrieved via PubMed, ProQuest, and Google Scholar using keywords: spiritual, spiritual attitudes of parents, social behavior and sexual. Results from the eight articles obtained, four themes were identified, namely spiritual in social relationships, spiritual behavior and mental health of adolescents, sexual behavior based on culture and finally spiritual control in sexual behavior and education. The nature of the social values contained in the spiritual can provide an impact on the social life of adolescents. The role of the level of knowledge and application of spiritual values by parents and the environment of adolescents living is able to have an impact on adolescent social behavior. Adolescent social behavior in which there is behavior to meet biological needs, namely sexual behavior. Teenagers, whose life experiences are not many, then risk making the wrong decision to meet the needs in their lives, including social relationships. Increased understanding of spiritual values will be able to control the behavior carried out by adolescents to meet their social needs. Keywords: spiritual behavior, adolescents, adolescent sexual behavior 
Perawatan Diri Pasien Skizofrenia dengan Halusinasi Novi Herawati; Yudistira Afconneri
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.8.1.2020.9-20

Abstract

Pasien skizofrenia dengan halusinasi dapat mengalami gangguan perawatan diri karena adanya perubahan proses pikir, mengakibatkan terjadinya gangguan membran mukosa mulut, gatal-gatal dan infeksi di bagian tubuh lainnya. Pasien skizofrenia Kota Solok tahun 2018 berjumlah 156 orang dimana 51 orang diantaranya halusinasi, terbanyak terdapat di Puskesmas Tanjung Paku yaitu 32 orang (42,67%). Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran perawatan diri pasien skizofrenia dengan halusinasi di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok tahun 2019. Penelitian bersifat deskriptif, pengumpulan data secara observasi pada September-Oktober 2019 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok tahun 2019. Populasi penelitian adalah seluruh pasien halusinasi yang pernah dirawat di RSJ dan berobat di Puskesmas Tanjung Paku, sejumlah 32 orang. Teknik sampel menggunakan total sampling. Data diolah secara manual dan dianalisa secara univariat untuk ditampilkan berupa tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian diperoleh lebih dari sebahagian (62,5%) responden tampak bersih dalam kebersihan dirinya, sebahagian besar (75%) responden tampak mampu dalam berhias diri. Hampir keseluruhan (96,9%) responden tampak mampu dalam makan, dan hampir keseluruhan (96,9%) responden tampak bersih setelah BAB/BAK. Kata kunci: halusinasi, perawatan diri, skizofrenia SELF-HEALTH CARE OF SCIZOPHFRENIA PATIENTS WITH HALUSINATION ABSTRACTSchizophrenic patients with hallucinations can experience self-care disorders due to changes in thought processes, resulting in disruption of the oral mucous membrane, itching and infection in other parts of the body. Schizophrenic patients in Solok City in 2018 totaled 156 people, of which 51 were hallucinations, most were in the Tanjung Paku Health Center, 32 people (42.67%). The purpose of this study was to determine the description of self-care schizophrenia patients with hallucinations in the working area of Tanjung Paku Health Center in Solok City in 2019. The study was descriptive, observational data collection in September-October 2019 in the working area of Tanjung Paku Health Center in Solok City in 2019. The study population was all hallucination patients who had been treated at the mental hospital and treated at the Tanjung Paku Health Center, a total of 32 people. The sampling technique uses total sampling. Data is processed manually and analyzed univariately to be displayed in the form of a frequency distribution table. The results obtained by more than half (62.5%) of respondents looked clean in their personal hygiene, most (75%) of respondents seemed able to decorate themselves. Almost all (96.9%) respondents seemed able to eat, and almost all (96.9%) respondents looked clean after defecation. Keywords: hallucinations, self-care, schizophrenia

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2025): Agustus 2025 Vol 13, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 12, No 4 (2024): November 2024 Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 12, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 12, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 11, No 4 (2023): November 2023 Vol 11, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 11, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 10, No 4 (2022): November 2022 Vol 10, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 10, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 10, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 9, No 4 (2021): November 2021 Vol 9, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 9, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 9, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 8, No 4 (2020): November 2020 Vol 8, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 8, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 8, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 7, No 3 (2019): November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 7, No 1 (2019): Mei 2019 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 2 (2018): November 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 6, No 1 (2018): Mei 2018 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 2 (2017): November 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 2 (2016): November 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 4, No 1 (2016): Mei 2016 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 2 (2015): November 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 3, No 1 (2015): Mei 2015 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 2 (2014): November 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 1 (2014): Mei 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 2 (2013): November 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 1 (2013): Mei 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Jiwa More Issue