cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 126 Documents
Hubungan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan Status Gizi Anak Usia 4-24 Bulan (Studi Di Wilayah Kelurahan Wonodri Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang) Afrianto, Akhmad; Darmono SS2, -; Anggraini, Merry Tiyas
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 2 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Permasalahan gizi kurang dan gizi buruk masih menjadi masalah utama di Indonesia. Hal ini terbukti dengan masih terungkapnya kasus gizi kurang dan gizi buruk pada bayi dan anak-anak di berbagai daerah. Keadaan seperti ini terutama pada bayi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi salah satunya adalah asupan. Dapat diartikan bahwa status gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya. Anak usia 4-24 bulan memperoleh kecukupan gizinya dengan ASI dan MP-ASI.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah anak usia 4-24 bulan di Kelurahan Wonodri Kecamatan Semarang Selatan. Sampel dipilih secara purposif pada RW III dan V sejumlah 34 anak dengan kriteria inklusi dalam keadaan sehat dan berusia 4-24 bulan. Data yang dikumpulkan meliputi identitas keluarga, status gizi (BB/U), pemberian ASI dan MP-ASI. Data katagorik  diuji dengan Chi Square. Data numerik yang berdistribusi normal diuji dengan Korelasi Person. Data numerik yang berdistribusi tidak normal di uji dengan Rank Spearman.Hasil: Uji Chi Square p>0,05 sehingga  tidak ada hubungan antara pemberian kolostrum, ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI dengan status gizi. Uji Korelasi Person p<0,05 sehingga ada hubungan antara frekuensi pemberian ASI dalam 1 hari dengan status gizi. Uji Rank Spearman p>0,05 sehingga ada hubungan antara usia awal pemberian MP-ASI dengan status gizi.Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pemberian kolostrum, ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI dengan status gizi. Ada hubungan antara frekuensi pemberian ASI dalam 1 hari, usia awal pemberian MP-ASI dengan status gizi. Kata kunci: Pemberian ASI, pemberian MP-ASI, status gizi, anak usia 4-24.
Faktor Pengetahuan dan Pemakaian Botol Susu Steril yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada Batita di Wilayah Puskesmas Wedung 1 Setiawan, Bela Bagus; Basuki, Rochman
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 2 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang :Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia bisa diserang oleh diare, tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita. Pengetahun ibu tentang diare yang tepat dapat mengurangi atau mengatasi terjadinya diare pada anak usia 0-3 tahun, dimana ibu mengetahui gejala dan tanda diare maka dengan baik pula ibu dapat melakukan penanganan diare,begitupun juga sebaliknya. Pada pemakaian botol susu steril Jika cara pembuatan susunya salah dan kurang bersih, bayi menjadi kurus dan mencret.Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan dari pengetahuan dan pemakaian botol susu steril yang berhubungan dengan kejadian diare studi pada batita di wilayah puskesmas Wedung 1Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian  deskriptif–analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah populasi 300 batita dan didapatkan  sampel sebanyak 71 batita dengan variabel  bebas kejadian diare dan variabel terikat pengetahuan ibu tentang diare dan pemakaian botolsusu steril melalui pengkajian hipotesis dan uji statistik chi square.Hasil Penelitian :Responden yang berpengetahuan rendah sebanyak 21 (35.5%), tidak memberikan ASI ekslusif sebanyak  21 (33,9%), tidak melakukan sterilisasi pada botol susu sebanyak 14 (22.6%), mengalami diare sebanyak 49 (79.0%), hubungan pengetahuan ibu tentang diare yang berhubungan dengan kejadian diare studi pada batita (p=0.23), hubungan pemakaian botol susu steril yang berhubungan dengan kejadian diare studi pada batita (p=0.29).Kesimpulan :ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang diare yang berhubungan dengan kejadian diare studi pada batita,  serta ada hubungan antara pemakaian botol susu steril yang berhubungan dengan kejadian diare studi pada batita. Kata Kunci :Pengetahuan mengenai diare,  ASI ekslusif, pemakaian botol susu steril, kejadian diare.
HUBUNGAN MASA PAPARAN DEBU DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL ANTIK LHO DI JEPARA Amalia Isnaini; Setyoko -; Rochman Basuki
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Salah satu dampak yang dihasilkan oleh industri mebel adalah tenaga kerja industri terpajan debu. Debu dapat menghasilkan respon biologis baik morbiditas maupun mortalitas yang dipengaruhi oleh besarnya polusi yang masuk paru, jenis bahan pencemar, intensitas, lama paparan serta pada pekerja yang perokok dapat menyebabkan gangguan fungsi paru.Metode : Jenis penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan cara total sampling sebanyak 46 pekerja. Data yang didapatkan kemudian diolah menggunakan uji chi square. Pengumpulan data dilakukan dengan data primer.Hasil : Hasil analisis bivariat dari 46 pekerja mebel, variabel masa paparan p = 0,000 yang berarti ada hubungan antara masa paparan debu dengan fungsi paru pekerja mebel. Dan variabel kebiasaan merokok p =0,223 yang berarti tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan fungsi paru pekerja mebel.Kesimpulan : Adanya hubungan antara masa paparan debu dengan fungsi paru pada pekerja mebel. Dan tidak adanya hubungan kebiasaan merokok dengan fungsi paru pada pekerja mebel.Kata kunci : debu kayu, gangguan fungsi paru, industri mebel.
PENGARUH PEMBERIAN FORMALIN PERORAL TERHADAP KADAR UREUM dan KREATININ TIKUS WISTAR Fitria Wijayanti; Sri Latiyani Djamil; Nanik Marfua'ti
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Penggunaan formalin dalam bidang pangan dilarang oleh PERMENKES RI No772/Menkes/PER/IX/88 No. 1168/Menkes/X/1999 yang melarang formalin sebagai bahan tambahan dalam makanan, PP No 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, UU N0 7 tahun 1996 tentang pangan dan UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Namun laporan tahunan BPOM 2012 di Semarang masih saja ditemukan adanya formalin dalam jajanan anak-anak.Penelitian sebelumnya telah membuktikan adanya kerusakan ginjal tikus yang diberi formalin peroral.Hubungan antara konsumsi formalin peroral terhadap fungsi ginjal belum diketahui.Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan Postest Only Control Group Design menggunakan hewan coba. Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus galur Wistar.Selama 7 hari tikus diadaptasi dan diberikan makan serta minum ad libitum. Tikus dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang diberi formalin peroral dosis lethal atau 200 mg/kgBB/hari. Setelah 2 minggu, sampel darah tikus diambil untuk diukur kadar ureum dan kreatininnya lalu tikus didekapitasi. Hasil disajikan dalam bentuk tabel, gambar, dan dianalisis menggunakan analisis statistik Independent Sampel T-test. Hasil:Terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar ureum kedua kelompok dan kadar kreatinin kedua kelompok, masing masing memiliki nilai p = 0,000.Kesimpulan: Terdapat pengaruh penggunaan formalin peroral terhadap kenaikan kadar ureum dan kreatinin plasma tikus Wistar.Kata Kunci : formalin, dosis lethal, kadar ureum dan kreatinin
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR Fithri Ratnasari; Lilia Dewiyanti; Merry Tiyas Anggraini
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: ASI eksklusif merupakan ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan / atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. ASI eksklusif yang diberikan untuk pertumbuhan yang akan mempengaruhi nilai prestasi belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan nilai prestasi belajar.Metode: Jenis penelitian adalah cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Analisis data menggunakan korelasi rank spearman.Hasil: Dari 79 subyek penelitian, 40,5% mendapatkan ASI eksklusif dan 59,5% tidak mendapatkan ASI eksklusif. Rata-rata nilai prestasi belajar siswa dengan kategori sangat baik 10,1%, kategori baik 46,8%, kategori cukup baik 41,8%, kurang 1,3%, dan gagal 0%. Hasil analisis korelasi Spearman didapatkan p < 0.05 dan koefisien korelasi (r) didapatkan 0,366.Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan nilai prestasi belajar. Semakin banyak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan semakin bertambah pula nilai prestasi belajar.Kata Kunci: ASI eksklusif, prestasi belajar
TINGKAT KEPARAHAN ASFIKSIA NEONATORUM PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) Prima Maulana Cahyo Nugroho; Lilia Dewiyanti; Afiana Rohmani
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. BBLR mempunyai resiko mengalami kegagalan nafas yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Hal ini terjadi akibat kurangnya surfaktan paru, pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernapasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah melengkung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara derajat BBLR dengan tingkat keparahan asfiksia neonatorum di RSUD Kabupaten Karanganyar periode 1 Agustus 2012 31 Agustus 2013. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling, dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diolah menggunakan analisis korelasi rank spearman.Hasil : Sampel yang diperoleh adalah sebesar 125 BBLR, dengan jumlah terbanyak adalah BBLR derajat rendah (berat bayi lahir 1500 2500) yaitu 107(85,6%). Jumlah Asfiksia Neonatorum dengan tingkat keparahan sedang merupakan yang terbanyak di RSUD Kabupaten Karanganyar yaitu 104 (83,2%). Uji Rank Spearman diperoleh ada hubungan yang signifikan antara derajat BBLR dengan tingkat keparahan asfiksia neonatorum (p<0,05).Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara derajat BBLR dengan tingkat keparahan Asfiksia nenoatorum, semakin berat derajat BBLR maka semakin tinggi tingkat keparahan asfiksia neonatorum.Kata Kunci : BBLR, asfiksia neonatorum.
FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN CEDERA BAHU PADA PEMAIN BULUTANGKIS DI KOTA SEMARANG Indah Nurul Maghfiroh; Sigit Muryanto; M.Riza Setiawan
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Aktivitas olahraga banyak menggunakan kemampuan lengan secara berlebihan dan berulang- ulang dan dengan frekuensi tinggi. Peralatan olah raga yang tidak ergonomis akan menyebabkan timbulnya otot bekerja berlebihan. Pemain bulutangkis sangat rentan terhadap terjadinya cedera pada bahuTujuan : Menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian cedera pada bahu pemain bulutangkis di kota Semarang.Metode: Survai cross sectional analitik ini melibatkan 80 responden yang diambil secara acak proporsional dari30 klub bulutangkis di kota Semarang. Data faktor risiko diambil melalui wawancara dengan kuesioner, Tekhnik pengambilan sampel dengan proporsional random sampling, dimana didapatkan sebanyak 80 sampel. Data dianalisis menggunakan program komputer.Hasil : Cedera bahu dialami oleh 67,5% pemain, 48,1% karena kurang pemanasan, 88,9% karena teknikkeliru, 20,4% karena kebugaran rendah, dan 14,8% karena nutrisi kurang seimbang. Sedangkan jenis cedera yang sering terjadi yaitu spasme otot (45%), sprain (8,8%), strain (6,3%), dislokasi (5%), subluksasio (1,3%) dan ruptur ligamentum (1,3%). Hasil analisis bivariat dengan chi square didapatkan hasil, ada hubungan yang signifikan antara kurang pemanasan dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000), ada hubungan yang signifikan antara teknik keliru dengan kejadian cedera bahu (p = 0,000), ada hubungan yang signifikan antara kebugaran rendah dengan kejadian cedera bahu (p = 0,013), ada hubungan yang signifikan antara nutrisi kurang seimbang dengan kejadian cedera bahu (p = 0,039). Sedangkan analisis multivariat didapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi kejadian cedera bahu dalam penelitian ini adalah kurang pemanasan, dimana diperoleh nilai p = 0,003 dan OR = 11.573.Kata kunci: Faktor risiko, cedera bahu, olahraga bulutangkis
HUBUNGAN STATUS GIZI, UMUR, dan JENIS KELAMIN dengan DERAJAT INFEKSI DENGUE pada ANAK Devi Yanuar Permatasari; Galuh Ramaningrum; Andra Novitasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Infeksi virus dengue bermanifestasi klinis dari yang paling ringan (mild undifferential febrile illness), demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) sampai demam berdarah dengue disertai syok (sindroma syok dengue = SSD). Infeksi virus dengue tidak selalu berkembang menjadi DBD. Faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah sistem imun yang dipengaruhi juga oleh status gizi dan umur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi, umur, dan jenis kelamin dengan derajat infeksi dengue pada anak.Metode : Penelitian ini menggunakan metode analitik korelatif dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dengan menggunakan uji chi square kemudian uji regresi logistik untuk mencari variabel yang paling berpengaruh.Hasil : Sampel penelitian ini adalah 77 orang. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikanantara status gizi (p=0,013) dan jenis kelamin (p=0,026) dengan derajat infeksi dengue. Pada analisis multivariat didapatkan OR = 9,474 (95% CI : 1,177-76,227) yang menunjukkan responden dengan status gizi buruk/kurang memiliki peluang 9,474 kali lebih besar menderita DBD.Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan jenis kelamin dengan derajat infeksi dengue. Status gizi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap derajat infeksi dengue.Kata Kunci : status gizi, umur, jenis kelamin, derajat infeksi dengue
HUBUNGAN ANTARA KONTROL ASMA dengan KUALITAS HIDUP ANGGOTA KLUB ASMA di BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT SEMARANG Anita Mayasari; Setyoko -; Andra Novitasari
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Asma tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara kontrol asma dengan kualitas hidup yang dinilai dengan Tes Kontrol Asma dan Kuesioner Kualitas Hidup Penderita Asma.Cara : Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling, dan didapatkan 40 responden, yang terdiri atas 15 responden dengan tingkat kontrol asma tidak terkontrol, 15 responden terkontrol baik, dan 10 responden terkontrol total. Analisa data menggunakan uji korelasi rank spearman.Hasil : Rerata skor Tes Kontrol Asma pada semua responden adalah 21,17 yang berarti keseluruhan responden mempunyai tingkat kontrol asma terkontrol baik. Rerata skor kualitas hidup pada responden dengan tingkat kontrol asma tidak terkontrol adalah 4,2, responden terkontrol baik 5,25 dan responden terkontrol total 5,5. Rerata skor kualitas hidup pada seluruh responden adalah 4,9. Ada hubungan yang signifikan antara kontrol asma dengan kualitas hidup (p=0,000).Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara kontrol asma dengan kualitas hidup.Kata kunci : kontrol asma, kualitas hidup
HUBUNGAN USIA, GRAVIDITAS DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN Diana Ratih Puspitasari; Muhamad Taufiqy Setyabudi; Afiana Rohmani
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 2, No 1 (2013): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan salah satunya adalah hipertensi dalam kehamilan. Kategori hipertensi dalam kehamilan adalah preeklamsia-eklamsia, hipertensi gestasional, kronik hipertensi dan superimpose preeklamsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, graviditas dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan.Metode : Penelitian observasional dengan metode cross-sectional secara prospektif tingkat kemaknaan 95%. Analisis meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat terhadap variabel usia maternal, graviditas dan IMT terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. Sampel adalah ibu hamil di Poli Rawat Jalan Obstetri dan Ginekologi RSUD Tugurejo Semarang bulan Oktober-Desember 2013. Pengambilan sampel secara total sampling.Hasil : Didapatkan 43 ibu hamil dengan hipertensi. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan graviditas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan (p=0,077). Variabel usia dan IMT menunjukkan ada hubungan dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan (OR=2,774; p = 0,004 dan OR = 2,602; p = 0,005). Analisis multivariat menunjukan bahwa usia dan IMT merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan (OR= 2,774; p = 0,003 dan OR = 2,602; p = 0,004).Simpulan : Ada hubungan antara usia dan IMT dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan, dimana usia merupakan faktor yang paling berpengaruh.Kata kunci : Usia, graviditas, indeks massa tubuh, hipertensi dalam kehamilan

Page 3 of 13 | Total Record : 126